An-Nida'
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles
198 Documents
PERSPEKTIF ISLAM TENTANG KORUPSI
Jamaluddin Rabain
An-Nida' Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v39i2.875
Korupsi secara implisit adalah menyalahgunakan wewenang, jabatan atau amanah secara melawan hukum untuk memperoleh keuntungan atau manfaat pribadi dan atau kelompok tertentu yang dapat merugikan kepentingan umum. Diakui, korupsi memang merupakan problematika sosial yang cukup pelik, yang melilit dan menghinggapi di hampir seluruh negara, tak terkecuali Indonesia. Bagi telinga rakyat Indonesia, bukan hal yang asing bahwa teriakan-teriakan aksi untuk pemberantasan korupsi mulai bergema kencang seiring tumbangnya orde baru dan lahirnya orde reformasi pada tahun 1998. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memberantas penyakit yang bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara ini, tapi korupsi bukan semakin hilang di bumi pertiwi ini, melainkan semakin menggurita. Kini muncul wacana dan kesadaran moral bahwa untuk memberantas korupsi yang sudah menggurita ke segala lini kehidupan masyarakat negeri ini. Selain melalui mekanisme hukum, juga membangun filosofi baru berupa penyemaian nalar dan nilai-nilai baru bebas korupsi melalui pendidikan formal. Hal ini dilakukan karena pendidikan memiliki posisi sangat vital dalam menyemai pendidikan dan sikap anti korupsi
KEBERHASILAN UMAR IBN KHATHTHAB MEMAJUKAN PEMERINTAHAN ISLAM
Syamruddin Nasution
An-Nida' Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v36i1.294
Umar is known other than as a conqueror, he was also known as a builder of a formidable government administration. So it's not excessive when compared with the three al-Khilafat al-Rashidin before and after, the reign of Omar's most stable and good. He is renowned as a fair and wise leader, a simple life, He is also known to care for the little people and the poor and the welfare of their lives. In the reign of Umar had materialized the ideal Islamic government, the officials are not arbitrarily executions in the reign, the rich are not arbitrary in behaving, the poor are not persecuted in the life, they stand as upright, seated at a low.
Pemikiran Pendidikan Islam Zakiah Daradjat dan Konstribusinya terhadap Pendidikan Islam di Indonesia
Damsir Damsir;
Muhammad Yasir
An-Nida' Vol 44, No 2 (2020): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v44i2.12947
Artikel ini menganalisa tentang pemikiran pendidikan Islam Zakiah Daradjat dan konstribusinya terhadap pendidikan Islam di Indonesia. Zakiah Daradjat merupakan salah satu tokoh yang menaruh perhatian yang sangat besar pada pendidikan Islam baik sebagai pendidik maupun sebagai birokrat. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data dari buku-buku, makalah, artikel, majalah, jurnal, web (internet) yang berkaitan dengan gagasan dan pemikiran Zakiyah Daradjat di bidang pendidikan Islam. Pertanyaan yang hendak dijawab dalam artikel ini yaitu, bagaimana pemikiran pendidikan Islam serta apa konstribusi Zakiah Daradjat terhadap pendidikan Islam di Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah, pemikiran pendidikan Islam Zakiah Daradjat terlihat ketika ia merumuskan dan memetakan tentang hakikat dan tujuan pendidikan Islam, dasar pendidikan Islam serta lingkungan dan tanggungjawab pendidikan Islam. Konstribusi Zakiah Daradjat terhadap pendidikan Islam di Indonesia dapat dilihat pada dua hal yaitu, Pertama, seorang pendidik-psikolog. Zakiah Daradjat merupakan seorang yang “multi talent”, sebagai seorang psikolog ia menfokuskan pemikirannya tentang kesehatan mental yang berkaitan dengan persoalan remaja. Kedua, birokrat-pembaharu pendidikan Islam Indonesia. Semasa menjabat direktur di Kementerian Agama dan jabatan lain, beliau memanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan dan pembaharuan dalam bidang Pendidikan Islam.
GANGGUAN JIWA DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN MENTAL ISLAM
Suhaimi Suhaimi
An-Nida' Vol 40, No 1 (2015): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v40i1.1492
Modernisme telah berhasil mewujudkan kemajuan yang spektakuler, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sisi lain, ia telah menampilkan wajah kemanusiaan yang buram berupa kemanusiaan modern sebagai kesengsaraan rohaniah. Modernitas telah menyeret manusia pada kegersangan spiritual. Ekses ini merupakan konsekuensi logis dari paradigma modernisme yang terlalu bersifat materialistik dan mekanistik, dan unsur nilai-nilai normatif yang telah terabaikan. Hingga melahirkan problem-problem kejiwaan yang variatif. Ironisnya, masalah kejiwaan yang dihadapi individu sering mendapat reaksi negatif dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Secara singkat lahirnya keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai etiologi gangguan jiwa, di samping karena nilai-nilai tradisi dan budaya yang masih kuat berakar, sehingga gangguan jiwa sering kali dikaitkan oleh kepercayaan masyarakat yang bersangkutan. Oleh karenanya, masih ada sebagian masyarakat yang tidak mau terbuka dengan penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah (rasional dan obyektif) dan memilih untuk mengenyampingkan perawatan medis dan psikiatris terhadap gangguan jiwa. Dalam konsep kesehatan mental Islam, pandangan mengenai stigma gangguan jiwa tidak jauh berbeda dengan pandangan para ahli kesehatan mental pada umumnya. Namun, yang ditekankan di dalam konsep kesehatan mental Islam di sini adalah mengenai stigma gangguan jiwa yang timbul oleh asumsi bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh pengaruh kekuatan supranatural dan hal-hal gaib
EVALUASI MATERI PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF GENDER
Jumni Nelli
An-Nida' Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v36i2.299
Education is a tool for transferring the norms of society, knowledge and human capabilities, as well as a tool to assess and convey ideas and new values, including values and norms of gender. Know to have been a lot of gender inquality in society wich is assumed to arise because there is a gender bias in education. Including religious education. As an example of gender bias in te curriculum of the Islamic religion including the material about the origin of human events, the obligation to pray in congregation, the provisions of polygamy, the fungtions of husband and wife in munakahat. In an effort to realize the nature of religious understanding of gender, it is appropriate necessary revisions to matters of gender bias in text books Islamic Religion. It should be all parties, especially the author and editor of books on the fact that the existing curriculum is not gender neutral. Meanwhile, for teachers of religion claimed to be mor critical and sensitive in the review and examine all matters realting to gender ineguality in the learning process taking place in ther daily work
MENGENAL KAJIAN HADITS-HADITSMUKHTALIF Dalam Kitab Bulugh Al-Maram Karya Ibnu Hajar Al-Atsqalani
Aslati Aslati
An-Nida' Vol 40, No 2 (2015): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v40i2.1497
Merupakan realitas yang tak terbantahkan bahwa ulama ternyata juga menemukan haditshadits yang bertentangan secara lahiriah tersebut sama derajatnya. Sehingga dibutuhkan ijtihad tersendiri dalam menilai dan menetapkan hukum seperti dengan melakukan kompromi (jam’u wa al-taufiq/ menyatukan), menasakh atau mentarjih. Inilah yang dimaksud dengan kajian Mukhtalaf al-Hadits dalam pembahasan ini. Hal ini tentunya tidak dapat dilakukan oleh mereka yang hanya penghapal hadits, melainkan oleh mereka yang memahami secara mendalam tentang seluk beluk hadits (ahli hadits) dan mengerti bagaimana metode penetapan hukum Islam dengan baik (ahli ushul).
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUTIVISME
Nurhasnawati Nurhasnawati
An-Nida' Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v36i2.304
Contructivism is a learning model that emphasizes the recent activity of students in each interaction can be instructive to explore and discover his own knowledge. The flow of this constuctivism, in the study of science education is growing stream of theoretical cognitive psychology tha emphasizes the student to able to play an ative role in discovering new knowledge. Constructivism assumes that all learners ranging from child hood to college to have an idea or knowledge about the environment and events (symptoms) that occur in the surrounding environment, although this idea or knowledge often contructivism always retain this naïve idea or knowledge of the firm, because ideas or knowledge related to the idea or other knowledge in the form of sechemata (cognitive structures/knowledge). Learning constriktivism possible to provide better space for the involvement of students in the class room, to explore and dig deeper into the beauty and potential ability and behavior of a more open attitude.
ANALISIS TENTANG BATAS UMUR UNTUK MELANGSUNGKAN PERKAWINAN MENURUT PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
Sofia Hardani
An-Nida' Vol 40, No 2 (2015): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v40i2.1503
Di dalam pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa kedewasaan seorang anak adalah jika laki-laki berumur 21 tahun dan perempuan berumur 18 tahun. Di dalam pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan wanita telah mencapai umur 16 tahun. Artinya, undang-undang ini membolehkan anak yang belum dewasa untuk melangsungkan perkawinan. Di sisi lain, undangundang terlihat mengakui pelanggaran terhadap ketentuan batas umur dan kematangan calon untuk melangsungkan perkawinan. Hal ini diakomodir dalam pasal 7 ayat (2) UU No. 1 tahun 1974, bahwa pengadilan ataupun pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua dari pihak laki-laki maupun perempuan dapat memberikan dispensasi kepada anak di bawah umur untuk melangsungkan perkawinan. Ketidakkonsistenan UU No. 1 tahun 1974 tentang batas umur perkawinan dapat dimaknai sebagai akomodisasi perkawinan di bawah umur. Apalagi di dalam pasal 7 UU tersebut maupun dalam penjelasannya tidak disebutkan alasan yang dapat dijadikan dasar diberikan dispensasi, sehingga setiap orang dapat dengan mudah memperolehnya. Ketetapan undang-undang sangat longgar, padahal jika ditinjau dari berbagai aspek, banyak kemudharatan yang ditimbulkan akibat perkawinan anak di bawah umur, terutama bagi perempuan.
PERMAINAN TEKA-TEKI SILANG SEBAGAI MEDIA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB (MUFRADAT)
M. Khalilullah
An-Nida' Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v37i1.309
Teaching mufradat (vocabulary) in Arabic was usually taught by using sam’iyah syafawiyah that the students memorized the vocabularies given by the teachers. By using this method, it seemed that students felt bored in memorizing the vocabularies monotonously so that they have low motivation in learning. Pertaining to the phenomenon above, this writing will offer how to teach vocabularies to the students by using a game. Because the students are still in teenage-age who are fond of playing game, teaching by using a game will make them interested in learning that the values will indirectly be offered. The game meant in this writing is cross word that is usually used to spend a spare time has been used in teaching at schools. So, it can be used as a medium in teaching that wakes the neuron up and to refresh the mind to work optimally because it will make the mind relax in learning process. In teaching Arabic, it is rare used by the teachers even they do not understand that this game can be used to teach vocabularies in teaching mufradat (vocabularies).
ISLAM, PERILAKU APARATUR SIPIL NEGARA DAN KRITIK EPISTIMOLOGI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
RODI WAHYUDI;
DEVI DESMIWAR
An-Nida' Vol 41, No 1 (2017): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24014/an-nida.v41i1.4636
The purpose of this article is to examine conceptually the epistemology of state administration science and its relation to religious and bureaucratic behavior in Indonesia. Science of state administration comes from the results of Western scientists thought. The research method used in this study is literature study. Sources of literature from books and journals. The reading result is arranged in the form of theoretical debate and followed by the interpretation of the secondary data. The results showed that the origin of the science of state administration is from the history of Europe and the West with the characteristics of value-free, secular, do not incorporate religious teachings in the formation of basic theory. Whereas the development of a country will succeed if supported by a professional and trustful bureaucracy. The nature of trust will be the form if the bureaucracy practice religious teachings. Although western nations dominate scientific papers, academic books and research journals. But as an eastern nation it is not all that comes from the West swallowed raw without judging it first.