cover
Contact Name
Dr. Wening Udasmoro, M.Hum, DEA
Contact Email
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
Post-graduate program of literature of the Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Poetika: Jurnal Ilmu Sastra
Core Subject : Humanities, Art,
POETIKA: Jurnal Ilmu Sastra publishes academic articles within the scope of literary criticism (limited to poem, prose, drama, oral tradition, and philology). The articles cover the form of a result on specific analysis; academic reports; closed reading; and the application of certain theories to enrich literary study.
Articles 186 Documents
WOMEN’S LIBERTY IN RELIGIOUS DISCOURSE (NAWĀL AL-SA’DĀWĪ’S FANTASY IN ZĪNAH) Yulia Nasrul Latifi
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.61327

Abstract

The objective of this research is to reveal Nawāl al-Sa’dāwī’s fantasy and to find out why she builds a fantasy of women’s autonomy in religious discourse as depicted in her latest novel, Zīnah. This study focuses on the concept of fantasy in Žižek's theory of subjectivity, which sees fantasy as a screen covering the lacks and inconsistencies of the shackling Symbolic. Fantasy is also an estuary of meaning that confirms the existence of a divided and dialectical subject that continues to move in search of self-fulfillment. The research method is  hermeneutic, namely by interpreting the actions and fantasies of al-Sa’dāwī' as a subject. The analysis shows that al-Sa’dāwī’s fantasy is her realization of a transcendental humanist religious discourse which gives women full autonomy, internally and externally. Zīnah, the main character in the novel, is a symbol of this autonomy. Internally, Zīnah has been set free from the patriarchal shackles of religious discourses. Externally, Zīnah is able to change the structure and create a new humanist, transcendental, and progressive structure in religious discourse to liberate human beings. Zīnah is al-Sa’dāwī’s fantasy to cover up the lacks of The Symbolic, the estuary of meaning, and confirmation of her existence as a divided and dialectical subject. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan fantasi Nawāl al-Sa’dāwī dan mengapa Nawāl al-Sa’dāwī membangun fantasi otonomi perempuan dalam wacana agama yang tergambar dalam novel terakhirnya, Zīnah. Penelitian ini memfokuskan pada Fantasi yang ada dalam teori subjektivitas Žižek. Fantasi adalah layar yang menutupi kekurangan dan inkonsistensi dalam the symbolic yang membelenggu. Fantasi juga muara makna yang mengukuhkan eksistensi subjek yang terbelah dan berdialektik yang terus bergerak untuk mencari pemenuhan diri. Metode penelitian adalah hermeneutik dengan cara menafsirkan tindakan dan fantasi Nawāl al-Sa’dāwī sebagai subjek. Hasil analisisnya, fantasi Nawāl al-Sa’dāwī adalah terwujudnya wacana agama humanis transendental yang memberikan otonomi penuh perempuan, internal dan eksternal. Tokoh Zīnah adalah simbolisasi otonomi tersebut. Secara internal, Zīnah telah terbebas dari belenggu patriarki wacana agama. Secara eksternal, Zīnah mampu mengubah struktur dan membuat struktur baru yang humanis, transendental, dan progresif dalam wacana agama untuk membebaskan manusia. Zīnah adalah fantasi Nawāl al-Sa’dāwī untuk menutupi kekurangan the symbolic, muara makna, dan pengukuhan eksistensinya sebagai subjek yang terbelah dan berdialektika.
DEATH AS THE “REAL”: A PSYCHOANALYTIC READING OF MATTHEW ARNOLD’S YOUTH AND CALM Alexei Wahyudiputra
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.63325

Abstract

Matthew Arnold was one of the poets who paid special attention to youth and the dynamics of youth culture in the Victorian era. Living in an era that stimulated modern times, Arnold produced writings that can be classified as historical records, although not factual, of society's reactions to the fundamental social and cultural changes of the time. The literary arena was particularly affected, as the Victorian era marked the beginning for poets and artists alike to shed the romantic spirit that they had breathed into their works and adapt to the technological and industrial realities around them. This article explores Matthew Arnold's poem entitled “Youth and Calm”. The poem explores a stream of consciousness that contemplates “the youth" and their dreams. This study aims to uncover the meaning of the poem based on its textual composition without correlating it with Arnold's other works. Using theoretical phenomenology tools to dissect language phenomena and the Freudo-Lacanian method in interpreting the theme, this study led to the revelation that the poem talks of “death” as a symbolically repressed object. Matthew Arnold merupakan salah satu penulis puisi yang menaruh atensi lebih pada pemuda dan juga dinamika kebudayaan muda-mudi pada era Victoria. Hidup di dalam yang era mendasari kultur modern, Arnold menghasilkan karya-karya yang dapat diklasifikasikan sebagai catatan historis, meskipun tidak faktual secara absolut, terkait reaksi masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial dan kultural yang begitu mendasar di kala itu. Terlebih dalam arena literatur, kehadiran era Victorian merupakan awal penanda bagi penyair dan produser seni lainnya untuk mulai menanggalkan jiwa romantisme yang mereka hembuskan pada tiap karya dan beralih pada realita teknologi dan industri di sekitar mereka. Dalam artikel ini, puisi Matthew Arnold yang ditelaah secara mendalam berjudul “Youth and Calm”. Puisi tersebut mengeksplorasi arus pemikiran yang berisikan kontemplasi terhadap figur “pemuda” dan apa yang mereka impikan. Penulisan ini bertujuan untuk menggali makna puisi berdasarkan komposisi tekstualnya dan tanpa menghubungkannya dengan karya Arnold lainnya.  Menggunakan paradigma fenomenologi untuk membedah struktur kebahasaan serta Freudo-Lacanian dalam menginterpretasi tema menghasilkan sebuah makna bahwa “Death” atau kematian merupakan objek yang secara simbolis dipendam oleh subjek youth yang dibahas pada puisi ini.
BUILDING IDENTITY IN GLOBAL REALITY: A POSTCOLONIAL STUDY ON RAJAA ALSANEA'S BANAT AR-RIYADH Hindun Ichsan
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.63956

Abstract

This study aims to examine the novel Banaat ar-Riyadh (Girls of Riyadh) from the perspective of globalization using a postcolonial approach. This novel was written by Rajaa Alsanea, a Riyadhi girl who moved to the United States of America and then published her novel in Lebanon. The novel was written in the form of a series of electronic mails sent by four young Riyadhi girls who discuss the contestation between traditional Saudi Arabian norms and American norms.  Fittingly, this study uses postcolonial theory, with the theoretical framework of globalization as a basis for investigating the aspects identified in the theory, such as mimicry, inferiority, and hybridity, and applies deductive qualitative method from a globalization perspective. The results of this study indicate the influence of American culture on the lives of Saudi Arabians. The influence of American culture is obtained through Saudi people, both men and women, who study and work in the United States. It is the relationship between Arab culture and American culture that influences the Arab way of thinking, which leads to certain behavioral changes. Some Arabs, previously compliant to their traditional values, display behavorial changes that are inspired by Americans, especially American women. Arab women who are supposed to constantly obey state rules, want changes which they adopt from American culture. Penelitian ini bertujuan meneliti novel Banaat ar-Riyadh dari perspektif globalisasi dengan mengambil pendekatan poskolonial. Novel ini ditulis oleh Rajaa Alsanea, seorang gadis Riyadh yang pindah ke Amerika Serikat lalu menerbitkan novelnya di Lebanon. Novel ini berbentuk rangkaian surat elektronik yang dikirimkan oleh empat sekawan gadis-gadis Riyadh yang membicarakan kontestasi antara norma-norma tradisional Arab Saudi dengan norma-norma Amerika Serikat. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teori poskolonial, serta globalisasi  sebagai landasan untuk melihat aspek-aspek yang dikemukakan dalam teori tersebut, yaitu mimikri, inferioritas, dan hibriditas, dengan metode deduktif kualitatif yang ditempatkan dalam perspektif globalisasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh budaya Amerika pada tata kehidupan sebagian orang Arab Saudi. Pengaruh budaya Amerika itu diperoleh melalui orang-orang Arab Saudi, baik laki-laki maupun perempuan, yang menempuh studi dan bekerja di Amerika. Keterhubungan antara budaya Arab dengan budaya Amerika inilah yang memengaruhi pemikiran orang Arab, yang kemudian berdampak pada perubahan perilaku. Orang Arab yang semula berpegang teguh pada aturan-aturan tradisi kemudian menginginkan perubahan-perubahan yang mengarah pada pada perilaku orang Amerika yang mereka lihat, terutama pada perempuan. Perempuan Arab, yang diharuskan patuh pada aturan-aturan yang dibuat oleh negara, menginginkan perubahan-perubahan dengan mengadopsi budaya Amerika.
CARNIVALIZATION IN DANARTO’S ASMARALOKA: A STUDY OF BAKHTINIAN DIALOGISM Sri Wahyuningtyas; Herning Puspitarini
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.59771

Abstract

Asmaraloka, a novel written by Danarto, is a non-realistic novel that contains many voices, ideas, discourses, and thoughts that construct the carnivalesque elements in the novel. Within the context of diversity and various phenomena in the world, the carnivalization of the story shapes the behaviors and the identities of the characters in it.Drawing on this idea, this study aims to reveal the internal and external elements that contribute to the carnivalization of Asmaraloka. The novel’s text is examined qualitatively using Bakhtinian dialogism and a sociological approach to dialogic behavior for the purpose of understanding the complete construction of meanings as the reflection of the author’s world view.The study finds that there are two categories of carnivalesque elements in Asmaraloka, namely the external and internal elements of carnival. The external carnivalization of the story creates the non-realistic world in it in relation to other texts that contribute to the diversity of ideas/ meanings in the novel. The internal carnivalization of the story generates the following structural aspects: (1) the battlefield as a means of carnival performance, (2) the occurrence of an abnormal human relationship between the characters, (3) the carnivalesque phenomena that are constructed in the story through the dialogues between peace and chaos and between obedience and denial, and (4) the effects of carnivalesque behaviors on the characters’ personality. Asmaraloka merupakan novel nonrealis karya Danarto yang berisi banyak suara, gagasan, wacana, dan pemikiran yang membentuk unsur-unsur karnival di dalamnya. Dalam konteks keberagaman dan berbagai fenomena di dunia, karnivalisasi karya sastra merupakan hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan pembentukan jati diri para tokoh dalam cerita.Berkaitan dengan gagasan di atas, penelitian ini bertujuan mengungkap karnivalisasi teks Asmaraloka baik yang bersifat internal maupun yang eksternal dan pengaruhnya terhadap pembentukan karakter dari tokoh-tokoh dalam novel Asmaraloka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis dilakukan berdasarkan dialogisme Bakhtin dan pendekatan sosiologis pada perilaku dialogis untuk memahami jalinan makna utuh sebagai pandangan dunia pengarang. Hasil penelitian menunjukkan adanya unsur karnival eksternal dan internal yang membangun cerita.Karnivalisasi eksternal membentuk dunia nonrealis dari cerita dan berkaitan dengan teks-teks lain yang berperan membangun keragaman makna dalam Asmaraloka. Karnivalisasi internal cerita mengungkap adanya aspek-aspek berikut ini: (1) medan pertempuran sebagai sarana pertunjukkan, (2) hubungan manusia yang tidak normal yang terjadi antar tokoh, (3) fenomena-fenomena karnivalistik yang terbangun melalui interaksi antara kedamaian dan kekacauan dan juga antara ketaatan dan pengingkaran, dan (4) unsur-unsur karnival yang merupakan dialog antara gagasan pengarang dan fenomena-fenomena sosial di masyarakat.
IDEOLOGICAL INTERPELLATION AND SUBJECTS’ RESPONSES IN ANDI NOOR’S SHORT STORY, “KOPI DAN CINTA YANG TAK PERNAH MATI” Buyung Ade Saputra
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.60654

Abstract

State is a machine of power for the ruling class to maintain its authority. The effort is practiced by interpellating individuals as its subjects. The state can be defined as repressive and ideological apparatus. This study aims to identify the interpellation’s category and the subjects’ responses that are portrayed in Andi Noor’s short story titled “Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati” from Althusser’s perspective. The study is carried out by first identifying the ideologies that empower the interpellation. There are two categories of ideology that interpellate individuals as the subjects of ideology: (1) Totalitarianism and (2) Socialism. Next, the researcher identifies the category of apparatus that is used by the ideologies. The short story portrays the empowerment of the repressive state apparatus of armed or police forces by the ruling ideology and the empowerment of the ideological cultural apparatus by the opposition. Subjects’ responses that are found in this research vary, and not all subjects recognize the interpellation by the ideology. The responses are influenced by the empowerment of the apparatuses of each ideology. The subjects tend to resist the empowerment of the repressive state apparatus, but they recognize the interpellation by the empowerment of the ideological cultural apparatus. Negara merupakan mesin kekuasaan yang menjadi alat bagi kelas penguasa untuk melanggengkan kekuasaanya. Usaha ini dilakukan melalui penaklukan atau interpelasi terhadap individu agar menjadi subjek ideologi. Keberadaan Negara dapat dipahami sebagai aparatus represif dan aparatus ideologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kategori interpelasi dan respon subjek yang digambarkan oleh cerpen “Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati” karya Andi Noor berdasarkan pandangan Althusser. Penelitian ini diawali dengan mengungkap ideologi-ideologi yang melakukan interpelasi. Terdapat dua ideologi yang saling melakukan interpelasi terhadap subjek-subjek, yaitu (1) Totalitarian dan (2) Sosialisme. Selanjutnya, peneliti melakukan pemetaan terhadap kategori aparatus yang digunakan oleh ideologi-ideologi baik itu aparatus represif atau ideologis. Cerita pendek ini menggambarkan aparatus negara yang represif yang diwakili oleh tentara yang digunakan oleh ideologi penguasa, sedangkan pihak lawan melakukan pemberdayaan aparatus kultural ideologis. Respon subjek yang ditemukan cukup beragam. Tidak semua subjek merekognisi interpelasi ideologi. Terdapat subjek yang pada awalnya melakukan misrekognisi namun pada akhirnya melakukan rekognisi terhadap interpelasi ideologi. Respon yang ditunjukkan oleh subjek dipengaruhi oleh pemberdayaan aparatus oleh masing-masing ideologi. Subjek cenderung melakukan misrekognisi terhadap aparatus represif, dan cenderung merekognisi pemberdayaan aparatus ideologis kultural.
READING SĪTĀ’S LETTER ON OLD JAVANESE RĀMĀYAṆA KAKAWIN ON THE BASIS OF CANDRAKIRAṆA AS PROSODIC TREATISE Zakariya Pamuji Aminullah
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.60737

Abstract

The study presented in this article focuses on the signification of the poetic metres and the theory of rasa expounded in Candrakiraṇa, a guide to the composition of kakawin that is preserved in the scriptoriums of mountains. The use of the poetic metres and theory of rasa was examined in the text of Sītā’s letter to Rāma that was taken from the Rāmāyaṇa Kakawin. It was carried out on the three manuscripts of Candrakiraṇa preserved by the National Library of Indonesia (PNRI). The findings show that the use of śārdūlawikriḍita metre in Sītā’s letters results in a form of signification for particular aesthetic experiences (rasa), namely karuṇa (sympathy), bhayānaka (concern), śānta (peace) and śṛṅgara (love). Tulisan ini berfokus pada metrum dan teori rasa sebagai sarana pemaknaan yang dimuat dalam Candrakiraṇa, sebuah pedoman penulisan kakawin yang diwariskan di skriptorium-skriptorium pegunungan. Metrum dan teori rasa tersebut dikaji penggunaannya dalam surat Sītā kepada Rāma yang terkandung dalam Kakawin Rāmāyaṇa. Kajian ini melibatkan tiga manuskrip yang merupakan koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa metrum śārdūlawikriḍita yang digunakan pada surat Sīta menunjukkan bentuk pemaknaan untuk pengalaman-pengalaman estetika (rasa) tertentu, yaitu karuṇa (belas kasihan), bhayānaka (kekhawatiran), śānta (damai) dan śṛṅgara (cinta).
SOCIAL EXCLUSION OF DEMI-MONDAINE AND NYAI IN FRENCH AND INDONESIAN NOVELS Arifah Arum Candra Hayuningsih
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.61094

Abstract

One of the interesting themes but not widely featured in Indonesian and French literatures in the 19th and 20th centuries is nyai and demi-mondaine. Both have a similar meaning, namely the mistress of a man from the upper-middle class. This study looks at the exclusions that occur in the lives of nyai and demi-mondaine in an Indonesian novel titled Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer and a French novel titled La Dame aux Camélias by Alexandre Dumas (philosophers). The analysis was carried out using Fairclough’s critical discourse analysis approach to examine the exclusion process in the two novels, which describes the realities that occur in society. This study found that the mistresses are excluded primarily through labeling and stereotyping. Despite the exclusion from the discourse of ‘honor’ in society, the mistresses find their own way of surviving in a society that does not like them.Salah satu tema menarik namun tidak banyak ditampilkan dalam karya sastra Indonesia dan Prancis di abad 19 dan 20 adalah kehidupan nyai dan demi-monde. Keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yakni perempuan simpanan dari seorang laki-laki kelas menengah ke atas. Sikap masyarakat yang cenderung merendahkan mereka dapat dipandang sebagai proses eksklusi. Penelitian ini menelusuri bagaimana ekslusi yang terjadi dalam kehidupan nyai dan courtesan di Indonesia dan Prancis seperti yang ada pada novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan novel La Dame aux Camélias karya Alexandre Dumas (fils). Analisis dilakukan dengan metode analisis wacana kritis dari Fairclough untuk melihat proses eksklusi di kedua novel tersebut, yang merupakan gambaran dari realita yang terjadi di masyarakat. Penelitian ini memperlihatkan bahwa proses eksklusi paling banyak terjadi melalui labelling dan stereotyping. Meski demikian, para perempuan simpanan yang mengalami eksklusi dari wacana ‘kehormatan’ di masyarakat memiliki cara sendiri untuk bertahan di tengah masyarakat yang tidak menyukai mereka.
A DISCURSIVE STRATEGY TO MAINTAIN THE CULTURAL ISLAM-POLITICAL ISLAM POWER RELATION IN INDONESIA IN TRIWIKROMO’S “LENGTU LENGMUA” (2012) Sehla Rizqa Ramadhona
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.64116

Abstract

This study aims to reveal the discursive play of the short story “Lengtu Lengmua” (2012) by Triyanto Triwikromo in maintaining the unequal power relation in Indonesia. The study is carried out on the basis of Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis that elaborates intertextuality theory and social theory of discourse. The research questions are what discourses influence “Lengtu Lengmua”’s celeng construction? and what political interests are supported and legitimized by “Lengtu Lengmua”’s celeng construction? It is a descriptive qualitative study for which data were collected using a note-taking technique. The relationships between data are elucidated by describing how the text of the short story, its production and the interpretation process are connected to the prevailing social conditions in Indonesia. The results show that: (1) “Lengtu Lengmua” represents, manipulates, negates, and transcends the discourse that sees that “celeng is a despicable animal” from the texts of Berburu Celeng (1998), Celeng Dhegleng (1998), and Tak Enteni Keplokmu (2000); and (2) to generate a notion of celeng as a noble animal, “Lengtu Lengmua” also configures the existing discourse conventions, namely conventions that are related to magical realism, Javanese society, children, Islamic shari’ah, and Islamic makrifat. These two results indicate that “Lengtu Lengmua” gives a new meaning to celeng and recontextualizes the celeng, which in previous texts is associated with human greed (i.e. capitalistic and corrupt), in religious issues especially those related to the contradiction between political Islam and cultural Islam. In turn, this discursive play has contributed to the formation of political Islam-cultural Islam power relation in recent years in Indonesia where cultural Islam occupies a dominant position. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap permainan diskursif cerpen “Lengtu Lengmua” (2012) karya Triyanto Triwikromo dalam pemertahanan relasi kuasa yang tidak setara di Indonesia. Kajian dalam penelitian ini mengacu pada Analisis Wacana Kritis dari Norman Fairclough yang mengelaborasi teori intertekstualitas dan teori sosial wacana. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah wacana apa yang memengaruhi konstruksi celeng “Lengtu Lengmua” dan kepentingan politik apa yang didukung dan dilegitimasi oleh konstruksi celeng “Lengtu Lengmua”. Kajian ini menggunakan metode penjabaran deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data simak-catat. Hubungan antardata dikaji melalui deskripsi atau penjelasan bagaimana teks cerpen, proses produksi dan interpretasinya berkaitan dengan kondisi sosial yang melatar belakangi cerita dalam cerpen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) “Lengtu Lengmua” merepresentasikan, memanipulasi, menegasikan, dan melampaui wacana “celeng adalah hewan hina” dari teks Berburu Celeng (1998), Celeng Dhegleng (1998), dan Tak Enteni Keplokmu (2000); (2) “Lengtu Lengmua” juga mengonfigurasikan konvensi-konvensi wacana yang ada untuk menghasilkan konstruksi celeng sebagai hewan mulia, yaitu konvensi wacana realisme magis, masyarakat Jawa, anak-anak, Islam syariat, dan Islam makrifat. Kedua hasil penelitian ini menunjukkan bahwa “Lengtu Lengmua” memberikan makna baru atas celeng dan membawa representasi celeng, yang pada teks-teks sebelumnya diidentikkan dengan kerakusan manusia yang kapitalistik dan korup, ke dalam konteks persoalan keagamaan khususnya yang terkait dengan pertentangan antara Islam politik dan Islam kultural. Pada gilirannya, permainan diskursif ini berkontribusi pada pembentukan relasi kuasa Islam politik-Islam kultural pada tahun-tahun terakhir di Indonesia di mana Islam kultural menduduki posisi yang dominan.
THE CONSTRUCTION OF MONSTROUS WOMEN THÉRÈSE DESQUEYROUX BY FRANÇOIS MAURIAC Wulan Nurrahma Azhari; Wening Udasmoro; Subiyantoro Subiyantoro
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.64177

Abstract

Issues of domestication, minority, and discrimination have frequently put women in inferior position in society. When women seek equality, they are often framed as embracing monstrous attitudes. This study focuses on François Mauriac’s novel titled Thérèse Desqueyroux (1927) with the intention of exploring the meanings and the significations in its construction of women as monsters. It has been observed that women are depicted as monsters because their struggle for freedom is seen as a challenge to the patriarchal system. The aims of this study are to find out and to describe the influential aspects in the construction of women as monsters and how such construction creates meanings. The study relies on content analysis method and follows three steps of analysis: collecting data relevant to monstrosity, classifying data based on the themes and problems related to the topic, and analyzing the data using Barbara Creed’s theory of the monstrous feminine (2007). The study results in the finding that the construction of women as monsters is strongly correlated with the deep institutionalization of patriarchy in French culture. Penempatan perempuan pada posisi inferior dalam banyak narasi disebabkan oleh faktor-faktor domestifikasi, minoritas, dan diskriminasi. Ketika perempuan memperjuangkan kesetaraan, mereka dianggap membangkang dan disimbolkan sebagai monster. Konstruksi monster terhadap perempuan ini terlihat pada novel François Mauriac berjudul Thérèse Desqueyroux (1927). Tulisan ini mencoba memahami makna dan pemaknaan konstruksi perempuan sebagai monster dalam novel tersebut. Studi ini menemukan bahwa perempuan digambarkan sebagai monster karena perjuangan mereka untuk mencapai kebebasan dianggap menentang struktur patriarki. Tujuan dari studi ini adalah menemukan dan mendeskripsikan aspek-aspek yang berkaitan dengan proses pemonsteran perempuan dan bagaimana proses tersebut dimaknai. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi cerita dan dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengambilan data yang relevan dengan pemonsteran. Tahap kedua adalah pengklasifikasian data sesuai dengan tema dan permasalahan tentang pemonsteran perempuan. Tahap terakhir adalah analisis data temuan dengan teori Barbara Creed (2007) tentang the monstrous feminine. Studi ini menyimpulkan bahwa konstruksi perempuan sebagai monster berhubungan erat dengan kultur patriarki yang sudah terinstitusionalisasi di dalam budaya Prancis pada masa ketika novel tersebut ditulis.
AN ECOFEMINIST READING OF TERE LIYE’S SI ANAK PEMBERANI Yulia Nelfita; Noni Andriyani; Yenni Hayati
POETIKA Vol 9, No 2 (2021): Issue 2
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i2.64554

Abstract

This study is motivated by several reasons, and one of them is the lack of ecofeminist studies of Indonesian novels. The previous studies focus on novels written by women. Ecofeminist studies of Indonesian novels written by men have not been available so far. The analysis in this study is descriptive with hermeneutic technique of interpretation. This is part of a collective research project in this area. The study leads to a conclusion that Tere Liye’s novel, Si Anak Pemberani, contains some ecofeminist values. The most represented ones in the text are the natural ecofeminist values because there is essential relationship between women and nature. The least represented ones are the spiritualist ecofeminist values because the relationship between spirituality and nature is considered a mystical belief that is no longer relevant in modern society. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal; salah satunya adalah belum adanya kajian ekofeminisme terhadap novel-novel Indonesia. Penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan selalu dilakukan terhadap novel-novel yang ditulis oleh pengarang perempuan sementara penelitian ekofeminisme terhadap novel-novel Indonesia yang ditulis oleh laki-laki belum ada. Berdasarkan hal tersebut, masalah yang dideskripsikan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah perspektif ekofeminis tercermin dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye?”. Teori yang digunakan adalah teori ekofeminisme yang meliputi (1) ekofeminisme alam, (2) ekofeminisme spriritualis, dan (3) ekofeminisme sosialis. Penelitian ini bersifat kualitatif dan merupakan penelitian kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif yang didukung oleh teknik hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perspektif ekofeminis dalam novel Si Anak Pemberani karya Tere Liye. Aliran ekofeminisme yang dominan adalah aliran ekofeminisme alam karena pada dasarnya perempuan memiliki kedekatan dengan alam. Aliran yang paling sedikit ditampilkan adalah aliran ekofeminisme spiritualis karena pada zaman sekarang kedekatan secara spiritualis dengan alam dianggap hal mistis yang tidak lagi dipercayai oleh masyarakat.