Articles
1,492 Documents
Konstruksi Rumah Pandhapa di Desa Aeng Tong-Tong Kabupaten Sumenep, Madura
Eka Putri Nurul Choiroti;
Antariksa Antariksa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1387.835 KB)
Arsitektur rumah tradisional Madura merupakan salah satu kebudayaan yang terdapat di Indonesia. Arsitektur.rumah tradisional merupakan.wujud paling nyata dari kebudayaan yang terdapat di pulau Madura. Rumah tradisional Madura memiliki keunikan-keunikan, salah satu keunikannya terlihat pada konstruksi rumahnya. Rumah tradisional Madura khususnya yang terdapat di daerah Sumenep disebut dengan rumah pandhapa, yaitu rumah yang awalnya merupakan sebuah pendopo dan berubah fungsi menjadi rumah tinggal. Rumah pandhapa ini merupakan rumah yang memiliki perbedaan bentuk dan konstruksinya dibandingkan dengan rumah tradisional Madura di daerah lainnya. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi konstruksi bangunan yang digunakan pada rumah pandhapa yang terdapat di Desa Aeng Tong-Tong Kabupaten Sumenep Madura. Artikel ini menggunakan deskriptif analisis, dengan cara memaparkan berbagai data yang berkaitan dengan konstruksi rumah pandhapa, kemudian menganalisis berdasarkan bagian konstrusinya. Hasil penelitian menunjukkan konstruksi terbagi atas tiga bagian yaitu konstruksi bawah yang terdiri dari pondasi dan lantai, konstruksi tengah yang terdiri dari kolom, balok,dinding dan konstruksi atas yang terdiri dari konstruksi atap. Karakteristik konstrusi terdiri atas bahan yang digunakan, konstruksi yang digunakan dan macam-macam sambungannya. Simpulan bahwa arsitektur rumah pandhapa di Sumenep Madura mempunyai keunikan dilihat dari konstruksinya mulai dari pondasi, kolom, dan rangka atapnya.Kata Kunci: Arsitektur Rakyat, Madura, Konstruksi Rumah Tradisional
Keseimbangan Struktur Ruma Bolon Simanindo di Huta Bolon Simanindo, Kabupaten Samosir
Maria Ratna Ayu Kinasih;
Abraham M. Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1197.207 KB)
Samosir memiliki banyak potensi dari segi pariwisata terlebih pada wisata budaya. Huta Bolon Simanindo sebagai bentuk wisata sejarah dan budaya suku batak toba memiliki beberapa peninggalan salah satunya struktur dari Ruma Bolon Simanindo yang masih terjaga keasliannya. Namun masyarakat samosir kurang mengerti dengan keistimewaan Ruma Bolon terlihat dari banyaknya modifikasi yang kurang terarah dan tidak bisa mempertahankan bangunan Ruma Bolon Simanindo dari kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana keseimbangan struktur Ruma Bolon Simanindo dalam mempertahankan bangunannya melewati kondisi lingkungan sekitar. Metode yang digunakan merupakan metode kualitatif dengan membagi jenis beban yang diterima bangunanya kemudian menghitung sesuai jenis beban sebagai beban hidup dan material kayu sebagai beban matinya dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara serta studi literatur. Hasil dari penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih mengenai keistimewaan struktur Ruma Bolon mengenai keseimbangan sturktur yang terjadi akibat penataan beban, sistem struktur bongkar pasang,, serta sifat yang cendrung meneruskan beban yang diterima dapat menjadi masukan berguna terutama bagi masyarakat samosir dalam mempertahankan asset kebudayaan batak toba serta dalam bidang pendidikan arsitektur nusantara. Kata kunci: Keseimbangan Struktur, Ruma Bolon Simanindo
Tata Cahaya Buatan pada Ruang Pamer Museum Brawijaya Malang
Rivaldi Ardiansyah;
Ary Dedy Putranto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (387.149 KB)
Sistem tata cahaya pada museum tentu merupakan salah satu hal penting, terutama pada museum yang bangunannya menggunakan bangunan tua peninggalan sejarah, dimana sistem tata cahaya harus dibuat agar museum tidak terlihat seram dan menakutkan, sistem tata cahaya juga harus dibuat agar museum dapat berfungsi sebagai sarana edukasi sekaligus rekreasi. Museum Brawijaya Malang yang terletak di jalan Ijen, Kecamatan Klojen, Kota Malang merupakan bangunan museum yang diresmikan tahun 1968. Museum ini belum pernah mengalami revitalisasi sebelumnya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-kuantitatif dengan menggunakan alat Luxmeter dan simulasi data menggunakan software Dialux 4.12. Penelitian ini untuk meninjau sistem tata cahaya buatan dengan aspek kenyamanan visual pada ruang pamer Museum Brawijaya Malang sesuai dengan standart pencahayaan museum yakni 500 lux yang direkomendasikan oleh Standart Nasional Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ruang pamer belum memenuhi standar pencahayaan dengan penyebaran intensitas penerangan yang belum merata ke seluruh ruangan. Variabel yang diteliti pada tata cahaya ruang pamer Museum Brawijaya Malang adalah, intensitas penerangan, desain bukaan, tata letak titik lampu dan suasana, kemudian keawetan barang koleksi. Kata kunci: Museum, Ruang Pamer, Tata Cahaya Buatan
Kualitas Visual Elemen Lanskap pada Kusuma Agrowisata, Kota Batu, Jawa Timur
Salma Safira Putri;
Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (52.601 KB)
Kusuma Agrowisata Kota Batu, merupakan objek wisata berbasis pertanian yang telah menjadi pioneer agrowisata di Indonesia. Maka dari itu perlu dilakukannya pengukuran pada kualitas visual elemen lanskapnya untuk pengembangan wisata itu sendiri. Perubahan iklim pada kawasan serta banyaknya pengunjung yang datang setiap harinya mampu menurunkan kualitas visual lanskapnya. Penataan lanskap kawasan wisata dapat dikatakan optimal apabila menempatkan elemen dasar lanskap yang fungsional dan estetis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kualitas visual lanskap kawasan Kusuma Agrowisata berdasarkan persepsi wisatawan dan akademisi. Metode yang digunakan adalah mix method, untuk menganalisis berdasarkan keadaan eksisting dan standar dari teori terkait, serta untuk mengetahui kualitas visual elemen lanskap dengan menggunakan metode Scenic Beauty Estimation (SBE). Uji validitas dan reliabilitas dilakukan sebelum melakukan metode SBE, selanjutnya dilakukan metode kuartil, uji normalitas serta regresi linear sederhana. Hasil dari kuesioner adalah terdapat tujuh vantage point yang memiliki nilai kulaitas rendah berdasarkan responden, serta kualitas visual lanskap kawasan Kusuma Agrowisata memiliki klasifikasi kualitas sedang. Kualitas visual pada kawasan dapat ditingkatkan dengan memberikan masukan dan rekomendasi desain terhadap kawasan. Kata kunci: kualitas visual, elemen-elemen lanskap, mix-method
Kualitas Visual Elemen Lanskap pada Kusuma Agrowisata, Kota Batu, Jawa Timur
Ulung Satria Suwardiyono;
Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (149.981 KB)
Kusuma Agrowisata Kota Batu, merupakan objek wisata berbasis pertanian yang telah menjadi pioneer agrowisata di Indonesia. Maka dari itu perlu dilakukannya pengukuran pada kualitas visual elemen lanskapnya untuk pengembangan wisata itu sendiri. Perubahan iklim pada kawasan serta banyaknya pengunjung yang datang setiap harinya mampu menurunkan kualitas visual lanskapnya. Penataan lanskap kawasan wisata dapat dikatakan optimal apabila menempatkan elemen dasar lanskap yang fungsional dan estetis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kualitas visual lanskap kawasan Kusuma Agrowisata berdasarkan persepsi wisatawan dan akademisi. Metode yang digunakan adalah mix method, untuk menganalisis berdasarkan keadaan eksisting dan standar dari teori terkait, serta untuk mengetahui kualitas visual elemen lanskap dengan menggunakan metode Scenic Beauty Estimation (SBE). Uji validitas dan reliabilitas dilakukan sebelum melakukan metode SBE, selanjutnya dilakukan metode kuartil, uji normalitas serta regresi linear sederhana. Hasil dari kuesioner adalah terdapat tujuh vantage point yang memiliki nilai kulaitas rendah berdasarkan responden, serta kualitas visual lanskap kawasan Kusuma Agrowisata memiliki klasifikasi kualitas sedang. Kualitas visual pada kawasan dapat ditingkatkan dengan memberikan masukan dan rekomendasi desain terhadap kawasan. Kata kunci: kualitas visual, elemen-elemen lanskap, mix-method
Karakter Visual Bangunan Masjid Besar Ainul Yaqin Gresik
Adibah Khairunnisa Marwa;
Antariksa Antariksa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Awal masuk agama Islam di wilayah Gresik sekitar pada abad ke-11 oleh Syech Maulana Malik Ibrahim bersama Fatimah Binti Maimun. Perkembangan yang pesat membutuhkan masjid sebagai tempat ibadah umah muslim dan dibangun dengan konsep Jawa Kuno yang mendapat pengaruh agama Islam di beberapa detail arsitekturalnya. Masjid Besar Ainul Yaqin merupakan bangunan masjid yang selesai dibangun pada tahun 1857 yang berarti telah memiliki usia lebih dari 100 tahun. Arsitektur bangunan Masjid Besar Ainul Yaqin tidak terlepas dari elemen-elemen pembentuknya, salah satunya adalah elemen pembentuk karakter visual masjid. Elemen pada visual masjid dapat menjadi ciri khas tersendiri pada bangunan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakter visual bangunan Masjid Besar Ainul Yaqin Gresik. Metode yang digunakan pada stuni ini adalah metode analisis kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis atau pemaparan kondisi. Metode analisis kualitatif merupakan pengumpulan data primer dan sekunder, sedangkan metode deskriptif analisis dilakukan dengan pendekatan historis bangunan dan yang menunjang arsitektural bangunan. Kata kunci: Masjid Besar Ainul Yaqin, karakter visual
Kualitas Walkability Berdasarkan Persepsi Pedestrian (Studi Kasus pada Koridor Jalan Kawi Atas, Kota Malang)
Ela Tiara B. Brouwer
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (905.96 KB)
Wilayah perkotaan merupakan salah satu kontributor utama penurunan kualitas lingkungan, populasi yang tinggi mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan seperti limbah dan polusi. Pengembangan alih moda transportasi non-motor seperti berjalan kaki dapat menunjang perbaikan lingkungan. Pengukuran kualitas walkability digunakan untuk mengetahui kelayakan suatu area untuk diakses masyarakat dengan berjalan kaki. Koridor Jalan Kawi Atas berperan sebagai koridor komersil di Kota Malang dijadikan sebagai kajian studi dengan alasan tingginya volume pengguna dan konflik antar moda, namun belum diimbangi penyediaan transportasi pedestrian yang baik. Pendekatan penilaian walkability dilakukan dengan menggunakan persepsi pedestrian sebagai tolok ukur hasil penilaian, dengan indikator parameter yang dikembangkan dari teori-teori walkability. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar kuesioner yang ditujukan pada responden secara random. Data hasil survey dianalisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sistem penilaian mean score yang kemudian dikelompokkan dengan aturan Sturges. Hasil penelitian menunjukkan dari 12 variabel kualitas walkability pada Koridor Jalan Kawi Atas, 7 berkualitas sedang, 1 berkualitas buruk, dan 4 berkualitas baik. Dapat disimpulkan bahwa Koridor Jalan Kawi memiliki kualitas walkability yang sedang atau cukup, dan memerlukan perbaikan pada aspekaspek yang bernilai rendah-sedang untuk meningkatkan kualitas walkability pada kawasan tersebut. Kata kunci: walkability, persepsi, pedestrian, area komersil
Penerapan Material Bambu Pada Elemen Bangunan Pasar Tradisional Di Desa Donowarih - Karangploso
Erent Dwira Putra;
Heru Sufianto;
Bambang Yatnawijaya Soebandono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (319.978 KB)
Pasar tradisional merupakan tempat beraktivitasnya jual-beli dengan budaya tawar menawar. Pesatnya perkembangan pembangunan pasar modern di Indonesia memberikan dampak pada menurunnya minat belanja di pasar tradisional sehingga pembangunan pasar tradisional dengan konsep yang berbeda dirancang untuk meningkatkan daya beli. Pembangunan pasar tradisional dengan penerapan material bambu ditujukan untuk lebih menarik minat konsumen, juga memerlukan estetika dalam proses pembangunannya. Desa Donowarih di Kabupaten Malang adalah desa segitiga emas yang menjadi objek penelitian dikarenakan potensinya sebagai wilayah perdagangan dan pariwisata. Penerapan material bambu pada Desa Donowarih adalah untuk perbaikan estetika arsitektur serta memberikan nuansa lokal pada pasar tradisional yang diharapkan menarik konsumen yang melintasi wilayah tersebut sehingga mampu menunjang sektor perdagangan dan pariwisata Kata kunci: Arsitektur Hijau, Bambu, Estetika Pasar Tradisona
Evaluasi Perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah dengan Pendekatan Arsitektur Tropis Nusantara di Malang
Gilang Rayendra P.;
Eryani Nurma Yulita
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (73.123 KB)
Permasalahan utama yang dihadapi dalam masalah pembangunan perumahan ialah tingginya angka backlog hingga 13,5 juta unit. Selain itu, percepatan pembangunan yang mengatasnamakan modernisasi seringkali mengabaikan bahkan melunturkan nilai dari arsitektur lokal Nusantara. Maka dari itu diperlukan adanya kajian menyeluruh tentang unit hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak hanya memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, melainkan unit hunian yang ramah terhadap lingkungan sebagai ikon pembangunan yang berkelanjutan dengan pendekatan Arsitektur Tropis Nusantara di Malang. Metode yang digunakan ialah deskriptif evaluatif dengan parameter berdasarkan aspek-aspek yang termasuk dalam konsep Arsitektur Tropis Nusantara dan mengkhususkan pada unit hunian untuk MBR. Berdasarkan hasil evaluasi unit hunian pada Perumahan Bumi Mondoroko Raya, unit hunian ini hanya memenuhi 5 dari 19 variabel yang diteliti dengan persentase 263%. Hal ini tentunya dapat ditingkatkan, sehingga dapat dijadikan acuan sebagai desain unit hunian untuk MBR yang tanggap terhadap iklim, dapat melestarikan warisan nusantara, dan berkelanjutan. Kata kunci: Perumahan, Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Tropis Nusantara
Kinerja Termal Pasar Bandar Kota Kediri
Rica Nurcahyani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (323.256 KB)
Berdasarkan survey AC Nielsen, pertumbuhan pasar tradisional mengalami penurunan setiap tahunnya. Perpindahan berbelanja konsumen dipengaruhi oleh kualitas produk, kebersihan, dan kenyamanan. Pasar Bandar Kota Kediri diharapkan dapat memenuhi faktor-faktor tersebut untuk mengurangi angka perpindahan berbelanja konsumen sebagai pusat kota kecamatan pada wilayah barat sungai Kota Kediri. Dari ketiga faktor tersebut, salah satu faktor yang berhubungan erat dengan bidang arsitektur adalah faktor kenyamanan dimana suatu bangunan diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Pasar Bandar berada di Kota Kediri yang merupakan salah satu daerah yang memiliki iklim tropis dengan suhu, kelembaban, dan kecepatan angin relatif tinggi, perlu ditinjau kinerja termal dalam bangunannya untuk dapat memenuhi kenyamanan termal bagi pengguna. Dalam penelitian ini, dilakukan tinjauan terhadap kinerja termal Pasar Bandar yang hasilnya menunjukkan bahwa kinerja termal bangunan utama belum optimal. Pada siang hari suhu udara dalam bangunan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 2.7°C dan penurunan sebesar 2.6°C pada sore hari, kecepatan angin pada siang hari pengalami penurunan sebesar 0.04 m/s dan kenaikan sebesar 0.02 m/s pada sore hari, sedangkan untuk kelembabannya pengalami penurunan pada siang hari sebesar 6.4% dan kenaikan sebesar 9.6% pada sore hari. Kata kunci: Pasar Bandar Kota Kediri, kinerja termal, penghawaan alami