cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Naturalis : Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 23026715     EISSN : 26547732     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 230 Documents
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA PANTAI KOTA BENGKULU Filla Meinita; Yar Johan; Dede Hartono; Agus Susatya; Bieng Brata
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.11.2.24228

Abstract

Ekowisata pantai merupakan kegiatan ekowisata yang memanfaatkan keindahan panorama alam yang tercipta oleh pantai itu sendiri dan bersifat bertanggung jawab serta tetap mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan dan budaya serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun tujuan peneitian ini untuk Menganalisis kesesuaian awasan ekowisata pantai kategori rekreasi, olah raga dan berjemur dan menganalisis daya dukungkawasan ekowisata pantai kategori rekreasi olah raga dan berjemur. Penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian melalui observasi, survey dan wawancara dengan masyarakat, wisatawan dan stakeholder terkait. Sedangkan data sekunder merupakan jenis data yang diperoleh dari studi kepustakaan di dinas atau instansi terkait dalam bentuk laporan dan publikasi daerah seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Kantor Kecamatan dan Kelurahan. Hasil penelitian ini IKE kategori rekreasi untuk Stasiun pantai panjang 85.41% S1(Sangat Sesuai), IKE Stasiun Pantai berkas 76.04% S2(Sesuai), IKE Stasiun Pantai Jakat 85.41% S1(Sangat Sesuai), dan Stasiun Pantai Kualo dengan IKE 85.41% S1(Sangat Sesuai). IKE kategori Olah raga dan berjemur untuk Stasiun pantai panjang 93.5% S1(Sesuai), IKE Stasiun Pantai berkas 88.88% S1 (Sesuai), IKE Stasiun Pantai Jakat 93.5% S1(Sesuai). DDK kategori Ekowisata rekreasi Stasiun Pantai Panjang 194 Orang/hari, DDK Stasiun Pantai Berkas 94 Orang/hari, DDK Stasiun Pantai Jakat sebanyak 135 Orang/hari dan Stasiun Pantai Kualo dengan DDKdengan 100 orang/hari. DDK kategori olah raga dan berenang di stasiun Pantai Panjang sebanyak 194 Orang/, Stasiun Pantai Berkas sebanyak 54 Orang/hari, Stasiun Pantai Jakat dengan DDK sebanyak 135 Orang/hari dan DDK Stasiun Pantai Kualo 100 orang/hari. yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa pengunjung Pantai Kota Bengkulu belum melampaui batas daya dukung kawasan, sehingga dapat dikatakan Pantai Kota Bengkulu untuk saat ini memiliki daya dukung kawasan yang mendukung untuk aktivitas Rekreasi, olah raga dan berjemur.
KAJIAN PELAKSANAAN REKLAMASI IZIN USAHA PERTAMBANGAN OPERASI PRODUKSI (IUP OP) PT. CAKRAWALA DINAMIKA ENERGI (CDE) DI KABUPATEN BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU Nani Nuriyanti; Saprinurdin Saprinurdin; Casia Nursyifa Nursyifa
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.11.2.24229

Abstract

Rayap adalah serangga yang bertanggung jawab terhadap degradasi kayu dan bahan bersellulosa lain di lingkungan tanah (Coulson & Lund, 1973). Kayu dan produk kayu seperti kertas, dan semua produk dengan struktur kayu akan dikonsumsi rayap (Peralta et al. 2004).  Rayap merupakan salah satu hama yang menimbulkan kerusakan hebat dan kerugian besar pada produk-produk kayu (Eaton dan Hale, 1993 & Haygreean dan Bowyer, 1993).  Salah satu cara untuk menguji ketahanan suatu jenis kayu terhadap serangan rayap adalah dengan uji kubur (grave yard test), sementara sistim penilaiannya dapat dikelompokan berdasarkan skoring (Febrianto et al, 2000). Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menetapkan tehnik pengelompokan yang tepat dan akurat berdasar skoring  untuk  kayu-kayu yang telah diserang rayap. Dalam hal ini tehnik yang digunakan adalah dimulai dengan menghitung jumlah serangan pada 2 permukaan sampel uji secara rinci dan teliti.  Tahap selanjutnya dalam pengolahan data adalah dengan menganalisa secara perhitungan statistik sederhana.  Sampel uji kayu-kayu yang telah diserang rayap diambil dari data sekunder penelitian mahasiswa dalam bentuk skripsi.  Diharapkan dengan adanya tehnik pengelompokan ini, hasil skoring akan tepat dan akurat.
KAJIAN KESESUAIAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DALAM UPAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI KECAMATAN MUARA BANGKAHULU KOTA BENGKULU yurike yurike; Ayub Sugara; Anitya Dwi Putri
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.11.2.24254

Abstract

Ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan menghadapi persoalan serius karena ketersediaan lahan pertanian pangan yang dialihfungsikan ke lahan non pertanian terus meningkat. Konversi lahan pertanian menjadi non pertanian cenderung terjadi di Kota Bengkulu. Kecamatan Muara Bangkahulu menjadi salah satu kecamatan yang mengalami laju konversi lahan yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian dengan ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bengkulu, dan mengetahui kesesuaian pelaksanaan alih fungsi lahan dengan ketentuan Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisis spasial dan metode survei lapangan. Kesesuaian penggunaan lahan ditentukan dengan metode analisis spasial menggunakan aplikasi software SIG (Sistem Informasi Geografis). Selanjutnya dianalisis secara deskriptif yaitu mengkaji penentuan kesesuaian bentuk penggunaan lahan didasarkan Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan perumahan di Kecamatan Muara Bangkahulu yang ada saat ini diperuntukan untuk kawasan permukiman berdasarkan peta rencana pola ruang Kota Bengkulu. Namun, jika dilihat dan segi tata guna lahan pada awalnya kawasan tersebut merupakan kawasan pertanian yang dikonversi menjadi kawasan perumahan. Hal ini berdampak terhadap produksi padi sawah yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Selain itu, masih ada beberapa perumahan yang berada tidak sesuai dengan peruntukannya. Upaya pemerintah yang telah dilakukan dalam rangka perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan masih kurang. Dalam pelaksanaannya diperlukan suatu koordinasi dan mekanisme melalui sanksi yang tegas agar pelaksanaan perlindungan lahan pertanian dapat terlaksana dengan baik tidak hanya sekedar Undang- Undang.
KAJIAN DAMPAK PROSES PRODUKSI NATURAL GAS TERHADAP LINGKUNGAN PADA SEBUAH PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS DENGAN MENGGUNAKAN LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) Pritasari, Sintia
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.22900

Abstract

The process of natural gas production starting from drilling, processing, and distribution has the potential to release harmful substances into the environment. Therefore, it is necessary to analyze and identify the impact of natural gas production using the Life Cycle Assessment (LCA) method. In this study, the environmental impact of natural gas production was identi-fied using a gate-to-gate approach, using LCA and Microsoft Excel methods. The unit of func-tion used is 1 MMSCF (Million Million of Standard Cubic Feet). LCA methods include goal set-ting and scoping, Life Cycle Inventory (LCI), Life Cycle Impact Assessment (LCIA), and data interpretation. Environmental impacts are categorized using the CML-1A baseline, which includes Global Warming Potential, Acidification Potential, Eutrophication Potential, Photo-chemical Oxidation and Human Toxicity. LCA analysis shows that every 1 MMSCF of natural gas production will contribute to Global Warming Potential 4,067.72 kg CO2eq, Acidification Potential 2,07459 kg SO2eq, Eutrophication Potential 0.25365 kg PO4eq, Photochemical Oxi-dation 0.09891 kg C2H4 eq and Human Toxicity 2.41181 kg 1,4-DB eq. In the natural gas production process, the highest environmental impacts identified are from Gas Turbine Gen-erator (GTG) with Global Warming Potential of 1,986.78 kg CO2eq, Acidification Potential of 1.01686 kg SO2eq, Eutrophication Potential 0.11865 kg PO4 eq, Photochemical Oxidation 0.04813 kg C2H4 eq and Human Toxicity 1.13150 kg 1.4-DB eq. GTG converts energy from fuel combustion to generate electricity for production process equipment and office build-ings. High electricity consumption will further increase GTG gas fuel consumption which will contribute to increased Global Warming Potential, Acidification Potential, Eutrophication Potential, Photochemical Oxidation and potential human toxicity environmental impacts.           Keywords : Life cycle assessment (LCA), natural gas, oil and gas company
KUALITAS PERAIRAN DAN KEANEKARAGAMAN MIKRO ALGA DI DANAU DENDAM UNTUK MENYUSUN STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN TWA DANAU DENDAM Wijnana, Adhika Putra Agra; Martono, Agus; Martono, Dede; Susatya, Agus; Yansen, Yansen
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.24223

Abstract

Lake Dendam is never a loticwaters with lots of human activities around the area. The high human activity around the waters has an impact on the quality of the waters and the organisms in the vicinity. This observation was carried out to obtain an up-to-date picture of water quality and micro-algae biodiversity in Revenge Lake for developing sustainable management strategies. Tests were carried out on the chemical and physical quality of the waters, and the biodiversity of microalgae which were then processed into an area management strategy. The results of the water quality test showed slightly polluted conditions with values of dissolved oxygen (DO), chemical oxygen demand (COD), total suspended solid (TSS), and phosphate which were still outside the water quality standards. However, conditions that can still be tolerated are peat waters. The microalgae biodiversity test showed the dominance and diversity of microalgae genera in the waters. The dominant genus is Nitzchia sp. From these results obtained six sustainable management strategies for Revenge Lake.   Keywords : Biodiversity, Dendam Lake, microalgae, water quality
HUBUNGAN FAKTOR KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH DENGAN RESIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DBD DI WILAYAH PUSKESMAS LINGKAR BARAT KOTA BENGKULU Rahman, Habibur; Martono, Agus; Simarmata, Marulak; Brata, Bieng; Barchia, M.Faiz
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.24225

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an environment-based disease (physical, biological and sausage) that is widely found in tropical and sub-tropical regions whose transmission is through mosquito bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus species. Efforts to prevent the transmission of this disease by breaking the mosquito breeding chain itself are by carrying out 3M activities (Draining, Closing, Burying) plus and suppressing other transmission factors so that it is closely related to behavior. The purpose of this study was to determine the relationship between dengue incidence to knowledge, the condition of the Water Reservoir (TPA) and the presence of Aedes sp mosquito larvae in the West Ring Health Center area of Bengkulu City. This research is a quantitativeresearch with a type of analytical research. The results showed that the three variables had a significant relationship with the presence of Aedes sp  larvae, namely the level of knowledge with a p value of 0.044, the condition of water reservoirs with a p value of 0.03 and the presence of mosquito larvae with a p value of 0.035. While  the most influential / most dominant factor is knowledge, followed by the existence of larvae and water reservoirs, with Odd Ratio values (1.399; 0.623; and 0.535).   Keywords: Dengue fevver, factors, home environmental health
ANALISIS PENGARUH IZIN LINGKUNGAN TERHADAP POTENSI PENCEMARAN AIR DAN UDARA DI SEKITAR WILAYAH PERKEBUNAN SAWIT BENGKULU SELATAN Reftogustadinata, Fitrial; Martono, Agus; Simarmata, Marulak; Brata, Bieng; Barchia, M.Faiz
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.24227

Abstract

Analisis Pengaruh Izin Lingkungan Terhadap Potensi Pencemaran Air dan Udara di Sekitar Wilayah Perkebunan Sawit Bengkulu Selatan
Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah dalam Pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor Di Kota Lubuklinggau Diputra, Opila Harta; Simarmata, Marulak; Brata, Bieng; Barchia, M. Faiz; Putranto, Heri Dwi
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.24255

Abstract

Penataan ruang yang baik mengurangi risiko bencana tanah longsor sesuai dengan tujuan penataan ruang sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Perwujudan ruang tersebut seharusnya tertuang dalam dokumen-dokumen rencana tata ruang yang terkait dengan keadaan risiko terhadap bencana. Peningkatan aktivitas pembangunan membutuhkan ruang yang semakin besar dan dapat berimplikasi pada perubahan fungsi lahan secara signifikan. Bencana tanah longsor dapat terjadi karena alih fungsi lahan menjadi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai pengurangan risiko bencana tanah longsor akibat adanya rencana tata ruang wilayah. Penelitian bersifat kualitatif yaitu menganalisis rencana tata ruang dan kuantitatif yaitu analisis pemetaan risiko bencana. Hasil penelitian menunjukan bahwa Indeks bahaya/ ancaman bencana tanah longsor pada skenario eksisting berada pada kelas “bahaya sedang” karena mengalami pegurangan, namun pada skenario RTRW terjadi peningkatan pada kelas “bahaya tinggi” Meningkatknya luasan kelas bahaya longsor terjadi di enam dari delapan Kecamatan di Kota Lubuklinggau. Indeks Kerentanan bencana tanah longsor tidak mengalami perubahan yang signifikan antara skenario eksisting dengan skenario RTRW dimana semua skenario berada pada kelas kerentanan sedang. Indeks kapasitas bencana tanah longsor pada indeks kapasitas daerah berada pada level 2 yang berarti bahwa daerah telah melaksanakan beberapa tindakan pengurangan risiko bencana dengan pencapaian-pencapaian yang masih bersifat sporadis yang disebabkan belum adanya komitmen kelembagaan dan/atau kebijakan sistematis. RTRW Kota Lubuklinggau mengakibatkan kenaikan risiko bencana tanah longsor dengan Nilai Pengurangan Risiko (NPR) < 0 umumnya berada pada penggunaan lahan eksisting hutan alam atau pada kawasan rencana perkebunan. Luas area yang termasuk ke dalam NPR ini adalah sebesar 5.306,53 hektar atau 69,07 % dari luas Kota Lubuklinggau. Sedangkan Nilai Pengurangan Risiko (NPR) = 0 berarti wilayah tersebut tidak mengalami perubahan risiko akibat adanya RTR umumnya berada di penggunaan lahan eksisting sama dengan penggunaan lahan rencana (RTRW) misalnya kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat, hutan lindung Bukit Cogong, hutan produksi terbatas Hulu Tumpah, dan permukiman. Luas area yang termasuk ke dalam NPR ini adalah sebesar 11.334,93 hektar atau 30,93 % dari luas Kota Lubuklinggau. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan peningkatan kapasitas bencana melalui peningkatan kapasitas daerah dan kapasitas kesiapsiagaan bencana.
Evaluasi Kesesuaian Lahan Sawah Berdasarkan Status Hara di Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma Afrisa, Hendrio
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.26715

Abstract

The low productivity of rice in Seluma Selatan District is caused by fertilization actions based on general recommendations and not based on site-specific recommendations. In fact, fertilization should be based on soil nutrient status, especially N, P and K. This study aims to determine the nutrient status and evaluate the suitability class of lowland rice in Seluma Selatan District, Seluma Regency. This study used survey methods, soil sampling, and laboratory analysis, then matched it with the soil fertility level classification system and land suitability classification. The results showed that the nutrient status of paddy fields in Seluma Selatan sub-district in low-medium rice fields was categorized. It is characterized by an acidic pH value and low P2O5 in providing nutrients for lowland rice plants. Evaluation of land suitability in Seluma Selatan sub-district shows that the land suitability classes are S2 and S3. The results of the evaluation of the most suitable land suitability for land unit 2 (Au.1.1.1) were quite suitable for S2n with available nutrient limiting factors at the P2O5 level and marginally suitable for S3n on land unit 4 (Hab.1.1.1) with available nutrient limiting factors at P2O5 and K2O levels. Efforts to improve the suitability class S2 (fairly suitable) can be increased to S1 class (very suitable) and the S3 land suitability class (marginally appropriate) can be increased to S2 (quite suitable) . Keywords: Land suitability, lowland rice, nutrient status
Analisis Keberlanjutan Usaha Padi Sawah Di Kecamatan Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan Analisis Ekopsi, Mahdi; Susatya, Agus; Brata, Bieng; Wiryono, Wiryono; Yurike, Yurike
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.26915

Abstract

This study aims to determine the sustainability status and sensitive attributes of each dimension in lowland rice cultivation in Tugumulyo District, Musi Rawas Regency, South Sumatra Province. This research was conducted in September - October 2021 in Tugumulyo District, Musi Rawas Regency, South Sumatra Province. Sustainability analysis is carried out using Multi Dimensional Scaling analysis which consists of 5 dimensions, namely ecological, socio-cultural, economic, technological and infrastructure, as well as legal and institutional dimensions. The results showed that the multidimensional sustainability index value of paddy farming in Tugumulyo District was 44.30 with a less sustainable status. Ecological, economic, socio-cultural as well as legal and institutional dimensions have a sustainability status classified as less sustainable. While the dimensions of technology and infrastructure are quite sustainable. Sensitive attributes on the ecological dimension include the suitability of paddy fields, the use of organic fertilizers and biological/biological pesticides. Sensitive attributes on the economic dimension include the incidence of crop failure, labor fees for farming, the availability of labor if needed and the price of pesticides for paddy rice farming. Sensitive attributes on the socio-cultural dimension include water conflicts between farmers or the practice of swift water pools, the level of labor absorption from rice farming, farmers' knowledge of calm lowland rice cultivation techniques and a culture of mutual cooperation in lowland rice cultivation such as cleaning irrigation canals. Sensitive attributes on the technology and infrastructure dimensions include the availability of supporting tools for lowland rice farming, availability of seeds, fertilizers, and pest control drugs for lowland rice diseases, standardization of rice quality and operational control of lowland rice cultivation tools. Sensitive attributes on the legal and institutional dimensions are the availability of microfinance schemes for lowland rice farming, the local government's budget for lowland rice farming and the presence of water regulatory officers. Keywords : Multidimensional, rice business, sensitive attribute,  sustainability analysis