Articles
1,592 Documents
EMPAT TANTANGAN ILMUWAN SOSIAL KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.685 KB)
Dari momentum pelantikan pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) Propinsi DIY periode 1998 s/d 2001 tanggal 21 Februari 1998 terkonklusi terdapatnya empat tan-tangan bagi ilmuwan sosial Indonesia sekarang ini; pertama, tuntutan peran yang makin tinggi dalam sistem pembangunan nasional, kedua, tuntutan daya prediksi yang makin kuat, ketiga, tuntutan daya antisipasi yang makin solid, serta keempat, tuntutan penjagaan jarak yang tepat dengan pihak penguasa. Keempat tuntutan itulah yang sekarang ini secara simultan menja-di tantangan yang menarik bagi ilmuwan sosial di Indonesia. Apabila akhir-akhir ini sering muncul kritik tajam dan terkadang sinisme yang dialamatkan kepada para ilmuwan sosial, hal itu disebabkan adanya anggapan belum terpenuhinya keempat tuntutan tersebut sampai pada tahap memuaskan masyarakat. Di tengah-tengah kritik tajam dan sinisme yang muncul, sebenar-nya tuntutan makin tingginya peran para ilmuwan sosial dalam sistem pembangunan nasional kiranya justru menempatkan sosok ilmuwan (dan ilmu) sosial itu sendiri dalam singgasana yang terhormat. Hal ini bukan saja ada pada tataran praktek bermasyarakat (social behavior), akan tetapi dalam tataran teori (sociology) pun telah terkembangkan kaidah-kaidah seperti itu. Bahkan kaidah-kaidah yang berkembang di masyarakat (praktek) itu sangat sering sudah terbahas sebelumnya di dalam domein teori. Dalam bukunya "Theory Building in Sociology" (1989), Jona-than H. Turner menyatakan bahwa semakin maju suatu masyarakat di satu tempat tertentu makin diperlukan peran ilmuwan sosial di tempat tersebut. Hal yang senada juga dinyatakan oleh Karen S. Cook dalam bukunya "Social Exchange Theory" (1990) bahwa "kemetropolisan" masyarakat menuntut peran ilmuwan sosial yang lebih.
KUIS DAN FILM KERAS DI TELEVISI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (183.437 KB)
Pernyataan Menteri Penerangan Harmoko bahwa penyelenggara undian termasuk kuis di televisi yang tidak meminta ijin ke Departemen Sosial (Depsos) dapat dikenai ancaman kurungan ataupun denda ternyata mengundang respon dari banyak pihak. Pasalnya, sekarang ini acara kuis memang termasuk banyak digemari pemirsa televisi; dan oleh karenanya pihak televisi pun seolah-olah saling berlomba untuk dapat membuat dan menayangkan acara kuis andalan. Sekedar ilustrasi; bila TVRI sebagai televisi pemerintah memiliki kuis andalan 'Berpacu Dalam Melodi', maka RCTI memiliki 'Tak Tik Boom'. Sementara itu TPI, SCTV, dan Indosiar masing-masing punya kuis andalan 'Benyamin Show', 'Bulan Madu', dan 'Rezeki Ramadhan'. Ini sekedar ilustrasi; dalam kenyataannya setiap stasiun televisi, pemerintah maupun swasta, umumnya memiliki lebih dari satu jenis kuis andalan. Dalam kenyataannya pula kuis yang ditayangkan oleh televisi ada yang bersifat undian murni, bahkan ada yang menilai terdapat kuis yang mengandung unsur judi. Barangkali karena ini pulalah yang membuat Pak Harmoko merasa perlu untuk memberi statement mengenai penyelenggaraan kuis dan undian di televisi. Apakah semua kuis di televisi itu mengandung judi? Tentu tidak! Memang tak semua kuis mengandung unsur judi; tetapi dikhawatirkan ada kuis mengandung judi. Pada kenyataannya memang ada kuis yang lebih bersifat undian murni, misalnya saja 'Si Doel Anak Sekolahan' (RCTI) dan 'Benyamin Show' (TPI). Bagi yang setuju undian murni itu mengandung unsur judi maka kuis-kuis itu akan dianggap mengandung unsur judi.
KRITERIA BARU UJIAN NASIONAL
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.206 KB)
Bersama dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) membuat keputusan mengenai pelak-sanaan Ujian Nasional (UN). Keputusan mengenai pelaksanaan UN ini di samping menyangkut waktu dan mata pelajaran juga menyangkut kriteria kelulusan; tiga hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh pihak sekolah. Menurut keterangan Ketua BSNP, Mungin Eddy Wibowo, UN tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 20 s/d 24 April untuk satuan SMA dan MA, 20 s/d 22 April untuk satuan SMK, dan 27 s/d 30 April untuk satuan SMP dan MTs. Sementara itu pelaksanaan ujian susulan akan dilakukan pada tanggal 27 April /d 1 Mei untuk satuan SMA dan MA, 27 s/d 29 April untuk satuan SMK, dan 4 s/d 7 Mei untuk satuan SMP dan MTs. Kriteria kelulusan UN dinaikkan 0,25 dibandingkan dengan tahun lalu. Peserta UN SMA, MA, SMP dan Mts dinyatakan lulus jika memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Adapun nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya.
TOKO KELONTONG ITU BERNAMA PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.81 KB)
Sungguh menarik apa yang dikemukakan menteri pendidikan nasional, Malik Fadjar, di hadapan para pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se Indonesia baru-baru ini. Beliau dengan cermatnya mengemukakan kekecewaannya terhadap perkembangan PTN di ne-gara kita akhir-akhir ini yang mirip dengan toko kelontong. PTN kita semakin mengecil dan berkeping-keping dengan telah membuka dan sekaligus menawarkan aneka program studi jangka pendek dan program ekstensi. Keadaan seperti itu mengakibatkan tidak terbentuknya gerak "ke luar" yang akan memberikan kekuatan antisipasi dan partisipasi dalam menjembatani berbagai bentuk kesenjangan, khususnya dalam bidang pengembangan SDM. Apa yang dikemukakan oleh Pak Malik Fadjar tersebut dapat kita tanggapi sebagai otokritik bagi lembaga departemen pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi, beserta para pengambil kebijakan didalamnya. Apa yang dikemukakan beliau memang banyak benarnya karena dalam realitanya sekarang banyak PTN yang tidak malu-malu lagi ngopeni program jangka pendek seperti D2, program ekstensi seperti kelas malam dan juga program "off campus" seperti kelas jauh yang sering dilakukan tidak proporsional dalam konteks pengembangan keilmuan. Atas aktivitas tersebut banyak pengelola Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang mengomentari PTN sebagai badan yang serakah, rakus dan kata-kata nonilmiah yang lainnya. Lepas dari sejauhmana kebenarannya, aktivitas PTN yang seperti itu dianggap telah merebut ladang subur yang selama ini menjadi kapling PTS.
MASUK SEKOLAH BEBAS NARKOBA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.603 KB)
Setelah momentum Ebtanas berlalu, sekarang ini konsentrasi masyarakat beralih dan terfokus kepada penerimaan siswa baru di sekolah; SD, SLTP, SMU dan SMK. Momentum akademis yang ber-langsung pada awal bulan Juli tahun 2000 ini cukup membikin repot para calon siswa baru dan orang tuanya. Dari hari per hari, bah-kan dari jam per jam mereka mencari informasi baru sekaligus juga memantau perkembangannya agar supaya strategi yang diterapkan cukup tepat sehingga dapat meraih sekolah yang bermutu baik. Dengan diberlakukannya sistem penerimaan siswa baru ber-dasarkan Nilai Ebtanas Murni (NEM), khususnya di SLTP dan SMU, maka strategi mendaftarkan diri menjadi sangat penting. Maksudnya pada hari apa, jam berapa dan menit ke berapa formulir pendaftaran beserta daftar NEM asli dimasukkan kembali pada pihak panitia penerimaan siswa baru di sekolah akan sangat menentukan diterima atau tidaknya seseorang calon menjadi siswa baru di sekolah yang diinginkan. Sudah barang tentu tinggi dan rendahnya NEM itu sen-diri juga menjadi determinan. Apabila ada seorang calon yang keliru menerapkan strategi, bukan tidak mungkin ia akan mendapatkan sekolah yang kualitasnya biasa-biasa saja atau bahkan berkualitas rendah meskipun NEM-nya tinggi. Pengalaman dalam beberapa tahun terakhir ini membuktikan banyaknya calon siswa yang NEM-nya lebih tinggi justru mendapat sekolah yang mutunya lebih rendah; sebaliknya banyak juga calon siswa yang NEM-nya lebih rendah tetapi justru memperoleh sekolah yang kualitasnya lebih tinggi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penerimaan siswa baru sekarang ini disemarakkan dengan isu narkotika dan obat-obat terlarang lainnya (narkoba). Konon, ada sekolah-sekolah tertentu yang sudah mensyaratkan bebas narkoba bagi salon siswa barunya, ada yang belum sama sekali, akan tetapi ada yang posisinya masih menunggu petunjuk dari atas.Trouble Maker
POTENSI KELOMPOK MINORITAS INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.914 KB)
Pameran Kedirgantaraan Indonesia 86 atau Indonesian Air Show (IAS 86) saat ini tengah menjadi pusat perhatian para teknokrat di seluruh dunia, khususnya para teknorat Indonesia. Betapa tidak, pameran kedirgantaraan ini disamping menjadi arena promosi 'kelas tinggi' juga merupakan ajang pertunjukan dan persaingan produk teknologi canggih kedirgantaraan yang melibatkan negara-negara maju. IAS 86 diikuti oleh 235 perusahaan dari 22 negara yang berusaha untuk mempromosikan produknya sebaik mungkin, baik yang berupa helikopter, pesawat sipil sampai pesawat tempur. Berbagai perusa-haan penerbangan yang punya "nama besar" pun banyak yang berpartisipasi di dalamnya, misalnya Boeing, MBB, Fokker, Grumman, dan sebagainya. Untuk dapat me"manage" pameran tersebut dengan sempurnapun rupanya sudah diperlukan "teknologi cang-gih", hal ini terbukti tidak setiap negara mampu menyelenggarakan kegiatan serupa. Namun yang lebih membanggakan adalah Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) "milik" Indonesia mampu bersaing di dalamnya. Akhirnya banyak pesanan yang datang dari berbagai negara kepada IPTN untuk produk pesawat jenis-jenis tertentu. Dari segi ekonomis tentu saja hal ini dapat meningkatkan devisa negara, sedangkan dari segi teknologis hal ini merupakan pengakuan bangsa lain terhadap penguasaan teknologi canggih bangsa kita.
DETERMINAN KELAMBANAN PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.827 KB)
Sungguh menarik yang dinyatakan oleh Menteri Pendidikan Nasional kita, Abdul Malik Fadjar, baru-baru ini. Dinyatakan bahwa perkembangan pendidikan di Indonesia sangat lamban. Perubahan yang terjadi di luar jauh lebih cepat apabila dibanding dengan yang terjadi di dalam dunia pendidik-an. Selain itu, manajemen pendidikan sampai kini belum mengesankan dan terlalu kaku (Kompas, 1 Mei 2004). Pernyataan Pak Menteri itu kiranya benar seratus persen serta layak mendapat skor 200; dengan perincian skor 100 untuk kebenaran jawaban dan skor 100 yang lain untuk keberaniannya berintrospeksi. Perkembangan pendidikan nasional kita memang sangat lamban. Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga Malaysia misalnya, kelambanan itu akan nampak semakin jelas. Sekitar seperempat abad lalu kinerja pendidikan kita belum optimal, namun jauh lebih baik dibanding kinerja pendidikan Malaysia yang begitu buruk. Itulah sebabnya pemerintah Malaysia banyak mengirim pemudanya untuk belajar ke Indonesia; ke UGM Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ITB Bandung, UI Jakarta dan IPB Bogor. Pemerintah Malay-sia juga mengimpor banyak guru dan dosen dari Indonesia untuk ikut membangun bangsa Malaysia melalui pendidikannya.
RAHASIA PENDIDIKAN SINGAPURA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.269 KB)
Apakah kekhasan pendidikan tinggi di Singapura dibandingkan dengan Jepang, Hong Kong, dan Indonesia? Demikianlah pertanyaan ?menggelitik? yang diajukan oleh tetangga saya di Lantai 30 Apartemen Lucky Plaza yang terletak di Orchard Road Singapura. Karena saya pernah mengunjungi beberapa perguruan tinggi di Jepang, antara lain di The Showa University Tokyo; beberapa perguruan tinggi di Hong Kong, antara lain The Chinese University of Hong Kong; perguruan tinggi di Singapura, seperti National University of Singapore; dan tentu saja beberapa perguruan tinggi di Indonesia maka pertanyaan itu mudah dijawab. Kekhasan pendidikan tinggi di Singapura itu antara lain terletak pada iklim pendidikan (educational climate). Begitu kita masuk di area kampus perguruan tinggi di Singapura maka terasa iklim pendidikannya. Dosen berdiskusi, mahasiswa membaca buku, dosen dengan mahasiswa bertukar pendapat, dsb. Pemandangan seperti ini dapat disaksikan di taman, lorong bangunan, ruang kuliah, dsb, bahkan di ruang makan dan tempat-tempat minum. Keadaan yang sama juga dapat dilihat di Jepang dan Hong Kong. Bagaimana di Indonesia? Jujur, hal itu sulit disaksikan di kampus kita pada umumnya.
MEMBANDINGKAN PRESTASI ISPsI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (200.184 KB)
Ketika sempat memberikan presentasinya di hadapan anggota Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (ISPsI) dalam forum kongres dan pekan ilmiah baru-baru ini Menteri KLH, Emil Salim, sempat mengekspresikan "uneg-uneg" yang lama dikandungnya. Menurut beliau, selama lebih dari 25 tahun mengabdi kepada pemerintah Pak Emil belum pernah melihat secara nyata adanya peran psikologi dalam membangun tiap kebijakan pemerintah. Oleh karenanya, Pak Emil menyarankan agar supaya peran ke arah itu harus makin diperbesar; sebab pembuatan setiap kebijakan haruslah selalu dilihat dampaknya pada perilaku manusia (SM, 5/12/91). Dalam arus globalisasi seperti sekarang ini maka dimensi materialisme dan konsumtifisme menjadi dominan, akibat pengaruh kapitalisme. Meskipun begitu materialisme dan konsumtifisme tersebut jangan dijadikan perilaku manusia secara dominan. Secara empirik segala sosok yang dominan cukup sering menyebabkan terdesaknya kepentingan umum oleh kepentingan individu. Di dalam konteks tersebut di atas Pak Emil sempat memberi ilustrasi yang konkrit; dewasa ini banyak sungai yang dijadikan "keranjang sampah" dikarenakan adanya ke-pentingan individu yang dominan, dan sudah barang tentu lebih dominan daripada kepentingan umum. Dalam ilustrasi ini rasanya terkandung harapan dan "kekecewaan" Pak Emil kepada para pengurus ISPsI untuk memainkan perannya da-lam upaya penyelarasan kepentingan umum dan kepentingan individu; hal yang belum banyak diperoleh dari ISPsI.
MENCEGAH TIMBULNYA ELITISME DALAM DUNIA PENDIDIKAN KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.889 KB)
Sebenarnya pendidikan itu mempunyai konsepsi yang sangat sederhana, bahwa pendidikan adalah upaya untuk merubah sikap dan perilaku manusia agar senantiasa siap menghadapi hari esok. Dengan demikian pelayanan pendidikan tidaklah harus selalu didapat melalui lembaga pendidikan formal (resmi) saja melainkan dapat diperoleh di setiap penjuru dan dalam situasi yang tidak terikat.Demikian pada kenyataannya dinegara kita pendidikan formal menempati urutan yang teratas oleh karena 'proses pengubahan dan penyiapan' ini memang dapat dilaksanakan lebih sistematis.Adanya pembagian jenjang pendidikan pada lembaga pendidikan formal tentu dimaksudkan untuk memperoleh pembatasan kriteria kesiapan anak didik dalam menyongsong hari esok, dalam artian bahwa 'hasil didik/produk' dari lembaga pendidikan jenjang yang lebih tinggi diharapkan dapat lebih pandai untuk memecahkan misteri-misteri dan problematika dimasa mendatang.Perguruan Tinggi, baik PTN maupun PTS yang merupakan lembaga dari jenjang pendidikan yang tertinggi diharapkan bisa menciptakan modernisasi (baca: pembaharuan) untuk mengubah struktur sosial masyarakat ke tingkat yang lebih mapan, baik melalui 'hasil didik'nya ataupun lewat 'perangkat' yang lain.