cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKRAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 155 Documents
TREGEDI PEMBUNUHAN KHALIFAH USMAN BIN AFFAN: Melacak Sejarah Munculnya Aliran Teologi Dalam Islam Karim, Abdul
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1827

Abstract

Usman bin Affan adalah Khalifah ketiga yangmerupakan sosok sahabat sekaligus menantu Rasulullahyang memiliki karakteristik unik di antara para sahabatRasulullah yang lainnya. Kedermawanannya sangatmemukau dan menarik untuk dijadikan inspirasi paragenerasi muslim masa kini. Komitmennya terhadapperjuangan dalam menegakkan panji-panji Islam tidakada satupun orang yang meragukan. Dia adalah sosokyang sangat penting dalam perkembangan dan kemajuandin al-Islam. Meskipun di masa pemerintahannya takseindah yang diimpikan oleh Khalifah Usman, karenasituasi politik yang tidak lagi dinamis. Ada yangberusaha memancing di air keruh untuk menciptakansuasana chaos pada masa pemerintahan Usmandengan menggulirkan isu-isu tentang nepotisme, untukmendapatkan keuntungan-keuntungan individu sesaatatas nama kebenaran agama, dan keadilan. Usmanberusaha untuk istiqamah dan mempertahankankekuasaannya atas dasar Ijtihad politiknya, walaupunpada akhirnya Usman harus menyerah karena keadaanyang mengharuskan beliau untuk meninggalkan duniadan mengahadap keharibaan-Nya.
FIQH PERKAWINAN BEDA AGAMA SEBAGAI UPAYA HARMONISASI AGAMA (Studi Perkawinan Beda Agama di Kota Jember) laela, ana; rozana, ken ismi; mutiah, Shilfa Khilwiyatul
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1627

Abstract

The concept of interfaith marriage in terms of methods of content analysis and to read the harmonization of Religion. While Femenologis to read interfaith marriage in Jember City in an effort to harmonize religion .. This paper proposes to mengangkat concept of marriage as a religious difference harmonization religious people, there are three questions in this paper first, how the concept of Interfaith Marriage? second, how the concept of Interfaith Marriage Law in Indonesia? and thirdly how Practices Interfaith Marriage in Jember City in an effort to harmonize religious communities in the city of Jember? using the method of content analysis sebgai attempts to read the concept of interfaith marriage in Islamic law, and the law of Indonesia, while the approach femenologi as a method to look at the practice of interfaith marriage in the town of Jember, this study is the first to the concept of interfaith marriage, both the regions cacatan allowing civil mating different religions, and the third harmonization paraktek interfaith marriage in the town of Jember.Konsep Perkawinan beda agama ditinjau dari metode konten analisis dan untuk membaca harmonisasi Agama. Sedangkan Femenologis untuk membaca Perkawinan beda agama di Kota Jember sebagai upaya harmonisasi agama.. Paper ini ingin mengangkat konsep perkawinan Beda agama sebagai harmonisasi umat beragama, ada tiga pertanyaan dalam paper ini pertama,  bagaimana konsep Perkawinan Beda Agama ? kedua, bagimana konsep Perkawinan Beda Agama didalam Hukum Indonesia ? dan ketiga bagaimana Praktek Perkawinan Beda Agama di Kota Jember sebagai upaya harmonisasi umat beragama di Kota Jember ? dengan menggunakan metode konten analisis sebagai upaya membaca konsep perkawinan beda agama dalam hokum Islam, dan hokum Indonesia, sedangkan pendekatan femenologi sebagai metode untuk melihat praktek perkawinan beda agama di kota jember , hasil penelitian ini adalah pertama adanya konsep perkawinan beda agama, kedua adanya wilayah cacatan sipil yang memperbolehkan kawin beda agama, dan yang ketiga harmonisasi praktek perkawinan beda agama di kota jember. 
ARTIKEL DITARIK: STRUKTUR NALAR DI BALIK POLEMIK TEOLOGI DAN FILSAFAT ISLAM Sapsuha, Tahir
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.308

Abstract

Tulisan ini dilatar-belakangi oleh keinginan penulis untuk menghindarkan diri dari keharusan menyuguhkan kenyataan polemik teologi dan filsafat sebagai sejarah yang mewarnai diskursus keilmuan Islam. Lebih dari itu penulis berharap bisa —meminjam istilah agama— memetik hikmah dari polemik berkepanjangan itu, baik yang berlaku di lingkungan disiplin keilmuan, maupun dalam bentuk konflik cara pandang sikap keagamaan. Penulis berupaya meraih hal itu dengan menggunakan kerangka kerja hermeneutika appropriasi yang dikenalkan oleh Paul Ricoeur. Dalam kerangka ini, polemik teologi dan filsafat Islam ditempatkan sebagai teks yang terbaca dan mau ditemukan maknanya. Tiga tahap hermeneutis yang ditawarkan Ricoeur (semantik, reflektif, eksistensial), ditemukan kemungkinan untuk memaknai polemik teologi dan filsafat itu untuk menghasilkan pemahaman-diri-eksistensial, yang tentunya setelah melalui beberapa penelusuran metodologis dan teoritis di tiap-tiap tahap tersebut (appropriasi). Munculnya pemahaman-diri-eksistensial inilah yang dalam tulisan ini penulis sebut sebagai buah dari appropriasi. Kata Kunci: Nalar Teologi, Nalar Filsafat, Polemik, Kerjasama,
Local Wisdom Modal Toleransi: Studi Kasus di Kudus rosyid, moh
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.1633

Abstract

Membincangkan interaksi sosial yang positif antar-umat beragama dan umat seagama dari aspek faktor penyebab menarik didalami. Pendalaman dengan melakukan riset faktawi, tak berdasarkan statement pejabat yang hanya ‘berangan-angan’ agar dipandang mampu melaksanakan tugas melayani, mengayomi, dan memfasilitasi terutama pada umat minoritas. Riset ini bagian dari upaya mencari fakta yang benar, apakah local wisdom yang diwariskan oleh Sunan Kudus (pelarangan menyembelih sapi) hingga kini tertanam di benak warga Kudus Jateng dapat menyebabkan terwujudnya toleransi di Kudus? Realitasnya perlu digali karena tak terbukti bahwa local wisdom tak selalu dijadikan tempat berpijak dalam mewujudkan toleransi oleh mayoritas terhadap minoritas, baik seagama maupun antar-umat beragama. Riset tahun 2015 ini diperoleh dengan wawancara, dokumentasi, observasi, forum group discussion (FGD) dengan umat minoritas dan mayoritas dengan analisis deskriptif kualitatif. Local wisdom (LW) dimaknai sebagai warisan non-bendawi (oral tradition) yang dituturkan antar-generasi bermuatan pelajaran hidup yang bijak dari leluhur. Peran LW sebagai penyuluh dan tempat bertanya warga agar berperilaku toleran, sopan-santun, dan bijaksana dalam konteks kini sebatas pelipur lara atau lahan mendongeng. Fakta yang tergali penulis, konflik terbuka dan terselubung ibarat api dalam sekam di Kudus. Sebagaimana penutupan tempat ibadah yang juga rumah hunian/lahan bisnis dengan dalih tak menaati aturan dalam SKB Menag dan Mendagri (padahal, makin dilarang, makin militan dalam beragama), pelarangan tempat ibadah dan diizini bila sebagai balai pertemuan, pemisahan makam yang semula searea (akan) dipisahkan -di tengah tolerannya mayoritas awam dengan minoritas Buddhis-, penggeseran hak bersama yang semula makam umum menjadi makam Islam yang tanpa kesepakatan. Di sisi lain (1) penggunaan pengeras suara di tempat ibadah yang melebihi jam tayang dan melanggar peraturan mentradisi seakan tanpa kendali, padahal bukan wujud syiar, tapi ampreh pamrih sesami, (2) penghentian khalwatan karena sentimen dan rebutan santri, hanya karena si kiai ‘baru’ tidak pernah nyantri (Majelis Dzikrussalikin), (3) pembubaran louncing Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) yang tak ada follow up, dan (4) keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI Lahore) di Colo, Dawe ibarat api dalam sekam. Fakta itu semua sebagai penanda bahwa local wisdom tak selalu menjadi urat nadi kehidupan bermasyarakat seagama, apalagi lintas agama.            Solusi bijaknya adalah belajar dengan kunjungan Imam Besar Al-Azhar, Mesir, Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb di Vatikan bertemu dengan Paus Franciscus Senin 23/5/2016 setelah lima tahun keduanya berhubungan dingin. Hal ini akibat lontaran Paus Benekdiktus XVI yang meminta perlindungan lebih bagi umat Nasrani yang berada di Mesir. Hal ini dipicu kerusuhan malam Tahun Baru 2010 di gereja Kristen Coptic di Kota Alexandria, Mesir, umat Nasrani tewas 21 orang. Dengan bertemunya tokoh utama dan diikuti warga awam di arus bawah diawali dengan dialog antaragama, srawung secara alami, saling percaya, saling menghormati dengan kerendahan hati dan difasilitasi pemerintah maka toleransi sejati berpijak dari karya nyata mampu mengurangi tensi ketegangan pemicu konflik.
PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK AGAMA DI INDONESIA Ulya, Inayatul
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1663

Abstract

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki kemajemukan masyarakat, baik agama, ras, suku dan budaya. Kemajemukan tersebut seringkali berpotensi pada munculnya berbagai konflik seiring dengan semakin dinamisnya masyarakat yang mengelompokkan diri dalam berbagai organisasi sosial keagamaan serta lahirnya berbagai aliran keagamaan. Fanatisme yang berlebihan seingkali menumbuhsuburkan semangat ego sektoral yang  dapat menjadi ancaman disintegrasi bangsa.  Munculnya berbagai fenomena konflik di Indonesia dengan mengatasnamakan agama merupakan salah satu indikator bahwa Bangsa Indonesia masih belum sepenuhnya memahami  kondisi internal bangsanya sendiri yang berlatar belakang multikultural. Perpedaan di dalam masyarakat yang multikultur ini seharusnya menjadi dasar untuk mempertahankan identitas masing-masing dengan  tetap menjaga integrasi bangsa, bukan untuk menjadi pemicu lahirnya konflik-konflik antar kelompok yang apabila diteliti lebih dalam, motif yang sebenarnya tidak sepenuhnya karena faktor agama, tetapi faktor sosial budaya, politik dan bahkan motif ekonomi.  Melalui pendidikan Islam multikultural, tulisan ini memberikan alternatif resolusi konflik  agama di Indonesia berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam tentang bagaimana pentingnya menghargai keberagaman setiap struktur masyarakat yang multikultural. Pendidikan Islam multikultural dapat dijadikan sebagai pendekatan baru yang dapat merubah cara berfikir dan cara pandang masyarakat serta keterampilan bersikap dan berperilaku dalam kehidupan yang majemuk. Dalam konteks ini, pendidikan Islam multikultural memberikan penanaman tentang spirit kehidupan beragama yang dilandasi dengan nilai-nilai perdamaian, toleransi, menghargai perbedaan dan sikap-sikap lain yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan semangat persatuan Kebangsaan Indonesia.
AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA Azis, Donny Khoirul
FIKRAH Vol 1, No 2 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i2.543

Abstract

Kolaborasi Konsep Ikhlas dan Exchange Behaviorism sebagai Media Interaksi Sosial Karim, Abdul
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2974

Abstract

This article aims to initiate the integration of sincere concepts and exchange behaviorism as a medium to construct ones mentality. Both concepts are useful in balancing material and spiritual aspects in a person. This study uses a qualitative approach with descriptive analytical methods. The results of this study as well as an auto-critique of Homans theory because the basic George Caspar Homans theory of exchange theory who came from exchange behaviorism was too oriented to the material aspect as a social driver. The results show that the concepts of sincerity and exchange behaviorism cannot be separated because they will have an impact on the partiality of life. Therefore, a necessity in growing the balance of life must pay attention to the material aspects and spiritual aspects.
AKAR-AKAR TEORI KONFLIK: Dialektika Konflik; Core Perubahan Sosial dalam Pandangan Karl Marx dan George Simmel Kastoro, Widiarsih; Masudi, Masudi
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1832

Abstract

Dalam perkembangan kajian teori sosial, kehadirannyamenjadi titik dasar dari proses kajian yang munculpada kerangka akademik studi sosiologi. Teori sosialmerupakan manifestasi dari berbagai macam pendekatanyang bisa dipergunakan untuk membedah varian-variandari dinamika kajian yang ada pada studi sosiologi.Besarnya peranan dari teori sosial ini mengukuhkaneksistensinya sebagai instrumen dasar pada bangunananalisis kajian sosial yang hadir dalam studi sosiologi.Hal ini pula yang bisa disandarkan kepada analisistentang manifestasi konflk dalam dinamika kehidupanmasyarakat. Analisis konflk pada realitas kehidupansosial menjadi fakta yang cukup mengesankan untukdikaji dalam rangka menempatkan situasi sosialyang berkembang di tengah-tengah masyarakat padakerangka dasar data yang tepat serta mengarah kepadaposisi impelementatif dari perwujudannya. Konflkyang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakatmerupakan bagian dari pembentukan masyarakat itusendiri. Untuk itulah, mengamati fenomena munculnyakonflk beberapa sosiolog membangun asumsi beragam.Bagi seorang ahli yang melihat masyarakat dari nilainilai internal kehidupan mereka, maka pengembanganteori sosial berbasis sosiologi mikro dikembangkan.Namun, bagi mereka yang melihat masyarakat dariaspek terluar, atau wilayah makro, maka kajian sosiologi makro dipergunakan. Pada kerangka ini,baik Marx dan Simmel sebagai penggagas analisistentang konflk mencoba memotret fenomena ini daridua sudut pandang. Marx ingin melihat masyarakatdalam perjuangan kelasnya. Sementara itu, Simmelmelihat bahwa pada pertumbuhannya, konflk itumemberikan fungsi pengembangan dalam masyarakatyang bersifat lunak. Manifetasi konflk dipersepsikanoleh Marx dan Simmel mampu menembus sistem sosialdalam masyarakat. Kedua tokoh ini pada ujungnyamenjelaskan tentang bipolaritas konflk yang dibangunoleh masing-masing. Marx menjelaskan manifestasikonflk sebagai usaha memecah stabilitas sosial denganpembentukan masyarakat komunis. Sementara itu,Simmel menjelaskan bahwa konflk merupakan interaksiyang bisa menghasilkan integrasi melalui kompromisosial.
ISLAM DAN PLURALISME Rahman, M. Syaiful
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.666

Abstract

AGAMA MENURUT IBN KHALDUN farihah, Irzum
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.554

Abstract