cover
Contact Name
Dr. Evi Mu'afiah
Contact Email
muafiahevi@gmail.com
Phone
(0352) 481277
Journal Mail Official
-
Editorial Address
LPPM IAIN Ponorogo Jl. Pramuka No.156 Ponorogo
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam
ISSN : 19076371     EISSN : 25279254     DOI : -
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam is a journal based on Islamic research published by Institute for Research and Community Services, State Islamic Institute of Ponorogo. This journal first published in 2007 to facilitate the publication of research, articles, and book review. The Journal issued biannually in June and December.
Articles 420 Documents
Desain Pengembangan Buku Ajar Arab Bagi Mahasiswa Non PBA Berbasis Joyful Learning IAIN Ponorogo Nasrullah, Nasrullah
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2153.901 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v12i2.1523

Abstract

Mata kuliah bahasa Arab bagi sebagian besar mahasiswa merupakan momok yang menakutkan, apalagi mahasiswa tersebut belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya. Asumsi tersebut akan berubah dengan sendirinya, seiring dengan waktu setelah mereka belajar desain materi ajar bahasa Arab yang berbasis joyful learning, belajar bahasa Arab selalu diringin dengan rasa senang dan penuh permainan, tetapi unsur materi bahasa mereka juga mendapatkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan mengembangkan materi ajar berbasis joyful learning. Jenis penelitian pengembangan ini mengacu pada langkah-langkah model Borg dan Gall, data dikumpukan dengan tehnik observasi, wawancara, document, angket dan check list kemudian dianalisis secara kualitatif dan quantitative  descriptive. Desain buku ajar pembelajaran bahasa Arab berbasis joyful learning bagi mahasiswa non Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Pada tahap validasi ahli materi dan validasi ahli media keduanya memberikan skor ?sangat baik? dan desain produk buku ajar dinyatakan ?layak? untuk dipergunakan sebagai materi ajar bagi mahasiswa non PBA IAIN Ponorogo. Setelah diuji cobakan kepada mahasiswa, mereka merasa senang dan antusias dalam proses pembelajaran bahasa Arab dengan indikasi bahwa mahasiswa tidak khawatir akan kesalahan membaca teks bahasa Arab, tidak mengalami kesulitan dalam mencari kosa kata, sehingga pemahaman mahasiswa terhadap materi ajar bahasa Arab dapat dilihat pada skor pre test rata-rata test 61,23,  sementara skor post test 87,13  artinya ada peningkatan skor yang signifikan setelah diajarkan dengan desain materi ajar  bahasa Arab berbasis joyful learning.
PROGRAM INDONESIA SEHAT BERBASIS KELUARGA: KONTRIBUSI MODAL SOSIAL KEAGAMAAN DI MASYARAKAT Maulidia, Rohmah
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1730

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan (SDGS), khususnya pembangunan kesehatan dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan modal sosial yang dimiliki. Tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat desa dan petugas kesehatan saling mempertahankan kerjasama dalam bentuk kegiatan program rutin dan pendirian lembaga kesehatan desa. Kemampuan dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dan peran perangkat desa dapat menjadi faktor kunci keberhasilan. Adanya tolong menolong, rasa saling percaya (trust), dan norma yang ditaati merupakan merupakan modal dalam mengatasi persoalan kesehatan. Meski mampu mengatasi persoalan kesehatan, namun faktanya masih menyisakan persoalan.This paper discusses the role and community participation in sustainable development (SDGS), especially health development by utilizing human resources and social capital owned. Religious leaders, community leaders, village communities and health workers maintain mutual bonding in the form of routine program activities and the establishment of village health institutions. The abilities and values of the community and the role of the village apparatus can be the key success factors. The existence of help, mutual trust, and adhered norms are social capital in overcoming health problems. Although able to overcome health problems, the fact the problem still remains. 
Pengembangan E-Learning Berbasis Moodle Sebagai Media Pengelolaan Pembelajaran Hakim, Arif Rahman
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2077.604 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v12i2.1516

Abstract

Tujuan dari kajian ini adalah untuk mendiskripsikan pengembangan dan penggunaan e-learning berbasis moodle sebagai media dalam pengelolaan pembelajaran. Kajian ini menggunakan metode R&D dengan tahapan menggunakan model yang dikembangkan oleh Sugiyono yaitu; desain produk, validasi desain, revisi desain, ujicoba skala kecil, revisi produk, ujicoba skala besar, revisi produk dan Produk final. Subjek kajian dalam pengembangan e-learning berbasis moodle ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tariyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo. Teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan teknik angket dan observasi sedangkan analisis datanya adalah dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan analisis yang dilakukan, kajian ini menunjukkan bahwa, hasil validasi media dinyatakan layak dengan skor penilaian sebesar 79,53. Dan hasil validasi materi mendapat skor penilaian sebesar 76,34 dan dinyatakan layak. Pengembangan e-learning berbasis moodle dilakukan dengan cara menginstal secara online melalui cPanel dan kemudian setelah instalasi selesai dilanjutkan dengan mengatur tampilan serta mendesain menu serta aktifitas yang akan disediakan dalam e-learning berbasis moodle. Penggunaan e-learning berbasis moodle sebagai media untuk pengelolaan kegiatan pembelajaran dapat berupa; chatting, grup discussion, message, assiggment, dan quis yang kesemuanya terbingkai dalam tiga aktivitasi pengelolaan yaitu; perencanaan, pelaksanaan, pengevaluasian dan pengawasan
PENEGAKAN HUKUM DAN KESADARAN HUKUM NARAPIDANA WANITA DI LAPAS PONOROGO Iriani, Dewi
Kodifikasia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.651 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1680

Abstract

Lamanya Napi wanita untuk mengikuti persidangan sebanyak 15 kali / 4 bulan, dan pada umumnya Napi wanita tersebut banyak yang tidak paham hukum. Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian ini akan membahas bagaimana penegakan hukum dan kesadaran hukum narapidana wanita di Lapas Ponorogo dan bagaimana proses pembinaan dari petugas lapas terhadap narapidana wanita di Lapas Ponorogo. Hasil dari penelitian ini bahwa  hukuman yang diberikan Napi wanita berkisar 3 bulan ? 9 bulan kurungan penjara, setelah dipotong masa tahanan menjadi 1-3 bulan masa tahanan. Putusan hukuman yang diberikan oleh hakim dan diterapkan di lapas Ponorogo akan sesuai apabila diterapkan sesuai kenyataan. Namun apabila penegak hukum yang terdiri dari hakim, polisi, jaksa, dan petugas lapas meminta sejumlah uang tertentu kepada narapidana wanita hal ini tidak diperbolehkan dan melanggar hukum. Setelah di penjara barulah napi wanita sadar akan kejahatannya. Proses pembinaan di lapas Ponorogo sudah berjalan secara baik, hanya saja proses pembinaan tersebut belum sampai pendampingan sampai keluarnya narapidana.  The length of time for female prisoners to take a part in the trial is 15 times / 4 months, and in general there are many female prisoners who do not understand the law. This type of research is a field research (field research), the method used in this study using a qualitative research approach. This study will discuss how law enforcement and legal awareness of female prisoners in Ponorogo prison and how the process of coaching from prison officers to female prisoners in Ponorogo prison. The results of this study that the sentences given by female prisoners ranged from 3 months to 9 months in prison, after being detained the prison period was 1-3 months in prison. The verdict given by the judge and applied to the Ponorogo prison will be appropriate if applied according to reality. However, if law enforcers consisting of judges, police, prosecutors, and prison officers request a certain amount of money to female prisoners this is not permitted and breaks the law. After being imprisoned, women prisoners are aware of their evil. The process of coaching in the Ponorogo prison has been going well, except that the coaching process has not reached assistance until the release of inmates.
IMPLEMENTASI KONSEP ISLAM WASATHIYYAH (Studi Kasus MUI Eks. Karesidenan Madiun) Munir, Ahmad; Saputra, Agus Romdlon
Kodifikasia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.42 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1678

Abstract

Munas MUI ke-9 yang digelar di Surabaya tahun 2015, mengusung tema ?Islam wasathiyyah untuk Indonesia dan dunia yang berkeadilan dan berkeadaban.? Tema dikehendaki untuk   membumikan Islam yang berkeadilan, moderat, seimbang, berkemajuan dan toleran. Posisi MUI sebagai tenda besar umat Islam, memiliki posisi strategis bagi umat Islam di Indonesia yang majemuk. Namun, sejauh mana tema tersebut tersosialisasikan kepada struktur organisasi di bawahnya?. Dengan menggunakan logika induktif menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian menemukan bahwa  wasathiyyah dimaknai sebagai pertengahan,   akomodatip,  adil,  dan moderat. Konsep tersebut diimplementasikan pada program kerja yang terfokus pada empat hal yaitu a) Pembentukan kesadaran terhadap aturan, baik agama maupun Negara. b) Penyatuan umat. c) Edukasi sosial dan pemberdayaan kesejahteraan masyarakat. d) Kaderisasi dan pengkajian. Faktor Pendukung program adalah wilayah Karesidenan Madiun yang kental sistem kekerabatannya, wilayah pesantren,   struktur dan kepengurusan MUI yang akomodatif, serta program kerja MUI yang mengacu pada kemaslahatan umum. Sementara faktor penghambat adalah adanya ketidakterwakilan dari sebagian elemen keagamaan, peluang keterlibatan sebagian anggota MUI dalam kontestasi politik dukung mendukung, kuatnya dominasi dan doktrinasi ormas keagamaan dan ketaatan kepada tokoh,  dan kurang maksimalnya transformasi konsep wasathiyyah. The 9th MUI National Conference held in Surabaya in 2015 carries the theme "Wasathiyyah Islam for Indonesia and the world that is just and civilized." The theme is intended to ground Islam that is just, moderate, balanced, progressive and tolerant. MUI's position as a large Muslim tent has a strategic position for Muslims in a pluralistic Indonesia. However, to what extent is the theme socialized to the organizational structure below? By using inductive logic and using a qualitative approach. The study found that wasathiyyah was interpreted as mid, accommodative, fair and moderate. The concept is implemented in a work program that focuses on four things, namely: a) Establishing awareness of rules, both religion and state. b) Unification of the Ummah. c) Social education and empowerment of community welfare. d) Cadreization and assessment. Program Supporting Factors are the Madiun Residency area which has a strong kinship system, boarding area, accommodative MUI structure and management, and MUI work programs that refer to general welfare. While the inhibiting factor is the absence of representation from some religious elements, the chance of involvement of some members of the MUI in supporting political contestation supports, strong domination and doctrination of religious organizations and obedience to figures, and a less than optimal transformation of the concept of wasathiyyah.
Bisnis Ritel Pangan Di Pasar Tradisional (Studi Kritis Terhadap Implementasi Peraturan Balai POM Tentang Keamanan Pangan Di Pasar Songgolangit) Maulidia, Rohmah
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1855.565 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v12i2.1524

Abstract

Fenomena penggunaan boraks dan formalin pada makanan kerap dijumpai di pasar tradisional. Penerbitan Peraturan BPOM Nomor 5 Tahun 2015 bertujuan melindungi masyarakat dari pangan yang berisiko terhadap kesehatan. Dengan menggunakan teori kesadaran hukum dan teori survival strategy penulis melakukan analisis data. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mereka semua para informan yang diwawancarai tidak tahu peraturan BPOM, dan tidak pernah menerima sosialisasi dari Dinas pasar. Mereka mengaku selama ini taat pada aturan tertulis (di spanduk) di pasar. Misal tentang aturan larangan jualan di jalan trotoar dan selasar pasar, karena memang itu ditempel besar-besar di dalam pasar.Secara umum, standarisasi bisnis ritel pangan menurut BPOM di pasar Songgolangit belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik oleh pedagang. Hanya sedikit pedagang yang memiliki papan identitas dan mereka tidak memperdulikan higienitas dari hama di makanan (missal penjual teri). Untuk toilet, masih belum ada pemisahan toilet lakilaki dan perempuan, serta jarak toilet dengan penjualan makan sangat dekat. Tetapi sebagian dari mereka sesungguhnya sudah mempraktekkan standarisasi peraturan POM tersebut, missal penjual ikan telah menggunakan es balok dalam jualan ikannya, penjual kerupuk mentah yang mau membersihkan secara berkala barang dagangannya, agar jangan sampai tikus berkeliaran di lapaknya.
INTEGRASI NILAI ISLAMI DALAM LAYANAN INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI Abid, M. Novailul
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1785

Abstract

Reproduksi merupakan hal yang cukup tabu dikalangan masyarakat terlebih pada lembaga formal, namun setiap manusia yang melewati masa puber akan mengalami masalah di Era teknologi 4.0 dimana segala hal mudah diakses termasuk konten negatif. Seorang remaja dengan tingkat ingin tahu yang tinggi jika tidak dibekali dengan pemahaman yang baik justru akan menjerumuskannya pada perbuatan yang menyimpang. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi uji keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber. Objek penelitian ini adalah pelaksanaan layanan informasi kesehatan reproduksi di SMP Walisongo Pecangaan Jepara dengan metode analisis reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Integrasi nilai islami dalam layanan informasi kesehatan reproduksi mencakup pengejawentahan salah satu dari lima tujuan prinsip syariat Islam (maqasid al-syari?ah), yaitu: hiz al-irdl (perlindungan kehormatan/hak reproduksi) dan materi layanan mata pelajaran Aqidah dan Pendidikan Agama Islam serta Guru BK.Reproduction is quite taboo among the people, especially informal institutions. Still, every human who passes puberty will experience problems in the Age of Technology 4.0, where everything is easily accessible, including harmful content. A teenager with a high level of curiosity, if not equipped with good understanding will only lead to deviant behavior. This type of research is field research with a qualitative approach to the method of data collection used is interviews, observation, and documentation of data validity testing using source triangulation. The object of this research is the implementation of reproductive health information services in SMP Walisongo Pecangaan Jepara with data reduction analysis methods, data display, and conclusions drawing. The integration of Islamic values in reproductive health information services includes the realization of one of the five objectives of Islamic Sharia principles (maqasid al-syari'ah), namely: hiz al-irdl (protection of honor / reproductive rights) and material services for Aqidah and Islamic Religious Education subjects and Counseling Teacher.
ISLAM DAN MARGINALISASI PEREMPUAN: KUASA PEREMPUAN DI BALIK PROSTITUSI WARUNG PANTURA Sofyan, M. Ali
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1831

Abstract

Diskursus tentang kuasa perempuan seolah tidak dapat dihentikan. Kuasa patriarki yang menjadi penyebab utama akhirnya tidak mampu untuk mengembalikan pada posisi setara. Salah satu kajian kuasa perempuan yang sering dilihat adalah ruang prostitusi atau lokalisasi. Ketika merujuk dalam konsep Islam jelas bahwa prostitusi sangat dilarang. Namun, kajian ini akan lebih melihat seperti apa freedom of women dalam persepektif Islam dan sosio kultural. Tulisan ini akan lebih dijelaskan dengan etnografi. Selain sebagai metode penulisan, etnografi juga digunakan dalam metode penelitian pada kajian ini. Warung di daerah Pantura (Batang, Jawa Tengah) yang dikenal menyediakan jasa prostitusi terletak di pinggir jalan pantura. Perempuan yang menawarkan jasa tersebut, sebagian besar bukan dari Batang. Dalam analisa awal, bahwa perempuan tersebut tidak dapat memiliki kuasa penuh atas dirinya. Pertama, mereka tidak memiliki warung tersebut, artinya mereka hanya sebagai pekerja yang harus berbagi keuntungan dengan pemilik warung. Kedua, kuasa atas tubuhnya tidak didapatkan karena tubuhnya dikonsumsi oleh publik dengan imbalan tertentu. Mereka merupakan bagian yang tersisihkan dari prostitusi kelas atas. Dalam perspektif Islam, perempuan tidak diciptakan untuk ditindas oleh siapapun. Analisa lebih jauh adalah sebenarnya dengan memberi label salah dan dosa, justru akan memberikan dampak semakin menjauh dengan agama. Pendekatan dengan kekerasan dan penghakiman (vigintalisme) tidak akan menyelesaikan masalah. Bagi perempuan dan konsumennya, ruang kemerdekaan seksualitas tidak boleh diganggu bagi siapapun. [The discourse on women's power is still widely debated. The patriarchal power which is the main cause is completely unable to shift to an equal position. One of the studies on women's power that is often seen is the space of prostitution or localization. When referring to the Islamic concept it is clear that prostitution is strictly prohibited. However, this study will reveal the freedom of women in the perspective of Islam and socio-culture. This paper is explained by ethnography method. Stalls in the Pantura area (Batang, Central Java) known provide the prostitution services that located on the edge of the northern coastal road. Most of the women who offer the services are originally not from Batang. In the first analysis, that woman cannot have full power over herself. First, the women are not the owner of the stall. It means that they only workers that share the profit with the stall owner. Second, power over their body is not obtained because their body is consumed by the public with certain rewards. They are an excluded part of upper class prostitution. In Islamic perspective, women are not created to be oppressed by others. The further analysis is by labelling them with wrong and sin, it will have an impact that they will run away from religion. An approach with violence and judging (vigintalism) will not solve the problem. For wonan and their consumer, the space for freedom of sexuality should not be disturbed by anyone].
STUDI FATWA AL-LAJNAH AL-DAIMAH LI AL-BUHUS AL-ILMIYAH WA AL-IFTA’: KRITIK ATAS LARANGAN MAHAR PERNIKAHAN BERUPA HAFALAN AL-QUR’AN Irawan, Ibnu; Jayusman, Jayusman; Hermanto, Agus
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1834

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian pustaka yang mengkaji fatwa pelarangan mahar hafalan al-Qur?an. Sebagai alat analisis teori al-urf sangat tepat digunakan untuk memadukan kesenjangan tradisi yang berkembang dengan fatwa pelarangan tradisi tersebut. Tulisan ini mengkritisi fatwa tersebut dan menyimpukan; Pertama, fatwa mengedepankan aspek teoritis dan kurang memperhatikan aspek praktis yang tengah terjadi pada masyarakat. Kedua, metodelogi istinbat dalam berfatwa yang dilakukan adalah mengutamakan dalil-dalil muttafaq serta menomerduakan dalil-dalil mukhtalaf, sedangkan al-urf terkategori pada mukhtalaf sehingga kurang diperhatikan. Ketiga, Penulisan teks fatwa yang ada dianggap sangat singkat dan memerlukan kajian lebih lanjut agar memperoleh pemahaman dari maksud dari fatwa tersebut, sehingga menimbulkan kegamangan dan berpotensi menimbulkan silang pendapat. Keempat, prinsip fatwa yang digulirkan adalah berlepas dari mazhab tertentu, hal ini dianggap tidak sejalan dengan apa yang direkomendasikan oleh fukaha dan jauh dari mengayomi, karena proses beragama suatu masyarakat hendaknya memulainya dengan mengikuti mazhab tertentu agar tidak salah arah, dan tetap di dalam koridor keislaman yang benar. [This paper criticizes the fatwa on the prohibition of memorizing the Qur'an. As an analysis tool, al-urf theory is very appropriate to be used to integrate the growing of tradition gap with the fatwa prohibiting that tradition. This paper concludes; First, the fatwa emphasizes the theoretical aspects and pays little attention to the practical aspects that are happening to the community. Second, istinbat methodology in performing the obedience carried out is to prioritize the arguments of muttafaq as well as to put forward the arguments of the mukhtalaf, while the al-urf is categorized in the mukhtalaf so that it is heedless. Third, the writing of the existing fatwa text is considered to be very high and requires further study in order to gain an understanding the purpose of the fatwa, thus causing confusion and the possibility of the conflict. Fourth, the fatwa principle that is rolled out is not depend on a certain schools, by contrast with the recommendation of the jurist, because the religious process of a community should start by following the certain schools in order to remain stay in the Islamic pathway].
STRATEGI MEWUJUDKAN LAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN IAIN PONOROGO Mujiati, Mujiati
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1728

Abstract

Layanan prima menjadi salah satu hal yang harus diwujudkan oleh perpustakaan agar pengunjung memperoleh kenyamanan dan dapat mengambil manfaat dari keberadaan perpustakaan. Artikel ini memaparkan bagaimana kondisi perpustakaan STAIN Ponorogo setelah upaya pelayanan prima dilakukan utamanya pada peralihan status dari STAIN menjadi IAIN Ponorogo. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa perpustakaan IAIN Ponorogo telah melakukan berbagai macam upaya yakni: strategi menyediakan koleksi buku yang lengkap, layanan mandiri peminjaman kunci dengan tiga komputer, memberikan attention yang lebih, memberikan pelatihan/training ORS (Online Research Skill) setiap hari jum?at, selving setiap hari dengan bantuan Office Boy, penghitungan denda dengan otomasi komputer, pelayanan kartu kunjung, kartu sakti dan layanan silang antar perpustakaan, penyimpanan barang di loker dan penggunaan cctv, request buku baru, penelusuran buku dengan menggunakan komputer OPAC, dan ketepatan jam buka layanan, serta memberikan layanan yang ramah dan cepat. Meskipun demikian masih terdapat kekurangan dalam pelayanan yakni layanan yang ramah dan cepat tersebut belum konsisten. [Excellent service is one of the things that must be realized by the library so that visitors get comfort and can take the advantage of the library existence. This article describes how the condition of the STAIN Ponorogo library after the efforts of excellent service is carried out primarily on the transition of status from STAIN to IAIN Ponorogo. The results of the study shows that IAIN Ponorogo library has made various efforts namely: a strategy of providing a complete collection of books, key lending independent services with three computers, giving more attention, providing training/ORS (Online Research Skill) training every Friday , arranging the book (selving) every day with the help of Office Boy, calculating fines with computer automation, visiting card services, magic cards and cross services between libraries, storing goods in lockers and using cctv, request for the new books, searching books using OPAC computers, and accuracy in opening hours service, as well as providing friendly and fast service. Nonetheless is still lacking of friendly and fast service].