cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KEBIJAKAN PENDEKATAN PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.686 KB)

Abstract

       Pada tanggal 4 Januari 1988 yang lalu TVRI Pusat secara sentral menayangkan program wawancara "eksklusif" dengan menampilkan dua orang yang paling kompeten pada bidangnya masing-masing; ialah Menteri Luar Negeri, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Prof. Dr. Fuad Hassan.       Cukup banyak point yang bisa dipetik dari program tersebut, baik yang bersifat sekedar menangkap fenomena-fenomena sosio-politik-edukatif-kultural masyarakat kita khususnya; atau pun berbagai alternatif strategik yang ditawarkan untuk mengimbangi munculnya fenomena-fenomena tersebut.        Salah satu point yang cukup penting dari program wawancara tersebut diatas adalah adanya sebuah informasi yang dikomunikasikan oleh Mendikbud tentang sistem pendekatan  pendidikan di negara kita. Oleh Mendikbud dikomunikasikan bahwa sekarang ini ada dua macam pendekatan yang sedang ditempuh oleh Depdikbud; masing-masing ialah pendekatan kualitatif  untuk tingkat pendidikan dasar dan tinggi,  serta pendekatan kuantitatif untuk pendi- dikan di tingkat menengah.       Pendekatan kualitatif (baca: pendekatan mutu) ditempuh oleh Depdikbud pada tingkat dasar dan tinggi oleh karena pada jenjang tersebut daya tampung lembaga sudah dianggap "cukup". Sementara pada jenjang menengah terpaksa masih menggunakan pendekatan kuantitatif (baca: pende katan jumlah)  oleh karena pada jenjang ini daya tampung lembaga masih "kurang".
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (25) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.176 KB)

Abstract

Keunggulan dalam bidang multimedia merupakan senjata bagi AMIKOM Yogyakarta, meskipun hanya sesuatu yang sangat sederhana. Untuk melengkapi keunggulan tersebut, saya membuat dua buku multimedia yang berjudul “Multimedia alat untuk meningkatkan Keunggulan Bersaing” dan “Analisis dan Desain Aplikasi Multimedia untuk Pemasaran” yang diterbitkan Andi Yogyakarta. Alhamdulillah kedua buku tersebut menjadi buku Best Seller.  Buku tersebut tersebar pada toko buku besar di seluruh Indonesia dan pada sampulnya memuat logo dan tulisan nama penerbit dan AMIKOM Yogyakarta, sehingga merupakan alat promosi gratis di toko-toko buku besar, yang menjadikan senjata pemasaran yang luar biasa. Untuk memperkuat kompetensi multimedia ini, kami mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang pemasaran khususnya multimedia, bernama PT. Mataram Surya Visi. Perusahaan didirikan dengan memulai bisnis tanpa uang. Perusahaan tersebut juga dipakai untuk magang mahasiswa. Kami menyebutnya sebagai Laboratorium dunia kerja. Kami berharap, mahasiswa yang telah magang di perusahaan tersebut, setelah lulus mereka professional di bidang multimedia. Proyek-proyek multimedia selalu melibatkan dosen dan mahasiswa, sehingga dosen mempunyai karya professional dan mahasiswa telah mempunyai karya yang banyak sebelum selesai, sebagai portofolionya.  Mahasiswa yang telah mempunyai portofolio yang banyak dalam karya multimedia ini, biasanya setelah lulus sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan. PT.Mataram Surya Visi pada awalnya hanya bergerak dalam bidang multimedia dan periklanan, tetapi sekara berkembang ke bidang pemasaran yang lebih luas. Pada bidang multimedia, pada awalnya proyeknya adalah membut profil Katon Bagaskara. Itulah yang membuat PT. PT.Mataram Surya Visi dikenal di masyarakat. Kemudian mulai mendapat proyek untuk presentasi Seminar Internasional Matematika yang diadakan FMIPA dan Seminar Internasional tentang Kulit oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.  Proyek-proyek berikutnya mulai mengalir, mulai dari pembuatan iklan televisi, beberapa perguruan tinggi, termasuk AMIKOM Yogyakarta sendiri. Profil beberapa perguruan Tinggi di Jakarta, Profil BAPPENAS, Profil Direktorat Pendidikan Tinggi, Profil Hutan di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam multimedia dan Film pendek berjudul “Pelangi Senja” dari Departemen Kehutanan sampai proyek dari Kementrian Lingkungan Hidup berupa film animasi berjudul “Aku Cinta Lingkungan” (ACIL). PT.Mataram Surya Visi  mulai berkembang menjadi perusahaan yang bergerak dalam bidang pemasaran, mulai dari periklanan cetak, periklanan televisi, periklanan outdoor dan periklanan internet. Juga mengembangkan diri untuk memproduksi film animasi. Film animasi yang pertama diproduksi adalah JATAYU, kemudian Petualangan ABDAN yang saat ini telah mencapai 14 episode. Direncanakan 26 episode, saya sebagai penulis ceritanya. Petualangan Abdan berjudul “Pahlawan Kecil” sebagai finalis INAICTA Award 2008, “Hadiah Kejujuran” sebagai Juara II Profesional Depatemen Perindustrian dan Perdagangan dan Petualangan Abdan berjudul “Layang-layang”  memperoleh penghargaan sebagai Nominator Urbanimation International Festival.  Film animasi berjudul “Goodbye World” mendapatkan Merit Winner pada INAICTA 2009 di Jakarta. Saat ini sedang mempersiapkan film untuk pasar Hollywood dengan judul “AJISAKA The Chronicle of Java Island”. PT. Mataram Surya Visi selalu berdampingan dengan AMIKOM Yogyakarta. Sinergi  anak perusahaan dan induknya dalam menggapai  prestasi, juga ikut mengangkat nama AMIKOM Yogyakarta.  Itulah salah satu cara sederhana mengangkat “citra” dengan menghasilkan karya profesional agar kita diakui oleh para professional.
PELURUSAN SEJARAH BOEDI OETOMO Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.303 KB)

Abstract

Meskipun peringatan 100 tahun kelahiran Boedi Oetomo (BO) yang dijadikan Hari Kebangkitan Nasional masih beberapa minggu lagi, namun di Yogyakarta telah terjadi “Hari Kebangkitan Keluarga”. Sejumlah anak cucu pendiri BO yang bergabung dalam Paguyuban Keluarga Besar Pendiri Boedi Oetomo menyatakan bahwa dr. Wahidin Soedirohoesodo bukanlah pendiri BO. Mereka menuntut dilakukan pelurusan sejarah.  Pernyataan tersebut barangkali saja sedikit mengejutkan kita. Pasalnya banyak anggota masyarakat, khususnya para pelajar, yang terlanjur tahu dan meyakini bahwa Wahidin (bersama Soetomo, dkk.) merupakan pendiri BO. Apalagi Wahidin pernah memimpin BO.  Para guru sejarah banyak yang terlanjur mengajarkan Wahidin sebagai pendiri BO. Para kepala sekolah dalam memberi sambutan memperingati Hari Kebangkitan Nasional banyak yang sudah terlanjur menyebut Wahidin sebagai pendiri BO. Hal yang sama juga dilakukan oleh sementara pejabat di tingkat desa, kecamatan, dan bahkan kabupaten/kota. Sebagian buku dan situs internet pun ada yang menyebut Wahidin sebagai pendiri BO.
PTS UNTUK HARI TUA HARI TUA UNTUK PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.601 KB)

Abstract

       Ada beberapa teman dosen  Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berceritera dan semacam mengeluh, setiap bertemu dengan teman-teman dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) selalu disapa dengan teguran yang khas mereka, "Apa kabarnya, calon orang kaya?", atau, "Wah tambah kaya sekarang!", atau, "Panen nih, habis penerimaan mahasiswa baru!", atau sapaan-sapaan lainnya yang senada.       Walaupun sapaan-sapaan tersebut sifatnya hanya sebagai gurauan (banyak pula lho yang serius) akan tetapi di dalamnya mengandung semacam kecurigaan terhadap PTS sebagai lembaga komersial yang bergerak di bidang pendidikan,  atau sebaliknya lembaga pendidikan yang bergerak di bidang komersial,  atau lebih parah lagi kecurigaan terhadap PTS sebagai "ladang bisnis".  PTS dianggapnya sebagai lem-baga pendidikan tinggi yang dijadikan sarana untuk "mengeduk" uang dari calon mahasiswa baru.       Hal itu ditunjang lagi oleh berdirinya puluhan PTS baru di  setiap tahun akademik baru seperti tumbuhnya jamur di musim penghujan.       Mendirikan PTS  nampak sebagai  pekerjaan yang  sangat mudah dengan menutup semua kesan sulit,  seperti membuat "pisang goreng" di warung templek.  Sediakan pisang, gandum, air dan sedikit minyak goreng atau mentega jadilah pisang goreng yang siap untuk dijajakan di warung kopi, di pinggir gang buntu sampai di Malioboro sekalipun. Biar tidak ada jaminan rasa enak akan tetapi setiap lidah kan punya selera sendiri-sendiri, apalagi lidahnya para turis.
SEKOLAH SWASTA TERNYATA YANG TERBAIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.82 KB)

Abstract

       Terdapat 25 Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) yang termasuk dalam kategori terbaik di Indonesia. Dari 25 SMTA tersebut seluruhnya berlokasidi Pulau Jawa, dan ternyata hanya empat yang merupakan SMTA Negeri. Yang Selebihnya,  ialah sebanyak 21 SMTA  ternyata merupakan sekolah-sekolah yang dikelola oleh swas-ta, alias SMTA Swasta.       Data tersebut diatas menurut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, diperoleh berdasarkan pemantauan Dirjen Dikti terhadap hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru versi perguruan tinggi negeri, atau yang lebih dikenal dengan SIPEN-MARU, tahun 1986/1987 beberapa waktu yang lalu. Disamping didasarkan pada data SIPENMARU 86/87 juga terdukung oleh data-data sebelumnya.       Dengan melihat data seperti tersebut diatas maka bagi pengelola SMTA Swasta baik bagi para pengelola "kebijaksanaan" yayasan maupun yang langsung terjun secara operasional di sekolah,  kiranya dapat berbesar hati sejenak. Bagi para siswa SMTA Swasta juga dapat menghilangkan perasaan minder dan rendah diri, karena selama ini seolah-olah ada anggapan tak tertulus dari masyarakat bahwa kualitas sekolah swasta hampir selalu lebih jelek bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah negeri.       Kenyataan menunjukkan bahwa dari 25 SMTA terbaik maka didalamnya hanya terdapat sekolah negeri,  selebihnya adalah sekolah swasta.  Dengan angka prosentase maka dari 25 SMTA yang termasuk dalam kategori terbaik tersebut 84% merupakan SMTA Swasta dan 16% merupakan SMTA Negeri.  Perbandingan tsb diatas juga merupakan prestasi tersendiri bagi kalangan swasta sebagai hasil ke-tekunan dan perjuangannya dalam mengisi pembangunan pendidikan di negara kita.
DUNIA DAMAI DAN SEJAHTERA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit hati yang kedua adalah penyakit hati yang tidak menimbulkan sakit seketika. Orang yang terkena penyakit ini tidak merasakan apa-apa. Penyakit hati ini yang sangat menonjol adalah kebodohan dan hawa nafsu. Penyakit inilah sesungguhnya penyakit hati yang terbesar dan paling berbahaya, karena hati telah rusak sehingga tidak dapat merasakan apa-apa. Hal ini disebabkan mabuk kebodohan dan hawa nafsu menghalangi untuk mengetahui penyakit tersebut. Menu- rut Ibnu Qayyim, sesungguhnya seluruh penyakit hati berasal dari nafsu, menyebar ke seluruh tubuh dan yang diserang yang pertama kali adalah hati. Dengan demikian manusia berdasarkan hawa nafsu dapat dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama, manusia yang dikalahkan nafsunya sehingga ia bisa dikuasai dan dihancurkan nafsunya serta tunduk dan patuh pada perintah nafsunya. Kedua, manusia yang dapat mengalahkan dan memaksakan nafsunya sehingga, nafsu itupun tunduk pada perintahnya. Nafsu menyeru kepada kedurhakaan dan mengutamakan dunia, sedangkan Tuhan menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Dalam asumsi ekonomi sistem kapitalis, sumberdaya itu terbatas dan keinginan manusia (nafsu) tidak terbatas serta harta adalah milik individu yang bersifat mutlak tidak dapat diganggu gugat. Untuk menuju kesejahteraan manusia harus memaksimalkan keinginannya. Ukuran pendapatan merupakan ukuran kesejahteraan yang utama. Penduduk Amerika Serikat dalam 30 tahun pendapatannya meningkat 16%, tetapi tingkat kebahagiaannya turun 13%, yaitu dari 39% menjadi 26% penduduk yang bahagia. Dari data tersebut menunjukkan, ternyata semakin tinggi pendapatannya, tidak semakin bahagia. Bahkan kebahagiaannya menurun. Jika kita hidup di dunia ini semata-mata harta yang kita kejar, maka kita tidak akan memperoleh kebahagiaan. Negara-negara besar berusaha dengan segala cara untuk menguasai ekonomi negara kecil sampai rela membunuh anak-anak, para wanita dan orang-orang yang tak berdosa. Hal ini dilakukan karena mengikuti hawa nafsunya. Mereka berdalih untuk menegakkan demokrasi, tetapi menurut Bung Karno dalam Buku Di Bawah Bendera Revolusi, masalahnya adalah masalah untung atau rugi, masalah ekonomi atau masa-lah kehidupan, bukan penegakan demokrasi atau yang lainnya. Kita berdoa kepada Allah mudah-mudahan setelah selesai sekolah pada bulan Ramadan ini kita dan para pemimpin dunia mampu mengendalikan nafsu.
FOKUS BUDI PEKERTI DALAM PESANTREN KILAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.793 KB)

Abstract

       Kalau tidak ada aral melintang  mulai tanggal 17 Juni  mendatang akan dilaksanakan program baru bagi anak-anak sekolah kita; yaitu Program Pesantren Kilat.  Program yang melibatkan jajaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Departemen Agama (Depag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), beserta Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing propinsi ini akan diikuti oleh anak-anak SD, SLTP dan Sekolah Menengah (SM).         Adapun rinciannya:  untuk satuan SD  diikuti oleh  siswa kelas V dan dilaksanakan selama tujuh hari,  untuk satuan SLTP diikuti oleh siswa kelas II dan dilaksanakan selama sepuluh hari,  sedangkan untuk satuan SM diikuti oleh siswa kelas II dan dilaksanakan selama dua belas hari.  Prinsip pesantren kilat adalah memanfaatkan hari libur untuk aktivitas yang konstruktif-religius.  Para siswa di kelas akhir pada tiap satuan pendidikan, yaitu kelas VI SD, kelas III SLTP dan kelas III SM sengaja tidak dilibatkan secara langsung dalam program ini dikarena-kan pada waktu tersebut mereka sudah mendapatkan "akta lulus" (bagi yang tamat) sehingga mereka ini harus berkonsentrasi untuk mencari sekolah lanjutannya (bagi kebanyakan yang ingin melanjutkan studi).      Kalau para siswa kelas I s/d IV SD, kelas I SLTP, dan kelas I SM juga tidak diikutkan dalam program bukan berarti pesantren kilat tidak cocok untuk mereka;akan tetapi hal ini semata-mata disebabkan alasan teknis penyelenggaraan saja.  Seperti kita ketahui secara teknis penyelenggaraan pesantren kilat akan melibatkan pimpinan sekolah, guru, pengurus BP3, orang tua, dan para ulama di masyarakat.      Sudah barang pasti pesantren kilat tersebut hanya diikuti oleh para siswa yang beragama Islam saja; sedangkan bagi para siswa yang ber-agama lain (nonislam) sedang dicari alternatif yang lain.  Sekarang ini Depdikbud sedang mencari alternatif lain yang cocok bagi siswa-siswa yang beragama nonislam tersebut.
BISNIS KAUM GASSAN (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum Gassan atau Bani Gassan (Gassanids) merupakan selompok suku Arab Selatan kuno yang bermigrasi dari Yaman ke Hauran dan al Baqa di selatan Syiria dan Yordania, ketika bendunga Ma’rib jebol pada abad ketiga masehi. Suku dari Yaman ini menggantikan keturunan Saleh, orang Arab pertama yang mendirikan kerajaan di Suriah, dan memantapkan keberatan mereka di sebelah tetangga Damaskus ujung utara rute perjalanan utama yang menghubungkan Ma’rib dengan Damaskus. Sedikit demi sedikit, seiring berlalunya waktu, Banu Gassan menjadi bangsa Suriah. Mereka juga mengadopsi bahasa Aramaik yang merupakan bahasa bangsa Suriah tanpa meninggalkan bahasa Arab yang menjadi bahasa asli mereka. Seperti halnya suku-suku Arab lainnya di daerah Bulan Sabit Subur, mereka menguasai dua bahasa sekaligus. Sekitar akhir abad kelima, mereka menjadi bagian dari kekuasan politik Bizantium, dan digunakan sebagai tameng untuk membendung serangan orang-orang Badui, posisinya mirip dengan Yordania di bawah kekuasaan Inggris. Karena lokasinya strategis, sebagai rute perdagangan rempah-rempah dari Arab Selatan, maka kaum Gassan mencapai kemakmuran. Disamping itu kaum Gassan bertindak sebagai sumber dari pasukan Bizantium. Pada mulanya, Ibu kota mereka berupa perkemahan yang bisa berpindah-pindah, kemudian mereka menjadikan al-Jabiyah di Dataran Tinggi Golan, sebagai ibu kota tetap mereka, meski kadang-kadang pindah ke Jlliq. Secara geografis kerajaan Gassan mencakup Syiria, Palestina dan Hijaz Utara yang berbatasan dengan Yathrib (Medinah). Gassan merupakan kerajaan Arab yang dikenal sebagai jajahan dari Kekaisaran Bizantium pada abad ke enam. Kaum Tadmur (Palmyra) di utara, kaum Nabasia di selatan, kaum Ghassan di tengah-tengah antara keduanya. Kerajaan Gassan mencapai kejayaannya selama abad keenam Masehi. Pada abad ini, al-Harits II, Ibn Jabalah dari Gassan (sekitar 529-569 M.) dan al-Mundzir III, Ibn Ma’ al-Sama’ dari Hirah (Alamundarus, w 554 M) mendominasi sejarah Arab Al-Harits ini (yang dijuluki al-A’raj, si cacat oleh para penutur sejarah Arab) adalah nama pertama yang paling otentik dan sejauh ini dianggap sebagai nama paling kondang dalam catatan sejarah Jafna. Sejarah tentangnya bisa dibandingkan dengan berbagai rujukan dari Yunani. Sebagai hadiah atas keberhasilannya mengalahkan musuh besarnya dari kerajaan Lakhmi, al-Mundlir III, Raja Bizantium, Justine melantiknya (529) sebagai penguasa atas seluruh suku Arab di Suriah, dan mengangkatnya sebagai patrik dan raja kecil jabatan tertinggi setelah raja. Dalam bahasa Arab, gelar itu sama dengan malik, raja. Pada 563, al-Harits melakukan kunjungan ke istana Justine I di Konstantinopel. Kedatangan raja kecil badui ini meninggalkan kesan yang mendalam di hati pengiring raja. Ketika berada di Konstantinopel, ia membuat kesepakatan rahasia dengan sukup Monofisir, Jacob Baradeus (Ya’qub al-Barda’i) dari Edessa Jacob sangat bersemangat menyebutkan keyakinannya sehingga gereja Monofisir Suriah dikenal dengan namanya, Gerja Yakobus.
TAHUN 1983 JANGAN ADA LAGI GURU DITUSUK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.168 KB)

Abstract

Pada awal tahun baru ini marilah kita mencoba bernostalgia membuka lembaran lama yang pernah terjadi di tahun silam; tahun ketika telinga kita kebal mendengar berita tentang pelajar yang mendemontrasi guru dan kepala sekolahnya, perkelahian antarsiswa baik dalam satu sekolah maupun antarsekolah, pelajar yang terlibat dalam kejahatan/pencurian/penggarongan dan sejenisnya. Yogyakarta sendiri yang masih menyandang predikat sebagai Kota Pelajar pernah kampiran wabah tersebut.Berita-berita seperti itu kiranya bukan sesuatu yang up to date bagi telinga kita karena terlalu seringnya mendengar. Tetapi serenta angin malam menyanyikan lagu Berita Kepada Kawan yang mengisahkan seorang guru yang ditusuk oleh siswa "tercinta"nya rasanya menarik juga. Atau, kisah tentang seorang guru wanita yang takut menampakkan wajahnya di muka kelas karena dibencet siswanya. Masih adakah Pendito Durno di jaman ini yang harus terbunuh oleh Werkudara yang juga muridnya?
MEMBERANTAS TIGA KETIDAKADILAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.435 KB)

Abstract

       Pemerintah (reformasi)  sekarang ini  mewarisi suatu kondisi yang benar-benar berat, bahkan cenderung "rusak", sehingga un-tuk dapat memulihkannya  diperlukan usaha dan kerja yang ekstra keras.  Demikian apa yang disampaikan oleh Menteri Penerangan RI M. Yunus Josfiah di dalam Pembukaan Sarasehan Kebudayaan Ke-11 Tamansiswa bertempat di Pendopo Agung Tamansiswa Yogyakarta baru-baru ini.       Pada bagian yang lain  dinyatakan  bahwa negara kita masih harus menghadapi tiga jenis ketidakadilan sekaligus; masing-masing adalah ketidakadilan secara umum (general unfairness), ketidakadil-an secara primordial (primordializm unfairness), serta ketidakadilan secara kewilayahan (territorial unfairness).       Secara agak gamblang dicontohkan oleh beliau; ketidakadilan secara umum itu banyak dirasakan oleh rakyat bawah yang jauh dari kekuasaan. Makin jauh dari kekuasaan yang nota bene melekat pada pejabat maka ketidakadilan itu makin dirasakan.  Orang yang dekat dengan pejabat merasa dirinya aman karena dianggapnya keadilan itu ada pada pejabat, dan ketidakadilan jauh dari pejabat pada umumnya.  Dilukiskan lebih jauh, banyaknya pimpinan organi-sasi massa yang "hobby" melakukan audiensi dengan para pejabat tanpa tujuan yang jelas juga mengindikasikan akan hal tersebut.      Sementara itu ketidakadilan primordial bisa berupa primordial almamater, promordial kesukuan, primordial keagamaan,  dan sebagainya.  Bila ada satu pejabat dari UGM di satu lembaga, misalnya, kemudian stafnya diambil dari UGM secara mayoritas  itu merupakan contoh primordial almamater.  Sedangkan primordial kewilayahan itu terjadi pada belum meratanya pembangunan antarwilayah;  kalau di Bandung gang-gang sempit sudah diaspal sedangkan di luar Jawa jalan besar masih banyak yang becek itu merupakan contoh.

Page 39 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue