An-Nida'
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles
198 Documents
PEMBAHARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM
Nur Alhidayahtillah
An-Nida' Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v42i1.9340
Renewal in Islam is different from Western renaissance. Renainsans emerged by getting rid of religion while Islamic renewal was the opposite. The renewal seeks to strengthen the principles and teachings of Islam to its adherents. The renewal of Islamic thought aims to influence and revive the principles of Islam that are neglected by its people. Muslims must rise from the lagging so far. Renewal in Islam is carried out by people who have an interest in their religion and fellow believers. Islam Renewal in Islam is useful to open the minds and insights of Muslims to be able to compensate for developments that are happening now without having to leave the teachings that already exist in his religion.
Kontribusi dan Peran Ulama Mencegah Hadits Maudhu
Afrizal Nur
An-Nida' Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013
Publisher : Lembaga penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v38i2.334
The spread of hadith maudhu ‘ is an issue that has recently occurred. False hadith is hadith which is made Suyuti up to Shaykh Nasir al-Din al - Bani, but the effort and attention should be continued for those who have the authority science by way of reviewing, writing, discussions, seminars about the existence of the hadiths maudhu ‘, so as to minimize the spread and practice of hadiths maudhu ‘ by society. In addition to the hadith as sources of law after the Qur’an, hadith is also a second source of interpretation bil ma’tsur, and in the hadith of the interpretation function is to explain global verses, verses that explain abstruse, paragraph absolute - verse, and others. So if the hadiths that are used for the hadith interprets maudhu ‘ then this will damage the interpretation.
KONSEP FITRAH MANUSIA (Studi Analisis di MTs Darel Fadilah Sidomulyo Pekanbaru)
Ahmad Ghozali
An-Nida' Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v42i2.9363
Humans have good potential, which includes: physical potential (physical), spiritual (spiritual), and reason (mind). These three potentials will provide the ability for humans to determine and choose their own way of life. Humans are given freedom to determine their destiny. It all depends on how they exploit the potential inherent in him. Spiritual potential in the form of reason. ‘Qald’ and lust. Intellect is thought or ratio and taste can be interpreted with wisdom. Qald is a human nature that can capture all understanding knowledge and wisdom. Lust is a force that drives humans to achieve their desires. The purpose of human life is to worship God Almighty by doing any kind of action as long as it is not prohibited by religion and intentions of worship so that whatever we do is not only beneficial for life in the world but also the interests in the hereafter
Nikah MBA (Married by Accident) dalam Tinjauan Hadits Nabawi
Ridwan Hasbi
An-Nida' Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v38i2.340
MBA Marriages is a term used to refer to the marriage ceremony performed when a woman is pregnant as a result of fornication. Marriages take place as a way to cover the sin and the applicable law should hudud. The paradigm of the hadiths of the Prophet in a very complete history of marriage MBA, both with regard to validity of a marriage ceremony, because of the sin of adultery marriage with nothing to do and the wedding solution. The basic framework of the Prophet’s hadiths state that the MBA is not a valid marriage, not the way make it as a means of closing the damage or danger that would arise from not married is contrary to the hudud ISSUES, but on the other hand the adverse effects relating to the status of marriage MBA descent children who are not RELATED to the male offspring who married his mother while pregnant out of wedlock, dropping out and not mutually inherits guardianship.
Telaah Pemikiran Ali Mustafa Ya’qub tentang Poligami
Harel Bayu Faizin
An-Nida' Vol 43, No 1 (2019): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v43i1.12314
Artikel ini membahas salah satu topik yang selalu hangat untuk diperbincangkan yaitu Poligami. Poligami merupakan suatu masalah yang masih diperdebatkan oleh banyak pihak sehingga menyebabkan timbulnya pro dan kontra terhadap tema tersebut. Tidak ketinggalan dengan Ali Mustofa Ya’qub yang merupakan salah satu pakar hadis di Indonesia yang pemikirannya banyak di jadikan rujukan dalam mengambil istinbath (penetapan) hukum. Dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana metode yang dipakai oleh Ali Mustofa Ya’qub terhadap dalil hadis yang berkaitan dengan tema poligami ini. Artikel ini menyimpulkan bahwa poligami pada dasarnya memang ada nash yang menyatakannya, tetapi bukan berati memerintahkannya dan tidak juga melarang. Poligami pernah di lakukan oleh Rasulullah Saw dengan tujuan syiar Islam bukan karena hasrat seksual, ataupun menunjukkan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Akan tetapi perkembangan pada masa-masa berikutnya malah menjadi sebalik nya. Apabila pada praktek berikutnya, poligami memunculkan berbagai kasus poligami bukan bergantung pada keadilan laki-laki, tetapi lebih kepada kemampuan laki-laki (suami) untuk menjadikan perempuan (istri) tunduk dan pasrah atas nama otoritasnya sebagai suami dan kepala rumahtangga. Hal ini sangatlah berbeda dengan paraktek poligami yang dilakukan Nabi dengan motif dakwah dan melindungi serta memulikan wanita.
KESALEHAN SOSIAL SEBAGAI PARAMETER KESALEHAN KEBERISLAMAN (Ikhtiar baru dalam menggagas mempraktekkan tauhid sosial)
Haris Riadi
An-Nida' Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v39i1.864
Seringkali terdengar di kalangan muslim, orang yang membedakan antara kesalehan Individu dan kesalehan sosial. Seolah-olah dalam Islam ada dua macam kesalehan; kesalehan individu dan kesalehan sosial. Itulah sebabnya, kenapa kesalehan tersebut tidak terukur seperti ibadah lainnya, dan terkadang tak jarang, menyebabkan perbedaan dalam memahami kesalehan tersebut. Paling tidak dalam pengertian Kesalehan Individu dimaksud adalah kesalehan yang hanya mementingkan ibadah semata yang berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri, sementara kesalehan sosial dipahami sebagai kesalehan yang menunjukkan pada prilaku orang yang peduli dengan dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Maka yang terpenting sekarang adalah menjadikan satu Ibadah tidak hanya bernilai kesalehan indiviui tapi sekaligus bernilai kesalehan sosial. Sehingga ibadah itu tidak terdikhotami antara individu dan sosial
Minoritas Dalam Masyarakat Plural dan Multikultural Perspektif Islam
Masyhuri Masyhuri;
Ali Akbar;
Saidul Amin
An-Nida' Vol 43, No 2 (2019): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v43i2.12322
Kelompok minoritas di Indonesia sering kali kehilangan hak-haknya sebagai warga negara bukan diakibatkan oleh perlakuan mayoritas semata, melainkan juga kerap dilakukan oleh negara. Hak kaum minoritas yang acap kali tidak bisa dipenuhi di negeri ini adalah hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan serta kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan tersebut. Dalam konteks pendidikan Islam upaya untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam diharapkan bisa menanamkan kepedulian komunitas agama lain dengan saling bekerjasama dan membangun dialog melalui pendidikan multi kultural. Kesadaran multikulturalisme bukan sekadar memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa sekalipun berbeda keyakinan, namun sama-sama sebagai manusia yang mesti diperlakukan secara manusiawi. Pendekatan dialogis yang mengarah pada budaya saling toleransi, membuang kebencian dan permusuhan, kemampuan untuk saling mendengar, sikap akomodatif, dan saling tukar informasi untuk mencapai kesepahaman bersama. Pendekatan yang ditawarkan oleh Waleed el-Ansary dan Mashood Baderin cukup memberikan solusi bagi konflik antar umat beragama yang diakibatkan oleh kedangkalan dan kesenjanagan pemahaman dalam memahami ajaran agama masing-masing.
Klasifikasi Sunnah Tasyri’iyah dan Ghairu Tasyri’iyah Perspektif Pemikiran Ahmad Syah Waliyullah Al-Dahlawi
Johar Arifin;
M. Ridwan Hasbi
An-Nida' Vol 44, No 1 (2020): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v44i1.12500
Sebagian ulama yang meyakini bahwa semua sunnah Nabi sebagai hukum yang mengikat sehingga semua yang Nabi harus ditaati, sehingga jika ada pihak yang tidak mengamalkan dianggap inkar sunnah atau sesat. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa selain Rasul, Muhammad juga manusia biasa yang besar dalam budaya dan lokalitas, sehingga hadis yang bersumber dari fitrah manusia untuk meniru Muhammad tidak wajib, karena itu bukan bentuk hukumnya. Selain itu, berbagai macam penemuan dan teknologi membutuhkan penilaian yang cukup cepat terhadap kebutuhan pemahaman hadits Nabi. Interaksi antar budaya yang berkembang dengan ajaran Islam yang bersumber dari teks, untuk kemudian tentunya berhadapan dengan fakta yang lebih berat dan rumit. Menjawab hal tersebut, al-Dahlawi menawarkan pemahamannya tentang konsep hadis dengan klasifikasi sunnah tasyri'iyyah dan ghairu tasyri'iyyah dengan kriteria masing-masing. Menurut al-Dahlawi, hadis tasyri’iyyah adalah hadis yang muncul dari posisi Nabi Saw sebagai seorang Rasul. Sedangkan hadis kategori ghairu tasyri’iyyah adalah hadis yang berasal dari sifat kemanusiaan Muhammad dan tidak wajib untuk ditiru, tapi hanya ideal untuk ditiru.
PERDEBATAN MASALAH POLIGAMI DALAM ISLAM (Kajian Tafsir Al-Maraghi QS. al-Nisa’ ayat 3 dan 129)
Usman Usman
An-Nida' Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v39i1.870
Bentuk perkawinan dalam Islam ada dua, yaitu monogami dan poligami. Monogami merupakan bentuk perkawinan yang alami, karena di dalamnya terdapat semangat dalam melimpahkan rasa kasih sayang, cinta sepasang suami istri tanpa berbagi dengan orang lain. Bentuk perkawinan ini dianggap lebih tepat dan bisa terbentuk tujuan perkawinan sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun bentuk perkawinan poligami juga telah berkembang lama. Perdebatan antara setuju dan tidak setuju dengan poligami tetap up to date dalam diskusi para intelual muslim. Di antara alasan menentang poligami karena dianggap banyak mendatangkan efek negatif dan dianggap mendiskriminasi kaum perempuan. Sedangkan yang setuju, mengemukakan alasan bahwa Islam tidak melarang poligami, dalam kondisi tertentu poligami salah satu solusi pengatasi problem rumah tangga
Moderasi Agama dalam Perspektif Fiqih (Analisis Konsep Al-Tsawabit dan Al-Mutaghayyirat dalam Fiqih serta Penerapannya pada Masa Pandemi Covid-19)
Johari Johari
An-Nida' Vol 44, No 2 (2020): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v44i2.12927
Artikel ini mengetengahkan moderasi agama menurut perspektif fiqh dengan menganalisis konsep al-tsawabit (bersifat konstan/tetap) dan al-mutaghayyirat (mengalami perubahan) serta penerapannya pada masa pandemi covid-19. Al-tsawabit adalah hal-hal yang bersifat tetap/permanen dan memiliki landasan dalil yang qath'i (pasti) dan tidak diperdebatkan oleh para ulama. Sementara al-mutaghayyirat adalah sesuatu yang tergolong kepada masalah-masalah furu' (cabang) yang berdalil zhanni dan banyak diperdebatkan oleh para ulama. Artikel ini menyimpulkan bahwa moderasi agama adalah bagian dari ajaran Islam yang memiliki karakteristik universal seperti adil, seimbang, toleran, terbuka, egaliter serta dinamis dan dialogis. Moderasi agama mendapatkan legalitas yang sangat kokoh dari Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas. Ruang lingkupnya mencakup semua bagian ajaran Islam, baik akidah, akhlak, syariah (hukum), terutama dapat diimplementasikan pada konsep al-tsawabit dan al-mutaghayyirat.