cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 198 Documents
Membela Sistem Nasional; Analisis Wacana Moderasi Islam (Tafsir Al-Qur'an Tematik) Kementerian Agama Republik Indonesia Muhammad Izzul Haq Zain; Muhamad Imam Mutaqin
An-Nida' Vol 46, No 2 (2022): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i2.20862

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pengaruh ruang sosial terhadap produksi tafsir “Moderasi Islam (Tafsir Al-Qur’an Tematik)” terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia. Penelitian ini didasarkan pada pendapat Islah Gusmian yang menyatakan bahwa tafsir tanpa disadari akan merepresentasikan idelogi dan kepentingan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan teori analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa tafsir moderasi Islam lahir dalam konteks kebangkitan kelompok-kelompok radikal yang berupaya melakukan formalisasi Islam dengan cara yang ekstrim. Pemerintah yang terganggu dengan kondisi tersebut berusaha untuk melawan gerakan tersebut melalui berbagai kebijakan termasuk penerbitan tafsir. Melalui tafsir Moderasi Islam ini, selain ditujukan untuk memberikan rujukan yang ‘benar’ untuk umat Islam, terdapat pula sisi-sisi pembelaan terhadap pemerintah, khususnya pada aspek yang sering dipermasalahkan oleh kelompok-kelompok radikal, diantaranya adalah sistem demokrasi, dasar hukum dan ideologi negara, dan juga bentuk negara. Tersisipnya aspek pembelaan tersebut menunjukkan  produksi tafsir tidak dapat dilepaskan bias penulis dan dari konteks yang mengitarinya. Dalam hal ini, tafsir moderasi Islam yang diterbitkan pemerintah tak hanya merespon konteks yang ada, tetapi juga menyisipkan hal-hal yang sejalan dengan kepentingan mereka.
Moderasi Islam dalam Media Sosial; Studi Analisis Terhadap Pemahaman Agamawan di Youtube Maulana Achmad; Roudlotul Jannah
An-Nida' Vol 46, No 2 (2022): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i2.20845

Abstract

Pemaknaan terhadap konsep moderasi Islam dalam Q.S al-Baqarah [2]: 143 terus menjadi pembahasan yang hangat dalam berbagai golongan masyarakat Indonesia. Pembahasan konsep moderasi Islam saat ini juga disebarluaskan oleh agamawan dalam media sosial, salah satunya pada media Youtube. M. Quraish Shihab, Buya Yahya, dan Habib Husain Ja’far al-Hadar yang ikut serta dalam memberikan pemahaman konsep moderasi Islam dalam media Youtube. Maka, pertanyaan yang ingin dijawab dalam kajian ini adalah: bagaimana pemahaman agamawan (M. Quraish Shihab, Buya Yahya, dan Habib Husain Ja’far al-Hadar) terhadap konsep moderasi Islam pada konteks saat ini?. Dalam menjawab pertanyaan ini pendekatan yang digunakan adalah teori fungsi interpretasi Jorge J.E. Gracia, dengan melakukan tiga tahap analisis yaitu, analisis fungsi historis, fungsi makna, dan fungsi implikasi. Hasilnya, pemahaman konsep moderasi Islam para agamawan disandarkan pada makna wasathiyah dalam Q.S al-Baqarah [2]: 143. Pemaknaan wasathiyah mengalami perkembangan dari makna awal yaitu adil, tengah dan menyeimbangkan, menjadi konsep moderasi Islam yang didalamnya tidak menghilangkan makna awal. Implikasi fungsi makna moderasi Islam adalah bagaimana mewujudkan konsep moderasi Islam pada konteks saat ini dengan tujuan menerapkan prinsip agama Islam yang damai dan toleran.
Transformasi Dakwah Pesantren di Era Digital; Membaca Peluang dan Tantangan Mabrur Mabrur; Moh. Azwar Hairul
An-Nida' Vol 46, No 2 (2022): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i2.20864

Abstract

Pesantren salah satu tonggak penting dalam membangun peradaban yang mengusung dakwah yang bernafas keindonesian. Pesantren akan dihadapkan pada tantangan untuk mengembang misinya. Tantangan itu semakin menguat ketika dakwah mulai bertransformasi digital. Akibatnya dakwah kian membanjiri flatform media sosial dan menjadi konsumsi keagamaan dikalangan masyarakat. Problemnya, dakwah digital meniscayakan kebebasan bagi siapa saja untuk berdakwah yang berdampak pada memudarnya nilai universal Islam dan keindonesiaan.  Penelitian ini berupaya memaparkan tantangan yang dihadapi oleh kalangan pesantren dan  langkah kongkrit bagi kalangan pesantren untuk melakukan transformasi dakwah berbasis digital. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi bagaimana potret dakwah di ruang digital yang dapat dikembangkan oleh pesantren. Studi ini menggunakan kualitatif deksriptif, dengan meninjau dan mengumpulkan data literatur terkait melalui berbagai sumber seperti buku, artikel jurnal dan sumber digital lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan dakwah pesantren dapat memposisikan dirinya dengan perkembangan dakwah di era ditigal dengan mengembangkan konten fiqih praktis sesuai dengan  corak keberagamaan masyarakat modern dan kedua, dakwah berbasis kultural  dengan semangat keragaman dan kedamaian melalui landasan Pancasila yang dikemas secara sederhana dan menarik.
Konsep Wasatiyah Dalam Hukum Islam Perspektif Hasbi Ash-Shiddeqy Mara Ongku Hsb
An-Nida' Vol 46, No 2 (2022): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i2.20859

Abstract

Wasatiyah memiliki makna yang sepadan dengan tawassuth berarti tengah, i’tidal berarti adil tawazun berarti berimbang di dalam Al-Qur’an sendiri terdapat kalimat ummatan wasathan  yang menjadi konsep muslim sebagai umat pertengahan, tidak berat sebelah atau tidak ekstrim ke kanan dan ke kiri tetapi berada di tengah begitu juga dalam hukum Islam wataknya bersifat wasatiyah yang berarti dalam menerapkan hukum harus bersikap adil, dan seimbang. Pembahasan wasatiyah Islam sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia tetapi ini merupakan warisan dari para pendahulu bangsa sudah meletakaan dasar-dasar beragama yang toleran, inklusif, karena sejatinya ajaran Islam itu sendiri sangat moderat. Metode  penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan jenis library research (penelitian pustaka). Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa menurut Hasbi Ash-Shiddieqy hukum Islam menempuh jalan tengah, jalan yang imbang tidak terlalu berat ke kanan mementingkan kejiwaan tidak berat ke kiri seperti antara suami dan istri seorang suami tidak boleh  berat sebelah seperti membuat istrinya terkatung-katung (terlantar) ditalak tidak, dipergaulipun tidak, kemudian tidak boleh hanya memihak kepada salah seorang istri apabila istrinya lebih dari satu sehingga menyebabkan timbulnya kekecewaan pada istri yang lain. Hakikat konsep wasatiyah dalam hukum Islam memberikan keselarasan dan keseimbangan hukum Islam selalu berdasarkan kepantasan dan kecukupan seperti hukum kafarat yang membatalkan sumpah,  kafaratnya sesuai kebiasaan dengan memberi makan sepuluh orang miskin dan makanan yang pantas dan secukupnya.
Metode Qira’ah Mubadalah Pada Kasus Kepemimpinan Perempuan Siti Alfi Aliyah; Raihan Safira Aulia
An-Nida' Vol 46, No 2 (2022): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i2.20860

Abstract

Hadis menjadi sumber kedua hukum Islam setelah Al-Qur’an yang bisa dimaknai secara tekstual dan kontekstual. Beberapa hadis membutuhkan redaksi dari teks-teks Al-Qur‘an untuk mendapatkan pemahaman atas hadis yang diteliti. Fokus penelitian ini yakni hadis kepemimpinan perempuan yang ditinjau dengan metode qira‘ah mubadalah dipelopori oleh Faqihuddin Abdul Qadir. Makna dari qira’ah mubadalah sendiri yaitu agar terciptanya relasi yang sepadan antara laki-laki dan perempuan dalam teks-teks Islam, karena berdasarkan realitas yang ada, penafsiran teks-teks Islam sebagian cenderung didominasi oleh laki-laki dan menomor duakan perempuan khususnya dalam hal kepemimpinan. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan metode penelitian kualitatif yaitu penelitian kepustakaan (library research), data-data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode desktriptif analitis. Metode deskriptif analitis ini dilakukan untuk mendekskripsikan tinjauan umum dari qira‘ah mubadalah seperti pengertian umum, fungsi, dan metode kerja qira‘ah mubadalah sendiri. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui mengenai cara atau langkah metode qira’ah mubadalah dalam menyikapi kasus kepemimpinan perempuan. Dengan metode ini, kita bisa melihat konsep kepemimpinan yang harus ditegakkan yaitu tidak berhubungan dengan gender, melainkan melihat kemampuan dan intelektualitas. Hasil dari penelitian ini yang pertama, Kepemimpinan perempuan melalui sudut pandang qira’ah mubadalah merupakan model kepemimpinan yang tidak mempersulit kedudukan perempuan atas laki-laki baik dalam ranah domestik maupun publik. Adapun konsep implementasi konkrit dalam metode tersebut yaitu: Pertama, cara pandang (minzhar) yang memanusiakan manusia. Kedua, cara membaca (qira’ah) teks-teks rujukan dengan menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai subjek dan manusia utuh. Ketiga, cara pengelompokkan atau dalam istilah bahasa Arab (qa’idah) pengalaman, kesalingan, atau kerja sama antara laki-laki dan perempuan.
Membaca Keluarga Sakinah Dalam Potret Keluarga Nabi Ibrahim Mawaddatul Husna; M. Ridwan Hasbi; Masyhuri Putra; Ali Akbar
An-Nida' Vol 46, No 2 (2022): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v46i2.20861

Abstract

Kekacauan hidup berkeluarga menjadi masalah yang serius, hal ini dibuktikan dengan tingginya angka perceraian di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang membuat kelurga menjadi tidak lagi sakinah. Padahal Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang potret keluarga sakinah pada kisah keluarga yang bisa dijadikan contoh kehidupan berumah tangga. Teladan yang dikisahkan dalam Al-Qur’an adalah kisah keluarga Nabi Ibrahim. Keluarga sakinah merupakan lingkungan sosial terkecil dalam kehidupan manusia yang semua anggotanya merasakan kedamaian dan ketentraman. Potret keluarga sakinah dalam Islam dibangun dari nilai-nilai spiritual dengan tujuan menciptakan kedamaian. Hal ini telah dilalui oleh keluarga Nabi Ibrahim AS dalam hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potret keluarga sakinah pada kisah keluarga Nabi Ibrahim AS yang terdapat pada surah Huud: 71-72, Ash-Shaffat:102, Al-Mumtahanah: 4. Penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis berbasis tafsir maudhu’i. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan ayat tentang keluarga Nabi Ibrahim terdapat gambaran keluarga sakinah berdasarkan nilai-nilai berikut. Pertama keimanan, yang mana menjadi poin penting dalam membangun keluarga sakinah. Kedua kesabaran, sabar dalam menyikapi masalah, baik pribadi maupun lingkup keluarga. Ketiga toleransi, membiasakan musyawarah di antara anggota keluarga agar timbul pemahaman yang baik.
Identity and Diversity in the Hudoq Dance: A Review of Religious Moderation Based on Ancestral Heritage Among the Dayak Tribe Robbaniyah, Nur; MJ, Noer Hidayat; Ningrum, Velida Apria; Ulya, Nur Afina
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.25321

Abstract

The study of culture in the Dayak Wehea community continues to evolve, but various studies often overlook an examination of the religious identity displayed. This religious identity becomes a practice of religious moderation born in the Dayak Wehea community. Therefore, the author investigates how religious moderation is displayed through the identity and symbols contained in the Hudoq dance in the Dayak Wehea community. This article aims to discuss the Hudoq dance as one form of identity and heritage-based diversity in the Dayak Wehea tribe, particularly in the context of examining religious moderation. The Hudoq dance is not only an ethnic identity but also an ancestral heritage, serving as a religious practice in the community. This research combines field and literature studies, collecting data through interviews, documentation, and relevant literature. The data is discussed using a descriptive-analytical method with a qualitative approach. The article concludes that the practice of religious moderation in the Dayak Wehea community can be observed through the religious values displayed in the Hudoq dance. These religious values include the principles of unity, peace, tolerance among religious communities, and the balance between humans and the universe. The religious values presented in the rice harvest festival and the Hudoq dance contribute to the creation of unity and harmony in the Dayak Wehea community and its surroundings. Abstrak: Kajian tentang kebudayaan di masyarakat Dayak Wehea terus mengalami perkembangan namun berbagai kajian yang ada luput mengkaji identitas keberagamaan yang ditampilkan. Identitas keberagamaan ini menjadi praktik moderasi beragama yang dilahirkan di masyarakat Dayak Wehea. Oleh karena itu penulis meneliti bagaimana moderasi beragama ditampilkan melalui identitas dan simbol yang terkandung dalam tarian Hudoq di masyarakat Dayak Wehea. Artikel ini bertujuan mendiskusikan tentang tarian Hudoq, sebagai salah satu bentuk identitas dan keragaman berbasis warisan leluhur pada suku Dayak Wehea, khususnya dalam meninjau moderasi beragama. Tari Hudoq merupakan tari yang tidak hanya menjadi identitas kesukuan sekaligus warisan leluhur, tetapi juga menjadi praktik keagamaan di masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian lapangan dan pustaka sekaligus, sehingga data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, serta literatur-literatur terkait topik kajian. Data-data tersebut didiskusikan dengan menggunakan metode deskriptis-analitis dengan pendekatan kualitatif. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengamalan moderasi beragama yang berkembang di masyarakat Dayak Wehea dilihat melalui nilai-nilai keagamaan yang ditampilkan dalam tari Hudoq. Nilai-nilai keagamaan ini meliputi nilai persatuan, perdamaian, toleransi antar umat beragama, dan nilai keseimbangan antara manusia dengan alam semesta. Nilai-nilai agama yang ditampilkan pada kegiatan pesta padi dan tari Hudoq menjadi salah satu faktor pendorong terciptanya persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat Dayak Wehea dan sekitarnya.
Contextualization of Hadith on the Recommendation of Marriage and Its Relevance to the Legal Age of Marriage in Indonesia Nelli, Jumni; Jaafar, Nia Elmiati
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23161

Abstract

Determination of the age of marriage in Indonesia from 19 years for men and 16 years for women to 19 years for men and women is considered contrary to Islamic law especially the hadith advising marriage. This study aims to confirm that the hadith advocating marriage has a connection with setting the age limit for marriage in Indonesia. This research is qualitative research using the approach to understanding the hadith, namely by understanding the meaning of the hadith about the recommendation to marry, then it is analyzed using a statutory approach, namely (statute approach) and other approaches. The data were obtained from hadith books, applicable laws in Indonesia, and other data such as journals and other articles related to this paper. The results of the research explain that the hadith advocating marriage has relevance to the age limit for marriage in Indonesia. The hadith advising youth to marry means youth between the ages of 16 and 30. While the word ba'ah (able) in the hadith is understood by scholars as the ability to perform jima' (sexual intercourse) and the cost of marriage. The ability to have sexual intercourse is interpreted in a broad sense, namely being able to have sex and bear the consequences of that sexual relationship (to have children). Being able to afford a wedding is interpreted as the economic ability of the family and those related to the family economy. If it is related to the age that is "able" according to this hadith in Indonesian culture are those who have graduated from high school, that is, at least 19 years old.Abstrak: Penetapan usia menikah di Indonesia dari usia laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun menjadi laki-laki dan perempuan 19 tahun dianggap bertentangan dengan hukum Islam, terutama hadis anjuran menikah. Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa hadis anjuran menikah mempunyai kaitan dengan menetapan batas usia menikah di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan pemahaman hadis yakni dengan memahami makna hadis tentang anjuran menikah, selanjutnya dianalisis dengan pendekatan perundang-undangan yakni (statute approach) dan pendekatan lainnya. Data diperoleh dari kitab-kitab hadis, perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan data lain seperti jurnal, artikel lain yang berkaitan dengan tulisan ini. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hadis anjuran menikah memiliki relevansi dengan batas usia menikah di Indonesia. Hadis tentang anjuran menikah kepada pemuda maksudnya adalah pemuda dalam rentang usia 16 sampai 30 tahun. Sedangkan lafaz ba’ah (mampu) dalam hadis dipahami oleh para ulama adalah kemampuan untuk melakukan jima’ (hubungan seksual) dan biaya pernikahan. Kemampuan hubungan seksual dimaknai dengan arti luas yaitu mampu melakukan seksual dan menanggung akibat dari hubungan seksual tersebut (mempunyai keturunan). Mampu membiayai pernikahan dimaknai dengan kemapuan ekonomi keluarga dan yang berhubungan dengan ekonomi keluarga. Bila dihubungkan dengan usia yang “mampu” menurut hadis tersebut dalam budaya Indonesia adalah mereka yang sudah tamat sekolah menengah atas yaitu minimal 19 tahun.
Virtual Da'wah Authority in Tafsir Rahmat H. Oemar Bakry: An Analysis of Intertextuality from Julia Kristeva Hidayat, M. Riyan; Wijaya, Roma; el-Feyza, Muhafizah; HS, Muh. Alwi; Akmaluddin, Muhammad; Nazarmanto, Nazarmanto
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23022

Abstract

Religious activities in Indonesia suffered such massive turmoil that social media was used as a container. Then, the devotion performed by one individual is an obligation for Indonesian Muslims and the world. The spread of religious content in the virtual world seemed to upset Muslim viewers about the authenticity and validity of the source of the content distributed by an account on social media of various platforms. However, through the Book of Mercy, the author sees that there is an offer of innovation about the virtual authority of prophecy so as not to cause a faulty expansion of science. What's more, the diverse understanding of content creators has the potential to complain to the sheep and spread propaganda to the general public. Through a library-based study using the intertextuality glasses that were designed by Julia Kristeva, the message and substance of H. Oemar Bakry's offer to look at the problem will be depicted. Thus, this paper aims to respond to the new offer by creating an agency under the government's auspices of virtual authority. The aim is to counteract the provocative, tendentious, biased, subjective, and evocative messages that float in the virtual universe. Starting from this research, it will be illustrated that this study has produced a new finding that H. Oemar Bakry offers the meaning of forming a strong, honest, and orderly group of preachers. The function of the jury is to be a source of reference for the treasures of Indonesian Islamic sciences.Abstrak: Kegiatan dakwah di Indonesia mengalami gejolak yang begitu besar, dimana sosial media digunakan sebagai wadahnya. Kemudian, dakwah yang dilakukan dari satu individu merupakan kewajiban muslim Indonesia dan dunia. Penyebaran konten dakwah dalam dunia virtual seakan meresahkan para viewers muslim tentang keaslian dan keotentikan sumber konten yang disebarkan oleh sebuah akun di media sosial dari berbagai flatform.  Namun, melalui Tafsir Rahmat penulis melihat bahwa ada tawaran kebaharuan tentang otoritas dakwah virtual agar tidak terjadinya ekspansi ilmu yang cacat. Terlebih lagi, pemahaman yang beragam dari para content creator berpotensi mengadu domba dan menyebarkan propaganda di khalayak luas. Melalui kajian yang berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan kacamata intertekstualitas yang dipelopori oleh Julia Kristeva akan tergambar pesan dan substansi tawaran H. Oemar Bakry dalam melihat problematika tersebut. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan merespon tawaran baru dengan membuat sebuah lembaga di bawah nauangan pemerintah tentang otoritas dakwah virtual. Tujuannya untuk menanggulangi pesan-pesan dakwah yang sifatnya provokatif, tendensius, bias, memihak, subjektif, evokatif yang berseliweran di jagad maya. Hasil dari penelitian ini akan tergambar bahwa kajian ini telah menghasilkan temuan baru bahwa H. Oemar Bakry menawarkan makna akan dibentuk kelompok juru dakwah yang kuat, jujur, dan teratur. Fungsi dari juru dakwah yakni menjadi sumber referensi khazanah keilmuan Islam Indonesia.
Social Intelligence in Islamic Education; Analysis of the Social Jurisprudence Ideas of KH. MA. Sahal Mahfudh Prasetia, Senata Adi; Fahmi, Muhammad; Faizin, Moh.
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.21865

Abstract

The article explores the development of social intelligence in Islamic education. In this period, Islamic education tended to be oriented only to cognitive and affective aspects but hardly to psychomotor ones. This shows that many students cannot interact with their environment. This article argues that the development of social intelligence in Islamic education under the guidance of KH. MA. Sahal Mahfudh focuses more on the aspects of social intelligence that are included in the idea of social fiqh. The findings suggest that the idea of social fiqh KH. MA. Sahal Mahfudh is the most essential foundation for the development of students' social intelligence. In this case, the development of social intelligence is displayed through social sensitivity, social insight, and social communication. Through education that focuses on social sensitivity, social knowledge and social communication, Kiai Sahal has created a strong foundation for developing aspects of social intelligence in the context of Islamic education in Indonesia. The concrete form of social intelligence development carried out by Kiai Sahal is reflected in the formulation of intellectual, social-community education, organizational education, sports and health education, and skills education. Applying the idea of social fiqh, Kiai Sahal in Islamic education should be a model and a new paradigm for developing social intelligence in learners.Abstrak: Artikel ini membahas bagaimana pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam dan relevansinya di era kontemporer perspektif KH. Sahal Mahfudh. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu memerlukan orang lain untuk berinteraksi. Atas dasar itu, pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam sangat dibutuhkan. Artikel ini berargumen bahwa pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam di bawah bimbingan KH. MA. Sahal Mahfudh lebih menitikberatkan pada aspek kecerdasan sosial yang tercakup dalam gagasan fikih sosial. Melalui penelitian kualitatif-eksploratif dan kepustakaan, serta dokumentasi dan pengayaan literatur serta analisis data menggunakan tiga aspek; kondensasi data, display data dan verifikasi data, hasil temuan menunjukkan bahwa gagasan fikih sosial KH. MA. Sahal Mahfudh menjadi basis utama bagi pengembangan kecerdasan sosial peserta didik. Dalam hal ini, perkembangan kecerdasan sosial ditampilkan melalui kepekaan sosial, wawasan sosial, dan komunikasi sosial. Melalui pendidikan yang terfokus pada sensitivitas sosial, pengetahuan sosial, dan komunikasi sosial, Kiai Sahal telah menciptakan landasan yang kuat guna pengembangan aspek kecerdasan sosial dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Bentuk konkret pengembangan kecerdasan sosial yang dilakukan Kiai Sahal tercermin dalam rumusan pendidikan intelektual, pendidikan sosial kemasyarakatan, pendidikan organisasi, pendidikan olahraga dan kesehatan, serta pendidikan keterampilan. Penerapan pemikiran fikih sosial Kiai Sahal dalam pendidikan Islam hendaknya menjadi model dan paradigma baru dalam mengembangkan kecerdasan sosial pada peserta didik pada pendidikan Islam Indonesia kontemporer.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue