cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 198 Documents
Dasar Wajib Patuh Pada Undang-Undang Perkawinan Ditinjau Menurut Hukum Islam Rozi Andrini; Mawardi Muhammad Saleh; Indra Hadi
An-Nida' Vol 45, No 1 (2021): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i1.16533

Abstract

Undang-Undang Perkawinan (UUP) adalah salah satu produk hukum yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia. Sebagai negara Hukum, masyarakat Indonesia wajib mematuhi setiap produk hukum yang dibuat. Namun kenyataannya masyarakat banyak yang mengabaikan aturan hukum yang berlaku dan berasumsi bahwa UUP hanyalah aturan dari negara bukan aturan dari Allah SWT yang wajib untuk dipatuhi. Tulisan ini bertujuan membuktikan kewajiban patuh pada Undang-Undang Perkawinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan normative. Hasil Penelitian ini membuktikan bahwa dasar wajib patuh pada Undang-Undang Perkawinan adalah sama dengan dasar wajib patuh kepada al-Qur’an, Sunnah dan ulil amri, sebab Undang-Undang Perkawinan merupakan produk hasil ijtihad pemerintah (ulil amri). Ijtihad pemerintah tersebut merupakan wujud dari pemikiran dan kesepakatan seluruh rakyat yang telah diwakili. Sehingga kewajiban patuh kepada UUP tersebut adalah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Nisa’ ayat 58 dan 83.
Sinergisitas Pancasila dan Ajaran Agama (Analisis Pendekatan Tafsir Maqashidi Atas Sila Kemanusiaan) Mas'udah Mas'udah
An-Nida' Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i2.19265

Abstract

Artikel ini berfokus pada permasalahan Pancasila yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama. Islam dan Pancasila adalah dua hal yang berkaitan erat, sebab nilai-nilai yang terkandung di dalam keduanya bertujuan untuk mewujudkan kedamaian di muka bumi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membahas mengenai nilai-nilai ajaran agama terkait kemanusiaan yang terkandung dalam Sila ke-2 (nilai humanisme). Kami menggunakan teori tafsir Maqashidi sebagai metode penelitian. Adapun yang menjadi fokus objek formal dalam penelitian ini adalah sila kemanusiaan perspekti tafsir al-Maqashidi. Kami menggunakan pendekatan tafsir Maqashidi sebagai metode penelitian untuk mencari hubungan antara Pancasila dan teks keagamaan terutama sila ke-2. Berdasarkan penelitian tersebut, kami mendapatkan dua hipotesa. Pertama, (korelasi) nilai-nilai yang terkandung dalam sila pada Pancasila dengan ajaran agama Islam. Kemudian yang kedua adalah Idea moral/maqashid yang terkandung dalam sila ke-2 dan ayat-ayat kemanusiaan mengandung beberapa aspek dan nilai fundamental maqasid seperti nilai kemanusiaan (insaniyyah), nilai kesetaraan (musawah), nilai keadilan (al-‘adalah), hifz al-din, hifz al-‘aql, hifz al-mal, hifz an-nafs dan hifz al-daulah.
Ayat Mutasyabihat Tentang Keberadaan Allah Perspektif Para Ulama Riska Susanti
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19228

Abstract

Dalam Islam rukun iman pertama ialah iman kepada Allah SWT, Bila seorang selaku muslim tidak meyakini adanya Allah SWT, sungguh orang tersebut berada didalam kesesatan yang nyata. Di antara ayat-ayat  mutasyabihat  adalah  ayat  yang  berbicara  tentang  zat  Allah SWT, seperti ayat tentang tangan, mata, wajah, istawa', dan sebagainya. Dalam jurnal ini ditulis Secara spesifik, mencoba  untuk  memaparkan  dan  mengulas  Ayat Mutasyabihat Tentang Keberadaan Allah Prespektif Para Ulama, pada kitab tafsir yang digunakan  oleh  para  mufasir  dalam  memahami  ayat-ayat  Istiwa’, guna mempelajari ayat terkait keberadaan Allah SWT yaitu tinjauan ulang QS Thaha ayat 5, tentang ayat mutasyabihat yang ada di dalam Al-Qur’ an yang mengatakan jika Allah SWT itu bersemayam di atas Arsy. Peneliti merujuk kepada komentar yang ditulis oleh sebagian para ulama. Dalam hal ini komentar ulama-ulama yakni mengembalikan arti tersebut kepada Allah SWT. dan mayoritas mufasir tidak memahami istawa’ secara literal. Mereka tidak meyakini bahwa maksud istiwa’ adalah Allah duduk atau menetap di ‘Arsy. Mereka memalingkan makna istawa’ dari makna literalnya kepada makna lain yang sesuai dengan sifat-sifat keagungan yang dimiliki- Nya. Jurnal ini merupakan library research, yakni riset kepustakaan. Data-datanya didapat yang bersumber pada buku-buku serta jurnal yang berkaitan dengan permasalahan ini, paling utama kitab tafsir sebagian ulama, yaitu: tafsir Al-Qur’an al- Adzim karya Imam Ibnu Katsir, tafsir al- Munir karya Wahbah Al- Zuhaili. Jurnal ini memakai metode pengelolaan serta seterusnya mengumpulkan informasi dan membuat kesimpulan.
Isu LGBT Perspektif Al-Qur’an dan Psikologi dan Cara Pengentasannya Latifatun Nafisah
An-Nida' Vol 45, No 2 (2021): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i2.19266

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang isu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender  (LGBT) dalam Al-Qur’an dan psikologi serta solusi pengentasannya. Isu ini menjadi urgen karena banyak disorot oleh seluruh kalangan baik nasional maupun internasional adalah. Di antara mereka ada yang menerima dengan dalih hak asasi manusia, sebagian lagi menolak LGBT dengan dalih perbuatan itu akan merusak fitrah sebagai manusia. Adanya dua pandangan dalam menyikapi LGBT membuat isu ini terus bergulir dan menarik untuk dikaji. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengkajian secara mendalam dengan menggunakan teori tafsir maqaṣidi supaya up to date (shalih li kulli zaman wa al-makan). Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang bagaimana LGBT dalam pandangan Al-Qur’an dan psikologi, kemudian bagaimana pengentasannya menggunakan perspektif tafsir maqashidi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan, pertama Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender merupakan suatu perbuatan yang dilarang dalam Al-Qur’an; kedua, LGBT juga dapat dikatakan gangguan jiwa jika seseorang merasa terganggu dengan orientasi seksualnya serta tidak menerimanya; ketiga, cara pengentasan LGBT menurut tinjauan Al-Qur’an dan Psikolog yakni diantaranya dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman nilai-nilai luhur keislaman, khususnya di kalangan anak muda dan memberikan penyuluhan dengan menggunakan pendekatan yang agamis.
Analisis Normalisasi Pemukulan Suami terhadap Istri Perspektif Hukum Islam (Studi terhadap Pendapat Seorang Da’iyah di Media Sosial) Adynata Adynata; Sulaiman Sulaiman
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19244

Abstract

Pernikahan merupakan wadah legal yang diberikan Islam untuk menciptakan kehidupan yang tenang dan bahagia di dunia, sekaligus ladang amal untuk menggapai kebahagiaan akhirat. Namun kehidupan berumah tangga tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Adakalanya istri melakukan pembangkangan terhadap suami, sehingga suami melakukan pemukulan yang dalam hukum negara dipandang sebagai tindakan terlarang. Namun Islam tidak sepenuhnya melarang tindakan pemukulan tersebut karena sebagian bentuk pemukulan suami terhadap istri disyariatkan. Dalam hal ini terjadi pertentangan hukum syariat dengan Undang-undang RI nomor 23 tahun 2004. Pertentangan ini menimbulkan polemik di kalangan masyarakat ketika seorang Da’iyah menyampaikan  kebolehan suami memukul istrinya sehingga mendapat respon kontroversial dari para ustadz dan tokoh agama di berbagai media. Penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan metode content analysis terhadap isu pemukulan suami di media elektronik dan sumber rujukan hukum dari al-Quran dan al-Sunnah. Hasil dari pembahasan ini menyebutkan bahwa dalam Islam terdapat pemukulan suami terhadap istri yang dibenarkan, yaitu ketika istri melakukan nusyuz dan suami memukul dengan pukulan yang tidak melukai serta didahului dengan memberikan nasehat dan pisah tempat tidur, sedangkan pemukulan yang tidak memenuhi kriteria tertentu dilarang oleh Islam dan termasuk kezhaliman, maka tidak boleh dinormalisasi.
Pemikiran Ibn Āsyūr Tentang Qawai’d Al-Maqāṣid Al-Lughawiyah Serta Implikasinya Dalam Menafsirkan Al-Qur’an Fatmah Taufik Hidayat
An-Nida' Vol 45, No 1 (2021): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i1.19275

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran Ibn ‘Asyur tentang al-Qawaid al-Maqasidi al-Lughawiyah serta impilkasinya dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tafsir maqasidi sebagai salah satu corak tafsir yang berupaya mengungkap makna-makna Al-Qur’an dengan nuansa maqasid syariah. Penelitian ini terfokus pada ragam maqasid yang membahas tentang al qawaid al-lughwiyah almaqasidi dalam menafsirkan Al-Qur'a. Rumusan masalah dari artikel ini adalah bagaimana struktur dasar Maqāsid Muhammad aṭ-Ṭāhir Bin Āsyūr dalam tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, dan bagaimana implikasi bahasa Al-Qur’an dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an sesuai Maqāsid terutama dalam merespon isu-isu kontemporer. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi qawaid almaqasid yang telah diterapkan Ibn. Āsyūr dalam tafsirnya, dan menguraikan implikasi teoretis yang berkaitan dengan qawaid al maqāsid fi nash Al-Qur’an dalam penafsiran ayat dan surat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini  adalah studi kepustakaan deskriptif (library research) berdasarkan pada beberapa buku dan jurnal yang mengkaji tentang tafsir maqasidi Ibn Asyur dengan melakukan istiqra' (induksi) Qaidah al-Lughawiya lilmaqasid dalam tafsir tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa langkah dan cara Ibn Asyur menginterpretasi maqashidi dalam ayat Al-Quran, dengan cara menyesuaikan kepada nash al-Quran dari segi aspek bahasa, bahwa al Qawaid al lughawiyah al maqasidiyah sebagai sebuah metode, tafsir maqasidi, mengharuskan adanya rekonstruksi penafsiran Al-Qur’an yang berbasis kepada Nash alqur’an.  Berkaitan dengan qawaid ushuliyah shari‘ah sebagai alat analisis dalam suatu prosedur yang digunakan untuk memahami Al-Qur’an, sehingga menghasilkan produk yang menitik-beratkan kajiannya pada nilai-nilai maqāsid ayat yang ditafsirkannya.
Urgensi Media Sosial Sebagai Sarana Dakwah Melalui Media Syintia Nurfitria; Arzam Arzam
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19245

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang urgensi media sosial sebagai sarana dakwah melalui media di era modern. Di era modern saat ini, media sosial telah menjadi bukti dari kemutakhiran informasi dan arus teknologi modern, sehingga perlu diteliti bagaimana pemanfaatan media sosial tersebut terutama dalam dakwah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana urgensi media sosial sebagai sarana dakwah di era modern. Mengingat fenomena media sosial saat ini menjadi paling diminati oleh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan narasi sebagai penjelasan dari penelitian yang dianalisis. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa dakwah merupakan kegiatan dalam penyebarluasan agama Islam melalui ajakan dan seruan, salah satunya adalah dengan menggunakan media. Media yang saat ini dianggap paling efektif dalam berdakwah adalah media sosial. Media sosial dinilai efektif sebagai sarana berdakwah. Akan tetapi, berdakwah dengan media sosial harus memperhatikan etika dan norma-norma bermedia sosial. Sehingga benar-benar mendatangkan kemanfaatkan dalam ajang beribadah melalui dakwah dalam media sosial. Untuk aplikasi kajian, penelitian ini dapat berguna bagi peneliti selanjutnya karena dakwah masih dan selalu dilakukan oleh para Da’i dan tentunya pula harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin canggih dan modern. Sehingga, para Da’i dituntut untuk dapat berkolaborasi atau bersaing dengan arus teknologi ini baik dari sisi kemapuan dan pengetahuan.
Pemikiran Syuhudi Ismail tentang Paradigma Hadis Tekstual dan Kontekstual: Sebuah Tinjauan Umum Muhammad Nasrulloh; Doli Witro
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19226

Abstract

Pemaknaan hadis terus menggeleding dan menjadi isu sentral. Tujuan reinterpretasi makna hadis adalah guna menghidupkan kembali pesan-pesan Rasulullah s.a.w. dan mengimplementasikan hadis sesuai dengan makna semestinya. Syuhudi Ismail berusaha menggambarkan bahwa tafsir hadis bisa dilakukan secara tekstual dan kontekstual. Tekstual mengindikasikan terapan makna hadis berlaku secara universal. Sementara terapan makna kontekstual mengindikasikan makna secara lokal dan temporal. Kajian demikian harus memahami bagaimana peran dan fungsi Rasulullah s.a.w. dalam memberikan hadis. Perbedaan latar belakang posisi dan fungsi Rasulullah s.a.w. dalam memberikan hadis dapat mempengaruhi aktualitas dan generalisasi hadis. Nilai historisitas hadis menjadi kunci bagaimana semestinya arah makna hadis perlu dibawa. Buku Syuhudi Ismail menyuguhkan berbagai macam ciri apakah hadis itu perlu ditafsiri secara tekstual atau kontekstual. Beliau memaparkannya langsung dengan memberikan contoh-contoh terkait yang relevan dan kualitas sanad hadisnya telah teruji. Secara umum buku beliau menghadirkan sesuatu yang baru bagi pengkaji hadis agar memahami makna yang terkandung dengan memperhatikan berbagai macam aspek agar dapat menuju makna hadis berikut terapannya sesuai apa yang diharapkan oleh Rasulullah s.a.w.
Bentuk Kerukunan Umat Beragama Dalam Kitab-kitab Tafsir Indonesia; Telaah Makna Tahiyyah Pada QS. An-Nisa’ Ayat 86 Alvita Niamullah
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19246

Abstract

Menjaga kedamaian dan keharmonisan masyarakat yang kehidupan sosialnya multikultural seperti Indonesia tidaklah mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Salah satu pijakan dasar menjaga kedamaian dan keharmonisan antar masyarakat berangkat dari semangat Al-Quran yang menjadi tuntunan umat manusia.  Tahiyyah  dalam Q.S. An-Nisa : 86 dapat dijadikan salah satu contoh sikap moderat dalam menjalin hubungan antar masyarakat, termasuk juga umat beragama. Dalam menguraikan isi artikel, peneliti menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa riset kepustakaan (library research) sebab peneliti melihat penafsiran para mufasir Indonesia yang menafsirkan Q.S. An-Nisa’: 86 tersebut. Dari analisis terhadap pemikiran mufasir di Indonesia seperti  Abdurrauf As-Singkili, Hasbi Ash-Shiddieqy, Hamka hingga Quraish Shihab, peneliti menemukan bahwa kata tahiyyah ditafsiri sebagai bentuk penghormatan terhadap orang lain terlepas dari latar belakang yang ia bawa, tidak memandang suku, ras, agama dan budaya. Mereka menafsiri kata tahiyyah sebagai pengucapan salam terhadap orang lain, namun secara garis besar kata tahiyyah ialah bentuk penghormatan yang dapat berupa isyarat, ucapan maupun perbuatan. Jika ia mendapatkan penghormatan, maka penghormatan tersebut perlu dibalas dengan yang lebih baik, atau yang sepadan dengan yang didapatkan, terlepas penghormatan itu dari sesama muslim ataupun non muslim. Setidaknya, dengan adanya penghormatan ini seseorang dapat menjalin interaksi sosial dengan baik.
Reaktualisasi Moderasi Islam Terhadap Problematika Syariah Pada Era 4.0 Mochammad Novendri S; Hidayatullah Ismail; Dasman Yahya Maali
An-Nida' Vol 46, No 1 (2022): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i1.19227

Abstract

Artikel ini membahas tentang reaktualisasi moderasi Islam terhadap problematika syariah pada era 4.0. Problematika syariah adalah permasalahan yang tiap hari berada dilingkungan kaum muslimin , baik berupa muamalah maupun ibadah. Maka penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai moderasi islam terhadap problematika syariah pada era 4.0. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka. Metode pengumpulan data pada penelitian ini meliputi buku-buku dari data primer dan data sekunder, serta sumber lainnya. Metode analisis dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan konten analisis. Adapun hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa moderasi Islam perspektif syari’ah dapat dikelompokkan dalam bentuk tiga aspek diantaranya dengan meringakan beban (taklil al-taklif), mempermudah urusan (‘adam al-harj) dan pelaksanaan hukum dengan bertahap (al-tadarraj al-tasyri’). Reaktulisasi moderasi Islam di era 4.0 adalah sebagai perwujudan dari implementasi konsep moderasi Islam berbasis syariah dalam mengikuti kemajuan zaman, dengan memperhatikan aspek prinsip dan dasar dalam memahami agama Islam.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue