cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
LOCAL KNOWLEDGE MASYARAKAT MADURA: Sebuah Strategi Pemanfaatan Ekologi Tegal Di Madura Hefni, Moh.
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracFor Indonesia, as an agro-country, soil remains the important factor of production that can take its people to prosperity. This has been determined by the ecological structure of a certain region as well. The later factor contributes the enrichment of agriculture production level. Unlike Java island that is dominated by sawah (watery field) farming system, Madura island is covered mostly by tegalan (dry filed). Having such kind of field, Madurese do a series of research and investigation. The result is that they are able to obtain a local knowledge. This is about how to manage local natural resources that sets up an cherished and equal relationship between environment and those people. It can avoid a massive exploitation. Local knowledge is a form of environment wisdom that has been traditionally maintained and inherited from generation to generation. In running the nature, Madurese cultivates a number of plant varieties. They include subsystem plants---rice and corn, and commercial plant such as tobacco. However, not all rice varieties can be planted in tegalan.  Madurese hold safety-first principle meaning they plants a certain rice variety just to complete the family needsKata-kata kuncilocal knowledge, ekologi tegal, pembuatan keputusan, jagung, padi, tembakau,  subsistensi
RUH ISLAM DALAM “WADAG” LOKAL MADURA: Kasus “Tanean Lanjeng” Susanto, Edi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracThis paper presents an interaction between Islam and local culture of Madurese. The locus of the study has been Taneyan Lanjeng. It is viewed as a total reflection of Madurese in applying the thought of Islam, thus it is well-off Islamic values. The digging of meaning behind Taneyan Lanjeng, as cultural metaphor, is necessaity to realize Islam as an environment-care religion. The term of environment covers social, cultural and perhaps natural environments  Kata-kata kunciruh Islam. tanèyan lanjèng
REHABILITASI HUTAN MANGROVE: Pelestarian Ekosistem Pesisir Pantai dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Haryanto, Rudi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracMadura coastal ecosystem has a variety of biological resources. It either has been productive  or possesses  a high quality economic value. The coastal area Aberration  becomes one of the factors of the coastal ecosystem damages. Furthermore, the uncontrolled exploitation of natural resources along the coastal areas exacerbates the damage. The absence of belonging sense among the coasters toward the mangrove forest- ecosystem seems the factor either. It needs a rehabilitation of mangrove forest to anticipate as well as to discontinue the damage area.  In order to apprehend this, a comprehensive maintenance of the whole stakeholders must be taken. It should involve an active participation of community in the course of community based management approach.Kata-kata Kunciabrasi, rehabilitasi, ekosistem , pesisir, mangrove, masyarakat pesisir
ISLAM, KESEHATAN DAN LINGKUNGAN HIDUP: Studi Tentang Jamu Madura Handayani, Sri
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracIslamic teaching, to maintain quality of healthy life, has inspired Madurese. This island has treasure of culture that harmonizes  Islamic credo. This article studies people’s notion on Madurese herbal ingredients, the existence of Madurese herbs  in dealing with environment conservation, socio-cultural value, and today’s people perception toward Madurese herbs. The result of study shows that Madurese herbs has been the work of Madurese ancestors and piece of traditional treasury to keep a healthy life. Presently, it is assumed that Madurese herbs hold up the harmony of husband and wife intimate relationship.  This is undeniable fact but Madurese herbs also enclose the other restorative power instead.  The cultivation of Madurese herbal ingredients will give a good impact to the effort of environment conservation.  This is also expected to preserve the drinking help tradition as a medium to have a healthy life. To conserve environment means to obey the Islamic teachingKata-kata Kuncijamu Madura, lingkungan hidup, sosial-budaya
BENCANA ALAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN BUDAYA MADURA Muhlis, Achmad
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrac:Natural disasters occurring in this country always effect a deep grief to the people. Despite the fact that a number of rhetoric have been  reconstructed to overcome the disaster  from new order up to reformation order. Unfortunately, this is not supported by a concrete action. The questions are that weather the disaster is  either an admonition or a punishment given by Allah?  Why Allah rebukes this country so terribly. This short paper is about to disclose the  meaning behind the disaster from the view point of al-Qur’anKeyword:bencana alam, murka Allah, tolak bala’
REVITALISASI NILAI LUHUR TRADISI LOKAL MADURA Edi Susanto, Edi Susanto
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kuatnya arus modernisasi telah menyebabkan kearifan lokal menjadi tereliminasi dan tergantikan oleh grand narrative, yang hingga batas tertentu menyebabkan manusia tercerabut dari akar tradisinya, sehingga mengalami krisis jati diri dan keterputusan budaya. Tulisan ini berusaha menunjukkan pentingnya revitalisasi tradisi lokal kemaduraan sebagai usaha awal menemukan mata rantai tradisi yang mulai tergerus dominasi dan hegemoni modernisasi. Dengan melakukan revitalisasi, diharapkan akan dapat ditampilkan kembali jati diri kemaduraan yang khas, yakni wajah keberislaman ala Madura, yang sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dari mainstream keislaman normatif.   Kata kunci: revitalisasi, Tradisi lokal, Kearifan lokal Madura  
DIMENSI EPISTEMOLOGIS TRADISI RITUAL SAMMAN DALAM MASYARAKAT MADURA (Telaah dalam Perspektif Epistemologi ‘Abd al-Jabbar) Hidayat, Ainurrahman
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini berusaha semaksimal mungkin merefleksikan dimensi epistemologis tradisi ritual samman, sebagai tradisi budaya masyarakat Madura, dalam perspektif ‘Abd al-Jabbar. Hasil refleksi menunjukkan bahwa tradisi ritual samman dalam masyarakat Madura merupakan salah satu media latihan mencapai ekstase religius menuju Sang Khalik. Semua itu dilakukan dalam rangka terciptanya ketenangan batin, ketenteraman, rasa aman, dan kesejahteraan hidup. Seluruh prosesi tradisi ritual samman terdiri dari lima babak yang meliputi aspek gerakan, bacaan, dan formasi berupa pusat orbit lingkaran. Simbol-simbol dalam tradisi ritual samman terdiri dari simbol tarian sakral, pusat orbit lingkaran, huruf serta simbol Allah dan Muhammad. Dimensi epistemologis tradisi ritual samman merupakan pengetahuan yang dimiliki masyarakat Madura tentang tradisi ritual samman sebagai hasil dialektika antara unsur obyektif berupa fakta-empiris-sensual dan fakta-akal-budi-rasional yang bersifat korespondensi, dan unsur subyektif berupa ketenangan jiwa dalam meyakini kebenaran tradisi ritual samman yang bersifat koherensi dengan ajaran Islam. Kata kunci: samman, epistemologi, korespondensi, dan koherensi
ROKAT BHUJU’ VIS-À-VIS KOMPOLAN (Metamorfosis Elit Madura Pasca Keruntuhan Orde Baru) Halik, Fathol
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berpijak pada asumsi bahwa perubahan sosial tidak selalu diiringi dengan perubahan pemimpin. Pada komunitas yang telah mapan, perubahan pemimpin bukan merupakan hal yang utama dalam relasi sosial, terutama dalam tradisi masyarakat pedesaan di Madura, seperti fenomena relasi sosial antar elit bhuju’ Juruan di Batuputih Sumenep. Yang menarik dalam tradisi bhuju’ Juruan adalah rokat bhuju’. Sebuah tradisi yang berkenaan dengan aktivitas seni, hiburan, dan sosial-“keagamaan” berupa pembacaan matera, kejungan, ataupun mamaca. Rokat bhuju’ dilakukan oleh masyarakat yang “kurang mengerti agama”, reng ledha’, reng gunung bhato kalettak, tandha’, bhajingan (blater), dan orang awam atau abangan. Tradisi ini dilakukan dengan pemujaan terhadap makam orang sakti dengan mengetengahkan sesaji, buah-buahan ataupun beras yang diletakkan di altar pemakaman sebagai bagian dari ritual sebagian masyarakat Madura. Realitas ini seakan paradoksal dengan masyarakat Madura yang taat beragama. Bagi masyarakat Madura rokat bhuju’ berbeda dengan kompolan. Suatu aktivitas keagamaan yang digelar dengan mengundang orang lain, tetangga, famili ataupun jemaah masjid untuk berdoa, seperti pembacaan tahlil, yasiin, barzanji, al-Qur’an, ataupun ceramah agama. Kompolan bukan ansich spiritual, ada pula kebutuhan psikologis, jaringan sosiologis antar manusia, kebutuhan sosialisasi, aktualisasi dan kebersamaan melalui tradisi keagamaan. Motif sosial dan keagamaan menjadi bagian penting dari tradisi kompolan. Tradisi kompolan juga memunculkan tokoh lokal dan pengikut (follower) dari kalangan santri, keyae, orang haji (agamis). Sehingga media yang digunakan pun berbeda. Hadrah, dhiba’, samroh, Cinta Rasul, tongtong, qasidah digunakan dalam kompolan, sementara lodrok, tandha’, saronen, bhajang oreng, orkes, tayub identik dengan rokat bhuju’. Bagi kalangan agamawan (santri, kyai dan ulama’) rokat bhuju’ harus dirubah. Sebagian tokoh Madura menghendaki pergantian aktivitas-ritual dalam kegiatan tersebut, berupa “budaya tandingan”, budaya yang baru. Rokat bhuju’ yang dilaksanakan untuk memperingati peninggalan, tradisi, serta jasa tokoh/orang sakti yang telah meninggal hendak dirubah menjadi aktivitas keagamaan. Hal itu dimaksudkan supaya pengikut (followers) rokat bhuju’ insyaf, atau kembali kepada jalan Allah. Meskipun tidak terjadi pergantian pemimpin, namun dalam konteks ini telah terjadi proses metamorfosis, dimana tokoh tidak lagi berasal dari kalangan luar rokat bhuju’. Akan tetapi, berasal dari keturunan tokoh perintis rokat bhuju’ sendiri dengan lebih mengedepankan kegiatan keagamaan dan rokat berganti menjadi kompolan. Strategi ini merupakan hasil pendekatan pada tokoh melalui keturunan/anak-anak yang bersekolah di pesantren di Madura.   Kata kunci: rokat bhuju’, kompolan, keyae, metamorfosis
CROSS MARRIAGE (Sebuah Model Pembauran Budaya Antar Komunitas Cina, Arab, India, Jawa dan Madura di Sumenep Kota) Masyhur Abadi, Masyhur Abadi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kekayaan budaya Sumenep kota merupakan hasil prosess difusi ,akulturasi, dan asimilasi yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan berkelanjutan dari berbagai kebudayaaan yang berasal dari berbagai komunitas ras/etnis yang mendiami kota kuno ini. Proses pembauran budaya ini berjalan secara alamiah sebagai konsekuensi wajar dari interaksi antar komunitas dalam memenuhi kebutuhan dan harapan hidup mereka. Dalam pembauran panjang yang menghasilkan masyarakat multikultural ini, budaya Sumenep muncul dengan suatu karakteristik unik sebagai suatu entitas kebudayaan Sumenep. Unsur-unsur budaya non-Sumenep/Madura tetap terlihat, tetapi sebagai sebuah entitas kebudayaan ia telah menjadi budaya  kahas Sumenep, Perkawinan silang (cross marriage) merupakan salah satu lembaga yang menjadi faktor berjalannya proses pembauran multi etnis/ras berjalan secara alamiah dengan intensitas yang tinggi dan total. Hal ini menghasilkan suatu pembauran budaya yang berkualitas dalam berbagai ranah kehidupan: bahasa, arsitektur, model pergaulan,masakan, kesenian  dan juga piranti-piranti lainnya yang diperlukan dalam memenuhi hajat hidup masyarakat seperti alat transportasi laut, pertanian, dan perabot rumah tangga; dan yang terlebih penting memberikan pengalaman aktual bagaimana menjalani hidup dalam banyak warna. Kata kunci: pembauran, perkawinan silang, asimilasi, akulturasi, alamiah
KYAI DAN BLATER (Elite Lokal dalam Masyarakat Madura) Kosim, Mohammad Kosim
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 12, No 2 (2007): MADUROLOGI 2
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mohammad Kosim (Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan dan peserta program Doktor Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya)   Abstrak: Kyai dan blater merupakan dua elite lokal dalam kehidupan sosial politik masyarakat Madura. Kyai merupakan elite utama. Pengaruh kyai cukup beragam tergantung pada asal usul genealogis (keturu­nan), kedalaman ilmu agama yang dimiliki, kepribadian, kesetiaan menyantuni umat, dan faktor pendukung lainnya. Sedangkan pengaruh blater banyak ditentukan oleh kekuatan/ketangkasan adu fisik, keberanian, kepribadian, kemenangannya dalam setiap pertarungan, dan faktor pendukung lainnya. Kyai dan blater hidup di “dunia” berbeda, keduanya memiliki sumber kekuasaan dan pengaruh berbe­da, namun keduanya bisa membangun “relasi”. Tulisan berikut—dengan segala keterbatasannya—akan mengkaji fenomina kyai dan blater sebagai kelompok elite (non-governing elite) dalam kehidupan sosial politik di Madura. Kajiannya berkisar pada; peran yang dimainkan kyai dan blater, asal usul munculnya peranan kyai dan blater, dan relasi antar keduanya. Kata kunci: kyai, blater, elite, Madura  

Page 8 of 15 | Total Record : 143