cover
Contact Name
Dr. Evi Mu'afiah
Contact Email
muafiahevi@gmail.com
Phone
(0352) 481277
Journal Mail Official
-
Editorial Address
LPPM IAIN Ponorogo Jl. Pramuka No.156 Ponorogo
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam
ISSN : 19076371     EISSN : 25279254     DOI : -
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam is a journal based on Islamic research published by Institute for Research and Community Services, State Islamic Institute of Ponorogo. This journal first published in 2007 to facilitate the publication of research, articles, and book review. The Journal issued biannually in June and December.
Articles 420 Documents
Rekonstruksi Metodologi Hadits Kontemporer ( Telaah Atas Metode Takhrij Kontekstual ) Rumtianing, Irma
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1581.642 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v12i2.1521

Abstract

Mayoritas umat Islam telah sepakat bahwa hadits merupakan sumber ajaran agama kedua setelah al-Qur?an. Kedudukan hadits sebagai mashadirul ahkam tidak akan pernah berubah, akan tetapi pemahaman hadits bisa berubah karena ajaran Islam yang termaktub di dalam al-hadits dituntut untuk sesuai dengan perkembangan zaman (mashalih likulli zaman wa makan ). Tulisan ini bermaksud menawarkan metode baru dalam memahami hadits dengan cara merekonstruksi metodologi hadits menggunakan metode takhrij kontekstual, yaitu sebuah metode yang dapat digunakan sebagai usaha untuk meretas kebekuan kajian hadits dengan memahami hadits secara aktual dan kontekstual. Hadits yang selama ini dipandang shahih dan termaktub dalam shahih Bukhari-Muslim dipandang perlu untuk dikaji ulang dengan menggunakan beberapa pendekatan yaitu; pendekatan  historis, sosiologis, antropologis, bahasa, psikologi, kultural dan pendekatan ilmu pengetahuan. Diharapkan tulisan berikut mampu merekonstruksi metode baru dalam memahami hadits sesuai dengan kontek kehidupan saat ini. Dengan menggabungkan antara analisis sanad, analisis matan dan reinterpretasi pemahaman serta menggunakan beberapa  pendekatan diatas, diharapkan hadits lebih dapat dimaknai sesuai dengan konteks kekinian, sehingga lebih dapat memberikan pemahaman yang tepat sesuai dengan kebutuhan umat.
STATUS WANITA DI NEGARA MUSLIM MODERN: STUDI TERHADAP HUKUM KELUARGA DI TUNISIA DAN INDONESIA Noviana, Lia
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1832

Abstract

Salah satu fenomena penting yang muncul di dunia muslim sejak awal abad ke-20 adalah adanya upaya pembaharuan hukum keluarga di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim baik dengan metode intra doctrinal reform maupun extra doctrinal reform. Adapun tujuan pembaharuan hukum keluarga di antaranya ialah untuk unifikasi hukum, tuntutan peningkatan status wanita dan merespon perkembangan masyarakat yang selalu bergerak dinamis. Dapat dikatakan bahwa tujuan kedua ini merupakan tujuan dari reformasi Undang-Undang Perkawinan di mayoritas negara-negara muslim, meskipun tidak menutup kemungkinan di beberapa negara mencakup beberapa tujuan sekaligus. Dengan menggunakan metode descriptive comparative, penelitian ini membahas tentang materi-materi pembaharuan hukum keluarga dan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya pembaharuan hukum keluarga di negara Tunisia dan Indonesia. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa adanya pembaharuan hukum keluarga di Tunisia tidak lepas dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal: pengaruh Prancis dalam usaha sekularisasi dan pengaruh Habib Bourguiba yang berhasrat menjadikan Tunisia sebagai negara sekuler dan faktor internal: adanya reinterpretasi nash Al-Qur?an dan peningkatan status wanita di Tunisia. Sedangkan pembaharuan hukum keluarga di Indonesia dilatarbelakangi oleh adanya heterogenitas masyarakat dan usaha unifikasi hukum.One important phenomenon that has emerged in the Muslim world since the beginning of the 20th century is the effort to reform family law in Muslim-majority countries with both intra-doctrinal reform and extra doctrinal reform methods. Some of the objectives of the renewal of family law are to unify the law, to legalize women?s equal rights, and to respond to the dynamic development of a society. It is well known that the legalization of women?s equal rights is mostly becomes the main goal in reforming the Marriage Law in the majority of Muslim countries, although some countries may also put other goals at once. Using descriptive-comparative methods, this study attempts to discuss the renewal material of family law and the factors that underlie the renewal in Indonesia and Tunisia. The results of the study show that the renewal of family law in Tunisia is inseparably influenced by two factors; namely external factors: the influence of France in their secularization efforts as well as the influence of Habib Bourguiba, who desires to make Tunisia as a secular state; and the internal factors: the reinterpretation of the Qur'anic text and some efforts done in Tunisia to improve the women?s status. On the other hand, the renewal of family law in Indonesia is motivated by the heterogeneity of the community and the effort of law unification.
Integrating Education Character Into Reading Materials In Tarbiyah And Teachers’ Training Faculty Of Iain Ponorogo Khasanah, Nurul
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1340.42 KB) | DOI: 10.21154/.v12i2.1510

Abstract

This research and development (RnD) aimed at developing reading materials in basic reading course for second semester students of English Department of IAIN Ponorogo. This study used ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) model proposed by Florida State University. To collect the data, questionnaire, observation sheets, interview, and test applied. The need analysis conducted by distributing questionnaire to the students and delivering interview to the head of the English Department. The result of need analysis indicates that the students and the head of English department are agreed to integrate character education into reading materials. The education character that are integrated in the reading materials are religiosity, honesty, tolerance, discipline, creativity, curiosity, and fond of reading.
ANALISIS YURIDIS PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PEREDARAN OBAT TRADISIONAL BERBAHAN KIMIA OBAT Roihanah, Rifah
Kodifikasia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.604 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1681

Abstract

Masyarakat Indonesia berkembang berbagai obat tradisional. Namun, banyak beredar di pasaran beberapa obat tradisional yang didalamnya dicampuri bahan kimia obat (BKO). Peraturan yang mengandung aspek perlindungan konsumen obat tradisional sebetulnya telah ada dan tersebar dalam berbagai peraturan di Indonesia. Rumusan masalah penelitian ini tentang dasar hukum perlindungan konsumen terhadap peredaran obat tradisional yang mengandung BKO dan analisis yuridis perlindungan konsumen terhadap peredaran obat tradisional yang mengandung BKO. Jenis penelitian ini adalah penelitian Library Research, dengan pendekatan deskriptif analitis. Dari hasil penelitian diperoleh, pertama: Peraturan perundang-undangan yang mengatur perlindungan konsumen dapat dikelompokkan dalam empat bagian, yaitu: bidang perindustrian, perdagangan, kesehatan dan lingkungan hidup. Dasar hukum perlindungan konsumen obat tradisional BKO terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, dapat pula dijumpai dalam UUD 1945, KUH Perdata, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan dan Permenkes RI Nomor: 246/Menkes/ Per/V/1990. Kedua, masalah perlindungan konsumen terhadap peredaran obat tradisional BKO ini tidak dapat dipisahkan dengan tahapan-tahapan transaksi konsumen lainnya. Yang berlaku bukan lagi caveat emptor (bahwa konsumenlah yang harus berhati-hati), tetapi caveat venditor yaitu produsen/ penjual/penyalur produk atau kreditorlah yang harus bertanggung jawab, yang lazim disebut tanggung jawab produk. Dengan kata lain undang-undang tersebut hanya mengatur kepentingan konsumen dari sisi produsen atau pelaku usaha. Sementara dari sisi lain yang terpenting, hak-hak konsumen terabaikan. Indonesian people develop various traditional medicines. However, many are circulating in the market some traditional medicines in which are mixed with medicinal chemicals. Regulations that contain aspects of consumer protection for traditional medicines actually exist and are spread in various regulations in Indonesia. The formulation of the problem of this research is about the legal basis of consumer protection against the circulation of traditional medicins containing medicinal chemicals and the juridical analysis of consumer protection against the circulation of traditional medicins containing medicinal chemicals. This type of research is library research, with an analytical descriptive approach. From the results of the study, first: laws that regulate consumer protection can be grouped into four parts, namely: the fields of industry, trade, health and the environment. The legal basis for the protection of consumers of traditional medicinal chemicals medicins contained in the regulation of law about consumer protection 1999 Number 8 and also in the regulation of law about health in 1992 point 23. Moreover, it can also be found in in the KUH Perdata 1945 and then in the regulation of law about Trade 2014 number 7, regulation of law about industry 2014  number 3, in the regulation of Law 2012 about Food, number 18 and the Government Regulation 1999 about Labels and Advertisement of Food 1999 Number 69 and Minister of Health Regulation 1990 Number 246. Secondly, the problem of consumer protection against the circulation of traditional medicinal chemicals medicins cannot be separated from the steps of the other consumer transactions. What applies is no longer the caveat venditor (that consumers must be careful), but the caveat venditor, which is the producer/seller/distributor of the product or the creditor, must be responsible, which is commonly called product responsibility. In other words, the law only regulates the interests of consumers in terms of producers or business actors. While from the other important side, consumer rights are neglected.
DARI PLURALISME DISINTEGRATIF MENUJU PLURALISME INTEGRATIF (Analisis Interaksionisme Simbolik Masyarakat Beda Agama di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri) Wibowo, Arif; Umami, Khairil
Kodifikasia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.905 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1684

Abstract

Pluralisme agama seringkali dijadikan sebagai sarana pemicu timbulnya konflik sosial sehingga pluralisme agama menimbulkan pluralisme yang disintegratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbol dan makna simbol dalam interaksi sosial masyarakat kelurahan Karang Slogohimo Wonogiri yang  mampu menjadikan pluralisme integratif. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan sosiologi dari pemikiran G.H. Mead tentang interaksionisme simbolik sebagai pisau analisa. Objek sekaligus fokus penelitian ini adalah masyarakat beda agama di kelurahan Karang Slogohimo. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan metode deskriptif, data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi dan wawancara mendalam. Hasilnya adalah bahwa simbol?simbol yang digunakan masyarakat Karang dalam interaksi sosial secara umum  melalui dua bentuk yaitu verbal dan non verbal. Kemudian Pemaknaan atas simbol?simbol tersebut dapat dikatagorikan menjadi tiga yaitu mind, self dan society sebagaimana maksud dari teori interaksionisme simbolik. Mind (pikiran) masyarakat Karang tentu sangat beragam yang dipengaruhi oleh berbagai latar belakang yang berbeda?beda namun ada konsep mind dalam sebagian besar masyarakat Karang beranggapan bahwa agama adalah ?ageman, terhadap saudara lain ?podho kulit lan balunge? sehingga perbedaan agama tidak menjadi suatu persoalan. Konsep Self (diri) faktor ?Me? lebih dominan dari pada faktor ?I? sehingga kecenderungan egois tidak begitu tampak. Adapun Konsep Society (masyarakat) mereka memiliki rasa peduli dan ada kecenderungan untuk interaksi sosial dengan masyarakat di sekitarnya, sehingga baik particular other maupun generalized other dapat berfungsi sebagai kontrol sosial yang baik. Religious pluralism is often used as a means of triggering social conflicts so that religious pluralism creates disintegrative pluralism. This study aims to determine the symbols and meanings of symbols in the social interaction of the people of the Wonogiri Karang Slogohimo village that can make integrative pluralism. To achieve the objectives of this study, researchers used the sociological approach of G.H. Mead thinking about symbolic interactionism as a knife of analysis. The object as well as the focus of this research is the religiously diverse community in Karang Slogohimo village. This research is a descriptive field research method, data collected through documentation, observation and in-depth interviews. The result is that the symbols used by the Karang community in general social interaction through two forms, namely verbal and non verbal. Then the meaning of the symbols can be categorized into three, namely mind, self and society as intended by the theory of symbolic interactionism. The mind of the Karang community is certainly very diverse which is influenced by a variety of different backgrounds, but there is a mind concept in most Karang people who think that religion is "ageman, against another brother" podho kulit lan balunge "so that religious differences do not become a problem. The concept of Self factor "Me" is more dominant than the factor "I" so that selfish tendencies are not so visible. The concept of the Society (community) they have a sense of caring and there is a tendency for social interaction with the surrounding community, so that both the other particular and other generalized can function as good social control.
Eksklusivisme Komunitas Islam-Hindu (Analisis Tindakan Sosial Komunitas Beda Agama di Dusun Semanding Loceret Nganjuk) Ulfah, Isnatin
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1854.156 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v12i2.1522

Abstract

Relasi sosial-keagamaan komunitas beda agama Islam dan Hindu di Dusun Semanding sebelum didirikan pura dan masjid berjalan inklusif. Tetapi keadaan Semanding berubah setelah pura didirikan pada  tahun 2001. Berdirinya pura ternyata berimbas pada kegelisaan identitas komunitas muslim, sehingga umat Islam mendirikan masjid yang dijadikan sebagai wadah berkumpulnya komunitas muslim Dusun Semanding. Perubahan relasi sosial-keagamaan pasca berdirinya pura dan masjid itulah yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini menghasilkan temuan, dalam ruang publik saat hajatan perkawinan, ada kematian, atau saat bekerja di sawah masyarakat Semanding bersikap inklusif. Tetapi di wilayah privat yaitu wilayah identitas agama dan ideologi, mereka bersifat eksklusif seperti keengganan memenuhi undangan acara-acara besar antar agama. Ada empat tindakan yang menjadi motif tindakan sosial tersebut, yaitu motif instrument, motif nilai, motif afektif, dan motif tradisional.
PENANAMAN NILAI MULTIKULTURAL MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL DI RA PSM NGRONGGOT NGANJUK Dewi, Miftah Kusuma
Kodifikasia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i2.1846

Abstract

Keberagaman masyarakat Indonesia yang multicultural merupakan sebuah kenyataan yang tak terbantahkan. Multikultural hadir dengan berbagai bentuk diantaranya status sosial budaya yang meliputi latar belakang, tempat, agama, ras, suku. Oleh karena itu penanaman nilai multikultural perlu diajarkan sejak dini pada anak usia dini dengan harapan mereka dapat menghargai sesama dan tidak saling mengejek antar teman. Pembelajaran tentang nilai-nilai multikultural dapat dilakukan dengan cara yang bervariasi dan tentunya menyenangkan dan mengena pada anak, salah satunya adalah dengan permainan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang penanaman nilai multikutral melalui permainan tradisional pada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dan menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari guru berdasarkan wawancara,  observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwa nilai multikultural dalam permainan tradisional  diantaranya sikap toleransi, sikap saling mempercayai, sikap keadilan dan demokrasi, sikap kebersamaan dan sikap tolong menolong. Sedangkan proses penanaman nilai-nilai multikultural dalam permainan tradisional pada anak usia dini dengan cara perencanaan, praktek langsung melalui kegiatan main dan pembiasaan yang dilakukan sehari-hariThe diversity of Indonesian society that is multicultural is an undeniable reality. Multicultural comes in various forms including socio-cultural status which includes background, place, religion, race, ethnicity. Therefore multicultural value inculcation needs to be taught early on in early childhood in the hope that they can respect each other and not mock one another among friends. Learning about multicultural values can be done in a variety of ways and of course fun and enjoyable for children, one of which is with traditional games. This study aims to describe the inculcation of multicultural values through traditional play in early childhood. This research uses a descriptive qualitative approach. And using qualitative data obtained from teachers based on interviews, observations and documentation. The results obtained are that multicultural values in traditional games include tolerance, mutual trust, justice and democracy, togetherness and helping. While the process of planting multicultural values in traditional games in early childhood by means of planning, direct practice through play activities and daily habituation.
Pengembangan Bahan Ajar Muthala'ah Berbasis Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa Jurusan PBA IAIN Ponorogo Chusna, Aliba'ul
Kodifikasia Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.174 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v12i2.1515

Abstract

Kebutuhan akan bahan ajar menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Terlebih dalam pembelajaran keterampilan membaca atau yang dikenal dengan mata kuliah muthola?ah di jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIN Ponorogo. Bahan ajar menjadi sesuatu yang mutlak dibutuhkan karena mahasiswa dituntut untuk mampu menguasai isi bacaan, tidak hanya sebatas simbol-simbol atau kaidah bahasa. Ketiadaan bahan ajar dalam mata kuliah ini menjadikan pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik, sehingga perlu adanya sebuah langkah pengembangan bahan ajar supaya proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar muthola?ah I berbasis pendidikan karakter. Pengembangan bahan ajar ini diawali dengan tahap perencanaan dan pengembangan produk. Melalui pendekatan kuantitatif, jenis penelitian RnD, yaitu ADDIE model. Kesimpulan hasil validasi dari para ahli menunjukkan angka 75,27%, yang artinya termasuk dalam kriteria layak dan membutuhkan revisi seperlunya. Setelah peneliti melakukan revisi dari hasil validasi dari para ahli, uji coba bahan ajar muthola?ah I berbasis pendidikan karakter, menghasilkan nilai uji-t sebesar 88,75% yang termasuk dalam kategori sangat baik dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Selain untuk memenuhi ketersediaan, pengembangan bahan ajar ini diarahkan pada naskah-naskah bermuatan pendidikan karakter yang diharapkan mampu memberikan pemahaman akan penanaman nilai-nilai karakter bagi mahasiswa.
PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK Muklisin, Muklisin; Diantoro, Fery
Kodifikasia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.263 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1709

Abstract

Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 yang belum secara penuh dipahami oleh guru mengakibatkan kurang menarik perhatian peserta didik yang berakibat pada menurunnya motivasi belajar dan berimbas pada rendahnya hasil belajar. Penggunaan pendekatan saintifik dengan tepat dipandang dapat memberikan pengaruh terhadap motivasi dan dapat meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini menekankan pada pengaruh pendekatan saintifik dan motivasi belajar terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Al-Qur?an-Hadist. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik di MTs Negeri se Kabupaten Trenggalek. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 104 peserta didik. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskripsi dan analisis inferensial. Dari hasil penelitian ini, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara pendekatan saintifik dan motivasi belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran Al-Qur?an-Hadist di MTs Negeri se Kabupaten Trenggalek. Pendekatan saintifik memberi pengaruh sebesar 18,7% dan motivasi belajar memberikan pengaruh sebesar 17,8%. Secara bersama-sama terdapat interaksi yang positif dan signifikan antara pendekatan saintifik dan motivasi belajar terhadap hasil belajar peserta didik sebesar 21,5%. The learning process in kurikulum 2013 that has not been fully understood by the teacher results in less attracting the attention of students which results in a decrease in learning motivation and an impact on the low learning outcomes. The use of a scientific approach is rightly seen to have an influence on motivation and can improve learning outcomes. This study emphasizes the influence of the scientific approach and learning motivation on the learning outcomes of students in the subjects of Al-Qur'an-Hadist. The research method uses a quantitative approach with a survey method. The population in this study were all students MTsN in Trenggalek Regency. The sample in this study amounted to 104 students. Data analysis used is description analysis and inferential analysis. From the results of this study, there is a positive and significant influence between the scientific approach and learning motivation towards the learning outcomes of the Al-Qur'an-Hadist subjects in MTsN Trenggalek Regency. The scientific approach has an effect of 18.7% and learning motivation has an effect of 17.8%. Together there is a positive and significant interaction between the scientific approach and learning motivation towards student learning outcomes of 21.5%.
PARADIGMA HUKUM ISLAM TEOANTROPOSENTRIS: TELAAH PARADIGMATIS PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN DAN ABDULLAH SAEED Rohmanu, Abid
Kodifikasia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.745 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v13i1.1679

Abstract

Penelitian ini ingin melihat bagaimana paradigma dan teori penafsiran hukum Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed. Teori penafsiran Rahman (double movement) dan Saeed (teori kontekstual), penulis hipotesakan mempunyai sandaran paradigmatis yang mapan. Dalam konteks inilah, tulisan ini juga ingin menelisik bagaimana relasi paradigma dan teori penafsiran hukum mereka berdua. Hal ini penting karena telah terjadi krisis paradigmatis dalam studi hukum Islam, yakni terpisahnya wacana teologi sebagai basis paradigmatis hukum dengan wacana hukum Islam itu sendiri. Tulisan ini berbentuk kajian pustaka terhadap pemikiran Rahman dan Saeed. Sebagai alat analisis, penulis memakai teori paradigma sebagaimana digagas oleh Thomas Kuhn dan yang dikembangkan oleh pemikir lain semisal Kuntowijoyo dan Hans Kung. Tulisan ini menyimpulkan, pertama, paradigma Rahman dan Saeed berporos pada visi teologis yang telah bergeser dari teosentris atau antroposentris ke teoantroposentris. Pergeseran visi teologis tersebut adalah dari keimanan tauhidi yang abstrak ke yang fungsional, dari keadilan formal ke keadilan yang substantif, dari peran akal sebagai the logic of justivication and repetition ke the logic of discovery, dari keterbelengguan manusia (fatalisme) ke kebebasan (freedom). Kedua, konsisten dengan paradigma di atas, Rahman dan Saeed merumuskan teori double movement (gerakan ganda) dan teori kontekstual. Teori kontekstual Saeed adalah pengembangan lebih lanjut dari teori gerakan ganda Rahman. Saeed memperjelas bentuk teori gerakan ganda dan merumuskan hirarki nilai. karena itu penulis mensintesakan teori keduanya sebagai penalaran reflektif hukum berbasis nilai maqa>s}id.   This study wants to see how the paradigm and the theory of law interpretation of Fazlur Rahman and Abdullah Saeed. The theory of Rahman (double movement) and Saeed's interpretation (contextual theory), the hypothesis writer has an established paradigmatic backrest. In this context, this paper also wants to explore how the relations of paradigms and the theory of legal interpretation both of them. This is important because there has been a paradigmatic crisis in the study of Islamic law, namely the separation of theological discourse as a paradigmatic basis of law with the discourse of Islamic law it self. This paper takes the form of a literature study of the thoughts of Rahman and Saeed. As an analysis tool, the author uses paradigm theory as initiated by Thomas Kuhn and developed by other thinkers such as Kuntowijoyo and Hans Kung. This paper concludes, first, that the paradigm of Rahman and Saeed pivots on the theological vision that has shifted from theocentric or anthropocentric to theoanthropocentric. The theological vision shift is from the tauhidi faith which is abstract to the functional, from formal justice to substantive justice, from the role of reason as the logic of justification and repetition to the logic of discovery, from human reluctance (fatalism) to freedom. Second, consistent with the paradigm above, Rahman and Saeed formulated the theory of double movement and contextual theory. Saeed's contextual theory is a further development of Rahman's double movement theory. Saeed clarified the form of double movement theory and formulated a value hierarchy. Therefore the author synthesizes the second theory as a value-based legal reflective reasoning.