cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
PENERAPAN MODEL ARGUMENT-DRIVEN INQUIRY DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARGUMENTASI ILMIAH SISWA SMP Ginanjar, Wahyu Sukma; Utari, Setiya; Muslim, Dr.
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 1 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - April 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i1.559

Abstract

Scientific argumentation is the ability to express ideas about science phenomena based on data and existing theories. This capability is important for students to explain scientific phenomena based on data and science concepts. Argument-Driven Inquiry model (ADI) consists of tentative argument production and argumentation session as an appropriate step to enhance student’s capability as well as the quality of their scientific argumentation. This exploratory study with time series design and 12 junior high school students as its sample was conducted  in order to find ways to enhance student’s argumentation and obtain student’s argumentation enhancement on the topic of light. Students’ argumentation were measured based on oral argumentation enhacement trend, while written arguments were analyzed based on Walkers ADI Laboratory Report Scoring Rubric. Results showed an increasing trend of argumentation for level 2, 4 and 5, constant for level 1, and decreased for level 3, while the written argument has an increasing trend with the value of +2.17. These suggested that steps developed in the ADI model could enhance junior high school students’s scientific argumentation on the topic of light.Keywords: scientific argumentation, Argument-Driven InquiryABSTRAKArgumentasi ilmiah merupakan kemampuan mengemukakan ide/gagasan mengenai fenomena sains berdasarkan data/bukti dan teori yang ada. Kemampuan ini penting dilatihkan agar siswa dapat menjelaskan fenomena sains berdasarkan bukti dan konsep sains yang relevan. Model Argument-Driven Inquiry (ADI) memiliki tahapan pembuatan argumen tentatif serta sesi argumentasi. Kedua tahapan tersebut dipandang sebagai langkah yang tepat untuk melatihkan kemampuan berargumentasi dan kualitas argumentasi. Penelitian eksploratori dengan desain time series dan melibatkan 12 siswa SMP ini bertujuan untuk menemukan cara melatihkan argumentasi pada siswa dan memperoleh gambaran peningkatan argumentasi siswa pada topik cahaya. Peningkatan argumentasi ilmiah siswa diukur berdasarkan trend peningkatan argumentasi lisan sedangkan peningkatan argumentasi tulisan dianalisis berdasarkan ADI Laboratory Report Scoring Rubric. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat trend peningkatan untuk level argumentasi 2, 4 dan 5,  konstan untuk level 1 dan menurun untuk level 3, sedangkan argumentasi tulisan memiliki trend peningkatan dengan rerata nilai sebesar +2,17. Hal ini menunjukkan bahwa cara-cara yang dikembangkan dalam model ADI dapat melatihkan kemampuan argumentasi ilmiah siswa SMP pada topik cahaya.Kata kunci: argumentasi ilmiah, Argument-Driven Inquiry
TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DAN TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS) PADA SISWA SMP Suripah, Mrs.
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - Oktober 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i2.575

Abstract

This study aimed to get empirical evidence about the effectiveness of STAD and TPS cooperative learning on junior high school students’ achievement and interest in mathematics. This study was a quasi- experimental research design with completely randomized factorial design. Sample were seventh grade students from two schools in Kebumen. The research instruments consisted of tests and interest questionnaire which contains questions and statement to determine the effectiveness of the learning model on students’ achievement and interest. The results showed that there was significant difference in achievement for STADA class (p = 0.046), STADB (p = 0.000), TPSA (p = 0.000), and TPSA (p = 0.042). In terms of interest, STAD and TPS significantly differed (p = 0.001, p <0.005). Multivariate analysis results show that there was interaction between learning model with the type of school (p = 0.001, p <0.005). It can be concluded that STAD and  TPS cooperative learning  were effective from the aspect of students achievement and interest in mathematics. ABSTRAKPenelitian  ini  bertujuan  untuk  memperoleh  bukti  empiris  tentang  keefektifan  model  pembelajaran kooperatif tipe STAD dan TPS ditinjau dari aspek prestasi dan minat siswa SMP terhadap matematika. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan desain completely randomized factorial design. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII dari dua sekolah yang ada di Kabupaten Kebumen. Instrumen penelitian  terdiri  atas  tes dan  angket  minat  yang berisi  soal-soal  uraian  dan  item pernyataan  untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran ditinjau dari aspek prestasi dan minat belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi yang signifikan untuk kelas STADA (p= 0,046), STADB (p= 0,000), TPSA (p= 0,000), dan TPSA (p= 0,042). Pada aspek minat, kelas STAD dan TPS juga berbeda signifikan (p=0,001,). Hasil analisis Multivariat menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan jenis sekolah  (p=0,001). Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe TPS efektif ditinjau dari aspek prestasi maupun minat siswa terhadap matematika.
MENINGKATKAN DAYA TANGGAP DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA SMP DI KELAS KHUSUS OLAH RAGA MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI Kurniasih, Tjitjih; Haryani, Mrs.; Ciptowati, Endang
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 1 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - April 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i1.570

Abstract

This research aimed to increase students’ response towards science learning and science learning outcome in sport class using animation learning media. Through this research, it was expected that students’ response during teaching and learning activities would increased and students’ will be interested in doing these activities so that it will increase their science learning outcome. This research was three cycles-class action research in which every cycles consists of four stages. Research subjects was 36, 8th grader students (sports class) in one of junior high school in Bogor. Research instruments were students’ responsiveness evaluation sheet, learning activities observation sheet, and learning results instrument (postest question). The collected data were analyzed its average. In first cycle, learning outcome was 42% whereas students’ responsiveness was 56% (low). In cycle 2, learning outcome and students’ responsiveness were increased to 72% and 68%, respectively. In cycle 3, clasical completedness of 88% for learning outcome and 93% for students’ responsiveness (beyond clasical completedness standard) were achieved. Results suggested that animation learning media may increased students’ responsiveness and learning outcome of science subjects in sports class.Keywords: students’ responsiveness, science learning outcome, sport class, animation learning media.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan daya tanggap siswa dan hasil belajar IPA di kelas khusus olah raga dengan menggunakan media pembelajaran animasi. Melalui penelitian ini diharapkan bahwa tanggapan siswa selama Kegiatan Belajar Mengajar akan meningkat dan kegiatan belajar IPA menjadi menyenangkan sehingga akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap. Subjek penelitian adalah 36 siswa kelas VIII (kelas khusus olahraga) di salah satu SMP Negeri di Bogor. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi daya tanggap siswa selama KBM, lembar observasi kegiatan pembelajaran, dan instrumen hasil belajar (soal postes). Data yang dihasilkan kemudian dianalisis nilai rata-ratanya. Pada siklus pertama hasil belajar mencapai 42% dan daya tanggap siswa terhadap aktivitas guru dalam KBM hanya 56% (kurang). Pada siklus 2 hasil belajar mencapai 72% dan daya tanggap siswa terhadap aktivitas guru dalam KBM naik menjadi 68%. Pada siklus 3 hasil belajar IPA kelas khusus olahraga akhirnya mencapai ketuntasan klasikal 88% dan daya tanggap terhadap aktivitas guru dalam KBM mencapai 93% (melampaui standar ketuntasan klasikal). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  media pembelajaran animasi dapat meningkatkan daya tanggap dan hasil belajar IPA kelas khusus olahraga.Kata kunci: daya tanggap siswa, Hasil belajar IPA, Kelas Khusus Olah Raga, Media Pembelajaran Animasi.
PREFERENSI DAN PERSEPSI PERSONAL PESERTA TERHADAP KONTEN BIOLOGI YANG MENJADI FOKUS PENELITIAN SELAMA MENGIKUTI PENDIDIKAN PROFESI GURU Solihat, Rini; Rustaman, Nuryani Y.; Widodo, Ari; Saefudin, Mr.
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - Oktober 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i2.586

Abstract

This paper presents results of study on the development of professional training program participants’ personal perceptions and preferences toward biology content which were used as their research subject along the program. This longitudinal study was carried out in one of universities which conducted professional training program. As many as 23 participants have an undergraduate degree in biology and did have not educational research experience. The main data source for this sequential exploratory research design was participants’ classroom action research document which was analyzed along the program. Questionnaire on biological content capabilities was used as an additional instrument to identify participant’s personal perception. Results showed that biology content themes used are always changing. Personal perception of participants according to biology content also varied. In addition, biology content chosen as research focus was not related with the level of complexity of the content and participants self-efficacy.ABSTRAKArtikel ini menyajikan hasil penelitian tentang perkembangan preferensi dan persepsi personal peserta program pendidikan profesi guru. Penelitian longitudinal ini dilakukan di salah satu universitas penyelenggara pendidikan profesi guru biologi di Indonesia selama satu setengah tahun. Sejumlah 23 peserta program pendidikan profesi guru biologi yang menjadi subyek penelitian ini memiliki latar belakang akademik sarjana biologi dan tidak memiliki pengalaman melaksanakan penelitian pendidikan. Dokumen rancangan dan laporan penelitian tindakan kelas peserta selama mengikuti pendidikan profesi guru merupakan sumber data utama penelitian yang menggunakan desain penelitian campuran tipe eksploratori sekuensial. Kuesioner tentang kemampuan konten biologi merupakan instrumen pendukung yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa preferensi tema konten biologi peserta selalu berubah. Persepsi personal peserta terhadap konten biologi yang dipilihnya sebagai fokus penelitian juga bervariasi. Sebagai tambahan, pemilihan konten yang dijadikan fokus penelitian tidak terkait dengan kepercayaan diri peserta terhadap pemahaman konten yang dimilikinya.
PROFIL PERUBAHAN KONSEPTUAL SISWA PADA MATERI KEPENDUDUKAN DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN Muchyar, Lusiana Dwi Hastuti; Widodo, Ari; Riandi, Dr.
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 1 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - April 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i1.565

Abstract

The purpose of this study was to understand students’ initial and final concept profile, in order to investigate the process and the patterns of students’ conceptual change. This study was conducted because many students have a conception which is not in accordance with the scientific conception for environmental problems such as global warming, ozone layer depletion, acid rain and radioactive pollution caused by environmental pollution. Research method was descriptive method and subjects used in this study were seventh grade students taught by experienced teachers and pre-service teacher in one of junior high schools in Bandung. The instrument used to view the initial conception profile, final conception profile, and the patterns of students conceptual change was a written test in the form of multiple choice questions along with the explanations that is given at the beginning and the end of the lesson. Tests answers were then qualitatively analyzed. Analysis showed that conceptual change happen in students in both students groups. Conceptual change process happened on greenhouse effect, environment’s carrying capacity, CFC gases, and global warming concept. Furthermore, analysis also showed students’s conceptual change patterns, i.e. changing to be positive, changing to be negative, still positive, and still negative.Keywords: conceptual change, conceptual change patterns, initial conception profile, final conception profileABSTRAK           Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil konsepsi awal dan profil konsepsi akhir siswa serta untuk melihat proses dan pola perubahan konseptual siswa. Penelitian ini dilakukan karena banyak siswa yang memiliki konsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah mengenai masalah lingkungan seperti pemanasan global, deplesi lapisan ozon, hujan asam dan polusi radioaktif yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII yang diajar oleh guru berpengalaman dan guru praktikan di salah satu SMP di Kota Bandung. Instrumen yang digunakan untuk melihat profil konsepsi awal, profil konsepsi akhir, serta pola perubahan konseptual siswa adalah tes tertulis berupa soal pilihan ganda disertai dengan penjelasan yang diberikan pada awal pembelajaran serta akhir pembelajaran. Jawaban dari tes tersebut kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi perubahan konseptual pada siswa, baik yang diajar oleh guru berpengalaman, maupun yang diajar oleh guru praktikan. Proses perubahan konseptual ini terjadi pada beberapa konsep seperti konsep efek rumah kaca, daya dukung lingkungan, gas CFC, serta pemanasan global. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan adanya pola perubahan konseptual pada siswa yaitu berubah positif, berubah negatif, bertahan positif, dan bertahan negatif.Kata kunci: perubahan konseptual, pola perubahan konseptual, profil konsepsi awal, profil konsepsi akhir
STRATEGI PEMBELAJARAN METAKOGNITIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP SISTEM PENCERNAAN PADA MANUSIA Khoiriah, Tuti
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - Oktober 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i2.581

Abstract

This study aims to determine the effect of metacognitive learning strategies on student learning outcomes in the concept of the human digestive system. This study was conducted in one of the SMA in Tangerang. The method used was a quasi-experimental design using pretest-posttest control group design. Samples were students of class XI IPA-4 totaling 35 people as classroom control and class XI IPA-1 experiment class. Instruments used were multiple choice tests, students worksheets and student learning activity observation sheet. Results showed that there were significant differences in learning outcomes between classes to learn metacognitive strategies to control class (tvalue= 2.19 and t table 2.03, tvalue> ttabel.) ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi belajar metakognitif terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem pencernaan pada manusia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 di salah satu Sekolah Menengah Atas di  Tangerang. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen yang menggunakan desain pretest-posttest control group design. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 berjumlah 35 orang sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA 1 berjumlah 35 orang sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan berupa tes yang berbentuk pilihan ganda dan nontes berupa lembar kerja siswa dan lembar observasi aktivitas belajar siswa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas dengan strategi belajar metakognitif dengan kelas kontrol (thitung 2,19 dan ttabel 2,03, thitung > ttabel.)Erata
MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY (TSTS) DAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG KONSEP MOMENTUM DAN IMPULS Sutrisno, Asep Dedy; Samsudin, Achmad; Liliawati, Winny; Kaniawati, Ida; Suhendi, Endi
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 1 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - April 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i1.560

Abstract

Experimental research about Two Stay Two Stray (TSTS) learning model has been conducted in one of senior high school in Bandung. This research aimed to analyze students’ understanding of momentum and impulse concepts by using TSTS learning model. Students’ conception were identified by multiple choice-diagnostics test using Certainty of Response Index (CRI) scale. Research method was pre-experimental design with one group pretest posttest design involving 37 students as research subjects. Results showed that profile of students’ understanding of momentum and impulse concepts were increased from 16,8% in pretest to 70,6% in posttest. Effectiveness of TSTS learning model was reflected by N-gain of 0.64. Keywords: concept of momentum and impuls, CRI, two stay two stray (TSTS)ABSTRAKTelah dilakukan penelitian eksperimental tentang model pembelajaran Two Stay Two Stray di salah satu SMA di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman konsep siswa pada materi momentum dan impuls dengan menggunakan model pembelajaran two stay two stray (TSTS). Pemahaman konsep siswa diukur dengan tes diagnosis berupa tes pilihan ganda dengan menggunakan skala Certainty of Response Index (CRI). Metode penelitian adalah Quasi Experimental dengan desain One Group Pretest Posttest yang melibatkan 37 orang siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman konsep siswa SMA pada materi momentum dan impuls setelah pembelajaran meningkat, yaitu 16,8% pada pretest menjadi 70,6% pada posttest. Keefektivitasan pembelajaran dengan menggunakan model TSTS ini dapat dilihat dari nilai N-gain sebesar 0,64.Kata kunci: CRI, konsep momentum dan impuls, two stay two stray (TSTS)
STRATEGI PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) BERBASIS EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF Busyairi, Ahmad; Sinaga, Parlindungan
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - Oktober 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i2.576

Abstract

This study aimed to get an idea related to the development of cognitive abilities and creative thinking skills in problem solving student after being given treatment with CPS-based experimental learning and conventional learning. The method used in this research is a quasi-experimental design with the randomized pretest-posttest control group design. The research sample group of 58 high school students who are divided into two classes (class 29 experimental and 29 control group). The collected data was then analyzed using N-gain calculation, t-test, and the calculation of effect size. The result showed that the students cognitive abilities for both classes equally increased by the moderate category. For the creative thinking skills of students in problem solving, experimental class increased by categories was increased while the control class with low category. Based on the test results show that the application of learning hypothesis-based experiments CPS can significantly improve the cognitive abilities and skills of creative thinking in solving problems of students compared to the application of conventional learning. In addition, based on the calculation of effect size indicates that the application of experiment-based learning CPS effective in improving cognitive ability and creative thinking skills in problem solving students with moderate category.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran terkait peningkatan kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah siswa setelah diberikan perlakuan dengan pembelajaran CPS berbasis eksperimen dan pembelajaran kovensional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain the randomized pretest-posttest control group design. Sampel penelitian sebanyak 58 siswa SMA yang dibagi ke dalam dua kelas (29 kelas eksperimen dan 29 kelas kontrol). Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan perhitungan N-gain, Uji-t, dan perhitungan effect size. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan kognitif siswa untuk kedua kelas sama-sama mengalami peningkatan dengan kategori sedang. Untuk keterampilan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah siswa, kelas eksperimen mengalami peningkatan dengan ketegori sedang sedangkan kelas kontrol meningkat dengan kategori rendah. Berdasarkan hasil uji hipotesis  menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran CPS berbasis eksperimen secara signifikan dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah siswa dibanding penerapan pembelajaran konvensional. Selain itu, berdasarkan hasil perhitungan effect size menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran CPS berbasis eksperimen efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah siswa dengan kategori sedang.
ANALYSIS OF STUDENTS’ EPISTEMOLOGICAL OBSTACLES ON THE SUBJECT OF PYTHAGOREAN THEOREM Hutapea, Maya L; Suryadi, Didi; Nurlaelah, Elah
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 1 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - April 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i1.555

Abstract

This article explains mistakes made by junior high school students in solving Pythagorean Theorem problems as well as analysis of students’ difficulties in applying mathematical concepts (epistemological obstacles), in which these were reflected in their test answers. This research used descriptive exploratory method to describe symptom and phenomena, which occurs within the students’ mind while solving the problem. Data were obtained from a test of Pythagorean Theorem problems given to 99 students from three different schools clusters. Results suggested that students tends to use a quick way to solve the problems without adequate understanding of the concept, remember the term alone without a profound understanding of the concept, fail in solving the problems with implicit information and the problem that requires visual representation in the process of solving the problem. Students also did not like the word problems or a problem with long questions. Teachers play a pivotal role in helping the students to overcome epistemological obstacles such as by giving the students more exercises as well as using different tools and technique in teaching the concept.Keywords: learning obstacles, epistemological obstacles, pythagorean theoremABSTRAKArtikel ini menyajikan kesalahan yang dilakukan oleh siswa sekolah menengah pertama dalam  menyelesaikan soal-soal terkait teorema phytagoras dan juga analisis mengenai kesulitan siswa dalam mengaplikasikan konsep matematik (epistemological obstacle). Kesalahan-kesalahan ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan siswa pada tes yang diberikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk menjelaskan  fenomena yang terjadi pada siswa dalam  menyelesaikan soal-soal terkait teorema Phytagoras. Data yang diperoleh pada penelitian ini berasal dari hasil tes soal-soal Teorema phytagoras yang diberikan pada 99 siswa dari tiga cluster sekolah yang berbeda. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa cenderung menggunakan cara cepat untuk menyelesaikan persoalan tanpa memahami konsep, mengingat rumus secara utuh tanpa pemahaman yang mendalam terkait konsep phytagoras, gagal  menyelesaikan soal yang memuat informasi yang implisit dan soal yang memuat informasi yang disajikan secara visual. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa tidak suka soal cerita dan soal yang disajikan secara panjang lebar. Guru memainkan peran yang sangat penting dalam membantu siswa untuk mengatasi epistemological obstacle seperti dengan memberikan siswa latihan soal serta menggunakan berbagai media dan teknik pengajaran dalam mengajarkan konsep.Kata kunci: kesulitan belajar,  kesulitan epistemologis, teorema phytagoras
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Widiati, Indah
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Pengajaran MIPA - Oktober 2015
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v20i2.571

Abstract

This study aimed to analyze mathematical representation ability of students obtained contextual learning compared to student who obtain expository learning, both in overall and by level of learning achievement of high, medium and low. The study design was quasi-experimental with purposive sampling. Samples were three Junior High School (SMP) in Pekanbaru with one (1) school as a representative for each level. The research instrument consisted of pretest and posttest, which contains questions to determine the ability of students mathematical representation (visual, verbal and symbolic) on relations and functions subject. In overall, results showed that there was a difference in the ability of the mathematical representation based at the school level and between learning approach, in which the differences were significant (p = 0.003). N- gain  value analysis shows that there  was also difference in  mathematical ability improvement after contextual learning, and difference in overall N-gain improvement was significant (p = 0.0005). It can be concluded that conceptual learning can improve students mathematical representation. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan representasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran kontekstual dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori baik secara keseluruhan maupun berdasarkan level prestasi belajar tinggi, sedang, dan rendah. Desain penelitian adalah kuasi eksperimen dengan pengambilan sampel yang bersifat purposif. Sampel penelitian adalah tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kota Pekanbaru dengan satu (1) sekolah sebagai wakil masing-masing level. Instrumen penelitian terdiri atas pretest dan posttest yang berisi soal-soal untuk mengetahui kemampuan representasi matematis siswa (kemampuan representasi visual, verbal, dan simbolik) pada materi relasi dan fungsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan representasi matematis berdasarkan level sekolah dan secara keseluruhan nilai rata-rata kelas ekspositori dan kelas kontekstual memiliki perbedaan yang signifikan (p = 0,003). Hasil analisis nilai N- gain menunjukkan bahwa juga terdapat perbedaan peningkatan kemampuan matematis setelah dilakukan pembelajaran kontekstual, dan secara keseluruhan perbedaan peningkatan N-gain signifikan (p = 0,0005). Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konseptual dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa.