cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKRAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 155 Documents
PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU THUFAIL (Khazanah Pemikiran Filsafat dari Timur Asrar al-Hikmat al-Masyriqiyyah) Kastoro, Widiarsih; Masudi, Masudi
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1822

Abstract

Perkembangan pemikiran di tengah-tengah peradaban manusiamengalami ritme perjalanannya yang panjang. Perjalanan itusebagai usaha purifiasi pemikiran yang dikembangkan dimasing-masing peradaban. Berbekal perspektif dari berpikirsecara fiosofi sebagai sunnah kenabian Rasulullah saw., IbnuThufail memberikan suatu paradigma mistis atas pemikiran duniatimur. Dari ulasan yang dikemukakannya dia menyampaikanbahwa hakikat pemikiran kefisafatan yang telah dibangundalam kerangka konfrontatif sejatinya merupakan bagian yangbisa berdialektika secara intensif dan mutual. Berpijak kepadausaha untuk membangun hakikat dilektif fisafat dan agamasebagai warna hakiki pemikiran dalam dunia Islam, Ibnu Thufailmengilustrasikan suatu hikayat fiosofi Hayy bin Yaqzhan,sebuah kisah fiosofi dari usaha manusia membangun titiktitik rasionalitas dalam pertumbuhan berpikir mereka. Dalamrealitasnya, kehidupan manusia digambarkan oleh Ibnu Thufailsebagai pribadi yang telah membawa ide-ide bawaan. Hal inidikuatkannya melalui perspektif yang dibangun oleh Plato.Manusia yang dipersonifiasikannya melalui kedirian Hayy ibnYaqzhan menjelaskan kenyataan hidup manusia yang mampumencipta pemilahan di antara kebutuhan dan dorongan-doronganyang akan mengisi ruang-ruang dari kehidupan mereka.
TEORI PENGETAHUAN ISYRAQIYYAH (ILUMINASI) SYIHABUDIN SUHRAWARDI Sumadi, Eko
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1798

Abstract

Filsafat merupakan sumber ilmu Pengetahuan dan teknologi. Sementara banyak kajian yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Islam yang tidak bersandar pada landasan filosofis yang jelas. Dalam kajian ini, penulis mencoba melacak gagasan seorang filsuf muslim berpengaruh, yaitu Syihadudin Suhrawardi tentang teori pengetahuan iluminasi (isyraqiyah). Penulis juga memberikan analisis kritis terhadap teori tersebut. Hasilnya, bahwa perolehan pengetahuan dalam isyraqi tidak hanya mengandalkan kekuatan intuitif melainkan juga kekuatan rasio. Suhrawardi menggabungkan keduanya, metode intuitif dan diskurtif, di mana cara intuitif digunakan untuk penyerap misterius atas segala esensi dan membuang skeptisisme dan selanjutnya pengalaman spiritual itu dirumuskan dan disistematisasikan oleh pikiran yang logis, sehingga hasilnya merupakan pengetahuan yang tertinggi dan terpercaya. Ia menganggap cara nalar dan cara intuisi sebagai pasangan yang saling melengkapi, karena nalar tanpa intuisi dan iluminasi tidak akan pernah bisa mencapai sumber transenden dari segala kebenaran dan penalaran. Sedangkan intuisi tanpa penyiapan logika serta latihan dan pengembangan kemampuan rasional bisa tersesat dan tidak akan dapat mengungkapkan dirinya secara ringkas dan metodis.
MEWUJUDKAN TRADISI ISLAM DALAM MANIFESTASI HARMONI KEBERAGAMAAN UMAT Kastoro, Widiarsih; Masudi, Masudi
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.303

Abstract

Islam adalah agama misi yang diwahyukan Allah swt., kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw. Dalam perjalanannya pula, Islam berjalan beriringan dengan dinamika kehidupan umat sehingga menjadikannya kadang dipertentangkan dan di diteladani. Plus minus keberadaan ini tidak menjadikan Islam surut dalam usahanya mengentaskan keberadaban umat manusia. Islam terus menjalankan misi sucinya dengan memberikan uraian keilmiahan hidup sehingga pada akhirnya masyarakat mulai mengerti akan hakikat dari keharmonisan hidup bersama dalam lintasan keyakinan. Tuntutan utama yang diajarkan oleh Islam adalah menyadarkan masyarakat akan arti penting tradisi sebagai perekat utama doktrin keislaman dengan perjuangan Rasulullah saw. Tradisi dalam Islam dengan pengertian akan eksistensi keanekaragaman sosial, budaya, dan bahkan agama itu sendiri menjadikan Islam sebagai jalan tengah bagi masyarakat. Islam memberikan beberapa deskripsi realistis tentang hakikat hidup setiap pribadi yang mustahil dinafikkan kebersandarannya kepada nilai-nilai suci masing-masing agama. Di atas kenyataan inilah, tuntutan untuk menghadirkan harmoni Islam sebagai pemersatu kehidupan umat niscaya dikedepankan. Kata Kunci: Tradisi, Jalan Tengah (middle roader), al-Sunnah, Ritual, Keberagamaan
Religion in Television: Mediated Religious "Kuliah Subuh” Program in Indonesia Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2638

Abstract

In this contemporary life, television becomes an effective media of the da’wa or proliferation. The flourishing some of Islamic programs also effects to the order of the religious public life in Indonesian society. Using the descriptive analytical research, this essay investigates the process of religious proliferation program who become popular in society. It is started from the objective of some television channel to show “kuliah subuh”, a religious speech from an expert people that understand about Islamic religion or ustad after the dawn. Then the writer tries to find an effect of the media especially television to the audiences from the message of the program and their daily life expressions. Finally, “kuliah subuh” appears as a mediated religion which produces certain effects on religion in order to adapt it to television formats. It make the birth of transformations and paradoxes within the institutional model of religiosity.
Teologi Persuasif Ayat-Ayat Makkiyah; Sebuah Tafsir Relasi Umat Beragama Muhtador, Moh
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.1513

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir konflik antara agama di Indonesia kembali muncul  setelah  lama  tidak  terdengar  dan  sunyi  dari  pemberitaan  media.  Kasus terakhir yang mendapat perhatian nasional ialah pembakanran masjid di Tolikara Papua yang terjadi pada 23 juli 2015. Agama sebagai sebuah keyakinan merupakan hal sensifit bagi pemeluknya, membincangkan agama sama halnya berbicara tentang Tuhan. Seorang pemeluk agama tertentu berani mengambil resiko ketika agama yang diyakini  dilecehkan.  Pada  posisi  tersebut  keagamaan  seorang  menjadi  superior dengan resiko yang melekat. Oleh sebab itu, beragama tidak cukup hanya mendahulukan fanatisme, tetapi dalam beragama seorang dituntut juga untuk memahami ajaran yang terkandung dalam kita suci agama. Dengan demikian, memahami dan mengaplikasikan nilai Qurani bagi umat Islam adalah sebauh keniscayaan. Sejarah telah mencatat adanya toleransi beragama yang terkandung dalam  ayat-ayat   makkiyah.   Dengan   bahasa   yang   mudah  dipahami,   ayat-ayat makkiyah telah mengajarkan umat Islam tentang relasi beragama serta menghormati agama lain tanpa harus memaksa dan menimbulkan konflik dalam beragama. Ajaran yang selama ini dipandang oleh sebagian muslim sebagai kelemahan umat  Islam awal, tetapi kandungan ayat-ayat Makkiyah cendrung menarasikan tentang universalitas ajaran Islam.Penulis menyadari bahwa tulisan tentang ayat-ayat makkiyah telah banyak yang meneliti dan mengkaji. Ayat makkiyah telah lama dikaji oleh ulama-ulama terdahulu dan sampai sekarang, namun kecendrungan kajian yang berkembangan tentang ayat makkiyah cendrung bersifat teknisi yang bersifat Ulum al-Quran dan kurang melihat aspek sosio-histori. Dengan demikian, pada posisi tersebut penulis mencoba  untuk  mengisi  kekosongan  wacana  tentang  ayat  Makkiyah  kaitannya dengan relasi umat beragama dengan pendekatan sosial-histori. Sehingga besar harapan tulisan tersebut tidak hanya membaca ayat makkiyah secara teknisi ulum al- Quran tetapi juga memuat analisa sosio-keagamaan.Pendekatan      sosial-histori       dengan      menganalisa      keagamaan      yangberkembangan pada saat turunnya ayat makkiyah memberikan gambaran, bahwa ayat makkiyah mempunyai tiga pesan pokok terkait dengan relasi agama. Pertama, ajaran tentang toleransi beragama, kedua, kemanusiaan, dan ketiga relasi antara umat beragama. Ketiga hal tersebut adalah ajaran umum yang terdapat dalam ayat makkiyah, beragamanya redaksi dan ungkapan tentang ketuhanan dan kemanusiaan yang terdapat pada ayat makkiyah memberikan indikasi, bahwa ayat makkiyah adalah ayat yang mengajarkan tentang kerukunan umat beragama.
PANCASILA SIMBOL HARMONISASI ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA: EDISI MELAWAN LUPA ulya, ulya
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1609

Abstract

Disepakati Pancasila sebagai dasar NKRI tidaklah melalui jalan mulus. Para founding father berdiskusi sampai terjadi debat intelektual seru yang menyebabkan mereka hampir berada di ambang perpecahan. Akhirnya disepakati Piagam Jakarta yang di dalamnya memuat Pancasila sebagai dasar negara. Ternyata dengan Piagam Jakarta tidak lantas menyurutkan perselisihan, terutama berkaitan dengan statemen ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kemudian dicapai solusi harmonis yang mempertimbangkan sensitivitas pluralitas di Indonesia dan statemen di atas tergantikan dengan pernyataan Ketuhanan Yang Maha Esa.Yang terjadi kini, semenjak lengser pemerintahan Orde Baru dan ditabuh genderang reformasi seakan-akan telah menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengaktualisasikan diri sebebasnya yang sebelumnya terpasung di bawah sendi-sendi otoritarianisme. Momentum itu dimanfaatkan oleh sekelompok muslim tertentu yang tidak disadari justru menyulut kembali api permusuhan melalui ungkapan yang disuarakannya, seperti: dirikan khilafah Islamiyah, kembali kepada Islam kāffah, dan seterusnya. Tampaknya atau jangan-jangan mereka ini lupa sejarah terbentuknya Pancasila sebagai dasar negara.Dalam kerangka hermeneutika, Pancasila adalah teks yang dibentuk dan disepakati  para founding father, disampaikan kepada bangsa Indonesia, baik yang muslim maupun non muslim; tetapi setelah Pancasila sampai kepada bangsa Indonesia, para founding father tidak bisa mengendalikan sepenuhnya agar bangsa Indonesia mengikuti pembacaan yang diinginkannya. Kenyataannya bangsa Indonesia meresponnya berbeda sesuai dengan pra-pemahamannya masing-masing meskipun  sama-sama berasal dari kelompok muslim sendiri. Namun demikian sampai sekarang, Pancasila tetap sakti dan tegak di Indonesia. Itu karena kekuatan dan peran masyarakat Indonesia secara keseluruhan, bukan yang lain.       
MENGKONSTRUK AKHLAK KEMANUSIAAN DENGAN TEOLOGI KEPRIBADIAN HASAN HANAFI (Perspektif Teologi Antroposentris) *, Manijo
FIKRAH Vol 1, No 2 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i2.546

Abstract

Argumentasi Tauhidik Dalam Perilaku Sosial-Agama Hadining, Hasanain Haikal
FIKRAH Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i1.2439

Abstract

Humans need religion as a hand of living. Islam is a religion of the majority that adopted of the society in Indonesia. Islam increasingly faces heavy challenges, an example are materialism and the doctrine of terrorism which many interesting sympathy from lay of people. Threfore the knowledge of the true of tawhid understanding needs to be communicated to the public, in order that the society can be strong to grip of life. Th people with knowledge of true tawheed can reach safety in the world of life and in the hereaftr. Tawheed is the subject of faith, God should not be like a creature (mujassimah or musyabbihah), and the existence of God is without place and without direction. Th research method in this article is descriptive qualitative usting library research approach supported by historical and sociological studies.
PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI DAN FILSAFAT SEJARAH Kasdi, Abdurrahman
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.564

Abstract

Perubahan Tatanan Hijab Mahasiswi Muslimah: Analisa Motif Dan Ideologi Keislaman Wahyuningsih, Sri
FIKRAH Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i1.2231

Abstract

This article mainly describes the changes of hijab and fashion shown females students regarding to their motives and Islamic ideology. This study used a qualitative method applying a social learning theory of Albert Bandura. In-depth interviews and documentation used to collect the data. The results showed that the students had a process of imitation in terms of hijab and fashion worn by others. They observed hijab and fashion (attention). The styles of hijab and fashion they noticed is then stored (retention). Then, they began to wear the hijab and clothing with new models (reproduction). Their new appearance is a form of motivation. Some of them argued that Islamic values and faith are the affairs of every person with God and a fashionable style is a womans choice. Meanwhile, other students thought that both fashionable style and essential functions aspects of hijab should be integrated well.

Page 11 of 16 | Total Record : 155