cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
ONTOLOGI RELASI KEDEWASAAN BERBANGSA (Telaah terhadap Sintesa Struktur Individual dan Struktur Sosial dalam Kearifan Lokal Masyarakat Madura) Hidayat, Ainurrahman
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 13, No 1 (2008): MADUROLOGI 3
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Artikel ini berusaha mengeksplorasi kedewasaan berbangsa masyarakat Madura melalui kearifan lokalnya dalam perspektif tiga tradisi masyarakat Madura, yaitu tradisi carok, rokat tase’ dan tradisi ritual samman. Hasil kajian dalam artikel ini ditemukan, bahwa ontologi relasi kedewasaan berbangsa masyarakat Madura tertuang dalam tiga prinsip, yaitu prinsip “yang satu dan yang banyak” (struktur individual dan sosial), prinsip “permanensi dan kebaharuan” (jatidiri orang Madura dan makna nasionalisme) serta prinsip “imanensi dan transendensi” (kearifan lokal masyarakat Madura dan makna keindonesiaan). Kearifan lokal masyarakat Madura berupa relasi yang sederajat dan seukuran dalam pola pikir, pola sikap dan pola perilaku yang selaras, serasi dan seimbang antar sesama manusia (tradisi carok), manusia dengan alam-lingkungan (tradisi rokat tase’), dan manusia dengan dunia ghaib (tradisi ritual samman). Kedewasaan berbangsa masyarakat Madura merupakan konseptualisasi dan aktualisasi sintesa stuktur individual dan struktur sosialnya berupa pola pikir, pola sikap dan pola perilaku bangga sebagai ras Madura dan non-arogansi sebagai salah satu ras di Negara Indonesia.Kata kunci:jatidiri, kearifan lokal, nasionalisme-keindonesiaan
RUH ISLAM DALAM KEMADURAAN DAN KEINDONESIAAN Sastrodiwirdjo, Kadarisman
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 13, No 1 (2008): MADUROLOGI 3
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Hubungan Islam dan budaya, termasuk budaya lokal Madura, berjalin kelindan, bisa dipilah tetapi sulit dipisah. Hubungan keduanya itulah yang kemudian membentuk moral bangsa. Ruh Islam memberikan jiwa dan semangat dalam budaya Madura dalam kerangka keindonesiaan. Fenomena ini dapat dilihat pada ritual-ritual inisiasi anak Madura, mulai dari ritual kelahiran hingga ritual khitanan. Internalisasi nilai-nilai keislaman pada diri anak semakin bertambah ketika mereka memasuki alam ghuru, sebagai sebuah  dunia yang menyediakan akses untuk menempa diri dalam bidang ketajaman nalar-intelektual keislaman dan ketangguhan moral-spiritual baik melalui pendidikan formal di sekolah maupun di pesantren. Melalui proses tersebut, mereka akan siap memasuki dunia rato, dan bahkan secara aktif melakukan konstruksi Islami atas seluruh bidang kehidupan, baik dalam bidang budaya, hukum, politik, ekonomi, pemerintahan, pertahanan, dan keamanan. Kesemuanya diyakini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan berbangsa.Kata kunci:ruh Islam, budaya Madura, bhâpa’-bhâbu’, ghuru, dan rato
PEMAHAMAN ISLAM DAN SENTUHAN BUDAYA LOKAL Jailani, Imam Amrusi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 13, No 1 (2008): MADUROLOGI 3
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Tulisan ini menyajikan kajian keislaman yang sering dijadikan model pergulatan pemikiran yang sedang berkembang di dunia Islam. Dalam kajian tersebut didapati bahwa pemahaman Islam beranika ragam. Tampilan rumusan Islam tersebut dihampiri dengan berbagai macam pendekatan, diantaranya tekstual-kontekstual dan struktural-fungsional. Dari tampilan tersebut menggambarkan bahwa pada realitasnya, Islam bersentuhan dengan ajaran (tradisi) lokal sehingga terbentuk formulasi baru tentang Islam yaitu budaya Islam lokal.Kata kunci:Islam normatif-praksis, tekstual-kontekstual, inklusif-eksklusif, budaya lokal
BAHASA MADURA SEBAGAI BAHASA RESMI REGIONAL (Sebuah Ikhtiar Alternatif Pemeliharaan Bahasa) Mulyadi, Mulyadi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 13, No 1 (2008): MADUROLOGI 3
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Tulisan ini bertitik tolak dari realitas bahwa sebuah bahasa harus mengalami proses kenaikan status (elitisasi) sebagai salah satu usaha alternatif agar bahasa itu tetap bertahan dan terpelihara. Saat ini, kondisi tersebut sedang menggelayuti bahasa Madura yang terancam terasing di tanah kelahiran sendiri. Dengan antisipasi historis, yakni pengalihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia yang selanjutnya menjadi bahasa nasional dan bahasa resmi, serta kalkulasi modalitas serta potensi yang dimiliki oleh bahasa Madura, bahasa ini berpotensi untuk menjadi bahasa resmi regional (skala wilayah penutur bahasa Madura). Tentu saja usaha ini tidak untuk merusak tatanan yang sudah dianggap mapan terhadap kenyamanan status bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi satu-satunya di negeri ini, tetapi lebih kepada usaha penguatan wawasan kebangsaan di ranah linguistika belaka.Kata kunci:bahasa nasional, bahasa resmi, perencanaan/rekayasa bahasa
“BERNEGOSIASI” DENGAN TUHAN MELALUI RITUAL DHÂMMONG (Studi atas Tradisi Dhâmmong sebagai Ritual Permohonan Hujan di Madura) Hefni, Moh.
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 13, No 1 (2008): MADUROLOGI 3
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Setiap studi tentang Islam  secara keseluruhan lambat-laun akan berjumpa dengan kebudayaan-kebudayaan lokal yang membangun pola hubungan koeksistensi. Melalui ritual dhâmmong, masyarakat Madura secara kreatif mampu mengintegrasikan secara seimbang antara tuntutan tradisi universal-Islam dan tradisi lokal-Madura. Dalam kaitan ini, tradisi Madura, sebagai tradisi kecil (little tradition), ditarik ke dalam tradisi Islam, sebagai tradisi besar (great tradition), dengan cara memberi penjelasan mistik-teologis yang sesuai. Melalui dhâmmong, pelaku ritual itu selalu diingatkan berkenaan dengan eksistensi dan hubungan dengan lingkungan ekologinya. Mereka juga bukan hanya diingatkan tetapi juga dibiasakan untuk menggunakan simbol-simbol yang bersifat abstrak-Islami yang berada pada tingkat pemikiran dan kesadaran untuk berbagai kegiatan nyata yang dalam lingkungan ekologisnya.Kata kunci:Dhâmmong, ritual, tradisi Madura, tradisi Islam, dan ekologi
KOBUNG (Bangunan Tradisional Pewaris Nilai Masyarakat Madura Tempo Dulu) Hasan, Nor
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 13, No 1 (2008): MADUROLOGI 3
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Dalam tatanan bangunan Madura, Kobung menempati posisi penting. Bangunan ini menjadi pusat taneyan. Hampir semua bangunan keluarga di Madura memiliki kobung. Inilah yang unik di Madura. Letaknya rata-rata di sebelah Barat, selain menandakan arah kiblat juga gampang mengawasi keamanan lingkungan keluarga. Diantara fungsi kobung, selain sebagai tempat peristirahatan dan berkumpulnya keluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan tempat beribadah keluarga. Yang terpenting –dari sekian banyak fungsi kobung-- adalah sebagai pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura. Nilai luhur yang selalu ditekankan berupa kesopanan, kehormatan, dan agama. Dalam tulisan ini, kobung diasumsikan mampu membentuk generasi Madura yang kokoh pada tradisi, memiliki jiwa luhur, hormat dan sopan, serta rasa memiliki yang kuat dan tanggung jawab terhadap tanah air.Kata kunci:Kobung, Bangunan Tradisional, Nilai-Nilai Luhur
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP: Menggagas Pendidikan Islam Berwawasan Lingkungan Siswanto, Siswanto
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracFrom theological view, human must be able to appreciate the environment. Religious ethics toward nature takes mankind to be responsible so that they can avoid the damage. In other words, to trash the environments means to destroy the human themselves. On the basis of this context, religious-education institution is expected to prove the graduates with a standard commitment to conserve the ecology . Establishing “Green Madrasah” becomes one of efforts that must be obtained. It is an education model that can transform religious-moral values into each aspect of socio-economic development. This has also been a mode of education which functionalize human as leader, ruler, and maintainer of nature and environmentKata-kata kunciIslam, pendidikan agama, lingkungan hidup, khalifah, madrasah hijau
MEMBANGUN ECOLITERACY DI MADURA: Usulan untuk Aksi dan Proaksi Syakur, Abd.
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracGlobal warming is a colossal problem, that many of us considered it as a regular matter in everyday life. I believe this case is merely because we don’t know what was exactly happened. Within the scope, I try to portray the humble ‘landscape’ of Madureese community in a glance. Madureese people basically are modest, polite but may have a strong willing on things. Just like others, while facing customary problems (not beliefs, ideology, nor religion), Madureese tend to take a position apart from it. Thus, one of the significance step we should take is to raise the level of the problem up, comparable to those five principle issues (i.e., religious conviction, life, possessions, relatives, and mind). And, if it was there, we should restate it and take the proper actions and pro actions. Therefore, this small reminder may become one of my contribution to the problem, warning all of us of what we are going to face.Kata-kata kunciecoliteracy,  global warming, aksi dan proaksi
SHAPING THE BEHAVIOUR SOCIAL AWARE OF ENVIRONMENT Hadi, Saiful
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracKeeping, take care and rebuild environment and nature as equal as keep behaviour of individual life, group and society in order to make them have attitude to environment, manner to environmernt is a part of prosocial behaviour, because one of the meaning prosocial is individual freedom to tolerance, freedom to build and not destroy environment and surrounding, shaping attitude to environment is about international campigne about continously built that in mans soul there are integration between self harmony, harmony with of hers and harmony with nature. Those there aspects of harmony shoul be concreate through hard works and good tangibility activity through individual action in daily life. Activity of educational environment and issues campigne or environment program by social society organization and mass media.Kata-kata kunciprosocial behavior, society of environment aware
IMPLEMENTASI HUKUM LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA PAMEKASAN Supraptiningsih, Umi
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 14, No 2 (2008): MADUROLOGI 4
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracThe city master plan connecting to its interior design has been the major requirement to develop a city. It comprises both private and public interest development. Therefore, every city development must intentionally consider environment harmony and balance. To carry out this, the government applies a tight development license. Ijin Lingkungan (environment care license) as a means of environment conservation, has not been ruled as a comprehensive environment care license. This license refers to a dual license systems---industrial license and Hinder Ordonannantie. On the other hand, Stb. 1926 No. 226 is not used any longer  as a reference of improving the system of environment care license. The government also recommends a continuity development. It is proportionally  characterized by three pillars---economic, social and environment conservation developmentsKata-kata kunciImplementasi, Hukum Lingkungan, Perencanaan Tata Ruang Kota

Page 7 of 15 | Total Record : 143