cover
Contact Name
Nunung Ernawati
Contact Email
hws.healthjournal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hws.healthjournal@gmail.com
Editorial Address
S. Supriadi No. 22, Malang. 65147
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti
ISSN : 23024283     EISSN : 25809571     DOI : https://doi.org/10.47794
Core Subject : Health,
Jurnal ini berisi tulisan tentang gagasan konseptual, kajian dan aplikasi teori, tulisan praktis dan hasil penelitian bidang kesehatan, umumnya bidang keperawatan, kebidanan, akupunktur, farmasi, fisioterapi, dan aplikasi kesehatan.
Articles 184 Documents
PEMBERIAN TELUR AYAM REBUS PADA REMAJA PUTRI USIA 19 TAHUN YANG MENGALAMI ANEMIA DEFISIENSI BESI Rachelania Welinta Putri; Nur Khomariyah; Reny Retnaningsih
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh. Anemia pada remaja putri dikarenakan gaya hidup yang dinamis dan adanya fase menstruasi tiap bulan. Tanda khas pada anemia defisiensi besi menunjukkan hasil laboratorium Hb
STUDI KORELASIONAL PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU DALAM PENCEGAHAN TB PARU PADA ANAK DI POLI ANAK RUMAH SAKIT TK II dr. SOEPRAOEN Nunung Ernawati; Fitria Rahmawati
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latarbelakang: penyakit TB paru yang sering timbul pada usia anak disebut infeksi primer, sebagai orang tua seharusnya dapat mengenali tanda penyakit tuberculosis sehingga orang tua dapat melakukan tindakan pencegahan ataupun penatalaksanaan secara dini pada penyakit tuberkulosis karena penyakit ini bila tidak diobati sedini mungkin dan setepat-tepatnya dapat timbul komplikasi yang berat dan reinfeksi pada usia dewasa.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang TB paru dan perilaku ibu dalam pencegahan Tb paru pada anak. Metode: desain penelitian ini menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mengantar anaknya berobat ke Poli Anak RS TK II dr. Soepraoen Malang dengan jumlah rata-rata35/hari, besar sampel penelitian berjumlah 32 orang yang sesuai kriteria sampel, menggunakan teknik quota sampling. Penelitian dilakukan pada tanggal 18-29 Agustus 2013 data diolah dengan uji statistic chi kuadrat dengan α 0,05. Hasil penelitian: berdasarkan uji analisis didapatkan x2 hitung = 19,44 dan x2 tabel 5,991. Oleh karena x2 hitung > x2 tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang TB paru anak dengan perilaku pencegahan terhadap TB Paru pada anak. Saran: program promosi kesehatan dalam pengendalian penyakit TB paru pada anak, sehingga dapat dilakukan tindakan preventif dan early diagnosis sehingga dapat mencegah kecacatan dan menurunkan angka kematian akibat penyakit TB paru pada anak. Kata kunci: pengetahuan,ibu, perilaku pencegahan, TB paru ABSTRACT Introdution: Pulmonary tuberculosis disease that often arise of the child is called a primary infection, as parents should be able to recognize the signs of tuberculosis so that parents can take precautions or early prompt treatment of pulmonary tuberculosis because the disease if not treated early will can be of severe complications and reinfection in adulthood phase. The research purpose was to determine the relationship between maternal knowledge about pulmonary tuberculosis and maternal preventive behaviour of pulmonary tuberculosis. The population in this study were all accompanied her mother was invited at Poli anak RS TK II dr. Soepraoen Malang and sample size was 32 people with quota sampling. The study was conducted on 18-29 August 2013 and data were processed with chi squared test with α = 0.05. Result: The based on the study were X2=19.44 > X2 table = 5.991 table, so Ho rejected and Ha accepted, its meaning that there is a relationship between maternal knowledge about children with pulmonary tuberculosis preventive behavior of child. Discuss: health promotion program for control of pulmonary tuberculosis disease of child, so it can be carried out preventive and early diagnosis so as to prevent disability and reduce morbiditas number from pulmonary tuberculosis disease of child. Keyword: knowledge, mother, preventive behavior, pulmonary tuberculosis
AKURASI REVISED TRAUMA SCORE SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITY PASIEN CEDERA KEPALA Riki Ristanto; M Rasjad Indra; Sri Poeranto; Ika Setyo Rini
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan akibat trauma yang membutuhkan tindakan cepat dan efisien untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Pengukuran keparahan trauma adalah langkah yang sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat, efektif dan efisien untuk mencegah kecacatan dan kematian pasien cedera kepala. Revised Trauma Score (RTS) adalah merupakan physiologycal scoring systems yang dapat digunakan sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penilaian RTS dapat mengidentifikasi lebih dari 97% orang yang akan meninggal jika tidak mendapat perawatan dan kemampuan RTS dalam menentukan kondisi yang membahayakan jiwa adalah 76,9%. Namun, pada penelitian di Belanda, RTS memiliki nilai prediktif yang lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian RTS terdahulu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui akurasi penggunaan Revised Trauma Score sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan design cohort retrospektif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 96 orang. Hasil analisis Uji Mann-Whitney penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mortality pasien dalam 7 hari perawatan dengan score GCS, SBP, RR dan SpO2 dengan p value dari semua variabel independen < 0.05. Hasil Uji regresi logistik menunjukkan bahwa persamaan RTS (GCS, SBP, RR) memiliki nilai p value Uji Hosmer and Lamesho = 0.849, nilai sensitivity sebesar 0.93, specificity 0.863, Positive Predictive Value (PPV) 0.95, Negative Predictive Value (NPV) 0.79, dan dengan AUC 0.942 (CI95% 0.88-0.99). Maka persamaan RTS (GCS, SBP, RR) memiliki kualitas diskriminasi, kalibrasi dan akurasi yang baik, sehingga persamaan RTS (GCS, SBP, RR) dapat digunakan sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penggunaan persamaan RTS (GCS, SBP, RR) masih layak sebagai alat bantu dalam triage pasien cedera kepala. Kata kunci : Mortality, Pasien Cedera Kepala, RTS. Abstract Head injury is one of the major causes of death and disability due to trauma requiring fast and efficient action to prevent worsening of the patient's condition. Trauma severity measurement is a very important step to support clinical decision making proper, effective and efficient to prevent disability and death of head injury patients. Revised Trauma Score (RTS) is a physiologycal scoring systems that can be used as a predictor of mortality head injury patients. Rate RTS can identify more than 97% of people who will die if not treated and RTS in determining the ability of life-threatening conditions is 76.9%. However, in a study in the Netherlands, RTS has a lower predictive value when compared with the results of previous RTS. The purpose of this study to determine the accuracy of the use of Revised Trauma Score as predictors of mortality head injury patients. This study was an observational study with retrospective cohort design. The sample in this study amounted to 96 people. The results of the Mann-Whitney test analysis showed that there was significant relationship between patient mortality within 7 days of Ristanto, Akurasi Revised Trauma Score Sebagai Prediktor Mortality 77 treatment with a score of GCS, SBP, RR and SpO2 with the p value of all the independent variables of
PEMBERIAN EXTRA VIRGIN OLIVE OIL (EVOO) UNTUK MENGATASI DIAPER RASH (RUAM POPOK) PADA BAYI USIA 1-12 BULAN Pristi Desy Puspitasari; Rosyidah Alfitri; Ina Indriati
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan Diaper rash atau ruam popok merupakan ruam merah terang yang disebabkan oleh iritasi dari kulit terkena urin atau kotoran yang berlangsung lama di bagian mana saja dibawah popok anak. Untuk menyembuhkan diaper rash (ruam popok) dapat diberikan terapi nonfarmakologi yaitu extra virgin olive oil (EVOO). Manfaat pemberian extra virgin olive oil (EVOO) yang mengandung fenol dan asam esensial dapat melawan ruam pada pantat bayi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pemberian Extra Virgin Olive Oil (EVOO) dalam mengatasi diaper rash (ruam popok) pada bayi usia 1-12 bulan. Metode penelitian yang akan digunakan adalah deskripsi observasional dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 2 subyek. Penelitian dilakukan dengan setiap hari dengan mengolesi Extra Virgin Olive Oil (EVOO) sebanyak 4 kali selama ≤ 7 hari. Pengumpulan data menggunakan lembar pengkajian, observasi, SOP, dan dokumentasi foto. Hasil penelitian dan observasi tentang penanganan diaper rash (ruam popok) didapatkan bahwa pada subyek pertama dinyatakan sembuh dalam 4 hari dan pada subyek kedua dinyatakan sembuh dalam 7 hari. Dari hasil penelitian terbukti extra virgin olive oil (EVOO) dapat menyembuhkan diaper rash (ruam popok). Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan bayi usia 1-12 bulan yang mengalami diaper rash (ruam popok) dapat memberikan extra virgin olive oil (EVOO) untuk menyembuhkan diaper rash (ruam popok). Kata kunci : Bayi usia 1-12 bulan, diaper rash, extra virgin olive oil (EVOO) ABSTRACT Introduction Diaper rash is bright red rash caused by irritation of the skin exposed to urine or feces that lasted long in any part of a child's diaper below. To heal diaper rash can be given non pharmacological therapy with extra virgin olive oil (EVOO). The health benefits of extra virgin olive oil (EVOO) containing phenol and essential acids can fight a rash on a baby's bottom. The aim of the research is to find out the provision of Extra Virgin Olive Oil (EVOO) in dealing with diaper rash in infants aged 1-12 months. The research method to be used is the description of the observational case study approach. Subjects were selected based on inclusion and exclusion criteria as much as 2 subjects. Research carried out by every day by smearing Extra Virgin Olive Oil (EVOO) 4 times for ≤ 7 days. Collecting data using sheet assessment, observation, SOP, and photo documentation. Results of research and observations on the handling of diaper rash found that in the first subject was declared cured in 4 days and on the second subject was declared cured within 7 days. From the results of the study proved to be extra virgin olive oil (EVOO) can heal diaper rash. By doing this research is expected to infants aged 1-12 months who have diaper rash can provide extra virgin olive oil (EVOO) to heal diaper rash. Keywords: Infants aged 1-12 months, diaper rash, extra virgin olive oil (EVOO)
PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN ROBEKAN PERINEUM MENGGUNAKAN CHLORHEXITIDINE GLUCONATE DAN TRYCLOSAN PADA TINDAKAN VULVA HYGIENE DI BPM “S.A” KECAMATAN TUMPANG Rifzul Maulina
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan Robekan Perineum adalah robekan yang terjadi antara vagina dan rektum. Robekan perineum akan cepat sembuh dengan tindakan vulva hygiene. Vulva hygiene bisa menggunakan chlorhexitidine gluconate ataupun tryclosan. Kandungan chlorhexitidine gluconate yang berperan sebagai dari bakteriocid dan bakteriostatik yang bersifat membunuh dan menghambat pertumbuhan kuman sedangkan kandungan tryclosan berperan sebagai bakteriostatik bersifat menghambat pertumbuhan kuman. Dari kedua antiseptik ini diharapkan bisa menurunkan resiko infeksi sehingga penyembuhan luka cepat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepatan penyembuhan robekan perineum menggunakan chlorhexitidine gluconate ataupun tryclosan pada tindakan vulva hygiene. Desain penelitian ini menggunakan quasy eksperimental design. Populasi semua ibu nifas yang memenuhi kriteria inklusi di BPM “S.A” dengan sampel berjumlah 20 orang yaitu 10 orang yang diberikan intervensi vulva hygiene menggunakan chlorhexitidine gluconate dan 10 orang yang diberikan intervensi vulva hygiene menggunakan tryclosan dengan menggunakan teknik kuota sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan data dianalisis menggunakan Mann Whitney U Test dengan signifikan α=0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan p = 0,022 sehingga mempunyai nilai hitung p ≤ 0,05 yang menunjukkan Ho ditoalak artinya terdapat perbedaan percepatan penyembuhan robekan perineum yang menggunakan chlorhexitidine gluconate ataupun tryclosan. Vulva hygiene menggunkan chlorhexitidine gluconate, keadaan luka lebih cepat sembuh daripada menggunakan tryclosan pada hari ke-7 post partum. Disarankan bagi tenaga kesehatan khusunya bidan untuk selanjutnya melakukan tindakan vulva hygiene menggunakan chlorhexitidine gluconate pada ibu post partum dengan robekan perineum. Kata kunci : penyembuhan robekan perineum, vulva hygiene ABSTRACT The perineum laceration is a laceration that occurs between the vagina and rectum. Perineal lacerations will quickly recover with vulvar hygiene. Vulva hygiene could use chlorhexitidine gluconate or tryclosan. The content chlorhexitidine gluconate which as bacteriostatic and bakteriocid, that is to kill and inhibit the growth of bacteria, while the content of tryclosan act as bacteriostatic is inhibiting the growth of bacteria. From both an antiseptic is expected to decrease the risk of infection and laceration healing occurs rapidly. This study aims to determine the difference healing perineal lacerations using chlorhexitidine gluconate or tryclosan on vulva hygiene. The Design of this study using an quasy experimental design. The population of all postpartum who meet the criteria for inclusion in BPM “SA” with a sample of 20 people which 10 people were given hygiene interventions vulva using chlorhexitidine gluconate and 10 people were given hygiene interventions vulva using tryclosan using accidental sampling technique. The Collecting data using observation sheet and the data were analyzed using the Mann Whitney significant U Test with α = 0.05. The results of this study showed p = 0.022 so as to have the calculated value p ≤ 0.05, which indicates Ho rejected means that there are differences in acceleration of healing perineal lacerations that uses chlorhexitidine gluconate or tryclosan. Vulva hygiene using the chlorhexitidine gluconate, state cuts heal faster than using tryclosan on the 7th day post partum. Suggested for health personnel especially midwives for further action vulvar hygiene using chlorhexitidin gluconate in with post partum perineal laceration Keyword : The healing perineum laceration, vulva hygiene
PEMBERIAN VITAMIN B6 SEBAGAI UPAYA MENGURANGI KECEMASAN PADA REMAJA AKHIR DENGAN PREMENSTRUASI SYNDROM Ulul Fikriya; Yeni Agus Safitri; Tut Rayani Aksohini Wijayanti
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan Salah satu masalah kesehatan reproduksi yang banyak dialami wanita usia reproduktif adalah terjadinya premenstruasi sindrom yang merupakan gangguan siklus yang umum terjadi pada wanita ditandai dengan gejala fisik dan emosional yang konsisten, terjadi selama fase luteal pada siklus menstruasi. Berbagai metode penanganan premenstruasi sindrom dapat dilakukan, baik farmakologi maupun non farmakologi.Terapi meliputi pemberian progesteron, kontrasepsi oral, vitamin B6 dan diuretika. Vitamin B6 dibutuhkan untuk mengontrol produksi zat serotonin pada otak yang dapat mengurangi kecemasan yang merupakan salah satu gejala psikologi yang timbul saat premenstruasi sindrom terjadi. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kecemasan pada remaja akhir dengan premenstruasi sindrom dengan pemberian vitamin B6 di Karangtaruna Cemara Bhakti. Metode penelitian yang akan digunakan adalah deskripsi observasional dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 1 subyek penelitian. Observasi dilakukan pada remaja akhir yang mengalami premenstruasi syndrom. Pemberian vitamin B6 sebanyak 10 mg selama dua minggu. Pengumpulan data menggunakan lembar wawancara, SOP, SAP, dan instrumen HARS. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terjadinya penurunan kecemasan yang dialami Nn. “S” dengan premenstruasi syndrome setelah pemberian vitamin B6. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terjadi penurunan kecemasan pada remaja “S” setelah pemberian vitamin B6 dari kecemasan sedang menjadi kecemasan ringan. Kata kunci : Remaja, kecemasan, premenstruasi sindrom, vitamin B6 ABSTRACT Introduction One of reproductive health problems experienced by a lot of women of reproductive age is the occurrence of premenstrual syndrome, which is a common cycle disorders in women is characterized by physical and emotional symptoms that consistently occur during the luteal phase of the menstrual cycle. Various methods of handling premenstrual syndrome can be done, both pharmacological and non pharmacology. Therapy include progesterone administration, oral contraceptives, vitamin B6 and diuretics. Vitamin B6 is needed to control the production of serotonin in the brain substance that can reduce anxiety which is one of the psychological symptoms that arise when premenstrual syndrome occurs. The aim of research to identify anxiety in the late teens with premenstrual syndrome by administering vitamin B6 in Karangtaruna Fir Bhakti. The research method to be used is the description of the observational case study approach. Subjects were selected based on inclusion and exclusion criteria as much as 1 study subjects. Observations made in the late teens who experience premenstrual syndrome. Giving vitamin B6 10 mg for two weeks. Collecting data using the questionnaires, SOP, SAP, and HARS instruments. The results of this study showed a decrease in anxiety experienced by Ms. "S" with premenstrual syndrome after administration of vitamin B6. The conclusion of this study is the decrease anxiety in adolescents "S" after the administration of vitamin B6 from anxiety is becoming mild anxiety. Keywords: Teen, anxiety, premenstrual syndrome, vitamin B6
TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS) SESI 1-4 MENURUNKAN TINGKAT DEPRESI PADA PENDERITA HIV POSITIF Yustina Kristianingsih; Rosy Ameyli
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan masalah psikologis seperti depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan tingkat depresi sebelum dan sesudah diberikan Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TAKS) pada penderita HIV positif di Yayasan Bina Hati Surabaya.Desain penelitian ini adalah One Group Pra-Post Test Design dengan menggunakan quota sampling dan jumlah sampel sebanyak 32 responden.Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tingkat depresi berupa pertanyaan tertutup dengan 21 item pertanyaan. Hasil uji statistik yang menggunakan uji Wilcoxon, p
PENGARUH PENERAPAN PENCEGAHAN MEDICATION ERROR TERHADAP PERILAKU PERAWAT TENTANG TUJUH BENAR PEMBERIAN OBAT DI RSUI KABUPATEN MALANG heny nurma yunita; Apriyani puji hastuti
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Introductions: Medication errors are one of the types of errors that can lower the quality and safety of health care. Nurses play an important role in preventing medication errors due to improper administration of drugs. In general actions the administration of drugs to the act of injection is less committed to the principles 7 right medicine that is really the time and documentation for the current administration of the drug does not simultaneously but rather through a sequence of patient rooms while on documentation nurses only write action alone and missed report on how the patient's response to the drugs given. This study aimed to analyze the effect of applying the prevention of medication errors to correct the behavior of the nurses on seven drug administration. Method :This research uses experimental design approach quasy pre posttest design with control group involving 29 respondents treatment group and the control group of 29 people selected by purposive sampling. Analysis of the data by using the Wilcoxon Signed Rank Test was used to test the effect of medication error prevention models of the behavior of the nurses about seven correct administration of drugs and Mann Whitney were used to compare between the control group and the treatment group. Results: The results of statistical tests showed that improper patients (p = 0.071), improper medication (p = 0.689), not exactly the way (p = 0.79), not on time (p = 0.062), improper documentation (0.353), is not exactly a side effect (p = 0.01) and the incidence is not expected (p = 0.03). Of interventions on the application of medication error prevention to the behavior of the nurses on the principles of correct drug administration showed that it was not the right time (p = 0.000), no proper documentation (p = 0.000), not exactly adverse events (p = 0.000). Conclusion: The application of medication error prevention effect on the timeliness, accuracy of documentation, to check the accuracy of side effects. Keywords: Medication error, nurse behaviour, 7 right drug administration ABSTRAK Introduksi: Medication error merupakan salah satu tipe kesalahan yang mampu menurunkan kualitas dan keamanan pelayanan kesehatan. Perawat berperan penting dalam mencegah terjadinya medication error akibat kesalahan pemberian obat. Secara umum tindakan pemberian obat pada tindakan injeksi kurang melakukan prinsip 7 benar obat yaitu benar waktu dan dokumentasi karena saat pemberian obat tidak bersamaan melainkan melalui urutan kamar pasien sedangkan pada dokumentasi perawat hanya menuliskan tindakan saja dan melewatkan melaporkan tentang bagaimana respon pasien terhadap obat yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penerapan pencegahan medication error terhadap perilaku perawat tentang tujuh benar pemberian obat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasy eksperimen dengan pendekatan pre posttest design with control grup yang melibatkan 29 responden kelompok perlakukan dan 29 orang kelompok kontrol yang dipilih secara cluster sampling. Analisa data dengan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test digunakan untuk menguji pengaruh model pencegahan medication error terhadap perilaku perawat tentang tujuh benar pemberian obat dan Mann Whitney digunakan untuk membandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hasil: Dari hasil uji statistik didapatkan hasil bahwa tidak tepat pasien (p= 0,071), tidak tepat obat (p=0,689), tidak tepat cara (p=0,79), tidak tepat waktu (p=0,062), tidak tepat dokumentasi (0,353), tidak tepat efek samping (p=0,01) dan kejadian tidak diharapkan (p=0,03). Dari intervensi tentang penerapan pencegahan medication error terhadap perilaku perawat tentang prinsip benar pemberian obat didapatkan hasil bahwa tidak tepat waktu (p=0,000), tidak tepat dokumentasi (p=0,000), tidak tepat efek samping (p=0,000). Kesimpulan: Penerapan pencegahan medication error berpengaruh terhadap ketepatan waktu, ketepatan dokumentasi, ketepatan untuk mengecek efek samping. Kata Kunci: Medication error, perilaku perawat, prinsip 7 benar pemberian obat.
Diskripsi Klien cedera kepala yang mengalami trauma mayor Riki Ristanto
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera kepala adalah trauma yang menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan akibat trauma (Madikian & Giza, 2006; Tjahjadi et al., 2013). Kejadian cedera kepala meningkat tajam terutama karena meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor (Lee et al, 2015). Tingginya angka kejadian cedera kepala akan berdampak pada peningkatan beban kerja dokter maupun perawat yang bertugas di IGD sehingga berdampak pada penurunan kualitas pelayanan dan dapat menurunkan outcome perawatan klien cedera kepala (Li et al, 2014). Dibutuhkannya kesiapan dan kewaspadaan tim perawatan khususnya di IGD agar dapat mencegah kondisi terburuk yang dapat terjadi pada klien cedera kepala. Desain penelitian yang digunakan adalah diskriptif. Metode sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel yang diambil 96 data rekam medis klien cedera kepala. Untuk data usia, nilai ISS klien dilakukan analisa dengan nilai median sebagai ukuran pemusatan dan minimum-maksimum sebagai ukuran penyebaran. Untuk data jenis kelamin, mekanisme cedera, dan mortality klien dilakukan analisa dengan menghitung distribusi frekuensi dan presentasi masing-masing kelompok. Jumlah klien laki-laki yang mengalami cedera kepala (70 orang atau 72.9%) lebih banyak dibandingkan jumlah klien perempuan (26 orang atau 27.1%). Pada data klien cedera kepala yang meninggal, didapatkan bahwa klien perempuan (22 klien atau 69%) yang meninggal jumlahnya lebih banyak dibandingkan jumlah klien laki-laki (10 klien atau 31%) yang meninggal akibat cedera kepala. Median usia klien cedera kepala adalah 37 tahun dengan rerata 38.31 (20-63). Pada data klien cedera kepala yang meninggal didapatkan hasil bahwa jumlah klien terbanyak yang mengalami cedera kepala pada kelompok usia 20 – 40 tahun yaitu 57 klien atau 60%. Pada data mortality klien didapatkan bahwa jumlah klien yang hidup hingga hari ke 7 perawatan (64 klien atau 66.7%) lebih banyak dibandingkan dengan jumlah klien yang meninggal (32 klien atau 33.3%). Kecelakaan lalu lintas (82 atau sekitar 85.4%) adalah mekanisme cedera yang paling sering terjadi dibandingkan dengan mekanisme cedera jatuh dari ketinggian (7 kejadian atau 7.3%) atau benturan dengan benda tumpul (7 kejadian atau 7.3%). Kecelakaan lalu lintas juga merupakan mekanisme cedera dari semua klien yang meninggal pada penelitian ini. Score ISS klien cedera kepala adalah 21 dengan rerata 24 (17-38), score ISS klien cedera kepala yang meninggal memiliki rata-rata 24. Klien cedera kepala didominasi oleh laki-laki dengan kisaran usia 20-40 tahun, yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas dan dengan rata-rata 33,3% berdampak pada kematian.
PENGARUH METODE COURSE REVIEW HORAY TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTIK PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK USIA SEKOLAH Aloysia Ispriantari
Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran PHBS anak usia sekolah berbeda dengan pembelajaran pada orang dewasa karena anak usia sekolah masih berada pada fase operasional konkret. Anak usia sekolah lebih menyukai pebelajaran dengan kondisi yang menyenangkan dan dilakukan dalam bentuk permainan. Salah satu metode yang bisa dilakukan adalah dengan metode Course Review Horay dimana dalam metode ini menggunakan metode permainan yang membuat anak lebih aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan serta mampu menyerap lebih banyak pemahaman tentang materi yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode Course Review Horay terhadap pengetahuan, sikap dan praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak usia sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimental dengan desain penelitian menggunakan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel terdiri dari 48 responden yang diambil secara purposive sampling. Variabel yang diukur adalah adalah tingkat pengetahuan, sikap dan praktik tentang PHBS sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan PHBS melalui metode Course Review Horay. Dari data uji statistik Paired t-test didapatkan hasil p value pada variabel tingkat pengetahuan, sikap dan praktik sebesar 0.003, 0.025, 0.040 (p

Page 3 of 19 | Total Record : 184