cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (10) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.817 KB)

Abstract

Setelah tahap ketiga yang paling sulit untuk menjadi entrepreneur adalah mengambil langkah memulai bisnis, mulai menggelindingkan bisnis. Pada awalnya kita menyewa ruko kecil dan kurang memadahi dengan sewa Rp 25.000,- per bulan berada di sebelah sisi barat Jalam Kapten Tendean, Wirobrajan Yogyakarta. Ruko tersebut berukuran kurang lebih, panjang 8 meter dan lebar 4 meter, kita sekat menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk kelas dan bagian kedua untuk administrasi (customer service) dan untuk pengelola. Di bagian depan sebelah kiri adalah cendela kaca besar yang agak buram, meskipun demikian kalau dari dalam, masih dapat melihat kendaraan yang sedang lewat. Sedangkan sebelah kanannya berupa pintu yang cukup lebar, bercat hijau tua.  Papan tulisnya dari lembaran whiteboard yang seadanya yang dibuat sendiri dan ditempelkan di sebelah timur menutupi cendela kaca tersebut. Alat tulisnya berupa spidol dalam jumlah yang terbatas. Penghapus papan tulis menggunakan kualitas rendahan, sehingga seringkali pengajar ditertawakan siswanya, karena setelah menghapus papan tulis, tangannya kena kotoran dari bekas spidol kemudian tangan tersebut untuk mengusap keringat yang berada di muka pengajar tersebut. Keringat bercucuran, karena ruang sempit tanpa AC dan tanpa kipas angin serta satu-satunya aliran udara hanya berasal dari pintu. Meskipun demikian, saya bersama kawan-kawan mengajar dengan penuh semangat dan memberikan yang terbaik, sehingga siswapun juga ikut bersemangat mengikuti pelajaran. Kursinya dari kursi besi ringan berwarna hijau yang merupakan kursi sewaan dengan sewa yang paling murah. Kita menyewa bergantung pada jumlah siswa yang ikut bimbingan. Pernah suatu saat saya bersama kawan-kawan kebingungan karena kekurangan kursi, sehingga kursi tempat pengajar itu diberikan siswa. Bila tidak cukup, siswa itu kita suruh untuk mengikuti bimbingan hari berikutnya. Pada hari itu kita langsung menyewa kursi tambahan. Bila ada pelajaran, karena tempat kerja kita di tikar kesayangan, terpaksa tikarnya harus dilipat, karena tidak enak kalau dilihat siswa bekerja di tikar, kelihatan tidak profesional. Mengingat kemampuan kita yang sangat terbatas, kemudian kita duduk depan kantor sambil bekerja sebagai pengawas sepeda motor dari siswa. Diskusi, menyusun strategi, bermimpi sambil bercanda dengan pemandangan lalu lintas kendaraan yang lewat menambah indahnya pengalaman memulai berbisnis. Bahan yang akan kita ajarkan, sebelumnya kita ketik bergantian yang kadangkala sampai pagi. Dengan demikian kalau malam tidurnya bergantian. Setelah selesai kita bawa menuju percetakan yang dapat dibayar kemudian. Kadangkala di percetakan kita tunggu. Bahkan pernah terjadi ketika kita membagi bahan yang akan kita ajarkan, masih memakai sandal jepit dan belum mandi. Meskipun kita sudah bekerja keras dan biaya murah tetapi siswa yang masukpun juga masih sangat sedikit. Ada yang hanya mencari informasi saja, kita sudah sangat senang sekali, apalagi kalau sampai mendaftar bimbingan. Kesulitan dan kesukaran terus kita hadapi. Hari demi hari berusaha untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi. Kerja keras dan doa terus mengalir tak henti-henti. Tabir kesulitan itu sedikit demi sedikit mulai terungkap. Sesungguhnya kesulitan itu akan memunculkan kratifitas dan inovasi yang sangat luar biasa. Hal ini tidak akan kita peroleh kalau kita tidak pernah mencoba memulai bisnis.
PROBLEMA PENDIDIKAN GRATIS SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.59 KB)

Abstract

Kebijakan pemerintah untuk menggratiskan pendidikan dasar, SD dan SMP, yang lebih dikenal dengan pendidikan gratis mendapat respon positif dari masyarakat utamanya dari golongan miskin, the have not. Alasannya sederhana, kebijakan tersebut benar-benar dapat mengurangi beban finan-sial yang berat bagi masyarakat tak berpunya.          Kalau kita mengacu perundangan yang berlaku, kebijakan pemerintah untuk menggratiskan pendidikan bagi siswa SD dan SMP tersebut memang sangat argumentatif dan legal. Pasal 11 ayat (2) UU Sisdiknas secara ekspli-sit menyebutkan pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin ter-sedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.          Di tingkat internasional, Indonesia termasuk negara yang telah menge-sahkan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights. Di dalam kovenan tersebut secara eksplisit disebutkan bahwa negara pihak (maksudnya ialah negara yang mengesahkan kovenan) wajib menyediakan pendidikan dasar bagi semua orang secara cuma-cuma. Artinya, Indonesia pun wajib menyediakan pendidikan dasar secara gratis bagi warganya.  
YANG UNTUNG DAN YANG BUNTUNG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.159 KB)

Abstract

TONO: "Tumben kau Tin koq belajar Fisika segala, memangnya kau sekarang pindah jurusan IPA? Biasanya yang kau pelajari kan Sejarah, Tata buku, Geografi,  Ekonomi dan buku-buku IPS lainnya, itu pun terbatas kalau akan ada ulangan. Kalau tidak akan ada ulangan mana yang ketempat teman, mana yang latihan balet, mana yang nonton. Tapi kulihat akhir-akhir ini di mejamu ada buku-buku Matematika, Fisika dan Kimia".TINI: "Ah cuma coba-coba saja Mas Ton, .... spekulasi".TONO: "Spekulasi bagaimana, kau sekarang kan sudah duduk dikelas tiga SMA jurusan IPS dan sebentar lagi akan uji-an, mana mungkin kau diijinkan pindah jurusan IPA! Yang benar saja Tin, jangan suka mengkhayal !".TINI: "Maksudku spekulasi bukan untuk pindah jurusan, dari IPS ke IPA,  tapi untuk menghadapi Sipenmaru yang akan datang, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru !".
LAYAKKAH UT DIPERTAHANKAN ? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.867 KB)

Abstract

       Hari ini empat belas tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal empat bulan September tahun seribu sembilan ratus delapan puluh empat, di-siarkan pidato Presiden RI,  baik melalui radio maupun televisi, yang menandai dimulainya kegiatan operasional akademik  Universitas Ter-buka (UT).  Pada hari itu juga disampaikan kuliah jarak jauh perdana melalui media massa (mediated instruction).       Pada saat itu tanggapan masyarakat atas kehadiran UT  sangatlah beragam; ada yang menyambut secara pesimis, ada pula yang optimis, tetapi banyak yang menyambut dengan penuh tanda tanya (question mark). Kenapa? Sistem pendidikan (formal) terbuka masih merupakan barang baru di Indonesia sehingga belum banyak yang mengenalnya.  Benar bahwa kita sudah memiliki pengalaman akan sistem pendidikan terbuka yang lain, misalnya SMP Terbuka,  tetapi hal itu tidak diaplikasi pada sistem pendidikan formal.  Lebih daripada itu SMP Terbuka (dan lainnya) tidak pernah meraih popularitas yang maksimal sehingga adalah wajar kalau masyarakat banyak yang bertanya-tanya.       Pak Setiyadi selaku perintis UT dan sekaligus menjadi rektor UT yang pertama adalah termasuk orang yang optimis akan keberhasilan UT. Optimisme Pak Setiyadi ini kemudian didukung oleh orang-orang yang belakangan dikenal dengan "Syracuse Sundicate", yaitu mereka yang pernah mengenyam pendidikan di Syracuse University, AS. Meskipun beliau juga  mengakui tidak ringan untuk mensukseskan UT akan tetapi Pak Setiyadi berusaha keras mengupayakannya.       Di luar kelompok tersebut diatas sebenarnya banyak anggota ma-syarakat kita termasuk pakar dan praktisi pendidikan, yang meragukan keberhasilan UT.  Pasalnya secara empirik penyelenggaraan pendidik-an terbuka di Indonesia umumnya tidak (sepenuhnya) berhasil.
KOMUNITAS PEDESAAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERUSAHAAN kecil yang dapat memenangkan persaingan dengan perusahaan besar lebih dari 50 tahun adalah Belbin. Bahkan sekarang ada pelanggan yang sudah menjanda dan hidup sendirian yang menelepon Belbin setiap minggu. Perusahaan milik keluarga Belbin ini serupa dengan Caviston, yaitu pelanggannya sampai anak cucu mereka. Belbin melakukan bisnis ini sesungguhnya hanya melanjutkan bisnis dari kakeknya, saudara laki-laki dan sepupunya. Mereka kenal Belbin karena kualitas layanan dan perhatian terhadap pelanggan. Pelanggan diperlakukan dengan hormat dan diberi pelayanan terbaik tanpa memperdulikan banyak uang mereka belanjakan. Spesialisasi Belbin adalah menghantar belanjaan pelanggan sampai rumah pelanggan. Bagi pelanggan yang menggunakan jasa ini dapat dilakukan melalui telepon, fax, bahkan lewat website dari Belbin. Hubungan yang bersifat pribadi dengan pelanggan tersebut yang menyebabkan Belbin dapat berkembang pesat. Belbin juga mempunyai pelanggan yang dilayaninya secara teratur yang membutuhkan penghantaran ke rumah selama jam-jam kantor karena mereka bekerja purna waktu dan menghargai jasa penghantaran yang ditawarkan Belbin. Strategi yang berbeda yang dilakukan Belbin dengan toko lainnya adalah beberapa pelanggan potensial memberikan kunci rumah mereka pada Belbin. Kunci-kunci tersebut tersimpan aman dalam kotak yang tersimpan di kantor Belbin. Para personel yang menghantarkan pesanan sampai rumah yang seringkali juga pemilik toko tersebut dapat membuka kotak kunci tersebut dan menghantarkan belanjaan mereka sekaligus membuka rumah dan kulkas mereka. Seringkali mengatur barang yang ada dalam kulkas, bahkan membuang sayuran yang telah busuk yang tersimpan dalam kulkas, karena pemiliknya tidak sempat membersihkan kulkasnya sewaktu pulang kantor karena terlalu capek, sehingga pelanggan merasa terbantu dengan yang dilakukan para personel Belbin. Kadangkala para penghantar tersebut bila ketemu dengan pelanggannya, diajak minum teh lebih dahulu, bercakap-cakap beberapa menit dan ikut mengatur belanjaan dimasukkan ke dalam kulkas. Meskipun menghantarnya secara finansial tidak menguntungkan, tapi itulah nilai yang dikenang pelanggan Belbin, sehingga mereka tetap loyal kepada Belbin sampai anak-cucu mereka. Tingkat kepercayaan yang tinggi dari para pelanggan Belbin terhadap toko tersebut berkembang karena Belbin telah memperlakukan pelanggan dengan adil dan responsif selama bertahun-tahun. Sementara beberapa orang mengatakan bahwa situasi semacam ini sulit ditiru, tetapi sesungguhnya Belbin telah memberikan contoh terbaik toko kecil dapat bersaing dengan toko besar. Sesungguhnya situasi yang dikembangkan oleh Belbin adalah situasi seperti komunitas pedesaan yang antara pemilik toko dan pembelinya saling kenal dan saling berbicara dan saling memegang kepercayaan
MENELUSURI KONSEPSI KI HADJAR DEWANTARA TENTANG KEBUDAYAAN NASIONAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.104 KB)

Abstract

       Sebagai  lembaga kebudayaan  yang mempergunakan  pendidikan dalam arti luas sebagai medan kiprahnya wajarlah kalau Tamansiswa menyelenggarakan sarasehan secara nasional secara rutin. Sarasehan yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional,  dari para menteri, pejabat, pimpinan partai politik, dosen, guru, mahasiswa, pakar, "pedagang" sampai dengan para praktisi budaya itu sendiri membahas berbagai hal yang berkait dengan perkembangan kebudayaan nasional kita. Hadir-nya banyak orang dari berbagai profesi menambah bobot diskusi; dan apalagi kebudayaan itu sendiri mengandung banyak unsur antara lain politik, teknologi, pendidikan, hukum, sosial, kesenian, dsb.        Sekarang ini rutinitas tersebut  sudah memasuki tahun yang kese-puluh; itulah sebabnya sarasehan yang dilaksanakan tanggal 19 dan 20 September 1997 merupakan sarasehan kebudayaan yang kesepuluh.       Menghubungkan konsepsi kebudayaan nasional  dengan nama  Ki Hadjar Dewantara kiranya memang tidak mengada-ada. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh karena Ki Hadjar pernah mendapatkan gelar doktor honoris causa (Dr. Hc.)  dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1956 karena jasanya yang besar di bidang kebudayaan dan konsepsi kebudayaannya yang "mengindonesia"; akan tetapi sosok Ki Hadjar memang benar-benar menggambarkan sosok manusia Indonesia yang gigih dan mempunyai  komitmen yang tinggi terhadap kebudayaan nasional kita.       Sejak mudanya Ki Hadjar  telah banyak mengekspresi pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep kebudayaannya melalui berbagai media massa kala itu;  katakanlah misalnya melalui media Wasita, Keloearga Poetera, Hindia Poetera, Poesara, dan sebagainya. Dari tulisan-tulisan Ki Hadjar dalam berbagai media tersebut memang nampak betapa tingginya komitmen tersebut.
MENGEMBANGKAN ILMU DASAR MEMAJUKAN TEKNOLOGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.224 KB)

Abstract

       Sekitar seperempat abad yang lalu, seorang futurolog Daniel Bell dalam bukunya "The Coming of Post Industrial Society" (1976) membuat klasifikasi masyarakat berdasar tingkat kemajuannya; yaitu dari masyarakat yang sama sekali belum maju sampai dengan masya-rakat yang amat maju.  Secara jelas Bell mengklasifikasi masyarakat menjadi tiga kelompok; masing-masing ialah masyarakat pra industri (pre industrial society),  masyarakat industri  (industrial society), dan masyarakat pasca industri (post industrial society).          Beberapa cirikhas masyarakat praindustri adalah penguasaan teknologi yang lemah sehingga kehidupannya banyak bertumpu pada sektor tradisional;  cirikhas masyarakat industri adalah dikuasainya teknologi untuk mendapatkan benefit bagi kehidupannya; sementara itu cirikhas masyarakat pasca industri  adalah diciptakannya tekno-logi untuk membangun kehidupan diri dan lingkungannya.          Lebih lanjut Bell menyatakan,  apabila kehidupan masyarakat praindustri lebih mengandalkan kepada tanah pertanian dan perkebunan, maka masyarakat industri lebih mengandalkan kepada per-usahaan dan mesin-mesin produksi; sementara itu masyarakat pasca industri lebih kepada jasa intelektual.          Apa yang dinyatakan oleh Bell tersebut menunjukkan kepada kita bahwa penguasaan teknologi  bukan saja  telah mengubah pola dan sistem kehidupan manusia secara individu; akan tetapi sanggup merombak pola dan sistem kehidupan manusia  secara berkelompok, yang dalam hal ini adalah masyarakat dan bangsa. Penguasaan tek-nologi telah menjadi tantangan, bahkan tuntutan bagi setiap bangsa di dunia ini.
DOSEN KITA MALAS MENULIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.525 KB)

Abstract

       Salah satu kritik tajam terhadap perguruan tinggi di negara kita dewasa ini adalah ketidakmampuan menulis secara produktif di kalangan mahasiswa maupun dosennya. Hal ini sesungguhnya lebih merupakan problematika klasik yang belum dapat terpecahkan hingga kini.       Kritik tersebut tidaklah keliru; banyak mahasiswa dan dosen yang kurang mempunyai pengalaman dan kemampuan pada bidang tulis-menulis, baik menulis ilmiah, populer, maupun ilmiah-populer. Lebih dari itu, ironisnya, cukup banyak dosen perguruan tinggi yang hampir tidak memiliki pengalaman menulis sama sekali; dalam artian menulis untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan dikonsumsikan kepada orang lain.       Mau bukti ....? Marilah kita mencoba menampilkan contoh-contoh kasus untuk membuktikan kebenaran "hipotesis" tersebut di atas.       Baru-baru ini Kopertis Wilayah V Yogyakarta menyelengga-rakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bagi para mahasiswa di wilayah kerjanya. Dari 53 PTS yang ada ternyata hanya lima PTS saja yang sanggup mengirimkan karya tulis para mahasiswanya; dan dari puluhan ribu mahasiswa di wilayah Kopertis V ternyata hanya tujuh (kelompok) mahasiswa yang mampu menampilkan karya tulisnya.
MENUNGGU TIGA HARI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika saya mengisi seminar bertema ”Miliader Modal Dengkul” yang diadakan oleh SKM Minggu Pagi di Balai Kota Yogyakarta, dibuka oleh Walikota, Bapak Herry Zudianto. Sambutan yang paling menarik dari Pak Herry, menurut saya adalah ketika beliau diajarkan oleh Neneknya untuk belajar menepati janji. Pada suatu hari, Pak Herry pinjam uang kepada Neneknya. Pada saat akan pinjam Neneknya bertanya kepada Pak Herry : ”Kamu mau pinjam berapa dan kapan akan kamu kembalikan?” tanya Neneknya. Setelah menyebutkan besarnya dan waktu pengembaliannya, Pak Herry diberikan pinjaman oleh Neneknya. Sebelum pulang Neneknya berpesan ”Kamu harus menepati janji”. Setelah dapat pesan dari Neneknya tersebut, kemudian berpamitan untuk pulang. Setelah tiga hari, sesuai janjinya  Nenek Pak Herry menyuruh untuk menagih kepada Pak Herry. Dalam rangka belajar menepati janji. ”Masalah kamu mau pinjam lagi sorenya. Tidak apa-apa, tetapi janjimu tiga hari itu harus ditepati” kata Neneknya. Itulah pelajaran yang sangat berharga yang diperoleh dari Neneknya. Pelajran dari Neneknya tentang menepati janji tersebut hingga saat ini diterapkan dalam bisnisnya. Bahkan Pak Herry mengatakan terus terang kepada relasinya pada saat membutuhkan pengembangan usaha. ”karena saya baru mengembangkan usaha yang baru. Saya mohon diberi kelonggaran pembayaran 45 hari” kata Pak. Herry. Setelah berjalan belum sampai 45 hari, biasanya Pak Herry telah memenuhi janjinya melakukan pembayaran. Demikian pula ketika saya sebelum mendirikan Perguruan Tinggi  Komputer, saya mencoba berbisnis perangkat keras komputer. Selain saya didukung dari perusahaan Jakarta, juga ada perusahaan komputer dari Yogyakarta yang mendukung saya. Dalam berbisnis dengan orang Jakarta, maupun orang Yogyakarta, saya dituntut untuk menepati janji dalam pembayaran. Pengusaha tersebut sangat menekankan kepada untuk menepati janji.  ”Pak Yanto, tolong saya besok ditransfer sebelum jam 10.00. Karena saya harus transfer ke Jakarta paling lambat jam 10.00 Pak. Kalau saya terlambat sepuluh menit saja, saya tidak dipercaya Pak” kata Pengusaha komputer tersebut. Menepati janji merupakan salah satu syarat agar kita dapat dipercaya orang lain. Saya teringat Rasulullah s.a.w. dalam menepati janji. Dari Abdullah Ibn Abdul Hamzah mengatakan :“Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian dan karena masih ada urusan dengannya, maka aku menjanjikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, akupun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana.” Nabi berkata :”Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini menunggumu” (Abu Dawud). Pengalaman saya membantu pengusaha kecil, masalah menepati janji ini yang tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Padahal kalau dia menepati janji akan saya bantu lagi. Tidak saja menepati janji, tetapi malah menghilang dari peredaran. Sebagian dari pengusaha kecil kita lebih menyukai menghindar daripada menghadapi masalah, sehingga masalahnya jadi tidak terpecahkan, bahkan menjadi rumit dan membuat kepercayaan luntur. Sayapun juga pernah menjadi pengusaha kecil yang sulit dari sisi keuangan. Pada suatu saat saya harus membayar kontrakan, ternyata uangnya tidak cukup meskipun sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang tersebut. Saya seminggu sebelum jatuh tempo datang ke rumah Bapak yang punya rumah. Saya mengambil resiko untuk menyiapkan diri dimarahi, karena belum bisa membayar secara penuh, tetapi masalahnya jadi selesai karena masalah itu saya hadapi dan dipecahkan bersama, bukan saya hindari. Akhirnya, Bapak yang mempunyai rumah tersebut memberikan kelonggaran kepada saya. Satu tahun kemudian, setelah perusahaan saya keungannya baik, saya datang lagi sebulan sebelum jatuh tempo pembayaran tahun berikutnya. Kepada pemilik rumah saya katakan ”Saya hari ini membayar kontrakan yang jatuh tempo bulan depan Pak”. ”Lho kan masih bulan depan. Kok dibayar hari ini” jawab Bapak pemilik rumah setengah tidak percaya. ”Sebagai ganti Bapak telah memberi tenggang waktu kepada saya tahun lalu” kata saya. ”Terima kasih Pak Yanto” jawab Bapak pemilik rumah, sejenak kemudian. ”Untuk harga kotrakan tahun depan terserah Pak Yanto, yang penting saya jangan rugi karena inflasi” kata yang mempunyai rumah. Kepercayaan pemilik rumah kepada saya tumbuh kembali.  
SISI LEMAH LIBURAN PUASA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.431 KB)

Abstract

Puasa ramadhan pada tahun ini dimulai hari Senin tanggal 27 November 2000.  Selama sebulan penuh ummat Islam  pada umumnya menjalankan ibadah wajib  yang hanya satu kali datang pada setiap tahunnya.  Meski ibadah puasa  hanya diwajibkan bagi ummat Islam yang sudah dewasa, aqil baliq, akan tetapi banyak anak-anak yang oleh orang tuanya "dilatih"  menjalankan ibadah puasa.  Ada anak-anak kita yang puasanya baru dapat mencapai seperempat hari atau sekitar jam 10 pagi,  ada yang sampai tengah hari atau sekitar jam 12 siang,  ada yang sampai tiga perempat hari  atau sekitar  jam 3 sore, tetapi banyak anak-anak yang puasa sehari penuh seperti halnya para orang tua dan ummat Islam lainnya.       Suasana Bulan Ramadhan pun biasanya sangat spesifik. Bila menjelang pagi hari sekitar jam 03.30 waktu setempat orang pada menjalankan sahur kemudian terdengar suara adzan Subuh; maka di sore harinya  para puasawan dan puasawati bersukaria menyambut buka puasa bersamaan dengan datangnya waktu Maghrib.  Di malam harinya  kaum muslimin menjalankan ibadah sunnat berupa sholat tarweh dan witir di masjid, mushola, surau, langgar, aula, atau di rumah-rumah secara berjamaah.       Media massa cetak banyak yang meliput  acara keramadhanan atau bahkan membuka rubrik khusus menyambut datangnya Bulan Ramadhan. Media audio dan media audio visual bahkan banyak yang menyiarkan secara langsung acara-acara santapan rokhani menjelang buka, dialog ramadhan, tadarrus Al Quran, dsb.  Bahkan ada pula yang menyiarkan secara langsung prosesi sholat taraweh dari Kota Mekkah, di Arab Saudi.  Demikianlah suasana bulan ramadhan yang biasa terjadi di Indonesia  yang lebih dari 80 persen warga negara-nya memeluk agama Islam.Anak-Anak Sekolah

Page 46 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN JAWA POS 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue