cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
PERANCANGAN KAYUTANGAN CITY HUB DENGAN KONSEP ARSITEKTUR METABOLISME Aline Crystynauly; Dr. Eng. Ir. Herry Santosa., ST.,MT., IPM
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2024): jurnal mahasiswa vol 12 no 1
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan kampung bersejarah Kayutangan menjadi salah satu yang terus mengalami pembenahan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang dengan pembenaran aspal jalan, andesit jalur pedestrian, penataan jalur drainase, dan pembenahan street furniture. Pengembangan ini kembali mewujudkan gagasan kawasan berkelanjutan dengan walkable city yang berhubungan dengan kebutuhan pertukaran mobilitas transportasi untuk meninggalkan kendaraannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka pembangunan city hub dapat menjadi alternatif pusat keramaian untuk mewadahi kegiatan pertukaran mobilitas. Menyelaraskan dengan konsep kawasan yang selalu berkembang dan menciptakan lingkungan binaan yang saling bersinergi maka perancangan menggunakan konsep arsitektur metabolisme dapat menjadi salah satu pilihan. Perancangan ini dilakukan pada Pertokoan Kayutangan yang berada di lokasi strategis yaitu simpang pertigaan titik jalan Taman Chairil Anwar. Tapak sebesar 5.700m2 ini mampu mewadahi pertukaran mobilitas yang berfungsi memberikan zona akses, fasilitas, serta kondisi transfer yang nyaman. Proses perancangan menggunakan metode pragmatisme yang dimulai dari mengidentifikasi masalah pada kebutuhan fungsi dan pendekatan metabolisme untuk menghasilkan gagasan kriteria desain simbiosis bangunan yang akan menjadi pedoman dalam tahap eksplorasi dan pengembangan desain. Hasil modifikasi desain dijadikan sebagai desain kriteria arsitektur metabolisme untuk perancangan akhir bangunan yang meingkatkan keterlibatan publik dan produktivitas sektor wisata dan ekonomi daerah Kawasan bersejarah Kayutangan.
KEANDALAN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN PADA GEDUNG TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA Lingga Prasetya Dwiputra
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2024): jurnal mahasiswa vol 12 no 1
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Bencana yang dapat menimbulkan api yang tidak diinginkan serta ada unsur-unsur pembentukan api seperti bahan bakar, oksien, dan sumber panas yang menebabkan reaksi oksidasi yang menyebabkan kerugian dari segi material maupun korban jiwadisebut kebakaran. Gedung Teknik Industri Universitas Brawijaya merupakan salah satu bangunan publik yang terdapat berbagai macam kegiatan perkuliahan. Sebagai bangunan publik, gedung harus memiliki keamanan dalam hal penyelamatan terhadap bencana kebakaran. Sistem proteksi atau bentuk pertahanan kebakaran yang diterapkan pada Gedung Teknik Industri Universitas Brawijaya masih belum memenuhi standar. Oleh karena harus dilakukannya evaluasi agar dapat memahami tingkat keandalan terhadap sistem proteksi kebakaran gedung. Evaluasi yang dilakukan berupa observasi langsung pada bangunan dengan tujuan untuk mengidentifikasi bentuk pertahanan yang terjalin dengan kelengkapan tapak, fasilitas untuk penyelamatan, bentuk pertahanan yang aktif, dan bentuk pertahanan yang pasif sesuai dengan peraturan-peraturan standar yang berlaku. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gedung Teknik Industri Universitas Brawijaya dinilai cukup memenuhi standar, terutama pada kelengkapan tapak, sistem proteksi aktif, dan sistem proteksi pasif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sarana penyelamatan terhadap sarana jalan keluar dan sistem proteksi aktif terhadap sistem pengendali asap yang kedepannya perlu dilengkapi agar keandalan sistem tetap terjaga dan proses evakuasi berjalan lancar dan aman ketika terjadi kebakaran pada Gedung Teknik Industri Universitas Brawijaya. Kata kunci: Keandalan, Sistem Proktesi Kebakaran, Gedung Teknik Industri ABSTRACT Fire is a disaster that can cause unwanted fire where the elements of fire forming consist of fuel, oxygen, and heat source, causing oxidation reactions that cause material losses and fatalities. Brawijaya University Industrial Engineering Building is one of the public buildings that have various lecture activities. As a public building, the building must have security in terms of rescue against fire disasters. Fire protection systems applied to the Industrial Engineering Building of Brawijaya University still do not meet the standards. Therefore, evaluation is necessary to determine the level of reliability to the building fire protection system. Evaluation is conducted in the form of direct observation of buildings with the aim of identifying fire protection systems related to the completeness of the site, rescue facilities, active protection systems, passive protection systems based on applicable standard regulations. The results of this study show that the Brawijaya University Industrial Engineering Building is considered to meet the standards, especially in the completeness of the site, active protection system, and passive protection system. Some things to note are the means of rescue against means of exit and active protection system against smoke control system that in the future need to be equipped to maintain the reliability of the system and evacuation process runs smoothly and safely when fire occurs at the University of Brawijaya Industrial Engineering Building. Keywords: Reliability, Fire Protection System, Industrial Engineering Building
Perancangan Hunian Vertikal Berkonsep Biofilik di Permukiman Kampung Kota DKI Jakarta Shiddiq, Muhammad Rafi'; Nugroho, Agung Murti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk adalah hal yang sering terjadi pada kota besar dengan perkembangan ekonomi yang besar, seperti yang terjadi di DKI Jakarta. Pertumbuhan yang cepat dapat menyebabkan kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk ini akan mengakibatkan penurunan kualitas hidup serta kekurangan lahan hunian, terutama pada kaum marjinal yang berada didaerah kampung kota. Hal ini akan memperburuk kenyamanan dan kesehatan dari masyarakat yang tinggal di kota tersebut. Keterbatasan lahan tinggal dan lingkungan yang buruk tadi dapat dipecahkan dengan perancangan hunian vertikal yang dapat menyediakan keadaan lingkungan yang sehat serta alami. Tematik desain biofilik memiliki konsep yang dapat menyediakan keadaan lingkungan yang membuat pengguna bangunannya berada didalam keadaan rileks dan terhindar dari stress, sehingga sejalan dengan tujuan dibangunnya hunian vertikal. Perancangan hunian vertikal ini ditujukan untuk menghasilkan bangunan hunian berkonsep biofilik sebagai sarana tempat tinggal dan peningkatan kualitas hidup didaerah pemukiman kampung kota. Perancangan dilakukan dengan pendekatan pragmatisme berupa simulasi predictive modelling yang mempertimbangkan banyak aspek mikro dan makro untuk menentukan kriteria desain yang ada pada bangunan. Hasil dari desain tersebut berupa bangunan hunian vertikal berkonsep biofilik dengan fokus pada aspek penghawaan, pencahayaan, koneksi dengan alam serta penggunaan material alami.
Perancangan Pusat Perbelanjaan Dengan Konsep Arsitektur Ekologi Di Perumahan Araya Kota Malang Susilo, Renaldi; Wibisono, Iwan
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Malang berada di Provinsi Jawa Timur, sebagian besar berada di Kabupaten Malang. Perguruan tinggi yang menjadikan Kota Malang sebagai Kota Pendidikan. Kota Malang juga memiliki tempat wisata yang menarik, seperti pegunungan dan banyak sejarah. Pengujung membutuhkan pusat perbelanjaan Kota Malang setiap hari. Kota Malang terkenal memiliki berbagai macam kuliner dan keterampilan. Perumahan Araya adalah perumahan yang memiliki banyak fasilitas hiburan, pusat perbelanjaan, sekolah, dan fasilitas medis. Perumahan ini dirancang dengan arsitektur yang mengutamakan kelestarian alam, penggunaan energi yang efisien, dan bahan ramah lingkungan. Plaza Araya terletak di Perumahan Araya dan berfungsi sebagai pusat perbelanjaan bagi warga Kota Malang. Warga perumahan Araya lebih memilih kualitas dalam berbelanja, sehingga Plaza Araya tidak sesuai dengan posisinya karena kurangnya keunggulan dalam pelayanan dan desain arsitektur. Jumlah penduduk yang terus bertambah di Kota Malang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan karena kurangnya ruang hijau terbuka. Akibatnya, pusat perbelanjaan baru dengan konsep arsitektur ekologi sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan warga Kota Malang dan tetap ramah lingkungan. Pusat perbelanjaan ini akan bekerja sama dengan pusat perbelanjaan lainnya di Perumahan Araya dan memberikan manfaat bagi keduanya. Kata kunci: Pusat Perbelanjaan, Arsitektur Ekologi, Kota Malang
Kinerja Desain Pasif Berdasarkan Prinsip Arsitektur Tropis Lembap (Studi Kasus Rumah Joglo Durenan Kabupaten Trenggalek) Adhiniyah, Putri Nur; Nugroho, Agung Murti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan iklim yang semakin meningkat sepanjang tahun dapat mengancam kesejahteraan manusia dan kesehatan bumi. Seiring perkembangan zaman, kondisi iklim di masa sekarang berbeda dengan kondisi iklim di masa lampau. Perubahan iklim tersebut menjadi tantangan bagi keberlanjutan rumah-rumah vernakular di Indonesia. Indonesia termasuk ke dalam wilayah iklim tropis lembap yang memiliki tingkat curah hujan dan kelembapan tinggi serta musim kemarau yang panjang yang berdampak pada meningkatnya suhu udara, sehingga hal ini berpengaruh pada setiap aspek kehidupan manusia, terutama kenyamanan termal. Hal ini menunjukkan pentingnya teknik desain pasif untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan prinsip desain pasif terhadap lingkungan termal dan mengevaluasi kinerja desain pasif tropis pada rumah Joglo Durenan yang dibangun pada masa lampau yang masih ada hingga saat ini. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan melakukan anaisis visual terhadap elemen visual desain pasif serta menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan pengukuran terhadap suhu dan kelembapan udara menggunakan alat Data Logger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen yang berpengaruh terhadap pendinginan alami adalah volume atap, warna dinding serta keberadaan vegetasi di lingkungan sekitar. Hasil pengukuran lapangan menunjukkan bahwa kinerja desain pasif belum tercapai dengan rerata suhu Joglo Kamulan (29,1°C) dan Joglo Karanganom (28,7°C) berada di luar batas suhu nyaman.
Kinerja Desain Pasif Bangunan Pada Arsitektur Vernakular Jawa (Studi Kasus: Rumah Joglo di Ngrogung, Ponorogo) Khomsatun, Siti; Nugroho, Agung Murti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Ponorogo, dengan iklim tropis, menghadapi tantangan dalam menjaga kenyamanan termal bangunan. Curah hujan dan kelembapan tinggi serta suhu yang tinggi sepanjang tahun menekankan pentingnya teknik pendinginan pasif untuk efisiensi termal. Penelitian ini bertujuan memahami dan menilai efektivitas elemen desain pasif arsitektur vernakular dalam mengurangi konsumsi energi dan mempertahankan kenyamanan termal pada rumah Joglo di Desa Ngrogung, Kecamatan Ngebel, Ponorogo. Elemen desain pasif yang diteliti meliputi orientasi bangunan, selubung atap, selubung bangunan, penempatan bukaan, material, dan tata lingkungan sekitar. Metode penelitian mencakup pendekatan kuantitatif dengan pengukuran suhu dan kelembapan udara menggunakan Hobo Data Logger, serta pendekatan kualitatif dengan melakukan studi literatur, dokumentasi, observasi lapangan, dan analisis visual elemen desain pasif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi bangunan optimal, terdapat insulasi panas di ruang bawah atap, dinding dengan pembayang dan warna cerah, serta bukaan jendela berpori dengan peneduh meningkatkan kenyamanan termal. Namun, volume atap, lebar kanopi, warna atap, luas bukaan jendela, dan ketinggian lantai belum optimal. Suhu rata-rata dalam rumah selama tiga bulan pengukuran adalah 25,77°C, menunjukkan kondisi nyaman, sedangkan kelembapan udara 75,45%, tidak sesuai dengan standar yang direkomendasikan. Kata kunci: desain pasif, rumah joglo, kenyamanan termal ABSTRACT The Ponorogo Regency, with its tropical climate, faces challenges in maintaining thermal comfort in buildings. High rainfall and humidity, along with consistently high temperatures throughout the year, emphasize the importance of passive cooling techniques for thermal efficiency. This research aims to understand and evaluate the effectiveness of vernacular architectural passive design elements in reducing energy consumption and maintaining thermal comfort in Joglo houses in Ngrogung Village, Ngebel District, Ponorogo. The passive design elements studied include building orientation, roof envelope, building envelope, placement of openings, materials, and surrounding environment layout. The research methods include a quantitative approach with temperature and air humidity measurements using a Hobo Data Logger, as well as a qualitative approach through literature studies, documentation, field observations, and visual analysis of passive design elements. The results indicate that optimal building orientation, thermal insulation in the attic space, walls with shading and bright colors, and porous window openings with shading improve thermal comfort. However, the roof volume, canopy width, roof color, window opening area, and floor height are not yet optimal. The average indoor temperature during the three-month measurement period was 25.77°C, indicating comfortable conditions, while the air humidity was 75.45%, which does not meet the recommended standards. Keywords: passive design, joglo house, thermal comfort
Pengaruh Desain Pencahayaan Alami Terhadap Persepsi Kenyamanan Visual Pengguna Ruang Gedung SMA Genrus Nusantara Boarding School Kendal Nugrahanto, Alfi Surya Purnama; Iyati, Wasiska
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencahayaan alami memainkan peran penting dalam perencanaan arsitektur karena meningkatkan kenyamanan, kesehatan, keamanan, dan estetika ruangan. Di sektor pendidikan, pencahayaan alami sangat penting karena dapat meningkatkan kenyamanan visual, suasana, dan produktivitas, serta mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan, meningkatkan efisiensi energi bangunan pendidikan. Penelitian ini mengkaji pengaruh desain pencahayaan alami terhadap persepsi kenyamanan visual pengguna ruang di Gedung SMA Genrus Nusantara Boarding School Kendal melalui observasi lapangan, pengukuran intensitas pencahayaan, dan kuesioner kenyamanan visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pencahayaan alami yang baik dapat meningkatkan kenyamanan visual dan produktivitas pengguna ruang. Faktor seperti orientasi bangunan, jenis material, dan desain jendela sangat penting untuk mendapatkan pencahayaan alami yang baik. Analisis menunjukkan bahwa penggunaan material yang tepat dan teknik pembayangan yang sesuai dapat mencapai pencahayaan alami yang ideal. Ada korelasi kuat antara desain pencahayaan alami dan persepsi kenyamanan visual oleh pengguna ruang, dengan tahapan akhir berupa rekomendasi yang mencakup penggunaan material jendela yang tepat, pemilihan warna interior yang sesuai, dan teknik tata cahaya khusus untuk memaksimalkan pencahayaan alami.
Lingkungan dengan Kontrol Sensorik pada Desain Sekolah Autisme di Kota Surabaya Wijaya, Daniel Alexander
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Anak dengan autisme memiliki persepsi sensorik unik yang mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kontrol sensorik dalam lingkungan sekolah dapat mendukung perkembangan dan eksplorasi mereka secara optimal. Arsitektur memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang sesuai bagi anak dengan autisme dengan memperhatikan kualitas spasial dan stimulasi sensorik. Desain sekolah autisme ini bertujuan menciptakan ruang pembelajaran dan transisi dengan pengaturan stimulus yang tepat. Observasi berdasaran literatur mengenai lingkungan autisme dilakukan untuk menganalisis pergerakan serta respon sensorik anak dengan autisme di dua sekolah autisme yang berbeda. Hasil observasi menunjukkan bahwa anak dengan autisme cenderung memiliki perbedaan kebutuhan dalam pergerakan dan respon sensorik antara tiap karakteristik mereka. Berdasarkan hasil ini, ditetapkan konsep pengaturan input sensorik yang digunakan sebagai dasar mendesain yaitu Pemisahan Area berdasarkan Karakter, Autism Space Setting, Sensory Environment, Escape Space, dan Transition Zone. Hasil desain menunjukkan bahwa elemen visual, auditori, taktil, and olfaktori menjadi faktor utama dalam mewujudkan kontrol sensorik di lingkungan untuk autisme. Kata kunci: Autisme, Kontrol Sensorik, Stimulus Lingkungan ABSTRACT Children with autism have unique sensory perceptions that affect how they interact with their surroundings. Sensory control within the school environment can support their optimal development and exploration. Architecture plays an important role in creating an appropriate environment for children with autism by considering spatial quality and sensory stimulation. The design of this autism school aims to create learning and transition spaces with the right stimulus settings. Literature-based observations on autism environments were conducted to analyze the movement and sensory responses of children with autism in two different autism schools. The results showed that children with autism tend to have different needs in movement and sensory response between each of their characteristics. Based on these results, the concept of sensory input arrangements was determined and used as the basis for design, which are Area Separation by Character, Autism Space Setting, Sensory Environment, Escape Space, and Transition Zone. The outcome of the design shows that visual, auditory, tactile, and olfactory elements are the main factors in creating a sensory control environment for autism. Keywords: Autism, Sensory Control, Stimulus Environment
Persepsi Pengguna terhadap Penerapan Konsep Transit Oriented Development pada Kawasan Stasiun Manggarai Jakarta Faisal, Aletta Prudence Asyifa
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DKI Jakarta, ibu kota Indonesia, menghadapi masalah kompleks, termasuk urbanisasi. Peningkatan penduduk tanpa pembangunan kawasan mixed-use mendorong suburbanisasi ke pinggiran Jakarta, meningkatkan commuting dari wilayah suburban ke pusat kota yang mengakibatkan masalah kemacetan dikarenakan sistem transportasi publik yang kurang baik. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah DKI Jakarta merumuskan Transit Oriented Development (TOD). Jakarta berencana menerapkan TOD di titik-titik transit utama, termasuk Stasiun Manggarai. Penerapan TOD memerlukan penelitian tentang persepsi pengguna. Penelitian ini mengkaji persepsi pengguna terhadap penerapan TOD di kawasan Stasiun Manggarai melalui kuesioner dan analisis deskriptif evaluatif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pengguna setuju bahwa TOD memberikan manfaat positif, seperti mengurangi kemacetan dan menyediakan pilihan mobilitas. Namun, kemacetan tetap menjadi kendala utama. Pengguna menekankan pentingnya sistem transportasi publik yang mudah digunakan serta metode pembayaran yang sederhana. Variabel lain yang penting adalah walkability dan quality of life. Berdasarkan temuan ini, disarankan pengembangan kawasan Stasiun Manggarai dan lainnya fokus pada peningkatan sistem transportasi publik, integrasi moda transportasi, dan metode pembayaran yang sederhana.
Pengaruh Vertical Greenery System terhadap Lingkungan Termal Kantor Airmas Asri Cikini, Jakarta Gustiputri, Annisa Ledi
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menilai pengaruh Vertical Greenery System (VGS) terhadap Lingkungan Termal pada bangunan Kantor Airmas Asri Cikini, Jakarta. Selama tiga hari, mulai dari tanggal 1 Maret hingga 3 Maret 2024, dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban area yang memiliki VGS (Living Wall dan Green Façade). Pengukuran dilakukan dengan alat Data Logger untuk mengukur suhu dan kelembaban, serta Thermal Imaging Camera untuk mengukur suhu permukaan. Pada area outdoor, Entrance (Living Wall) memiliki suhu rata-rata 29,83ºC dan kelembaban 74%, Inner Courtyard (Green Façade) memiliki suhu rata-rata 29,06ºC dan kelembaban 73%. Pada area Indoor, R. Makan Indoor (Green Façade) memiliki suhu rata-rata sebesar 28,89ºC dengan kelembaban sebesar 72%. Kemudian, Ruang Tunggu 1 memiliki suhu rata-rata sebesar 29,51ºC, dengan kelembaban 73%. Green Façade menghasilkan suhu dan kelembaban yang lebih rendah dibandingkan Living Wall. Faktor-faktor seperti bukaan, selubung bangunan, keberadaan vegetasi, dan pembayangan yang tidak bisa dikontrol dalam penelitian juga mempengaruhi kondisi termal. Penelitian ini menunjukkan bahwa Vertical Greenery System secara signifikan berpengaruh terhadap penurunan suhu dan kelembaban