Articles
1,592 Documents
SMP TERBUKA YANG MENJADI PILIHAN (1)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.144 KB)
      Keinginan dan tekad pemerintah untuk melaksanakan wajib belajar SMTP mulai akhir Pelita V nanti nampaknya berdampak positif terhadap upaya-upaya meningkatkan daya tampung SMTP di negara kita yang sampai saat ini angkanya masih relatif rendah, sekitar 70%. Ini berarti bahwa pemerintah (dan masyarakat) baru sanggup menyediakan 70 kursi belajar dari setiap 100 lulusan SD.      Dengan kondisi seperti itu tentunya belum "layak" wajib belajar dicanangkan secara resmi; masalahnya wajib belajar itu sendiri akan membawa resiko.      Apakah resikonya ...? Sewaktu-waktu yang diwajib-belajarkan menuntut sarana dan fasilitas belajar, asal masih di dalam batas-batas yang wajar, maka mau tak mau pemerintah sebagai pihak yang mewajibbelajarkan warganya wajib memenuhi tuntutan itu.      Implikasinya: pemerintah berkewajiban menyediakan sarana dan fasilitas belajar yang memadai terlebih dahulu, termasuk menyediakan kursi belajar di sekolah dalam jumlah yang cukup, sebelum mencanangkan program wajib belajar itu sendiri.
GAJI LUAR BIASA (1)
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pertanyaan seorang Ibu ketika mengikuti seminar saya di Balai Kota âbagaimana saya dapat mempertahankan karyawan saya meskipun gajinya kecil?â Jawaban saya adalah tidaklah mudah untuk mempertahankan karyawan yang berkualitas. Meskipun demikian bukanlah tidak ada jalan untuk dapat mempertahankan karyawan tersebut. Saya memulai bisnis dari kecil, karena saya mulai bisnis tanpa menggunakan modal uang tunai, sehingga karyawan saya gaji dengan gaji yang kecil seperti yang dilakukan oleh ibu. Karena kemampuan bayar belum memungkinkan untuk membayar dengan gaji yang memadai. Sesungguhnya gaji bukanlah sebagai faktor untuk memotivasi, tetapi hanya sekedar menjaga motivasi.  Salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi, sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik adalah bagaimana karyawan tersebut dapat berprestasi. Jika dapat membuat karyawan kita berprestasi dengan memberikan kesempatan untuk menjalankan idenya. Apakah idenya itu berhasil atau tidak, tetapi kita telah memberikan kesempatan. Biasanya karyawan itu akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa idenya tersebut merupakan ide yang cemerlang.   Saya teringat ketika saya masih menjadi guru di salah satu SMA pinggiran kota yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah yang menggores dalam di hati saya dalam cara memimpin. Kepala Sekolah tersebut bernama Bapak Drs. Anggoro. Saya di SMA sebagai Guru Tetap Yayasan di gaji kecil, tetapi saya tetap bersemangat mengajar dan memberikan keahlian apa saja yang saya punya Hal ini juga yang dilakukan oleh Guru yang yang lain, bahkan ada juga Dosen yang mau mengajar di sekolah tersebut. Gaji yang diberikan Pak Anggora kepada guru-guru adalah memberikan kesempatan seluruh guru untuk melaksanakan idenya. Pada saat akan adanya penerimaan siswa baru, guru-guru dikumpulkan oleh Kepala Sekolah tersebut untuk membicarakan strategi agar SMA tersebut mendapat siswa yang banyak. Salah seorang yang beliau juga Dosen di ISI bernama Pak Supriaswoto, mengatakan âSaya Pak yang membuat sepanduknya. Saya cukup dibelikan bahannyaâ. âSaya Pak mengumumkan ke SMP tempat saya mengajarâ kata Pak Subarjo. âSaya yang membuat brosurnya Pakâ kata saya. Semua guru yang kumpul di SMA itu mengeluarkan idenya masing-masing dan Pak Anggoro hanya menyerahkan kepada guru-guru tersebut untuk menjalankan idenya. Hasilnya luar biasa, siswa baru di SMA tersebut cukup mengagumkan. Saya telah belajar dari Pak Anggoro tentang gaji. Ternyata memberikan gaji tidak dengan uang tetapi dengan ide terbukti ampuh melebihi gaji yang berupa uang. Sayang, turun peraturan bahwa lulusan dari Sekolah Agama tidak boleh menjadi Kepala Sekolah, akhirnya Pak Anggoro harus rela melepaskan jabatan. Tdak begitu lama Pak Anggoro yang menjadi guru kehidupan saya dipanggil oleh Sang Pemiliknya. Tuhan memang mempunyai skenario terbaik. Saya merasa kehilangan karena baru belajar sedikit dari beliau. Semoga Pak Anggoro, damai di sisi-Nya.
"QUO VADIS" ANGGARAN PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.326 KB)
      Setelah berkali-kali tertimpa bencana, kini dunia pendidikan nasional kita lagi-lagi terkena musibah. Anggaran pendidikan yang diharapkan banyak orang mengalami kenaikan pada tahun anggaran 2001 ternyata tidak jadi naik. Harapan tinggal harapan. Ironisnya; anggaran pendidikan kali ini justru mengalami penurunan.      Seperti diketahui, dalam RAPBN 2001 pemerintah menetapkan anggaran untuk sektor pendidikan nasional sebesar 11,310 triliun rupiah; angka ini didalamnya sudah termasuk anggaran rutin yang besarnya mencapai 4,046 triliun rupiah. Tahun 2000 yang sedang berjalan ini sektor pendidikan mendapat alokasi dana sebesar 12,850 triliun rupiah. Dengan demikian anggaran pendidikan nasional kita mengalami penurunan mutlak sebesar 1,540 triliun rupiah, atau pe-nurunan relatif sebesar 12 persen.      Penurunan anggaran pendidikan yang sangat signifikan ter-sebut merupakan musibah nasional. Bagaimana tidak; dengan porsi anggaran yang relatif kecil maka kinerja pendidikan nasional yang sudah terlanjur "berantakan" tentu sulit diperbaiki. Padahal, dunia global sekarang ini menghendaki setiap bangsa untuk memiliki daya kompetisi yang tangguh.      Dengan anggaran pendidikan yang amat terbatas tentu sulit bagi kita untuk melahirkan anak-anak dengan gizi yang cukup dan kemampuan berfikir yang cemerlang. Dengan anggaran yang sangat minim agak sukar bagi kita melahirkan pemimpin yang berbobot dan mampu berkiprah secara internasional. Dengan anggaran yang amat kecil tentu sulit mengharapkan hadirnya generasi masa depan yang berkualitas dan penuh harapan.
KEPENDUDUKAN DAN KEPENDIDIKAN ISLAM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.591 KB)
      Mencermati dengan seksama terhadap gambaran besar tentang kependudukan dan kependidikan masyarakat Islam di dunia sekarang ini tersurat dan tersirat adanya berbagai indikator keterbelakangan di dalamnya; suatu hal yang menuntut perhatian masyarakat dunia, khususnya dari masyarakat Islam itu sendiri tentunya.      Berbagai indikator keterbelakangan masih melekat rapat dalam gambaran besar tersebut; antara lain adalah mayoritas penduduk dalam usia tidak produktif, tingginya jumlah penduduk yang buta huruf, tingginya tingkat kematian bayi, juga tingginya tingkat kematian ibu, dan sebagainya. Ini semua memberikan ilustrasi tentang masih adanya keterbelakangan pada masyarakat Islam dunia di dalam menyongsong era industrialisasi; meskipun dari kasus per kasus ada pula beberapa negara Islam yang sudah layak dikatakan sebagai relatif "maju".      Bangladesh misalnya. Negara yang berpenduduk sekitar 118 juta jiwa dengan 86% di antaranya yang beragama Islam merupakan salah satu contoh "negara Islam" yang relatif tertinggal. Tingkat pendidikan masyarakat yang masih relatif rendah serta berbagai indikasi tingkat kesehatan masyarakat yang belum optimal merupakan fenomena yang mudah ditangkap.
PENELITIAN PENDIDIKAN DARI YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (94.49 KB)
       Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas baru saja melakukan seleksi dan evaluasi proposal penelitian pendidikan yang masuk dari para guru dan dosen dari seluruh Indonesia; kemudian mengumumkan-nya secara terbuka kepada publik sehingga informasinya dapat diakses secara transparan oleh siapa saja yang menginginkannya.        Kegiatan yang diadakan dalam rangka Pemberdayaan Kapasitas Tenaga Kependidikan (Guru) dalam Penelitian Pendidikan tersebut ternyata cukup menarik minat guru dan dosen terbukti ada ratusan proposal yang diterima Balitbang Depdiknas. Hebatnya, proposal yang masuk tidak hanya berasal dari Pulau Jawa tetapi dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua pun sampai ke meja âredaksiâ. Lebih daripada itu proposal dari guru di pulau kecil seperti Ternate dan Tidore pun masuk dan sekaligus lolos seleksi.        Sebanyak 40 proposal penelitian pendidikan guru SD, 93 guru SMP, 100 guru SMA dan SMK, serta 57 proposal penelitian dosen PTN dan PTS telah ditetapkan lolos seleksi dan evaluasi. Bagi proposal yang lolos seleksi dan evaluasi ini segera dilaksanakan proses penelitiannya menggunakan dana bantuan dari Depdiknas. Â
SISTEM LATIHAN KERJA NASIONAL, TEROBOSAN SIMPATIK DEPNAKER
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.327 KB)
      MASALAH ketenagakerjaan di negara kita makin lama terasa semakin kompleks; bukan saja karena bertambahnya tenaga kerja dari tahun ke tahun yang jumlahnya kian membengkak, akan tetapi kuga dikarenakan tuntutan disiplin ketrampilan dari lapangan kerja yang semakin lama semakin "canggih" saja.      Dari segi jumlah, setiap tahun tidak kurang dari dua juta pencari kerja yang berupaya dan berebut tempat untuk mengisi pos-pos kerja yang sangat terbatas jumlahnya. Tentu saja tidak akan mengejutkan kalau angka ini makin lama akan semakin membengkak jumlahnya, karena terbatasnya daya tampung lembaga pendidikan untuk setiap jenjang (kecuali pendidikan dasar) secara langsung telah berakibat pada meningkatnya pertumbuhan tenaga kerja.      Sedangkan dari segi disiplin ketrampilan, pada umumnya tenaga kerja kita belum memiliki disiplin ketrampilan yang kualitatif terhadap tuntutan lapangan kerja. Salah satu indikator yang pantas dipresentasikan adalah banyaknya tenaga kerja terpaksa "ditampik" oleh para pengguna karena kualifikasi dan relevansi disiplin ketrampilannya yang diragukan.      Untuk mengatasi masalah ini Depnaker, Departemen Tenaga Kerja mengadakan terobosan baru yang cukup "simpatik" dalam bentuk sistem latihan kerja nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas ketrampilan yang dimiliki oleh para pekerja kita yang pada umumnya masih tergolong "minim".
HISTORIA PAPE DAN KONGRES TAHUNANNYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.064 KB)
      Apabila salah satu pasal undang-undang pendidikan nasional kita menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan nasional itu tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama dengan orang tua dan masyarakat kiranya memang tepat adanya. Dalam realitanya masyarakat dunia pun meyakini bahwa pendidikan itu memang menjadi tanggung jawab bersama di antara pemerintah dan masyarakat. Bahkan lebih daripada itu bukan saja ma-syarakat lokal maupun masyarakat nasional tetapi pendidikan itu telah menjadi tanggung jawab masyarakat internasional.      Itulah sebabnya maka berbagai organisasi pendidikan tingkat internasional segera terbentuk untuk memecahkan berbagai proble-matika pendidikan itu sendiri. Salah satu dari organisasi pendidikan internasional itu adalah Pan-Pasific Association of Private Edu-cation (PAPE). PAPE merupakan organisasi pendidikan yang ang-gotanya berasal dari negara-negara Pasifik dan sekitarnya.      Apabila dirunut, PAPE lahir di Jepang pada tanggal 8 November 1979 sebagai hasil kesepakatan bersama utusan negara-negara Pasifik yang diundang oleh pemerintah Jepang dalam rangka memperingati 30 tahun Undang-Undang Perguruan Swasta (Private School Law). Hadir dalam acara yang bersejarah tersebut antara lain utusan dari Amerika Serikat, Canada, Taiwan, Thailand, New Zealand, Singapore dan sebagainya; tidak ketinggalan dari Indonesia.      Dalam pertemuan perdana tersebut para utusan merasakan perlu adanya semacam kegiatan bersama yang dapat menghimpun kekuatan swasta untuk mengoptimasi perannya dalam dunia pendidikan. Berke-naan dengan hal ini maka selanjutnya mereka bersepakat membentuk PAPE sebagai organisasi yang menghimpun kekuatan tersebut.
INDUSTRI PERHIASAN (1)
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (90.343 KB)
Industri berbasis non pertanian pada abad pertengahan awal di Hijaz cukup bervariasi, mulai dari pertambangan sampai perburuan dan perikanan, konstruksi dan manufaktur serta perusahaan produksi lainnya. Di antara berbagai perusahaan, perusahaan manufaktur pribumi merupakan suatu sector industri yang terdiri dari beberapa sub sector. Pengrajin Hijaz terlibat dalam berbagai aktivitas produksi komoditas pilihan penting yang dapat dipasarkan. Sub sektor penting tersebut mencakup perhiasan,pandai besi,penyamakan, tekstil dan parfum. Industri perhiasan dari emas dan perak berkembang dengan baik di Hijaz, sehingga profesi sebagai pembuat perhiasan dari emas dan perak. Orang Hijaz menyukai dekorasi dari logam mulia dan Al Qurâan banyak menyebutkan emas dan perak merupakan barang yang sangat berharga. Â âMereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga âAdn, mengalir sungai-sungai dibawahnya, Â di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan emas yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang indahâ(Al Kahfi:31). âSesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara dan pakaian mereka adalah suteraâ (Al Hajj:23). Demikian pula dalam surat Faathir ayat 33 : â(Bagi mereka) surga âAdn, merekamasuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara dan pakaian mereka adalah suteraâ âDiedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnyaâ (Az Zukhruf:71). Sebaliknya jika emas dan perak tidak dinafkahkan di jalan Allah akan mendapatkan siksa,seperti dalamAl Qurâan :âDan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedihâ (At Taubah:34).
KAGAMA DI TANGAN SULTAN
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (82.395 KB)
Sekitar sepuluh tahun silam saya diundang oleh gubernur Kalimantan Timur untuk memberikan presentasi dalam rangka pendirian Sekolah Mene-ngah Atas (SMA) unggulan sebagaimana SMA Taruna Nusantara Magelang hasil kerja sama antara Tamansiswa dengan ABRI. Waktu itu saya memang menjadi salah satu pembina SMA Taruna Nusantara Magelang.        Malam sebelum hari presentasi saya dibawa oleh beberapa orang, ter-masuk Sekretaris Daerah, untuk ngobrol santai di sebuah restoran ternama di Samarinda. Beberapa orang tersebut ternyata pengurus Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) setempat; dan saya dikira merupakan alumnus UGM. Di sini terjadi salah kira; ketika itu saya memang sudah mengajar di UGM tetapi sama sekali bukan alumnus UGM.        Terlepas dari kasus salah kira tersebut ada satu hal yang perlu dicatat; sikap kekeluargaan pengurus Kagama dengan para anggota memang telah tumbuh subur sejak lama. Sikap semacam ini tidak saja terjadi di pusat yang dalam hal ini adalah Yogyakarta akan tetapi di daerah-daerah, termasuk di Kalimantan Timur, telah tumbuh subur sejak lama. Â
SISTEM GERAKAN ORANG TUA ASUH UNTUK PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
      Bagus, demikian satu komentar tentang penerapan sistem orang tua asuh untuk menunjang program wajib belajar bagi anak usia 7 s/d 12 tahun yang telah dicanangkan oleh pemerintah melalui Depdikbud baru-baru ini.      Gerakan orang tua asuh yang diresmikan Mendikbud pada salah satu Sekolah Dasar di Yogyakarta sebagai tanda diresmikannya sistem ini secara nasional ternyata membawa dampak yang positif. Berbagai pihak, baik secara individual, keluarga, kelompok maupun secara organisasi menyatakan bersedia dan meminta dijadikan orang tua asuh atas dasar kemanusiaan dan tanpa pamrih. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa orang-orang pandai yang ber-budi luhur sangatlah diperlukan untuk suksesnya pembangunan bangsa secara utuh, baik pembangunan fisik maupun mental spiritual. Itulah rupanya mereka kemudian men-jadi cinta pada dunia pendidikan, meski di negara kita masih berwarna "putih-kelabu" ini.