cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 198 Documents
The Spirit of Purification in Indonesian Tafsir: T.M. Hasbi As-Siddieqy and His Interpretation of Verses on Tawasul in Tafsir An-Nur Imanuddin, Imanuddin; Mursalim, Mursalim
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.25964

Abstract

The Tafsir An-Nur by T.M. Hasbi As-Siddieqy (d. 1975) is one of the popular tafsir works in Indonesia. When interpreting the meaning of "wasilah" in Q.S. Al-Maidah [5]: 35, Hasbi tends to show a spirit of purification. However, the interpretation and historical context of this interpretation have not been widely analyzed. This article examines Hasbi's interpretation and its historical context by conducting a literature study of Tafsir An-Nur supported by various relevant literature. It is argued that Hasbi's interpretation in his tafsir is heavily influenced by certain contexts such as the scholarly and methodological context of tafsir, as well as the socio-cultural-religious conditions of his time. The results of this study reveal that Hasbi's interpretation of tawasul in this verse means drawing closer to Allah through good deeds and fear of Him. This interpretation differs from other mufassirs who interpret tawasul through the intermediary of pious people who are either still alive or have passed away. Furthermore, according to Hasbi, such tawasul was never practised by the Companions, whether during the life of the Prophet (PBUH) or after his death, either at the grave or elsewhere. According to him, such tawasul is not found in authentic evidence (dalil ma'tsur) and is only found in weak hadiths. Hasbi bases his interpretation on the opinions of jurists such as Imam Mālik, Abū Hanīfah, and asy-Syāfi’i. Using Hans-Georg Gadamer's hermeneutic theory, it is revealed that Hasbi's spirit of purification of religious understanding and practice, Hasbi's scholarly basis in the field of jurisprudence, and the tafsir methodology applied are some factors that contribute to influencing his interpretation.Abstrak: Tafsir An-Nur karya T.M. Hasbi As-Siddieqy (w. 1975) merupakan salah satu karya tafsir yang populer di Indonesia. Ketika menafsirkan makna wasilah dalam Q.S. Al-Maidah [5]: 35, Hasbi cenderung menunjukkan semangat purifikasi (pemurnian). Namun, penafsiran dan konteks historis dari penafsiran ini belum banyak dianalisis. Artikel ini mengkaji penafsiran Hasbi tersebut dan konteks historisnya, dengan melakukan studi literatur terhadap Tafsir An-Nur yang didukung oleh berbagai literatur yang relevan. Didasarkan pada argumen bahwa penafsiran Hasbi dalam tafsirnya sangat dipengaruhi oleh konteks-konteks tertentu seperti konteks keilmuan dan metodologi tafsir, serta kondisi sosial-budaya-keagamaan pada masanya. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa penafsiran Hasbi tentang tawasul dalam ayat tersebut berarti mendekatkan diri kepada Allah melalui perbuatan baik dan rasa takut kepada-Nya. Penafsiran ini berbeda dengan mufasir lain yang menafsirkan tawasul melalui perantara orang-orang saleh yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Lebih lanjut menurut Hasbi, tawasul semacam seperti itu tidak pernah dilakukan oleh Sahabat, baik semasa Nabi Saw masih hidup maupun sesudah wafat, ketika berada di kubur maupun di tempat lain. Menurutnya, tawasul semacam ini tidak terdapat dalam dalil yang ma’tsūr, dan hanya terdapat dalam hadis-hadis lemah. Hasbi mendasarkan penafsirannya ini pada pendapat ulama fikih seperti Imam Mālik, Abū Hanīfah, dan asy-Syāfi’i. Dengan menggunakan teori hermeneutika Hans-Georg Gadamer, terungkap bahwa semangat pemurnian Hasbi terhadap pemahaman dan praktik keagamaan, basis keilmuan Hasbi di bidang fikih, dan metodologi tafsir yang diterapkan adalah beberapa faktor yang bekonstribusi dalam mempengaruhi penafsirannya tersebut.
Anxiety in Hadith Perspective: A Study of Ihya’ Al-Sunnah Management Sultani, Hikmawati; Ahmad, Arifuddin; Yahya, Muhammad
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.26154

Abstract

The Nabi has paid great attention to the psychological state of his people and one of them is anxiety. Anxiety is a normal condition but if it occurs intensely and is not handled, it will have implications for a person's psychological and social life. Humans are fragile and weak creatures, so the apostle shared how to overcome anxiety through spiritual psychotherapy in the form of prayer. The purpose of the study is to explore the meaning of the hadith about anxiety. The type of research used is qualitative using the maudu'iy method. This research is based on the management of ihya' al-hadis which is based on the steps; a) input of hadith data c) output; and d) outcome. This study concludes that the textual interpretation of anxiety is interpreted as al-hamm which means anxiety, worry, unrest, and restlessness which always goes hand in hand with the word al-hazn (sadness). As for the intertextual hadith, anxiety is a feeling of being hit by worry, anxiety, and anxiety manifested from various mixed emotional processes that occur when a person is depressed and experiencing conflict or something that is not right. The contextual meaning; prayer for protection from Allah can be done in everyday life or when struck by anxiety. The output of this hadith is seen from the substantive (maqasid al-hadis) can be hajiyyah and even daruriyyah which is formally (al-sunnah al-nabawiyyah) in the form of qawliyyah. The outcome of this hadith is syumuliyyah and mahalliyah which can be applied by each person proportionally and even optimally. Abstrak: Rasulullah Saw., telah menaruh perhatian yang besar terhadap keadaan psikologis umatnya and salah satunya adalah anxiety atau kecemasan. Anxiety merupakan keadaan yang normal namun jika terjadi secara intens and tidak tertangani maka akan berimplikasi pada psikis seseorang and kehidupan sosialnya. Manusia adalah makhluk yang rentan rapuh and lemah, maka rasul sharing cara mengatasi anxiety melalui psikoterapi spiritual berupa doa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali kandungan makna hadis tentang anxiety. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan metode maudu’iy (tematik). Penelitian ini didasarkan pada cara kerja manajemen ihya’ al-hadis yang berdasarkan pada langkah; a) input data hadis; b) proses interpretasi; c) output; and d) outcome. Penelitian ini berkesimpulan bahwa interpretasi secara tekstual anxiety dimaknai al-hamm yang beriringan dengan kata al-hazn (kesedihan). Secara intertekstual hadis anxiety merupakan perasaan dilanda kekhawatiran, kegelisahan, and kecemasan yang termanifestasikan dari berbagai proses emosi yang bercampur baur yang terjadi ketika seseorang seandg tertekan and alami pertentangan atau sesuatu yang tidak disenangi. Sedangkan makna kontekstual; doa permohonan perlindungan pada Allah dapat dilakukan dalam keseharian atau pada saat dilanda anxiety. Output hadis ini dilihat dari subtantif (maqasid al-hadis) dapat bersifat hajiyyah bahkan daruriyyah yang secara formatif (al-sunnah al-nabawiyyah) berbentuk qawliyyah. Outcome hadis ini bersifat syumuliyyah and mahalliyah yang dapat diterapkan oleh setiap personal secara proposional bahkan optimal.
The Sufistic Values in the Tolokin Tujuh Tradition in the Village of Rambah Samo Barat, Rokan Hulu Nanda, Heru; Wilaela, Wilaela; Abduh, M. Arrafie
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.29355

Abstract

This article contains about the procession and sufistic values in the Tolokin Seven ritual in the community which is still going on until now. The purpose of the tradition is to pray for people who have died in the community of Desa Rambah Samo Barat, Rokan Hulu. Data collection in this descriptive qualitative research is done through observation, interviews, and documentation. Informants numbered seven people, consisting of mursyid, traditional figures, religious figures, community figures, culturalists and adult male and female community members. The results of the research explain the traditional seven-day tolokin procession , which begins with the community going to the destination grave after the dawn prayer, and sitting in a circle around the grave. They read istighfar , silsilah Yasin, surah al-Fatihah, surah al- Insyrah , surah at- Takatsur , Surah Yasin, prayer tolokin seven , surah al-Ikhlas, surah al- Falaq , surah an-Nas, tahlil, prayer, salam- shake hands and end with the members of the temple giving alms in the form of food and drink. The sufistic values contained in the seven tolokin tradition are the values of asceticism and repentance, khauf and king', patience and gratitude, sincerity, trust, reflection, and rida. The tradition of tolokin seven is maintained and practiced by the people of West Samo Rambah Village because it is believed to be in accordance with religious teachings or not contrary to Sharia and teaches that each individual will be held accountable for all actions.Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang prosesi dan nilai-nilai sufistik dalam ritual tolokin tujuh dalam masyarakat yang masih berlangsung hingga kini. Tujuan dari tradisi tersebut untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia di dalam masyarakat Desa Rambah Samo Barat, Rokan Hulu. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif deskriptif ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan berjumlah tujuh orang, terdiri dari mursyid, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan dan anggota masyarakat laki-laki dan perempuan dewasa. Hasil penelitian menjelaskan tentang prosesi tradisi tolokin tujuh diawali dari masyarakat mendatangi kuburan yang dituju setelah salat subuh, dan duduk melingkar mengelilingi kuburan tersebut. Mereka membaca istighfar, silsilah Yasin, surah al-Fatihah, surah al-Insyirah, surah at-Takatsur, Surah Yasin, doa tolokin tujuh, surah al-Ikhlas, surah al-Falaq, surah an-Nas, tahlil, doa, bersalam-salaman dan diakhiri pemberian sedekah oleh ahli bait, berupa makanan dan minuman. Nilai-nilai sufistik yang terkandung dalam tradisi tolokin tujuh adalah nilai zuhud dan tobat, khauf dan raja’, sabar dan syukur, ikhlas, tawakal, muhasabah, dan rida. Tradisi tolokin tujuh tetap dipertahankan dan dipraktikkan oleh masyarakat Desa Rambah Samo Barat karena diyakini  sesuai dengan ajaran agama atau tidak bertentangan dengan syariat dan memberikan pengajaran bahwa setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan. 
The Shifting Paradigm in Maqāsidi Discourse: A Case of Modern Islamic Bioethics Juhri, Muhammad Alan; Hariani, Hidayah
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.25957

Abstract

The advancement of contemporary biomedical issues has brought forth two distinct responses among Muslim scholars. The traditional view, which strictly adheres to the Quran and tradition, tends to find it difficult or even outright rejects modern biomedical practices as they may conflict with religious texts. On the other hand, the rationalist perspective tends to be more open and accommodating towards modern biomedical practices as it relies on independent reasoning detached from revelation. While acknowledging the existence of the traditionalist viewpoint in the modern era, this paper focuses on the rationalist perspective, discussing how biomedical decisions are made. By examining rationalist views on several modern biomedical issues such as organ transplantation, in vitro fertilization, and blood trading, the researcher argues that the flexibility of the maqāsid al-sharīʿah principles has become the framework in the development of this biomedical field. The researcher highlights a shift in the maqāsid paradigm from a theocentric paradigm – interpreting religion with the narrow goal of 'defending God' – to an anthropocentric paradigm – interpreting religion to defend human beings and their rights. Using discourse analysis methodology, this study argues that the paradigm shift towards an anthropocentric maqāsid has integrated Sharia with human subjectivity influenced by interests. Consequently, modern biomedical issues, which address the interests of safeguarding human life, are prioritized. Finally, although such maqāsid may potentially lead to a liquid Islamic law, the researcher concludes that an anthropocentric maqāsid paradigm will be more humane, dynamic, accommodating, and responsive to the demands of human life development. Abstrak: Kemajuan isu-isu biomedis kontemporer saat ini telah memunculkan dua aliran respon yang berbeda di mata para cendekiawan muslim. Pandangan tradisional, yang dengan ketat berpedoman pada Al-Qur’an dan tradisi, cenderung sulit atau bahkan tidak menerima sama sekali praktik-praktik biomedis modern karena bertentangan dengan nash-nash agama. Sementara pandangan rasionalis cenderung lebih terbuka dan akomodatif menerima praktik-praktik biomedis modern karena berpedoman pada penilaian akal sendiri yang terlepas dari wahyu. Terlepas dari mendiskusikan keberadaan pandangan pertama (tradisionalis) di era modern ini, makalah ini akan fokus pada pandangan kedua (rasionalis) dengan mendiskusikan bagaimana putusan-putusan biomedis dikeluarkan. Dengan mengkaji pandangan-pandangan rasionalis terhadap beberapa isu biomedis modern, seperti transplantasi organ, bayi tabung, dan jual beli darah, peneliti berargumen bahwa fleksibilitas prinsip-prinsip maqāsid al-syarīah telah menjadi framework dalam pengembangan bidang biomedis ini. Di sini, peneliti menyoroti adanya pergeseran maqāsid dari paradigma teosentris; menjalankan agama dengan tujuan ‘membela Tuhan’ dalam pengertian yang sempit, ke paradigma antroposentris; menjalankan agama untuk membela manusia dan hak-haknya. Dengan menggunakan metode analisis wacana, penelitian ini berargumen bahwa pergeseran paradigma maqāsid menuju antroposentris telah menjadikan syari’ah menyatu dengan subjektivitas manusia yang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan. Karenanya, isu-isu biomedis modern, yang menjawab kepentingan menjaga jiwa manusia, adalah diutamakan. Terakhir, meskipun maqāsid seperti ini berpotensi mengarah pada liquid Islamic law, peneliti berkesimpulan bahwa paradigma maqāsid antroposentris akan lebih humanis, dinamis, akomodatif, dan responsif terhadap tuntutan perkembangan kehidupan manusia.
The Transformation of Attitudes and Practices of Religious Moderation Among Lecturers at UIN Raden Fatah Palembang Following the Implementation of the Professionalism and Religious Moderation Index Azhari, Ari; Nurani, Qoim; Torik, Muhammad
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.27625

Abstract

This research was motivated by the survey of the Religious Moderation Professionalism Index (IPMB) on all State Civil Apparatus within the Ministry of Religious Affairs. This program is carried out to quantitatively measure the level of professionalism and religious moderation of each ASN as a basis for assessment and evaluation in development efforts. The research question focuses on analyzing the transformation of attitudes and practices of Religious Moderation for the lecturers at UIN Raden Fatah Palembang Palembang, as well as exploring the efforts that must be undertaken by the lecturers at UIN Raden Fatah Palembang Palembang in implementing the principles of Religious Moderation at the university. The method used in this study is quantitative with the population and sample of  UIN Raden Fatah Palembang Palembang lecturers, for measurement techniques using the Likert scale, namely to measure attitudes, opinions and perceptions of UIN Raden Fatah Palembang lecturers about religious moderation. The results showed that the implementation of IPMB has had a positive impact on the transformation of attitudes and practices of religious moderation in UIN Raden Fatah Palembang lecturers. Lecturers become more understanding and internalize the values of religious moderation, so that their attitudes and practices become more moderate. This can be seen from the increasing national commitment, tolerance, nonviolence, and respect for local culture.Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil survei yang dilakukan dengan menggunakan Indeks Profesionalisme Moderasi Beragama (IPMB) terhadap Aparatur Sipil Negara di Kementerian Agama. Survei ini dirancang untuk menilai seberapa profesional dan sejauh mana moderasi beragama dimiliki oleh Aparatur Sipil Negara sebagai dasar sebagai landasan evaluasi dan pengembangan. Fokus penelitian adalah transformasi sikap dan praktik Moderasi Beragama pada dosen UIN Raden Fatah Palembang Palembang, serta upaya yang diperlukan untuk menerapkannya di lingkungan kampus. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan skala likert untuk menilai sikap, pendapat, dan persepsi dosen tentang moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi IPMB berpengaruh positif terhadap transformasi sikap dan praktik moderasi beragama pada dosen UIN Raden Fatah Palembang Palembang. Dosen mengalami peningkatan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai moderasi beragama, tercermin dalam komitmen yang lebih tinggi terhadap kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Perubahan ini mengindikasikan perlunya upaya berkelanjutan dalam mempromosikan moderasi beragama di kalangan akademisi untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan harmonis. Penelitian ini memiliki implikasi penting tidak hanya bagi UIN Raden Fatah Palembang Palembang tetapi juga institusi pendidikan lainnya yang ingin meningkatkan moderasi beragama di kampus mereka. Peningkatan komitmen terhadap nilai-nilai moderasi beragama diharapkan dapat memperkaya dialog antaragama dan antarbudaya serta memperkuat kerjasama lintasagama dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengembangan masyarakat.
Gender Bias in the Book “Syarh 'Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain” by Nawawi Al-Bantani Alma'arif, Alma'arif; Muhajir, Muhajir
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.24992

Abstract

 This article aims to prove that the book “Syarh ‘Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain,” which is studied in many Islamic boarding schools, has indications of gender bias and proves that the book ‘Uqudul Lujain is a legitimizing tool in perpetuating the construction of gender bias. This proof is very important in the midst of the movement for gender equality and justice. This understanding and awareness is very important in the midst of the struggle for gender equality and justice. The method used in this research is an intertextual, dynamic, and interactive method. The intertextual method is used to interpret existing texts and utterances from the intellectual being studied (Nawawi Al-Bantani) and find meanings by tracing the relationships between texts and utterances in the discourse. The dynamic method involves placing synchronic conditions in a diachronic context, and the interactive method involves revealing and depicting the movement of a person or group's intellectual development as a result of dynamic struggles between past and present, between and within various political and intellectual traditions, as well as between various arenas of power relations. The results of the research prove that the book ‘Uqudul Lujain by Nawawi Al-Bantani is a book that spreads gender bias (discrimination and subordination towards women) in two forms: subordination and stereotype. Nawawi Al-Bantani belongs to the category of Muslim scientists with a monodisciplinary paradigm. The monodisciplinary paradigm is in conflict with other scientific paradigms that are increasingly developing.  Abstrak: Artikel ini bertujuan membuktikan bahwa kitab “Syarh ‘Uqudul Lujain fi Bayani Huquq al-Zaujain” yang dipelajari di banyak pesantren terindikasi bias gender serta membuktikan bahwa kitab ‘Uqudul Lujain menjadi alat legitimasi dalam melestarikan konstruksi bias gender. Pembuktian ini menjadi sangat penting di tengah gerakan kesetaraan dan keadilan gender. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode intertekstual, dinamis dan interaktif. Metode intertekstual dengan cara menginterpretasikan teks-teks yang ada dan ujaran-ujaran dari intelektual yang diteliti (Nawawi Al-Bantani) serta menemukan makna-makna dengan melacak relasi-relasi antar teks dan ujaran-ujaran yang ada dalam diskursus. Metode dinamis dengan cara menempatkan kondisi-kondisi sinkronik dalam sebuah konteks yang diakronis, dan metode interaktif dengan cara mengungkap dan melukiskan gerak perkembangan intelektual seseorang atau kelompok sebagai akibat dari pergulatan dinamis antara masa lalu dan masa kini, antar dan di dalam beragam tradisi politik dan intelektual, serta antara beragam arena relasi kuasa. Hasil penelitian membuktikan bahwa kitab ‘Uqudul Lujain karya Nawawi Al-Bantani itu adalah kitab yang menyebarkan dan mendoktrin paham bias gender (diskriminasi dan subordinasi terhadap kaum perempuan) dalam dua bentuk; subordinasi dan stereotype. Nawawi Al-Bantani termasuk kategori ilmuwan muslim yang berparadigma monodisiplin. Paradigma monodisiplin bertentangan dengan paradigma keilmuan lain yang semakin berkembang. 
Women Within the Circle of Doctrine and Profession: A Study on the Analysis of Women's Professions in Desa Klumpit, Kudus, Central Java Afifah, Anisa Nurul
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.26305

Abstract

This study discusses women in all professions (occupations) and their relevance in today's times from an Islamic perspective. In a patriarchal culture, women are initiated to work as housewives. Women are considered inferior and are always positioned below men without being allowed to fight for their rights. However, along with the times, many figures gave rise to the feminist movement so that women began to be able to fight for their rights. The purpose of this article is to narrate religious teachings related to women and aspects that can be reached by women in their profession according to Islamic teachings.  This paper uses a qualitative-phenomenological method that observes the lives of women in Klumpit Village, Kudus. It also uses field research by interviewing two religious leaders and a factory worker's mother. This article uses Fatima Mernissi's gender theory which states that freedom of human rights to work is shared by all genders. In addition, it also uses the theory of Abraham Maslow which states that needs are a primary aspect of human life to fulfil life standards. This article concludes that in Klumpit Village, Kudus, women have the main duty as housewives, but women are also not prohibited from having professions other than housewives. Islam doctrinally also does not prohibit women from being active in the public sphere. Through the application of Islamic law that has been determined and then practised in accordance with the times, it should be a solution for women so that they can make efforts to reduce the negative impacts arising from the profession they do and of course still get pleasure, blessings, and benefits. Abstrak: Kajian ini membahas tentang perempuan dengan segala profesi (pekerjaan) dan relevansinya di zaman sekarang dalam perspektif Islam. Dalam budaya patriarki perempuan diinisiasi berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Perempuan dianggap rendah dan selalu diposisikan paling bawah dari laki-laki tanpa boleh memperjuangkan haknya. Namun seiring perkembangan zaman banyak tokoh yang memunculkan gerakan feminisme sehingga perempuan mulai dapat memperjuangkan hak-haknya. Tujuan artikel ini ialah menarasikan ajaran agama terkait perempuan dan aspek yang bisa dijangkau perempuan dalam berprofesi sesuai ajaran Islam. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif-fenomenologis yang mengamati kehidupan perempuan di Desa Klumpit, Kudus. Selain itu juga melalui penelitian lapangan dengan mewawancarai dua tokoh agama dan ibu karyawan pabrik. Artikel ini menggunakan teori gender Fatima Mernissi yang menyatakan bahwa kebebasan hak asasi bekerja itu dimiliki oleh semua gender. Disamping itu juga menggunakan teori dari Abraham Maslow yang menyatakan bahwa kebutuhan merupakan aspek primer dalam kehidupan manusia untuk memenuhi hajat hidup. Artikel ini menyimpulkan bahwa masyarakat Desa Klumpit, Kudus, perempuan mempunyai tugas utama sebagai ibu rumah tangga, namun perempuan juga tidak dilarang untuk berprofesi selain ibu rumah tangga. Islam secara doktrinal juga tidak melarang perempuan untuk beraktivitas di ranah publik. Melalui penerapan syariat Islam yang sudah ditentukan kemudian dipraktikkan sesuai dengan zaman, hendaknya menjadi solusi perempuan agar dapat melakukan upaya untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari profesi yang dikerjakan dan tentunya tetap mendapat ridha, berkah, dan manfaat.
The Curriculum of Islamic Education in the Classical and Modern Eras and Its Relevance to the Independent Curriculum: A Comparison of the Thoughts of Syed Naquib Al-Attas and Ibn Sahnun Arifa, Nur; Amrona, Yassir Lana; Aripai, Andi Fatihul Faiz
An-Nida' Vol 48, No 1 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i1.26298

Abstract

The curriculum of Islamic education has evolved over time, from the classical era to the modern era. In the classical era, there was a scholar who pioneered the Islamic education system, namely Ibn Sahnun. In the modern era, there is Syed Naquib al-Attas, who upholds the Islamization of knowledge. This study aims to discuss whether the content of the curriculum in classical Islamic education designed by Ibn Sahnun and the modern curriculum designed by Al-Attas synergize with each other in terms of the levels of knowledge studied. Furthermore, if we relate it to the Independent Curriculum program currently promoted by the government, is it relevant and compatible with the curriculum designs of these two figures, Ibn Sahnun and Al-Attas? This study employs a descriptive comparative research method and an in-depth analysis of the literature related to these two figures to examine the relevance of their ideas with the Independent Curriculum initiated by the government. The results of this study found that there is compatibility between the classical and modern Islamic education curriculum and the Independent Curriculum in four aspects: first, the aspect of freedom in learning; second, the aspect of attention; third, the aspect of flexibility; and fourth, the aspect of cooperation. This also concludes that there is relevance between the Independent Curriculum and the Islamic education curriculum designed by Al-Attas and Ibn Sahnun regarding compulsory learning related to the Qur'an as the main foundation before understanding other subjects, especially social sciences.Abstrak: Kurikulum pendidikan Islam mengalami perkembangan dari masa ke masa yaitu dari era klasik sampai pada era modern. Pada era klasik, terdapat ulama yang menjadi pelopor sistem pendidikan Islam yaitu Ibnu Sahnun. Kemudian pada era modern terdapat Syed Naquib al-Attas yang menjunjung tinggi islamisasi ilmu pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang apakah muatan materi yang terdapat dalam kurikulum pendidikan Islam era klasik rancangan Ibnu Sahnun dan kurikulum era modern rancangan Al-Attas memiliki sinergisitas satu sama lain dalam aspek tingkatan keilmuan yang dipelajari? Kemudian jika ditarik dengan program kurikulum merdeka yang sedang digencarkan oleh pemerintah pada saat ini apakah relevan dan memiliki kesesuaian dengan rancangan kurikulum dua tokoh tersebut yaitu Ibnu Sahnun dan Al-Attas? Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif komparatif serta analisis yang mendalam terhadap literatur-literatur yang berkaitan dengan kedua tokoh tersebut untuk melihat relevansi gagasan ide kedua tokoh tersebut dengan kurikulum merdeka yang diinisiasi oleh pemerintah. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara kurikulum pendidikan Islalm era klalsik dan era modern dengan kurikulum merdeka pada empat aspek yaitu: pertama, aspek kebebasan dalam belajar; kedua, aspek memperhatikan; ketiga, aspek fleksibilitas; dan keempat, aspek gotong royong. Hal ini juga memberikan kesimpulan bahwa terdapat relevansi antara kurikululm merdeka dengan kurikulum pendidikan Islam yang dirancang oleh Al-Attas daln Ibnu Sahnun mengenai pembelajaran wajib yang berkenaan dengan Al-Qur’an menjadi dasar utama sebelum memahami materi-materi lain terutama ilmul-ilmul sosial.
Urgency of the Malay Wedding Reception in Kepulauan Riau Based on Al-Maṣlaḥah Asy-Syathibi Perspective Saiin, Asrizal; Umar, M. Hasbi; Badarussyamsi, Badarussyamsi; Radiamoda, Anwar M.
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.25600

Abstract

A wedding reception in the Malay wedding tradition absolutely must be carried out by the Malay community in the Kepulauan Riau, because there are moral sanctions if someone does not follow the applicable customary law. Apart from that, there is a doctrine for the Malay community in Kepulauan Riau, that a wedding reception is important to hold, if a wedding reception is not held, then one's wedding procession will not be complete. Complexity in these problems often divert the value of the relationship between custom and religion, especially Islam, within the scope of sharia. Starting from the idea that in Islam, everything must be seen for its benefit, this research uses an approach al-Maṣlaḥah Ash-Shatibi. This research uses a type of field research with the nature of descriptive qualitative research. In this research the data used is primary data and secondary data. Primary data comes from data obtained through observation, interviews and documentation. Meanwhile, secondary data comes from internet sites, literature and other media. At the data processing stage there are three activities carried out, namely: editing, coding and tabulation. The results of this research show that if viewed based on al-Maṣlaḥah perspective, Malay wedding reception in Kepulauan Riau is something special taḥsiniyyah. This is because the traditional Malay wedding procession in Kepulauan Riau is only a support for a person's advancement in society and is simply a form of obedience. Abstrak: Resepsi pernikahan dalam tradisi perkawinan melayu mutlak harus dilaksanakan oleh masyarakat melayu di Kepulauan Riau, karena adanya sanksi moral apabila seseorang tidak megikuti hukum adat yang berlaku. Selain itu juga, terdapat doktrin bagi masyarakat melayu di Kepulauan Riau, bahwa resepsi pernikahan menjadi penting untuk dilaksanakan, jika resepsi pernikahan tidak dilaksanakan, maka belum sempurna prosesi pernikahan seseorang. Kompleksitas di dalam problematika tersebut sering kali mengalihkan nilai keterkaitan antara adat dan agama khususnya Islam dalam lingkup syariah. Berangkat dari pemikiran bahwa dalam Islam, segala sesuatu harus dilihat kemaslahatannya, dalam penelitian ini dengan pendekatan al-Maṣlaḥah asy-Syathibi. Penelitian ini menggunakan jenis studi lapangan (field research) dengan sifat penelitian kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder bersumber dari situs internet, kepustakaan dan media lainnya. Pada tahap pengolahan data ada tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu: penyuntingan (editing), pengkodean (coding) dan tabulasi (tabulating). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa jika ditinjau berdasarkan perspektif al-Maṣlaḥah, resepsi pernikahan melayu di Kepulauan Riau merupakan sesuatu yang bersifat taḥsiniyyah. Hal ini karena prosesi pernikahan adat Melayu Kepulauan Riau, hanya menjadi suatu penunjang peningkatan seseorang dalam pergaulannya di masyarakat dan sebagai bentuk kepatuhan semata.
Qur’anic Curriculum: Development of an Islamic Religious Education Curriculum with Makkiyah-Madaniyah Theory Afwadzi, Benny; Wahyuni, Esa Nur; Sulalah, Sulalah
An-Nida' Vol 47, No 2 (2023): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i2.27610

Abstract

The Islamic Religious Education (IRE) curriculum encounters many challenges. One of the challenges is the inferiority of Muslims in developing an IRE curriculum based on Islamic tradition and only relying on the development of educational theories from the West. For this reason, this article examines the development of the IRE curriculum using the makkiyah-madaniyah theory. The purpose is to present an overview of IRE curriculum development using Islamic traditions that are often forgotten. This article uses a qualitative approach with the library research method. After understanding the makkiyah-madaniyah discourse, this article concludes that IRE curriculum development has two models: attention to psychological and sociological aspects. In psychological aspects, IRE educators at the primary level must pay attention to the context of the Makkiyah period, such as the editorial verses of the Qur'an tend to be short and rhyming so that learning and evaluation material should be delivered using a short and rhyming strategy. Emphasis on reward and punishment, aqeeda and moral learning content; and the use of storytelling and illustration (tamtsil) methods should also be a concern in the IRE at this level. Meanwhile, at the secondary level, educators can use the madaniyah model, namely, more extended learning and evaluation material and emphasizing the content of Islamic jurisprudence learning. The sociological aspect applies contextually because of the differences in social conditions between the Prophet Muhammad and us today. The focus of the sociological aspect is divided into two, namely, the sociology of students and the needs of society. Contextual is an approach suitable to be applied in this sociological aspect.Abstrak: Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) menemui banyak tantangan. Salah satu tantangannya adalah inferioritas Muslim dalam mengembangkan kurikulum PAI berdasarkan khazanah Islam dan hanya mengandalkan perkembangan teori-teori pendidikan dari Barat. Dengan alasan itulah, artikel ini mengkaji pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dengan teori makkiyah-madaniyah, yang disebut oleh penulis sebagai kurikulum Qur’ani. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan gambaran pengembangan kurikulum PAI dengan tradisi keislaman yang acapkali terlupakan. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Setelah memahami diskursus makkiyah-madaniyah, artikel ini menyimpulkan bahwa ada dua model pengembangan kurikulum PAI: perhatian terhadap aspek psikologis dan sosiologis. Dalam aspek psikologis, pendidik PAI pada tingkatan dasar harus memperhatikan konteks pada periode makkiyah seperti redaksi ayat Al-Qur’an yang cenderung pendek dan berima sehingga materi pembelajaran dan evaluasi sebaiknya disampaikan dengan strategi pendek dan berima. Penekanan pada reward dan punishment; penekanan pada konten pembelajaran akidah dan moral; dan penggunaan metode bercerita dan ilustrasi (tamtsil) juga seharusnya menjadi perhatian dalam kurikulum PAI di tingkatan dasar. Sementara itu, pada tingkatan menengah, pendidik dapat memakai model madaniyah, yakni materi pembelajaran yang lebih panjang sebagaimana redaksi ayat-ayat madaniyah yang cenderung panjang dan penekanan pada konten pembelajaran hukum fikih yang memang agak sulit dipahami oleh peserta didik. Adapun aspek sosiologis berlaku secara kontekstual, sebab perbedaan kondisi sosial antara Nabi Muhammad saat Al-Qur’an diturunkan dengan kondisi umatnya pada masa sekarang. Fokus aspek sosiologis terbagi menjadi dua, yakni sosiologi peserta didik dan kebutuhan masyarakat. Kontekstual adalah pendekatan yang cocok diaplikasikan dalam aspek sosiologis ini.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue