cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
Outdoor Design Strategies to Improve Thermal Comfort in the Area of the Faculty of Engineering, University of Brawijaya Malang Reza Maulana Mujahiddin; Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The thermal environment affects a person's heat loss through two factors, namely climate and personal factors. Climate factors include natural land cover, evapotranspiration, geometry effects, anthropogenic, and increased air pollution. This research examines how to reduce the temperature of the microclimate in the outer space of the Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya Malang by modifying the surface scopes and vegetation. This study uses descriptive-evaluative research methods and simulations using Autodesk Flow Design software. The results showed that in the morning the air temperature and average wind speed were still at a comfortable interval. During the day the air temperature has begun to rise above the comfortable threshold, plus the irregular wind speed, which is sometimes too low and sometimes too big. Whereas in the afternoon the air temperature returns to enter a comfortable interval, but the wind speed is still in the uncomfortable range. The results of choosing a good surface-scoping material to be applied to the object of research are grass blocks and paving blocks with a mixture of color pigments, as well as giving a white coating to asphalt material. Whereas for vegetation the best tree configuration patterns are linear and grid. The selection of tree species that have a major role in reducing the temperature of the microclimate (shading), namely kiara payung, beringin, ketapang, and tanjung, while trees that play a good role in reducing wind speed are glodogan trees poles and palms.
Tipologi Elemen Visual Pada Masjid Cheng Ho di Jawa inayatul fikriyah; Herry Santosa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Perkembangan arsitektur bangunan masjid di Indonesia khususnya Masjid Cheng Ho sangat dipengaruhi oleh perkembangan budaya lokal (Jawa) dan budaya luar (Tionghoa). Masjid Cheng Ho di Jawa ditengarai menggunakan unsur dan prinsip desain arsitektur Islam, arsitektur Jawa dan arsitektur Tionghoa. Masing-masing bangunan Masjid Cheng Ho di Jawa memiliki konsep dan prinsip yang menciptakan keunikan bangunan. Arsitektur Masjid Cheng Ho di Jawa ditengarai memiliki persamaan dan perbedaan. Penelitian ini berfokus pada elemen visual terhadap lima Masjid Cheng Ho di Jawa dan kaitannya dengan tipologi elemen visual pada Masjid Cheng Ho di Jawa. Penelitian ini adalah penelitian arsitektur dengan paradigma konstruktivisme, menggunakan metode kualitatif-deduktif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Penelitian ini mengkaji tipologi elemen visual pada bangunan masjid. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan interpretasi kritis terhadap bahan sumber, memilih tema, dan mensistematisasikan dan meringkas data pengamatan. Pembahasan dengan membahas tema analisis dengan teori eklektik, kemudian interpretasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Masjid Cheng Ho di Jawa memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Elemen visual Bentuk, Ornamen, dan warna di Masjid Cheng Ho di Jawa adalah hasil dari konsep arsitektur eklektik yang menggabungkan gaya arsitektur Islam (Arab), gaya arsitektur Jawa, dan gaya arsitektur Tionghoa. Tema-tema pemikiran eklektisisme yang digunakan di Masjid Cheng Ho di Jawa adalah referensi sejarah, sifat, fungsi, seni, simbol, dan gagasan individu.   Kata kunci:  Tipologi, elemen visual, Masjid Cheng Ho, Eklektik.
Pelestarian Bangunan Pesanggrahan Ambarrukmo, Yogyakarta Syifa Nurfitriani Djojoadinoto; Antariksa Antariksa
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesanggrahan Ambarrukmo Yogyakarta, dibangun pada tahun 1859, merupakan bangunan bersejarah yang bertahan lebih dari 50 tahun dan ditetapkan sebagai cagar budaya dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW.007/MKP/2007. Karakter visual bangunan mempresentasikan langgam arsitektur tradisional Joglo, dilihat dari bentuk atap dan ornamen pada bangunan. Bentuk spasial bangunan memiliki tata ruang arsitektur tradisional Joglo. Struktur atap yang digunakan merupakan struktur atap Joglo, Limasan Lawakan dan Tajug segi delapan. Pesanggrahan telah melalui perubahan dari bangunan pertama berdiri, perubahan ini mempengaruhi karakter asli pada bangunan. Perlu adanya tindakan pelestarian agar karakter asli bangunan tetap terjaga. Tindakan pelestarian dilakukan dengan menyajikan arahan pelestarian yang tepat terhadap bangunan melalui metode deskriptif yang dilakukan terhadap elemen elemen pada bangunan, lalu dilakukan metode evaluatif terhadap elemen tersebut untuk menetapkan layak atau tidak layaknya elemen tersebut untuk dilestarikan dan metode development untuk mengetahui arahan pelestarian yang tepat. Arahan pelestarian dari bangunan Pesanggrahan Ambarrukmo terbagi menjadi tindakan preservasi (56 elemen) dan konservasi (21 elemen).
Pola Pemanfaatan Taman Hutan Kota Patriot sebagai Wadah Aktivitas Masyarakat Muhammad Naufal Tirto Waksono; Muhammad Satya Adhitama
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Hutan Kota Patriot terletak di Kota Bekasi yang sejak tahun 2012 ditetapkan sebagai salah satu titik pantau Adipura di Kota Bekasi. Berdasarkan dasar pembentukannya lokasi merupakan ruang publik dalam bentuk hutan kota yang difungsikan sebagai resapan air dan plasma nuftah, lokasi wisata dan pusat aktivitas masyarakat, sementara itu berdasarkan pengamatan di lapangan area tersebut cukup mewadahi banyak aktivitas layaknya sebuah taman seperti yang tertera pada penamaanya juga lokasi dilengkapi dengan segala bentuk fasilitas yang cukup beragam diantaranya taman bermain hingga tempat ibadah sehingga fungsi dari area menjadi ambigu. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pola pemanfaatan yang terjadi di dalam area Taman Hutan Kota Patriot Bina Bangsa untuk dapat melihat bagaimana pengembangan yang baik dan meluruskan fungsi dari lokus penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan behavioral mapping dengan teknik place-centered mapping guna melihat pola aktivitas yang menunjukan pola pemanfaatan pada ruang. Pemgamatan dilakukan pada pagi dan sore hari di hari kerja dan hari libur. Hasil penelitian ini pemanfaatan lokus terhadap Taman Hutan Kota Patriot ini bahwa pemanfaatan lokus sebagai hutan kota sudah tidak lagi relevan karena lebih cocok jika dimanfaatkan sebagai taman kota dengan penyesuaian dan penambahan beberapa atribut ruang guna mewadahi aktivitas berulang yang belum terwadahi.
Aspek Pembentuk Ruang Sikep Muhammad Wildan Ilhami Akbar; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Ajaran sikep pada dasarnya adalah gerakan yang di dalangi oleh garis ekonomi, dikarenakan pencetusnya yaitu Samin Surosentiko merupakan seorang Petani yang hidup di lingkungan yang didominasi oleh kemiskinan. Maka gerakan ini sejatinya merupakan gerakan yang diinisiasi oleh satu orang sebagai pemimpin atau sesepuh untuk mempertahankan kehendaknya. Dalam keseharian pengikut ajaran sikep, sesepuh bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan ajaran sikep dengan menciptakan identitas berupa acara rutin yang dilakukan tiap bulan dan tahun. Konsep dari ajaran sikep pada kehidupan mendorong terciptanya ruang dalam permukiman di komintas sikep. Tercermin pada ritual bulanan yang terdapat interaksi antara manusia dan lingkungan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aspek-aspek dan mendeskripsikan proses pembentukan ruang di komunitas sikep di dukuh Karangpace, desa Klopoduwur, Blora.   Penelitian ini merupakan penelitian antropologi-arsitektur, dengan menggunakan metode kualitatif-induktif dengan pendekatan eksploratif-deksriptif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan partipasi aktivitas yang divalidasi dengan pendalaman materi melalui keyperson. Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa dalam pembentukan ruang fisik non-fisik memiliki aspek kekerabatan, identitas, peran sosial, dan kekuatan didalamnya. Ruang semakin kuat ketika terdapat interaksi antara manusia dengan lingkungan.
Tipe Bentuk Ruang-Dalam Berdasarkan Sumbu dan Hierarki Rumah Masyarakat Madura Medhalungan di Wilayah Hinterland Malang Disyacita Sauma Absari; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Masyarakat Madura sejak abad ke-18 mengalami perpindahan penduduk secara linear yang berseberangan dengan kabupaten mereka salah satu wilayah yang dipilih adalah Malang dan hinterland-nya. Wilayah Malang dan hinterland-nya banyak menerima pengaruh- pengaruh dari dataran rendah sekitar abad XIX dan didukung dengan wilayah ini akhirnya menunjukan keberadaan eksistensinya ke daerah luar di akhir abad XVIII. Permasalah kekurangan tenaga kerja untuk perkebunan tebu tersebut dan kurangnya jumlah penduduk asli sehingga pemicu adanya migrasi suku Madura ke wilayah Malang dan hinterland-nya yang besar-besaran. Perkembangan penyesuaian berarsitektur dimungkinkan karena adanya pengaruh kondisi pada daerah yang baru yang berdampak pada penyesuaian ruang dalam huniannya. Perkembangan bentuk ruang dalam yang ada di rumah Desa Ganjaran memicu adanya perkembangan dengan hierarki dan sumbu ruang yang ada di dalamnya. Perkembangan ini dipicu dengan beberapa faktor dari dominan pengaruh aktivitas masyarakat yang hidup di rumah tersebut. Kondisi-kondisi ruang dalam rumah di Desa Ganjaran yang berbeda-beda memunculkan karakteristik tipe bentuk ruang dalamnya. Penelitian ini untuk membahas lebih detail lagi tentang keberadaan masyarakat Madura Medhalungan dan hubungannya dengan ruang hunian yang mengupas tentang tipe bentuk ruang dalam dengan pendekatan tipologi.    
Pengaruh Fasad Tropis Terhadap Pendinginan Alami pada Rumah Adat Betawi (Studi Kasus Setu Babakan) Banu Abdurrahman; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Rumah Adat Betawi adalah salah satu rumah adat yang ada di Indonesia yang dapat memberikan kenyamanan termal terhadap pengguna dan penghuninya dengan menggunakan sistem pendinginan alami dengan pendekatan desain fasad yang seimbang dengan iklim lingkungan eksisting. Fasad tropis bangunan merupakan elemen yang sangat penting bagi kinerja pendinginan alami pada bangunan yang berada pada iklim tropis lembab. Penilitian ini meneliti tentang pengaruh desain tropis terhadap pendinginan alami pada rumah Betawi yang berada di Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Penelitian meneliti tentang kinerja pendinginan alami pada rumah adat Betawi ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran lapangan selama 27 hari yang berupa pengukuran suhu udara dan kelembaban udara pada tiga rumah yang memiliki visual bangunan yang berbeda. Lalu, dilakukan juga analisis visual yang menggunakan kriteria arsitektur tropis nusantara pada ketiga rumah untuk menilai visual bangunan terhadap iklim tropis lembab Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah rumah yang sesuai dengan kriteria arsitektur tropis nusantara mampu menurunkan suhu udara pada bagian ruang tamu dan kamar rumah adat Betawi masing-masing sebesar 0,9ºC dan 2,1ºC.   Kata kunci: desain fasad, arsitektur tropis nusantara, rumah adat betawi, pendinginan alami.
Identitas Visual Bangunan Masjid Raya Gantiang di Kota Padang Muhammad Ricky Ronaldo; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Raya Gantiang sebagai salah satu bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda merupakan bangunan masjid tertua yang berada di Kota Padang dan juga sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang dilindingi oleh pemerintah setempat. Identitas bangunan merupakan simbol bagi nilai-nilai dan kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tak terkecuali untuk bangunan Masjid Raya Gantiang dan masyarakat setempat, namun bangunan masjid ini telah mengalami beberapa kali perubahan atau penambahan pada elemen penyusun visual masjid tersebut yang sedikit mengaburkan karakteristik visual yang dimiliki. Metode deksriptif analisis digunakan dalam menagidentifikasi karakter visual dan menganalisis identitas bangunan masjid Raya Gantiang. Hasil dari identifikasi dan analisis dari bangunan masjid Raya Gantiang ini secara visual adalah, identitas yang terbentuk pada bangunan memiliki dominasi pengaruh dari beberapa gaya arsitektur seperti arsitektur kolonial Belanda yang tertuang pada bentuk bukaan dengan dominasi bentuk persegi dengan ukuran yang besar dan barisan kolom Yunani. Selain itu terdapat dominasi pengaruh, arsitektur Mediterania yang banyak ditemukan pada bukaan-bukaan yang melengkung, hiasan garis melengkung pada atas pintu dan jendela, dan hiasan-hiasan pada kolom bangunan. Pengaruh arsitektur tradisional Minangkabau dan arsitektur Tionghoa juga ditemukan pada bentuk dasar atap bertumpang yang dikombinasi dengan bentuk persegi delapan pada dua tumpangan atap paling atas. Selain itu juga terdapat penggunaan ragam hias lokal Minangkabau dan Betawi pada ornamen-ornamen yang menjadi pelengkap visual bangunan.
Soundmark: Relasi Soundscape dan Karawitan pada Konsep Pembentuk Ruang Muhammad Sa'dan Fauzi; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Shadow puppet is the result of the manifestation of Javanese people's knowledge. Karawitan is the sound medium of puppet performance art. Karawitan functions as a shaper of the atmosphere of the shadow puppet show. Space is not only formed by physical factors, but can also be formed by non-physical factors. These non-physical factors usually form not only space, but the meaning and spirit of space are also created at the first time. It-is-important to capture the whole meaning of a space or architectural formations not only with the sense of sight, not just a matter of dimensions. This study aims to answer the question of the relationship formed between soundscape and karawitan pakeliran on the spatial concept. This research is a qualitative research with a meta-analysis strategy. Soundscape is an environmental sound in the form of scenery. Soundmark comes from the landmark, means a sound that is considered unique and is a marker for an area. The sound produced by karawitan can be said as a soundmark. If the karawitan pakeliran can be classified as soundmarks, then the atmosphere formed in the shadow puppet performance can be said to be a manifestation of soundscape.
Membaca Makna Monumen Melati Bagi Generasi Milenial di Kota Malang Fahrizal Zamrasuly Noor; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Monumen memiliki keterkaitan dengan sejarah suatu peristiwa dibalik terbentuknya suatu kota. Dibeberapa kota, sang perancang monumen memang bermaksud untuk menyimpan kenangan serta spirit juang dari peristiwa perjuangan yang terjadi sesuai letak terjadinya peristiwa tersebut. Hal serupa pun terjadi pada monumen Melati di kota Malang. Salah satu peristiwa di kota Malang yang diceritakan oleh monumen tersebut tentang perjuangan perebutan Malang dari kekuasaan penjajah. Secara singkat, monumen Melati menceritakan tentang sekolah kadet yang menjadi asal muasal TNI. Penceritaan dari monumen Melati semakin tertutup tanpa adanya suatu informasi yang tertulis secara rinci di sekitar kawasan monumen. Serta dengan bentuknya yang monumental, masyarakat sering menggunakan monumen hanya sekedar tetenger. Dalam era sekarang yang didominasi oleh generasi milenial,  apakah generasi tersebut memaknai monumen Melati dengan makna yang telah sesuai dengan yang dimaksud oleh perancang tanpa adanya informasi penunjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif untuk menggali pernyataan-pernyataan responden sebagai tanda bahwa mereka telah membaca monumen dan dianalisis menggunakan teori dari Genette dan Barthes. Hasil penelitian ini dapat menunjukkan pemaknaan monumen Melati dari sudut pandang generasi milenial dan keterkaitan antar dua teori yang digunakan  Kata kunci: Monumen, Makna, Genette, Barthes

Page 72 of 150 | Total Record : 1492