Articles
1,492 Documents
Strategi Pencahayaan Buatan Dinamis pada Ruang Pamer Museum Etnobotani Indonesia
Annisa Karolina;
Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (379.075 KB)
Museum Etnobotani Indonesia (MEI) ialah museum bertemakan teknologi tumbuhan yang dimanfaatkan oleh suku-suku di Indonesia sejak jaman lampau hingga pemafaatannya saat ini. Berfungsi untuk menyampaiakn fungsi tumbuhan hingga menyadarkan pentingnya keberadaan tumbuhan di lingkungan, akan tetapi penyampaian pesan dari MEI tidak tersampaikan dengan baik ditunjuakn dengan rendahnya pengunjung MEI. Untuk meningkatkan penyampaian pesan dari museum ini dicetuskanlah eksperimen berupa hubungan antara koleksi, pengamat dan perantaranya. Metode yang digunakan yaitu ekperimen yang menekankan analisis hubungan yang diamati menggunakan logika ilmiah dan disajikan dengan metode kualitatif. Karakter koleksi dikelompokan dalam kelompok bentukan (dua dimensi atau tiga dimensi) dan kelompok besaran (besar, sedang atau kecil) untuk menentukan metode penyajian koleksi agar masing-masing koleksi tersampaikan dengan baik. Kondisi fisik pengunjung museum sebagai pengamat diperhitungkan dalam tinggi titik pengamatan, jarak pengamatan dan lokasi pengamat. Pencahayaan buatan sebagai perantara diperhitungkan berdasarkan besaran cahaya yang direkomendasikan, bentuk cahaya dan sudut cahaya dengan alat bantu simulasi dijital DIAlux 4.12. Hasil dari penelitian ini ialah untuk mencapai pengamatan, pencahayaan dan penyajian koleksi yang baik menggunakan sistem bangunan pintar dengan persepsi kinerja elemen bangunan, pemikiran dinamis dan tindakan karakter komposisi yang menghasilkan beberapa alternatif penyajian koleksi dan jenis pencahayaan sesuai dengan karakter koleksi dan jenis pengamat. Kata kunci: pencahayaan buatan, dinamis, ruang pamer, Museum Etnobotani Indonesia
Tata Ventilasi Alami pada Balai Kota Among Tani Batu
Cindy Lupita Novia Rizki;
Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (375.391 KB)
Kota Batu terletak di dataran tinggi dan diapit oleh tiga lereng pegunungan besar, antara lain Panderman-Kawi-Butak, Arjuno-Welirang dan Bromo-Semeru. Hal ini menyebabkan suhu di Kota Batu cenderung dingin dan sejuk, namun potensi iklim tersebut belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh bangunan yang baru dibangun di Kota Batu. Contohnya adalah Kantor Balai Kota Among Tani Batu yang menggunakan AC sebagai penghawaan utama. Bangunan ini didukung oleh iklim yang dingin dan sejuk dan tapak yang dikelilingi lahan kosong, sehingga potensi untuk pemanfaatan ventilasi sebagai penghawaan alami lebih besar. Melalui penelitian ini, akan dilakukan identifikasi mengenai ventilasi pada bangunan dan pengukuran yang berhubungan dengan kenyamanan termal pada bangunan, kemudian disimulasikan menggunakan software Autodesk Ecotect 2011 dan Ansys Inc. Pada ruangan-ruangan yang belum memenuhi standar kenyamanan termal, akan dilakukan rekomendasi ventilasi alami dan dibuktikan menggunakan software tersebut hingga dapat menjadi solusi alternatif untuk mengurangi beban AC dan memaksimalkan penghawaan alami pada bangunan. Kata kunci: ventilasi, penghawaan alami
Perancangan Tata Letak Pabrik Pengalengan Ikan Tuna di Sendangbiru
Erwan Budi Kristanto;
Chairil Budiarto Amiuza
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (383.524 KB)
Sendangbiru merupakan kawasan minapolitan yang berada pada daerah pesisir dan memiliki produksi hasil perikanan laut berupa ikan tuna sebesar 6.252,73 ton pada tahun 2016. Pengolahan ikan di daerah Sendangbiru masih sangat minim dan belum adanya pengolahan dalam skala besar. Pabrik yang dirancang menggunakan pendekatan tata letak pabrik karena banyak dari pabrik-pabrik pengalengan yang sudah ada masih memiliki tata leta pabrik yang dirancang dengan tanpa adanya kajian terlebih dahulu sehingga proses produksi terhambat dan menurunkan output produksi, menambah waktu tunggu, serta pemborosan penggunaan areal produksi, gudang, dan servis. Metode perancangan yang digunakan adalah metode programatik yang secara garis besar melakukan analisa desain dengan cara mengkaji dengan beberapa alternatif desain untuk menjawab persoalan desain. Tata letak pabrik dianalisis menggunakan karakteristik tata letak sehingga dapat menghasilkan tata letak yang terbaik dan pabrik pengalengan ikan tuna dapat memproduksi ikan secara optimal dengan hasil alernatif tata letak terbaik dengan nilai 83%. Kata Kunci: tata letak, pabrik pengalengan ikan tuna, Sendangbiru.
Rekayasa Desain Selubung Bangunan untuk Menurunkan Temperatur Udara dalam Ruang pada Bangunan GOR Otista
Nenobi Zahra;
Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (380.598 KB)
Salah satu aktivitas yang sedang berkembang di kota Jakarta adalah olahraga. GOR Otista Jakarta Timur merupakan salah satu bangunan yang mewadahi aktivitas olahraga dan berbagai aktivitas lainnya sehingga kondisi temperatur udara dalam ruangnya perlu diperhatikan. Salah satu upaya untuk menurunkan temperatur udara dalam ruang yaitu membuat rekayasa desain selubung bangunan dengan fokus pada bukaan ventilasi, shading device, dan bukaan atap. Rekayasa desain selubung bangunan menerapkan sistem stack effect dengan bukaan ventilasi sebagai inlet dan bukaan atap sebagai outlet. Pada GOR Otista belum menerapkan sistem tersebut sehingga temperatur udara dalam ruang cukup tinggi (29 oC - 34 oC). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif evaluatif dan menggunakan metode eksperimental dengan simulasi menggunakan software Ecotect Analysis 2011. Rekayasa desain selubung bangunan yang telah disimulasikan dipilih sesuai penurunan temperatur terendah dibandingkan dengan kondisi eksisting. Standar temperatur udara dalam ruang mengacu pada SNI 03-6572-2011 yakni standar yang berlaku di Indonesia. Terdapat 13 rekomendasi rekayasa desain yang telah disimulasikan yang berupa grafik temperatur sebagai penentu dalam pemilihan rekayasa desain. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model selubung bangunan dengan bukaan ventilasi tipe vertically pivoted, shading device panjang 90cm, dan bukaan atap dengan panjang kisi 15cm dapat menurunkan temperatur sebesar 3,0 oC. Kata kunci: temperatur udara, selubung bangunan, gedung olahraga
Sistem Penghawaan Alami Pada GOR Lembu Peteng di Tulungagung
Ngafifatur Rohmah;
Jusuf Thojib
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (546.482 KB)
Penghawaan alami pada bangunan sangat diperlukan sebagai cara untuk mengalirkan udara salah satunya pada bangunan GOR Lembu Peteng di Tulungagung. Dimana terdapat permasalahan penghawaan dikarenakan kurangnya bukaan pada bangunan GOR. Faktor yang mempengaruhi antara lain letak bukaan, ukuran bukaan dan jenis bukaan. Strategi yang digunakan adalah dengan sistem penghawaan alami yaitu sistem ventilasi silang. Metode yang digunakan yaitu menganalisa bangunan eksisting dan menerapkan rekomendasi sesuai strategi penghawaan yang akan digunakan, tahap selanjutnya adalah menggunakan metode pengembangan Experimental Research dengan menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamic dari software Ansys Workbench. Hasil dari proses simulasi menunjukkan bahwa peletakkan vegetasi berpengaruh terhadap pergerakan angin. Selain itu luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai dari ruangan dengan menambahkan bukaan atap, bukaan pada tribun dan bukaan pada dinding arena dapat mencapai penerapan sistem ventilasi silang dan diperoleh kecepatan aliran udara sebesar 0,34 m/s pada area lapangan dengan efek penyegaran berupa penurunan suhu 0,5-0,7 °C dan 0,56 m/s hingga 0,90 m/s pada area tribun dengan efek penyegaran berupa penurunan suhu 1-1,2 °C. Kecepatan tersebut sudah memenuhi kebutuhan aliran udara di dalam ruangan. Kata kunci: sistem penghawaan alami, ventilasi silang, GOR Lembu Peteng
Pola Konfigurasi Ruang Sirkulasi Shopping Center pada Plaza Semanggi, Jakarta
Nur Faragita Anjani;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (549.221 KB)
Konfigurasi dalam ruang publik adalah hubungan antar ruang yang mewadahi aktivitas publik, dimana hubungan terwujud jika terjadi interaksi yang dapat diidentifikasi dari adanya pergerakan dari satu ruang ke ruang lainnya. Dalam ruang publik seperti shopping center dibutuhkan konfigurasi ruang yang efektif dan efisien agar pengguna ruang dapat memahami ruang dengan baik. Pola jaringan menjadi salah satu komponen penting yang dapat mempengaruhi aspek kualitas ruang yang dalam hal ini berupa permeablitas dan aksesibilitas (Carmona et al: 2003), sehingga ruang yang efektif dan efisien dapat dicapai dengan adanya aksesibilitas yang baik dalam konfigurasi ruangnya, yaitu organisasi ruang dan sirkulasi yang baik. Plaza Semanggi merupakan mixused building di kawasan Semanggi Jakarta Selatan yang di dalamnya terdapat fungsi shopping center. Untuk mengetahui konfigurasi ruang, salah satu pendekatan konsep yang digunakan adalah hubungan ruang (connectivity) dan pencapaian ruang (integrity) pada ruang sirkulasi shopping center Plaza Semanggi. Space syntax digunakan untuk mengetahui hubungan dan pencapaian ruang gerak pengunjung di dalam ruang sirkulasi shopping center Plaza Semanggi untuk menemukan korelasi dari kedua nilai tersebut sehingga diketahui nilai kejelasan ruang (intelligibility). Kata Kunci: Space Syntax, Konfigurasi, Pencapaian, Shopping Center
Tata Cahaya Buatan pada Ruang Pamer Museum Brawijaya Malang
Rivaldi Ardiansyah;
Ary Dedy Putranto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (515.386 KB)
Sistem tata cahaya pada museum tentu merupakan salah satu hal penting, terutama pada museum yang bangunannya menggunakan bangunan tua peninggalan sejarah, dimana sistem tata cahaya harus dibuat agar museum tidak terlihat seram dan menakutkan, sistem tata cahaya juga harus dibuat agar museum dapat berfungsi sebagai sarana edukasi sekaligus rekreasi. Museum Brawijaya Malang yang terletak di jalan Ijen, Kecamatan Klojen, Kota Malang merupakan bangunan museum yang diresmikan tahun 1968. Museum ini belum pernah mengalami revitalisasi sebelumnya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-kuantitatif dengan menggunakan alat Luxmeter dan simulasi data menggunakan software Dialux 4.12. Penelitian ini untuk meninjau sistem tata cahaya buatan dengan aspek kenyamanan visual pada ruang pamer Museum Brawijaya Malang sesuai dengan standart pencahayaan museum yakni 500 lux yang direkomendasikan oleh Standart Nasional Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ruang pamer belum memenuhi standar pencahayaan dengan penyebaran intensitas penerangan yang belum merata ke seluruh ruangan. Variabel yang diteliti pada tata cahaya ruang pamer Museum Brawijaya Malang adalah, intensitas penerangan, desain bukaan, tata letak titik lampu dan suasana, kemudian keawetan barang koleksi. Kata kunci: Museum, Ruang Pamer, Tata Cahaya Buatan
Persepsi Masyarakat Terhadap Kualitas Visual Ruang Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Kayutangan (Basuki Rahmad) Malang
Umi Hajar Kholifatul Hidayah;
Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (322.864 KB)
Kota Malang merupakan kota yang mengandung nilai sejarah, salah satunya adalah kawasan kayutangan (Jalan Basuki Rahmad). Kayutangan merupakan kawasan bersejarah yang menjadi pusat keramaian dengan berbagai usaha, antara lain perdagangan, perkantoran, jasa, dan lain-lain yang dapat memicu adanya peningkatan wisatawan pejalan kaki yang berkunjung. Namun seiring berjalannya waktu pengguna ruang pejalan kaki yang melintas pada koridor jalan tersebut sangatlah minim dikarenakan terdapat adanya bangunan-bangunan modern yang tidak sesuai dengan citra kawasan dan penggunaan ruang pejalan kaki yang tidak sesuai dengan fungsinya. Penggunaan kombinasi metode yakni kualitatif dengan penyebaran kuesioner dan kuantitatif dengan menggunakan software Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kualitas visual ruang pejalan kaki pada koridor tersebut cukup baik dengan variabel yang berpengaruh yaitu kotor-bersih dan sesak-lapang. Kata kunci: kualitas visual, ruang pejalan kaki
Komposisi Elemen Fasade Bangunan Kolonial Belanda Di Jalan Veteran Surabaya
Alfin Achlamiyatus Samiyah;
Antariksa Antariksa;
Abraham M. Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (377.677 KB)
Jalan Veteran ditetapkan oleh pemerintah Kota Surabaya kedalam situs cagar budaya sebagai bukti ciri khas niaga pada jaman kolonial di Surabaya dengan langgam arsitektur kolonial Belanda pada keseluruhan bangunan di sepanjang koridor. Seiring berkembangnya kebutuhan pengelola bangunan dan langgam arsitektur di Indonesia maka berdampak pada perubahan bangunan, salah satunya adalah fasade. Terdapat renovasi/pergantian fasade secara menyeluruh pada bangunan baru yang bertujuan untuk kepentingan komersial. Perubahan fasade menciptakan kesan visual yang tidak harmonis antara bangunan baru dan lama yang dapat dilihat dari kontinuitas ketinggian dan tampilan desain bangunan yang lebih mengikuti style modern. Permasalahan yang muncul membuat perlunya kajian terhadap fasade dengan pendekatan komposisi yang pada dasarnya berkaitan dengan terciptanya kesatuan yang harmonis dengan terstrukturnya penyusunan unsur vertikal dan horizontal, material, warna, dan ornamen dekoratif. Metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan variabel penelitian elemen fasade dan prinsip dasar komposisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa antar bangunan memiliki banyak kesamaan pada setiap variabel komposisinya, seperti bentukan geometri persegi panjang yang mendominasi setiap bidang elemen fasade terutama pada bukaan jendela, pintu dan kolom. Adanya persamaan komposisi antar bangunan pada koridor Jalan Veteran dapat menciptakan sebuah citra kawasan dengan fasade yang memiliki ciri khas dan identitas yang kuat. Kata kunci: Komposisi, Elemen fasade, Bangunan kolonial, Jalan Veteran Surabaya
Pelestarian Bangunan Masjid Agung Sunan Ampel
Chairinnisa Zakira Noer Ananda;
Antariksa Antariksa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (373.807 KB)
Studi ini untuk mengidentifikasi karakter bangunan masjid agung sunan ampel yang meliputi karakter visual, spasial, serta struktural bangunan serta menganalisis dan menentukan arahan strategi pelestarian yang dapat digunakan pada bangunan tersebut. Studi ini menggunakan tiga metode pendekatan, yaitu analisis deskriptif, evaluatif (pembobotan), dan development. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa karakter bangunan masjid agung sunan ampel dibentuk dari beberapa elemen. Karakter visual memperhatikan oleh pintu, atap dan komposisi fasad. Karakter spasial yang terbentuk dari organisasi ruang dan orientasi bangunan, serta karakter struktural menganalisa struktur atap dan kolom pada bangunan. Dari hasil analisa ketiga karakter tersebut, nantinya dapat ditentukan arahan pelestarian yang sesuai dengan kondidi masing-masing elemen bangunan Masjid Agung Sunan Ampel. Kata kunci: masjid, karakter bangunan, strategi pelestarian