cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
MEMILIH ATAU TIDAK MEMILIH:SEKOLAH BERPREDIKAT "FAVOURITE" ? Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.342 KB)

Abstract

Banyak  warga masyarakat Jawa Tengah yang  merasa lega dan bersyukur setelah Suara Merdeka selama dua hari --tanggal 10 dan 12 Juni 1987-- menurunkan tulisan tentang kesempatan masuk ke sekolah lanjutan, SMTP dan SMTA di kota Semarang pada khususnya dan di Jawa Tengah pada umumnya.           Tulisan tersebut terasa lebih besar urgensi serta manfaatnya setelah dilengkapi dengan informasi tentang NEM Minimum (Terendah) yang diberlakukan di seluruh sekolah menengah di kota Semarang; baik untuk tingkat SMTP maupun untuk tingkat SMTA, baik yang berupa sekolah umum (SMP dan SMA) maupun yang berupa sekolah kejuruan (SMEA, STM, SMKK, dsb).           Informasi tentang NEM Minimum (Terendah) tersebut memang sangat diperlukan untuk memperhitungkan sekolah mana yang pantas untuk dimasuki oleh masing-masing calon sesuai dengan kekuatannya; ialah besarnya NEM yang dimiliki masing-masing calon. Pada umumnya mereka berharap agar pemuatan informasi tentang NEM Minimum (Terendah) ini tidak terbatas pada sekolah di kota Semarang  saja, akan tetapi seluruh sekolah menengah di Jawa Tengah (Ini     input  menarik atau bahkan merupakan "tantangan" untuk teman-teman Redaktur maupun Reporter).
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (26) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.115 KB)

Abstract

Di bidang multimedia diperkuat pula dengan mendirikan radio, yang ketika itu namanya Radio SWA FM, radio dengan segmentasi bisnis. Tujuan utama radio ini adalah memberikan pendidikan entrepreneur dan bisnis. Selain itu juga untuk magang mahasiswa. Saya sebagai pengasuh tetap pada acara tersebut. Selain ditujukan untuk masyarakat, pendidikan entrepreneur dan bisnis tersebut juga untuk mahasiswa yang ingin belajar bisnis, terutama mahasiswa AMIKOM Yogyakarta. Segian penyiar berasal dari mahasiswa kami yang memang menyukai bidang kepenyiaran, demikian pula yang menjadi reporter.  Mahasiswa yang telah bekerja sebagai penyiar dan reporter setelah lulus terbukti mendapat pekerjaan yang cukup lumayan, bahkan ada yang bekerja pada perusahaan Jepang di Jepang.  Saya menyebut perusahaan kami sebagai laboratorium dunia kerja.  Hanya dengan cara yang sederhana itulah kami membuat beda dengan yang lain agar kami dikenali. Saya menyadari pentingnya kecerdasan spiritual harus dimiliki mahasiswa, maka akhirnya Radio SWA FM berubah menjadi Radio MQ FM yang banyak memberikan pendidikan spiritual dan juga tetap merekrut mahasiswa sebagai penyiar dan reporter. Pendapatan dari radio cukup lumayan, yang paling penting dapat digunakan untuk operasional. Tuntutan untuk tidak merugi dalam melaksanakan siaran, maka MQ FM berusaha untuk melakukan siaran dengan acara yang diminati pendengan dan melakukan efisiensi yang berdampak pada jumlah mahasiswa yang dapat direkrut menjadi terbatas. Saya berpikir kembali tentang bidang lain yang berkait dengan multimedia yang dapat merekrut mahasiswa lebih banyak dan yang mempunyai prospek dalam jangka panjang, yang dapat menyumbangkan dana untuk pengelolaan pendidikan. Bidang tersebut adalah bidang pertelevisian. Saya bergabung dengan RB Grup untuk memdirikan televisi lokal, berdirilah RBTV yang dapat menampung mahasiswa lebih banyak. Kami memulai dengan dana yang minimal dan peralatan sederhana dengan pancaran yang terbatas. Meskipun demikian, kami juga pernah mendapat peringkat tiga (3) TV lokal secara nasional berdasarkan share audience. Ketika itu kami masih khawatir kalau ijinnya tidak keluar, sehingga yang penting dapat siaran dengan acara yang baik.  Saat ini kami sedang mempersiapkan peralatan dan mempelajari teknologi yang memadai untuk menuju TV Digital. Disamping itu untuk menambah pengetahuan dalam bidang komunikasi, karena ilmu komputer dan ilmu komunikasi dalam jangka panjang akan konvergen atau menyatu, sehingga ilmu yang diterima mahasiswa juga semakin luas. Saya juga tetap mengasuh acara bisnis di RBTV, yang juga ingin sekedar memberikan sedikit pengalaman bagi yang ingin memulai bisnis dan mengembangkan bisnisnya baik kepada masyarakat maupun mahasiswa. Saya senang kalau alumni AMIKOM itu menjadi pengusaha. Biasanya alumni yang menjadi pengusaha, merekrut adik kelasnya untuk menjadi karyawan perusahaannya, sehingga meperingan tugas lembaga untuk mencarikan pekerjaan mereka. Kualitas lulusan kami ukur dengan banyaknya mahasiswa yang bekerja atau menciptakan lapangan kerja. Semakin banyak yang diterima kerja atau menjadi pengusaha, kami menganggap semakin berkualitas.  Alumni-alumni yang telah menjadi pengusaha, biasanya kita gilir untuk memberikan pembekalan kepada calon wisudawan yang berkeinginan menjadi pengusaha. Paling tidak satu tahun empat kali sesuai dengan jadwal wisuda.
AKTUALISASI WAWASAN KEBANGSAAN SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SINAR HARAPAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.671 KB)

Abstract

Ketika tinggal di Singapura suatu saat kami jalan-jalan di daerah River Valley yang punya beberapa sekolah bermutu seperti River Valley Primary School (SD), River Valley Secondary School (SMP), dan River Valley High School (SMA). Pada saat anak-anak SD sedang melakukan upacara dan menyanyikan lagu ?Majulah Singapura? maka terjadi pemandangan yang menarik. Beberapa orang yang sedang melintas jalan dekat sekolah, dan mendengar lagu kebangsaan tersebut dinyanyikan, secara spontan berdiri tegak serta ikut bernyanyi meski dengan suara yang sangat pelan.          Lagu kebangsaan pun selesai dinyanyikan dan mereka segera melan-jutkan aktivitasnya. Ketika saya tanyakan kenapa hal itu dilakukan, mereka menjawab bahwa sudah menjadi kewajiban di Singapura kalau mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan maka siapa pun harus menghentikan aktivi-tasnya untuk ikut ?bergabung? menyanyikan lagu tersebut.          Apa gunanya? Katanya menyanyikan lagu kebangsaan itu mengandung banyak makna; salah satunya menyatakan rasa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kerukunan kepada bangsa multietnis ini yang telah me-nyatakan kemerdekaannya sejak tanggal 9 Agustus 1965.          Kita tentu paham, negara yang bersemboyankan ?Knowing where you are going to is more important than where you came from? itu terbangun dari banyak etnis; antara lain etnis Melayu, Cina, Eropa, India dan Pakistan. Banyaknya etnis kalau tidak dikelola baik berpotensi terjadinya perpecahan. Tetapi hal itu tidak terjadi di Singapura. Bahkan kemulti-etnisan negara tersebut dapat dikelola baik sehingga menjadi kekuatan yang dahsyat untuk menghantarkan bangsa kepada kemajuan secara signifikan. Hal inilah yang mereka syukuri dengan ?bergabung? menyanyikan lagu kebangsaannya. 
MEMAKNAI FILOSOFI "TUT WURI HANDAYANI" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.307 KB)

Abstract

       Sekitar tiga belas tahun yang lalu atau tepatnya pada Bulan Desember 1983,  di Yogyakarta terjadi polemik mengenai pendidikan yang berfilosofikan  'tut wuri handayani' (TWH).  Polemik tersebut dipicu oleh pernyataan seorang dosen pada perguruan tinggi bahwa penyebab kurang berhasilnya pelaksanaan pendidikan nasional kita dikarenakan praktik pendidikan yang terlalu TWH.       Pernyataan yang kontroversial tersebut  segera mendapatkan tanggapan dari banyak pihak,  khususnya para praktisi pendidikan di lapangan.  Setelah melalui proses diskusi yang menarik akhirnya disimpulkan bahwa telah terjadi keliru pemaknaan terhadap filosofi TWH itu sendiri.  Dalam konteks pendidikan dan pengajaran bukan TWH-nya yang keliru  akan tetapi praktik pengajaran yang dilakukan di sekolah dan di kelas-kelas yang justru kurang mengaplikasi prinsip-prinsip TWH. Dengan kata lain kurang berhasilnya pelaksa-naan pendidikan nasional  justru dikarenakan para pengajar banyak yang meninggalkan prinsip-prinsip TWH.       Terus terang mulanya saya tidak tertarik membaca pendapat Prof.Dr. H. Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa filosofi TWH me-rupakan salah satu manifestasi dari budaya feodal yang menyebabkan "mandegnya" pendidikan nasional.  Adapun indikasinya antara lain murid tidak bisa melebihi gurunya, tidak mampu berkreasi dan berbeda pendapat yang pada akhirnya tidak bisa mandiri dan tidak dapat menjadi pesaing yang tangguh  (Pikiran Rakyat, 25/8/1999). Saya berpikiran positif; barangkali rekan wartawan salah kutip.       Ketika membaca tulisan Prof. Dr. Hj. Koesbandijah  di dalam artikelnya "Apakah Filosofi 'Tut Wuri Handayani' Itu Fedoal" (Pi-kiran Rakyat, 28/9/99) hati saya menjadi tergelitik. Jangan-jangan keliru pemaknaan terhadap filosofi TWH yang pernah terjadi tiga belas tahun yang lalu kini terulang lagi.
REKTOR PTN DIGUGAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.508 KB)

Abstract

       Eksistensi jabatan rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) baru saja digugat! Kedengarannya memang agak aneh; suatu jabatan strategis yang paling tinggi di lingkungan perguruan tinggi yang dikelola langsung oleh pemerintah harus menerima gugatan masyarakat. Barangkali baru kali inilah peristiwa ini terjadi di negara kita.          Tegasnya: baru-baru ini dalam forum dengar pendapat antara beberapa pejabat teras  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) dengan para anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) muncul pendapat yang benar-benar surprisse; yaitu pendapat mengenai perlu ditiadakannya jabatan rektor PTN.          Sekarang ini sudah saatnya keberadaan rektor PTN di Indonesia ditiadakan  karena dalam banyak hal langkah dan operasinya lebih banyak diatur oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) maupun Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Pendapat yang sedikit berbau kontroversial dan sempat ditangkap serta dimedia-massakan oleh para kuli tinta tersebut dikemukaan oleh Koordinator Kopertis Wilayah III  (DKI Jakarta dan sekitarnya), Sambas Wirakusumah.
"MUSIBAH" SANG PROFESOR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.369 KB)

Abstract

       Sang guru besar alias profesor pun ternyata dapat pula kena "musibah";  demikian pula dengan sebagian dari para dosen senior di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal ini terjadi pada para profesor dan dosen senior yang sa-at ini masih menjadi pejabat struktural  dan yang mantan atau pernah menjabat.  Bahkan juga terjadi pada profesor yang sudah memasuki masa pensiun.          Barangkali "musibah" tersebut baru pertama kali terjadi di dalam sejarah kepegawaian kita, terutama yang menyangkut para guru besar serta dosen senior yang nota bene telah lama mengabdikan dirinya pada dunia keilmuan di perguruan tinggi. Jelasnya,sekarang ini sebagian dari profesor dan dosen senior pada PTN sedang kena "musibah" karena dikenai aturan yang mengharuskan dirinya berurus-an dengan persoalan jabatan struktural dan tunjangannya. Bagi mereka yang sekarang usianya melebihi 60 tahun tak akan mendapat tunjangan struktural, meskipun masih aktif memangku jabatan.  Ternyata bukan itu saja, mereka masih juga diminta mengembalikan tunjangan struktural yang per nah diterimanya setelah usia 60 tahun.          Keadaan tersebut bukan saja berlaku bagi yang ma-sih aktif bekerja,  tetapi juga berlaku bagi mereka yang sudah menikmati hari tua dimasa pensiun. Dalam kasus ini seorang profesor ataupun dosen senior tersebut ada yang terkena kewajiban ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Se-orang profesor  di UGM Yogyakarta konon ada yang terkena kewajiban  hampir sepuluh juta rupiah,  di UNS Surakarta konon ada yang mencapai hampir 21 juta rupiah, demikian pula dengan PTN-PTN yang lainnya.
PENDIDIKAN DAN KEMISKINAN (I) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.251 KB)

Abstract

       Kemiskinan yang terjadi dan ada dewasa ini sudah bukan akibat produk alami, seperti bencana alam, malas bekerja, dsb; akan tetapi merupakan suatu hasil yang kurang baik dari proses sosial yang sudah berjalan. Sedangkan tingkat kemiskinan yang ada sekarang ini sudah menjadi masalah struktural.       Sinyalemen tersebut di atas dikemukakan oleh Prof. Satjipto Rahardjo, S.H. dari Undip Semarang didepan peserta pekan informasi Hari Pers Nasional baru-baru ini, dan dikomunikasikan secara luas oleh berbagai media massa. Untuk memulai mencoba menganalisis masalah kemiskinan kiranya sebuah ilustrasi yang cukup sensasional pantas dipresentasikan. Ethiopia!       Ada apa dengan Ethiopia? Negara ini oleh John Vai zey, seorang profesor ekonomi pada sebuah universitas di Inggris dan menjadi konsultan pada OECD, UNESCO dan PBB, pernah dilukiskan sebagai negara yang penduduknya jarang tetapi "cukup makan". Sangat berbeda dengan India yang berkebudayaan tua, berpenduduk padat dan "sangat miskin" (John Vaizey, "Educational in the Modern World", New York: 1967).       Hal ini terjadi pada beberapa puluh tahun yang lampau, dan apa yang dikemukakan oleh profesor yang pernah menjadi dosen tamu pada sebuah universitas di California ini tentunya bukan sekedar "lukisan abstrak", te tapi lebih merupakan kesimpulan dari berbagai data yang mendukungnya.
KONSEP SINGLE TRACK SCHOOL SYSTEM Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.248 KB)

Abstract

Seorang pengamat, praktisi, serta sekaligus pakar pendidikan kita, St. Vembriarto, baru saja pergi menghadap Tuhannya. Di kalangan masyarakat pendidikan Pak Vem, nama akrabnya, dikenal sebagai pakar yang sangat vokal; berani menyampaikan pendapat apabila hal itu diyakininya sebagai benar. Pak Vem juga dikenal cukup konsisten mempertahankan konsep-konsepnya, meskipun konsep-konsepnya itu seringkali banyak yang menentangnya. Pada waktu Pak Vem wafat sesungguhnya saya sedang berada di luar kota untuk mengikuti acara sosio-akademik yang bertaraf nasional; namun demikian saya menyempatkan diri untuk "kembali" ke Yogya guna memberi penghormatan yang terakhir baginya, dan bagi konsep-konsep serta pemi kiran-pemikiran pendidikannya yang sebagian belum dapat direalisasikan, bahkan tidak dapat direalisasikan sama sekali. Realitasnya memang relatif banyak konsep-konsep pendidikan Pak Vem yang sampai akhir hayatnya belum da-pat direalisasikan, atau bahkan tidak mungkin direalisa-sikan, namun demikian tetap saja sangat bermanfaat untuk memberikan alternatif atau "choices" guna memajukan sis-tem pendidikan nasional kita. Setahu saya paling tidak terdapat dua konsep pen-didikan yang dibela sampai akhir hayatnya; yaitu konsep mengenai sistem persekolahan jalur tunggal (single track school system) serta mengubah bentuk IKIP menjadi univer sitas. Dua konsep pendidikan inilah yang dipertahankan-nya sampai Pak Vem harus meninggalkan kita semua.
BISNIS KAUM GASSAN (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekuasaan al-Harits kemudian dilanjutkan oleh anak laki-lakinya, al-Mundzir, yang Juga disebut Alamundarus oleh para penutur sejarah dari Bizantium. Seperti ayahnya, al-Mundzir menjadi pelindung utama ajaran Monofisit, dan untuk beberapa waktu hal ini memupus simpati Bizantium serta memicu pembrontakan terbuka di Gassan. Pada 589, ia mengunjungi Konstantinopel bersama berdua anak laki-lakinya, dan diterima dengan  penuh kehormatan oleh Tiberius II, yang mengganti batu permata di mahkotanya dengan batas permata yang lebih mahal. Di tahun itu pula ia berhasil menyerang dan membakar Hirts, ibu kota kerajaan musuhnya Bizantium yang menuduhnya berkhianat, tuduhan sama yang sebelumnya dialamatkan pada ayahnya Ketika berkunjung ke gereja di Huwarin, antara Damaskus dan Palmyra, ia ditangkap dan dipenjara di Konstantinopel, dan kemudian dipindahkan ke Sisilia. Anak laki-laki dan penerusnya, al-Nu?man, yang berusaha menyerbu dan menggoyangkan kekuasaan Bizantium, juga dibawa ke Konstantinopel. Tingkat budaya yang dicapai oleh orang-orang Gassan, kerajaan tetangga Bizantium, tidak diragukan lagi lebih tinggi dari pencapaian budaya musuhnya di perbatasan Persia, yaitu kerajaan Lakhmi. Di bawah pemerintahan mereka, dan selama masa di sepanjang perbatasan timur Suriah yang merupakan perpaduan antara unsur budaya Arab. Suriah, dan Yunani. Rumah-rumah dari batu vulkanik, istana, momentum kemenangan, tempat pemandian umum, tempat penampungan air, teater, dan gereja berdiri di tempat-tempat yang kini tinggal membantu yang gersang. Dulu diatas dataran tinggi sebelah timur dan selatan Heurun berdiri sekitar tiga ratus kota dan desa, dan saat ini hanya beberapa diantaranya yang masih bertahan. Sejumlah penyair Arab pra Islam mendapatkan dukungan penuh dari raja kecil Gassan. Dikisahkan bahwa Labid, penyair termuda dari tujuh penyair ?Mua?allaqqt? yang terkenal, berperang bersama orang-orang Gassan dalam pertempuran Halimah. Ketika al-Nablghah al-Dzubyani bertengkar dengan raja Lakhmi, ia pergi meminta perlindungan ke istana anak laki-laki al-Harits. Seorang penyair dari Madinah, Hassan ibn Tsabit (lahir sekitar 563), yang sebelum menjadi penyair yang dipuji oleh Nabi Muhammad s.a.w. pernah mengunjungi istana mereka, dan merekam pengalamannya itu dalam antologinya (diwan). Dalam sebuah bait puisinya, ia memaparkan kegelimangan dan kemegahan istana Jabalah yang semarak oleh para penyanyi dan musisi dari Mekah, Babilonia dan Yunani, laki-laki dan perempuan, serta sajian anggur. Setelah kekuasaan al-Mundzir dan al-Nu?man, kerusuhan merebak di negeri Gassan. Berbagai suku di gurun Suriah mengangkat pempimpinnya masing-masing. Jatuhnya Yarusalem dan Damaskus (613-614) ke tangan Khusraw Parwiz dari Sasaniyah merupakan pukulan terakhir yang mematikan Dinasti Jafna. Apakah ketika menaklukkan kembali Suriah pada 629, Heraclius berhasil mengembalikan kedudukan raja kecil Suriah-Arab belum bisa diketahui dengan pasti. Para penutur sejarah Arab menyebut Jabalah ibn al-Ayham sebagai raja terakhir Wangsa Gassan. Dalam pertempuran Yarmuk yang terkenal (636), kerajaan ini berperang bersama Bizantium untuk menghadapi kaum muslim Arab dalam Perang Yarmuk pada 636. Dalam perang tersebut, 12.000 orang Gassan menyeberang ke pasukan Muslim, kemudian ia memluk Islam sebagai gantinya pasukan Muslim memberikan penghargaan dengan membayar gaji mereka. Dan Dikisahkan bahwa ketika sedang mengitari Ka?bah, seorang, badui menginjak bajunya dan mantan raja itu menampar wajahnya. Khalifah Umar kemudian memerintahkan Jabalah untuk menerima tamparan serupa dari orang badui itu, atau membayar denda. Setelah peristiwa itu. Jabalah keluar dari Islam dan pergi menghabiskan masa pensiunannya di Konstantinopel.
KEMUNDURAN PARIWISATA DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.456 KB)

Abstract

       Debat opini mengenai SDM pariwisata  yang digelar di harian ini dari tanggal 6 s/d 10 Maret lalu penting diperhatikan. Berbagai pemikiran yang muncul dari para praktisi pariwisata dan pendidikan pariwisata perlu dicermati; pasalnya kalau bangsa kita ingin keluar dari keterpurukan ekonomi untuk melakukan recovery maka mau tak mau sektor pariwisata perlu mendapat tempat yang memadai.       Statistik kita menunjukkan, selama tahun 1997 yang lalu kita berhasil menarik sekitar 5 juta wisatawan manca,  padahal sepuluh tahun sebelumnya  kita hanya sanggup  mendatangkan 1 juta orang dari berbagai negara manca. Tidak bisa dipungkiri kedatangan para tamu dari manca itu telah memasok devisa bukan saja kepada peme-rintah di dalam bentuk pajak, retribusi, dan jasa; tetapi juga telah menebar dolar bagi masyarakat, baik dalam kapasitas personal, ke-luarga, maupun industri.  Wajarlah kalau sektor wisata di Indonesia pada masa itu sempat masuk dalam kelompok The Big Five dalam hal tingginya  pengumpul devisa negara  bersama dengan minyak bumi, gas alam, industri tekstil dan industri kayu. Barangkali karena itu pula maka pemerintah waktu itu  berani menargetkan kedatangan di atas 10 juta turis asing per tahun pasca tahun 2005.       Ternyata prestasi tersebut sukar dipertahankan;  pariwisata Indonesia di dalam dua atau tiga tahun ini justru banyak mengalami kemunduran.  Jumlah wisatawan manca negara yang datang ke bumi pertiwi justru menurun.  Berita menyebarnya penyakit AIDS dan penyakit menular yang lain serta lepasnya ratusan penghuni rumah tahanan di Bali membuat banyak orang Jepang membatalkan niatnya berkunjung ke Bali.  Instabilitas politik dan terjadinya banyak ke-kerasan di negara kita  menyebabkan orang-orang Eropa, AS, dan Asia ketakutan datang di Indonesia. Turis manca pun makin sedikit dan devisa kita pun semakin menipis.

Page 83 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue