cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
DI PEDESAAN MUNGKIN BANYAK SLTP TUTUP Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.128 KB)

Abstract

       Sebagaimana yang telah direncanakan secara matang jauh hari sebelumnya maka hari ini, 2 Mei 1994, Presiden Soeharto mencanangkan program  Wajib Belajar Pendidikan Dasar (WBPD)  atau wajib belajar sembilan tahun, sebuah program "besar" pendidikan  yang kita yakini secara sis-tematis  dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.          Momentum pencanangan WBPD kali ini bagi bangsa Indonesia merupakan pengalaman yang kedua kalinya. Kalau kita ingat kembali sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tgl 2 Mei 1984, Presiden Soeharto telah berkenan pula menca-nangkan program Wajib Belajar Sekolah Dasar (WBSD), atau wajib belajar enam tahun. Dalam perjalanan WBSD di akhir tahun yang kesepuluh ini nampaknya banyak keberhasilan yang telah diraih; jumlah anak usia SD (7-12 tahun) yang tidak sekolah dari tahun ke tahun dapat ditekan, di sisi yang lain kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak-nya paling tidak sampai tamat SD juga makin nyata.          Berbeda dengan WBSD yang sasarannya anak usia SD maka WBPD sasarannya ialah anak usia SLTP (13-15 tahun). Jadi esensi WBPD ialah "mewajibkan" (baca: menganjurkan) anak-anak usia SLTP untuk segera "belajar" menuntut ilmu (baca: bersekolah).  Adapun konotasi "belajar" dalam hal ini tidaklah terbatas pada pengertian bersekolah secara konvensional, namun boleh juga mengikuti program-program ekuivalensinya; misalnya mengikuti Kejar Paket B, pesan-tren "modern", SMP Terbuka, dan sebagainya.
MELAKUKAN PENUMPUKAN DAN PENIMBUNAN HARTA (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.836 KB)

Abstract

 Etika dalam membelanjakan harta mencakup skala prioritas, keseimbangan, harta yang dicintai, menyegerakan dan kelebihan dari kebutuhan pokok. Skala prioritas dalam membelanjakan harta terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 215 : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ”Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Seseorang menghadap Rasulullah s.a.w. seraya berkata : Wahai Rasulullah s.a.w. aku memiliki uang satu dinar, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluanmu sendiri. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluan istrimu. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi. Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluan anakmu. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluan pembantumu. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Kamu tentunya lebih tahu dengan urusanmu sendiri (Ibnu Hibban). Keseimbangan dalam membelanjakan harta, seperti disebutkan dalam surat Al Furqaan ayat 67 : Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Membelanjakan harta yang sempurna adalah dengan harta yang dicintai. Dalam surat Ali Imran ayat 92 : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Dari Anas r.a., dia berkata :”Abu Thalhah adalah orang terkaya dari kaum Anshar di Madinah.Harta miliknya yang paling ia cintai adalah kebun Bairaha’ yang menghadap masjid, Rasulullah s.a.w. sering memasukinya dan minum dari mata airnya. Anas r.a. berkata : ”Ketika turun ayat,  Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, maka Abu Thalhah segera menghadap Rasulullah s.a.w. seraya berkata : ”Sesungguhnya Allah Allah SWT. telah berfirman : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya dan sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’ dan sungguh itu aku telah sedekahkan untuk Allah SWT. yang dengannya aku mengharapkan kebaikan dan pahala di sisi Allah SWT. oleh karena itu wahai Rasulullah, pergunakan kebun itu untuk apapun yang engkau kehendaki”. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda :”Bagus, harta itu pasti menguntungkan. Harta itu pasti menguntungkan. Aku mendengar pernyataanmu dan aku berpendapat lebih baik kamu memberikan kepada kerabatmu.” Sebaliknya Rasulullah s.a.w. melarang menimbun harta, termasuk menimbun barang dagangan pada saat harga akan naik. Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : Barangsiapa menimbun barang dagangannya (harganya naik), maka ia berdosa (Muslim).
DAYA SAING SISWA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.127 KB)

Abstract

Suatu saat saya mendapatkan kontak dari teman yang tengah berada di Hong Kong. Ia adalah pejabat Depdiknas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan ujian nasional. Dari Hong Kong ia mengabarkan tengah berpartisipasi dalam “The IEA General Assembly Meeting” yang diikuti puluhan negara karena keterlibatannya pada forum Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Progress In International Reading Literacy Study (PIRLS).          Pada dasarnya TIMSS merupakan studi internasional yang diselengga-rakan empat tahun sekali bertujuan mengetahui perkembangan kemampuan Matematika dan Sains para pelajar di berbagai negara. Sementara itu PIRLS merupakan studi internasional bidang membaca pada anak-anak di berbagai negara. Dua momentum ini diselenggarakan The International Association for The Evaluation of Educational Achievement (IEA) di Belanda.          Pertemuan seperti yang berlangsung di Hong Kong, “The IEA General Assembly Meeting”, dilakukan per tahun untuk meningkatkan koordinasi antarnegara partisipan. Amiens (2006); Helsinki (2005); Taipei (2004); dsb, adalah tempat-tempat yang pernah digunakan pertemuan sebelumnya.
KENDALA LIMA HARI SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.803 KB)

Abstract

       Kebijakan lima hari kerja yang (sudah dan) segera akan dimulai di  berbagai kantor dan instansi pemerintah kiranya sudah merupakan keputusan politik (political de-cision) yang harus dijalani; dengan demikian respon atau tanggapan masyarakat rasanya tidak mungkin akan mengubah keputusan tersebut,  setidak-tidaknya dalam waktu dekat ini. Tentunya hal ini bukan berarti tanggapan masyarakat tidak penting karena sebenarnya tanggapan masyarakat itu,  baik yang positif maupun yang kurang positif, tetaplah penting dan significant untuk membuat rambu-rambu sukses dalam melaksanakan keputusan politik tersebut.          Belajar pengalaman dari negara-negara maju yang lebih dulu melakukan sistem lima hari kerja, kita memang dapat melihat berbagai nilai positif yang didapatkannya; khususnya yang menyangkut  efisiensi serta produktivitas kerja. Di antara perusahaan ataupun pemakai tenaga kerja dengan pekerja pun terjadi simbiose mutualistik; semacam kerja sama yang saling menguntungkan.          Memang,  kesuksesan tersebut tak dapat dilepaskan dari dua aspek yang dominan;  yaitu aspek etos kerja dan sistem manajerial. Masyarakat di negara maju umumnya me-miliki etos kerja yang tinggi;  dengan lima hari kerja mereka terbiasa bekerja dari pagi sampai sore, terkadang sampai malam hari, secara efektif. Mereka telah memiliki "work habit" yang efisien. Di sisi yang lain sistem mana jerial di negara-negara maju umumnya dilaksanakan secara efektif pula; seorang manajer mengerti benar kapan harus mengefektifkan  waktu kerja dan kapan harus mengefektif-kan waktu rekreasi bagi pekerja atau karyawannya.
KENDALA OPTIMALISASI PENDIDIKAN SISTEM GANDA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.621 KB)

Abstract

       Sejak pendekatan keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) menjadi kebijakan umum dalam pelaksanaan pendidikan nasional kita maka banyak hal di sekolah yang mengalami perubahan. Kebijakan keterkaitan dan kesepadanan itu sendiri diterjemahkan dalam berbagai program dan kegiatan; salah satunya yang sangat menonjol adalah pengembangan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).  Oleh karenanya tulisan ini mengkhususkan pembahasannya mengenai pelaksanaan PSG di SMK.       Bila dicermati di SMK itu sendiri,  yang kata orang telah menjadi "primadona" sejak Pak Wardiman menjabat menteri pendidikan, telah terjadi banyak perubahan baik di tingkat konsepsional maupun operasional.       Di tingkat konsepsional sekarang tengah terjadi perubahan kultur dari SMK Konvensional menuju SMK Kompetitif. Adapun konsepsi SMK Konvensional adalah "sekolah untuk sekolah" sehingga dalam operasionalnya seluruh proses belajar mengajar dilaksanakan di sekolah, terutama di ruang-ruang kelas.  Pada sisi yang lain konsepsi SMK Kompetitif adalah "sekolah untuk masyarakat" sehingga dalam operasionalnya sebagian saja dari proses belajar mengajar yang dilakukan di sekolah, sedangkan sebagian yang lain dilaksanakan di masyarakat; terutama di dunia usaha dan dunia industri pasangan (DUDIP).      Untuk merealisasi konsepsi SMK Kompetitif maka dikembangkan PSG yang menjadi model penyelenggaraan pendidikan yang diaplikasi untuk memudahkan siswa mencapai keterampilan keahlian menurut bidangnya. PSG merupakan salah satu model pendidikan yang efektif dalam mendekatkan kesesuaian antara supply dan demand ketenagakerjaan sesuai dengan kebijakan keterkaitan dan kesepadanan.
KUNCI SUKSES PERUSAHAAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perusahaan menginginkan pelanggannya loyal. Loyalitas merupakan keadaan pikiran, konsep yang subjektif dan konsep yang paling baik didefinisikan oleh pelanggan itu sendiri. Aspek yang dari loyalitas pelanggan yang sering terlewatkan dan jarang diukur adalah hubungan emosional antara pelanggan yang loyal dengan perusahaan. Pelanggan yang memiliki loyalitas sejati merasakan adanya ikatan emosional dengan perusahaan. Pelanggan yang loyal mengatakan bahwa perasaan yang tumbuh saat berbisnis dengan perusahaan tersebut yang membuat mereka berbisnis terus dengan perusahaan tersebut. Ikatan emosional inilah yang membuat pelanggan menjadi loyal dan mendorong berbisnis dan memberi rekomendasi. Pentingnya ikatan emosional, maka perusahaan harus memusatkan perhatian pada bagaimana mereka memperlakukan pelanggan dan bagaimana menumbuhkan perasaan positif dalam diri pelanggan. Menciptakan emosi dan perasaan positif merupakan hal utama yang harus dilakukan perusahaan. Ketidak adanya emosi positif membuat pembelian berulang menjadi hanya aktivitas mekanis, proses perilaku biasa yang membuat pelanggan tidak ada alasan nyata untuk tetap tinggal dan berbisnis terus dengan perusahaan tersebut. Loyalitas pelanggan sejati tidak mungkin tercipta tanpa hubungan emosional. Loyalitas adalah bukti dari emosi yang mentransformasikan perilaku pembelian berulang menjadi suatu hubungan. Jika pelanggan tidak merasakan adanya kecintaan atau kedekatan dengan perusahaan tersebut, maka hubungan antara pelanggan dan perusahaan tidak mempunyai karakteristik. Bila pelanggan tersebut telah loyal, biasanya di dalam hatinya mereka akan menyebut, misalnya toko buah tempat berbelanja akan disebut sebagai toko buahku. Supermarket tempat berbelanja adalah Supermarketku. Toko elektronikku, toko sepatuku dan sebagainya. Pengalaman keluarga saya juga mengajarkan demikian. Keluarga saya mempunyai toko buah yang kami selalu loyal membeli di toko tersebut, yaitu toko IB yang terletak di Jalan Kaliurang. Setiap saya datang biasanya, pemiliknya menyodorkan sebutir jeruk manis kepada saya sambil mengatakan ”Ini manis Pak”. Saya sambut dengan senyum, saya mengucapkan terima kasih. Itu merupakan pembuka pintu komunikasi yang merupakan bagian awal penciptaan hubungan emosional. ”Pak tulisan di KR yang berjudul Senjata Bisnis saya potong. Ini saya letakkan di meja saya” kata pemilik toko buah tersebut sambil menunjukkan tulisan saya yang ditempel di mejanya. ”Ini sudah saya praktikkan lo Pak”, katanya. ”Semoga sukses” kata saya. ”Terima kasih Pak. Pak Yanto hari ini mau ceramah di mana? Kalau hari ini ada ceramah, saya mau ikut Pak. Saya mau mendengarkan ceramahnya”, tanya pemilik toko tersebut. Kunci sukses bagi banyak perusahaan terletak pada transformasi hubungan perilaku menjadi hubungan yang diwarnai emosi positif”, kata James G Barnes dalam bukunya Secrets of Customer Relationship Management.
KAMPANYE DI KAMPUS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.688 KB)

Abstract

       Pernyataan salah seorang rektor PTS di Yogyakarta tentang akan  diijinkannya kegiatan kampanye di kampus baru-baru ini mengundang polemik sementara pemerhati dan praktisi kampus.  Lebih daripada itu pernyataan ini juga mengundang reaksi demonstratif dari sekelompok mahasiswa yang kurang sependapat atas kebijakan rektornya. Kelom-pok mahasiswa ini konon bahkan sempat menuntut agar rektor melihat kembali (=mencabut?) pernyataannya.       Di dalam perikehidupan kampus  yang demokratis dan transparan maka perbedaan pendapat antar anggota civitas akademika, termasuk antara rektor (dosen) dengan mahasiswa, merupakan sesuatu yang sah saja sepanjang perbedaan pendapat tersebut bisa diekspresikan dengan performansi yang apik.  Masalah, biasanya baru timbul apabila sistem performansi atas perbedaan pendapat diekspresikan secara berlebihan; semisal dengan cara-cara yang arogan, urakan dan juga "kampungan". Implikasinya:  perbedaan pendapat tentang boleh dan tidaknya kampus dijadikan ajang kampanye di antara pimpinan dengan mahasiswa pada sebuah PT kiranya merupakan hal yang wajar-wajar saja.       Bila kita runut lebih jauh perjalanan sejarah nasional kita; perbedaan persepsi dan pendapat tentang kampanye di kampus juga bukan merupakan hal yang baru.  Sekitar lima tahun yang lalu di antara para anggota kabinet waktu itu seperti Pak Akbar Tanjung, Pak Domo, Pak Rudini, Pak Sarwono Kusumaatmadja, dan Pak Fuad Hassan pun juga memiliki pandangan yang tidak sama. Sekarang pun kalau jujur antara rektor PTN dan PTS juga banyak yang berbeda pendapat.       Dari kasus dan ilustrasi tersebut  kiranya ada satu hal  yang perlu diklarifikasi;  yaitu mengenai pentingnya klarifikasi akademis dan kla-rifikasi politis atas sahnya berbicara politik di kampus serta kampanye politik di lingkungan kampus.
GURU SD YANG "FRUSTASI" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.277 KB)

Abstract

       Beberapa waktu lalu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Prop. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan seminar pendidikan yang diikuti oleh berbagai kalangan, terutama kalangan pengambil kebijakan serta praktisi pendidikan. Adapun topik yang dibahas menyangkut kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi berku rangnya murid Sekolah Dasar (SD); sebuah topik yang bagi DIY bersifat khas dan senantiasa aktual.          Memang, bagi Propinsi DIY masalah persekolahan di jenjang pendidikan dasar, khususnya SD, bukan saja khas dan aktual akan tetapi juga sangat perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Hal ini disebabkan adanya fenomena inefficiency (ketidakefisienan) penyelenggaraan sekolah yang tak dapat terhindarkan.          Berdasarkan statistik persekolahan pendidikan da-sar di DIY, sekarang ini terdapat lebih dari 250 SD yang mengalami nasib mengenaskan,yaitu kekurangan siswa. Pada sekolah-sekolah dasar tersebut siswa kelas satunya tidak lebih dari 10 anak. Prediksi akademis saya, untuk tahun-tahun mendatang angka tersebut akan membengkak dan mem-bengkak lagi sampai tidak kurang dari 500 SD kalau pihak pengambil kebijakan tak segera mengantisipasinya dengan langkah-langkah yang konkrit. Apapun alasannya kenyataan ini menunjukkan adanya ketidakefisienan; jenis "penyakit" yang harus dihindari dalam manajemen profesional.
PERDAGANGAN ARAB KUNO : KAUM ‘AAD (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaum ‘Aad, ditegaskan pula dalam surat Huud ayat 53-57 : Kaum ’Aad berkata: ”Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Hud menjawab  : ’Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan. Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku. Tidak ada binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling,maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu, dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu”.   Dalam surat Al A’raaf ayat 70-71 : Mereka berkata : ”Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Ia berkata : ”Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga menunggu bersama kamu”. Kaum Hud yang kaya dan perkasa yang sedang menunggu janji Allah tersebut mulai diberi cobaan dengan kekeringan, langit tidak lagi menurunkan hujan. Kekeringan itu tidak mengubah kaum Hud untuk menyembah Allah, mereka tetap saja menyembah berhala. Akhirnya datanglah azab dari Allah. Al Qur’an surat Al Haqqah ayat 7 menyebutkan : Adapun kaum ’Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.  Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus maka kamu lihat kaum ’Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)             Sedangkan orang-orang dari kaum ’Aad yang menyembah Allah SWT diselamatkan seperti firman Allah surat Hud ayat 66-68 : Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan itulah kisah kaum ’Aad mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan begitu pula di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ’Aad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaan bagi kaum ’Aad (yaitu) kaum Hud itu (Hud : 66-68).
MEREVISI UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.062 KB)

Abstract

       Seandainya saja RM Soewardi Soerjaningrat,  yang kemudian berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, masih hidup maka hari ini beliau tepat berusia 110 tahun.  Lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dari keluarga Pakualaman Yogyakarta;  beliau berkiprah di dalam dunia politik dan jurnalistik sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri dan menghabiskan hidupnya di dunia pendidikan.        Karena pengabdiannya yang luar biasa  di dalam membangun  dan memajukan pendidikan nasional maka beliau diangkat menjadi Pahlawan Pendikan Nasional.  Pas sudah!  Jangan lupa bahwa konsep-konsep pendidikan nasional yang kita kembangkan sekarang ini banyak yang lahir atas pemikiran cemerlang Ki Hadjar. Wajar kalau beliau juga sering kita sebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia;  bahkan Presiden Soekarno sahabatnya dalam perjuangan pernah menyebut Ki Hadjar dengan tiga predikat sekaligus; yaitu Tokoh Politik, Tokoh Kebudayaan dan Tokoh Pendidikan.       Ketika Ki Hadjar wafat  maka tanggal kelahirannya, 2 Mei,  dija-dikan sebagai Hari Pendidikan Nasional yang senantiasa kita peringati pada setiap tahunnya.  Banyak momentum pendidikan nasional yang lahirnya ditepatkan pada tanggal yang "baik" tersebut; salah satunya adalah momentum lahirnya Undang-Undang (UU)  No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jadi hari ini, undang-undang pendidik-an kita sudah genap sepuluh tahun atau satu dasa warsa.       Problematika kita sekarang  adalah;  apakah undang-undang pendidikan kita telah berhasil menghantarkan prestasi yang gemilang dalam pelaksanaan pendidikan nasional itu sendiri, serta apakah undang-undang pendidikan kita yang sudah berusia sepuluh tahun itu masih relevan dijadikan pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan di negara kita.  Ataukah,  undang-undang pendidikan kita sudah mulai tertinggal oleh lajunya kemajuan jaman.

Page 6 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SURYA POS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue