Articles
1,592 Documents
AKTUALISASI KONSEP KI HADJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.499 KB)
Jauh hari sejak sebelum dilaksanakan maka Kongres Kebudayaan 1991 sempat mengundang berbagai opini masyarakat; dari yang positif sampai yang negatif. Opini yang positif sangat banyak bermunculan, dan sangat wajar adanya; akan tetapi di sisi yang lain ada opini masyarakat yang mengandung kritik dan sinisme, antara lain menyebut bahwa Kongres Kebudayaan 1991 lebih merupakan rapat kerja Depdikbud. Barangkali berangkat dari sinisme inilah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan, sampai harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa Depdikbud sekedar berperan sebagai inisiator dan fasilitator.
Namanya juga orang banyak; apapun jenis aktivitas yang dilakukan biasanya selalu mengundang opini masyara-kat, baik positif maupun negatif. Hal itu biasa terjadi di negara demokrasi; baik demokrasi liberal maupun demo-krasi yang lainnya, nonliberal. Apapun opini masyarakat maka secara jujur harus diakui bahwa Kongres Kebudayaan 1991 merupakan peristiwa kebudayaan besar dan monumental bagi bangsa Indonesia. Peristiwa sejarah kebudayaan masa lalu, kini, dan mendatang kiranya akan terlihat dan ter-diskusikan dalam peristiwa ini; meskipun secara makro.
Belajar dari âBlue Ocean Strategyâ
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
W CHAN KIM dan Renee Mauborgne menyatakan bahwa Red Ocean Strategy sudah tidak lagi ampuh untuk menciptakan pertumbuhan dan keuntungan di masa depan. Mereka berdua mengusulkan sebuah strategi baru yang disebut Blue Ocean Strategy. Blue Ocean Strategy, menganggap bahwa bersaing adalah menciptakan ruang pasar yang tidak ada lawannya. Pasar yang sangat luas bagaikan âlautan biruâ. W Chan Kim dan Renee Mauborgne menyatakan bahwa 86% menggunakan Red Ocean Strategy dan hanya 14% yang menggunakan Blue Ocean Strategy. Dari perusahaan yang menggunakan Red Ocean Strategy tersebut memperoleh pendapatan total 62% dan keuntungan total 39%, sedangkan perusahaan yang menggunakan Blue Ocean Strategy hanya mendapat pendapatan total 38% tetapi keuntungan totalnya 61%. Cirque du Soleil merupakan salah satu perusahaan yang menggunakan Blue Ocean Strategy. Cirque du Soleil. Perusahaan yang didirikan pada 1984 oleh sekelompok pemain sandiwara jalanan, Cirque telah melakukan pentas dengan menampilkan lusinan produksi yang dilihat oleh kira-kira 40 juta orang di 90 kota di sekeliling dunia. Dalam 20 tahun, Cirque telah mencapai pendapatan sirkus pemimpin dunia Ringling Bros dan Barnum & Bailey. Kedua perusahaan sirkus pemimpin dunia tersebut untuk mencapainya dibutuhkan waktu 100 tahun. Ringling Bros dan Barnum & Bailey merancang sirkus standar dan bersaing dengan sirkus sejenis dalam skala pasar yang terus menurun. Ringling Bros dan Barnum & Bailey menggunakan perspektif strategi berbasiskan persaingan, sehingga akhirnya industri sirkus yang muncul menjadi tidak menarik. Sedangkan Cirque du Soleilâs meraih sukses dengan tidak mengambil pasar dari industri sirkus yang ada, yang secara histories pasarnya anak-anak. Cirque du Soleil tidak bersaing Ringling Bros dan Barnum & Bailey, karena menciptakan pasar baru yang tidak ada lawannya dan membuat persaingan tidak relevan lagi. Cirque du Soleil memunculkan pasar baru selain anak-anak adalah kelompok pelanggan baru orang dewasa dan klien perusahaan dengan tidak hanya menampilkan sirkus, tetapi menampilkan teater, opera dan balet sehingga penontonnya bersedia membayar beberapa kali lipat dibandingkan dengan sirkus tradisional biasa. Strategi dari Cirque du Soleil inilah yang disebut Blue Ocean Strategy. Blue Oceans merupakan seluruh industri yang tidak ada saat ini, tidak dikenal ruang pasarnya dan tidak ada persaingan. Dalam blue oceans permintaan itu diciptakan, bukan diperebutkan dengan persaingan. Permintaan itu dapat tumbuh dengan cepat dan menguntungkan. Untuk menciptakan blue oceans dengan dua cara, yaitu perusahaan dapat meningkatkan industri baru yang lengkap, misalnya eBay menciptakan lelang, tetapi secara online. Cara kedua, blue oceans dapat diciptakan dari dalam red oceans pada saat perusahaan mengubah batas industri yang ada, seperti yang dilakukan oleh Cirque du Soleil
MITOS MATEMATIKA DI SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.668 KB)
      Perbincangan klasik mengenai Matematika di sekolah, SD, SLTP dan SMU (sekarang ditambah SMK) senantiasa menggelitik pada tiap tahunnya; hal ini terutama disebabkan karena belum memuaskannya prestasi Matematika siswa kita pada umumnya, baik di forum lokal, nasional maupun internasional. Sayangnya, perbincangan seperti ini lebih diwarnai dengan berbagai keluhan daripada opini solutif ataupun aktivitas-aktivitas konkrit yang mendorong makin berprestasinya para siswa itu sendiri.      Harus diakui dengan jujur bahwa prestasi Matematika siswa kita memang belum memuaskan,untuk tidak menyatakan menyedihkan. Di tingkat lokal sesekali dilaksanakan lomba Matematika bagi siswa; dan hasilnya banyak yang belum menggembirakan.      Kami di Yogyakarta baru saja melaksanakan lomba Matematika untuk sekolah umum (SD, SLTP dan SMU) yang diikuti oleh 450-an siswa "terpilih" dari D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Saya sendiri cukup bangga menyaksikan banyaknya anak-anak yang antusias meng-ikuti lomba yang diselenggarakan oleh lembaga swasta kami bekerja sama dengan Kanwil Depdikbud setempat ini. Namun, begitu melihat hasilnya rasa kebanggaan itu menjadi kurang optimal.       Mari kita perhatikan data konkritnya sbb: pada babak awal lomba maka pencapaian nilai rata-rata (mean) peserta SD hanya 25,7 untuk rentang 0 s/d 45; atau kalau dikonversi ke dalam rentang konvensional 0 s/d 10 maka skor yang dicapai peserta SD hanya 5,7. Artinya para siswa SD peserta lomba tersebut rata-rata hanya mampu mencapai nilai 5,7 dari nilai maksimal 10,0. Untuk peserta kelompok SMP dan SMU nilai rata-ratanya hanya 5,3 dan 4,6; artinya siswa SMP dan SMU peserta lomba tersebut rata-rata hanya mampu mencapai nilai 5,3 dan 4,6 dari nilai maksimal 10,0. Tentu saja angka-angka ini jauh dari memuaskan.
RISIKO PENGHAPUSAN UJIAN NEGARA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.966 KB)
     Ujian negara yang sudah relatif cukup lama berlangsung di lingkungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) akhirnya dihapus atau tidak diselenggarakan lagi. Kebijakan mengenai penghapusan ujian negara ini menyusul dengan dikeluarkannya SK Mendiknas No. 184/ U/2001 yang isinya antara lain memberikan yudistisi mengenai tidak perlu diselenggarakannya lagi ujian negara di lingkungan PTS.        Kebijakan mengenai penghapusan ujian negara tersebut men-dapat sambutan dengan berbagai respon, utamanya dari lingkungan PTS itu sendiri. Ada yang menyambut turunnya kebijakan tersebut dengan rasa suka cita karena pelaksanaan ujian negara selama ini dipandang memberatkan PTS dengan segenap civitas akademikanya; ada yang menyambut dengan rasa hati-hati karena dengan dihapus-nya ujian negara jangan-jangan akan disusul dengan kebijakan lain yang serupa meski tidak sama; akan tetapi ada pula yang menyambutnya dengan duka cita karena dengan dihapusnya ujian negara berarti akan terhapuslah sebagaian proyek.        Selama ini penyelenggaraan ujian negara memang memunculkan multipersepsi; ada yang mempersepsikan ujian negara sebagai sekedar aktivitas untuk "menyibukkan" PTS, ada yang mempersepsikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas, akan tetapi ada pula yang mempersepsikan ujian negara sebagai sekedar kegiatan untuk menciptakan proyek.        Dengan munculnya berbagai persepsi tersebut di atas maka sangat wajarlah kalau kebijakan penghapusan ujian negara kemudian menimbulkan banyak komentar dan opini; dari yang bernada positif sampai dengan yang bernada negatif. Â
POSITIF DAN NEGATIF AKSI MAHASISWA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.402 KB)
      Akhir-akhir ini terjadi "trend" sosial baru yang sangat menarik untuk dicermati; yaitu munculnya berbagai aksi protes, demonstrasi, atau semacam gerakan mahasiswa pada berbagai tempat dengan berbagai latar belakang dan orientasinya.      Di Yogyakarta ada Gerakan Mahasiswa Sadar Wisata yang "menentang" legalisasi jenis hiburan tertentu yang dipandang tidak sesuai dengan kultur masyarakat, meski peraturannya sudah disi-apkan dengan rapinya. Di kota ini pula muncul Aksi Kontemplasi Anti Kekerasan yang konon bermaksud menentang berbagai macam bentuk "kekerasan" yang dipandang semakin "kentara" pada akhir-akhir ini.      Ilustrasi tersebut hanya merupakan sebagian dari berbagai aksi mahasiswa yang lainnya; sebut saja contoh-contoh lain seperti aksi solidaritas sosial untuk masyarakat Kedung Ombo, Jawa Tengah, kelompok mahasiswa yang "berkerumun" di halaman kantor Depdagri untuk memprotes (baca: memohon penjelasan) tentang penambangan pasir di daerah Bojonegoro, Jawa Timur, dan sebagainya.      Berbagai aksi tersebut dilakukan oleh sekelompok mahasiswa tertentu, atau setidak-tidaknya kelompok orang yang mengatasnamakan mahasiswa.       Apakah semua itu merupakan fenomena yang positif, yang dapat membangun citra masyarakat kampus untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial di sekitarnya? Atau sebaliknya justru merupakan fenomena yang negatif, yang dapat merusak citra masyarakat kampus itu sendiri? Marilah kita mencoba menganalisisnya.
KRISIS PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.166 KB)
      Ketika oleh Bank Dunia diminta untuk membahas draft akhir laporan yang mengambil judul "Education in Indonesia : From Crisis to Recovery" di akhir tahun 1999 yang lalu (saat itu belum menjadi buku) secara berkelakar saya menyatakan apakah sebaiknya judul naskah laporan itu diganti menjadi "Education in Indonesia : From Crisis to Crisis". Pasalnya, argumentasi saya saat itu, kalau semua berlaku jujur sebenarnya pendidikan nasional Indonesia masih ada dalam keadaan krisis; belum pulih dan belum mampu bangkit seperti yang diharapkan banyak orang.      Kelakar saya tersebut ternyata memang merupakan realitas yang tidak bisa dipungkiri, bukan saja berlaku pada saat itu akan tetapi sampai sekarang pun hal itu masih terjadi. Pendidikan nasio-nal kita sampai sekarang belum pulih dari "cedera akademis" yang dialaminya, di samping juga belum mampu bangkit seperti keadaan sediakala.      Kebelumpulihan tersebut nampaknya akan berlangsung terus setidak-tidaknya sampai akhir tahun 2000 ini. Di sisi yang lainnya ketidakmampuan bangkit tersebut akan berlangsung sampai tahun depan. Mengapa? Sebab kita tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli obat, untuk merealisasi program, untuk menjalankan kegi-atan dan untuk melaksanakan proyek-proyek pendidikan di dalam skala yang wajar. Dana pendidikan yang dialokasi dari RAPBN 2000 ternyata sangat kecil dan hampir tidak berarti kalau dibandingkan dengan aktivitas untuk melakukan pemulihan.      Dari total belanja negara dalam RAPBN 2000 yang jumlahnya mencapai 183.069,2 miliar rupiah ternyata sektor pendidikan nasional hanya mendapatkan jatah sebesar 4.257,0 miliar rupiah. Secara statistik sektor pendidikan nasional hanya memperoleh alokasi dana sebesar 2,32 persen dari RAPBN.
PTN KITA MISKIN BIBIT UNGGUL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.399 KB)
      Topik diskusi akademik yang kesimpulannya hampir tidak pernah memuaskan semua pihak, terutama para pakar, pengamat, birokrat, dan praktisi pendidikan, ialah mengenai kualitas instrumen testing mahasiswa baru (baik yang dikemas menjadi Ujian Tulis Proyek Perintis, Sipenmaru, maupun UMPTN) pada perguruan tinggi negeri, PTN.      Benarkah instrumen testing mahasiswa baru PTN cukup berkualitas serta mampu menjaring bibit unggul? Dari sinilah pangkal persoalan itu muncul dan terus berkepanjangan sampai kini tanpa kesimpulan yang memuaskan.      Apabila ada sementara birokrat, pakar serta praktisi pendidikan yang menyatakan bahwa instrumen testing mahasiswa baru PTN cukup berkualitas, dengan argumentasi bahwa validitas dan reliabilitasnya tidak perlu disangsikan; maka sementara pengamat menyatakan keraguannya terhadap mutu instrumen testing tersebut, karena banyaknya kelemahan yang terkandung di dalamnya.
PROBLEMATIKA DOSEN DAN RISETNYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.138 KB)
      Beberapa tahun silam pengertian sivitas akademika sempat menimbulkan diskusi,bahkan tak jarang menimbulkan silang pendapat tentang komponen apa saja yang tergabung di dalamnya. Ada yang menyatakan sivitas akademika ialah dosen, karyawan dan mahasiswa; bahkan ada yang menambahkan para aktivis yayasan (bagi PTS) ke dalamnya.        Setelah Peraturan Pemerintah (PP) No:30/1990 di-komunikasikan maka pengertian sivitas akademika menjadi gamblang. PP ini secara eksplisit menyebutkan bahwa yang dimaksudkan sivitas akademika adalah satuan yang terdiri atas dosen dan mahasiswa pada perguruan tinggi. Apabila dikaji secara cermat maka sivitas akademika inilah yang sangat menentukan dinamika dan kualitas perguruan tinggi; meskipun harus diakui bahwa faktor "luar", khususnya yayasan bagi PTS serta pemerintah bagi PTN, juga mempunyai peranan yang tidak kalah menentukannya.        Sekarang ini di Indonesia terdapat sekitar 1.000 perguruan tinggi; PTN dan PTS. Data tahun 1990/1991 me-nunjukkan jumlah PTN sebanyak 49 lembaga terdiri dari 31 universitas, 14 institut, 2 sekolah tinggi dan 2 akademi. Sementara itu PTS di negara kita berjumlah 914 lembaga; terdiri dari 221 universitas, 51 institut, 350 sekolah tinggi, 290 akademi serta 2 politeknik. Jumlah perguruan tinggi yang relatif besar ini merupakan aset pembangunan; tentunya kalau kita mampu mengembangkannya.
HASIL KAMPANYE PENDIDIKAN AUSTRALIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (182.51 KB)
      Dalam beberapa tahun terakhir ini mungkin tidak ada negara di Asia-Pasifik yang segencar Australia dalam mengkampanyekan sistem dan pelayanan pendidikannya. Pada kenyataannya Australia termasuk negara yang berkeinginan kuat untuk menjadi pusat pendidikan di kawasan Asia-Pasifik. Keinginan yang kuat ini dimanifestasikan salah satunya dengan cara mengadakan kampanye pendidikan (educational campaign) di manca negara yang dianggap potensial untuk mendukung keinginannya itu, termasuk Indonesia.        Bila kita perhatikan di Indonesia sendiri boleh dikatakan hampir setiap hari ada koran atau majalah yang memuat informasi dan/atau promosi pendidikan di Australia; demikian pula dengan pertemuan-pertemuan ilmiah dan pertemuan-pertemuan informatif tentang sistem dan pelayanan pendidikan di "Negara Kangguru" tersebut. Ini semua merupakan bagian dari kampanye pendidikan Australia.        Sudah barang tentu kampanye tersebut tidak hanya dilakukan di Indonesia akan tetapi juga dilaksanakan di negara-negara Asia-Pasifik      lain yang dianggap potensial sebagai "market"; katakan seperti misal-nya Malaysia, Singapura dan Hongkong. Di Singapura misalnya, di samping kampanye pendidikan dilakukan melalui media (koran, maja-lah, dsb.) dan komunikasi langsung (pertemuan, pameran, dsb.), juga dilaksanakan dengan cara membuka "sekolah australia" di Singapura; baik di tingkat primary maupun secondary.
IBU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (194.885 KB)
      Seorang negarawan dan religis dari India, Mahatma Gandhi, pernah menyatakan "woman is the mother of man". Wanita adalah ibunya kaum pria; demikian kira-kira terjemahan bebas atas kalimat tersebut. Apa yang dinyatakan oleh Gandhi ini mengandung makna yang cukup dalam; yaitu sedemikian tingginya penghargaan beliau terhadap kaum wanita pada umumnya dan kaum ibu pada khususnya.        Apabila kita sempat menelusuri perjalanan sejarah manusia dari masa ke masa memang sejak semula terdapat kelompok manusia di bumi ini yang sedemikian mengagung-agungkan wanita; di samping ada pula sekelompok lainnya yang kurang menghargai kaum yang "lemah" ini. Munculnya mitos di Yunani tentang dewa-dewa wanita yang sangat di-hormati (misalnya Dewi Fortuna, Dewi Minerva, Dewi Venus, dsb) menandakan sedemikian diagungkannya kaum wanita. Di dalam kebudayaan Mesir kuno terdapat Tuhan-Tuhan wanita; di negara lain kita mengenal Dewi Kuan Him; bahkan di Indonesia, khususnya di Jawa, kita mengenal Dewi Sri serta Nyai Roro Kidul. Secara langsung maupun tak langsung hal itu menyiratkan adanya penghormatan terhadap wanita.        Bagaimana dengan kelompok yang kurang menghargai kaum wanita, terutama kaum ibu? Ada pula; dalam sejarah kuno bangsa Nomad di Arab, yang dikenal dengan zaman ja-hiliyah, maka eksistensi wanita bukan saja kurang diakui akan tetapi cenderung dilecehkan. Anak wanita dibunuh, gadis-gadis diperkosa, dan ibu-ibu sekedar dijadikan pemuas duniawi saja. Itulah sejarah buram kaum ibu.