cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKRAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 155 Documents
PLURALISME AGAMA MENURUT ANAND KRISHNA Hartoyo, Andi
FIKRAH Vol 1, No 2 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i2.542

Abstract

Syi’ah: Pemikiran Keagamaan dan Perkembangannya di Indonesia Farida, Umma
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2976

Abstract

This article attempts to explore the Syi’ah religious thought by emphasizing on three areas, namely the field of theological belief (aqidah), methods and style of interpretation of the Quran (tafseer), and their attitude towards hadith. In addition, this paper discusses the development of Shiism in Indonesia. Method of data collection was done through the documentation which was then presented in descriptive-qualitative. Syi’ah is different from Suni (majority in Indonesia) in terms of the pillars of faith and the pillars of Islam. Their related Aqeedah, imamah, bada, rajah, and taqiyah implies on their way of understanding and interpreting the verses of the Quran. Their attitudes toward authenticity and sadnessahihan hadith also favor the transmission of ahlulbait rather than the transmission of the companions in general. Nevertheless, it turns out that Syi’ah ideology in Indonesia is still growing. The development of ideology is well-organized, supported by vision, mission, and moral foundation of humane dawah through the empowerment of the weak and the underprivileged.
PEMIKIRAN TEOLOGI HASSAN HANAFI Falah, Riza Zahriyal; Farihah, Irzum
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1833

Abstract

Teologi merupakan pondasi sebuah agama, sedangkanemikiran Teologi dari seorang ahli teolog akanmemberikan efek yang signifian kepada penganutnyadalam kehidupan konkret. Karena sebagai pondasiagama tadi, teologi akan menjadi dasar berperilaku danpenyemangat kehidupan seseorang. Maka dibutuhkankonsep teologi yang tidak hanya teosentris, namun jugaantroposentris. Hasan Hanaf mencoba menafsirkankembali dalil-dalil teologi dalam al-Qur’an dan Sunnah,dengan metode pemikiran dialektika, fenomenologi, danhermeneutik. Dalil-dalil teologi tidak lagi dipergunakanHasan Hanaf untuk membuktikan ke-Maha-an dankesucian Tuhan, namun digunakan sebagai tuntutankepada manusia untuk dapat mengamalkan konsepdari dalil-dalil tersebut dalam kehidupan nyata. Konsepantroposentris inilah yang ditekankan oleh para teologdi era kontemporer seperti Muhammad Abduh, M.Iqbal, Fazlur Rahman, Murtadha Mutahhari dan lainlain. Rekonstruksi Teologi Hasan Hanaf dari teosentriske antroposentris yang diejawentahkan dalam gerakan“Kiri Islam”, telah menginspirasi banyak orang untukmemikirkan kembali pemikiran teologi yang mempunyaikontribusi positif dalam perilaku kehidupan umatIslam.
SEJARAH TAREKAT QODIRIYAH WAN NAQSABANDIYAH PIJI KUDUS Mumin, Mamun
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.667

Abstract

SINTESIS PEMIKIRAN M. AMIN ABDULLAH DAN ADIAN HUSAINI (Pendekatan dalam Pengkajian Islam) Nasir, Amin
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.553

Abstract

Demokrasi Antara Pembatasan Dan Kebebasan Beragama Serta Implikasinya Terhadap Formalisasi Islam Hapsin, Abu
FIKRAH Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i1.2657

Abstract

This paper discusses the relationship between democracy and freedom of religion. If democracy is defined as the freedom to behave as long as it is still in the constitutional frame, then the problem is whether to interpret democracy by formalizing religion in the political and legal order of a democratic country? The question rests on the assumption that religion has no rational domain so that the relationship between democracy and religious freedom sometimes becomes problematic when imposed on the constitutional domain. Theories of John Rawls and Franklin I. Gamwell as modern thinkers led to the conclusion that in certain areas religion cannot be forced into the political sphere, but universally religion is part of politics.
MEMBINCANG KEMBALI AHLUSSUNNAH WA AL-JAMAAH: Pemaknaan dan Ajarannya dalam Perspektif Mutakallimin Farida, Umma
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.558

Abstract

AKSIOLOGI ILMUWAN MODAL BAGI GENERASI BERJATI DIRI: Belajar Dari Sejarah Rosyid, Moh
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1824

Abstract

Aksi nyata seorang ilmuwan adalah upayanya memberimanfaat bagi lingkungan dan generasi yang mengikutinyasesuai keahliannya. Ilmuwan tidak hanya berperan dalamtataran konseptual semata (kognisi), perlu pula aspek aksinyata (aksiologis). Naskah ini mengulas hal yang perludiketahui bagi pembaca karena torehan prestasi ilmuwandengan beragam bentuk. Sekaligus mengingatkan padailmuwan masa kini agar tidak terlalu mengutamakannafsu politik. Keutamaan yang diwariskan ilmuwan adalahide dan aksi nyata untuk mewujudkan kehidupan sosialyang sejahtera. Mewujudkan upaya tersebut tak luputmenjadikan nyawa menjadi taruhannya, baik ilmuwanlazimnya maupun ilmuwan muslim, sebagaimana Bilalbin Rabah. Ada pula ilmuwan yang gigih mengatur tatapemerintahan, sebagaimana Harun al-Rasyid. Ada pulawarga penjajah yang membantu negara yang dijajahuntuk memperjuangkan kemerdekaan sebagaimanayang dilakukan oleh Laksamana Muda Tadashi Maedadari Jepang. Dinamika kehidupan ilmuwan tak bedanyadinamika yang dialami pejuang di era penjajahan yaknimewujudkan kehidupan yang memulyakan kemanusiaan.Bila torehan yang dilakukan oleh ilmuwan dan pejuangtersebut dapat diwarisi oleh generasi penerusnya maka yangtercipta adalah generasi berjati diri. Kita sering mengenalistilah mikul duwur menjem jero, yakni memulyakanpendahulu karena pengorbanannya. Akan tetapi, bilailmuwan yang sudah terjebak dalam ’meja’ birokrasi dantumpul daya kritisnya, maka tumpulnya daya pikir menjadibumerang lingkungannya karena hasil berpikir menjadiharapan untuk kehidupan nyata.
MELACAK HISTORITAS SYI’AH (Asal Usul, Perkembangan dan Aliran-Alirannya) Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1800

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang sejarah madzhab Syi’ah, perkembangan dan aliran-alirannya. Pengertian Syi’ah secara bahasa adalah seseorang pengikut dan pendukung. Sementara, maksud dari Syi’ah yang terkenal adalah para pengikut Ali sehingga mereka berkeyakinan bahwa Ali adalah khalifah pilihan Nabi Muhammad da ia adalah orang yang paling utama (afdhal) di antara para sahabat Nabi lainnya. Kaum Syi’ah, sejak menjadi pengikut Ali sesudah peristiwa perang jamal dan shiffin, terpecah menjadi empat golongan: a) Syi’ah yang mengikuti Sayyidina Ali., mereka tidak mengecam para sahabat. Dalam diri mereka terdapat rasa cinta dan memuliakan para sahabat Nabi saw. mereka sadar betul bahwa yang mereka perangi adalah saudara sendiri. b) Mereka yang mempercayai bahwa Sayyidina Ali memiliki derajat yang lebih tinggi daripada para sahabat lainnya. Kelompok ini disebut tafdhiliyah. Ali memperingatkan mereka dengan keyakinan ini dan akan menghukumi dera bagi para sahabat yang masih berkeyakinan tersebut. Kelompok Syi’ah sekarang, mereprentasikan kelompok ini. c) kelompok yang berpendapat bahwa semua sahabat Nabi adalah kafir dan berdosa besar. Mereka disebut saba’iyah, mereka adalah para pengikut Abdullah bin Saba’. d) Kelompok ghulat, yaitu mereka yang paling sesat, paling bid’ah di antara empat kelompok di atas. Mereka berpendapat bahwa Allah telah masuk pada diri Nabi Isa.
RELATIVITAS AJARAN AGAMA: MENUJU PLURALISME KEBERAGAMAAN YANG HARMONIS Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.305

Abstract

Deskripsi fenomena keberagamaan manusia, sebenarnya tidaklah semudah dan sesederhana seperti yang biasa dibayangkan oleh banyak orang. Ada manfaatnya memang untuk sesekali melihat agama dalam bentuknya yang tidak sederhana, lantaran berbagai persoalan pelik yang terkait dengan fenomena itu sendiri. Menunjuk agama dengan sebutan proper noun seperti Islam, Katolik, Proterstan, Hindu, Budha adalah sangat mudah, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar apakah tidak ada bentuk abstrat noun dari segala macam bentuk kepercayaan dan penghayatan agama yang beraneka ragam tersebut? Jika tidak ada bentuk abstract noun sebagai landasan ontologi seuatu kepercayaan, mustahil agaknya manusia dapat menyebut dengan sebutan proper noun terhadap apapun, lantaran abstract noun sebenarnya adalah dasar logika penyebutan proper noun. Menurut M. Amin Abdullah, adanya “truth claim” yang sering kali melekat pada sebutan agama- agama dengan proper noun, sangat boleh jadi lantaran tidak atau kurang dikenalinya wilayah abstract noun yang menjadi landasan logis-ontologis bagi keberadaan masing-masing proprer noun. Dari sini pula sebenarnya bermula segala macam kesulitan yang mengitari persoalan. Pluratitas agama-agama yang dipeluk oleh berbagai macam gologan, kelompok dan sekte keagamaan pada level historis-empiris. Kata Kunci: Relativitas, agama, pluralisme dan harmonis

Page 5 of 16 | Total Record : 155