cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ketahanan Nasional
ISSN : 08539340     EISSN : 25279688     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 527 Documents
Optimalisasi Peran Komando Kewilayahan Dalam Rangka Penanggulangan Bencana Alam Di Darat (Studi Di Kodim 0502/ Ju. Kodam Jaya Anak Agung Gde Suardhane Armaidy Armawf
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 16, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22348

Abstract

Bencana alum di suatu daerah memiliki hubungan sebab dan akibat dengan daerah lainnya, seperti di daerah Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, memiliki hubungan bencana alum banjir dan tanah longsor. Penyebab utama karena sebagian besar air yang mengalir dari beberapa sungai di ketinggian wilayah Puncak Bogor, ada yang bermuara ke dataran rendah Jakarta menuju pantai utara. Air mengalir melalui kali di kota dan anak sungai Ciliwung serta ada yang dapat ditampung di beberapa Situ untuk diresapkan airnya, tetapi karena daya serap dan daya tampung Situ dan sungai sangat terbatas, maka akhirnya air luber serta menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor. Seperti kasus tanah longsor di wilayah Situ Gintung yang terjadi pada tanggal 28 Maret 2009 dengan memakan korban jiwa dan harta benda. Setelah kejadian bencana di daerah Situ Gintung, ban yak tern pat penyerapan air berupa bendungan, situ, dan daerah sera pan air yang ada di wilayah Jakarta, terutama di Jakarta Utara dilakukan pemeriksaan oleh aparat Pemda terkait.Dari hasil pemeriksaan diperoleh data, bahwa ada beberapa situ atau daerah resapan yang kurang berfungsi lagi dan bila dibiarkan sampai menjelang musim hujan tiba, maka akan menim­bulkan bencana banjir. Banjir seperti yang telah terjadi pada tahun 2008 dan bencana akan lebih besar dapat menimpa wilayah Jakarta dan sekitarna, sehingga akan mengganggu situasi dan kondisi keamanan Ibu Kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan .
Sinergi Ilmu Pengetahuan, Teknologi Dan Rekayasa Dalam Konteks Pembangunan Indonesia Bambang Hidayat
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 6, No 3 (2001)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22061

Abstract

Selama ada manusia di situlah tumbuh teknologi karena semua teknik pembentukan perkakas, guna membantu dan memudahkan hidup manusia, adalah pratanda teknologi. Kapak batu primitif pada manusia purba merupakan hasil teknologi dan sekaligus tanda awalnya kebudayaan. Tekno-logi seperti halnya bahasa, upacara, tata nilai, perdagangan dan seni adalah sebagian intrinsik sistem budaya dan, sekaligus merupakan pencerminan nilai suatu sistem.
Pancasila: Landasan Filosofis Dan Sumber Pengaturan Kehidupan Nasional Budi Santoso Suryosumarto
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22968

Abstract

Segala kegiatan dan tingkah laku manusia budaya (civi­lized people) pada umumnya dimulai dari filosofi (filsafat) yang diyakini kebenarannya. Dasar filosofis ini meerupakan tuntunan bagi segala kegiatan dan tingkah laku manusia yang menganutnya, dalam menyelenggarakan kehidupan nasional yang bersifat politik kenegaraan, strategic, taktis sampai ke kegiatan teknis.
Dalam Konflik Antar Umat Beragama Dan Etnik, Mencegah Lebih Baik Dari Menyelesaikan saafroedin Bahar
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 12, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22116

Abstract

Ada berita baik dan berita buruk dari kajian The U.N. Support Facility for Indonesian Recovery/UNSFIR mengenai masalah kekerasan kolektif, yang juga mencakup kekerasan yang timbul akihat konflik antar umat beragama dan konflik etnik, di Indonesia antara tahun 1990-2003'.Berita haiknya adalah bahwa kekerasan kolektif yang sering saling terkait dengan masalah etnik dan komunal tersehut amat jarang terjadi, dan jika terjadi, hanya terjadi di sebagian kecil daerah saja. Jadi sifatnya amat lokal, dan tidak hersifat nasional. Dapat dikatakan bahwa pada dasar-nya golongan-golongan yang ada dalam masyarakat Indo-nesia mempunyai sikap toleransi yang tinggi terhadap keber-adaan satu sama lain, baik terhadap para penganut agama maupun terhadap warga etnik yang herheda. Hal itu harus tetap dipelihara dan dikenzbangkan dengan sebaik- haiknya.Berita huruknya adalah bahwa jika konflik antar umat beragama dan antar etnik itu benar-henar terjadi, korban jiwa yang diakihatkannya paling ban yak, walau berlang-sungnya dalam waktu singkat. Data statistik yang dihimpun oleh Varshney dan kawan-kawan menunjukkan bahwa hanya enam propinsi yang jumlah korban kematiannya amat tinggi pada peristiwa kekerasan kolektif ini, yaitu Maluku Utara, Maluku, DKI Jakarta, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Oleh karena itu amatlah wajar jika di Propinsi DKI Jakarta yang dari segi anutan agama serta latar belakang etnik berpenduduk amat majemuk ini masalah konflik agama dan konflik etnik ini perlu kita antisipasi, dan kita carikan kebijakan preventifnya.
NEGOSIASI INTEGRATIF UNTUK TIMOR TIMUR Riza Noer Arifa
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 3, No 2 (1998)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.11685

Abstract

Dalam sejarah politik luar negeri Indonesia kontemporer, kasus Timor Timur merupakan salah satu kasus paling menarik dan menyita banyak perhatian para praktisi dan pemerhati politik luar negeri Indonesia. Ketika pertama kali mencuat menjadi pembicaraan masyarakat Internasional dan agenda sejumlah organisasi internasional , kasus ini  masih berdimensi politik dan keamanan. Kini Timor Timur  dibicarakan bukan hanya dalam dua dimensi itu . Dua dimensi lain yang kini turut mendominasi pembicaraan tentang Timor Timur di tingkat internasional  adalah HAM (Hak Asasi Manusia) dan  demokrasi ( beserta implikasinya -implikasinya). Karena dua dimensi itulah pembicaraan dan negoisasi tentang kasus ini berkembang semakin menarik (kalau tidak semakin rumit).Posisi pemerintah Indonesia dalam kasus ini sudah jelas. Timor Timur adalah bagian dari negara keaatuan Republik Indonesia. Segala bentuk penyelesaian untuk kasus ini, oleh diletakkan dalam kerangka yang lain. Dengan posisi seperti itu , pemerintah Indonesia menyerahkan sepenuhnya penyelesaian soal Timor Timur melalui pembicaraan tripar tite 1 di bawah mediasi Sekretaris Jendral PBB. Bentuk-bentuk dan upaya-upaya negosiasi lain di pandang hanya sebagai pelengkap dari mekanisme tripartiti 1 itu. Upaya pemerintah Indonesia merintis dan menghidupkan dialog di antara warga Timor Timur sendiri juga bisa dilihat dalam kerangka ini.
Akar Masalah Penyebab Konflik Etnis Dan Alternatif Penyelesaiannya Prayudi Prayudi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 9, No 3 (2004)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22154

Abstract

Beberapa kasus konflik etnik yang terjadi di beberapa tempat di tanah air, telah menyadarkan kita tentang pentingnya upaya memperkuat wawasan kebangsaan guna mencegah terjadinya proses disintegrasi. Kasus konflik etnis di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, hanya menjadi dua contoh dari ban yak kejadian hampir serupa yang melanda Indonesia. Arus pengungsian massal etnis Madura yang diusir dari Kalteng telah membentuk sebuah gejala tertentu dari kegagalan bagi bangsa Indonesia untuk rtzenempatkan konteks wilayah tanah air yang terbuka lugs untuk dihuni dan dikembangkan oleh setiap warganya. Konflik etnis ternyata telah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang dan cenderung berlarut-larut di tengah segala keterbatasan pemerintah untuk menanganinya secara tuntas. Kalaupun terjadi proses coiling down dan muncul him-bauan-himbauan ke arah perdamaian, maka hasil yang diperoleh biasanya hanya sementara. Setiap saat atau bahkan tidak terlarnpau lama sesudah peredaan ketegangan akibat konflik diciptakan maka pada tempo yang tidak terlalu lama, kerusuhan bernuansa etnis dapat terjadi dan berkembang meluas wilayah pertikaiannya.
Kontribusi Joglo Tani Di Mandungan Margoluwih Seyegan Sleman Yogyakarta Dalam Peningkatan Peran Pemuda Pada Pembangunan Sektor Pertanian Guna Mewujudkan Ketahanan Pangan lailiyatus syadiah
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 21, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22175

Abstract

ABSTRACTThis study discussed about the contribution of Joglo Tani in increasing the role of youth in the development of the agricultural sector in order to achieved food resilience. This research was a qualitative-descriptive aproach. Collecting data in this study used observation, interviews, documentation, and literature study. Observation was conducted by the researcher by observing the activities of Joglo Tani, the circumstance of the agricultural performed by Joglo Tani youth. Interview was conducted with key informant, the founder of Joglo Tani, to expanded the network of informants to got another informant. Documentation was obtained from the founder, administrators, assistants, and youth of Joglo Tani in the form of a collection of the activities and products of Joglo Tani youth’s photos. A literature study was obtained from previous research relating to titles and books that supported. The results of the research showed that Joglo Tani really had big contribution in increasing the role of Joglo Tani youth, so they could be active in the agriculture sector development to achieved food resilience. The shapes of the role of Joglo Tani youth were production, promotion and marketing, as well as community empowerment. The role of Joglo Tani youth in agriculture to achieved food resilience was not always easy, but there were some obstacles encountered: (1) technical: the lack of the spirit of youth, land degradation, uncertain weather conditions, lack of cost, lack of youth-based agricultural training (2) lack of social support, (3) lack of government support. Strategic efforts undertaken by Joglo Tani youth to achieved food resilience by referring to the indicators of food resilience theory to fulfi lled food need from individual’s to country’s need both the quantity and the quality, so it could be concluded that Joglo Tani youth had contributed to achieved food resilience.ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang kontribusi Joglo Tani dalam peningkatan peran pemuda pada pembangunan sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan mengamati kegiatan pemuda Joglo Tani, kondisi dan situasi pertanian yang dilakukan pemuda di Joglo Tani. Wawancara dilakukan dengan menemukan informan kunci yaitu pendiri Joglo Tani yang selanjutnya peneliti memperluas jaringan informan hingga mendapatkan informan lain. Dokumentasi diperoleh dari pengurus, pendamping, dan pemuda Joglo Tani berupa koleksi foto kegiatan pemuda Joglo Tani dan produk yang dihasilkan. Studi pustaka diperoleh dari penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul dan buku-buku yang mendukung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Joglo Tani sangat berkontribusi dalam peningkatan peran pemuda, sehingga pemuda Joglo Tani dapat berperan aktif dalam pembangunan sektor pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan. Adapun bentuk peran pemuda tersebut berupa peran produksi, peran promosi dan pemasaran, serta peran pemberdayaan masyarakat. Peran pemuda Joglo Tani dalam sektor pertanian  tidak selalu mudah, namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi yakni (1) teknis: kurangnya semangat pemuda, degradasi lahan, kondisi cuaca yang tidak menentu, minimnya biaya, minimnya pelatihan pertanian berbasis pemuda, (2) kurangnya dukungan sosial masyarakat, (3) kurangnya dukungan pemerintah. Upaya strategis yang dilakukan pemuda Joglo Tani dalam mewujudkan ketahanan pangan dengan mengacu pada indikator teori ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan mulai dari perseorangan sampai negara baik jumlah maupun mutunya maka dapat disimpulkan bahwa pemuda Joglo Tani telah berkontribusi mewujudkan ketahanan pangan. 
Pengembangan Wawasan Nusantara Menuju Ketahanan Nasional Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 14, No 3 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22302

Abstract

Banyak negara di dunia yang telah mencapai kemerde- kaan ratusan tahun, tetapi tidak pernah menjadi negara industri bahkan tetap menyandang predikat sebagai negara berlcembang. Sebaliknya ada negara-negara yang merdeka dalam usia sangat muda tetapi perkembangannya sangat pesat, dan tcrmasuk negara industri. Pendidikan bagi suatu ban gsa tidak dapat dipandang sepele, sebab melalui pendi- dikan akan terbentuk elemen kehidu pan ban gsa yang memi- liki nilai ketahanan. Sebalilcnya, kelemahan bidang pendidikan dapat men yebabkan ban gsa tersebut menjadi miskin dan sulit untuk maju.Kondisi ini makin berat ketika berbagai negara di dunia men galami krisis moneter clan ekonomi, kemudian menim- bulkan krisis keperc,ayaan baik di dalam mau pun luar negeri terhadap pemerintah. Negara bangsa (nation state) yang memiliki pluralitas sangat tin ggi seperti Indonesia ten gah ditantang untuk men ghadapi persoalan disintegrasi ban gsa. Apabila ban gsa dan negara tidak memiliki pemahaman akan wawasan nasional (national outlook), nilai ketahanan nasional yang mampu untuk menghadapi dan mengatasi dinamika global tersebut, maka dampaknya sangat besar terhadap upaya menciptakan integrasi nasional.
Kekerasan Dan Penderitaan T Jacob
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 6, No 1 (2001)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22026

Abstract

Manusia tidak dapat menghindarkan diri dari kekerasan dan penderitaan. Sebelum jumlahnya banyak, kekerasan hanya dilakukannya terhadap dan diperolehnya dari hewan­hewan lain. Pada masa itu interaksi manusia dengan hewan­hewan lain lebih banyak dan lebih sexing daripada dengan sesamanya. Akan tetapi sesudah jumlahnya banyak dan kepadatan penduduk meningkat, pertukaran kekerasan antara sesama manuai mulai terjadi dan terus menanjak, apalagi jumlah hewan berkurang oleh ulahnya. Kekerasan dilakukan dan diterima oleh perseorangan, keluarga, ke­lompok, suku, kemudian bangsa dan kumpulan bangsa­bangsa.
Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Tata Hukum Indonesia Yamin Yamin
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 17, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22690

Abstract

Tulisan ini hanya merupakan upaya aktualisasi dengan melakukan interpolasi dan kajian intertekstual dalam suatu pemikiran tentang kedudukan nilai-nilai Pancasila yang pernah dilakukan oleh para ahli hukum. Beberapa sarjana (seperti R. Soepomo, Notonagoro, Padmo Wahjono, A. Hamid S. Attamimi, Abdulkadir Besar, dan Soejadi) pernah mengaktualkan nila-nilai Pancasila dengan menggunakan berbagai pola (seperti deduktif, penjabaran, interpretasi normatif, atau transformasi) karena pada prinsipnya nilai (value) merupakan ranah filsafat -dalam pembidangan filsafat disebut aksiologi atau nomotetis. Para sarjana tersebut tentu memiliki penerus dan tradisi akademik di almamaternya yang dalam keterbatasan tulisan ini tidak perlu disebutkan satu per satu. Namun, yang terpenting adalah komitmen tentang nilai dasar dan nilai instrumental yang berparadigma Pancasila

Filter by Year

1996 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 3 (2025) Vol 31, No 2 (2025) Vol 31, No 1 (2025) Vol 30, No 3 (2024) Vol 30, No 2 (2024) Vol 30, No 1 (2024) Vol 29, No 3 (2023) Vol 29, No 2 (2023) Vol 29, No 1 (2023) Vol 28, No 3 (2022) Vol 28, No 2 (2022) Vol 28, No 1 (2022) Vol 27, No 3 (2021) Vol 27, No 2 (2021) Vol 27, No 1 (2021) Vol 26, No 3 (2020) Vol 26, No 2 (2020) Vol 26, No 1 (2020) Vol 25, No 3 (2019) Vol 25, No 2 (2019) Vol 25, No 1 (2019) Vol 24, No 3 (2018) Vol 24, No 2 (2018) Vol 24, No 1 (2018) Vol 23, No 3 (2017) Vol 23, No 2 (2017) Vol 23, No 1 (2017) Vol 22, No 3 (2016) Vol 22, No 2 (2016) Vol 22, No 1 (2016) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 1 (2015) Vol 21, No 1 (2015) VOL. XXI, NO. 1 APRIL 2015 Vol 20, No 3 (2014) Vol 20, No 2 (2014) Vol 20, No 1 (2014) Vol. XX, No. 3, Desember 2014 VOL. XX, NO. 2, AGUSTUS 2014 VOL. XX, NO. 1, APRIL 2014 Vol 19, No 3 (2013) Vol 19, No 2 (2013) Vol 19, No 1 (2013) VOL. XIX, NO. 3, DESEMBER 2013 VOL. XIX, NO. 2, AGUSTUS 2013 VOL. XIX, NO. 1, APRIL 2013 Vol 17, No 3 (2012) Vol 17, No 2 (2012) Vol 17, No 1 (2012) Vol 16, No 3 (2011) Vol 16, No 2 (2011) Vol 16, No 1 (2011) Vol 15, No 3 (2010) Vol 15, No 2 (2010) Vol 15, No 1 (2010) Vol 14, No 3 (2009) Vol 14, No 2 (2009) Vol 14, No 1 (2009) Vol 13, No 3 (2008) Vol 13, No 2 (2008) Vol 13, No 1 (2008) Vol 12, No 3 (2007) Vol 12, No 2 (2007) Vol 12, No 1 (2007) Vol 11, No 3 (2006) Vol 11, No 2 (2006) Vol 11, No 1 (2006) Vol 10, No 3 (2005) Vol 10, No 2 (2005) Vol 10, No 1 (2005) Vol 9, No 3 (2004) Vol 9, No 2 (2004) Vol 9, No 1 (2004) Vol 8, No 3 (2003) Vol 8, No 2 (2003) Vol 8, No 1 (2003) Vol 7, No 3 (2002) Vol 7, No 2 (2002) Vol 7, No 1 (2002) Vol 6, No 3 (2001) Vol 6, No 2 (2001) Vol 6, No 1 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 3 (1999) Vol 4, No 2 (1999) Vol 4, No 1 (1999) Vol 3, No 3 (1998) Vol 3, No 2 (1998) Vol 3, No 1 (1998) Vol 2, No 3 (1997) Vol 2, No 2 (1997) Vol 2, No 1 (1997) Vol 1, No 1 (1996) More Issue