cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKRAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 155 Documents
Meneguhkan Islam Harmoni Melalui Pendekatan Filologi Said, Nur
FIKRAH Vol 4, No 2 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i2.2084

Abstract

Indonesia dihuni oleh sebuah bangsa yang memiliki kelimpahan aneka seni dan budaya. Salah satu produk budaya yang khas nusantara adalah naskah kuno. Maka menjadi sebuah keniscayaan menjadikan naskah kuno sebagai bagian dari sumber utama dalam meneguhkan Islam nusantara. Maka ilmu filologi mutlak diperlukan. Paper ini akan membahas ruang lingkup manuskrip di nusantara serta menjelaskan pemahaman tentang pendekatan filologi secara teoritis dan praktis. Penulisan paper ini merupakan bagian dari penguatan theoretical framework  melalui review literatur secara kritis. Kesimpulannya adalah bahwa hampir di setiap kota lintas pulau di Indonesia ditemukan sejumlah manuskrip dengan ragam aksara, bahasa dan materi isinya yang mencerminkan kedalaman spiritualitas bangsa. Salah satu tugas filolog adalah peran pokoknya adalah melakukan transliterasi (alih aksara), agar naskah kuno tersebut bisa dibaca lebih luas dan selanjutnya mengkajinya secara interdisipliner sebagai bahan untuk rekonstruksi budaya. Sejauhmana produk riset filologis tersebut memberi kontribusi keilmuan tergantung kecerdasan dan kreatifitas peneliti mendialogkan dengan disiplin keilmuan yang ditekuninya sehingga mampu  meneguhkan identitas Islam nusantara yang dikenal ramah dan harmoni dalam relasi dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan.
Harmonisasi Kerukunan Antar Etnis dan Penganut Agama di Lasem Atabik, Ahmad
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1511

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang kerukunan antar etnis dan antar umat beragama di Lasem. Dalam sejarahnya, interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat Lasem pribumi dengan etnis Cina, sejak abad 14 hingga abad 16. Meskipun interaksi kedua etnis tersebut mengalami pasang surut, namun harmoni dan toleransi itu senantiasa berjalan dengan baik. Kedatangan etnis Cina di Lasem melahirkan kebudayaan dan pluralitas dalam masyarakat. Pluralitas itu membentuk sebuah harmonisasi kerukunan dalam beragama dan bersosial. Hubungan yang harmonis antara kedua etnis tersebut terutama ketika bersama-sama melawan penjajah Belanda di bumi Lasem. Harmoni dan toleransi masyarakat muslim Lasem juga dapat lihat dari interaksi penduduk asli secara baik dengan para pendatang, baik yang beragama muslim maupun non muslim yang kebanyakan dari etnis Cina. Dalam kehidupan sehari-hari, harmoni terjaga karena beberapa faktor, yakni perkawinan silang, perasaan bersaudara antarwarga, hingga terbukannya ruang-ruang sosial. Perkawinan silang antarwarga lintas etnik yang terdiri dari orang Tionghoa, pribumi Jawa dan santri, terjadi sejak hadirnya orang Tionghoa di Lasem. Dari sini nampak jelas adanya harmonisasi antar entis dan umat beragama di Lasem sejak zaman jauh sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang ini.
KERANGKA STUDI FEMINISME (Model Penelitian Kualitatif tentang Perempuan dalam Koridor Sosial Keagamaan) Karim, Abdul
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.550

Abstract

Islam dan Modernitas: Pandangan Muslim terhadap Perkembangan Sosial, Politik dan Sains Maula, Bani Syarif
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2234

Abstract

Islam is always highlighted by the world, among others in relation to the values of modernity, since some Muslims indeed reject the values contained in the modernity. This paper explains the Muslim response to the values of modernity in the social and political field, as well as the field of science. The social and political field explains issues of nationalism, democratization, and human rights. While in the field of science will highlight the issue of Muslim view of the theory of evolution. A theory that forms the basis for the development of modern science. The modernity that plagues the Islamic world, with all its positive-negative effects, becomes a challenge that Muslims must face today in contemporary times. Muslims are required to work extra hard to develop their potential to solve the problem. Tajdid and ijtihad are efforts by Muslims to preserve and preserve Islamic teachings to conform to modern values.
KONTEKSTUALISASI KONSEP ULUL ALBAB DI ERA SEKARANG Herawati, Azizah
FIKRAH Vol 3, No 1 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v3i1.1829

Abstract

Tulisan ini membahas tentang profi ulul albab.Sebuah paparan tentang siapa itu ulul albab, apa ciricirinya dan bagaimana penerapan ciri ulul albab diera sekarang ini. Ulul albab merupakan sekelompokmanusia yang diciptakan Allah SWT dengan segalakelebihannya. Mereka adalah sekelompok manusiapilihan yang mempunyai kekuatan spiritual,intelektual dan sosial yang tinggi. Komitmen merekaterhadap ajaran Allah SWT yakni ajaran Islam sangattinggi. Mereka juga tidak mudah terpengaruh godaanperkembangan zaman dan hanyut dalam rayuan hawanafsu yang melenakan. Keunggulan ulul albab tidaksemata menonjol dari pandangan manusia, akan tetapijuga harus menonjol dalam pandangan Allah SWT.Sehingga unsur-unsur pembentukan kepribadian ululalbâb yang tertera dalam Al-Qur’ân yaitu tafakkur,tadabbur dan tadzakkur menjadi sebuah keniscayaan.Istilah ulul albab ١٦ kali disebut dalam Al-Qur’an. AlQur’an tidak menjelaskan secara defiitive konsepnyatentang ulul albab, tapi hanya menyebutkan tandatandanya saja. Sehingga para mufassir kemudianmemberikan pengertian yang berbeda-beda tentangulul albab. Berulangkalinya Al-Qur’an menyebutistilah ulul albab dengan berbagai ciri, menunjukkanbahwa profi ulul albab merupakan profi dambaanumat sejak dahulu, kini dan masa yang akan datang.
KONSEP DAN KOMITMEN MAHASISWA STAIN KUDUS TENTANG PLURALITAS AGAMA Amaliyah, Efa Ida
FIKRAH Vol 2, No 2 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i2.663

Abstract

PERGUMULAN TAREKAT DAN POLITIK (Peranan Kyai Haji Muhammad Shiddiq dalam Tarekat dan Politik di Kudus) Mumin, Mamun
FIKRAH Vol 2, No 1 (2014): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v2i1.555

Abstract

Sekularisasi Kesadaran Dan Penafsiran Ulang Doktrin-Doktrin Agama Hanif, Abdulloh
FIKRAH Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i1.1960

Abstract

The Modern Age gave rise to secular ideology. Religionists got worry about religion that is getting out of the community of life. Research proves that secularization has revolutionized the religion of society with the traditions they carry. Turas (tradition) in this context is dogma, that is, something that has the truth and is based on religious texts. It can be either the text itself or the thought. In order to appreciate Turas as a dogma in the modern world, it must undergo a process of secularization. In this case, turats should be viewed live with the community and historic. Turas is not a transcendent element apart from the life of society. Hassan Hanafi and Khaled Abou el-Fadl received secularization and led him to revise the meaning of tura by using three approaches in reading turats, revolutions, transcendence, and hermeneutics. Secularization is not the abandonment of religious dogma but it reconstructs the appropriate meaning.
JIHAD MELAWAN TERORISME: (Merekonstruksi Pemahaman tentang Makna dan Implementasi Jihad dalam Islam) Kasdi, Abdurrohman
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.310

Abstract

Terorisme kembali lagi datang mengancam bangsa Indonesia setelah terjadinya ledakan bom di Hotel JW Marriott, Ritz Carlton dan bom Bali beberapa tahun lalu. Dari peristiwa peledakan ini, dapat dianalisis bahwa serangan sengaja dilakukan di tempat-tempat umum dengan target yang jelas. Inilah sesungguhnya tipikal aksi terorisme yang terjadi di berbagai belahan dunia. Serangan 11 September terhadap WTC dan gedung Pentagon di Amerika Serikat, peledakan bom Bali, ledakan bom JW Marriott 1, peledakan bom di Hotel Marriott 2 dan Ritz Carlton memberikan bukti yang jelas bahwa terorisme membidik sasaran di tempat keramaian. Hal ini menandakan betapa aksi kekerasan yang terjadi sudah mulai mengarah pada aksi yang menimbulkan dampak massif dengan dilakukan oleh para pelaku yang terorganisir. Fenomena inilah yang mendorong penulis untuk membahas teroris, dalam perspektif normatif dan mengkomparasikan dengan konsep jihad. Selama ini para orientalis menganggap bahwa banyaknya terorisme yang terjadi karena seorang Muslim mempunyai konsep jihad. Jihad yang sebenarnya dalam konteks sekarang tidak mesti dilakukan dalam bentuk perang. Islam menolak semua pembenaran untuk perang duniawi, seperti kolonialisme, rasisme, ketamakan, dan ekspansi ekonomi. Di bawah pemerintahan Islam semua orang akan bekerja bersama-sama sebagai satu keluarga besar, menjadikan semua makhluk sebagai satu kesatuan tanpa tujuan- tujuan yang saling bertentangan. Kata Kunci: Jihad, Terorisme, Rekonstruksi, Impelementasi
AGAMA; ANTARA CITA DAN KRITIK Ridwan, MK
FIKRAH Vol 4, No 1 (2016): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Ilmu Aqidah Jurusan Ushuluddin STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v4i1.1612

Abstract

Fenomena keagamaan hari ini dihadapkan pada permasalahan kompleks. Agama (Islam), dalam realitas kemanusiaan seakan memiliki wajah mendua. Pada satu sisi, agama dihadapkan pada permasalahan radikalisme (Islamic State) yang telah melanggengkan islamofobia di berbagai belahan dunia.Agama memperlihatkan arogansi berupa kekerasan, peperangan, kebencian bahkan pembunuhan. Namun di sisi lain, agama dihadapkan padarealitas ketertindasan. Betapa konflik Palestina yang telah menahun, menunjukkan kekalahan umat Islam di pentas politik global, di samping ketertinggalan dalam berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Belum lagi berbagai konflik bernuansa agama, yang menjadi ironi, telah melengkapi daftar hitam dalam masalah kemanusiaan. Sehingga perdamaian bangsa tidak akan terwujud sebelum adanya perdamaian antar agama.Oleh karena itu agama sebagai dimensi terdalam kemanusiaan merupakan entitas terpenting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Karena itulah, agama harus ditempatkan secara proporsional, dengan cara memanfaatkan nilai-nilai universal agama yang dapat dijadikan pengikat dan perekat berbagai komunitas sosial akibat perbedaan suku bangsa, letak geografis, etnis, dan kelas sosial. Maka, akan ditemukan sebuah peran agama yang lebih kooperatif dalam regulasi sosial, tatanan moral, menciptakan dan mengatur bentuk-bentuk kebudayaan, demi terwujudnya integrasi bangsa. Melalui perspektif inilah, teologi sebagai refleksi atas kehidupan beriman dan beragama, perlu menunjukkan diri dalam kiprah dan perannyadi masyarakat.

Page 6 of 16 | Total Record : 155