Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"1992: HARIAN SURABAYA POS"
:
11 Documents
clear
KEABSAHAN PERGURUAN TINGGI NEGERI MENAIKKAN SPP
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.734 KB)
      Otonomi keuangan pada perguruan tinggi yang telah dibuka krannya oleh PP No:30/1990 nampaknya benar-benar dimanfaatkan oleh para pengelola perguruan tinggi, baik PTS maupun PTN. Bagi PTS pemanfaatan otonomi keuangan di lembaganya memang bukan merupakan hal yang baru; tetapi bagi PTN hal tersebut memang merupakan sesuatu yang semakin hari akan semakin dibiasakan. Itulah sebabnya maka ketika PP No:30/1990 diturunkan dan kran otonomi keuangan dibuka maka segera saja kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan semaksimal mungkin.        Betapa tidak, apabila tahun lalu atau bersamaan dengan dimulainya tahun akademik 1991/1992 beberapa PTN sudah menaikkan "tarif"nya maka tahun ini atau bersamaan dengan dimulainya tahun akademik 1992/1993 nanti bebera-pa PTN akan menaikkan lagi pungutan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP)-nya.        Meskipun belum diumumkan secara resmi akan tetapi berita mengenai akan dinaikkannya pungutan SPP pada Uni-versitas Indonesia (UI) Jakarta serta Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mulai tahun akademik 1992/1993 nan ti sudah memasyarakat. Beberapa PTN yang lainnya secara diam-diam konon juga tengah menggodog konsep kenaikan SPP yang baru akan diumumkan pada saat yang tepat nanti.
SANG GURU BESAR PUN BERGABUNG KE PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.374 KB)
      Konon sekarang ini harga seorang guru besar atau profesor, baik secara moral maupun material, makin mahal saja; makin mendekati masa purna bhakti (pensiun) makin tinggilah harganya. Pasalnya karena menjelang masa pen-siun tiba maka sang guru besar akan dijadikan "rebutan" oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk bergabung pada almamater perguruan nonpemerintah itu; bahkan guru besar yang masih beberapa tahun masa pensiunnya pun terkadang sudah dipesan (=diijon?) oleh PTS.       Sejak kapankah para guru besar yang telah memasuki masa purna bhakti tersebut mau bergabung, dalam pengertian menjadi dosen tetap, ke PTS? Jawabnya adalah sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 30/1990 tentang pendidikan tinggi.        Sejak dikeluarkannya PP Nomer 30/1990 tersebut di atas kedudukan para tenaga edukatif yang senior (teruta-ma guru besar) secara akademis lebih diperlukan oleh PTS untuk berbagai kepentingan, terutama sekali dalam rangka pengurusan kenaikan status akreditasi PTS yang bersang-kutan berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas.
MEWASPADAI INEFISIENSI SEKOLAH DASAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.717 KB)
      Kesibukan Sekolah Dasar (SD) seperti tidak pernah habis-habisnya; setelah pelaksanaan Ebtanas berakhir maka saat ini teman-teman pengelola SD dihadapkan pada kesibukan baru, yaitu penerimaan siswa baru. Dua peristiwa tahunan ini sama-sama "memusingkan" para guru dan kepala sekolah; apabila pada Ebtanas mereka "pusing" memikirkan agar anak didiknya dapat lulus dengan nilai yang "benar" (bukan katrolan), sedangkan pada penerimaan siswa baru sekarang ini mereka "pusing" karena khawatir sekolahnya tidak laku di pasaran sehingga tidak mendapat siswa baru dalam jumlah yang memadai.        Kekhawatiran teman-teman guru dan kepala sekolah tersebut memang cukup beralasan; belajar dari pengalaman tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya dalam kurun waktu tiga atau empat tahun yang terakhir ini ternyata banyak SD tidak sanggup "menggaet" siswa baru dalam jumlah yang layak dan memadai.        Tahun lalu banyak SD di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan wilayah-wilayah lain yang hanya mendapatkan belasan siswa baru, bahkan ada yang tidak sanggup meraih sepuluh siswa baru, meskipun sarana gedungnya telah dipersiapkan untuk menampung 40 siswa per kelasnya. Akibatnya banyak sekolah yang "gulung tikar"; siswanya sedikit, gurunya menganggur, gairah belajar menurun, dan sebagainya. Bebe rapa SD terpaksa mengadakan aksi tutup buku karena tidak sanggup mendayung perahu lebih jauh lagi. Peristiwa se-perti inilah yang sangat dikhawatirkan oleh teman-teman guru serta kepala sekolah; khususnya sekolah swasta yang hidup-matinya lebih mengandalkan jumlah siswa.
MENCARI FORMAT BARU KEMITRAAN PTN-PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.477 KB)
      Dalam sebuah seminar mengenai kemitraan perguruan tinggi di Indonesia baru-baru ini ada seorang pimpinan perguruan tinggi yang menjadi peserta seminar tersebut menanyakan pada saya, sebenarnya kemajuan apa saja yang telah dihasilkan oleh PP No:30/1990 terhadap perkembangan pendidikan tinggi di negara kita. Lebih daripada itu penanya ini secara kritis mengemukakan pendapatnya menge nai perlunya untuk secepatnya diturunkan surat keputusan tertentu, tingkat menteri ataupun tingkat apa saja, yang mewajibkan perguruan tinggi di Indonesia, PTS maupun PTN, agar mentaati apa-apa yang telah digariskan oleh PP yang langsung ditandatangani oleh presiden itu.        Saya tidak tahu persis mengapa pertanyaan seperti itu terekspresikan, namun "naluri akademik" saya mengatakan bahwa pertanyaan itu muncul karena adanya kekecewaan mengenai aturan itu sendiri.Dalam usianya yang lebih dua tahun (ditandatangani Presiden 10 Juli 1990) ternyata PP tersebut dianggap belum mampu membawa kemajuan yang sig-nifikan bagi dunia pendidikan tinggi, yang hal ini lebih dikarenakan belum ditaatinya beberapa aturan main yang tertuang dalam pasal-pasal dan ayat-ayatnya.        Untuk menghindari salah persepsi barangkali perlu dijelaskan lebih dulu bahwa yang dimaksud PP No:30/1990 adalah Peraturan Pemerintah Nomer:30 yang secara khusus memuat sejumlah aturan tentang pendidikan tinggi. Pera-turan ini dikeluarkan lebih dari dua tahun lalu; bersama an dengan PP No:27/1990, PP No:28/1990 dan PP No:29/1990 masing-masing mengenai Pendidikan Prasekolah, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.
MENINGKATKAN MINAT MASYARAKAT TERHADAP SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (216.782 KB)
      Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia ke-2 yang berlangsung di Medan baru saja berakhir. Sejumlah pakar dan birokrasi pendidikan berkumpul, berbincang-bincang, serta berembug untuk menghasilkan sejumlah kesamaan pandangan dan kesepakatan. Semua ini, ditujukan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.        Salah satu topik yang menarik di dalam forum ter-sebut adalah dilemparkannya masalah yang secara langsung menyangkut sekolah kejuruan, suatu jenis lembaga pendi-dikan yang sedang "dilupakan" oleh sementara orang kare-na dianggap tidak efektif dan efisien, serta tidak mampu memberikan nilai kebanggaan. Yang lebih menarik, permasa lahan tersebut justru diaktualisasi oleh Mendagri Rudini yang nota bene lebih berkapasitas sebagai "birokrat po-litik", dan bukan oleh para pakar pendidikan sendiri.        Keadaan tersebut mengingatkan kita pada peristiwa beberapa waktu lalu saat digugatnya eksistensi sekolah kejuruan oleh sementara orang untuk mengakhiri berlaku-nya sistem persekolahan di Indonesia yang selama ini me-ngembangkan sistem persekolahan jalur ganda (multiple track school system), yang mendampingkan sekolah umum dengan sekolah kejuruan. Sebagai gantinya akan dikem-bangkan sistem persekolahan jalur tunggal (single track school system) dengan menggusur eksistensi sekolah keju-ruan. Untunglah Peraturan Pemerintah (PP) No:29/1990 segera diberlakukan sehingga pemikiran untuk "menggusur" eksistensi sekolah kejuruan dapat diakhiri.
REKTOR PTN DIGUGAT
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.508 KB)
Eksistensi jabatan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) baru saja digugat! Kedengarannya memang agak aneh; suatu jabatan strategis yang paling tinggi di lingkungan perguruan tinggi yang dikelola langsung oleh pemerintah harus menerima gugatan masyarakat. Barangkali baru kali inilah peristiwa ini terjadi di negara kita. Tegasnya: baru-baru ini dalam forum dengar pendapat antara beberapa pejabat teras Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) dengan para anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) muncul pendapat yang benar-benar surprisse; yaitu pendapat mengenai perlu ditiadakannya jabatan rektor PTN. Sekarang ini sudah saatnya keberadaan rektor PTN di Indonesia ditiadakan karena dalam banyak hal langkah dan operasinya lebih banyak diatur oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) maupun Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Pendapat yang sedikit berbau kontroversial dan sempat ditangkap serta dimedia-massakan oleh para kuli tinta tersebut dikemukaan oleh Koordinator Kopertis Wilayah III (DKI Jakarta dan sekitarnya), Sambas Wirakusumah.
EBTANAS : KEBOCORAN DAN "KEPALSUAN"NYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.332 KB)
Kasus bocornya soal-soal Ebtanas yang tahun lalu sempat mengguncang dunia pendidikan kita, sekaligus menampar wajah Depdikbud, rasanya akan terulang lagi pada pelaksanaan Ebtanas tahun ini. Kali ini ada dugaan tentang bocornya Ebtanas SD di salah satu daerah di wilayah Jawa Timur. Sebuah tim yang terdiri dari beberapa unsur tengah dikirim untuk bekerja intensif guna mengklarifikasi dugaan tersebut. Sebagai warga negara yang baik tentu kita berharap agar dugaan tersebut tidak terbukti kebenarannya, tetapi kalau sampai dugaan atas kebocoran tersebut nantinya ter bukti kebenarannya maka Depdikbud harus menyiapkan diri untuk kena tampar. Betapa tidak, di tengah-tengah adanya kritik tajam tentang kurang efektifnya lagi pola Ebtanas untuk dipertahankan sebagai sistem evaluasi belajar pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, ternyata beberapa (ada) daerah mengalami kebocoran. sudah barang tentu ter jadinya kasus kebocoran ini, kalau terbukti, akan makin memperkuat argumentasi terhadap kritik-kritik yang dila-yangkan kepada depdikbud mengenai kurang efektifnya pola Ebtanas tersebut. Kalau kita sempat bernostalgia sejenak kasus bo-cornya Ebtanas memang bukan barang baru lagi. Tahun yang lalu beberapa wilayah sempat terkena "penyakit" ini, tak terkecuali wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan pengalaman ini ternyata ada juga teman yang masih sempat bercanda; kalau di Jakarta tempat berkumpulnya top manager Depdik-bud saja bisa terjadi kebocoran yang meresahkan masyara-kat, apalagi di Jawa Timur. Duh, ....
EBTANAS, TINGKAT KESUKARAN SOAL DAN PENDEKATAN METODOLOGIS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.397 KB)
Menjelang diselenggarakannya Ebtanas yang segera dimulai awal Bulan Mei 1992 ini kembali muncul pemikiran mengenai perlu dan tidaknya untuk mempertahankan sistem Ebtanas itu sendiri. Pemikiran ini sempat menghangat, khususnya pada kalangan masyarakat pendidikan, karena di samping kompleksitas problematikanya bersifat aktual dan kontekstual, juga dikarenakan masing-masing pihak mempunyai argumentasi akademis yang cukup kuat dan rasional. Pihak yang memandang masih perlu mempertahankan berpendapat bahwa Ebtanas merupakan sistem terbaik untuk meningkatkan dan menyetarakan kualitas lulusan di antara lembaga pendidikan yang setingkat dan sejenis; setidak-tidaknya untuk saat ini. Pada sisi yang lain pihak yang menginginkan sege-ra diakhirinya era Ebtanas berpendapat bahwa sistem ini telah menciptakan kesenjangan ("gap") yang semakin tajam antara sekolah-sekolah yang bermutu tinggi dengan yang bermutu rendah. Akibatnya sistem Ebtanas ini menciptakan kecenderungan klasik bahwa pelayanan pendidikan pada ne-gara yang sangat kita cinta ini lebih dapat dimanfaatkan oleh mereka yang berintelektual tinggi saja; dan secara empiris sebagian besar dari mereka ternyata berasal dari "hanya" sekolah-sekolah kota di Pulau Jawa.
BPS PERLU "BERGURU" PADA KPN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.892 KB)
Ada sebuah fenomena sosio-politis di negara kita yang sangat menarik untuk dicermati bersama; yaitu diaplikasikannya temuan-temuan penelitian atau hasil studi secara lebih intensif dalam proses pengambilan keputusan (decision making process) oleh pemerintah. Fenomena yang konstruktif ini sekaligus menandai adanya kemajuan; oleh karena keputusan ataupun kebijakan yang dilandasi temuan empirik atau hasil studi umumnya lebih bersifat objektif dan rasional, serta bebas dari unsur "pressure". Kiranya memang harus diakui bahwa selama ini rela tif banyak hasil studi yang harus melayang ke dalam tong sampah dan tidak pernah dilirik dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan pemerintah. Namun, sekarang ini setidak-tidaknya ada dua keputusan strategis yang sedang dan akan dibangun berdasarkan temuan penelitian; masing-masing adalah keputusan politis mengenai tindak lanjut musibah Dili, Timor Timur, serta keputusan soso-politis mengenai Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Dua masalah ini memang sempat mengguncang perjalanan politik di negara kita akhir-akhir ini. Apabila dalam masalah yang pertama, musibah Dili, maka peranan penelitian benar-benar telah nampak, yaitu digunakannya temuan penyelidikan (baca: penelitian) yang dilakukan oleh Komisi Penyelidik Nasional (KPN) di dalam mekanisme dan proses pembuataan kebijakan tindak lanjut; maka hal yang sama diharapkan akan dilakukan pemerintah kita dalam mengambil kebijakan mengenai SDSB.
PAPE DAN PENDIDIKAN SWASTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.042 KB)
Kalau tidak ada aral melintang maka tepat tanggal 18 s/d 21 September 1992 ini akan dilangsungkan konggres PAPE, Pan Pacific Association of Private School Educa-tion. Untuk kali ini merupakan konggres yang ke-XIV dan diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dari Indonesia kebetulan saya mendapatkan undangan untuk hadir dan sekaligus memberikan kontribusi pemikiran saya di dalam forum akademik di tingkat internasional itu. PAPE merupakan organisasi internasional yang berupaya menghimpun "kekuatan" pendidikan bangsa-bangsa di lingkungan Pasifik. Tempat lahir PAPE adalah di Jepang; dan secara historis lahirnya PAPE memang tidak dapat di-pisahkan dari keberhasilan Jepang dalam mengadaptasi dan menginovasi sistem pendidikan Barat.Setelah perang dunia ke-2 selesai maka secara bersungguh-sungguh Jepang sege-ra membenahi sistem pendidikannya, dari sistem yang tra disional dan konvensional menuju sistem yang modern yang kiblatnya ada di Barat, terutama Amerika Serikat (AS). Awalnya banyak pengamat pendidikan yang memperki-rakan bahwa cepat ataupun lambat Jepang akan kehilangan akar budayanya karena secara terang-terangan mengacu sis tem pendidikan Barat yang menurut ukuran saat itu tergo-long sangat modern; hal ini terjadi pada Dinasti Meiji. Kenyataannya perkiraan tersebut meleset; dan sampai saat ini Jepang tidak pernah kehilangan akar budayanya, meski sistem pendidikan "Barat"-nya juga berhasil mengangkat bangsa Jepang dari keterbelakangan.