cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 2 (2023)" : 7 Documents clear
Modernisasi Arab Saudi Era Muhammad bin Salman Sarah, Siti; Arifin, Nana Fitriana; Ramona, Elza; Adam, Yusril Fahmi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.19688

Abstract

This research aims to examine the modernization that occurred in Saudi Arabia under the leadership of Muhammad bin Salman. The modernization of Saudi Arabia in the era of Muhammad bin Salman became important for Muhammad bin Salman's political attitude, which tended to be open to foreign cultures and move away from Wahhabism values that had been ingrained in Saudi Arabian culture. To support the analysis in the research, this article uses a historical approach and modernization theory. Through this approach and theory, this research is not only narrative-descriptive but more analytical-descriptive. The findings in this research are that the Wahhabism doctrine that developed in Saudi Arabia had a major impact not only on socio-religious aspects but also on political aspects. Through the Saudi royal authorities and Wahhabi clerics, everything that is not in accordance with the values of Wahhabism will be considered wrong and outside the pure teachings of Islam. This condition lasted until the end of King Salman's time and changed during the time of Muhammad bin Salman due to the modernity implemented in the Arab Vision 2030.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji modernisasi yang terjadi di Arab Saudi di bawah kepemimpinan Muhammad bin Salman. Modernisasi Arab Saudi di era Muhammad bin Salman menjadi penting sikap politik dari Muhammad bin Salman yang cenderung kepada keterbukaan terhadap kebudayaan luar dan keluar dari nilai-nilai Wahhabisme yang selama ini telah mengakar dalam budaya Arab Saudi. Untuk mendukung analisis dalam penelitian, artikel ini menggunakan pendekatan sejarah dan teori modernisasi. Melalui pendekatan dan teori tersebut, penelitian ini tidak hanya bersifat naratif-deskriptif, melainkan lebih kepada analitis-deskriptif. Temuan dalam penelitian ini adalah, bahwa doktrin Wahhabisme yang berkembang di Arab Saudi memberikan dampak besar tidak hanya bagi sosial-keagamaan, melainkan juga aspek politik. Melalui otoritas kerajaan Saudi dan ulama Wahhabi, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Wahhabisme akan dianggap salah dan keluar dari ajaran Islam yang murni. Kondisi tersebut berlangsung hingga berakhirnya masa Raja Salman dan berubah pada masa Muhammad bin Salman akibat modernitas yang diimplementasikan dalam Visi Arab 2030.
Analysis and Evaluation of Ghazali's Critiques in Tahafut Al-Falasafah to Ibn Sina in The Context of Theology Syukur, Muhammad; Rezapour, Mohammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20381

Abstract

The theological and philosophical understanding of issues related to the divine has always been a complex and contentious debate. Ghazali's work, Tahafut Al-Falasafeh, faces significant challenges in these issues, isolating and excommunicating philosophers on three specific points and accusing them of heresy and innovation in seventeen other areas. However, criticisms of Ghazali by Ibn Rushd in Tahafut Al-Tahaft, coupled with fundamental differences between the philosophies of Ibn Sina and Ibn Rushd, necessitate an exploration and analysis of Ibn Sina's perspective to dispel pessimism within the Islamic community regarding his philosophy. This study employs a literature review methodology with a descriptive, analytical, and critical approach. The research focuses on theological issues such as the proof of God's existence, the creation of the universe, the eternity of the world, and the science of God in Ibn Sina's works. Through a detailed analysis of Ibn Sina's viewpoints, it becomes evident that Ghazali's theological anxieties might stem from misinterpretations of the core tenets of Ibn Sina's philosophy.Abstrak: Pemahaman teologis dan filosofis mengenai isu-isu ketuhanan selalu menjadi perdebatan kompleks. Kitab Tahaft Al-Falasafeh karya Ghazali menghadapi tantangan signifikan dalam isu-isu ini, mengucilkan dan mengkafirkan para filosof dalam tiga isu serta menuduh mereka sesat dan bid’ah dalam tujuh belas isu lainnya. Namun, kritik terhadap Ghazali oleh Ibnu Rusyd dalam Tahaft Al-Tahaft dan perbedaan mendasar antara filsafat Ibnu Sina dan filsafat Ibnu Rusyd menimbulkan kebutuhan untuk menjelaskan dan menganalisis pandangan Ibnu Sina, agar masyarakat Islam tidak merasa pesimis terhadap filsafatnya. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif, analitis, dan kritis. Fokus penelitian ini adalah pada isu-isu teologis seperti pembuktian keberadaan Tuhan, penciptaan alam semesta, keabadian alam, dan ilmu Tuhan dalam karya Ibnu Sina. Dalam analisis mendalam pandangan Ibnu Sina, tampak bahwa kegelisahan teologis Ghazali mungkin disebabkan oleh kesalahpahaman terhadap esensi filsafat Ibnu Sina.
Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr Perspektif Filsafat Lingkungan dan Kontribusinya pada Pengembangan Kajian Ekologis Masykur, Zein Muchamad; Ni'am, Syamsun; Naim, Ngainun
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20121

Abstract

Tulisan ini mencoba menggali konsep ilmu yang dibayangkan oleh Nasr dan mencoba mengkaji ide-ide dasar struktur keilmuan Nasr yang kemudian sering disebut dengan istilah Scientia Sacra, serta menyoroti sisi ontologis, epistemologis dan aksiologisnya. Hal itu kemudian dikaitkan dengan perkembangan filsafat lingkungan sehingga mendapat aksentuasi kontributif dari pemikiran Nasr tentang filsafat lingkungan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis pustaka yang menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik analitis dengan pendekatan filosofis kritis. Pengumpulan data diperoleh melalui dua jenis data, yakni data primer dan data sekunder yang ditentukan oleh tingkat relevansinya dengan subjek penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah Nasr tidak serta-merta menyalahkan paradigma antroposentris, melainkan ia menunjukkan ‘lubang’ dalam kapal sains modern terhadap paradigma antroposentrisme, yakni pada aspek-aspek tersembunyi dari ilmu pengetahuan yang selama ini dilupakan oleh manusia modern; aspek sakralitas dan spiritualitas. Melalui pemikirannya tentang Scientia Sacra, Nasr memberikan kontribusi terhadap tiga fase paradigma filsafat lingkungan pada nilai onto-teleologis yang baru. Bukan hanya menunjukkan lubang, akan tetapi juga memberikan petunjuk arah demi tujuan baru bagi kajian filsafat lingkungan.Abstract: This article aims to explore the concept of science imagined by Nasr and examine the basic ideas of Nasr's scientific structure, which is often referred to as Scientia Sacra, as well as highlight its ontological, epistemological, and axiological sides. This was then linked to the development of environmental philosophy, so it received a contributory accent from Nasr's thoughts on environmental philosophy. This research is literature-based qualitative research that uses descriptive-qualitative methods. Data analysis techniques are carried out using analytical techniques with a critical philosophical approach. Data collection was obtained through two types of data, namely primary data and secondary data, which were determined by the level of relevance to the research subject. The conclusion of this research is that Nasr does not necessarily blame the anthropocentric paradigm, but rather he shows 'holes' in the ship of modern science regarding the anthropocentrism paradigm, namely the hidden aspects of science that have been forgotten by modern humans: aspects of sacredness and spirituality. Through his thoughts on Scientia Sacra, Nasr contributed to the three phases of the environmental philosophy paradigm on new onto-teleological values. Not only does it show holes, but it also provides directions for new goals for the study of environmental philosophy.
Identifikasi Ummatan Wasathan dalam Tafsir Era Klasik dan Tafsir Indonesia Al Alafiy, Muhammad Shiddiq
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.20212

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang tafsir al-Qur’an terhadap frasa ummatan wasathan yang termaktub dalam surah al-Baqarah ayat 143 berdasarkan karya tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Tafsir era klasik yang dimaksud di sini yaitu tafsir al-Thabari dan al-Razi, sedangkan tafsir Indonesia mengambil karya Hamka dan M. Quraish Shihab. Tujuannya adalah mengidentifikasi makna ummatan wasathan kaitannya dengan moderasi Islam dalam konteks keindonesiaan. Guna mencapai tujuan tersebut, artikel ini menggunakan riset pustaka berbasis komparasi yang menyorot tiga persoalan: Pertama, bagaimana interpretasi ummatan wasathan dalam tafsir era klasik dan tafsir Indonesia. Kedua, komparasi antara keduanya. Ketiga, identifikasi ummatan wasathan berdasarkan komparasi tersebut. Hasilnya, konsistensi penafsiran tentang ummatan wasathan antara tafsir era klasik dan tafsir Indonesia berada pada posisi yang tidak jauh berbeda, hanya pada ranah kontekstualisasi masing-masing mempunyai kecenderungannya sendiri. Selaras dengan itu, ummatan wasathan dapat diidentifikasi sebagai umat yang moderat serta adil sehingga menjadi teladan bagi seluruh manusia dan istiqamah mengikuti jejak Nabi Saw.Abstract: This article aims to discuss the Qur'anic interpretation of the phrase ummatan wasathan contained in Surah al-Baqarah verse 143, based on the works of classical-era commentaries and Indonesian commentaries. The classical era interpretations referred to here are tafsir al-Thabari and al-Razi, while Indonesian interpretations take the works of Hamka and M. Quraish Shihab. The aim is to identify the meaning of ummatan wasathan in relation to Islamic moderation in the Indonesian context. To achieve this goal, this article uses comparative-based library research that highlights three issues: First, how is the interpretation of Ummatan Wasathan in classical era tafsir and Indonesian tafsir? Second, the comparison between the two Third, the identification of Ummatan Wasathan based on the comparison As a result, the consistency of interpretation of ummatan wasathan between classical era tafsir and Indonesian tafsir is in a position that is not much different; only in the realm of contextualization, each has its own tendency. In line with that, ummatan wasathan can be identified as a moderate and fair ummah so that it becomes an example for all humans and istikamah following the footsteps of the Prophet.
Utilization of Al-Qur'an Verses in Mental Therapy at The Islamic Therapy Center (ITC), Banda Aceh Bahri, Samsul; Wahid, Abdul; AB, Zuherni; Humaira, Siti
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.10145

Abstract

The Quran, serving as a guiding principle for Muslims' lives, provides comprehensive rules regarding life in this world and the hereafter. Described as “al-Shifa” or a healing remedy, the Quran plays a crucial role as a cure for all ailments, both physical and spiritual. Mental therapy emerges as a vital aspect in maintaining life balance and addressing mental disorders. This article aims to explore the role of Quranic verses as a method of mental therapy at the Islamic Therapy Center (ITC) in Banda Aceh. The study employs a qualitative method with field research. Data are obtained through observations and in-depth interviews at ITC Banda Aceh. The study reveals that mental therapy at ITC involves Quranic verses as a means of treatment closely tailored to the patients' level of disturbance. Cases ranging from mild to severe disorders are addressed through the recitation of adapted ruqyah verses. The study concludes that Quranic-based mental therapy at ITC Banda Aceh is effective in addressing various mental disorders, leading to physical and mental improvements post-ruqyah therapy. Positive impacts include increased faith, inner peace, and a deeper spiritual understanding. Thus, this approach can be considered an alternative in addressing the mental health of the community.Abstrak: Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat Muslim, memberikan aturan paripurna terkait kehidupan dunia dan akhirat. Al-Qur'an dijelaskan sebagai “al-Syifā” atau obat penawar, memegang peran penting sebagai penyembuh segala penyakit, baik fisik maupun rohani. Terapi mental menjadi aspek penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan mengatasi gangguan jiwa. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran ayat-ayat Al-Qur'an sebagai metode terapi mental di Islamic Therapy Center (ITC) Banda Aceh. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi lapangan. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam di ITC Banda Aceh. Kajian ini menunjukkan bahwa terapi mental di ITC melibatkan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai sarana pengobatan dan terkait erat pada tingkat gangguan pasien. Kasus-kasus seperti gangguan ringan, sedang, hingga berat, semuanya ditangani dengan membaca ayat-ayat ruqyah yang disesuaikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa terapi mental berbasis Al-Qur'an di ITC Banda Aceh efektif dalam mengatasi berbagai gangguan jiwa. Pasien mengalami perbaikan fisik dan mental setelah menjalani terapi ruqyah. Dampak positif ini mencakup peningkatan keimanan, ketenangan jiwa, dan pemahaman spiritual yang lebih dalam. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dijadikan alternatif dalam merawat kesehatan mental masyarakat.
Kontroversi Hukum Shalat Gaib: Analisis Fiqh Al-Hadith M. Jakfar, Tarmizi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.22402

Abstract

Among the types of prayers performed by Muslims on the dead body is occult prayer, which is blaming the body of his fellow Muslim brother who died, but the body is not in front of the person performing the funeral prayer, but is elsewhere. Regarding the observance of occult prayers, there is disagreement among scholars. Some are restrictive and some forbid and there are also scholars who view the Sunnah in certain circumstances, not in others. This difference arises due to differences in the way the scholars of the madhab take religious law from the hadith text. In this study, the author uses a type of library research and this type of research is comparative descriptive with the fiqh al-hadith approach. The crux of the problem in this article is: first, what is the quality of the hadiths about occult prayers. Second, How is the quality of the hadiths related to occult prayers with the understanding of madhab scholars. Imam al-Shafi'i and one of Imam Ahmad's opinions consider the occult funeral prayer to be absolutely solemnized, based on the hadith of Najasyi. According to them, this hadith is a common proposition. Imam Hanafi and Imam Malik said it was forbidden, because the practice of praying the occult corpse of the Prophet (saw) over Najasyi was a specialty for the Prophet (saw) that should not be followed by the people, as for the practice of praying the Prophet over Najasyi, because Allah had raised Najasyi before the Prophet (saw). While other scholars such as Ibn Taymiyah, Abdurrahman 'Ali Sa'di, Shaykh Ibn Baz and others, argue that the prayer of the occult corpse is prescribed under certain conditions only, not in other conditions. This condition is if the corpse has great priority and contribution to the people, as well as those who have not been prayed the body.Abstrak: Di antara jenis shalat yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah adalah shalat gaib, yakni menyalatkan jenazah saudaranya sesama muslim yang wafat, tetapi jenazahnya tidak berada di depan orang yang melakukan shalat jenazah itu, melainkan berada di tempat lain. Mengenai disyariatkannya shalat gaib terdapat perselisihan di kalangan ulama. Ada yang menyunahkan dan ada pula yang mengharamkan dan ada juga ulama yang memandang sunnah dalam keadaan tertentu, tidak dalam keadaan yang lain. Perbedaan ini timbul dikarenakan adanya perbedaan cara para ulama mazhab dalam pengambilan hukum agama dari teks hadis. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kajian kepustakaan (library research) dan tipe penelitian ini adalah deskriptif komparatif dengan pendekatan fiqh al-hadith. Inti permasalahan dalam artikel ini adalah: pertama, bagaimana kualitas hadis-hadis tentang shalat gaib. Kedua, Bagaimana keterkaitan kualitas hadis-hadis shalat gaib dengan pemahaman ulama mazhab. Imam al-Syafi’i dan salah satu pendapat Imam Ahmad menilai shalat jenazah gaib disyariatkan secara mutlak, di dasarkan pada hadis Najasyi. Menurut mereka hadis tersebut merupakan dalil yang umum. Imam Hanafi dan Imam Malik mengatakan diharamkan, karena praktek shalat jenazah gaib Nabi saw. atas Najasyi merupakan kekhususan bagi Nabi saw. yang tidak boleh diikuti oleh umat, adapun praktek shalat Nabi atas Najasyi, karena Allah telah mengangkat Najasyi di hadapan Nabi saw. Sedangkan ulama lain seperti Ibn Taymiyah, Abdurrahman ‘Ali Sa’di, Syaikh Ibn Baz dan yang lainnya, berpendapat shalat jenazah gaib disyariatkan dalam kondisi tertentu saja, tidak pada kondisi yang lain. Kondisi tersebut adalah jika jenazah memiliki keutamaan dan andil besar untuk umat, serta yang belum dishalatkan jenazah.
Damai Bertahan dan Konflik Berulang: Analisa terhadap Perdamaian Aceh Sahlan, Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v25i2.22606

Abstract

This article aims to understand the complexities behind sustainable peace by employing the frameworks of durable peace theories and recurring conflict theories. The research methodology is a qualitative approach, with a primary focus on literature review. Through a critical analysis of relevant literature, this study adopts an inductive analysis method to identify, comprehend, and synthesize the factors that influence the sustainability of peace in Aceh. This process involves a critical evaluation of previous studies, related theories, and both historical and contemporary data concerning conflict and peace in Aceh. The findings of this research indicate that the sustainability of peace in Aceh cannot be attributed to a single factor. Instead, the results affirm that a combination of several factors plays a role. These factors include: (1) the duration and the level of damage caused by the conflict, which affect community perceptions and desires for peace; (2) the quality of the peace agreement, including provisions that facilitate reconciliation and social integration; and (3) the inclusion of former activists from the Free Aceh Movement (GAM) into the political and social structure, facilitating the transition from conflict to peace.Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk memahami kompleksitas di balik perdamaian yang berkelanjutan dengan menggunakan kerangka teori damai bertahan (durable peace theories) dan teori konflik berulang (recurring conflict theories). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan fokus utama pada tinjauan literatur. Melalui analisis kritis terhadap literatur yang relevan, penelitian ini mengadopsi metode analisis induktif untuk mengidentifikasi, memahami, dan mensintesis faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan perdamaian di Aceh. Proses ini melibatkan penilaian kritis terhadap studi-studi sebelumnya, teori-teori terkait, serta data historis dan kontemporer yang berkaitan dengan konflik dan perdamaian di Aceh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perdamaian di Aceh tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, hasilnya menegaskan bahwa ada kombinasi dari beberapa faktor yang berperan. Faktor-faktor ini meliputi: (1) durasi dan tingkat kerusakan yang disebabkan oleh konflik, yang mempengaruhi persepsi dan keinginan masyarakat untuk perdamaian; (2) kualitas dari perjanjian damai, termasuk ketentuan-ketentuan yang memungkinkan untuk rekonsiliasi dan integrasi sosial; serta (3) inklusi mantan aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke dalam struktur politik dan sosial, yang memfasilitasi transisi dari konflik ke perdamaian.

Page 1 of 1 | Total Record : 7