cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
Tata Akustik Ruang Ibadah Masjid Al-Fattah di Kabupaten Tulungagung Fitriana, Dhanar Dwi; Iyati, Wasiska
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Masjid Al-Fattah yang berada Kabupaten Tulungagung mendapatkan paparan kebisingan secara langsung dari aktivitas lalu lintas sehingga kinerja selubung bangunan dan konfigurasi ruang luar dalam mengurangi kebisingan yang masuk dalam bangunan belum maksimal. Material eksisting menggunakan bahan yang bersifat pemantul bunyi memengaruhi distribusi bunyi dan volume ruang yang cukup besar berpengaruh terhadap waktu dengung yang lebih lama di dalam ruang ibadah Masjid Al-Fattah. Berdasarkan pengukuran selisih tingkat kebisingan ruang luar dan ruang dalam Masjid Al-Fattah masih melebihi standar KEP 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Berdasarkan pengukuran kinerja selubung bangunan dan konfigurasi ruang luar dalam mengurangi kebisingan yang masuk ke dalam ruang ibadah Masjid Al-Fattah belum maksimal. Berdasarkan pengukuran tingkat tekanan bunyi pada ketinggian 90 cm, 120 cm, dan 150 cm ruang ibadah Masjid Al-Fattah memiliki distribusi yang merata karena hasil pengukuran antar titik ukur dengan posisi terjauh tidak lebih dari 6 dB. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus sabine waktu dengung di dalam ruang ibadah mencapai 4,65 detik pada frekuensi 500 Hz sehingga belum sesuai dengan SNI 03-6386-2000. Perbaikan yang dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi eksisting diantaranya penambahan material softboard 13 dan kalsiboard, mengganti plafon dengan fine fissured high nrc, atau menambahkan rockwool dengan ketebalan 5 cm pada plafon. Kata kunci : tata akustik masjid, selisih tingkat kebisingan, distribusi bunyi, waktu dengung ABSTRACT Al-Fattah Mosque in Tulungagung district is exposed to noise directly from traffic activity so the performance of the building cover and the configuration of the outdoor space in reducing the noise that enters the building is not maximum. The existing material using sound-reflective materials affects the distribution of noise and a considerable amount of space has an effect on the longer timing in the Al-Fattah Mosque worship room. Based on the measurement of the difference in the noise level of the outer space and the space inside Al- Fattah mosque still exceeds the KEIP 48/MENLH/11/1996 standard on Baku Noise Level. Based on the measurement of noise pressure levels at heights of 90 cm, 120 cm, and 150 cm, the Al-Fattah mosque has a uniform distribution due to the results of measurements between the measuring points with the most distant positions not more than 6 dB. According to the calculation using the sabine formula, the timing time in the worship room reaches 4.65 seconds at a frequency of 500 Hz so it is not in accordance with SNI 03-6386-2000. Improvements can be made by taking into account existing conditions such as adding softboard 13 and Kalsiboard material, replacing the ceiling with fine fissured high nrc, or adding rockwool with a thickness of 5 cm on the ceilings. Keywords : mosque acoustics, noise level differential, sound distribution, reverberation time
Kinerja Breathing Wall sebagai Upaya Penurunan Suhu pada Bangunan (Studi Kasus: Masjid Al-Ikhlas dan Masjid Al-Fattah Sidoarjo) Damayanti, Imanda Amalia; Wardoyo, Jono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humans spend 80–90% of their time indoors, and comfort and health are strongly influenced by building characteristics. In this case, comfort is related to air temperature and the factors that influence it, one of which is building wall design. Based on BMKG, Sidoarjo Regency is generally famous for its hot air conditions, with an average maximum air temperature in 2018–2023 reaching 33.8 °C. Al-Ikhlas and Al-Fattah mosques in Sidoarjo use breathing walls to reduce ambient temperature without the use of air conditioners. The difference in breathing wall characteristics between the two mosques can provide an overview of thermal performance. This study aims to determine the performance of comfortable temperature indicators on the on the breathing wall in reducing ambient temperature. The method used is a quantitative approach with air temperature measurements and visual observations in the form of breathing wall material type, breathing wall thickness, breathing wall color, and openings at Al-Ikhlas and Al-Fattah Mosques. The results showed that the Al-Ikhlas Mosque has a better comfortable temperature balance between the inside and outside spaces compared to the Al-Fattah Mosque. The highest temperature drop in the performance of the 2nd floor breathing wall occurred at the Al-Ikhlas Mosque (3.9 °C–4.3 °C) compared to Al-Fattah (3.5 °C). The high temperature drop in Al-Ikhlas is due to using a breathing wall with high thermal capacity, thick walls, bright breathing wall colors, and optimal openings. Keywords: breathing wall, mosque, temperature reduction
Arahan Pelestarian Bangunan Lama Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu Gresik Berdasarkan Penilaian Makna Kultural Bangunan Febrianti, Alfu Laili; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Gresik merupakan salah satu wilayah persebaran agama Islam di pesisir utama Jawa Timur yang memiliki beberapa peninggalan sejarah, salah satunya Masjid Besar kanjeng Sepuh Sidayu. Masjid ini termasuk salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Gresik dan pernah mengalami perubahan karena terdapat perluasan dan penambahan bangunan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui arahan pelestarian yang sesuai berdasarkan penilaian makna kultural bangunan melalui physical system, spatial system, dan stylistic system yang terdapat pada bangunan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tiga tahap analisis yaitu tahap analisis deskriptif, evaluatif, dan development. Hasil penelitian menunjukkan potensi elemen pada masjid ini yaitu potensi sedang dan potensi tinggi dengan arahan pelestarian preservasi dan konservasi. Kriteria dari pelestarian tersebut yaitu mempertahankan elemen-elemen yang belum mengalami perubahan sejak dibangun dan mengembalikan wujud elemen seperti aslinya apabila telah terjadi perubahan. Kata kunci: pelestarian bangunan, karakter masjid Jawa, makna kultural
STRATEGI DESAIN PASIF UNTUK PENDINGINAN ALAMI PADA RUMAH VERNAKULAR JAWA (Studi Kasus: Omah Joglo Karangnongko) Handoyono, Ananda Weningtyas; Nugroho, Agung Murti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain pasif bangunan merupakan salah satu cara arsitek untuk menciptakan kenyamanan bagi manusia tanpa merusak alam. Teknik ini pun telah lama digunakan oleh masyarakat masa lampau dalam membangun rumah yang tercermin pada arsitektur vernakular, salah satunya pada omah Joglo di Karangnongko, Kabupaten Gunungkidul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penerapan strategi desain pasif untuk pendingian alami pada rumah vernakular Jawa berupa omah Joglo serta mengetahui tingkat kenyamanan termal yang didapatkan dari kinerja strategi desian pasif untuk pendinginan alami pada rumah vernakular Jawa berupa omah Joglo yang dibangun pada masa lampau dengan kondisi iklim masa kin. Metode yang digunakan berupa mix-method dengan pengambilan data melalui observasi visual dan pengukuran lapangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa omah Joglo Karangnongko tidak bisa memberikan kenyamanan termal dengan kondisi iklim masa kini. Hal ini disebabkan karena tidak tercapainya dua parameter dari tiga belas parameter desain pasif, yaitu tata lanskap dan orientasi jendela.
Kinerja Elemen Desain Pasif pada Rumah Kolonial (Studi Kasus Rumah Tinggal Etnis Arab di Jalan Malik Ibrahim Gang VII No.2 Gresik) Muthomimah; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis energi global dalam tiga dekade terakhir telah menjadi perhatian utama, dengan sektor bangunan menggunakan lebih dari 40% konsumsi energi dunia. Penggunaan energi yang masif berkontribusi kepada krisis energi dan peningkatan polusi udara, yang menyebabkan pemanasan global. Desain pasif dalam arsitektur menjadi strategi penting untuk mengatasi permasalahan ini, dengan mengoptimalkan kondisi suhu udara di dalam dan luar bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis elemen desain pasif pada bangunan etnis Arab di Kampung Arab Jalan Malik Ibrahim Gresik dan kinerja terhadap lingkungan termal. Menggunakan metode campuran kualitatif dan kuantitatif yang melibatkan pengamatan visual dan pengukuran suhu serta kelembapan udara. Hasil menunjukkan adanya hubungan antara kinerja suhu dan kelembapan udara dengan enam parameter desain pasif. Keberhasilan kinerja suhu yang optimal mencakup penurunan suhu udara serta adanya perbedaan suhu puncak yang signifikan (timelag). Namun, kelembapan udara rata-rata masih melebihi batas sehat (40%-60%), dan suhu udara dalam bangunan hampir sepanjang hari berada di atas batas nyaman (23,7°C - 28,7°C). Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan desain pasif, dapat ditemukan solusi untuk meningkatkan kenyamanan termal pada hunian di Kampung Arab Gresik.
Resort Dengan Konsep Creative Tourism di Pantai Grajagan Banyuwangi Farah Karenina Roosyidah; Rinawati P. Handajani
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Grajagan merupakan salah satu pantai yang memiliki potensi keunikan pada sektor perikanan serta panorama yang indah di Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Namun, faktanya fasilitas pariwisata di Kawasan Pantai Grajagan ini masih belum dikelola dengan baik dan hanya terdapat satu fasilitas penginapan dengan daya tampung yang cukup sedikit. Dalam hal ini, resort berperan sebagai akomodasi penginapan atau menjadi tempat wisata baru sehingga menjadi alternatif pilihan bagi wisatawan. Selain itu, upaya pemanfaatan potensi pada sektor perikanan Pantai Grajagan diwujudkan melalui perancangan resort dengan konsep creative tourism. Perancangan ini menggunakan metode pragmatisme dengan strategi desain predictive modelling. Proses desain dimulai dengan mengindetifikasi masalah, melakukan trial and error dalam eksplorasi bentuk, dan merumuskan temuan kriteria desain. Tujuan dari perancangan ini yaitu untuk meningkatkan perekonomian melalui sektor pariwisata, memberikan ruang interaksi yang melibatkan masyarakat lokal, memberikan pengalaman otentik bagi wisatawan, serta sebagai strategi pemanfaatan hasil perikanan Grajagan. Hasil perancangan resort ini tidak hanya mengakomodir suatu penginapan, namun juga menghadirkan fasilitas rekreatif dengan konsep creative tourism yang menerapkan aktivitas learning, tasting, seeing, dan buying. Singkatnya, perancangan resort dengan konsep creative tourism ini dilakukan agar terciptanya simbiosis mutualisme antara potensi alam, interaksi sosial, pengembangan budaya daerah, serta perekonomian daerah.
PERPUSTAKAAN UMUM BERBASIS BIBLIOTHERAPY DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT DI KOTA BEKASI Rafa Khairunnisa
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam merancang perpustakaan umum berbasis bibliotherapy, perlu diperhatikan karakteristik pengguna dan aktivitas bibliotherapy yang berjalan di dalamnya, berkaitan dengan tujuan dan latar belakang permasalahan yanng ada. Pada kajian ini, aktivitas bibliotherapy berfokus pada permasalahan kesehatan mental stress dan gangguan emosional kecemasan pada kalangan usia remaja dan dewasa. Metode desain yang digunakan adalah pragmatis. Metode pragmatis ini, dilakukan dengan strategi desain predictive modelling melalui studi model berkelanjutan. Dalam prosesnya, metode pragmatis dilakukan dengan mengidentifikasi permasalahan yang didapat dari aspek terkait, kemudian dilakukan eksplorasi dan pemilihan alternatif desain yang mampu menyelesaikan permasalahan dan mendukung kebutuhan pelayanan aktivitas bibliotherapy, serta proses pemulihan pengguna di dalamnya. Hasil dari kajian ini, berupa sebuah rancangan tapak dan ruang luarnya, bangunan, serta ruang dalam (interior) perpustakaan umum berbasis bibliotherapy yang menerapkan pendekatan healing environment. Penerapan healing environment dengan dasar tiga aspek utamanya dan komponen-komponen perancangan di dalamnya, yang telah dikaji, disesuaikan pada setiap unsur desain dalam perancangan. Berdasarkan hasil kajian, ketiga aspek healing environment, yaitu alam, indra, dan psikologi dapat diterapkan pada desain tapak dan ruang luar, desain bangunan, serta desain ruang dalamnya. Masing-masing aspek memiliki komponen perancangan, yang disesuaikan penerapannya pada setiap variabel desain tersebut. Kata Kunci: Perpustakaan, Bibliotherapy, Healing Environment
Pengaruh Material Bangunan Terhadap Nilai Embodied Energy pada Bangunan Rumah Tinggal Sederhana di Kota Malang Olivia Paramitha; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Seiring dengan pertumbuhan populasi di Kota Malang menyebabkan bertambahnya kebutuhan rumah tinggal. Pembangunan rumah sederhana di Kota Malang menjadi pembangunan hunian secara massal yang dibangun dalam kurun waktu menerus untuk memenuhi permintaan akan bangunan rumah tinggal. Setiap tahapan siklus hidup bangunan yang dimulai dari tahapan konstruksi pembangunan, pemeliharaan, dan pembongkaran tidak lepas dari penggunaan energi. Energi yang terkandung atau embodied energy (EE) dalam material konstruksi bangunan diperkirakan menghasilkan energi sebesar 50% dari total penggunaan energi pada bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui material mana yang paling berpengaruh terhadap nilai EE pada bangunan rumah tinggal sederhana di Kota Malang dan bagaimana strategi potensial yang dapat dilakukan dalam upaya mitigasi energi tersebut. Menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis kalkulasi, penelitian ini menemukan bahwa nilai EE setiap material bervariasi berdasarkan volume dan kepadatannya. Semakin banyak material yang digunakan, semakin besar pula volume yang dihasilkan, sehingga semakin tinggi nilai embodied energy-nya. Oleh karena itu, penggunaan material yang menghasilkan nilai EE tinggi perlu dikurangi untuk meminimalisir energi yang terkandung pada tahap konstruksi bangunan. Material yang memiliki nilai EE terbesar pada penelitian ini adalah material baja (36,24%), baja ringan (20,61%), semen (19%), dan besi hollow (12,72%). Kata kunci: Embodied Energy, Material Konstruksi Bangunan, Rumah Sederhana ABSTRACT Along with the population growth in Malang City, the demand for housing increased. The construction of simple houses in Malang City is a mass residential development built over a continuous period of time to meet housing needs. Every stage of the building life cycle starting from the construction, maintenance, and demolition stages cannot be separated from the use of energy. The embodied energy (EE) in building construction materials is estimated to produce 50% of the total building energy use. This research aims to find out which materials have the most influence on the EE value of simple residential buildings in Malang City and how potential strategies can be carried out in energy mitigation efforts. Using a quantitative method with calculation analysis, the study finds that each material's EE value varies based on its volume and density. The more material used, the larger the volume produced, and the higher the EE value. Therefore, the use of materials that deliver high EE values needs to be reduced to minimize the EE at the building construction stage. The materials with the highest EE values identified in this study are steel (36.24%), mild steel (20.61%), cement (19%), and hollow iron (12.72%). Keywords: Embodied Energy, Building Construction Materials, Simple House
Community Learning Center di Kota Malang dengan Pendekatan Fleksibilitas Ruang Alifa Anindya Arsyi; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan angka putus sekolah di Kota Malang yang cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya menyebabkan bertambahnya kebutuhan sarana pendidikan untuk mendukung kelanjutan pendidikan anak putus sekolah. Sarana tersebut dapat dipenuhi melalui pembelajaran pada cakupan pendidikan nonformal yang dapat diwadahi pada fasilitas pendidikan berupa Community Learning Center. Community Learning Center yang berfungsi sebagai pusat pendidikan pada cangkup pendidikan nonformal, akan memiliki karakteristik yang berbeda dengan sekolah formal karena memiliki fleksibilitas dalam penyelenggaraan program pembelajaran yang berbasis pada kebutuhan peserta didik sehingga menimbulkan keragaman aktivitas pembelajaran yang dilakukan sesuai potensi dan minat peserta didik. Oleh karena itu, Community Learning Center dituntut untuk mampu mewadahi berbagai macam aktivitas pembelajaran dan preferensi pengguna dalam satu fasilitas pendidikan. Penerapan konsep fleksibilitas ruang dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada karena dapat menciptakan ruang yang mengalami perbubahan sesuai aktivitas yang diwadahi sehingga memudahkan pelaku untuk melakukan penyesuaian sesuai dengan jenis pembelajaran ataupun cara mereka melakukan aktivitas. Proses perancangan dirancang dengan metode desain empirisime dengan observasi sebagai tool untuk mengidentifikasi kebutuhan dalam perancangan. Hasil Perancangan berupa ruang kelas, ruang praktik, dan ruang belajar bersama serta tata massa dan ruang yang menerapkan konsep fleksibilitas ruang berdasarkan teori menurut monahan (2002). Kata kunci: Communnity Learning Center, Fleksibilitas Ruang, Empirisisme
Pengaruh Penghawaan Alami Terhadap Persepsi Kenyamanan Suhu dan Kelembapan Udara Pengguna Rusunawa Universitas Brawijaya Dieng Prameswari, Fidiya Nada Galuh; Iyati, Wasiska
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Rusunawa Universitas Brawijaya Dieng menggunakan konsep penghawaan alami untuk memenuhi kebutuhan penghawaan di dalam bangunan. Selain menurunkan beban energi dari pendinginan buatan di dalam ruangan, jendela yang dirancang dengan baik dapat menawarkan ventilasi alami yang nyaman. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh desain penghawaan alami terhadap kondisi lingkungan termal eksisting bangunan dan mengetahui bagaimana desain penghawaan alami memengaruhi persepsi kenyamanan suhu dan kelembapan udara penghuni gedung. Observasi lapangan, pengukuran suhu dan kelembaban udara, serta penyebaran kuesioner dengan skala likert digunakan dalam penelitian ini. Studi menunjukkan bahwa desain penghawaan alami dapat memengaruhi kondisi lingkungan termal bangunan. Tata letak, ukuran, dan tipe bukaan dapat memengaruhi penghawaan dan pencahayaan di dalam ruangan. Hasil dari pengukuran temperatur dan kelembapan udara langsung di unit kamar sewa selama 3 hari dengan kondisi jendela terbuka menunjukkan bahwa temperatur udara rata-rata berada di atas ambang suhu nyaman Kota Malang pada waktu tertentu. Terdapat hubungan antara persepsi kenyamanan suhu dan kelembapan udara terhadap desain penghawaan alami. Kata kunci: penghawaan alami, persepsi, kenyamanan suhu dan kelembapan udara, rumah susun ABSTRACT Brawijaya Dieng University Flats uses the concept of natural ventilation to fill the building's ventilation needs. In addition to reduce the energy load from artificial cooling in a building, well-designed windows may offer cozy natural ventilation. This research aims to determine how natural ventilation design influences the perception of temperature and air humidity comfort for building users. Field observations, air temperature and humidity measurement, and distribution of questionnaires with likert scale are all used in this research. The research results show that natural ventilation design can influence the condition of the building's existing thermal environment. The layout, size, and type of openings can affect the ventilation and lighting in the room. The results of air temperature and humidity measurements in rental room units for three days with the windows open show that the average air temperature is above the comfortable temperature threshold for Malang City at certain times. There is a relationship between the perception of temperature and air humidity comfort, and natural ventilation design. Keywords: natural ventilation, perception, comfort temperature and air humidity, flats