Jurnal Ushuluddin
Ushuluddin (Online ISSN 2407-8247 | Print ISSN 1412-0909) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Ushuluddin terbit pertama kali pada Bulan Desember 1998 dengan nama Jurnal Ushuluddin Cendikia. Pada tahun 2000 namanya berganti menjadi Jurnal Ushuluddin. Jurnal Ushuluddin memuat kajian-kajian dasar keislaman (islamic studies), baik dalam bentuk kajian kepustakaan maupun riset lapangan. Fokus utama Jurnal Ushuluddin meliputi aqidah, pemikiran Islam, filsafat agama, tasawuf, tafsir dan studi al-Qur'an, kajian Hadits, dan perbandingan agama. Jurnal ini diterbitkan dalam upaya mengkomunikasikan berbagai kajian yang terkait dengan Islam, baik klasik maupun kontemporer yang ditinjau dari berbagai perspektif. Dengan demikian, baik para sarjana Indonesia maupun sarjana asing yang fokus dengan kajian tersebut dapat memperkaya artikel yang dimuat dalam jurnal ini. Artikel yang masuk akan dinilai oleh peer-review, dan jika dipandang layak baru akan diterbitkan. Jurnal Ushuluddin diterbitkan dua kali dalam setahun, dan selalu menempatkan kajian Islam dan kajian tentang umat Islam sebagai fokus utama.
Articles
288 Documents
KRITIK KUALITAS MATAN HADIS PEREMPUAN LEMAH AKALNYA PERSPEKTIF SALAHUDIN IBN AHMAD AL-ADLABI
Atiyatul Ulya
Jurnal Ushuluddin Vol 26, No 1 (2018): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v26i1.4269
Islam sangat memuliakan perempuan, bahkan terdapat banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang menyatakan bahwa perempuan adalah makhluk mulia dan sama seperti laki-laki. Namun, terdapat sebuah hadis yang menjustifikasi bahwa kaum perempuan adalah makhluk yang lemah akalnya, kurang agamanya dan penghuni neraka terbanyak. Stigma atau justifikasi terhadap perempuan tersebut sangat bertolak belakang dengan gambaran umum tentang perempuan pada masa Rasulullah SAW yang cerdas dan berakal. Untuk mengetahui keotentikan hadis tersebut, maka perlu sekali dilakukan pengkajian hadis terutama dari segi matan. Dari beberapa metode kritik matan yang ada, teori tentang ke-sahîh-an matan yang relatif memadai adalah metodologi Salahudin ibn Ahmad al-Adlabi. Setelah melakukan pengkajian hadis berdasarkan metodologi tersebut, maka disimpulkan bahwa kualitas matan hadis tersebut tidak memenuhi kriteria ke-sahîh-an matan hadis
THE DISCUSSION OF QIRA’AT TURJUMAN AL-MUSTAFID EXEGESIS BOOK BY SHEIKH ABDUL RAUF SINGKEL
Khairunnas Jamal;
Wan Nasyaruddin Wan Abdullah
Jurnal Ushuluddin Vol 24, No 2 (2016): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v24i2.1501
Muslims got mercy upon the provision of differences in reading al-Qur`an. The differences have made significant influence on the interpretation of the Holy Book. The commentators of al-Qur`an adopted the qira’at differences as an integral part of their interpretation. For example, Ibn Jarir al-Tabari who wrote Tafsir al-Tabari and Abdul Rauf Singkel who wrote Tafsir Turjuman al-Mustafid. Abdul Rauf Singkel was a famous Qur’anic exegesis scholar in the Indonesia Archipelago whose work became the main reference of Muslims alongside the archipelago. In interpreting the verses of al-Qur`an, Abdul Rauf put qira’at distinction as one of his focuses of interpretation. In his work, Shaikh Abdul Rauf cited only three of the available seven qira’ats that he considered mutawatir and valid. Among those three qira’ats is qira’at Imam Nafi’, qira’at Imam Abu Amr and qira’at Imam Hafash. This study has shown despite differences in the implication of the qira’ats, there also the differences in meaning and understanding. Shaikh Abdul Rauf merely provided information about the difference in readings rather than showing a difference of meaning contained in each of the differences
PANDANGAN MUHAMMADIYAH TERHADAP HADIS-HADIS RU’YAT AL-HILAL
M Fauzhan ‘Azima
Jurnal Ushuluddin Vol 24, No 2 (2016): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v24i2.1759
Al-Kutub Al-Sittah merekam beragam redaksi hadis Nabi tentang ru’yat al-hilal. Hadis-hadis tersebut sepakat menginformasikan bahwa ru’yat al-hilal merupakan metode penentuan awal bulan qamariyah yang dipraktikkan oleh Nabi SAW. beserta para sahabatnya. Para ulama kemudian berbeda dalam memahami hadis-hadis yang berbicara tentang ru’yat alhilal tersebut. Sebagian besar ulama memahami bahwa penentuan awal bulan qamariyah dilakukan dengan melaksanakan ru’yat al-hilal dan tidak boleh menggunakan hisab. Sementara itu, ulama yang lain memandang bolehnya penggunaan hisab dalam penentuan awal bulan qamariyah. Muhammadiyah termasuk kelompok ulama yang menggunakan hisab dalam menentukan awal bulan qamariyah. Metode pemahaman yang digunakan Muhammadiyah dalam memahami hadis-hadis ru’yat al-hilal adalah kontekstualisasi pemahaman (kontekstualisasi makna) dengan menerapkan metode/analisis kausasi (ta’lili), menerapkan kaidah perubahan hukum, serta berusaha menangkap tujuan dari pesan Nabi yang terdapat dalam hadis ru’yat al-hilal yang berlaku tetap dan membedakannya dengan sarana yang dapat berubah-ubah
REINTERPRETASI TERHADAP PEMAHAMAN HADITS-HADITS TENTANG GENDER DALAM PERSPEKTIF FIQH AL-HADITS
zailani zailani;
Kaizal Bay;
Sri Chalida
Jurnal Ushuluddin Vol 24, No 1 (2016): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v24i1.1516
There are a lot of hadiths that influenced certain circumstances, especially those “degrading” degrees of women. If the hadiths are textually practiced, there would certainly be an impact on human-right violations. If broken, it will also affect the person’s faith in applying the traditions of Prophet SAW in his life. This issue certainly needs the best solution in understanding these hadiths. It is unneglectable to avoid that women harassment are still happening today. Everyone witnesses that so many women lost their rights, both as a human being, such as subordinated to its shortcomings, but also as citizens, such as loss of right to be a leader. The women with this particular plight are the result of men’s behavior who stand on religious arguments (especially hadith) that put women as “humbled” and even simply as the creature that confined to live in walls of house, which is just back and forth between the kitchen, wells and mattresses. Reinterpretation of Islamic concepts on the position of women should be provided in order to give opportunity to the present women as highly dynamic, courteous, and beneficial for religion and society. We all believe that Prophet Muhammad SAW was the great personal who respected and uphold the honor of women. This is the gap between the will of the Prophet SAW with the understanding of Muslim believers about the hadiths of the Prophet SAW
TEORI H SEBAGAI ILMU WAHYU DAN TURATS DALAM ISLAM
Roikhan Mochamad Aziz
Jurnal Ushuluddin Vol 24, No 1 (2016): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v24i1.1347
Konsep konvensional ditemukan dalam bentuk teori H yang hampir mampu menyatukan dimensi ruang dan waktu, tetapi masih menyisakan struktur dan sistematika yang belum jelas. Ajaran Islam sebagaimana tertera dalam Al Qur’an Surah al-Hijr [15]:87 telah menafsirkan dimensi ruang dan waktu dengan makna berjenjang signifikansi 7 dan Al Qur’an. Teori H sebagai rumus bisa lebih baik dan lebih tepat, karena dapat melakukan sinkronisasi dengan simbol akar kata dari Islam. The Hahslm persamaan H = Ah (SLM) dapat diperoleh dengan teori tunggal yang juga didasarkan pada nilai-nilai Islam dan berasal dari al-Qur’an yang merupakan firman Allah SWT. Firman Allah SWT ini akan menjadi jawaban bagi pengembangan ilmu pengetahuan konvensional yang berdasarkan nilai-nilai empiris bersama-sama dengan ilmu pengetahuan Islam yang berdasarkan nilai ibadah atau nilai intangible. Pada akhirnya, peradaban manusia mampu menerobos kebuntuan bersatunya ilmu yang mandeg di urutan dimensi yang berbeda. Dan Islam akan diakui sebagai formula tunggal dalam pemikiran manusia
PARADIGMA TASAWUF YASYFÎN
M. Arrafie Abduh
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 2 (2015): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v23i2.1202
Dasar paradigma Tasawuf yasyfin adalah firman Allah dalam surah al-Syu’arâ ayat 80, dan Tasawuf yasyfinayat 14.Sedangkan istilah syifâ‘ terdapat dalam empat surah dan ayat, yaitu Yûnus ayat 57, al-Nahl ayat 69,al-Isrâ‘ ayat 82, dan Fushshilat ayat 44.Dalam konotasi istilah yasyfîn sudah mengandung maka psychotherapy. Yasyfîn adalah al-‘allâj al-nafsî wa al-ruhi atau mu’âlajat al-idhthirâyât al-audzâqiyyat wa al- ‘âthifiyyat bilwasâ‘il al-ruhiyyat wa al-jasmaniyyat. Paradigmatasawuf yasyfînadalah pengobatan psikis (spiritual dan mental)melalui tasawuf.Tasawuf yasyfinberdasar wahyu Ilahi, sabda Rasulullah Saw dan mujahadah para sufisebagai paradigma Islam yang mengakui eksistensi Tuhan sebagai al-Haqq dan Nabi Muhammad Saw sebagai panutan. Tasawuf yasyfindilakukan melalui pendekatan bashîrah, dalam literatur sufi mengandung makna hati nurani dan pandangan batin
INFILTRATION of SHIA: SEGMENTATION of AL-DAKHIIL in INTREPRETATION of AL-MISHBAH
Afrizal Nur
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v23i1.1076
M.Quraish Shihab is the Indonesian contemporary Muffassir, since he is capable and too bold to convey the message of the Qur’an that’s contextualized with the current situation which makes him popular, but at the same time his popularity started dropping as his pro-Shia views and interpretation, this has caused controversy among public. Shia infiltration is a segmentation of al-Dakhiil in the interpretation of the Koran, which is about the following issues: the cult of the Prophet Muhammad’s daughter (Fatima ra), Ali bin Abi Talib ra is First People who substitute the Prophet, believer in verse 105 of al-Tawbah letter are special people and Ahlul Bait. Among criticisms, there were always directed to the professor in Qur’an Tafseer at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta is a rational interpretation in some cases above, because it is so memorable to his figures of contemporary Shi’ism. Hopefully, this article is as an effort to repair and may contribute to restore al-tafseer book of Mishbah commentary be dignified and highvalue tafseer equivalent to the works of previous commentary of Indonesian Mufassir
STUDI HADIS-HADIS MUKHTALIF TENTANG MENGUMUMKAN KEMATIAN (AL-NA’Y)
Adynata Adynata
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v23i1.1083
Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran. Dalam memahaminya diperlukan ilmu-ilmu tertentu agar tidak terjadi kekeliruan, sebab hadis-hadis tersebut kadang kala terlihat bertentangan satu sama lain, padahal jika hadis itu sahih bersumber dari Rasulullah SAW maka mustahil terjadi pertentangan padanya. Oleh karena itu, para ulama hadis mengkaji jenis hadis ini dan merumuskan metode penyelesaiannya dengan sebuah ilmu yaitu Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Di antara permasalahan yang terjadi di sebagian masyarakat yang berkaitan dengan kesalahan memahami hadis mukhtalif adalah tentang mengumumkan kematian (al-na’y) antara hadis yang membolehkan dan melarang. Kedua versi hadis tentang mengumumkan kematian (al-na’y) tersebut terlihat bertentangan satu sama lain atau mukhtalif yang mesti dipahami berdasarkan metode Ilmu Mukhtalif al-Hadis. Pada hadis yang melarang al-na’y, Rasulullah SAW. menyebutkan alasan atau illat pelarangan itu, yakni tindakan mengumumkan kematian seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah. Sedangkan pada hadis yang membolehkan al-na’y di mana Rasulullah SAW. dan sahabatnya melakukannya tidak mengandung tata cara Jahiliyah, tetapi sebaliknya mengandung kemaslahatan yang banyak. Oleh karena itu, pelarangan al-na’y itu terkait dengan tata caranya, yaitu tata cara Jahiliyah, Berdasarkan kajian ini, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kedua versi hadis tersebut tidaklah bertentangan
Pro Kontra I’jaz Adady Dalam Al-Qur'an
Syahrul Rahman
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v25i1.2175
Semenjak dikenalkan oleh Naufal, I’jaz adady telah mengalami perkembangan yang cukup luar biasa. I’jaz adady merupakan satu tawaran metoda baru dalam melihat kemukjizatan al-Qur’an, bermula dari kesesuaian penggunaan kata dalam al-Qur’an, sekarang cakupan teori ini telah meliputi kemukjizatan angka 11, angka 7, dan angka 19. Di sisi lain, ulama tradisional masih belum bisa menerima kajian ini sebagai bagian dari kajian ulum al-Qur’an. Dalam pandangan mereka, konsep teoretis i’jaz adady belum terbangun dengan kokoh dan terkesan tidak rasional. Di antara kelompok yang mengkritisi ini ada yang secara radikal menyangsikan keberadaan dan keabsahan diskursus ini dan ada juga yang mengapresiasinya dengan menyatakan ketepatan penggunaan kata dalam hitungan matematis bahagian dari ketelitian al-Qur’an bukan bagian kemukjizatan al-Qur’an.
A Philological Report Of The Theologus Autodidactus Of Ibn Al-Nafis By Max Meyerhof And Joseph Schacht
Maulana Maulana;
Khotimah Khotimah;
Imron Rosidi
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/jush.v25i1.2176
Ibn al-Nafis is a monumental figure in Islamic scholarship. He wrote a fictional novel entitled “ Al-Risalah al-Kamiliyah fi’l sira al-Nabawiyah” which is translated as “ Theologus autodidactus”. This article does not focus on the content of this book but on the philological persepctive of how this book is edited by Joseph Schacht and Max Meyerhoff. Therefore, the question is whether this book which is edited by these two scholars is based on academic standards or not. Another question is how the editors study this text , particularly their main basis of editing this text.