Articles
466 Documents
POSISI WANITA DALAM IDEOLOGI KANURAGAN WAROK PONOROGO
Nia Ulfia Krismawati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 2 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v11i2.3896
Berperan sebagai istri warok, mengharuskan wanita menerima kodrat sebagai wani di tata yakni diharuskan tunduk terhadap suami. Sistem patriarki yang mengakar kuat memposisikan wanita pada golongan lemah. Stereotip menjadi wanita baik (konsep jawa) telah menjadi pedoman hidup dalam berumah tangga dan tanpa disadari membawanya pada posisi yang lemah. Dalam menjalai kehidupan sebagai istri warok, seorang wanita harus rela untuk membagi ranah publik pada gemblak yang berperan sebagai pendamping warok. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis posisi wanita dalam konteks keluarga sebagai konsekuensi dari ideologi kanuragan yang dianut oleh warok. Pasrah dan lega lila adalah dua kata yang dirasa tepat untuk menggambarkan posisi wanita di tengah budaya menggemblak yang hanya bersifat nerimo. Metode yang digunakan adalah historis dengan menggunakan sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kepemilikan atas gemblak yang dinobatkan sebagai tradisi dan konsekuensi dari ideologi kanuragan telah menempatkan wanita pada posisi lemah dalam konteks keluarga.
BIDADARI DALAM KONSTRUKSI TAFSIR AL QUR’AN : ANALISIS GENDER ATAS PEMIKIRAN AMINA WADUD MUHSIN DALAM PENAFSIRAN AL QUR’AN
Nor Saidah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v6i2.994
Penafsiran visi penting al-Qur’an tentang temanpendamping dalam surga telah mengalami biaspatriarkhi. Amina Wadud mencoba membaca ulang ayatayatini dengan pendekatan hermeneutik berkeadilangender. Menggunakan metode deskriptif, artikel inimeyimpulkan Amina membedakan dua kata yang sering disalahpahami dan dianggap identik yaitu kata hur ddanazwaj. Gambaran mengenai teman di surga bagi kaumberiman dimunculkan dalam tiga tingkatan. Pertama, sebutan hu>r al-‘ayu>n yang berarti pasangan untuk lakilakiberiman (bidadari). Kata ini mencerminkan tingkatberpikir Makkah Jahiliyyah. Kedua, istilah zawj yangmenggambarkan periode Madinah yang bermaknapasangan yang diidamkan baik untuk laki-laki maupunperempuan. Dan ketiga, al-Qur’an menyebutkan sesuatuyang melebihi kedua peringkat sebelumnya yaitu kedekatan di sisi Allah swt swt.Kata kunci : Amina Wadud, Bidadari, Tafsir Feminis.
Perempuan dan Ekonomi Digital: Peluang Kewirausahaan Baru dan Negosiasi Peran berbasis Gender
Anisa Nurcahyani;
M. Falikul Isbah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v13i1.6382
Artikel ini mendiskusikan bagaimana para perempuan pengusaha memanfaatkan media digital sebagai peluang kewirausahaan baru, serta bagaimana mereka menegosiasikan aktifitas ekonomi tersebut dengan peran mereka sebagai istri dan ibu. Berdasarkan riset lapangan di Yogyakarta dengan menggabungkan metode observasi daring atas beberapa akun Instagram milik perempuan pengusaha dan wawancara langsung dengan mereka, riset ini menemukan bahwa ekonomi digital telah menjadi peluang kewirausahaan baru bagi para perempuan pengusaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa mengabaikan peran mereka sebagai istri/ibu. Namun mereka dituntut untuk terus berinovasi dan memahami trend pasar yang terus berubah serta selalu meningkatkan penguasaan teknologi demi hasil yang maksimal. Pada saat yang sama, mereka juga harus mampu menegosiasikan peran domestik dan publik mereka dengan suami. Riset ini menemukan bahwa negosiasi yang berhasil umumnya bertumpu pada kesepakatan dengan suami dalam mengelola waktu, tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas, dan memposisikan suami sebagai mitra kerja. Berdasarkan temuan ini, penulis berargumen bahwa ekonomi digital menyediakan peluang kewirausahaan baru yang memungkinkan kaum perempuan berperan di ranah domestik dan publik secara neogotiable dan fluid (cair atau lentur).
MODEL PARTISIPASI GURU PEREMPUAN DALAM BERPOLITIK : STUDI KASUS DALAM PEMILU LEGISLATIF 2009 DI KABUATEN GRESIK
Siti Muarifah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1024
Guru perempuan memiliki peran besar dalam PemilihanUmum di Indonesia tetapi tingkat keterwakilanperempuan dalam politik masih sangat rendah. Penelitianini mencoba untuk menganalisis orientasi politikdari guru perempuan yang meliputi aspek kognitif,afektif dan evaluatif. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menyimpulkan orientasi politik dari guru wanita bervariasi tergantung pada aktivitas merekadi masyarakat. Guru perempuan yang aktif dalamorganisasi politik memiliki orientasi yang sangat kuat.Sementara guru yang memiliki aktivitas non-politik, memiliki orientasi yang lebih rendah.kata kunci: Orientasi politik, guru perempuan, pemilihan umum Women teachers also have a big role in the GeneralElection in Indonesia but the level of women representation in politics is still very low. This researchtries to analyze political orientation of women teachersthat includes cognitive, affective and evaluative aspects.Through the qualitative method, the research conclusionis that the political orientation of women teachers variesdepend on their activity in the community. Womenteachers who active in political organizations has very strong orientation. While teachers who have non-political activity, have the lower orientation.Keywords : political orientation, women teacher, general election.
PEREMPUAN DAN LIMINALITAS PERDAMAIAN: Hubungan Islam-Kristen dalam Liminalitas Simbolik Kain Gandong di Maluku
Sharon Michelle O Pattiasina;
Izak Y M Lattu;
Ebenhaizer I Nuban Timo
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 11, No 2 (2018): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v11i2.3298
Tulisan ini menganalisis peran perempuan dan tradisi Kain Gandong dalam liminalitas hubungan Islam-Kristen yang berfokus pada ritual Panas Pela dan ritual Pelantikan raja di negeri Hative Kecil dan Hitumessing, Maluku. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara, studi dokumenter dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam tradisi Kain Gandong. Perempuan berperan sebagai pemegang Kain Gandong dengan mengacu pada arti dan makna dari kata gandong itu sendiri. Tradisi Kain Gandong menciptakan sebuah ruang kebersamaan yang disebut sebagai ruang liminalitas. Ruang tersebut dapat membebaskan masyarakat dari perbedaan-perbedaan status sosial, budaya dan agama. Berdasarkan data yang diperoleh, penulis menemukan tiga nilai yang dapat berguna untuk membangun kehidupan bersama, yakni nilai persaudaraan, nilai kesetaraan dan nilai perdamaian.
PEREMPUAN DAN ISU LINGKUNGAN (Analisis Pemberitaan di Media Nasional dan Lokal tahun 2014-2017)
Netty Dyah Kurniasari
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2276
Women have always been described as marginalized. Various studies and research on the image (representation) of women in the media always put women as objects. Media can construct the reality that occurs so as to affect the perception of the audience. This study aims to find out how the media describes news about women and environmental issues. The chosen method is textual analysis by analyzing existing text on women and environmental issues. The selected media are Kompas, Tempo, TribunNews, Antara and Radar Madura (representing local media). News selected from the year 2014 on the grounds because the news about environmental issues in Madura many covered Radar Madura in 2014. The results showed that the majority of all media describe women as the object (victims) who always ask for help and do not have the initiative to overcome problems. While men are described as the problem solver. However, national media such as Kompas tend to describe balanced women (as objects and subjects). In contrast, local media ( Radar Madura) all portray women as objects of narrators whose ultimate purpose is to raise the value of news.
POLITIK ETIS KEPAHLAWANAN RA KARTINI: MENGUAK SPIRITUALISME KARTINI YANG DIGELAPKAN
Nur Said
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1022
Artikel ini membahas tiga isu utama terkait kepahlawanan RA Kartini di Indonesia: (1) Apa saja pertimbangan politikpemerintah dalam menetapkan Kartini sebagai pahlawanannasional?; (2) Bagaimana arkeologi pemikiran Kartiniterbentuk sehingga dikenal sebagai tokoh emansipasiwanita di Indonesia?, (3) Mengapa spiritualisme Kartinicenderung tersembunyi?, Makalah ini ditulis berdasarkanpenelitian perpustakaan dengan pendekatan filosofis.Kesimpulan dari artikel ini adalah: (1) Penentuan Kartinisebagai pahlawan tak lepas dari kepentingan politik. (2)Telah terjadi intervensi dari orientalis yang mengesankanKartini sebagai seorang sekuler dan penganut feminis Barat.(3) Kartini adalah seorang Muslim yang kritis bahkan diatidak ragu-ragu untuk memberikan gugatan dan kritik tajamdari fenomena keagamaan yang kurang mendidik, termasukdalam pembelajaran dari Al-Qur’an. Hal ini telah benar benar mencapai tingkat tertinggi kesadaran Kartini sebagai “hambaAllah” yang anti-feodalisme dan kolonialisme.kata kunci: Kepahlawanan Kartini, Spiritualisme, kolonialisme, politik etis This article discusses three focus issues: (1) What kindsof political interest in deciding behind the heroism ofKartini?; (2) What is the archaeological thought of Kartinidespite his heroic figure?, (3) Why does the spiritualismof Kartini inclined hidden behind the frenzied heroismKartini that tends to make it as an object of ethical politics of dutch colonialism? This paper was writtenbased on library research with philosophical approaches.Conclusions of this article are: (1) the determinationof Kartini as an hero could not be separated from thepolitical intrigues. (2) Due to the intervention of theOrientalist writer has impressed Kartini be secular andWestern feminist adherents. (3) Kartini is a Muslimcritical even she did not hesitate to give the lawsuit andsharp criticism of the religious phenomenon which doesnot educate, including the learning of the Qur’an. It hasactually reached the highest degree of Kartini’s awareness as a servant of God that anti-feudalism and colonialism.Keywords: Heroism of Kartini, Spiritualism, Colonnialism, Ethics Political
MENGGUGAT STEREOTIPE “PEREMPUAN SEMPURNA” : Framing Media terhadap Perempuan Pelaku Tindak Kekerasan
aprilia hening puspitasari;
Widodo Muktiyo
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2610
Penelitian ini menggunakan metode framing dan Teori Agenda Setting untuk melihat sejauh mana media massa memotret citra perempuan sebagai pelaku tindak kekerasan terhadap anak. Berdasarkan stereotipenya perempuan yang sempurna merupakan perempuan yang mampu berperan ganda (multi tasking) sebagai penguasa domestik sekaligus pekerja di sektor publik. Framing media merepresentasikan perempuan sebagai sosok yang lemah-lembut, bijak, penyayang, sabar dan pemaaf. Namun maraknya kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh perempuan melanggengkan objectivikasi perempuan sebagai sosok yang kejam, pemarah, dan tidak berperikemanusiaan. Dengan kekuatan untuk mengkonstruksi realitas dan membentuk opini publik, media massa seharusnya dapat menghadirkan pemberitaan berimbang dan humanis. Framing media seharusnya tidak hanya menuntut dan menonjolkan kegagalan perempuan sebagai perempuan yang sempurna saja melainkan mengulas pula faktor-faktor psikologis yang melatar-belakangi tindakan kekerasan sebagai akibat tekanan hidup, ketidakberdayaan ekonomi-pendidikan serta ketiadaan dukungan dari lingkungan terdekat. Perimbangan pemberitaan media dilakukan untuk meningatkan kesadaran dan tanggungjawab masyarakat sekitar terhadap keselamatan anak-anak di lingkungannya, dan bukan hanya mengutuk atau mendiskreditkan tindakan pelaku kekerasan.
GERAKAN DAN REPRESENTASI POLITIK PEREMPUAN DI KOTA TASIKMALAYA
Noneng Masitoh
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v9i1.1924
Penelitian ini didasari atas berbagai problem lemahnya peran perempuan yang berdampak pada diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan yang diterima oleh perempuan. Penelitian yang dilakukan di Tasikmalaya ini mencoba untuk menggambarkan gerakan perempuan mulai dari akar rumput dan bagaimana aktor aktor gerakan perempuan merepresentasikan kepentingan perempuan, baik gerakan perempuan yang berasal dari akar rumput maupun yang muncul karena bentukan negara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif deskriptif. Paradigma ilmu politik yang digunakan menggunakan teori kritik sosial menggunakan feminisme sebagai pendekatan penelitian. Sedangkan tekhik analisis menggunakan metode interaktif dan data digali secara mendalam lewat purpose methode. Hasil dari penelitian ini adalah: 1. Organisaasi-organisasi perempuan yang ada di Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya memiliki wadah yang dapat mempersatukan semua golongan, sehingga gerakan masih dilakukan sendiri-sendiri oleh organisasi perempuan masing-masing. 2. Keterwakilan perempuan dalam lembaga politik formal cukup terwakili dengan munculnya tokoh-tokoh yang menjadi representasi perempuan dalam lembaga politik. Secara substantif, keberadaan mereka dalam lembaga-lembaga tersebut belum memberikan implikasi positif yang sangat signifikan. 3. Keberadaaan GOW Kota Tasikmalaya sebagai salah satu wadah bersatunya organisasiorganisasi perempuan di Kota Tasikmalaya belum maksimal dalam mengkoordinir gerakan perempuan di Kota Tasikmalaya. This research is based on the various problems of the role of women which have an impact on discrimination in many aspects of women life. This research which conducted in Tasikmalaya is trying to portray the women’s movement from the grassroots and how actors represent women’s interests in both women’s movement that comes from the grass roots and other movements that affiliated to the state. The method used in this research is descriptive qualitative research methods. The paradigm of political science and the theory of social critique used as a research approaches. While analysis is using interactive methods and data explored in depth through the method purpose.The results of this study are: 1.-Women’s organizationsin the city of Tasikmalaya have no full power to unite all the groups, so that the movement is still done separately by women’s organizations respectively. 2. The representation of women in formal political institutions are adequately represented by the emergence of figures in politic. Substantively, their presence in these institutions does not provide a significant positive implication. 3. The existence of GOW Tasikmalaya as women’s organizations in the city of Tasikmalaya is not maximized in coordinating the women’s movement in this city, Women’s organization, women’s movement, the representation of women in politic
PEREMPUAN MUSLIM DAN KETAHANAN EKONOMI KELUARGA: Studi di Kalangan Pelaku Pernikahan Dini di Jetis Karangrayung Grobogan
Muzdalifah Muzdalifah;
M. Amin Syukur;
Misbah Zulfa Elizabeth
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/palastren.v14i1.9151
A common phenomenon among perpetrators of early marriages is the fragility of the marriage structure due to their lack of readiness to lead family life. This doesnot happen in Jetis village. Karangrayung District, Grobogan Regency. Applying qualitative research, with the technique of data collecting observation, interview and document review, this study resulted that ; 1). Moslem women view that early married life is very difficult both psychologically and economically. However, women in the village have the initiative to maintain their marriage; 2). efforts made by women are trying to solve economic problems, namely by living a simple life, working hard, saving and doing entrepreneurship; 3). The reason women make various efforts is because of religious motives so that they are able to survive in a crisis or difficulty, so that they are able to rise again in maintaining the family economy, so that a prosperous and noble life can be achieved.