cover
Contact Name
Zaffril Syam
Contact Email
zaffril.syam@uin-suska.ac.id
Phone
+6282385365000
Journal Mail Official
imam.hanafi@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM UIN SUSKA Riau Jl. H.R. Soebrantas KM. 15,5 Panam – Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Toleransi: Media Ilmiah komunikasi Umat Beragama
ISSN : 20860315     EISSN : 24071595     DOI : https://doi.org/10.24014/trs.v12i2.13542
Core Subject : Religion,
Jurnal Toleransi mempublikasikan hasil-hasil penelitian, baik hasil kajian lapangan maupun kepustakaan. Fokus utama Jurnal Toleransi meliputi: Relasi antar dan intern umat beragama; Pluralisme; Multikulturalisme; Hubungan antar etnik.
Articles 210 Documents
PEMBELAJARAN TOLERANSI DI MASA PANDEMI Studi di Madrasah Kota Pekanbaru Sri Mawarti
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 12, No 2 (2020): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v12i2.13558

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang pelaksanaan pembelajaran di tengah pandemic Covid-19 di Madrasah Tsanawiyah Kota Pekanbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pada masa Covid-19 ini, dilaksanakan dengan pola; Pertama, pembelajaran virtual dengan mempenguat pada aspek kedamaian, menghargai perbedaan individu dan kesadaran bersama untuk membangun nilai-nilai damai; Kedua, Memberikan tugas-tugas yang memberikan ruang dan dukungan atas upaya pengembangan potensi peserta didik dalam aspek keterampilan sosial; dan Ketiga, pengelolaan pembelajaran yang mengakomodasikan tantangan dan peluang kondisi peserta didik saat ini dan masa yang akan datang.
TOLERANSI TERHADAP KEBEBASAN BERAGAMA DI INDONESIA (PERSPEKTIF ISLAM) Alpizar Alpizar
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 7, No 2 (2015): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v7i2.1427

Abstract

Indonesia memang bukan negara yang berdasarkan agama, melainkan negara yang didasarkan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, akan tetapi kehidupan beragama dan menjalankan ibadah menurut kepercayaan masing-masing sangat dilindungi oleh undang-undang. Sebagai negara yang melindungi kehidupan beragana, maka di Indonesia diakui 6 agama, yaitu Islam, Hindu, Budha, Kristen, Kristen Katolik, dan Konghucu. Masingmasing agama tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam undang-undang. Walaupun keenam agama itu berbeda dalam keyakinan dan ajaran, namun tidak melahirkan konflik di Indonesia. Hal ini tentu saja disebabkan karena masing-masing penganut agama itu sangat menyadari betapa pentingnya kerukunan dan toleransi terhadap kebebasan beragama dalam rangka memelihara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terutama Islam, sebagai agama yang penganutnya mayoritas di Indonesia, umat Islam sangat menyadari bahwa di dalam ajaran Islam terdapat rasa untuk menghargai dan menghormati orang lain walaupun berbeda agama (Toleransi Terhadap Kebebasan Beragama)
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA Dharmaji Chowmas
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 2 (2009): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i2.449

Abstract

Religious harmony is the condition for all religious groups could live together peacefully without prejudice to the rights and freedom of each to adopt and carry out their religious obligations. Harmony is religious does not mean that one does not feel the need or help with diversity issues involving other parties, because the collective wills of tolerance, that really possible if mutual understanding. Harmony will be achieved if every religious group has agreed in principle the difference. Agreed in the difference means people will accept and respect others with all the aspirations, beliefs, habits and patterns of life, accept and respect others with the freedom to adopt their own religious beliefs. maintaining religious harmony does not mean maintaining the status quo so that impede the progress of each religion. Harmony that must be seen in the context of the dynamic development of society, who face various challenges and problems.
DINAMIKA BERSAMA YANG BERBEDA Toleransi Komunitas Islam dan Kristen di Rokan Hilir Muhammad Nur Syarif Hidayat
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 13, No 1 (2021): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v13i1.13649

Abstract

Tulisan ini, menggambarkan kondisi kehidupan toleransi beragama yang ada di Desa Pasir Putih Utara Kecamatan Balai Jaya Kabupaten Rokan Hilir. Data diperoleh melalui Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis dalam bentuk matrik, cart atau tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk- bentuk Toleransi yang ada di Desa Pasir Putih Utara terbagi menjadi 4 bidang yaitu pertama,Bidang Sosial yang termasuk toleransi di bidang sosial adalah Gotong Royong, Menjenguk orang sakit, Melayat kerumah orang yang meninggal, Menghadiri pesta. Kedua, Dalam bidang Agama bentuk toleransinya Sama-sama menjaga ketertiban saat melaksanakan ibadah masing-masing. Ketiga, Bidang Politik bentuk toleransinya adalah bebas menyuarakan suara politik mereka tanpa ada gangguan atau intervensi dari pihak manapun.ke empat, Dibidang Kesehatan bentuk toleransinya adalah Posyandu. Untuk faktor pendukung Toleransi yang ada di Desa Pasir Putih Utara adalah Ajaran agama, Peran pemerintah setempat,Peran pemuka agama setempat, Faktor Domisili. Sementara faktor penghambat Toleransi yang ada di Desa Pasir Putih Utara adalah Penyiaran Agama, Perkawinan Beda Agama, Penistaan Agama.
MENYEGARKAN KEMBALI ISU SEKTARIANISME DAN KOMUNALISME DALAM ISLAM Masduki Masduki
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 8, No 1 (2016): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v8i1.2468

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menegaskan kembali sikap Islam yang anti terhadap sikap-sikap sektarianisme dan komunalisme. Sehingga pemahaman umat muslim tentang makna Islam tidak terjebak pada pemahaman yang parsial dan radikal. Setidaknya, Islam harus di lihat sebagai pertama, ajaran Islam adalah ajaran hanif, murni sebagaiamana ajaran Nabi Ibrahim yang sesuai dengan fitrah manusia untuk berserah diri kepada Satu Tuhan yaitu Allah swt. Kedua, ajaran Islam sebagi bentuk ketundukan kepada Allah adalah ajaran universal yang berlaku untuk seluruh umat dahulu, sekarang dan yang akan datang, bahkan berlaku bagi seluruh alam semesta. Ketiga, ajaran Islam bersifat inklusif non sectarian dan non komunalistik dengan tetap mengakui keberadaan agama-agama yang lain yang turun lebih awal sebelum datangnya ajaran Islam yang dibawa Nabi Saw
PARADIGMA KEKERASAN AGAMA Akhyar Akhyar
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 1, No 2 (2009): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v1i2.454

Abstract

The doctrine as contained in the Qur'an ond Sunnah is a doctrine that is a universal and has been covering every aspect of human life. universality of the quran and sunnah are meaningful efect without being limited by space and time. therefore obedience to god and the belief that god has revealed i will be a universal will to to men. this attitude does trend to the doctinaire attitude that is based on a strong desire to maintain and uphold the teachings of religion which is free of interpretations that can mislead people. but this tendency can sometmes lead to the universal doctrine that particular yhus making loss of identity because religion can ot follow the process of change adaptation and acculturation
API ISLAM SYED AMEER ALI: Perdebatan atas Wacana Poligami, Budak, dan Eskatologis Alimuddin Hassan Palawa
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 8, No 1 (2016): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v8i1.2473

Abstract

Poligami dalam Islam pada dasarnya tidak mengharamkan poligami. Karena pada kondisi tertentu poligami dapat dibenarkan dan malah boleh jadi dianjurkan. Akan tetapi, sprit ajaran Islam tidak memperkenankan poligami. Disimpulkan pria yang berpologami dapat dipastikan tidak akan berlaku adil terhadap istri-istrinya; dan perempuan yang dimadu juga dapat pastikan tidak meresa nyaman dan bahagia dengan kondisinya tersebut. Padahal perkawinan dalam Islam meniscayakan berangkat dari keadilan; dan tujuannya bermuara pada kenyamanan dan kebahagian itu sendiri. Perbudakan dalam Islam nyata sekali melarang perbudakan. Nabi Muhammad saw. sendiri telah bersungguh-sungguh untuk menghapus perbudakan dalam Islam dengan berbagai cara. Perbudakan ibarat dua mata pisau, bukan saja pengingkaran terhadap kemanusiaan, tetapi sekali pengingkaran terhadap ketuhanan. Sang majikan meniadakan kemanusiaan seseorang, dan itu adalah dzalim; dan sang budak mengakui adanya dua sandaran dan pengabdian, dan itu adalah syrik. Islam dengan penegasan Rasul Allah hanya mengakui perbudakan lewat tawanan perang. Artinya ketika peperangan sudah tidak ada maka dengan sendirinya perbudakan menjadi tiada. Tetapi dewasa ini, muncul perbudakan ala modern. Manusia tidak lagi diperbudak oleh sesama manusia, tetapi malah diperbudak oleh dirinya sendiri [oleh pekerjaannya, misalnya], suatu kehidupan yang lebih ironi. Eskatologi dalam Islam adalah kehidupan akhirat tempat mempertanggungjawabkan segala perbuatan di dunia. Sementara noktah yang mengiringinya, apakah kehidupan eskatologis bersifat badaniah atau spritual itu adalah berupakan percabangan. Konsepsi eskatololis dalam Islam mengalami perkembangan, seiring dengan kematangan pemikiran keagamaan dan kedalaman spiritualitas seseorang. Sehingga, pada gilirannya spirit ajaran Islam dalam kehidupan akhirat lebih menekankan pada ganjaran dan balasan bersifat spritual dan rohani
ISLAM DALAM BINGKAI BUDAYA LOKAL Hasbullah Hasbullah
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 6, No 1 (2014): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v6i1.893

Abstract

Transformasi kebudayaan di wilayah Melayu dari suatu keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam, lengkap dengan berbagai bentuk pengejawantahan kebudayaannya. Revolusi agama dalam masyarakat Melayu yang memunculkan transformasi kebudayaan itu disebabkan beberapa faktor yang inheren atau faktor-faktor lain yang kemudian secara kental diasosiasikan dengan Islam. Islam ketika harus diaktualisasikan dalam kebudayaan telah menampilkan wajahnya yang beragam, dan dalam keragaman kebudayaan Islam yang bersifat regional itu masih tersedia tempat bagi kebudayaan Islam lokal. Namun, semua keanekaragaman kebudayaan itu dipersatukan oleh ruh dan bentuk tradisi yang suci yang bersumber dari tauhid. Budaya Melayu merupakan salah satu dari bentuk budaya Islam yang mempunyai banyak pendukungnya. Nilai-nilai Islam terlihat dengan jelas dalam berbagai aspek budaya Melayu. Orang Melayu menjadikan Islam sebagai ruh atau inti kebudayaannya. Hal inilah yang memunculkan tesis bahwa Melayu identik dengan Islam
MUSLIM SALEH ATAU RADIKAL: Prospek Toleransi Agama di Indonesia Pasca 2-12 Imron Rosidi
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 8, No 2 (2016): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v8i2.2478

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan tentang prospek toleransi beragama di Indonesia setelah peristiwa demonstrasi umat Islam pada tanggal 02 Desember 2016 (2 12), dengan sudut pandang pada peningkatan kesalehan atau radikalisme pemahaman. Berdasarkan tulisan ini, gerakan aksi bela Islam yang puncaknya terjadi pada tanggal 2 Desember 2016 di lapangan Monas itu adalah gejala kesalehan yang hybrid dengan kapitalisme, politik dan budaya populer. Aksi itu menjadi contoh sempurna perkawinan antara kapitalisme dan Islam sebab aksi itu dimanfaatkan sebagai wahana penting mempromosikan produk-produk tertentu seperti sebuah produsen busana Muslim terkenal yang sengaja mengirimkan pesan melalui SMS ke konsumen dengan menawarkan produk diskon sekian persen dengan brand “promo Aksi Bela Islam jilid III”. Ia juga berkelindan dengan politik sebab sebagaimana diberitakan di media mainstream, aksi itu telah dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk saluran atau alat menggulingkan kekuasaan pemerintahan sekarang
POLITIK DOMINASI DAN DISKURSUS KEISLAMAN INDONESIA Surahman Cinu
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 6, No 1 (2014): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v6i1.898

Abstract

Politik Indonesia kontemporer dalam skala nasional (pusat kekuasaan) meski menunjukkan gejala bergerak ke arah pembentukan karakter bangsa yang pluralis, namun pada aras lokal justru hampir tidak memberi ruang bagi pembentukan karakter kebangsaan yang pluralis Peristiwa kekerasan dan berbagai pelarangan ajaran keagamaan di aras lokal, jelas menunjukkan satu konsolidasi politik demokrasi yang gagal, meski secara nasional politik demokrasi kita secara normatif menunjukkan domain pluralis. Namun, hal demikian sulit dijadikan tolok ukur bahwa proses pembentukan karakter Indonesia telah mengarah sebagai negara bangsa yang plural, sebagai sebuah cita-cita bersama