cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan
ISSN : -     EISSN : 23387793     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
GAMBARAN STATUS GIZI PADA KEJADIAN ANEMIA REMAJA PUTRI DI SMPN 1 SUKASARI KECAMATAN SUKASARI SUMEDANG TAHUN 2019 Ekarini, -; Diani, Yusias Hikmat; Ayumas, Ni Luh; Panjaitan, Karisha V.; Manullang, Vania Revanita
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 1 No. 3 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia adalah keadaan dimana kadar hemoglobin berada dibawah nilai normal. Kadar hemoglobin dapat dipengaruhi oleh status gizi, akibat tidak seimbangnya kecukupan asupan gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Zat besi merupakan mineral yang penting bagi tubuh. Jika mengalami kekurangan zat besi akan mengakibatkan berkurangnya pembentukan sel darah merah, sehingga terjadi anemia. Anemia merupakan masalah kesehatan yang dapat terjadi pada seluruh tingkat kehidupan dalam masyarakat, terutama pada anak – anak, wanita hamil dan remaja, khususnya remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi pada kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 1 Sukasari Kecamatan Sukasari Sumedang Tahun 2019. Penelitian ini dilakukan sejak Desember 2019 - Februari 2020, dengan jenis penelitian observasional deskriptif. Sampel yang digunakan sebanyak 73 remaja putri. Kadar hemoglobin diukur menggunakan hemoglobinometer easytouch GC Hb, berat badan diukur dengan menggunakan timbangan dan tinggi badan menggunakan microtoise. Gambaran kejadian anemia remaja putri di SMPN 1 Sukasari adalah 16,4%. Sedangkan remaja putri dengan status gizi normal didapatkan sebanyak 67,1%. Kesadaran dan pengetahuan akan pentingnya asupan gizi terutama zat besi perlu ditingkatkan untuk mencegah anemia, khususnya pada remaja putri. Sebagian besar remaja putri tidak mengalami anemia dan memiliki status gizi normal.
JUMLAH SPERMA MOTIL YANG MEMBERIKAN KEBERHASILAN TERTINGGI PADA INSEMINASI INTRA UTERIN DI MORULA IVF JAKARTA PERIODE JUNI – OKTOBER 2018 Charit, Adwyna Bonniela; Sirait, Batara Immanuel
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infertilitas adalah kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih setelah berhubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Infertilitas dapat disebabkan akibat faktor pria maupun wanita. Inseminasi intra uterin (IIU) adalah salah satu bentuk pengobatan infertilitas. Prosedur yang dilakukan adalah memasukkan sperma yang telah melalui proses preparasi ke dalam kavum uteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sperma motil yang memberikan keberhasilan tertinggi pada inseminasi intra uterin di Morula IVF Jakarta periode Juni – Oktober 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian non eksperimental dan bersifat deskriptif. Data diambil secara retrospektif dengan penelusuran dokumen terdahulu yaitu rekam medis pasien yang menjalani inseminasi intra uterin di Morula IVF Jakarta periode Juni sampai Oktober 2018. Hasil penelitian akan dianalisis secara univariat. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, tingkat keberhasilan inseminasi intra uterin adalah 10%. Rata-rata motilitas sperma yang memberikan keberhasilan tertinggi adalah 78,69% sedangkan rata-rata jumlah sperma motilnya adalah 6,47 juta/ml.
LAPORAN KASUS: TATALAKSANA PASIEN LUKA BAKAR BERAT DENGAN TRAUMA INHALASI DI UNIT PERAWATAN INTENSIF Aziz, Arif Aminudin; Sobaryati
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Severe burns are burns with an area of > 25% of the body surface area that often require treatment in the Intensive Care Unit (ICU). This is especially so when inhalation trauma is suspected. The diagnosis of inhalation trauma needs to be made immediately to avoid life-threatening airway obstruction. In severe burns, there are physiological changes involving multiple organs. The handling must also involve multidisciplinary disciplines. Coagulopathy occurs immediately after burns, causing a microvascular reaction around the dermis resulting in expansion of the injury. This paper is a literature review for the requirements for intensive care consultant education exams. Case reports were obtained from ICU patients at Hasan Sadikin Hospital. The patient was treated for 5 days on a ventilator then burns treatment until he was in the High Care Unit room. The conclusion is that burns activate a systemic response due to loss of skin barrier, release of vasoactive mediators from the wound and subsequent infection. The result of this process is interstitial edema of organs and soft tissues. This process requires individual resuscitation treatment, depending on the parameters of the individual patient.
PATOFISIOLOGI GAGAL NAPAS DAN TERAPI SUPLEMEN OKSIGEN PADA COVID-19 Daradjat, Dhady Ginanjar; Maskoen, Tinni Trihartini; Redjeki, Ike Sri
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus Disease 19 diidentifikasi pertama kali pada Desember 2019 di Wuhan Cina dan saat ini menjadi pandemik seluruh negara di dunia. Meskipun jumlah pasien COVID 19 yang mengalami sakit kritis hanya sedikit, dimana membutuhkan perawatan di Intensive Care Unit dan tindakan ventilasi mekanik, namun jumlah populasi yang terinfeksi membuat sumber daya perawatan intensif menjadi terbatas. Gangguan sistem pernapasan berat merupakan salah satu permasalahan pada pasien COVID-19 dan menyebabkan angka mortalitas yang tinggi. Pemilihan terapi suplemen oksigen harus mempertimbangkan manfaat dan resiko infeksi yang dapat terjadi pada petugas kesehatan. Pemahaman mengenai patofisiologi gagal napas pada COVID-19 dan modalitas suplemen oksigen yang dapat diberikan akan membantu dalam penanganan pasien COVID-19. Tujuan penulisan ini untuk memberikan gambaran mengenai patofisiologi gagal napas pada pasien COVID-19 dan terapi suplemen oksigen yang dapat diberikan. Metode yang digunakan yaitu melalui studi pustaka dengan mengumpulkan dan mempelajari teori-teori serta informasi yang diperoleh dari buku serta menelaah dokumen dalam bentuk jurnal, internet dan makalah yang berhubungan dengan masalah penelitian. Kesimpulannya adalah Terapi suplemen oksigen merupakan salah satu strategi penanganan COVID-19 yang berat. Metode HFNC, NIV dan ventilasi mekanik adalah modalitas terapi untuk pasien gagal napas akibat COVID-19 yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pemilihan terapi suplemen oksigen juga harus mempertimbangkan kondisi pasien dan resiko penularan penyakit terhadap petugas kesehatan.
NUTRISI ENTERAL PADA PASIEN KRITIS DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) Wirawan Anggorotomo; Nurita Dian Kestriani
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malnutrisi merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien di rumah sakit. Sekitar 40% pasien dewasa mengalami malnutrisi sejak masuk rumah sakit, dan sebanyak dua pertiganya mengalami perburukan status nutrisi selama perawatan. Dukungan nutrisi memegang peranan penting dalam pencegahan dan penatalaksanaan defisiensi nutrisi di ICU. Rute pemberian nutrisi juga mempengaruhi hasil klinis. Terapi nutrisi secara khusus mengacu pada pemberian NE melalui akses enteral dan / atau nutrisi parenteral (NP) melalui akses vena sentral. Terapi standar mengacu pada pemberian cairan intravena (IV), tanpa NE atau NP, dan peningkatan diet oral sesuai toleransi Nutrisi enteral (NE) merupakan cara pemberian nutrisi yang relatif aman terhadap gastrointestinal dan sistem imun . Kekurangan dan komplikasi nutrisi enteral antara lain gangguan metabolik, seperti peningkatan kadar glukosa darah, ketidakseimbangan elektrolit, dan juga refeeding syndrome. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas metode pemberian nutrisi pada pasien-pasien di ICU, khususnya dengan pemberian nutrisi enteral (NE). Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dan dianalisis secara deskriptif. Kesimpulannya nutrisi enteral dapat diberikan kepada pasien ICU melalui pipa ke dalam lambung, nasogastrik tube, atau jejunal, dengan metode kontinu ataupun bolus. Namun tidak semua kasus dapat diberikan nutrisi enteral. Nutrisi enteral dapat diberikan pada pasien dengan saluran gastrointestinal yang berfungsi normal.
KARAKTERISTIK FAKTOR RISIKO ANEMIA DEFISIENSI BESI DALAM KEHAMILAN Simatupang, Januar; Togar, Yakob; Tondang, Advenny Elisabeth
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka prevalensi anemia maternal di Indonesia terus meningkat sehingga dapat menyebabkan masalah dan komplikasi selama dan setelah masa kehamilan. Beberapa faktor risiko telah dikaitkan dengan terjadinya angka kejadian anemia dalam kehamilan. Penilitian ini bertujuan untuk menghubungkan faktor-faktor risiko dengan angka kejadian anemia dalam kehamilan. Penelitian Cohort Retrospective dilakukan terhadap ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dari periode Januari 2018-Maret 2019 di Puskesmas Manggarai Selatan (n=56) , sampel dari populasi terdiri menjadi kelompok ibu hamil sehat (n=28) dan ibu hamil anemia (n=28). Beberapa faktor risiko yang dihubungkan adalah usia ibu, kenaikan berat badan selama hamil, IMT(Indeks Masa Tubuh) sebelum hamil, waktu saat pemberian tablet tambah darah pertama,paritas,pendidikan,dan usia kehamilan saat terdeteksi anemia. Wanita hamil dengan IMT kurang (RR 2,3 95% CI, p <0,002), wanita multipara (RR 1,3 95% CI, p <0,007), dan kehamilan trimester ketiga (RR 1,6 95% CI, p <0,03) meningkatkan risiko anemia pada kehamilan. Memulai suplementasi zat besi dari trimester pertama mengurangi risiko anemia (RR 0,4 95% CI, p <0,006) dan signifikansi statistik ditunjukkan dengan p-value <0,05). Meskipun dianggap tidak signifikan secara statistik, pendidikan tingkat rendah (RR 2,1 95% CI), dan kenaikan berat badan kehamilan yang kurang (RR 1,4 95% CI) menunjukkan kemungkinan peningkatan anemia pada kehamilan. IMT sebelum hamil, pemberian tablet tambah darah pertama kali, paritas dan usia kehamilan diasosiasikan dengan kejadian anemia.
MOBILISASI DINI DI ICU Muhari, Andie; Suwarman; Oktaliansah, Ezra; Sitanggang, Ruli H
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mobilisasi dini dan rehabilitasi pada pasien di perawatan ruang intensif harus dilaksanakan sesegera mungkin. Tindakan mobilisasi pada pasien di ruang perawatan intensif merupakan tindakan dasar keperawatan dan kebutuhan berdasar alasan klinis. Terjadinya gejala sisa jangka panjang termasuk terjadinya ICU-acquired muscle weakness (ICUAW) terjadi hingga 50% dari pasien yang dirawat dan berhubungan dengan kelemahan tubuh pada pasien dengan perawatan yang lama secara fungsi dan kualitas hidup. Risiko terjadinya perubahan kondisi dan atrofi otot sangat cepat pada keadaan tirah baring yang lama. Mobilisasi dini juga dapat mempercepat waktu pulih, mengurangi lama perawatan di ICU, mengurangi perawatan kembali ke ICU dan bahkan meningkatkan waktu survival rate. Mobilisasi dini pada pasien ICU secara konvensional dan mode baru pada perawatan penyakit kritis bertujuan untuk mengurangi efek buruk imobilisasi pada pasien kritis. Rehabilitasi fisik berjalan linier mulai dari aktifitas di tempat tidur, duduk, berdiri, dan berjalan. Penilaian fungsi di ICU berupa keluaran fungsi tubuh, kekuatan otot, massa otot, fungsi mobilitas, dan kualitas hidup. Tindakan fisioterapi penting dikerjakan di ICU untuk mengoptimalkan fungsi kardiopulmonal dan fungsi secara fisik. Fisioterapis harus mengikuti, mengevaluasi, dan memberikan terapi sejak fase akut hingga fase rehabilitasi.
PERUBAHAN JUMLAH MIKROBA SEBELUM DAN SESUDAH CUCI TANGAN MENGGUNAKAN SABUN ANTIBAKTERI PADA MAHASISWA AKADEMI KESEHATAN GIGI DITKESAD TAHUN 2019 Sulistiani, Silvia; Athallah, Tomy
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hand washing is one step that can be done to prevent the spread of disease. This study aims to determine changes in the number of microbes in the hands before and after washing hands using antibacterial soap in AKG Ditkesad students. The research design used in this study was cross sectional analysis. The method used is descriptive research conducted to describe a phenomenon that occurs in society. Research respondents numbered 50 students. Sampling used quota sampling technique. Respondents were asked to put their index fingers on sheep's blood media for a few seconds both before and after washing hands. Media is incubated and changes in the area of ​​bacteria in the media was observed. There is a significant difference between the area of ​​bacteria on blood agar before and after washing hands with antibacterial soap. It can be concluded that the respondents who washed their hands using antibacterial were 50 people consisting of 25 men and 25 women who were determined by lottery. Male respondents who experienced an increase in bacterial expansion totaled 7 (28%) and 18 (72%) experienced a reduction in bacterial expansion. Female respondents experienced an increase in bacterial expansion by 3 (12%) and 22 (88%) subjects experienced a reduction in bacterial expansion agar media.
TATALAKSANA TETANUS GENERALISATA GRADE III YANG DISERTAI DENGAN COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA DI RUANG PERAWATAN INTENSIF (LAPORAN KASUS) Nasution, Nur Intan; Sobaryati
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tetanus is an acute toxemia due to neurotoxins produced by Clostridium tetani characterized by periodic and severe muscle rigidity and spasme, which threatens life and is world health problem. Goals of tetanus management include: (1) neutralization of unbound toxin; (2) eradication of tetanospasmin source; (3) muscle spasm control and treatment of autonomic dysfunction; and (4) general supportive management. The purpose of this paper is to report and describe the successful management of tetanus with complications due to muscle spasm, autonomic dysfunction and respiratory failure in intensive care unit. The method used is case report with retrospective approach and analyzed descriptively. Male, 34 years old, was admitted with complaints of wholebody rigidity 1 day before admission accompanied with trismus, dysphagia, hypertension, tachycardia, risus sardonikus, opistotonus and spasm of all muscles. Patient was diagnosed with tetanus generalisata grade 3 and admitted for 18 days in intensive care unit using mechanical ventilation. Tracheostomy was performed on the sixth day. The patient was fully recovered and discharged after 35 days of hospitalization. It can be concluded that tetanus mortality rate remains high because of its complications and longterm care for critical illness. Immediate diagnosis, identification of complications, complication management, and quality of supportive management are keys in determining outcome.
PRODUKSI DAN CITA RASA SERTA KANDUNGAN POLIFENOL TEH KULIT MELINJO Saragih, Raskita; Tamizi, Ermiziar
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melinjo peels waste can be processed into herbal tea. A total of 22,963 tons per year of melinjo is processed into emping and that much waste of melinjo peels is also wasted (BPS Banten 2014). Red and green melinjo peels contains polyphenols, antioxidants and amino acid L glutamate acid (Saragih, R and Ermiziar, 2019). The aim of the research was to produce herbal teas from red and green melinjo peels, test their taste and aroma and analyze total polyphenols and antioxidants. Melinjo peels tea is produced by sorting the melinjo peels, washing, cutting and drying using an oven blower. A factorial randomized block design with two factors was used. Drying temperature factor with three levels: 55, 60 and 65oC and drying time with levels 4,5 and 6 hours. indicators tested for taste and aroma, total polyphenols and antioxidants. Melinjo peels herbal tea production process is best at a drying temperature of 65oC for 4 hours. The taste and aroma of red melinjo peels tea is preferred with values ​​of 3.60 and 3.28. Green melinjo peels tea, with a value of 3.52 and 2.88 means like it too. The total content of red melinjo peels tea polyphenols is 18.34 mg / L. and antioxidants 1.54 mg / kg. Green melinjo peels tea total polyphenols 4.87 mg / L and antioxidants 1.63 mg / kg. Red and green melinjo peels herbal tea has the potential as an alternative healty drinks.