Articles
899 Documents
PERMODELAN GESER DINDING GESER BETON UNTUK ANALISIS NON-LINIER
Tifani Tifani;
Kevin Effendy;
Jimmy Chandra;
Joko Purnomo
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2018): FEBRUARI 2018
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1291.281 KB)
Banyaknya penggunaan dinding geser beton bertulang dalam sistem struktur penahan gaya lateral menyebabkan perlunya suatu metode permodelan analitis agar dapat memprediksi respons dinding geser dengan baik, khususnya respons non-linier. Karenanya, berbagai elemen permodelan digagaskan dalam penelitian-penelitian, salah satunya elemen Shear-Flexure-Interaction-Multiple-Vertical-Line-Element-Model atau SFI-MVLEM. Elemen ini dikembangkan sebagai suatu elemen permodelan makroskopis yang mampu memodelkan dan memprediksi respons dinding geser dengan baik. SFI-MVLEM telah dikembangkan pada program OpenSees dan divalidasi terhadap spesimen dinding berbentuk rectangular dengan hasil yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk melanjutkan proses validasi pada lingkup yang lebih luas, termasuk dinding dengan bentuk geometris penampang barbell dan flanged. Hasil validasi menunjukkan bahwa elemen SFI-MVLEM cukup representatif dalam memodelkan dinding barbell dan flanged walaupun tidak sebaik dinding rectangular. Secara khusus, diperoleh hasil dengan error yang lebih besar pada spesimen dinding geser barbell dan flanged yang juga menerima beban aksial
PEMANFAATAN CAMPURAN LUMPUR SIDOARJO DAN FLY ASH DALAM PEMBUATAN MORTAR GEOPOLIMER MUTU TINGGI
A. Jodjana;
A. C. Djoewardi;
Antoni ,;
D. Hardjito
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (542.263 KB)
Luapan lumpur Sidoarjo merupakan permasalahan lingkungan yang hingga saat ini belum dapat diatasi, lewat penelitian ini diharapkan dapat memanfaatkan lumpur Sidoarjo sebagai material geopolimer. Kandungan yang terdapat pada lumpur Sidoarjo terbukti dapat menggantikan semen. Akan tetapi hingga saat ini penelitian yang menggunakan lumpur Sidoarjo sebagai material geopolimer, belum memenuhi syarat mortar geopolimer mutu tinggi. Sedangkan fly ash terbukti dapat digunakan sebagai mortar geopolimer mutu tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini memanfaatkan lumpur Sidoarjo dan fly ash sebagai material mortar geopolimer yang diharapkan dapat memenuhi syarat mortar geopolimer mutu tinggi. Selain itu penelitian ini juga memvariasikan molaritas NaOH, perbandingan massa larutan NaOH dengan sodium silikat, perbandingan larutan dengan pasta, serta perbandingan massa lumpur Sidoarjo dengan fly ash. Pada penelitian ini dilakukan pengujian kuat tekan, berat jenis, kelecakan dengan menggunakan metode flow table dan initial setting test dengan menggunakan penetrometer. Hal ini bertujuan agar dapat mengetahui karakteristik mortar geopolimer tersebut, sehingga dapat dianalisa untuk penerapan di lapangan. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan mencampurkan fly ash terhadap lumpur Sidoarjo sebagai material geopolimer, maka akan meningkatkan kuat tekan mortar geopolimer tersebut. Dengan memanfaatkan lumpur Sidoarjo dan fly ash, penelitian ini berhasil mencapai 62.7 MPa yang telah memenuhi syarat mortar geopolimer mutu tinggi.
BETON RENDAH SEMEN DENGAN KONSEP KEPADATAN PARTIKEL
Erianto Hardi;
Ricky Darius Tandean;
Antoni Antoni
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): AGUSTUS 2017
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (655.42 KB)
Pemakaian semen dipengaruhi antara lain oleh particle packing agregat, dimana semakin padat kombinasi partikel agregat dengan ukuran yang berbeda, maka pemakaian semen akan semakin minim. Secara teoritis, volume pasta (Vp) sepenuhnya mengisi volume void (Vv) di antara agregat dalam beton, atau (Vp/Vv) sebesar 100%. Namun tidak tertutup kemungkinan untuk meningkatkan rasio Vp/Vv pada campuran beton yang belum jadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan mix design yang memaksimalkan metode particle packing untuk meminimalkan pemakaian semen dengan mempertimbangkan rasio volume pasta dan volume void (Vp/Vv) serta pemakaian superplasticizer sebagai variabel yang menentukan workability beton.Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa pemakaian agregat kasar dengan ukuran yang beragam (multi-sized) menghasilkan void ratio terkecil sebesar 23.5% . Dengan metoda particle packing, perhitungan kebutuhan jumlah semen terendah secara teoritis berada pada w/c 0.5, yaitu sebesar 287 kg/m3. Namun setelah pengecoran, hasil yang didapatkan masih memiliki kebutuhan semen yang kurang lebih sama dengan penggunaan semen minimum pada beton konvensional (±310 kg/m3). Pemakaian superplasticizer dapat menyebabkan terjadinya bleeding dan tidak meningkatkan workability beton dengan kadar semen yang rendah. Penggantian semen dengan fly ash sebesar 50% sebagai binder dapat meningkatkan workability beton dan mengurangi pemakaian semen hingga di bawah standar penggunaan semen minimum
ANALISIS KEPENTINGAN DAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (STUDI KASUS PROYEK GEDUNG P1 DAN P2 UKP)
Caesario Alam Widjaja S;
Heryanto Hartadi;
Ratna S. Alifen
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (156.023 KB)
Industri konstruksi memiliki tingkat kecelakaan kerja paling tinggi dibandingkan industri lainnya. Maka dari itu perlu ada nya program K3 agar pekerjaan dapat berlangsung dengan aman . Program K3 tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya sistem manajemen K3 yang mengatur (SMK3). Penelitian ini dimaksud untuk mempelajari dan meneliti tingkat kepentingan dan penerapan SMK3 di proyek pembangunan Gedung P1&P2 UKP. Metode penelitian dengan cara penyebaran kuesioner yang terbatas pada project manager, site engineer manager, site operational manager, safety officer, quality control, para pelaksana, mandor, dan pekerja. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kegiatan menyediakan obat-obatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan merupakan kegiatan yang paling penting dan tahapan penyediaan sarana safety merupakan tahap yang paling penting dalam SMK3. Dari seluruh nilai tahapan yang diperoleh, seluruh tahapan SMK3 dinilai penting dan dari hasil penelitian diketahui bahwa semua kegiatan tersebut sudah diterapkan oleh kontraktor dengan baik.
STABILISASI TANAH MERAUKE – PAPUA DENGAN MENGGUNAKAN SEMEN
Andrew Tjakrakusuma;
Hadian Akbar Maulana;
Gogot Setyo Budi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2019): FEBRUARI 2019
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (913.696 KB)
Penelitian ini mempresentasikan stabilisasi tanah dari Kampung Bupul Distrik Elikobel, Merauke Papua dengan semen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik serta kepadatan dan kekokohan tanah setelah distabilisasi dengan Portland Semen. Pengujian CBR Unsoaked dilakukan dengan mengganti berturut – turut 3%, 6%, dan 10% berat tanah kering dengan semen, pada kondisi kadar air optimum (OMC) dan di curing selama 3 hari sedangkan untuk CBR Soaked, sampel direndam selama 4 hari setelah di curing selama 3 hari. Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan CBR Unsoaked berturut – turut pada campuran 3%, 6%, dan 10% sebesar 11%, 21,5% dan 29%. Sedangkan pada CBR Soaked, sample tanah yang dicampur dengan 6% semen masih belum stabil. Namun pada sampel dengan campuran 10% semen, CBR yang terjadi meningkat menjadi 77%
FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT VALUE MANAGEMENT PROCESS PADA TAHAPAN KONSTRUKSI
Ignatius Danny Susetio;
Vincentius Yoga;
Herry P.Chandra;
Paulus Nugraha
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (408.392 KB)
Value Management Processadalah proses yang sangat sistematis dan terstruktur yang dimana pengambilan keputusannya berbasis tim. Hal ini bertujuan untuk mencapai nilai terbaik dari sebuah proyek atau proses dengan mendefinisikan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan nilai dan memberikan fungsi-fungsi setidaknya biaya (biaya total atau penggunaan sumber daya) tersebut konsisten dengan kualitas yang dibutuhkan serta kinerjanya. Pada penelitian ini penulis meninjau faktor-faktor yang mempengaruhi value management process dalam menjalankan suatu proyek. Dengan lebih mengetahui faktor-faktor yang terjadi dalam menjalani value managent process akan memudahkan bagi para kontraktor untuk mengerti cara mengantisipasi faktor-faktor yang terjadi dalam menjalankan suatu proyek konstruksi. Metode pengolahan data dilakukan dengan menggunakan uji validitas, uji reliabilitas dan analisa statistik deskriptif, sedangkan metode analisa data yang dipakai adalah uji ANOVA dari sumber data yang berasal dari kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa kontraktor telah cukup memahami dan mudah dalam menerapkan prinsip – prinsip value management process, Kemudian antara kontraktor grade 5, 6, dan 7 tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam perbandingan jawaban mengenai faktor-faktor tiap VMP.
PROPORSI KOMPONEN BIAYA HARGA BAHAN, UPAH DAN ALAT PADA PROYEK KONSTRUKSI BANGUNAN TINGGI
Cristian Halim;
Maximillian M. S. D.;
Budiman Proboyo;
Indriani Santoso
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (285.956 KB)
Biaya merupakan salah satu aspek penting dalam siklus kegiatan usaha dan industri konstruksi. Kontraktor yang tidak mempunyai pemahaman tentang komponen biaya akan meningkatkan resiko terhadap kegagalan yang tidak perlu. Secara umum keberhasilan kontraktor dalam menangani perkiraan biaya terletak pada sebaik apa mereka mampu merencanakan estimasi biaya yang akurat. Dari hasil penelitian, Bila melihat dari ketiga komponen biaya, yaitu biaya upah, bahan dan alat dapat disimpulkan rata-rata biaya struktur bawah terbesar dimiliki oleh biaya bahan (86.60%), lalu diikuti oleh biaya upah (12.16%) dan biaya alat (1.24%) pada Proyek A, sedangkan pada Proyek B komponen biaya terbesar dimiliki oleh biaya bahan (87.73%), lalu diikuti oleh biaya upah (9.41%) dan biaya alat (2.86%) dengan rata-rata kedua proyek untuk biaya bahan (87.16%), biaya upah (10.78%) dan biaya alat (2.05%). Sedangkan untuk biaya pekerjaan beton bertulang struktur atas terbesar dimiliki oleh biaya bahan (86.73%), lalu diikuti dengan biaya upah (11.98%) dan biaya alat (1.29%) untuk Proyek A, sedangkan pada Proyek B komponen biaya terbesar dimiliki oleh biaya bahan (83.32%), lalu diikuti dengan biaya upah (14.88%) dan biaya alat (1.80%) dengan rata-rata kedua proyek untuk biaya bahan (85.02%), biaya upah (13.43%) dan biaya alat (1.54%).
PENELITIAN MENGENAI SNI 1726:2012 PASAL 7.2.5.1 TENTANG DISTRIBUSI GAYA LATERAL TERHADAP KEKAKUAN, KEKUATAN, DAN PENGECEKAN TERHADAP SISTEM TUNGGAL
Bernard Thredy William Wijaya;
Nico Nico;
Hasan Santoso;
Pamuda Pudjisuryadi
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (352.554 KB)
Indonesia merupakan salah satu negara rawan gempa, sehingga bangunan-bangunan di Indonesia perlu didesain terhadap gempa. Dalam SNI 1726:2012 terdapat berbagai sistem struktur penahan gempa, salah satu dari sistem tersebut yang sering dipakai adalah sistem tunggal dan sistem ganda yang merupakan kombinasi dari sistem rangka pemikul momen dan sistem lainnya. SNI 1726:2012 pasal 7.2.5.1 mensyaratkan rangka pemikul momen harus mampu menahan paling sedikit 25% gaya gempa desain pada sistem ganda, baik sistem rangka pemikul momen dengan rangka bresing maupun sistem rangka dengan dinding geser. Sebelumnya telah dilakukan penelitian (Kusuma dan Tjipto, 2015) dengan mengabaikan syarat SNI 1726:2012 pasal 7.2.5.1 berdasarkan asumsi bahwa dengan mengabaikan syarat tersebut , bangunan akan menunjukkan performa yang baik. Pada penelitian tersebut pengujian bangunan menunjukkan performa yang kurang baik. Oleh karena itu pada penelitian ini desain bangunan akan dilakukan dengan memenuhi syarat SNI 1726:2012 pasal 7.2.5.1. Bangunan yang didesain dibedakan menjadi 3 skenario yang akan dinotasikan sebagai S1, S2 dan S3. S1 merupakan bangunan yang akan didesain sebagai sistem ganda yaitu sistem rangka pemikul momen dan sistem rangka bresing eksentrik dengan syarat 25% base shear terhadap proporsi kekakuan. S2 akan didesain dengan syarat 25% terhadap kekuatan bangunan dan S3 akan didesain sebagai sistem tunggal. Hasil pengujian dari ketiga skenario tersebut menunjukkan bahwa bangunan S1 memberikan performa yang paling baik. Bangunan dengan S2 memberikan performa yang sedikit di bawah S1 namun dengan proporsi material yang lebih kecil. Diikuti dengan performa bangunan S3 yang menunjukkan performa yang buruk apabila dibandingkan dengan S1 dan S2.
PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR BAJA RANGKA TERBREIS EKSENTRIS TIPE V DAN Y TERBALIK PADA BANGUNAN 12 DAN 18 LANTAI
Ezra Jefferson Prasetyo;
Deddy Prayudha;
Effendy Tanojo;
Hasan Santoso
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 8, No 2 (2019): AGUSTUS 2019
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (564.919 KB)
Beban gempa merupakan salah satu parameter penting dalam melakukan perencanaan struktur. Maka pada penelitian ini digunakan Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dengan sistem rangka bangunan sebagai struktur penahan gempa pada bangunan dengan 3 bentang pada ketinggian 12 lantai (48 meter) dan 18 lantai (72 meter). RTE yang digunakan adalah tipe V dan Y terbalik (IY) kemudian dibandingkan kinerjanya dengan Nonlinear Time History Analysis. Hasil penelitian menunjukkan RTE tipe V memiliki base shear dan persentase distribusi gaya lateral yang lebih besar dari pada tipe IY. Selain itu, RTE tipe V juga memiliki nilai displacement dan drift ratio yang lebih kecil daripada RTE tipe IY pada bangunan 12 dan 18 lantai. Namun, pada bangunan dengan ketinggian 18 lantai untuk kedua tipe breising menunjukkan nilai drift ratio yang kurang baik yaitu melewati batas Collapse Prevention pada FEMA 356. Hal ini, menunjukkan kedua tipe breising pada struktur RTE perlu dipertimbangkan penggunaannya pada bangunan dengan 3 bentang pada ketinggian 18 lantai. Tingkat kerusakan sendi plastis yang terjadi pada RTE tipe V juga relatif lebih baik daripada RTE tipe IY. Secara umum dapat disimpulkan RTE tipe V punya kinerja terhadap beban seismik yang relatif lebih baik jika dibandingkan dengan RTE tipe IY.
OPTIMASI KINERJA PERSIMPANGAN PADA KAWASAN NGINDEN DAN NGAGEL JAYA
Yosephine Maria Angelia;
Claudya Adeline Yonatan;
Rudy Setiawan
Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (363.48 KB)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemacetan yang terjadi pada empat persimpangan pada kawasan Nginden dan Ngagel Jaya. Data hasil survei asal-tujuan diolah dengan metode sebaran pergerakan, yang selanjutnya digunakan untuk perhitungan kinerja persimpangan dengan menggunakan software Kapasitas Jalan Indonesia (KAJI). Selanjutnya dilakukan analisis terhadap alternatif pengaturan persimpangan, dengan perubahan yang meliputi penentuan waktu sinyal, pengaturan lajur lalulintas, batasan parkir pada area persimpangan, bahkan alternatif lain dengan merubah persimpangan tersebut menjadi bagian jalinan tunggal (u-turn). Hasil analisis menunjukkan bahwa, jika alternatif pengaturan persimpangan diterapkan dapat menurunkan nilai derajat kejenuhan dibandingkan kondisi saat ini. Besarnya persentase penurunan nilai derajat kejenuhan yang terjadi minimal adalah 8%.