cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN" : 30 Documents clear
MANAJEMEN PESANTREN RESPONSIF GENDER : STUDI ANALISIS DI KEPEMIMPINAN NYAI PESANTREN DI KABUPATEN PATI Ambarwati, Ambawati; Husna, Aida
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidaksetaraan gender dalam sebuah organisasi masih dapat ditemukan termasuk di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren. Penyebab perbedaan ini berasal dari pengaruh bias gender yang masih banyak ditemukan dalam buku-buku rujukan (kitab kuning) dimana perempuan diposisikan sebagai masyarakat “kelasdua”, asumsi bahwa kemampuan perempuan hanyadalam urusan domestik serta pandangan perempuandi pesantren bahwa mereka wajib untuk menghormati,mengikuti dan mematuhi pria. Berdasarkan penelaahan atas kontribusi dan posisi “bu Nyai” di pesantren, makadapat disimpulkan bahwa banyak perempuan atau“nyai” yang telah memiliki peran kepemimpinan dipesantren. Tuntutan kepemimpinan perempuan munculdari karakteristik pesantren yang memisahkan pria dan wanita yang secara otomatis memerlukan kontribusi dari kepemimpinan perempuan sebagai wakil pimpinantertinggi “kyai”.Kata kunci: Manajemen Pesantren, Partisipasi, Nyai, Gender. Inequality gender roles in organizations still foundincluding in Islamic educational institutions such asboarding school. The cause of this discrepancy comesfrom the influence of gender bias of most of the materials(kitab kuning) i.e. the view of the position of women asbeing “second class”, the assumption that the abilityof women only in domestic affairs just as well as theview of women in boarding schools of the obligation torespect, to follow and to obey men. Whereas, it is alsofound the involvement of women in management ofboarding schools. The demands of women’s leadershipemerged from boarding relationships characteristic thatseparates men and women as well as the acceptance ofthe girls’ boarding schools also requires the contributionof women’s leadership as a representative of the highestleadership of “kyai”.Keywords: Participatoty, Women leader, boarding school
POLITIK KEPEMIMPINAN PESANTREN : PERAN PUBLIK PEREMPUAN DI PESANTREN DAARUT TAUHIID BANDUNG Ulyani, Farida
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menjelaskan mengapa perempuan dalam komunitas MC bisa memberdayakan perempuan melalui kegiatan dakwah dan bagaimana pola pemberdayaan dilakukan. Penelitian ini jugamenguraikan gerakan feminis pesantren berbasis.Pendekatan fenomenologis interpretatif untuk penelitian dan menafsirkan fenomena budaya yang ditemukan dalam komunitas perempuan di MC.Temuan dari penelitian ini adalah: (1) Adanya MCdi asrama DT telah memberikan warna dan pola dalam sosiologi sekolah perkotaan, dimana telah disediakan ruang publik bagi perempuan Muslim untuk mengaktualisasikan diri melalui kegiatan dakwah dan pemberdayaan perempuan, (2)Munculnya gerakan perempuan yang dilembagakan dalam MC tidak bisa lepas dari tokoh kunci, AaGym yang awalnya memberi peran khusus untuk istrinya (3) Pola gerakan berbasis pada penguatan ekonomi keluarga.Kata kunci: Politik kepemimpinan, Pesantren, Dakwah, pemberdayaan Perempuan The research also elaborates the pesantren-based feministmovement. Interpretative pheno menological approach to research and interpret the cultural phenomenon that isfound in the female community in the MC. The  findingswere: (1) The presence of MC in boarding DT has givencolor and pattern in the sociology of urban schoolsthat have provided public space for Muslim women toactualize themselves through propaganda and women’sempowerment, (2) The rise of the women’s movementwhich was institutionalized in the MC could not beseparated from key figure of Aa Gym that originally gavea special role to his wife (3) the pattern of movementbased especially on strengthening the economic family.Keywords: The politics of leadership, Pesantren, Dakwah, Women empowerment
PEREMPUAN SAMIN DALAM TANTANGAN POLITIK LOKAL DI KUDUS JAWA TENGAH Rosyid, Moh
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mencakup bagaimana kehidupan politik perempuan Samin. Tulisan ini mencoba untuk menjawab apa faktor yang mempengaruhi mereka untuk melaksanakan kepercayaan tradisional dalam kehidupan politik mereka. peneliti menggunakan beberapa model alternatif untuk melakukan penelitian ini, seperti ethnomethodology, etnografi, membumi, dan fenomenologi. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami kegiatan sosial perempuan Samin di Kudus dalam hal pemilihan umum.Hasil dari penelitian ini adalah bahwa wanita Saminsangat aktif dalam kehidupan politik mereka. Keaktifanmereka dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: daridiri mereka sendiri, dari suami mereka dan dari para pemimpin Samin.kata kunci: Tindakan Politik, Perempuan Samin, Pemilu. This research covers how is the political life of Saminwomen. It tries to answer what are factors which influence them to implement the traditional beliefs in theirpolitical life. The researcher uses some alternative modelsto undertake this research, such as ethnomethodology,ethnography, grounded, and phenomenology. The data are analyzed by using qualitative approach to understandthe social activities of Samin women in Kudus in terms ofgeneral election. It is found that Samin women are veryactive in their political life. Their activeness are influencedby some factors such as: from theirselves, from their husbands and from the Samin leaders.Keywords: Political act, Samin’s women, Election.
MODEL PARTISIPASI GURU PEREMPUAN DALAM BERPOLITIK : STUDI KASUS DALAM PEMILU LEGISLATIF 2009 DI KABUATEN GRESIK Muarifah, Siti
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru perempuan  memiliki peran besar dalam PemilihanUmum di Indonesia tetapi tingkat keterwakilanperempuan dalam politik masih sangat rendah. Penelitianini mencoba untuk menganalisis orientasi politikdari guru perempuan yang meliputi aspek kognitif,afektif dan evaluatif. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menyimpulkan orientasi politik dari guru wanita bervariasi tergantung pada aktivitas merekadi masyarakat. Guru perempuan yang aktif dalamorganisasi politik memiliki orientasi yang sangat kuat.Sementara guru yang memiliki aktivitas non-politik, memiliki orientasi yang lebih rendah.kata kunci: Orientasi politik, guru perempuan, pemilihan umum Women teachers also have a big role in the GeneralElection in Indonesia but the level of women representation in politics is still very low. This researchtries to analyze political orientation of women  teachersthat includes cognitive, affective and evaluative aspects.Through the qualitative method, the research conclusionis that the political orientation of women teachers variesdepend on their  activity in the community. Womenteachers who  active in political organizations has very strong orientation. While teachers who have non-political activity, have the lower orientation.Keywords : political orientation, women teacher, general election.
POLITIK ETIS KEPAHLAWANAN RA KARTINI: MENGUAK SPIRITUALISME KARTINI YANG DIGELAPKAN Said, Nur
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tiga isu utama terkait kepahlawanan RA Kartini di Indonesia: (1) Apa saja pertimbangan politikpemerintah dalam menetapkan Kartini sebagai pahlawanannasional?; (2) Bagaimana arkeologi pemikiran Kartiniterbentuk sehingga dikenal sebagai tokoh emansipasiwanita di Indonesia?, (3) Mengapa spiritualisme Kartinicenderung tersembunyi?, Makalah ini ditulis berdasarkanpenelitian perpustakaan dengan pendekatan filosofis.Kesimpulan dari artikel ini adalah: (1) Penentuan Kartinisebagai pahlawan tak lepas dari kepentingan politik. (2)Telah terjadi intervensi dari orientalis yang mengesankanKartini sebagai seorang sekuler dan penganut feminis Barat.(3) Kartini adalah seorang Muslim yang kritis bahkan diatidak ragu-ragu untuk memberikan gugatan dan kritik tajamdari fenomena keagamaan yang kurang mendidik, termasukdalam pembelajaran dari Al-Qur’an. Hal ini telah benar benar mencapai tingkat tertinggi kesadaran Kartini sebagai “hambaAllah” yang anti-feodalisme dan kolonialisme.kata kunci: Kepahlawanan Kartini, Spiritualisme, kolonialisme, politik etis This article discusses three focus issues: (1) What kindsof political interest in deciding behind the heroism ofKartini?; (2) What is the archaeological thought of  Kartinidespite his heroic figure?, (3) Why does the spiritualismof Kartini inclined hidden behind the frenzied heroismKartini that tends to make it as an object of ethical politics of dutch colonialism? This paper was writtenbased on library research with philosophical approaches.Conclusions of this article are: (1) the determinationof Kartini as an hero could not be separated from thepolitical intrigues. (2) Due to the intervention of theOrientalist writer has impressed Kartini be secular andWestern feminist adherents. (3) Kartini is a Muslimcritical even she did not hesitate to give the lawsuit andsharp criticism of the religious phenomenon which doesnot educate, including the learning of the Qur’an. It hasactually reached the highest degree of Kartini’s awareness as a servant of God that anti-feudalism and colonialism.Keywords: Heroism of Kartini, Spiritualism, Colonnialism, Ethics Political
PERAN PUBLIK PEREMPUAN DALAM PARLEMEN (STUDI ANALISIS REPRESENTASI WAKIL RAKYAT PEREMPUAN DALAM LINTAS SEJARAH INDONESIA) Zahra, Fatimatuz
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterwakilan perempuan dalam parlemen menjadi sebuah kebutuhan tak terelakkan, sebab berbagai problematika mengenai perempuan harus dan bisa diatasi oleh perempuan itu sendiri. Pada pemilu pertamadalam sejarah Indonesia 1955, perempuan bukanhanya punya hak pilih dan memilih, tetapi bahkan ada partai perempuan yang turut bertarung, yakni Partai Wanita Indonesia/Partai Wanita Rakjat. Dalam pemiluitu, ada 19 perempuan yang terpilih sebagai anggotaparlemen (DPR). Kebijakan kuota 30% perempuan yang diberlakukan mulai tahun 2004 justru banyak sekalianggota legislatif perempuan yang berperan sebagai“ganjal kursi” supaya partai tersebut lolos affirmative account. Artikel ini mengkaji analisis representasi wakilrakyat perempuan dalam persentase vokalitas serta peran aktif wakil rakyat perempuan tersebut dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa menyangkut perempuan.Kata kunci: Keterwakilan, perempuan, analisis representasi The representation of women in parliament becomes an inevitable requirement, since various problems concerning women should and could be overcome by women themselves. History has proven in the 1955general election, the first election in the history of Indonesia, women not only have the right to vote andchoose, but even there the women who participatedfight party, namely the Indonesian Women Party / PartyWomen People. In the election, 19 women were electedto parliament (DPR). Since 2004, formally enacted Actrequirement for any political party that put forward legislative candidates who will compete in the elections,mandatory composition is 30% female and 70% male.This is precisely, makes the boomerang at a later date,with this requirement actually a lot of women legislatorswho serve as «padding seat» in order to qualify foraffirmative account of the party. And later on, whenthey were elected precisely is not based on an intentionto fight for women in various domains. Starting payattention to these problems, the authors moved to writeabout the analysis of the representation of the femalerepresentatives. Percentage vokalitas and the active roleof women representatives of the nation in solving variousproblems relating to women.Keywords: representation, women in parliament, paddingseat
STUDI PSIKOLOGI POLITIK MENAKAR KEPRIBADIAN PEREMPUAN DALAM PANGGUNG POLITIK Saliyo, Saliyo
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Psikologi politik memiliki dua dimensi yaitu aktivitas politik dan idiologi politik. Dimensi pertama tentang aktivitas politik berkaitan dengan apatisme politik, konformitas,kepemimpinan, mengikuti pola politik, isolasi politik, pengambilan keputusan politik, fleksibilitas, kekacuan politik dan kreativitas politik. Kedua dimensi idiologi berkaitan dengan intensitas idiologi dalam aktivitas politik. Idiologi politik seseorang  berkaitan dengan ekspresi kepribadian seseorang. Akhir-akhir ini telahterjadi revolusi ekstrim yaitu revolusi peran laki-lakidan perempuan serta revolusi teknologi. Tulisan inibertujuan untuk melihat bagaimana dua revolusi tersebutmenjadikan berubahnya peran laki-laki dan perempuan.Perubahan tersebut di antaranya adalah perempuan mampu tampil dalam sektor publik yaitu sektor politik.Dalam sejarah Islam ataupun perjuangan Indonesia,banyak perempuan mampu mewarnai untuk menjadi inspirasi perjuangan emansipasi wanita. Perempuantampil dalam sektor publik tidak hanya berbasis padaidiologi pragmatis, liberal pada kesataraan gender.Perempuan tampil disektor publik dengan keanggunan, kesantunan, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Perempuantampil disektor publik mampu menjadi tauladan bagi perempuan lainnya.kata kunci: Psikologi Politik, Perempuan, Panggung Politik. Political psychology has two dimensions, namely politicalactivity and political ideology. The first dimension ofpolitical activities related to political apathy, conformity,leadership, following the pattern of politics, politicalisolation, political decision-making, flexibility, politicalturmoil and political creativity. The second dimensionrelates to the intensity of the ideology  in politicalactivity. A person’s political ideology associated with theexpression of one’s personality. Lately there has been anextreme revolution in terms of men and women”s roleand also in technology. This paper aims to look at howthe two revolutions, change and affect the roles of menand women. Such changes are women ability to performin the public sector, namely the political sector. In thehistory of Islam or the struggle of Indonesia, manywomen capable of coloring to be inspiring struggle forthe emancipation of women. Women appear in the public sector is not only based on the ideology of pragmatic, liberal on gender equality. Women performing publicsector with elegance, modesty, intelligence, and wisdom.Women performing public sector is able to be a rolemodel for other women.Keywords: Political Psychology, Women, Politic Area.
KETIDAKADILAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN : STUDI PANDANGAN POLITIK PEREMPUAN ANGGOTA LEGISLATIF DI KABUPATEN KUDUS Yuliani, Farida
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini ingin mengidentifikasi bentuk-bentuk kesenjangan gender dalam pembangunan pertaniandi Kabupaten Kudus serta seberapa jauh pandangan politik perempaun anggota legislatif di Kudus menjangkau pembangunan di bidang pertanian. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasusdan fenomenologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam pengambil keputusan, tidak ada kebijakankhusus untuk perempuan, tetapi arah kebijakan menujukesetaraan gender di mana perempuan sudah mulai terlibat aktif dalam gabungan kelompok tani tetapijumlah perempuan yang diakses teknologi baru ataumodal pertanian dari pemerintah dan wanita yangmengelola pertanian, masih kurang dari laki-laki. Dalammenyikapi hal ini legislator perempuan menyatakan perlunya pendidikan khusus sesuai dengan potensi petani lingkungan perempuan, sehingga mereka memiliki rasa kepercayaan diri dan mendapatkan posisi tawar yanglebih baik.Kata kunci: Perempuan legislator; kesenjangan gender;pertanian This article investigates the women legislator facing  gender gap in faming developmen in Kudus Central Java. This reasearch used a case study and phenomenological approach. The congclution of this article are women farm workers are always behind the men in terms oftecnological access. In the level of decicion maker, thereis no specific policy for women, but the policy directionis towards the gender equality where women have startedto be involved actively in the Joint Group of Farmers butthe number of women that accessed new technologiesor farming capital from government and women whomanage agricultural, still less than male. In addressingthis matter of women legislators expressed the needfor special education in accordance with the potentialof neighborhood women farmers, empowering womenthrough cooperatives and recitation, and revitalize thePKK as a means of distributing information, so they havemore capability, resulting sense of confidence and gain a better bargaining position.Keywords: Woman legislator, Gender gap, Agricultural
POLITISASI GENDER DAN HAK-HAK PEREMPUAN KENDALA STRUKTURAL KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM PENCALONAN LEGISLATIF Abdullah, Irwan
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peluang partisipasi perempuan dalam politik melalui kuota tiga puluh persen pada kenyataannya masih mengalami sejumlah kendala struktural. Penyebabnya adalah kesalah pahaman dari peran perempuan yang menempatkan perempuan bukan sebagai pemimpin tetapi hanya sebagai ‘pemanis’ politik untuk menarik massa pemilih. Selain itu, kurangnya tindakan afirmatif yang dilakukan oleh pihak partai juga melemahkan posisi perempuan dalam politik. Artikel ini menyimpulkan bahwa hambatan struktural untuk keterlibatan perempuan dalam politik dapat diselesaikan dengan komitmen dan kerjasama dari berbagai pihak, yaitu perempuan itu sendiri, masyarakat, partai politik dannegara sebagai penjamin yang bertanggung jawab untuk pemenuhan hak-hak politik perempuan. Tanpa sinergi berbagai pihak, hak-hak politik perempuan masih akan diabaikan.kata kunci: Calon anggota legislatif perempuan, Hakpolitik perempuan, Reposisi perempuan The opportunities of women participation in politics through a quota of thirty percent in reality is still experiencing a number of structural constraints.The cause is a misconception of women role which places women not as a leader but only as a political‘sweetener’ to attract the masses of voters. Besides,the lack of affirmative actions undertaken by theparties also weakens the position of women in politics.The article concludes that the structural obstacles towomen’s involvement in politics can be solved with the commitment and cooperation of many parties, namelythe women themselves, society, political parties andthe state as the guarantor which is responsible for thefulfillment of the political rights of women. Without thesynergy of various parties, women’s political rights willstill be neglected.Keywords : Candidates for Legislative Women, Women’sPolitical Rights, Women Repositioning
MODEL KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI ERA WIKINOMICS Purnamasari, Dewi Laily
PALASTREN Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan ekonomi berbasis manusia sebagai konsep ekonomi Islam dan penerapannya diikuti oleh kebutuhan untuk mengoptimalkan martabat kehidupan bangssa indonesia di segala bidang. Muhammad Rasulullah Saw adalah model yang tepat, selain sebagai pelaku ekonomidan manajer bisnis, beliau juga memberikan bimbingan dan arahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi berbasis manusia. Peran perempuan dalam pembangunan bangsa tidak dapat dipisahkan dari pendidikan yang diperolehnya untuk meningkatkan akses perempuanke pasar tenaga kerja dan meningkatkan keterampilan tertentu, termasuk keahlian di bidang ekonomi dan kepemimpinan. Wikinomics adalah kekuatan baruyang menyatukan orang di internet untuk membuat otak raksasa. Dampak dari Wikinomics sendiri cukup mengesankan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana  konsep Wikinomics telah menjadi kata dalam percakapan sehari-hari. Di berbagai negara dan perusahaan Wikinomics digunakan untuk merujuksebuah komunitas dan inovasi kolaboratif.Kata kunci: Wikinomik, Peran Perempuan, PemimpinPerempuan Human-based economic development as a concept ofIslamic economics and its application is followed by theneed to optimize the dignity of life in all areas of theIndonesian nation. Muhammad is the right model, heprovides guidance and direction on how the economicactivities carried out, also economic actors as a businessmanager. The role of women in nation-building can notbe separated from education which is believed to increasethe access of women to the labor market and improvecertain skills, including expertise in economics andleadership. Wikinomics is a new force that unites peopleon the internet to create a giant brain. Impact wikinomicsquite impressive, the concept itself has become a wordin everyday conversation. Wikinomics word (with a ‘w’small) is used in the manner and by some unexpectedgroups, in many different countries and companies usewikinomics to form a community and collaborativeinnovation.keywords: Wikinomics, Women’s Role, Female Leader.  

Page 1 of 3 | Total Record : 30