cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 48, No 1 (2024): June" : 7 Documents clear
The Spirit of Purification in Indonesian Tafsir: T.M. Hasbi As-Siddieqy and His Interpretation of Verses on Tawasul in Tafsir An-Nur Imanuddin, Imanuddin; Mursalim, Mursalim
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.25964

Abstract

The Tafsir An-Nur by T.M. Hasbi As-Siddieqy (d. 1975) is one of the popular tafsir works in Indonesia. When interpreting the meaning of "wasilah" in Q.S. Al-Maidah [5]: 35, Hasbi tends to show a spirit of purification. However, the interpretation and historical context of this interpretation have not been widely analyzed. This article examines Hasbi's interpretation and its historical context by conducting a literature study of Tafsir An-Nur supported by various relevant literature. It is argued that Hasbi's interpretation in his tafsir is heavily influenced by certain contexts such as the scholarly and methodological context of tafsir, as well as the socio-cultural-religious conditions of his time. The results of this study reveal that Hasbi's interpretation of tawasul in this verse means drawing closer to Allah through good deeds and fear of Him. This interpretation differs from other mufassirs who interpret tawasul through the intermediary of pious people who are either still alive or have passed away. Furthermore, according to Hasbi, such tawasul was never practised by the Companions, whether during the life of the Prophet (PBUH) or after his death, either at the grave or elsewhere. According to him, such tawasul is not found in authentic evidence (dalil ma'tsur) and is only found in weak hadiths. Hasbi bases his interpretation on the opinions of jurists such as Imam Mālik, Abū Hanīfah, and asy-Syāfi’i. Using Hans-Georg Gadamer's hermeneutic theory, it is revealed that Hasbi's spirit of purification of religious understanding and practice, Hasbi's scholarly basis in the field of jurisprudence, and the tafsir methodology applied are some factors that contribute to influencing his interpretation.Abstrak: Tafsir An-Nur karya T.M. Hasbi As-Siddieqy (w. 1975) merupakan salah satu karya tafsir yang populer di Indonesia. Ketika menafsirkan makna wasilah dalam Q.S. Al-Maidah [5]: 35, Hasbi cenderung menunjukkan semangat purifikasi (pemurnian). Namun, penafsiran dan konteks historis dari penafsiran ini belum banyak dianalisis. Artikel ini mengkaji penafsiran Hasbi tersebut dan konteks historisnya, dengan melakukan studi literatur terhadap Tafsir An-Nur yang didukung oleh berbagai literatur yang relevan. Didasarkan pada argumen bahwa penafsiran Hasbi dalam tafsirnya sangat dipengaruhi oleh konteks-konteks tertentu seperti konteks keilmuan dan metodologi tafsir, serta kondisi sosial-budaya-keagamaan pada masanya. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penafsiran Hasbi tentang tawasul dalam ayat tersebut berarti mendekatkan diri kepada Allah melalui perbuatan baik dan rasa takut kepada-Nya. Penafsiran ini berbeda dengan mufasir lain yang menafsirkan tawasul melalui perantara orang-orang saleh yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Lebih lanjut menurut Hasbi, tawasul semacam seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Sahabat, baik semasa Nabi Saw masih hidup maupun sesudah wafat, ketika berada di kubur maupun di tempat lain. Menurutnya, tawasul semacam ini tidak terdapat dalam dalil yang ma’tsūr, dan hanya terdapat dalam hadis-hadis lemah. Hasbi mendasarkan penafsirannya ini pada pendapat ulama fikih seperti Imam Mālik, Abū Hanīfah, dan asy-Syāfi’i. Dengan menggunakan teori hermeneutika Hans-Georg Gadamer, terungkap bahwa semangat pemurnian Hasbi terhadap pemahaman dan praktik keagamaan, basis keilmuan Hasbi di bidang fikih, dan metodologi tafsir yang diterapkan adalah beberapa faktor yang bekonstribusi dalam mempengaruhi penafsirannya tersebut.
The Sufistic Values in the Tolokin Tujuh Tradition in the Village of Rambah Samo Barat, Rokan Hulu Nanda, Heru; Wilaela, Wilaela; Abduh, M. Arrafie
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.29355

Abstract

This article contains about the procession and sufistic values in the Tolokin Seven ritual in the community which is still going on until now. The purpose of the tradition is to pray for people who have died in the community of Desa Rambah Samo Barat, Rokan Hulu. Data collection in this descriptive qualitative research is done through observation, interviews, and documentation. Informants numbered seven people, consisting of mursyid, traditional figures, religious figures, community figures, culturalists and adult male and female community members. The results of the research explain the traditional seven-day tolokin procession , which begins with the community going to the destination grave after the dawn prayer, and sitting in a circle around the grave. They read istighfar , silsilah Yasin, surah al-Fatihah, surah al- Insyrah , surah at- Takatsur , Surah Yasin, prayer tolokin seven , surah al-Ikhlas, surah al- Falaq , surah an-Nas, tahlil, prayer, salam- shake hands and end with the members of the temple giving alms in the form of food and drink. The sufistic values contained in the seven tolokin tradition are the values of asceticism and repentance, khauf and king', patience and gratitude, sincerity, trust, reflection, and rida. The tradition of tolokin seven is maintained and practiced by the people of West Samo Rambah Village because it is believed to be in accordance with religious teachings or not contrary to Sharia and teaches that each individual will be held accountable for all actions.Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang prosesi dan nilai-nilai sufistik dalam ritual tolokin tujuh dalam masyarakat yang masih berlangsung hingga kini. Tujuan dari tradisi tersebut untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia di dalam masyarakat Desa Rambah Samo Barat, Rokan Hulu. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif deskriptif ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan berjumlah tujuh orang, terdiri dari mursyid, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan dan anggota masyarakat laki-laki dan perempuan dewasa. Hasil penelitian menjelaskan tentang prosesi tradisi tolokin tujuh diawali dari masyarakat mendatangi kuburan yang dituju setelah salat subuh, dan duduk melingkar mengelilingi kuburan tersebut. Mereka membaca istighfar, silsilah Yasin, surah al-Fatihah, surah al-Insyirah, surah at-Takatsur, Surah Yasin, doa tolokin tujuh, surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah an-Nas, tahlil, doa, bersalam-salaman dan diakhiri pemberian sedekah oleh ahli bait, berupa makanan dan minuman. Nilai-nilai sufistik yang terkandung dalam tradisi tolokin tujuh adalah nilai zuhud dan tobat, khauf dan raja’, sabar dan syukur, ikhlas, tawakal, muhasabah, dan rida. Tradisi tolokin tujuh tetap dipertahankan dan dipraktikkan oleh masyarakat Desa Rambah Samo Barat karena diyakini  sesuai dengan ajaran agama atau tidak bertentangan dengan syariat dan memberikan pengajaran bahwa setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan. 
The Transformation of Attitudes and Practices of Religious Moderation Among Lecturers at UIN Raden Fatah Palembang Following the Implementation of the Professionalism and Religious Moderation Index Azhari, Ari; Nurani, Qoim; Torik, Muhammad
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.27625

Abstract

This research was motivated by the survey of the Religious Moderation Professionalism Index (IPMB) on all State Civil Apparatus within the Ministry of Religious Affairs. This program is carried out to quantitatively measure the level of professionalism and religious moderation of each ASN as a basis for assessment and evaluation in development efforts. The research question focuses on analyzing the transformation of attitudes and practices of Religious Moderation for the lecturers at UIN Raden Fatah Palembang Palembang, as well as exploring the efforts that must be undertaken by the lecturers at UIN Raden Fatah Palembang Palembang in implementing the principles of Religious Moderation at the university. The method used in this study is quantitative with the population and sample of  UIN Raden Fatah Palembang Palembang lecturers, for measurement techniques using the Likert scale, namely to measure attitudes, opinions and perceptions of UIN Raden Fatah Palembang lecturers about religious moderation. The results showed that the implementation of IPMB has had a positive impact on the transformation of attitudes and practices of religious moderation in UIN Raden Fatah Palembang lecturers. Lecturers become more understanding and internalize the values of religious moderation, so that their attitudes and practices become more moderate. This can be seen from the increasing national commitment, tolerance, nonviolence, and respect for local culture.Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil survei yang dilakukan dengan menggunakan Indeks Profesionalisme Moderasi Beragama (IPMB) terhadap Aparatur Sipil Negara di Kementerian Agama. Survei ini dirancang untuk menilai seberapa profesional dan sejauh mana moderasi beragama dimiliki oleh Aparatur Sipil Negara sebagai dasar sebagai landasan evaluasi dan pengembangan. Fokus penelitian adalah transformasi sikap dan praktik Moderasi Beragama pada dosen UIN Raden Fatah Palembang Palembang, serta upaya yang diperlukan untuk menerapkannya di lingkungan kampus. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan skala likert untuk menilai sikap, pendapat, dan persepsi dosen tentang moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi IPMB berpengaruh positif terhadap transformasi sikap dan praktik moderasi beragama pada dosen UIN Raden Fatah Palembang Palembang. Dosen mengalami peningkatan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai moderasi beragama, tercermin dalam komitmen yang lebih tinggi terhadap kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Perubahan ini mengindikasikan perlunya upaya berkelanjutan dalam mempromosikan moderasi beragama di kalangan akademisi untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan harmonis. Penelitian ini memiliki implikasi penting tidak hanya bagi UIN Raden Fatah Palembang Palembang tetapi juga institusi pendidikan lainnya yang ingin meningkatkan moderasi beragama di kampus mereka. Peningkatan komitmen terhadap nilai-nilai moderasi beragama diharapkan dapat memperkaya dialog antaragama dan antarbudaya serta memperkuat kerjasama lintasagama dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengembangan masyarakat.
The Curriculum of Islamic Education in the Classical and Modern Eras and Its Relevance to the Independent Curriculum: A Comparison of the Thoughts of Syed Naquib Al-Attas and Ibn Sahnun Arifa, Nur; Amrona, Yassir Lana; Aripai, Andi Fatihul Faiz
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.26298

Abstract

The curriculum of Islamic education has evolved over time, from the classical era to the modern era. In the classical era, there was a scholar who pioneered the Islamic education system, namely Ibn Sahnun. In the modern era, there is Syed Naquib al-Attas, who upholds the Islamization of knowledge. This study aims to discuss whether the content of the curriculum in classical Islamic education designed by Ibn Sahnun and the modern curriculum designed by Al-Attas synergize with each other in terms of the levels of knowledge studied. Furthermore, if we relate it to the Independent Curriculum program currently promoted by the government, is it relevant and compatible with the curriculum designs of these two figures, Ibn Sahnun and Al-Attas? This study employs a descriptive comparative research method and an in-depth analysis of the literature related to these two figures to examine the relevance of their ideas with the Independent Curriculum initiated by the government. The results of this study found that there is compatibility between the classical and modern Islamic education curriculum and the Independent Curriculum in four aspects: first, the aspect of freedom in learning; second, the aspect of attention; third, the aspect of flexibility; and fourth, the aspect of cooperation. This also concludes that there is relevance between the Independent Curriculum and the Islamic education curriculum designed by Al-Attas and Ibn Sahnun regarding compulsory learning related to the Qur'an as the main foundation before understanding other subjects, especially social sciences.Abstrak: Kurikulum pendidikan Islam mengalami perkembangan dari masa ke masa yaitu dari era klasik sampai pada era modern. Pada era klasik, terdapat ulama yang menjadi pelopor sistem pendidikan Islam yaitu Ibnu Sahnun. Kemudian pada era modern terdapat Syed Naquib al-Attas yang menjunjung tinggi islamisasi ilmu pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang apakah muatan materi yang terdapat dalam kurikulum pendidikan Islam era klasik rancangan Ibnu Sahnun dan kurikulum era modern rancangan Al-Attas memiliki sinergisitas satu sama lain dalam aspek tingkatan keilmuan yang dipelajari? Kemudian jika ditarik dengan program kurikulum merdeka yang sedang digencarkan oleh pemerintah pada saat ini apakah relevan dan memiliki kesesuaian dengan rancangan kurikulum dua tokoh tersebut yaitu Ibnu Sahnun dan Al-Attas? Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif komparatif serta analisis yang mendalam terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan kedua tokoh tersebut untuk melihat relevansi gagasan ide kedua tokoh tersebut dengan kurikulum merdeka yang diinisiasi oleh pemerintah. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara kurikulum pendidikan Islalm era klalsik dan era modern dengan kurikulum merdeka pada empat aspek yaitu: pertama, aspek kebebasan dalam belajar; kedua, aspek memperhatikan; ketiga, aspek fleksibilitas; dan keempat, aspek gotong royong. Hal ini juga memberikan kesimpulan bahwa terdapat relevansi antara kurikululm merdeka dengan kurikulum pendidikan Islam yang dirancang oleh Al-Attas daln Ibnu Sahnun mengenai pembelajaran wajib yang berkenaan dengan Al-Qur’an menjadi dasar utama sebelum memahami materi-materi lain terutama ilmul-ilmul sosial.
Building a Gender-Responsive Higher Education Institution through Collaborative Governance Fithriyyah, Mustiqowati Ummul; Sari, Ilmi Puspita; Monalisa, Monalisa
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.29722

Abstract

This research aims to determine the extent of the implementation of Gender Responsive Higher Education (PTRG) at the State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) using the collaborative governance model by Ansel and Gash. Collaborative governance is a part that supports the implementation of gender-responsive indicators in higher education. It examines the commitment and trust built by stakeholders in addressing gender disparities. The methodology used in this research is descriptive qualitative, with data obtained from observations in various faculties of UIN Suska Riau and interviews with 23 informants consisting of 19 academic members, 1 private sector representative, 2 Non-Government Organization (NGO) members, and 1 community member. The findings show that the implementation of Gender Responsive Higher Education at UIN Suska Riau is carried out by various actors in line with collaborative governance actors, including the government, private sector, and community. In this research, the campus community acts as the government actor on behalf of the university institution, PT. Orbit Ventura Indonesia as the private sector actor, Rumah KitaB and AMAN as NGOs, and the community has been optimal. This is evident from most of the gender-responsive higher education indicators is well achieved. Stakeholder collaboration leads to actions that strengthen planning in the implementation of gender responsiveness.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan Perguruan Tinggi Responsive Gender (PTRG) di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) dengan menggunakan teori tata kelola kolaboratif model Ansel dan Gash. Tata kelola kolaboratif menjadi bagian yang mendukung pelaksanaan indikator responsif gender Perguruan Tinggi. Melihat komitmen dan kepercayaan yang dibangun oleh para pemangku kepentingan dalam menyelesaikan ketimpangan gender. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan perolehan data dari observasi ke berbagai fakultas UIN Suska Riau dan wawancara dengan 23 informan yang terdiri dari sivitas akademika sebanyak 19 orang, sektor swasta 1 orang, anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 2 orang dan masyarakat 1 orang. Temuan penelitian menunjukkan bahwasanya pelaksanaan Perguruan Tinggi Responsive Gender di UIN Suska Riau dilakukan oleh berbagai aktor sesuai dengan aktor tata kelola kolaboratif yang terdiri dari pemerintah, sektor swasta dan masyarakat maka aktor dalam penelitian ini warga kampus sebagai aktor pemerintah atas nama instansi perguruan tinggi, PT. Orbit Ventura Indonesia sebagai aktor swasta, Rumah KitaB dan AMAN sebagai LSM serta masyarakat dalam pelaksanaannya sudah optimal. Hal ini terlihat dari sebagaian besar indikator Perguruan Tinggi Responsive Gender yang tercapai dengan baik. Kolaborasi pemangku kepentingan menimbulkan tindakan yang mengarah pada penguatan perencanaan dalam pelaksanaan responsif gender.
Reactualization of Islamic Teachings in Indonesia; A Study of Munawir Sjadzali's Islamic Reform Thought Sutoyib, Niki; Hady, M. Samsul; Wafi, Hasan Abdul
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.27272

Abstract

This research discusses the re-actualization of Islamic teachings in Indonesia as proposed by Munawir Sjadzali. Munawir Sjadzali was an Indonesian Islamic intellectual and bureaucrat who served as the Minister of Religious Affairs of the Republic of Indonesia for two terms, from 1983 to 1993. The re-actualization of Islamic teachings conducted by Munawir Sjadzali was inspired by the Islamic reform movement previously championed by thinkers and reformers such as Muhammad Abduh and Rasyid Ridho. This study is a type of library research using descriptive-analytical methods. The results of the study reveal that the re-actualization of Islamic teachings from Munawir Sjadzali's perspective does not mean moving Islam away from the axis of classical ijtihad, but rather an effort to ensure that Islamic teachings are always contextual with the conditions of Muslims in Indonesia (shalih likulli zaman wa makan). Specifically, Munawir Sjadzali offers three methods of ijtihad in the reform of Islamic law: first, 'adat, used in issues of inheritance distribution by considering the socio-economic conditions of Indonesian society and the roles of men and women; second, nasakh (abrogation) on issues of slavery that are inconsistent or contradictory to human rights; and third, mashlahah (public interest) on the issue of bank interest. In this regard, Munawir Sjadzali accepts bank interest on the grounds of mashlahah, but he remains accommodative towards the establishment of Bank Mu'amalah and Sharia Rural Banks (BPR Syariah) with the principle of trade partnership while adhering to prevailing banking regulations. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang reaktualisasi ajaran Islam di Indonesia yang dikemukakan oleh Munawir Sjadzali. Munawir Sjadzali merupakan seorang intelektual Islam Indonesia sekaligus birokrat yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia selama dua periode, yaitu tahun 1983 – 1993. Reaktualisasi ajaran Islam yang dilakukan oleh Munawir Sjadzali terinspirasi dari gerakan pembaharuan Islam yang sudah digaungkan oleh pemikir dan pembaharu Islam sebelumnya seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil dari penelitian mengungkapkan bahwa reaktualisasi ajaran Islam perspektif Munawir Sjadzali bukan berarti menjadikan Islam keluar dari poros ijtihad klasik, namun upaya agar ajaran Islam selalu kontekstual dengan kondisi umat Islam di Indonesia (shalih likulli zaman wa makan). Secara spesifik Munawir Sjadzali menawarkan tiga metode ijtihad dalam pembaharuan hukum Islam, yaitu; pertama, adat, digunakan pada masalah pembagian harta warisan dengan mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Indonesia serta peran laki-laki dan perempuan; kedua, nasakh pada isu-isu tentang perbudakan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM); dan ketiga, mashlahah pada isu bunga bank. Dalam hal ini Munawir Sjadzali menerima bunga bank dengan alasan mashlahah, namun ia tetap akomodatif terhadap pembentukan Bank Mu'amalah dan bank BPR Syariah dengan prinsip kemitraan perdagangan dengan tetap mengindahkan peraturan perbankan yang berlaku.
The Dau Balak Tradition in Lampung Traditional Marriage Perspective Asy-Syâthibî Aimmah, Qudwatul; Azmi, Miftahudin
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.29803

Abstract

Wedding traditions in Indonesia are very diverse, one of which is the “Dau Balak” tradition in Lampung traditi onal marriage (pepadun). “Dau Balak” are wedding expenses that must be prepared by the prospective husband before carrying out the marriage contract, these costs must be met and are not part of the dowry. This tradition is interesting to study in more depth because it is not found in the literature on marriage jurisprudence (munakahat). This article was written based on field research using descriptive-qualitative methods using a phenomenological approach. The “Dau Balak” tradition will not be found in the study of marriage jurisprudence, but this tradition can be studied using the approach used by al-Syâthibî. Research data was obtained through observation, interviews and documentation. The research results show that the “Dau Balak” tradition has been carried out for generations by the people of Lampung. They still do it as an appreciation for the cultural heritage of their ancestors. Through al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Ahkâm, al-Syâthibî divides tradition into two parts, namely: traditions established by the Shari’a (al-‘âdah al-syar'iyyah) and traditions not found  in the Shari’a (al-‘âdah al-jâriyyah). The “Dau Balak” tradition is included in the al-‘âdah al-jâriyyah category, namely a tradition that has been passed down from generation to generation and Islam does not specifically discuss this tradition. This tradition can be accepted by Islamic law because it has a good purpose and brings benefit to humans. The “Dau Balak” tradition is part of the nation’s cultural treasures which can be preserved as a typical marriage identity of the Lampung people (pepadun).Abstrak: Tradisi perkawinan di Indonesia sangat beragam, salah satunya adalah tradisi “Dau Balak” pada perkawinan adat Lampung (pepadun). “Dau Balak” adalah biaya perkawinan yang harus disiapkan oleh calon suami sebelum melaksanakan akad nikah, biaya tersebut harus dipenuhi dan bukan bagian dari mahar. Tradisi ini menarik dikaji lebih mendalam karena tidak ditemukan dalam literatur fikih perkawinan (munakahat). Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian lapangan dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Tradisi “Dau Balak” tidak akan ditemukan pada kajian fikih perkawinan, namun tradisi ini dapat dikaji menggunakan pendekatan yang digunakan oleh al-Syâthibî. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi “Dau Balak” sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Lampung. Mereka tetap melaksanakannya sebagai apresiasi atas warisan budaya para leluhur. Melalui al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Ahkâm, ia membagi tradisi menjadi dua bagian, yaitu: tradisi yang ditetapkan oleh syariat (al-‘âdah al- syar’iyyah) dan tradisi yang tidak ditemukan dalam syariat (al-‘âdah al-jâriyyah). Tradisi “Dau Balak” termasuk kategori al-‘âdah al-jâriyyah, yaitu tradisi yang berlangsung turun-temurun dan Islam tidak membicarakan secara spesifik tradisi tersebut. Tradisi ini dapat diterima oleh syariat Islam karena mempunyai tujuan yang baik dan membawa kemaslahatan bagi manusia. Tradisi “Dau Balak” merupakan bagian dari khazanah budaya bangsa yang bisa dilestarikan sebagai identitas perkawinan khas masyarakat Lampung (pepadun). 

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue