cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
Studi Gen Parp-1 Ekson 23 pada Testis Mencit Setelah Induksi Formalin: Tidak Terdeteksi Mutasi Karima, Is; Widyarti, Sri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.208 KB)

Abstract

Penelitian   ini   bertujuan   untuk   mengetahui pengaruh induksi formalin terhadap mutasi pada gen PARP-1 ekson 23. Penelitian ini menggunakan hewan coba mencit (Mus musculus) Balb-c jantan berumur 3 bulan, berat 20-30 g, yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol tanpa paparan formalin (KB), kelompok formalin dosis 2 mg/kg BB (F2), dan kelompok formalin dosis 25 mg/kg BB (F25). Sediaan formalin dalam bentuk cairan diberikan secara peroral menggunakan sonde selama 60 hari. DNA diisolasi dari organ testis dilakukan amplifikasi menggunakan primer forward (5’-GTTGTTTGTGGTT TGTCCTA-3’) dan reverse (5’-TTTTTAGCTCAAAATAAATGCTTAA-3’). Hasil sekuensing menunjukkan tidak ada perubahan basa nukleotida (mutasi) gen PARP-1 ekson 23 pada testis mencit (Mus musculus) Balb-c setelah induksi formalin.
Evaluasi Kualitas Air Berdasarkan Struktur Komunitas Makroinvertebrata Bentos dan Persepsi Masyarakat tentang Pengelolaan Perairan di Wilayah Rawa Bayu, Songgon, Banyuwangi Wahyudi, G I; Hidayatullah, M H; Putra, N.N R.; Arisoesilaningsih, Endang
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.965 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas perairan di sekitar Rawa Bayu berdasarkan struktur komunitas makroinvertebrata bentos (MIB),  membuat peta persebaran MIB, menentukan ukuran beberapa MIB dengan INP tertinggi, dan menentukan persepsi masyarakat tentang pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu. Pengambilan sampel MIB menggunakan jaring Surber dan hand net pada tiga stasiun (hulu, tengah, hilir) dengan dua sampai tiga kali pengulangan spasial. MIB dengan INP tertinggi pada tiap lokasi dilakukan pengukuran morfometri. Penggalian informasi terkait pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu dilakukan berdasarkan wawancara semi terstruktur dengan warga setempat. Kemudian, dilakukan analisis data untuk mendapatkan nilai Indeks nilai penting (INP), kekayaan taksa, H (Indeks Diversitas Shannon-Wiener), dan FBI (Family biotic index). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai H>2 dan FBI<4.99, semua stasiun masih belum tercemar bahan toksik dan bahan organik. Akan tetapi, stasiun hilir memiliki kualitas air terbaik ditunjukkan oleh kekayaan taksa terbanyak, yakni 28 taksa, dan nilai FBI terendah, yakni 3,8. Terdapat kodominasi di stasiun hulu antara Heptageniidae, Thiaridae, dan Hydropsychidae. Pada stasiun tengah juga terdapat kodominasi, yaitu antara Heptageniidae, Hydropsychidae, dan Hirudinae, sedangkan stasiun hilir didominasi oleh Hydopsychidae. Heptageniidae dewasa pada stasiun hulu berukuran 9,8 mm, sedangkan pada stasiun tengah berukuran 10,4 mm. Pada stasiun hilir Hydropsychidae berukuran 12,8 mm. Air dari sumber di sekitar Rawa Bayu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Jenis hewan air yang sering dijumpai dan dimanfaatkan warga di Rawa Bayu dan alirannya adalah Oreochromis mossambicus, Puntius binotatus, Corbicula fluminea, Channa striata, Nemacheilus fasciatus, Cyprinus carpio, dan Macrobrachium rosenbergii.
Variasi Kualitas Perairan dan Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaannya di Wana Wisata Rawa Bayu, Kabupaten Banyuwangi Pradana, Silvy Armydiyanti; Arisoesilaningsih, Endang; Ayunareswara, Aksita; Khinanty, Retno Dewi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.122 KB)

Abstract

Air merupakan sumber daya yang tidak bisa lepas dari makhluk hidup, sehingga ekosistem perairan perlu dilestarikan. Pelestarian meliputi tumbuhan riparian, sempadan, badan dan kualitas air, termasuk pemanfaatannya oleh masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan variasi kualitas beberapa sumber air dan salurannya di Rawa Bayu berdasarkan sifat fisika-kimia dan tumbuhan riparian, menggambarkan peta kualitas air (berdasarkan fisika-kimia dan tumbuhan riparian) dan peta penggunaan air di perairan Rawa Bayu, mendeskripsikan tumbuhan riparian dominan di perairan Rawa Bayu, dan menggali persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan dan pengelolaan perairan Rawa Bayu. Metode yang digunakan adalah: pengukuran sifat fisika-kimia dan pengamatan tumbuhan riparian pada tujuh stasiun, yaitu Sumber Taman Kaputren, Sumber Dewi Gangga, Sumber Kamulyan, Telaga Rawa Bayu, sungai outlet  Telaga Rawa Bayu, dan sungai di pemukiman serta kamar mandi. Tumbuhan riparian yang dominan kemudian dideskripsikan dan dilakukan pengukuran morfometri. Survei sosial terkait persepsi masyarakat dilakukan melalui wawancara terhadap pengelola, warga, dan pengunjung terhadap pengelolaan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air Telaga Rawa Bayu memenuhi standar kualitas air minum berdasarkan nilai DO, pH, temperatur, konduktivitas, dan turbiditas. Air Sumber Taman Kaputren, Sumber Dewi Gangga, sungai outlet Telaga Rawa Bayu, dan sungai di pemukiman tidak memenuhi standar kualitas air minum pada nilai DO. Air Sumber Kamulyan tidak memenuhi standar kualitas pH dan DO, sedangkan air kamar mandi pada turbiditas dan DO. Sumber Taman Kaputren, Sumber Dewi Gangga, Sumber Kamulyan, dan Telaga Rawa Bayu cenderung memiliki kualitas vegetasi riparian QBR yang lebih rendah dibandingkan sungai outlet Telaga Rawa Bayu dan sungai di pemukiman. Tumbuhan riparian dengan INP tertinggi pada kategori perdu adalah bambu Gigantochloa sp. dan kecubung Brugmansia candida, kategori ground cover adalah paku Athyrium sp. dan tanaman hias eksotik Dieffenbachia seguine. Masyarakat mengetahui tentang adanya peraturan pengelolaan dan pemanfaatan air, ikut menjaga adanya tumbuhan riparian di pinggir sungai, namun masih ada yang membuang sampah ke dekat badan air. 
Pengaruh Ekstrak Ethanol Kemangi (Ocimum canum Sims.) terhadap Struktur Histologi Testis Mencit (Mus musculus) Jantan Anzila, Ivakhul; W. M., Agung Pramana; Soewondo, Aris; Rahayu, Sri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.105 KB) | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.01.4

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak ethanol kemangi (Ocimum canum Sims.) terhadap struktur histologi testis mencit jantan (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan 9 ekor hewan coba mencit strain Balb/c jantan berumur 3 bulan, berat badan 20 - 30 g. Hewan coba dibagi menjadi tiga (3) kelompok kontrol tanpa pemberian ekstrak kemangi (P0), kelompok yang diberi ekstrak kemangi dengan dosis 100 mg/kgBB (P1) dan 200 mg/kgBB (P2). Ekstrak kemangi diberikan setiap hari secara oral selama 35 hari. Parameter yang diamati adalah diameter tubulus seminiferus, tebal epitel germinal, jumlah lapisan germinal dan jumlah sel spermatogenik meliputi spermatogonia, spermatosit dan spermatid. Data yang diperoleh dianalisis dengan One-way ANOVA (p ≤ 0,05). Jika menunjukkan perbedaan yang bermakna, maka dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kemangi dosis 200 mg/kgBB meningkatkan diameter tubulus seminiferus, tebal epitel germinal, dan jumlah sel spermatid
Struktur Sel Sekretori dan Uji Mikroskopi Mikrokimiawi Metabolit Sekunder pada Daun dari Tujuh Taksa Tanaman Obat Antihipertensi Nindyawati, Dwi Lina; Indriyani, Serafinah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.81 KB) | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.02.4

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah. Penggunaan tanaman obat untuk mengatasi hipertensi telah digunakan sejak zaman dahulu. Hal ini dapat terjadi karena di dalam tanaman tersebut mengandung metabolit sekunder yang dimanfaatkan sebagai obat. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberadaan senyawa metabolit sekunder, struktur atau bentuk dan kerapatan sel sekretori senyawa metabolit sekunder berupa tanin, flavonoid, dan alkaloid. Sampel yang digunakan adalah daun mimba, belimbing wuluh, seledri, mahkota dewa, sambiloto, sambung nyawa, dan tempuyung (umur 4 bulan). Masing-masing sampel daun diambil tiga ulangan individu tanaman pada daun bagian median. Sampel diiris dengan dua metode irisan yaitu melintang dan paradermal. Irisan melintang dengan clamp on hand microtome dan irisan paradermal dengan preparat whole mount sebanyak tiga ulangan sampel daun. Masing-masing preparat diberi reagen spesifik yaitu tanin dengan potasium dikromat, alkaloid dengan reagen Wagner, dan flavonoid dengan NaOH 10 %; selanjutnya diamati dengan mikroskop. Sel sekretori pada belimbing wuluh ditemukan berbentuk capitate dan trikoma uniseluler panjang. Trikoma pada sambiloto ditemukan berbentuk kerucut dan juga ditemukan sel litosis. Pada mahkota dewa ditemukan sel idioblas dan pada mimba ditemukan sel trikoma uniseluler panjang dan sel sekretori berbentuk capitate. Pada sambung nyawa ditemukan sel trikoma capitate glandular, sel idioblas, dan sel trikoma multiseluler. Pada seledri dan tempuyung tidak ditemukan bentuk sel sekretori. Tanaman obat yang mengandung ketiga senyawa metabolit sekunder pada daunnya adalah belimbing wuluh, sambiloto, mahkota dewa, dan mimba. Kerapatan sel sekretori yang mengandung flavonoid dan tanin tertinggi yaitu belimbing wuluh berturut-turut sebesar 3,27±2,46 sel/mm2 dan 3,11±5,58 sel/mm2 sedangkan sambiloto mengandung alkaloid tertinggi sebesar 1,33±0,84 sel/mm2
Kajian Kerapatan Tanam dengan Berbagai Arah Baris pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sorgum Manis (Sorghum Bicolor (l.) Moench) Yusuf, Andi Cakra; Soelistyono, Roedy; Sudiarso, Sudiarso
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.956 KB) | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.5

Abstract

Perbaikan faktor lingkungan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum manis, salah satu alternatif yang dapat ditempuh dengan memanfaatkan suberdaya yang telah tersedia. Diantaranya adalah energi radiasi matahari yang berperan dalam proses fotosintesis. Arah baris dan kerapatan populasi tanaman mempengaruhi besarnya energi matahari yang diterima. Sehingga, perlu adanya pengaturan arah baris dan jarak tanam yang tepat agar penerimaan energi radiasi oleh tanaman lebih efisien. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Petak Terbagi (RPT). Penelitian terdiri dari 2 (dua) faktor perlakuan dan 4 (empat) ulangan. Faktor pertama adalah Arah baris timut-barat (TB) dan utara-selatan (US) Sedangkan faktor kedua adalah jarak tanam (JT15, JT30 dan JT45). Hasil penelitian menunjukkan arah baris utara-selatan meningkatkan bobot kering total tanaman umur 53 hst sebesar 36,71% apabila dibandingkan dengan arah baris timur-barat. Jarak tanam secara nyata meningkatkan komponen pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum manis. Pemberian jarak tanam JT45 memberikan bobot segar total tanaman umur 67 hst dan 81 hst sebesar 35,25%, namun tidak berbeda nyata dengan JT30. Pemberian jarak tanam JT45 memberikan bobot kering total tanaman umur 81 hst sebesar 11,30%, apabila dibandingkan dengan perlakuan tanam 75 x 30 cm dan peningkatan rata-rata sebesar 40,84% apabila dibandingkan dengan perlakuan jarak tanam 75 x 15 cm. Hasil panen biji kering jarak tanam 75 x 15 cm menunjukkan hasil yang lebih tinggi, dimana rata-rata hasil panen biji kering sebesar 3,84 ton h-1
Inventarization Epiphytic Mosses in Hutan Lumut Area “Dataran Tinggi Yang”, Wildlife Preserve Argopuro Mountain Rahardian, Galen; Prakosa, Gayut Widya; Anas, Aswar; Hidayatullah, Alhabsy; Hasan, Ahmad Zainul
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.83 KB) | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2017.005.03.10

Abstract

Mosses are group of non-vascular plant, small size, and able to growth in many substrates. Epiphytes are organism witch growth at wood surface of living plant. Epiphytic mosses has some advantages, there are out of   range from terestial organism and to get more optimaly sun light. One of place which has suitable conditions for this research is in Wildlife Preserve “Dataran Tinggi Yang”, Argopuro Mountain. This research purpose to get known about species of epiphyte mosses and morphological characteristic each species of epiphytic mosses in Wildlife Preserve “Dataran Tinggi Yang”, Argopuro Mountain. The result of identification and characterization obtained 17 families and 25 species of epiphytic mosses. The main characteristic of mosses are leaf position, leaf form,  and leaf costa.
Isolation, Identification and Ethanol Production of Indigenous Yeast of Toddy Palm (Borassus Flabellifer L.) Juice From Tuban, East Java, Indonesia Wiratno, Ekwan Nofa; Rupilu, Novi Soleman
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.075 KB) | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2018.006.01.2

Abstract

This study aimed to obtain and identify the indigenous yeasts isolated from Borassus flabellifer L. juice and its potency in ethanol production. Steps of this study included isolation, enumeration, characterization, identification and ethanol production and measurement of ethanol concentrations and medium acidity during fermentation. The yeast total isolated from Borassus flabellifer L. juice was 5.06 x 105 CFU/mL and the isolate U2 was phenotypically identified as Candida tropicalis (95.7% ID and T = 1). The pH level of medium decreased during the ethanol fermentation. Yeast isolate U2 was able to produce ethanol by 140.1 g/L using 50 g/L of glucose and it was not significantly different with ethanol yield fermented by Saccharomyces cerevisiae (148.6 g/L).
Etnobotani Jagung (Zea mays L.) Pada Mayarakat Lokal di Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Wulandari, Fithriyah; Batoro, Jati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.832 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengetahuan masyarakat, sistem pengelolaan, keanekaragaman kultivar, dan pemanfaatan tanaman jagung di Desa Pandansari. Penelitian dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara bebas, mendalam dan metode wawancara semi-terstruktur. Data kuantitatif diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan nilai penting (Use Value, UVs). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pandansari memiliki pengetahuan cukup baik mengenai tanaman jagung. Hasil identifikasi tanaman jagung meliputi empat kultivar, yaitu jagung lokal, jagung manis, jagung hibrida, dan jagung putih. Dari keempat kultivar jagung tersebut yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Pandansari adalah jagung lokal. Nilai UVs tertinggi bagian tanaman jagung yaitu bagian buah dan biji jagung sebesar 2,9. Nilai UVs pemanfaatan keseluruhan organ tanaman jagung tertinggi yaitu sebagai bahan pakan ternak (4,65). Selain itu tanaman jagung di Desa Pandansari dimanfaatkan sebagai bahan makan (gerit), kayu bakar, pupuk, dan pembungkus rokok.
Diversitas Aves Diurnal di Agroforestry, Hutan Sekunder, dan Pemukiman Masyarakat sekitar Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi El-Arif, Aulia Rahman; Suastika, Ngakan Made; Abinurizzaman, Rakhmad; Arisoesilaningsih, Endang
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.806 KB)

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.