cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 198 Documents
Kinship Systems and the Internalization of Islamic Values among the Madurese Community in Tanean Lanjheng Fanani, Zainal; Ilmi, Vika Wafa; Br Siregar, Wahidah Zein; Maskuri, Arfan
An-Nida' Vol 49, No 1 (2025): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i1.35589

Abstract

The kinship system within Tanean Lanjheng plays a pivotal role in the transmission and internalization of Islamic values in the daily lives of the Madurese community. This process of internalization occurs within a traditional social space that not only reflects a physical settlement pattern but also embodies cultural symbols and practices deeply intertwined with religious teachings. This study seeks to analyze the kinship system present in Tanean Lanjheng settlements and to examine the mechanisms through which Islamic values are perpetuated across generations. Employing a qualitative case study approach, the research was conducted in Lieson Hamlet, Sumenep, utilizing participatory observation and in-depth interviews with local community leaders. Data analysis was informed by Berger and Luckmann’s theory of social construction, Émile Durkheim’s concept of social facts, and Clifford Geertz’s notion of the cultural broker. The findings indicate that Tanean Lanjheng operates as a matrilineal social system that facilitates the collective transmission of Islamic values through processes of exemplification (uswah) and habituation (ta’dib), with the ghuru (teacher/cleric) serving as the principal agent. The internalization of values transpires not only through ritual practices but also via quotidian interactions and kinship solidarity. Nonetheless, the study identifies significant challenges, including the erosion of central family figures, social fragmentation resulting from youth mobility, and stratified patterns of value internalization linked to families’ socio-religious status. These findings underscore the significance of Tanean Lanjheng as a contextually grounded model of Islamic values education that retains its relevance amid modernization. Abstrak: Sistem kekerabatan di Tanean Lanjheng memiliki peran strategis dalam mewariskan serta menginternalisasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat Madura. Internalisasi ini berlangsung melalui ruang sosial tradisional yang bukan hanya merepresentasikan tata ruang fisik, tetapi juga mengandung simbol dan praktik budaya yang terintegrasi dengan ajaran agama. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem kekerabatan dalam pemukiman Tanean Lanjheng serta mengkaji bagaimana proses internalisasi nilai keislaman dijalankan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Dusun Lieson, Sumenep, melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh lokal. Analisis data mengacu pada teori konstruksi sosial Berger & Luckmann, konsep fakta sosial Émile Durkheim, dan gagasan cultural broker Clifford Geertz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanean Lanjheng berfungsi sebagai sistem sosial matrilineal yang memfasilitasi transmisi nilai Islam secara kolektif melalui mekanisme keteladanan (uswah) dan pembiasaan (ta’dib), dengan figur ghuru (guru/kiai) sebagai agen utama. Internalisasi nilai berlangsung tidak hanya dalam ranah ritual, tetapi juga melalui praktik keseharian dan solidaritas kekerabatan. Namun, penelitian juga menemukan tantangan serius, antara lain hilangnya figur sentral keluarga, fragmentasi sosial akibat mobilitas generasi muda, serta adanya stratifikasi pola internalisasi berdasarkan status sosial-keagamaan keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan Tanean Lanjheng penting sebagai model pendidikan nilai Islam yang kontekstual, berakar pada budaya lokal, sekaligus adaptif menghadapi arus modernisasi. 
Contribution of Emanationist Philosophy to the Development of Environmental Conservation Azizah, Rifqah Najwa; Illahi, Taufik; Sihabussalam, Sihabussalam; Bil Haq, Roshiifah
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38235

Abstract

The global ecological crisis demonstrates that contemporary ethical frameworks have been insufficient in mitigating the accelerating rate of environmental degradation. Furthermore, the concept of emanation within Islamic philosophy has not yet been employed as a normative foundation for ecological restoration. This study seeks to examine the potential of the emanation concept in Islamic philosophy as a legitimate ethical framework for environmental conservation. The research adopts a qualitative methodology, utilizing a literature-based approach. The findings indicate that emanation should not be interpreted as a static metaphysical doctrine nor directly employed as a foundation for policy. Instead, it operates as an ontological framework that informs epistemic processes and ethical principles related to the relational nature of existence. This study advances three primary propositions. First, emanation offers an epistemic model that conceptualizes nature as a network of hierarchical interdependencies, thereby suggesting that ecological actions must align with this structure. Second, this epistemic framework engenders an ethical imperative whereby maintaining harmony and sustainability is regarded as a normative obligation. Third, policy instruments—such as tawḥīd-based ecological education, circular economy models, and waste-bank programs—should be understood as practical manifestations of the normative framework derived from emanation, rather than as direct extrapolations of metaphysical doctrine. This study confirms that the concept of emanation provides a pertinent theoretical basis for developing environmental ethics and restoration policies in the framework of contemporary Islamic thought.Abstrak: Krisis ekologi global menunjukkan bahwa kerangka etis modern belum mampu meredam laju kerusakan lingkungan, sementara kajian filsafat Islam khususnya konsep emanasi belum dimanfaatkan sebagai dasar normatif pemulihan ekologis. Studi ini bertujuan menganalisis potensi konsep emanasi dalam filsafat Islam sebagai kerangka etis yang sahih bagi konservasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emanasi tidak dapat dipahami sebagai doktrin metafisik statis atau dijadikan dasar kebijakan secara langsung, melainkan sebagai struktur ontologis yang membentuk mekanisme epistemik dan prinsip etis mengenai relasionalitas wujud. Temuan penelitian merumuskan tiga proposisi utama. Pertama, emanasi menyediakan model epistemik yang memposisikan alam sebagai jaringan keberbergantungan hierarkis, sehingga tindakan ekologis harus selaras dengan keteraturan tersebut. Kedua, mekanisme epistemik itu menghasilkan prinsip etis bahwa menjaga harmoni dan keberlanjutan merupakan kewajiban normatif. Ketiga, instrumen kebijakan, seperti pendidikan ekologis berbasis tauhid, ekonomi sirkular, dan bank sampah hanya sah dipandang sebagai ekspresi praksis dari kerangka normatif emanasi, bukan sebagai derivasi langsung dari metafisika. Penelitian ini menegaskan bahwa konsep emanasi menawarkan landasan konseptual yang relevan bagi perumusan etika dan kebijakan pemulihan lingkungan dalam konteks pemikiran Islam kontemporer.
The Evolution of the Orientalist Chronological Theory of the Quran: Methodological Shifts and Epistemological Implications for Contemporary Qur’anic Studies Pratama, Yoga; Ilhamni, Ilhamni; Faizin, Faizin; Haliza, Nurul
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38166

Abstract

This study aims to examine the development of Qur’anic chronology theory as formulated by Orientalist scholars, with particular focus on Gustav Weil, William Muir, Theodor Nöldeke, and Hubert Grimme. Through a detailed analysis of the theoretical and methodological frameworks they established, this research employs a qualitative, library-based methodology, utilizing historical-critical approaches and comparative analysis to trace paradigm shifts in the construction of Qur’anic chronology. The findings reveal that the evolution of Qur’anic chronological theory occurred through several interconnected intellectual phases. Weil initiated the discourse by integrating classical Islamic narratives with Western historical methods within a historical-rational framework; Muir foregrounded biographical and theological dimensions by correlating revelation with the Prophet’s life trajectory; Nöldeke introduced a pivotal methodological transformation through his philological and linguistic approach; and Grimme emphasized dogmatic elements and theological development within the Qur’anic corpus. The progression of these theories was shaped by advancements in philology, debates concerning textual authenticity, colonial political contexts, and epistemological exchanges between Western and Muslim scholars. The study’s implications demonstrate that the construction of chronology within Orientalist discourse is neither monolithic nor static but rather continuously evolves in response to its intellectual and sociopolitical milieu. This dynamic has also fostered renewed interest in tartīb nuzūlī methodologies among contemporary Muslim scholars such as Sayyid Qutb, Bint al-Syāṭi’, and al-Jābirī, particularly in addressing the imperative for thematic and historical interpretation in Qur’anic studies.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi evolusi teori kronologi Al-Qur’an yang dikembangkan oleh para orientalis, khususnya Gustav Weil, William Muir, Theodor Nöldeke, dan Hubert Grimme, melalui pembacaan atas kerangka teoretis dan metodologis yang mereka bangun. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis kajian pustaka, penelitian ini menerapkan pendekatan kritik-historis dan analisis komparatif untuk menelusuri perubahan paradigma dalam konstruksi kronologi Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan teori kronologi Al-Qur’an berlangsung melalui beberapa fase intelektual yang saling berkaitan. Weil memulai dengan kerangka historis-rasional yang memadukan narasi Islam klasik dan metode sejarah Barat; Muir menekankan dimensi biografis-teologis melalui keterkaitan pewahyuan dengan perjalanan hidup Nabi; Nöldeke menghadirkan pergeseran metodologis signifikan dengan pendekatan filologis-linguistik; sedangkan Grimme menyoroti aspek dogmatis serta perkembangan teologi dalam korpus Al-Qur’an. Evolusi teori ini dipengaruhi oleh kemajuan ilmu filologi, perdebatan mengenai otentisitas teks, dinamika politik kolonial, serta interaksi epistemologis antara sarjana Barat dan Muslim. Implikasi temuan ini menunjukkan bahwa konstruksi kronologi dalam wacana orientalis tidak bersifat tunggal, melainkan terus mengalami perubahan sesuai konteks intelektual dan sosiopolitik zamannya. Dinamika tersebut turut mendorong munculnya kembali minat terhadap pendekatan tartīb nuzūlī di kalangan sarjana Muslim kontemporer, seperti Sayyid Qutb, Bint al-Syāṭi’, dan al-Jābirī, terutama dalam menjawab kebutuhan penafsiran tematik dan historis dalam studi Al-Qur’an.
Reformulating the Law of ʿIddah in Indonesia: An Analysis of the Implementation of the Male ʿIddah Period under the Ministry of Religious Affairs Regulations in Banyumas Regency Aqil, Ibnu
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38185

Abstract

This study seeks to examine the implementation of the male ʿiddah period as stipulated in the Circular Letter of the Director General of Islamic Community Guidance of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (Number P-005/DJ.III/HK.00.7/10/2021), and to evaluate its relevance to gender equality and the reform of Islamic law in Indonesia. Employing a qualitative methodology with a juridical-empirical approach, the research connects normative legal provisions with practical field applications, complemented by a theological perspective to integrate empirical findings within the framework of Islamic thought. The analysis is further informed by Faqihuddin Abdul Kodir’s qirā’ah mubādalah theory and Nancy Fraser’s critical feminist theory. The findings reveal that the regulation of male ʿiddah constitutes a significant response to issues of gender equality and reflects efforts to modernize Islamic law in Indonesia. Field observations conducted at three Offices of Religious Affairs (KUA)—Gumelar, Lumbir, and Kembaran—in Banyumas Regency demonstrate that the regulation has been implemented, although variations in application, normative resistance, and socio-cultural challenges persist within the community. This study contributes to advancing the discourse on the reformulation of Islamic family law in Indonesia. The regulation concerning male ʿiddah not only provides novel insights for legal practice but also enhances the understanding of gender equality within the context of contemporary Islamic law.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan masa iddah bagi laki-laki sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor P-005/DJ.III/HK.00.7/10/2021 serta menilai relevansinya terhadap kesetaraan gender dan pembaruan hukum Islam di Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis-empiris untuk menghubungkan antara ketentuan normatif dan praktik lapangan, serta pendekatan teologis untuk menjembatani temuan empiris dengan kerangka pemikiran Islam. Analisis diperkuat dengan teori qirā’ah mubādalah Faqihuddin Abdul Kodir dan feminisme kritis Nancy Fraser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan iddah bagi laki-laki merupakan bentuk respons kritis terhadap isu kesetaraan gender sekaligus upaya modernisasi hukum Islam di Indonesia. Temuan lapangan pada tiga kantor urusan agama (KUA) Gumelar, KUA Lumbir, dan KUA Kembaran di Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa regulasi tersebut telah diimplementasikan, meskipun masih terdapat variasi penerapan, resistensi normatif, dan tantangan sosial-kultural dalam masyarakat. Penelitian ini berimplikasi pada penguatan wacana reformulasi hukum keluarga Islam di Indonesia. Aturan tentang iddah laki-laki tidak hanya menawarkan wawasan baru dalam praksis hukum, tetapi juga berkontribusi pada perluasan pemahaman mengenai kesetaraan gender dalam konteks hukum Islam kontemporer.
From Normative to Rational: The Reorientation of Rashid Rida’s Interpretive Paradigm Regarding the Prohibition of Khamr Rahman, Syahrul; Putra, Aldomi; Putra, Masyhuri; Amin, Saidul
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38266

Abstract

This study aims to re-examine the rationalistic dimension of Tafsīr al-Manār by focusing on Rashid Rida’s exegesis of Qur’anic verses pertaining to the prohibition of khamr, specifically Q. al-Baqarah 2:219, Q. al-Nisā’ 4:43, and Q. al-Mā’idah 5:90–91. Employing a qualitative methodology with a content-analytic approach, the research primarily utilizes Tafsīr al-Manār as its principal source, supplemented by pertinent secondary literature. The findings demonstrate that Rida’s interpretation transcends a purely normative-theological framework by integrating rational and empirical arguments that possess universal validity. Rida contends that the Qur’anic prohibition of khamr is not solely a divine injunction to be obeyed but is underpinned by logical, moral, and practical considerations. His exegesis elucidates four dimensions of rationality: First, khamr inflicts physiological harm detrimental to human health; Second, khamr impairs cognitive clarity and diminishes self-control; Third, khamr undermines economic stability through wastefulness, reduced productivity, and dependency; and Fourth, khamr fosters social disintegration manifested in conflict, criminality, and moral decline. These results suggest that Rida endeavors to reconcile revelation with reason, affirming that Qur’anic ethics are founded upon a rational basis consonant with universal human understanding. Accordingly, Tafsīr al-Manār can be situated as a rational and contextual interpretive model pertinent to the advancement of contemporary intellectual discourse, ethics, and social responsibility.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji kembali dimensi rasionalitas dalam Tafsir al-Manār dengan menyoroti penafsiran Rashid Rida terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang larangan khamr, yaitu Q.S. al-Baqarah: 219, Q.S. al-Nisā’: 43, dan Q.S. al-Mā’idah: 90–91. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan konten-analitis yang menjadikan Tafsir al-Manār sebagai sumber utama dan didukung literatur sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Rida tidak berhenti pada kerangka normatif-teologis, tetapi memperluasnya dengan mempertimbangkan argumentasi rasional dan empiris yang dapat diterima secara universal. Rida menegaskan bahwa larangan Al-Qur’an terhadap khamr bukan semata-mata ketetapan ilahi yang harus ditaati, melainkan memiliki dasar logis, moral, dan praktis. Dari penafsirannya, teridentifikasi empat dimensi rasionalitas: Pertama, khamr menimbulkan kerusakan fisiologis yang membahayakan kesehatan; Kedua, khamr melemahkan kejernihan berpikir dan mengurangi kemampuan kendali diri; Ketiga, khamr mengganggu stabilitas ekonomi melalui pemborosan, penurunan produktivitas, dan ketergantungan; serta Keempat, khamr berkontribusi terhadap disintegrasi sosial melalui konflik, kriminalitas, dan kerusakan moral. Temuan ini mengindikasikan bahwa Rida berupaya mengharmonikan wahyu dengan akal, menegaskan bahwa etika Al-Qur’an memiliki basis rasional yang sejalan dengan pemahaman manusia universal. Implikasinya, Tafsir al-Manār dapat diposisikan sebagai model penafsiran yang rasional dan kontekstual, yang relevan bagi pengembangan wacana intelektual, etika, dan tanggung jawab sosial dalam konteks kontemporer.
Prevention Strategies for Cyberbullying Based on Hadiths: A Thematic Analysis of Hadiths Pertaining to Ethical Communication Sartika, Dewi; Novendri S, Mochammad; Putri, Sajida; Mulyani, Resy
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38192

Abstract

This article seeks to investigate hadith-based strategies for the prevention of cyberbullying through a thematic analysis of the Prophet Muhammad’s teachings on communication ethics. The increasing prevalence of digital bullying highlights a widening disparity between technological advancements and the moral literacy of society, particularly in the context of social media usage. Employing a qualitative methodology grounded in library research, this study utilizes thematic hadith analysis (mawḍū‘ī) alongside sanad and matn criticism to verify the authenticity of the narrations. Additionally, it examines Indonesia’s cyber law framework, including the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE). The findings reveal that moral principles such as adab al-ḥiwār (ethics of dialogue), emotional regulation, tazkiyat al-nafs (self-purification), and the reinforcement of ukhuwah (social solidarity) can be operationalized into practical preventive strategies applicable within educational institutions, family environments, and digital communities. Moreover, the integration of hadith values with contemporary regulatory frameworks, such as the UU ITE, facilitates a more holistic approach to combating cyberbullying, incorporating educational and reconciliatory mechanisms aligned with the concept of islāḥ (reconciliation). This study underscores that cyberbullying constitutes not only a technological challenge but also an ethical and spiritual concern necessitating a synergistic approach involving character development, digital literacy, and legal policy. The findings aim to contribute to the discourse on Islamic digital ethics and inform the development of hadith-based digital literacy modules.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengkaji strategi pencegahan perundungan siber berbasis hadis melalui analisis tematik terhadap ajaran Nabi Muhammad terkait etika komunikasi. Fenomena meningkatnya perundungan digital menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dan literasi moral masyarakat, khususnya dalam menggunakan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui analisis kepustakaan dengan telaah tematik hadis (maudhu’i), kritik sanad dan matan untuk memastikan otentisitas riwayat, serta analisis terhadap regulasi hukum siber di Indonesia, termasuk Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip moral seperti adab al-ḥiwār, pengendalian emosi, tazkiyah al-nafs, dan penguatan ukhuwah dapat diterjemahkan ke dalam strategi preventif yang aplikatif dalam pendidikan, keluarga, dan komunitas digital. Selain itu, integrasi nilai-nilai hadis dengan kerangka regulatif modern, seperti UU ITE, memungkinkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam penanganan cyberbullying, termasuk pemanfaatan mekanisme edukatif dan rekonsiliatif yang sejalan dengan spirit islah. Penelitian ini menegaskan bahwa perundungan siber bukan hanya problem teknologi, tetapi persoalan etik dan spiritual yang memerlukan sinergi antara pembinaan karakter, literasi digital, dan kebijakan hukum. Temuan ini diharapkan memperkaya diskursus etika digital Islam dan memberi arah bagi pengembangan modul literasi digital berbasis hadis.
When the State Plays “Philanthropist”: Social Aid as an Instrument of Power Legitimacy Putra, Muhammad Deni; Rofiki, Akhmad; Argantara, Zaid Raya; Utami, Sari; Addiarrahman, Addiarrahman; Ondri, Dino
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38327

Abstract

Social assistance, traditionally regarded as a governmental mechanism for advancing public welfare, frequently extends beyond its humanitarian role in practice and encompasses substantial political implications. Rather than exclusively targeting poverty reduction and inequality mitigation, social assistance is often employed strategically to legitimize and perpetuate state authority. This study critically investigates the reconstruction of social assistance policies as instruments of political domination, wherein the state is portrayed as a “benefactor” whose generosity elicits gratitude and loyalty. Utilizing a qualitative, literature-based methodology, the research identifies recurring patterns of politicization of social assistance across diverse contexts. The findings reveal that political legitimacy is constructed through multiple interconnected mechanisms: the selective allocation of aid serving as political patronage; the internalization of the state’s “savior” narrative via symbolic violence that redefines assistance from a citizen’s entitlement to a discretionary favor; limited political literacy that restricts critical public engagement; and the utilization of aid delivery systems to map, monitor, and consolidate grassroots political support. Consequently, social assistance often becomes a transactional tool fostering clientelistic relationships, undermining democratic participation, and exacerbating social inequality. This study highlights the imperative to reform social assistance governance by emphasizing transparency, accountability, and a rights-based framework, alongside efforts to enhance critical political literacy within society. Abstrak: Bantuan sosial yang secara konvensional dipahami sebagai alat negara untuk mensejahterakan masyarakat, dalam praktiknya sering beroperasi melampaui fungsi kemanusiaan dan menyimpan dimensi politik yang signifikan. Alih-alih semata ditujukan untuk pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan, bantuan sosial kerap diposisikan sebagai instrumen strategis untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuasaan negara. Penelitian ini bertujuan menelaah secara kritis bagaimana kebijakan bantuan sosial direkonstruksi untuk menopang dominasi politik dengan membingkai negara sebagai “dermawan” yang kebaikannya menuntut rasa syukur dan loyalitas. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi pola politisasi bantuan sosial dalam berbagai konteks. Temuan menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan dibangun melalui beberapa mekanisme yang saling terkait: distribusi bantuan yang selektif sebagai sistem imbalan politik; internalisasi narasi negara sebagai “penyelamat” melalui kekerasan simbolik yang menggeser makna bantuan dari hak warga menjadi pemberian; rendahnya literasi politik yang membatasi kesadaran kritis masyarakat; serta pemanfaatan infrastruktur bantuan untuk memetakan dan mengonsolidasikan dukungan politik di tingkat akar rumput. Akibatnya, bantuan sosial cenderung berubah menjadi instrumen transaksional yang memproduksi relasi klientelistik, melemahkan partisipasi demokratis, dan memperdalam ketimpangan sosial. Studi ini menegaskan urgensi reformasi tata kelola bantuan sosial berbasis transparansi, akuntabilitas, dan pendekatan berbasis hak, disertai penguatan literasi politik kritis masyarakat.
Sufi Feminist Hermeneutics in Ibn ‘Ajībah’s Tafsīr on the Discourse of Gender-Related Verses Rofi'ah, Khofidatur; Kerwanto, Kerwanto; Budiman, Ikhlas
An-Nida' Vol 49, No 2 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v49i2.38297

Abstract

This study seeks to analyze the construction of meanings in gender-related verses within al-Baḥr al-Madīd, a Qur’anic exegesis authored by Ibn ‘Ajībah, through the lens of feminist hermeneutics. The research is motivated by the paucity of scholarship that bridges Sufi epistemology and Islamic feminist discourse, particularly in exploring the interplay between ẓāhir (literal) and bāṭin (inner) meanings in Sufi interpretations of verses addressing relations between men and women. Utilizing a qualitative-descriptive methodology with a textual analysis approach, this study examines Ibn ‘Ajībah’s interpretive framework alongside the epistemological foundations underpinning his exegetical method. The analysis centers on the influence of Sufi spiritual values—such as spiritual equality, purification of the soul, and respect for human dignity—in shaping the interpretation of gender-related verses and their potential to facilitate more inclusive readings concerning women’s rights. The findings reveal that the ishārī approach employed by Ibn ‘Ajībah foregrounds ethical and spiritual dimensions that enable non-hierarchical reinterpretations of gender-related verses. Nonetheless, these interpretations remain engaged with ẓāhir meanings, which are informed by the social context and scholarly traditions of his era. This study demonstrates that Sufi exegesis constitutes a significant alternative framework for advancing gender equality discourse within Qur’anic studies, while simultaneously broadening the scope of Islamic feminism to encompass Sufi spirituality.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi pemaknaan ayat-ayat gender dalam tafsir al-Baḥr al-Madīd karya Ibn ‘Ajībāh melalui perspektif hermeneutika feminis. Kajian ini berangkat dari minimnya penelitian yang mengaitkan epistemologi sufistik dengan wacana feminisme Islam, khususnya dalam menelaah relasi antara makna ẓāhir dan bāṭin dalam tafsir sufistik terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan relasi laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan analisis teks untuk menelusuri cara kerja penafsiran Ibn ‘Ajībāh serta kerangka epistemologis yang melandasinya. Fokus analisis diarahkan pada peran nilai-nilai spiritualitas sufi, seperti kesetaraan spiritual, penyucian jiwa, dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam membentuk pemaknaan ayat-ayat gender serta potensinya dalam membuka ruang pembacaan yang lebih inklusif terhadap hak-hak perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan isyārī yang digunakan Ibn ‘Ajībāh menekankan dimensi etis dan spiritual yang memungkinkan reinterpretasi non-hierarkis terhadap ayat-ayat gender. Namun demikian, penafsiran tersebut tetap berinteraksi dengan makna ẓāhir yang dipengaruhi oleh konteks sosial dan tradisi keilmuan pada masanya. Temuan ini menegaskan bahwa tafsir sufistik memiliki kontribusi signifikan sebagai rujukan alternatif dalam pengembangan wacana kesetaraan gender dalam studi Al-Qur’an, sekaligus memperluas horizon feminisme Islam ke dalam ranah spiritualitas sufistik. 

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue