Articles
222 Documents
Pemikiran Konfusius yang Terefleksi dalam Pengajaran Para Guru CHHS 中中华语补习学校汉语老师教学实践中反映的孔子思想
Steffi Thanissa Halim;
Elisa Christiana;
Liejanto Wijaya
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (537.64 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.44-58
Pembelajaran sebuah bahasa tidak lepas dari budaya yang melatarbelakanginya, termasuk pengajaran bahasa Tionghoa yang juga tidak terpisahkan dari budaya Tionghoa, yang sangat terpengaruh oleh nilai-nilai Konfusius, seorang pemikir dan pendidik teragung pada masa Tiongkok kuno. Saat ini, di Surabaya sudah ada berbagai macam lembaga kursus bahasa Tionghoa, baik yang besar maupun kecil. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif, mewawancarai enam orang guru pengajar bahasa Tionghoa di Lembaga Kursus Bahasa Tionghoa CHHS yang merupakan salah satu lembaga kursus bahasa Tionghoa terbesar di Surabaya, dan menganalisis nilai-nilai pendidikan Konfusius yang terefleksi dalam proses belajar mengajar mereka. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa keenam narasumber telah secara tanpa sadar menerapkan nilai-nilai ini, antara lain: pendidikan untuk semua kalangan (Yǒu jiào wú lèi有教无类), mengajar sesuai latar belakang dan kemampuan murid (Yīn cái shī jiào因材施教), menghormati guru dan mencintai murid (Zūn shī ài shēng 尊师爱生) dan menjadikannya sebagai prinsip yang terutama dan mendasar dalam pengajaran mereka.
PERBEDAAN SIKAP ANTARA LI PING DAN BAO XIRUO
Arrabella Debora Naftalie;
Olivia Olivia
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (237.708 KB)
|
DOI: 10.9744/century.4.1.60-73
Skripsi ini menganalisi sebuah novel berjudul Pendekar Pemanah Rajawali karangan Jin Yong. Di dalam novel ini terdapat dua orang tokoh pembantu yang sangat mempengaruhi kedua tokoh utama dalam novel, yaitu Li Ping dan Bao Xiruo. Li Ping adalah ibu dari Guo Jing, sedangkan Bao Xiruo adalah ibu dari Yang Kang. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengajaran antara Li Ping, ibu dari Guo Jing dan Bao Xiruo, ibu dari Yang Kang. Studi ini menggunakan teori penokohan yang diterapkan dalam tokoh Li Ping dan Bao Xiruo untuk mempelajari lebih lanjut sikap-sikap yang mereka miliki, teori konflik juga ditujukan dalam tokoh Li Ping dan Bao Xiruo untuk lebih memahami sikap yang mereka miliki.
ANALISIS PANDANGAN FUGUI TENTANG KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN TOKOH-TOKOH LAIN DALAM NOVEL “HUOZHE”
Maria Elizabeth;
Ong Mia farao Karsono
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (223.719 KB)
|
DOI: 10.9744/century.5.2.1-11
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang penokohan, serta mendeskripsikan secara saksama konflik yang dialami oleh Fugui dengan tokoh-tokoh lain, serta pandangan tentang kehidupan setelah kematian keluarganya bagi tokoh Fugui. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, novel yang dianalisis adalah novel Huozhe. Hasil analisis menemukan bahwa dalam novel ini tokoh Fugui terlibat konflik dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk dengan anak laki-lakinya sendiri ditambah dengan kematian-kematian yang datang berkali-kali membuat perubahan pandangan tokoh Fugui dalam memandang kehidupan setelah kematian yang terjadi.
STRATEGI PEMBELAJARAN KOSA KATA BAHASA MANDARIN PADA APLIKASI PEMBELAJARAN CHINESESKILL
Liem Vita Angela Handoko
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (56.07 KB)
|
DOI: 10.9744/century.7.2.29-38
Bahasa merupakan suatu media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Saat mempelajari suatu bahasa, biasanya pembelajaran dimulai dari substansi yang terkecil, misalnya kosa kata. Dalam mempelajari kosa kata Bahasa Mandarin, kita dapat menggunakan strategi-strategi yang dapat mendukung proses belajar, misalnya seperti strategi asosiasi, strategi produksi kalimat, dan sebagainya. Strategi-strategi tersebut dapat diterapkan melalui aplikasi pembelajaran ChineseSkill. Pada penelitian ini penulis meneliti strategi manakah yang paling sesuai terhadap proses pembelajaran Bahasa Mandarin pemula. Peneliti berharap dapat membantu orang yang ingin belajar Bahasa Mandarin agar dapat memilih strategi pembelajaran dengan tepat, sehingga proses belajar mejadi lebih cepat dan efektif. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif, yaitu dengan cara memberikan tes kepada subjek penelitian serta melakukan wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa strategi asosiasi merupakan strategi yang paling sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran kosa kata pemula. Strategi asosiasi yang dimaksud adalah menciptakan hubungan antara kosa kata baru dengan tatanan kosa kata yang telah kita miliki sebelumnya. Salah satu contoh penerapan strategi asosiasi misalnya dengan menggunakan gambar.
Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Pertunjukan Liong Batik dan Wacinwa di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta tahun 2015
Erna Tanomi;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (58.212 KB)
|
DOI: 10.9744/century.2.1.108-122
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta diselenggarakan untuk perayaan Cap Go Meh yang menampilkan berbagai kesenian baik Tionghoa maupun daerah. Untuk memperingati sepuluh tahun berlangsungnya acara tersebut, pada tahun 2015 ada penampilan dua buah kesenian hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Yang menjadi faktor terjadinya akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di Yogyakarta adalah orang Tionghoa yang menyesuaikan diri dengan budaya Jawa akibat adanya berbagai penolakan terhadap mereka sejak kedatangan mereka di kota tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui makna unsur budaya Tionghoa dan Jawa yang ada dalam kesenian hasil akulturasi tersebut, yaitu pertunjukan liong batik dan Wacinwa (Wayang Cina-Jawa). Skripsi ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan lapangan dan mewawancarai lima informan yang terlibat dalam acara tersebut. Hasil penelitian menunjukan dalam pertunjukan liong batik dan Wacinwa terdapat unsur budaya Tionghoa dan unsur budaya Jawa yang dapat dipadukan dengan apik dan sesuai dengan tema Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta tahun 2015, yaitu melalui pentas kesenian hasil akulturasi dua budaya tersebut dapat mempererat hubungan masyarakat Yogyakarta yang multi etnis. 摘要日惹中华文化周是在日惹呈现中华和印尼各地方艺术表演的元宵节庆典。为了庆祝第十届的活动,2015年有两个中国与爪哇文化融合的艺术表演。造成中国与爪哇文化融合的因素是因为华人来到日惹之后要面对一些排斥,因此他们想尽办法融入当地的主流文化。这研究是为了了解两种文化融合艺术表演—巴迪舞龙和Wacinwa(中国爪哇皮影)戏—里的中国与爪哇文化元素的含义。此论文采用定性研究法,田野观察和采访了五位负责管理活动的人士。分析结果表示在巴迪舞龙和Wacinwa戏里美好地结合了中国与爪哇文化元素而表达了2015年日惹中华文化周的主题,就是通过文化融合的艺术表演能拉近多元的日惹人的关系。
Pemahaman Tabib Etnis Tionghoa di Surabaya Mengenai Yīnyáng 泗水中医对阴阳之理解
Reynaldo Kurniawan Teguh Hartoyo;
Mia Farao Karsono Ong
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (315.74 KB)
|
DOI: 10.9744/century.1.1.%p
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman tabib etnis Tionghoa di Surabaya mengenai yīnyáng dan cara penerapan konsep yīnyáng dalam profesi mereka.Teori yang menunjang terdiri atas teori keseimbangan yīnyáng merupakan dasar vitalitas kehidupan; keterkaitan konsep yīnyáng dengan keseimbangan bekerja, istirahat, dan bergerak. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur kepada masyarakat etnis Tionghoa Surabaya yang berprofesi sebagai tabib. Dari hasil penelitian diketahui bahwa para responden semuanya mengetahui konsep yīnyáng, sehingga semua responden menerapkan konsep keseimbangan yīnyáng dalam profesi mereka masing-masing.
RITUAL PERAYAAN IMLEK ETNIS TIONGHOA DI KOTA TOLI-TOLI
David Lievander;
Olivia Olivia;
Chun-I Kuo
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (186.864 KB)
|
DOI: 10.9744/century.5.1.10-17
Penduduk Tiongkok telah lama menyebar ke berbagai belahan dunia, dengan membawa berbagai macam kebudayaan serta tradisi, tidak terkecuali di Indonesia. Etnis tionghoa menyebar dengan merata di seluruh Indonesia dengan membawa kebudayaan asal mereka. Hari raya Imlek adalah salah satu contohnya, setiap daerah di Indonesia mempunyai perayaan Imlek mereka sendiri oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti perayaan etnis Tionghoa di kota Toli-toli. Penelitian ini meliputi apa perbedaan Imlek etnis Tionghoa Toli-toli pada masa orde baru dan mengapa terjadi perbedaan itu. Setelah dilakukan penelitian ditemukan bahwa etnis Tionghoa hanya merayakan chuxi, Imlek, hari kedua, hari kesembilan, dan Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh di kota Toli-toli cenderung sepi dan tidak ada yang spesial. Serta ditemukan faktor yang membuat Imlek di kota Toli-toli saat orde baru dan sekarang berbeda yaitu karena faktor politik dan ekonomi.
TRADISI SATU BULAN BAYI PADA PASANGAN CAMPURAN ETNIS TIONGHOA DAN ETNIS JAWA DI SURABAYA
Elizabet Sanjaya;
Olivia Olivia;
Hannie Kwartanti
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1608.55 KB)
|
DOI: 10.9744/century.6.2.47-58
Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan dan etnis di dalamnya. Setiap etnis yang ada juga memiliki beberapa tradisi yang dilakukan untuk memperingati atau merayakan hari-hari tertentu, salah satunya yaitu tradisi dalam merayakan satu bulan bayi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tradisi apa yang dilakukan oleh pasangan campuran etnis Tionghoa dan etnis Jawa dalam merayakan satu bulan bayi. Diharapakan dari penelitian ini dapat mengetahui, memahami dan memberikan inspirasi kepada pasangan orang tua yang lain. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan cara melakukan wawancara kepada sepuluh pasangan orang tua campuran etnis Tionghoa dan etnis Jawa. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pasangan campuran tersebut tidak semuanya melakukan tradisi yang ada. Tradisi yang masih dilakukan yaitu memotong rambut bayi. Selain itu hantaran yang diberikan untuk keluarga dan kerabat juga berbagai macam.
EFEKTIFITAS PENGAJARAN KOSAKATA BAHASA TIONGHOA MELALUI PERMAINAN DI KURSUS BAHASA TIONGHOA ELYON
Jeanefer Jeanefer;
Liejanto Wijaya;
YiFeng Wang
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (219.788 KB)
|
DOI: 10.9744/century.4.2.9-18
Penggunaan bahasa Tionghoa sebagai bahasa kedua saat ini semakin meningkat. Pada pengajaran bahasa Tionghoa khususnya pengajaran kosa kata, salah satu cara yang dapat digunakan oleh pengajar bahasa Tionghoa adalah dengan menggunakan metode permainan. Saat ini masih banyak pengajar bahasa Tionghoa yang menggunakan metode pengajaran tradisional. Oleh sebab itu, penulis melakukan penelitian mengenai efektifitas pengajaran dengan permainan dalam pengajaran kosakata bahasa Tionghoa di kursus bahasa Tionghoa Elyon. Metode penelitian yang digunakan ialah desain pengukuran berulang dengan penyajian data menggunakan statistik deskriptif dan t-test. Subjek penelitian ini ialah siswa-siswi kelas 3 dan pengajar bahasa Tionghoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengajaran kosakata bahasa Tionghoa dengan permainan lebih efektif bagi siswa dalam belajar bahasa Tionghoa. Dan metode pengajaran dengan permainan ini juga dapat mengembangkan kreativitas bagi pengajar bahasa Tionghoa.
KEGIATAN KEAGAMAAN DAN MAKNA KEBERADAAN KELENTENG TJOE TIK KIONG PASURUAN
Maria Citra Prabhita;
Elisa Christiana
Century: Journal of Chinese Language, Literature and Culture Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Institute of Research and Community Outreach Petra Christian University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.494 KB)
|
DOI: 10.9744/century.6.1.1-13
Kelenteng Tjoe Tik Kiong adalah kelenteng di kota Pasuruan yang ada sejak abad 17 dan telah menjadi cagar budaya kota Pasuruan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami kegiatan keagamaan, wujud kepedulian umat kelenteng serta sikap dan pandangan warga sekitar terhadap keberadaan kelenteng Tjoe Tik Kiong. Skripsi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara terhadap pengurus kelenteng, umat kelenteng dan warga sekitar kelenteng. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada di kelenteng Tjoe Tik Kiong merupakan wujud budaya Tionghoa yang secara turun temurun mampu dijaga dan dipertahankan umat kelenteng Tjoe Tik Kiong. Kepedulian umat kelenteng terhadap warga sekitar untuk menciptakan keharmonisan hubungan antar umat beragama diwujudkan dengan penyelenggaraan kegiatan sosial dan budaya. Sikap dan pandangan warga sekitar yang menerima keberadaan kelenteng Tjoe Tik Kiong tercermin dari keikutsertaan warga sekitar pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan kelenteng Tjoe Tik Kiong, hal ini merupakan pendorong kesadaran warga sekitar untuk menjaga keberadaan kelenteng Tjoe Tik Kiong yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.