Articles
1,592 Documents
MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI ASEAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.694 KB)
Tanggal 15 s/d 17 Februari 2000 ini para menteri pendidikan negara-negara di Asia Tenggara yang tergabung dalam forum South East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) berkum-pul di Denpasar, Bali di dalam konferensi SEAMEO Council. Dalam pertemuan ini diharapkan hadir seluruh menteri pendidikan dari kesepuluh negara ASEAN; masing-masing ialah Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Meskipun konferensi SEAMEO Council tersebut di atas sudah menjadi kegiatan yang rutin akan tetapi konferensi yang diadakan di Indonesia tahun ini dianggap sangat strategis karena merupakan pembuka pintu Milenium Ke-3 bagi menteri-menteri pendidikan di negara-negara ASEAN. Mengapa Milenium Ke-3 menjadi penting? Karena pendidikan di Milenium Ke-3 akan menghadapi kompleksitas baru dan berbagai problematika yang mendesak. Problematika pendidikan yang muncul di Milenium Ke-3 ini tidak saja menuntut penyelesaian yang cepat dan akurat akan tetapi juga menuntut penyelesaian secara bersama antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lainnya. Di dalam rangka menggalang kebersamaan inilah maka pertemuan antarmenteri pendidikan di negara-negara ASEAN menjadi sangat strategis. Konferensi SEAMEO Council kali ini tidak saja penting bagi para anggota SEAMEO itu sendiri, yaitu negara-negara di ASEAN, tetapi juga sangat penting bagi negara-negara lain pada umumnya. Itulah sebabnya beberapa negara di luar SEAMEO sangat berminat hadir di dalam pertemuan, sekalipun statusnya sekedar "peninjau". Adapun negara-negara yang dimaksud adalah Australia, Selandia Baru, Kanada, Jerman, Perancis, Norwegia dan Belanda.
STRATEGI OPERASI (6)
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (90.642 KB)
Allah membolehkan menggunkan binatang ternak itu untuk diberdayakan, baik dipakai sebagai alat angkutan maupun untuk disembelih. Dalam surat Al An?aam ayat 142-144 : Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Katakanlah ?Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?? Terangkanlah kepadaKu dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: ?Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan inni bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Demikian pula disebutkan dalam surat Al Hajj ayat 27: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
KUNCI MERAIH INDEKS PRESTASI YANG TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (135.353 KB)
Pada masa-masa awal tahun akademik baru seperti sekarang ini aktivitas yang paling menonjol di berbagai perguruan tinggi adalah masa orientasi kampus bagi para mahasiswa barunya. Masa orientasi kampus bukanlah sekedar merupakan kegiatan seremonial akademik yang tanpa isi, akan tetapi merupakan kegiatan akademik yang cukup bermakna karena di dalamnya berisikan paket-paket "pembekalan" bagi para mahasiswa baru. Mahasiswa baru diberi bekal untuk menempuh studi di perguruan tinggi serta dikenalkan dengan situasi dan kondisi kampus; baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) adalah merupakan contoh soal "bekal" yang diberikan kepada para mahasiswa baru dalam rangkaian acara orientasi kampus ini. Perguruan tinggi di negara kita telah sepakat untuk melahirkan "sarjana-sarjana plus"; ialah para sarjana yang pancasilawan. Bukan sekedar para scientist; atau sarjana yang sekedar pintar menguasai knowledge dan science saja. Itulah sebabnya para mahasiswa baru perlu diberi bekal P4. Beberapa perguruan tinggi negeri (IKIP Negeri Yogyakarta, UGM, dsb.) baru saja menyelesaikan kegiatan pembekalan P4 bagi para mahasiswa barunya; sementara itu pada berbagai perguruan tinggi swasta ada yang sedang melangsungkan kegiatan ini.
WAHIDIN DAN BOEDI OETOMO
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.805 KB)
Pertengahan Maret 2008 lalu seorang guru besar sejarah dan sekaligus ahli sejarah Indonesia kelas dunia, Prof. M.C. Ricklefs, B.A., Ph.D., FAHA, sengaja datang di Indonesia untuk menemui saya di pesantren yang sedang saya kembangkan, Pesantren ?Ar-Raudhah? Yogyakarta. Ia adalah dosen senior di Department of History, National University of Singapore (NUS), Kedatangan Ricklefs sangatlah tepat; di satu sisi ia sengaja melakukan dialog dengan saya tentang berbagai organisasi pergerakan di Indonesia, termasuk Boedi Oetomo (BO), guna memperkuat bahan perkuliahannya, pada sisi lain ketika itu ?Keluarga BO? atau tepatnya Paguyuban Keluarga Besar Pendiri Boedi Oetomo yang nota bene adalah keturunan pendiri BO, menuntut dilakukannya pelurusan sejarah. Menurut paguyuban ini Wahidin Soedirohoesodo bukanlah pendiri BO Tuntutan tersebut tentu saja menarik; di tengah-tengah bangsa Indone-sia mempersiapkan peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional (waktu itu) yang nota bene tanggal peringatannya, 20 Mei, ditetapkan oleh pemerintah RI bersamaan dengan tanggal berdirinya BO, terjadi tuntutan keluarga yang hampir tidak pernah dibayangkan oleh bangsa Indonesia.
BENAHI PENDIDIKAN NASIONAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.461 KB)
Sebagai anggota masyarakat yang baru belajar berdemokrasi secara benar tentu kita saja semua wajib mengucapkan selamat atas terpilihnya KH Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI yang Ke-4 periode 1999-2004. Ucapan yang sama juga perlu diberikan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai wakil presiden. Dengan ucapan tersebut semoga duet antara KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan Ibu Megawati Soekarnoputri atau Mbak Mega dapat lebih bersemangat di dalam mengabdikan diri bagi negara dan sekaligus memimpin bangsa Indonesia. Ada dua hal yang sangat menarik bagi saya ketika Gus Dur menyampaikan pernyataan sebelum terpilih menjadi presiden; yaitu apabila beliau terpilih menjadi presiden akan memilih menteri berda-sarkan pertimbangan kemampuan atau profesionalisme bukan lebih dipertimbangkan secara politis. Untuk itu yang kedua, NU hanya akan diberi jatah tiga menteri saja, salah satu diantaranya adalah menteri pendidikan. Pemilihan anggota kabinet yang lebih didasarkan kemampuan tersebut membuktikan bahwa Gus Dur adalah sosok yang mempunyai komitmen dan visi ke depan. Kiranya hal ini mendapat dukungan masyarakat, khususnya para intelektual dan para profesional. Memang tidak mungkin Gus Dur dan Mbak Mega sama sekali mengesampingkan pertimbangan politis di dalam menentukan anggota kabinetnya; tetapi pertimbangan politis yang berlebihan hanya akan menghasilkan para menteri kelas dua, tiga, atau bahkan kelas lima. Pendeknya adalah "not number one people" atau bukan orang yang tepat. Kalau negara ini diurusi oleh bukan orang-orang yang tepat maka kita akan sulit mengatasi krisis. Kita akan semakin terpuruk.
KRITIK TAJAM PADA IKIP : "SUBJECT MATTER!"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (141.042 KB)
Akhir-akhir ini lembaga pendidikan tinggi kependidikan di negara kita, IKIP, amat sering menerima kritik yang sangat tajam dari masyarakat. Inti kritik biasanya berkisar pada masalah "subject matter", atau penguasaan materi pengajaran bagi para alumnusnya. Dimensi metodologis nampaknya tak banyak mendapat sorotan, tetapi serenta sampai pada masalah penguasaan materi pengajaran para alumnus yang dipresentasikan didepan kelas maka berbagai kritik kemudian saling muncul di permukaan. Penguasaan materi pengajaran yang dimiliki oleh para alumnus IKIP dipandang sangat minim, sehingga perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari para birokrat kependidikan. Masalah ini diungkap secara cukup gencar karena minimnya penguasaan materi pengajaran dipandang sebagai salah satu penyebab merosotnya kualitas pendidikan, terutama untuk tingkat sekolah menengah. Pada suatu kesempatan dengan nada 'gurius' (gurau namun serius) seorang dosen senior pada salah satu perguruan tinggi nonkependidikan "menantang" saya untuk menguji kualitas penguasaan "subject matter" alumnus IKIP. Dia yang sering menyebut saya sebagai "wong IKIP tulen" meminta saya menyiapkan satu sarjana IKIP dengan bidang studi tertentu dan dia akan menyiapkan seorang mahasiswa non-IKIP semester enam dengan bidang studi yang serupa. Keduanya diterjunkan untuk mengajar pada salah sebuah SMA atau sekolah menengah lainnya. Dia berani bertaruh bahwa mahasiswa non-IKIP tersebut akan lebih berhasil mengajar sebab penguasaan materinya lebih kualitatif (saya hanya 'berhahaha' dalam menjawab "tantangan" ini).
KUALITAS GURU DAN DOSEN DI INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (99.041 KB)
Di dalam suatu diskusi kependidikan yang melibatkan secara langsung para praktisi dan pakar pendidikan di Yogyakarta baru-baru ini berkesimpulan bahwa kita harus menyadari dan mengakui tentang jeleknya kinerja pendidikan nasional. Dengan mengacu pada berbagai publikasi internasional seperti UNDP, WEF, IMD, PERC, ADB, AsiaWeek, dsb; jeleknya kinerja pendidikan nasional kita me-mang tidak mungkin dapat disembunyikan. Kesimpulan kedua yang lebih bersifat analitis adalah tentang faktor yang menjadi penyebab jeleknya kinerja pendidikan nasional kita; dan dari sederetan faktor yang teridentifikasi ternyata yang paling utama adalah faktor tenaga kependidikan, dalam hal ini guru di jenjang pendidikan dasar dan menengah serta dosen di jenjang pendidikan tinggi. Sampai saat ini, demikian hasil analisis dari para peserta dis-kusi, kualitas tenaga kependidikan kita masih sangat memprihatinkan. Banyak guru yang tidak menguasai subject matter atau bahan yang harus disampaikan kepada anak didik, di sisi lain banyak dosen yang tidak memahami methodology atau cara mendidik yang baik, bahkan banyak guru dan dosen yang tidak menguasai kedua aspek penting dalam pengajaran dan pendidikan tersebut. Ada si-nyalemen bahwa yang banyak ditemukan di sekolah dan perguruan tinggi sekarang ini hanyalah pengajar, bukan pendidik. Akibat dari itu semua mudah dilihat dengan mata telanjang; kinerja pendidikan nasional kita demikian jeleknya, bahkan lebih jelek dari beberapa negara di sekitar kita seperti Malaysia, Singa-pura, Vietnam, Filipina, Thailand, dan sebagainya.
MEMBENAHI PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.918 KB)
Pada akhir tahun 1998 lalu Haneen Sayed, John Newman dan Peter Morrison dibantu oleh puluhan pakar atas nama Bank Dunia membuat laporan pendidikan tentang Indonesia dengan judul 'Edu-cation in Indonesia : From Crisis to Recovery'. Dari laporan yang terdiri dari tujuh bab tersebut dan saya sempat diminta memberikan komentar sebelum diluncurkan secara resmi hampir tak ada kalimat yang menunjukkan keberhasilan pendidikan di Indonesia. Inti dari laporan itu menyatakan bahwa pelaksanaan dan hasil pendidikan di Indonesia belum atau tidak memuaskan: unsatisfactory. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia semenjak pertengahan tahun 1997 benar-benar berdampak buruk terhadap pendidikan kita yang secara kuantitatif dapat dilihat dari semakin tingginya angka putus sekolah, menurunnya tingkat partisipasi pendidikan, semakin banyaknya mahasiswa yang mengambil cuti kuliah, dan sebagainya. Beberapa bulan kemudian muncul dua publikasi yang banyak diacu oleh para pakar pendidikan dan pemimpin negara. Yang per-tama, UNDP menerbitkan satu laporan berjudul 'Human Development Report 1999'; dan yang kedua WEF menerbitkan laporan yang bertitel 'Global Competitiveness Report 1999'. Kedua laporan tersebut memang tidak secara eksplisit menulis mengenai kegagalan pendidikan di Indonesia; akan tetapi secara tidak langsung memang menyatakan hal yang demikian. Dari laporan UNDP diketahui bahwa Indonesia hanya ada di urutan ke-105 dari 174 negara dalam hal pembangunan manusianya; dan kita berada di bawah Singapura (22), Brunei (25), Malaysia (56), dsb. Sementara itu dari laporan WEF diketahui bahwa Indonesia hanya berada pada ranking ke-37 dari 59 negara dalam hal daya saing; dan kita ada di bawah Singapura (1), Malaysia (16), Thailand (30), dsb. Berbagai laporan tersebut sesungguhnya hanya merupakan sebagian kecil dari informasi atau data yang menunjukkan kebelum-berhasilan pelaksanaan dan sekaligus hasil pendidikan kita. Dan apabila dicermati lebih lanjut, sesungguhnyalah kebelumberhasilan pendidikan kita itu tidak hanya terjadi setelah krisis ekonomi. Jauh sebelum ada krisis pendidikan nasional kita memang payah; lamban, kurang dinamis dan sarat kasus. Sekarang tiba saatnya pendidikan nasional Indonesia dibenahi; tidak secara parsial dan sporadis akan tetapi secara total dan simultan.
PROBLEMA KLASIK SEKOLAH DASAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.469 KB)
Kalau dihitung lama waktunya, bangsa Indonesia sudah merdeka lebih dari setengah abad. Bangsa yang sudah merdeka lebih dari setengah abad biasanya sudah mampu menyelesaikan masalah-masalah elementer yang dihadapinya. Tetapi ternyata bangsa Indonesia belum mampu melakukan-nya, setidak-tidaknya dalam dunia pendidikan, utamanya pendidikan dasar. Beberapa waktu lalu Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, Sungkowo, mengatakan sebanyak 535.825 dari sekitar 900.000 ruang kelas SD di tanah air dalam kondisi rusak. Penyebab kerusakan ruang kelas tersebut adalah karena termakan usia, bencana alam, serta adanya aksi perusakan dan pembakaran di daerah konflik. Selanjutnya diakui bahwa ruang kelas yang kondisinya rusak tersebut memang sudah cukup berumur; gedungnya dibangun tahun 70 s/d 80-an ketika pemerintah menggalakkan pembangunan SD Inpres. Tentu kita berhak sedih mendengar pernyataan itu. SD yang nota bene merupakan bagian pendidikan dasar adalah pondasi pendidikan nasional kita. Bagaimana mungkin pendidikan kita dapat bermutu kalau ruang kelas SD-nya rusak; bagaimana SDM kita berkualitas apabila pendidikannya saja tidak bermutu; dan bagaimana bangsa kita dapat bersaing dengan bangsa lain kalau SDM-nya tidak berkualitas.
MEMILIH MAHATHIR-NYA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (104.852 KB)
Mahathir Mohamad bukanlah Tokoh Pendidikan Malaysia sekaliber Ki Hadjar Dewantara di Indonesia. Disebut tokoh pendidikan pun barangkali tidak tepat benar; namun kepemahamannya tentang pendidikan di Malaysia tentu tidak diragukan. Sebelum menjadi perdana menteri selama 22 tahun, dari 16 Juli 1981 s/d 31 Oktober 2003, ia menyatakan perlunya Malaysia mengirim pemuda mengikuti pendidikan ke manca negara dan menariknya kembali untuk membangun bangsa. Meski awalnya banyak yang menentang tetapi akhirnya banyak orang menyetujuinya. Mahathir pun dipercaya menjadi Menteri Pendidikan Malaysia pertengahan tahun 70-an. Karena prestasinya sangat meyakinkan maka ia diangkat menjadi Deputi Perdana Menteri sebelum akhirnya menjadi Perdana Menteri. Semasa Mahathir memimpin Malaysia mengalami kemajuan pesat. Di sisi politik, sampai kini Malaysia ?dienggani? negara-negara Barat termasuk AS; dari sisi ekonomi, Malaysia merupakan negara di Asia Tenggara yang paling awal bangkit dari krisis tahun 1987; dan dari sisi pendidikan, Malaysia telah meninggalkan Indonesia yang sempat menjadi gurunya. Kunci keberhasilan Mahathir? Memajukan negara melalui pendidikan. Ia berani mengalokasi anggaran pendidikan di atas 20 persen dari anggaran negara (total government expenditure). Ia pun berani ambil risiko. Dengan anggaran tersebut ternyata pendidikan Malaysia mengalami kemajuan luar biasa yang berimplikasi pada kemajuan negara.