cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 52 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2015)" : 52 Documents clear
Pengaruh Media Promosi Kesehatan tentang ASI Eksklusif terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Padang Tahun 2014 Binarni Suhertusi; Desmiwarti Desmiwarti; Emi Nurjasmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.177

Abstract

AbstrakUpaya meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif sudah banyak dilakukan, diantaranya dalam bentuk promosi kesehatan. Namun demikian hingga saat ini kegiatan tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal terutama dalam hal penggunaan media. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan menggunakan media leaflet dan media film. Ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi-experimental) dengan rancangan pretest-posttest group design. Dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas Lubuk Begalung Padang tahun 2014. Subjek penelitian adalah ibu hamil sebanyak 42 orang yang dipilih dengan cara simple random sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama menggunakan media leaflet dan kelompok kedua dengan media film. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah promosi kesehatan dan uji Mann-Whitney membandingkan kedua media promosi kesehatan. Rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan promosi kesehatan dengan media leaflet 8,71 dan setelahnya 11,52. Pada media film sebelum diberikan promosi kesehatan 7,90 dan setelahnya 13,19. Selisih nilai pengetahuan responden dengan media leaflet 2,81 dan media film 5,29. Ada peningkatan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberi promosi kesehatan dengan media leaflet dan media film. Media film lebih efektif meningkatkan pengetahuan dibanding dengan media leaflet.Kata kunci: ASI eksklusif, leaflet, filmAbstractVarious attempts have been taken to improve the granting of exclusive breastfeeding, one of them is health promotion. Nonetheless, the health promotion has not shown the optimal result especially on the use of media. The objective of this study was to determine the effect of health promotion regarding exclusive breastfeeding on the knowledge improvement of pregnant mothers either by using leaflet or film media. This was a quasi-experimental study with pretest-posttest group design. This study was conducted in the area of Lubuk Begalung health center Padang in 2014. The subjects were 42 pregnant women, choosen by using simple random sampling. The subject were divided into two categories. The first category was given a health promotion by using leaflet as the media and the second category was given by using film as the media. The data analyzed by using Wilcoxon Signed Rank Test to compare the knowledge of respondent before and after being given promotion and Mann-Whitney test to compare both of media. The average of respondent knowledge before being given health promotion by using leaflet was 8.71 and after being given health promotion was 11.52. In media film, the average of knowledge before was 7.90 and after was 13.19. The deviation of knowledge value of leaflet was 2.81 and film was 5.29. There is a significant knowledge improvement before and after being given the health promotion either by leaflet or film. Film is more effective in improving the knowledge of pregnant mothers compare than leaflet.Keywords:Exclusive Breastfeeding, leaflet, film
Gambaran Tingkat Depresi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUP DR. M. Djamil Padang Fitri Amalia; Nadjmir Nadjmir; Syaiful Azmi Azmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.209

Abstract

AbstrakDepresi merupakan salah satu dari gangguan mood yang utama. Tanda dan gejala lain gangguan mood adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual dan irama biologis lainnya. Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, social, dan pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat depresi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study. Subjek diambil dari seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling, Subjek yang memenuhi kriteria inklusi diwawancarai menggunakan The Hamilton Rating Scale For Depression dari seluruh populasi didapatkan 16 subjek yang memenuhi kriteria. Hasil yang didapatkan ialah 9 responden (56,25%) tidak mengalami depresi, depresi ringan 6 responden (37,50%) dan depresi sedang 1 responden (6,25%). Dapat disimpulkan tingkat depresi terbanyak pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP DR. M. Djamil tahun 2013 adalah tingkat depresi ringan. Karakteristik responden terbanyak yang mengalami depresi adalah sebagai berikut: umur 40-49 tahun, perempuan, menikah, berpendidikan terakhir SMA, pekerjaan ibu rumah tangga dan tidak bekerja.Kata kunci: depresi, penyakit ginjal kronik, hemodialisisAbstractDepression is one of the major of mood disorders. Other signs and symptoms of mood disorders are changes in the level of activity, cognitive ability, speech and vegetative functions such as sleep, appetite, sexual activity and other biological rhythms. Such changes always lead to malfunction of interpersonal, social and employment. The objective of this study was to describe the level of depression in patients with chronic kidney disease who undergoing hemodialysis at RSUP Dr. M. Djamil Padang. This was a descriptive study using a cross sectional design. Subject were taken from the entire population who met the inclusion criteria using total sampling technique, subject who met the inclusion criteria were interviewed using the Hamilton Rating Scale for Depression, of the entire population obtained 16 subjects that meet the criteria. From this study, a 9 respondents (56.25%) did not experience depression, 6 respondents (37.50%) mild depression and 1 respondent (6.25%) moderate depression. It can be concluded highest rates of depression in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at RSUP DR. M. Djamil Padang in 2013 in the level of mild depression. Most characteristics of the respondents who were depressed were as follows : age 40-49 years, female, married, educated, past high school, housewives work and do not work, 13-18 months undergoing hemodialysis.Keywords: depression, chronic kidney disease, hemodialysis
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Tahun 2013 Shabrina Izzati; Masrul Basyar; Julizar Nazar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.232

Abstract

AbstrakTuberkulosis (TB) paru di wilayah kerja Puskesmas Andalas menduduki peringkat ke-2 kasus TB terbanyak di kota Padang.Belum banyak penelitian sebelumnya mengenai faktor risiko tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktror risiko apa yang berhubungan dengan kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Andalas tahun 2013. Adapun faktor risiko yang diteliti yakni berupa status gizi, riwayat penyakit diabetes mellitus (DM), kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian rumah, dan pencahayaan rumah.Penelitian ini menggunakan desain case control.Sampel pada penelitian ini berjumlah 66, yakni terdiri dari 33 kasus (didapat dari rekam medis Puskesmas Andalas) dan 33 kontrol (sesuai kriteria inklusi kontrol).Data primer diperoleh dari wawancara dan pengukuran lansung. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square didapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru adalah status gizi riwayat penyakit DM, kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan pencahayaan rumah. Status gizi dan pencahayaan rumah secara statistic memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB paru, sedangkan riwayat penyakit DM, ventilasi dan kepadatan hunian secara statistik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB paru.Kata kunci: tuberkulosis paru, faktor risikoAbstractPulmonary Tuberculosis in Andalas Public Health Center was where the second largest number of TB cases found in 2012. There is not many study before about risk factors of pulmonary tuberculosis in the working area of Andalas Pulic Health Care. This study aims to know what are the risk factors of Pulmonary Tuberculosis in the working area of Andalas public health center in 2013. The risk factors were studied in this study are nutritional status, Diabetes mellitus, home ventilation, home occupancy density, and home lighting. This Study used a case control design. Samples in this study were 66 respondent consisting of 33 cases (obtained from medical record of Andalas public health center) and 33 controls (according to the inclusion criteria of controls). Primary data was got by interviews and direct measurement. The result of statistical test using chi square test can be concluded that risk factors that associated with pulmonary tuberculosis are nutritional status, diabetes mellitus, home ventilation, home occupancy density, and home lighting. Nutritional status and home lightting statistically are associated with pulmonary tuberculosis. In the other hand Diabetes mellitus history, home ventilation, and home occupancy density statistically are not associated with pulmonary tuberculosis.Keywords:pulmonary tuberculosis, risk factors
Hubungan Pelaksanaan Strategi Directly Observed Treatment Short Course dengan Hasil Pengobatan Tuberkulosis Paru Puskesmas Padang Pasir Kota Padang 2011-2013 Nurmadya Nurmadya; Irvan Medison; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.223

Abstract

AbstrakTuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah utama kesehatan global di dunia. Pada tahun 2011, Indonesia berada di posisi keempat dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia. Dalam upaya penanggulangan TB, Indonesia telah mengadopsi strategi DOTS sejak tahun 1995. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2011, angka keberhasilan pengobatan di Puskesmas Padang Pasir yaitu 71,43% dan angka ini belum mencapai target nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan strategi DOTS dengan hasil pengobatan TB paru di Puskesmas Padang Pasir Kota Padang. Jenis Penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional study. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada responden menggunakan kuisioner yang kemudian di analisis melalui uji Chi-Square. Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara pelaksanaan komitmen oleh petugas kesehatan (p-value : 0,000), pelaksanaan pemeriksaan dahak (p-value: 0,005, ketersedian OAT (p-value : 0,002) dengan hasil pengobatan TB paru. Hasil uji statistik pada peranan PMO (p-value : 0,185) dan pencatatan pelaporan penderita TB paru (p-value 0,184) menunjukkan tidak terdapat hubungan dengan hasil pengobatan TB paru.Kata kunci: tuberkulosis paru, DOTS, hasil pengobatanAbstractTuberculosis (TB) remains a major problem pulmonary global health in the world. In 2011, Indonesia was in fourth position with the highest number of TB patients in the world. InTB controlefforts, Indonesia hasadopted theDOTS strategysince 1995.Based on the annual report of Padang City Health Department in 2011, the treatment success rate in Padang Pasir Health Center is 71.43% and this figure has not reached the national target. The study aims to determine the relationship implementation of the DOTS strategy with pulmonary TB treatment success in health centers Padang Padang Pasir.This type of study design was cross-sectional analytic study. Data were collected through interviews with respondents using a questionnaire which was then analyzed by chi-square test. The results of the chi -square statistical tests showed that the implementation of commitments by health workers (p - value: 0.000), the implementation of sputum examination (p - value : 0.005), availability of OAT (p - value : 0.002) have a correlation with the results of treatment of pulmonary tuberculosis . While results statistical tests on the role of the PMO (p - value : 0.185) reporting and recording of pulmonary TB patients (p– value : 0.184) showed there was no correlation with the results of treatment of pulmonary tuberculosis.Keywords: pulmonary tuberculosis, DOTS, treatment success
Pengaruh Mobilisasi Ibu Post Partum terhadap Pengeluaran Kolostrum Fitriyanti Fitriyanti; Joserizal Serudji; Sunesni Sunesni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.182

Abstract

AbstrakSasaran Making Pregnancy Safer (MPS) menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) hingga 28 per 1000 kelahiran hidup dengan salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui pemberian kolostrum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mobilisasi ibu post partum terhadap pengeluaran kolostrum. Penelitian ini merupakan quasi eksperimen dengan post test only group design. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil analisis data menunjukkan persentase pengeluaran kolostrum early pada kelompok intervensi 72,2% dan kelompok kontrol 50,0%. Persentase pengeluaran kolostrum late pada kelompok intervensi 27,8% dan kelompok kontrol 50,0%. Tidak terdapat pengaruh bermakna mobilisasi ibu post partum terhadap pengeluaran kolostrum dengan nilai p value 0,305 (>0,05). Tidak terdapat pengaruh bermakna tingkat stres dan IMT ibu terhadap pengeluaran kolostrum dengan nilai p value 1,000 (>0,05). Terdapat pengaruh bermakna daya hisap bayi terhadap pengeluaran kolostrum dengan nilai p value 0,047 (<0,05).Dari hasil penelitian disimpulkan persentase pengeluaran kolostrum early kelompok intervensi lebih besar dibandingkan kelompok kontrol, namun secara statistik tidak terdapat pengaruh bermakna mobilisasi ibu post partum terhadap pengeluaran kolostrum pada kedua kelompok tersebut. Tidak terdapat pengaruh bermakna tingkat stres dan IMT ibu terhadap pengeluaran kolostrum, terdapat pengaruh bermakna daya hisap bayi terhadap pengeluaran kolostrum.Kata kunci: post partum, mobilisasi, kolostrum,AbstractTarget of Making Pregnancy Safer (MPS) to improve Infant Mortality Rate (IMR) to 28 per 1000 live births. One of effort to do is giving colostrum. The objective of this study was to determine the effect of maternal postpartum mobilization against eject of colostrum. This study was a quasi experiment with post-test only group design. Data were analyzed using Chi-square and Fisher’s Exact test. Result of this study showed that early colostrums in the intervention group was 72.2% while in control group only 50%. Late colostrums in intervention group was 27.8% compared 50% in the control group. There was no significant effect between maternal postpartum mobilization against eject of colostrum with p value 0.305 (> 0.05). No significant effect on stress level and Body Mass Index (BMI) and eject of colostrum with p value was 1.000 (> 0.05) but significant effect occurred between infant suction power against colostrums spending with p value was 0.047 (< 0.05). It can be concluded that percentage of early eject of colostrum was greater in intervention group than in control group, but statistically there was no significant effect among maternal postpartum mobilization, stress level and BMI against colostrums spending in both group. Significant effect only showed between infant suction power against colostrums spending.Keywords: postpartum, mobilization, colostrums
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter Hasnal Laily Yarza; Yanwirasti Yanwirasti; Lili Irawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.214

Abstract

AbstrakAntibiotik merupakan obat yang digunakan untuk penyakit infeksi. Tingginya insiden penyakit infeksi mengakibatkan tinggi pula penggunaan antibiotik. Sekarang ini banyak antibiotik digunakan tanpa resep dokter, padahal antibiotik seharusnya digunakan dengan resep dokter dan dibeli di apotik. Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter ini akan menimbulkan resistensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di Kampung Seberang Pebayan RW IV Kelurahan Batang Arau Padang Selatan.Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian cross sectional study analytic dengan subjek 152 orang yang diambil secara simple random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan chi square. Hasil uji statistik chi square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter (p < 0,05), tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan kepemilikan asuransi kesehatan dengan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter (p > 0,05).Kata Kunci : tingkat pengetahuan, sikap, asuransi kesehatan, antibiotik tanpa resep dokterAbstractAntibiotics are medicine while use to infection disease. The high incidence of infectious diseases are resulting in higher use of antibiotics. Now many antibiotics are used without doctors prescription, whereas antibiotics must be used with doctors prescription and bought in drug strore. Use antibiotics without doctors prescription will be impact resistence. The objective of this study was to determine the correlation between the level of knowledge, attitude as well as health insurance towards the use of antibiotics without doctors prescriptions in Kampung Seberang Pebayan RW IV Kelurahan Batang Arau Padang Selatan.This research is conducted using cross sectional analytic study method with 152 people taken as a sample by using simple random sampling. The data analysis was based on univariate and bivariate analysis equipped with chi-square. Statistical test has been conducted by "Chi-Square". It shows that there is a significant correlation between attitude toward the use of antibiotics without doctors prescriptions (p ˂ 0.05), it shows that there is no significant correlation between the level of knowledge and the ownership of health insurance toward the use of antibiotics without doctors prescriptions (p ˂ 0.05).Keywords : knowledge level, attitude, health insurance, antibiotics without doctorspresription
Rinosinusitis Kronis dengan Komplikasi Abses Periorbita Effy Huriyati; Bestari Jaka Budiman; Heru Kurniawan Anwar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.240

Abstract

AbstrakAbses periorbita merupakan salah satu komplikasi dari rinosinusitis baik akut ataupun kronis. Beberapa faktor sangat berperan pada penyebab penyebaran rinosinusitis ke orbita. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik baik THT ataupun Mata, pemeriksaan nasoendoskopi, pemeriksaan penunjang tomografi komputer dengan gambaran perselubungan pada sinus paranasal dan orbita serta MRI. Penatalaksanaan konservatif berupa pemberian antibiotik intravena spektrum luas dan atau kombinasi, dekongestan serta kortikosteroid. Sedangkan pembedahan dapat melalui pendekatan eksternal atau pendekatan bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF). Dilaporkan satu kasus rinosinusitis kronis dengan komplikasi abses periorbita pada laki-laki umur 16 tahun dan telah diberikan terapi konservatif selama 48 jam tetapi tidak ada perbaikan sehingga dilanjutkan dengan pembedahan melalui pendekatan BSEFKata kunci: abses periorbita, rinosinusitis kronis, bedah sinus endoskopiAbstractPeriorbital abscess is a complication of acute or chronic rhinosinusitis. There was some factors can caused the spread of rhinosinusitis into orbital region. Diagnosis can be confirmed by anamnesis, physical examination either ENT department or Opthalmic department, nasoendoscopic, computer tomographic that showed homogenous appearence on the orbital and paranasal sinuses and also MRI. Conservative management with the provision of broad-spectrum and or combination intravenous antibiotics, decongestants and corticosteroid. The surgery management can be performed with esternal approach or functional endoscopic sinus surgery (FESS). One case of chronic rhinosinusitis with complications periorbital abscess in boy aged 16 years old had presented and had given conservative therapy for 48 hours, since there is no improvement, the management then continued with FESS.Keywords: periorbital abscess, chronic rhinosinusitis, endoscopic sinus surgery
Analisis Sistem Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Malalak dan Biaro Kabupaten Agam Ayu Nurdiyan; Desmiwarti Desmiwarti; Rizanda Machmud
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.173

Abstract

AbstrakKelas ibu hamil merupakan sarana belajar bersama bagi ibu hamil agar memperoleh pengetahuan yang cukup untuk mencegah komplikasi, meningkatkan cakupan kunjungan ibu hamil dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sistem pelaksanaan kelas ibu hamil di Puskesmas Malalak dan Biaro Kabupaten Agam. Ini adalah suatu penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara terhadapa informan penelitian yang terdiri dari kepala dan kasie KIA (Kesehatan ibu dan Anak) dinas kesehatan kabupaten, kepala, fasilitator dan kader puskesmas, serta ibu hamil peserta kelas ibu hamil. Analisis input pelaksanaan kelas ibu hamil yaitu masih kurangnya pemahaman dari kebijakan yang sudah ada, tenaga yang belum cukup dan belum dilatih, sarana dan prasarana yang belum memadai. Analisis proses menunjukkan belum ada sosialisasi dengan stakeholder terkait, tahapan persiapan yang kurang matang karena kurangnya pertimbangan latar belakang budaya di Malalak, sehingga ditemukan berbagai kendala dalam hal pelaksanaan. Analisis output yaitu belum ada monitoring dan evaluasi khusus yang dilakukan oleh dinas kesehatan Kabupaten Agam dan kepala puskesmas Malalak. Secara keseluruhan kurangnya peran bidan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pelaksana pelayanan kebidanan di komunitas dan belum adanya kolaborasi antar profesi dalam menjalankan program KIH. Sistem pelaksanaan kelas ibu hamil belum sesuai dengan pedoman pelaksanaan kelas ibu hamil. Perlu berbagai upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan dan mengembangkan pelaksanaan kelas ibu hamil.Kata kunci: puskesmas, analisis sistem, kelas ibu hamilAbstractAntenatal class is a learning tool for pregnant women to obtain sufficient knowledge to prevent complication, increase coverage of antenatal visits and having child delivery at the health care practitioner. The objective of this study was to analyze the system of antenatal class in Malalak and Biaro in Agam District. This is a descriptive qualitative study conducted interviews Informants as chief and section chief of maternal and child health department, head clinics, facilitator, cadre clinics and pregnant women who attend antenatal class. Analysis of input were lack of understanding of policy about antenatal class, lack of human resources and have not been trained for antenatal class, and inadequate infrastructure. Analysis of process showed the absence of socialization with relevant stakeholders, poor preparation which cause by lack of concern in culture in Malalak that make many barriers in implementation. Analysis of output showed the absence of specific monitoring and evaluation by ministry of health department and head of Malalak HC. In the whole system there is a lack of active role of midwife as a midwivery care practitioner in community in performing her duties and functions and there is none of interprofessional collaboration in implementation of this program. System of antenatal classes is not accordance with the guideline of antenatal class. Necessary effort to optimize and expand antenatal class implementation.Keywords: health care, system analysis, antenatal class
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Pelaksanaan SADARI pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Jati Desti Wahyuni; Edison Edison; Wirsma Arif Harahap
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.205

Abstract

AbstrakKanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian yang diakibatkan oleh kanker pada kaum wanita. Upaya deteksi dini kanker payudara sangat penting dilakukan, karena apabila kanker payudara dapat dideteksi pada stadium dini dan diterapi secara tepat sehingga dapat menurunkan angka kematian. Salah satu cara deteksi dini kanker payudara adalah dengan cara Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang merupakan teknik paling mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan biaya. Pelaksanaan SADARI pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu pengetahuan tentang SADARI, dan sikap serta dukungan dari lingkungan sosial. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pelaksanaan SADARI. Penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga di kelurahan Jati dengan sampel sebanyak 48 orang. Cara pengambilan sampel adalah dengan multistage random sampling. Data mengenai tingkat pengetahuan, sikap, data pelaksanaan SADARI didapatkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner yang selanjutnya dianalisis. Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pelaksanaan SADARI cendrung dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan sikap terhadap SADARI.Kata kunci: pengetahuan, sikap, pelaksanaan SADARI.AbstractBreast cancer is one of the leading causes of cancer -related deaths in women. Early detection of breast cancer is very important, because if breast cancer can be detected at an early stage and treated appropriately so as to reduce mortality. One method of early detection of breast cancer is by Breast Self Examination (BSE). It is a technique that is most easily implemented and does not require a fee. Implementation of BSE in a person affected by the knowledge about BSE, and attituded as well as support of the social environment.The objective of this study was to determine correlation between knowledge and attitudes to implementation of BSE This research was an analytic survey with cross-sectional design. The population in this study was a housewife in Keluraha Jati with a sample of 48 people.The sampling is with multistage random sampling. Data on the level of knowledge, attitudes, and implementation of BSE obtained through interviews using questionnaires were then analyzed. Based on this research it was found that the level of implementation of the BSE tend to be influenced by the level of knowledge and attitudes toward BSE.Keywords: knowledge, attitude, implementation, BSE.
Terapi Medikamentosa pada Paralisis Saraf Fasialis Akibat Fraktur Tulang Temporal Jacky Munilson; Yan Edward; Dedy Rusdi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.237

Abstract

AbstrakPendahuluan: Paralisis saraf fasialis merupakan salah satu komplikasi fraktur tulang temporal. Fraktur tulang temporal dapat berupa fraktur longitudinal, transversal maupun campuran. Paralisis saraf fasialis lebih banyak ditemukan pada fraktur tulang transversal dibandingkan longitudinal. Penatalaksanaan paralisis saraf fasialis akibat fraktur tulang temporal masih kontroversi, dapat berupa terapi medikamentosa maupun terapi bedah. Metode: Satu kasus paralisis saraf fasialis akibat fraktur temporal longitudinal tahun yang ditatalaksana dengan terapi medikamentosa. Hasil: Terdapat peningkatan fungsi saraf pasialis dengan terapi medikamentosa pada paralisis parsial saraf fasialis akibat fraktur temporal longitudinal. Diskusi: Penatalaksanaan paralisis saraf fasialis akibat fraktur tulang temporal masih merupakan hal yang kontroversial. Pasien dengan paralisis parsial (House Brackmann II-V) cukup dilakukan observasi dan terapi dengan steroid berupa prednison, sedangkan pada paralisis komplit (House Brackmann VI), terapi medikamentosa dengan steroid dapat dikombinasikan dengan terapi bedah berupa dekompresi atau grafting. Pertimbangan untuk melakukan pembedahan tergantung dari pemeriksaan CT Scan dan tes elektrofisiologisKata kunci: Paralisis saraf fasialis, fraktur tulang temporal, terapi medikamentosaAbstractFacial nerve paralysis is one of the temporal bone fracture complications. Temporal bone fracture is classified as longitudinal, transversal and mixed type. Facial nerve paralysis is more common in transversal rather than longitudinal type. The treatment of facial nerve paralysis due to temporal bone fracture still remain controversial, whether its medical therapy or surgical approach.Methode: One case of facial nerve paralysis caused by longitudinal type of temporal bone fracture has been treated by medical therapy. Result: There is an increase of facial nerve function treated with medical therapy in a case of partial nerve paralysis due to longitudinal type of temporal bone fracture. Discussion: Management of facial nerve paralysis due to temporal bone fracture is still controversial. Patient with partial paralysis (House Brackmann II-V) treated with observation and medical therapy using steroid, whereas complete paralysis (House Brackmann VI) treated with medical therapy using steroid, combine with decompression and grafting surgery. Considerations for surgery depend on computed tomography and electrophysiology examination.Keywords: Facial nerve paralysis, temporal bone fracture, medical therapy

Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue