cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Pengaruh Kurang Tidur terhadap Berat Badan pada Tikus Wistar Jantan Deby Nelsya Eka Putri; Ellyza Nasrul; Machdawaty Masri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.196

Abstract

AbstrakPengurangan durasi tidur menurunkan kadar leptin dan meningkatkan kadar ghrelin sehingga merangsang nafsu makan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya obesitas pada manusia. Pada tikus akan menyebabkan peningkatan asupan makanan tetapi terjadi penurunan berat badan yang disebabkan karena aktivitas yang tinggi pada tikus. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh kurang tidur 24 jam, 48 jam dan 72 jam terhadap berat badan pada tikus Wistar jantan. Jenis penelitian adalah true experimental research dengan rancangan randomized post control group terhadap 14 ekor tikus Wistar yang dibagi atas kelompok kontrol, kelompok perlakuan 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Tikus dikondisikan mengalami paradoxycal sleep deprivation dengan metode modified multiple platform. Asupan makanan diberikan ad libitum dan berat badan diukur setelah pengurangan durasi tidur selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam.Analisis data menggunakan uji Saphiro-Wilk Test dan One-Way ANOVA. Rerata berat badan setelah pengurangan durasi tidur 24 jam adalah 193,6±17,9 gram; setelah 48 jam 179,6±17,3 gram; dan setelah 72 jam 176,7±15,9 gram dibandingkan dengan kontrol 219.6±11,3 gram. Pengurangan durasi tidur 48 jam dan 72 jam dibandingkan dengan kontrol bermakna (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan berat badan pada pengurangan durasi tidur selama 48 jam dan 72 jam.Kata kunci: kurang tidur, berat badan, tikus wistarAbstractSleep deprivation lowers level of leptin and increases level of ghrelin which stimulates appetite and increases the likelihood of obesity in humans. In mice will increases food intake, but decreases the body weight due to high activity in mice. The objective of this study was to examine the effect of sleep deprivation 24 hours, 48 hours and 72 hours on body weight in male Wistar rats. This type of research was a true experimental design research with post randomized control group on 14 Wistar rats were divided into control group, treatment group 24 hours, 48 hours, and 72 hours. Rats conditioned paradoxycal sleep deprivation experienced by the modified multiple platform method. Given ad libitum food intake and body weight were measured after sleep deprivation for 24 hours, 48 hours, and 72 hours. Analysis of the data using the Shapiro-Wilk Test and One-Way ANOVA. The mean of body weight after 24 hour sleep deprivation was 193.6±17.9 g, after 48 hours was 179.6±17.3 g, and after 72 hours was 176.7±15.9 g compared with control was 219.6±11.3 g. Sleep deprivation 48 hours and 72 hours compared with controls was significant (p<0.05). It can be concluded there was reduction of body weight on sleep deprivation for 48 hours and 72 hours.Keywords: sleep deprivation, weight, rats
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Retrofaring pada Anak Dolly Irfandy; Novialdi Novialdi; Dolly Irfandy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i3.91

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Abses retrofaring adalah terkumpulnya nanah di ruang retrofaring yang merupakan salah satu daerah potensial di leher dalam. Abses retrofaring merupakan kasus yang jarang tetapi dapat menyebabkan kematian terutama pada umur di bawah 5 tahun. Sejak ditemukannya antibiotika, angka kesakitan dan kematian akibat abses menurun drastis. Metode: Dilaporkan satu kasus abses retrofaring dengan riwayat ketulangan pada anak gizi kurang umur 9 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi. Pada pemeriksaan foto polos jaringan lunak leher, terlihat gambaran pelebaran ruang retrofaring dan air fluid level. Diskusi: Penatalaksanaan meliputi pemberian antibiotika, drainase dan eksplorasi abses serta perbaikan keadaan umum. Kata kunci: abses retrofaring, benda asing, drainase Abstract Introduction: Retropharyngeal abscess is defined as accumulation pus in retropharyngeal space which is a potential area in deep neck space. Retropharyngeal abscess is a rare case but it can cause death especially in children under five years old. Since antibiotics were found, morbidity and mortality of this case was drastically decreased. Methods: A retropharyngeal abscess of child 9 years old with history of swallowed foreign body (fishbone) and lack of nutrition has been reported. Diagnosis was based on anamnesis, physical examination and radiographic finding. In soft tissue cervical radiograph we found, widening of retropharyngeal space with air fluid level. Discussion: Management for abscess is intravenous antibiotics, drainage and exploration abscess and improve general condition has been performed Keywords:Retropharyngeal abscess, foreign body, drainage
Hubungan Kecanduan Bermain Video Games Kekerasan dengan Perilaku Agresif pada Murid Laki-laki Kelas IV dan V di SD Negeri 02 Cupak Tangah Pauh Kota Padang Rivo Armanda Satria; Adnil Edwin Nurdin; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.228

Abstract

AbstrakPerilaku agresif adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti orang lain, untuk mengekspresikan perasaan negatifnya seperti permusuhan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Terdapat 4 aspek agresivitas, yaitu kemarahan, permusuhan, agresi verbal, dan agresi fisik. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi perilaku agresif adalah kebiasaan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan terhadap prilaku agresif pada murid laki-laki kelas IV dan V di SD Negeri 02 Cupak Tangah Pauh Kota Padang Tahun 2014. Penelitian ini menggunakan disain cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak 83 orang murid laki-laki dari kelas IV dan V di SD N 02 Cupak Tangah Pauh. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada responden menggunakan kuesioner yang kemudian di analisis dengan uji statistik chi-square dengan derajat kepercayaan 95% (0,05).Hasil penelitian menunjukkan persentase responden yang memiliki perilaku agresif lebih tinggi pada responden yang mengalami kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan jika dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan (67,6%:20,4%) dan terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan dengan perilaku agresif (p-value=0,000).Disarankan bagi pihak sekolah agar memiliki program konseling psikologis anak misalnya dalam bentuk UKESWA (usaha kesehatan jiwa) yang termasuk dalam program UKS (usaha kesehatan sekolah) untuk mendeteksi sejak dini perilaku kecanduan anak terhadap video games yang mengandung unsur kekerasan dan perilaku agresif anak sehingga dapat diberikan bimbingan untuk mengatasi kecanduan dan perilaku agresif tersebut agar tidak berlanjut dan menjadi conduct disorder atau perilaku anti sosialKata kunci : agresif, kecanduan, video gamesAbstractAggressive behavior is a behavior that is intended to harm others to express their negative feelings such as hostility to achieve the desired goal. There are four aspects of aggression, namely anger, hostility, verbal aggression, and physical aggression. One of the factors thought to affect aggressive behavior is a habit of playing violent video games. The objective of this study was to determine the relationship of behavioral addiction playing violent video games toward aggressive behavior in boys elementary school grade IV and V in State Elementary School 02 Cupak Tangah Pauh Padang.This study used a cross sectional study design with total sample of 83 students grade IV and V. Data were collected through interviews with respondents using a questionnaire and then analyzed by chi-square test with 95% confidence level (0.05).The results obtained the percentage of respondents who have aggressive behavior was higher in respondents who experienced addicted to playing violent video games compared to those who did not experience the addiction of playing violent video games (67.6% : 20.4%) and there is a significant relationship between addiction playing violence video games with aggressive behavior (p–value = 0.000). It is advisable for the school to have a psychological counseling program for example in the form of UKESWA (mental health efforts) are included in the program UKS (school health unit) for the early detection of children's behavioral addiction to video games and aggressive behavior so that the children can be given guidance to overcome the addiction and aggressive behavior in order not to continue and become a conduct disorder or anti-social behavior.Keywords : addiction, aggressive, video games
Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Depresi pada Penderita Dispepsia Fungsional Yuriko Andre; Rizanda Machmud; Arina Widya Murni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i2.123

Abstract

AbstrakKetidakteraturan makan seperti kebiasaan makan yang buruk, tergesa-gesa, dan jadwal yang tidak teratur dapat menyebabkan dispepsia. Penderita depresi harus ditangani dengan sungguh-sungguh karena dikhawatirkan penderita depresi sangat tidak memperhatikan kesehatan dirinya seperti tidak mematuhi pola makan atau pola makannya menjadi tidak teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian depresi pada penderita dispepsia fungsional. Penelitian bersifat analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah 40 orang penderita dispepsia fungsional. Penelitian dilakukan di kota Padang dengan menggunakan data pasien dispepsia fungsional bulan Januari-Desember 2011. Pengumpulan data dilakukan pada periode Juni-November 2012 dan pengolahan data dilakukan dengan uji korelasi menggunakan sistem komputerisasi. Hasil penelitian didapatkan nilai peluang Odd Ratio (OR) dengan Confidence Interval (CI) 95% pada penderita depresi berpeluang sebesar 4.500 kali lebih besar memiliki pola makan tidak teratur dibandingkan dengan tidak depresi serta menunjukkan derajat hubungan yang cukup kuat dengan tarif signifikansi (p) 0.025 (p < 0.05). Terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian depresi pada penderita dispepsia fungsional.Kata kunci: pola makan, depresi, dispepsia fungsionalAbstractIrregularity of meals as poor eating habits, unhurried, and irregular schedules may cause dyspepsia. Patients with depression should be treated seriously because it was feared people with depression do not pay attention to their own health so as not to comply with the diet or eating patterns become irregular. The aim of this study is to determine the relationship of diet to the incidence of depression in patients with functional dyspepsia. The research is analytic cross sectional design. The subjects were 40 people of functional dyspepsia patients. The study was conducted in the Padang City with functional dyspepsia patients using data from January to December 2011. Data collection was conducted during the period of June to November 2012 and the data processing used correlation test by computerized system. The result was the probability odds ratios (OR) with 95% Confidence Interval (CI) in patients with depression were 4,500 times more likely to have irregular diet compared with non-depressed ones and showed a strong degree of correlation with the significance of correlation (p) 0.025 (p <0.05). There is a significant relationship between the diet and the incidence of depression in patients with functional dyspepsia.Keywords:diet, depression, functional dyspepsia
Hubungan Tingkat Pengetahuan Mengenai Asma dengan Tingkat Kontrol Asma Katerine Katerine; Irvan Medison; Erlina Rustam
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i1.27

Abstract

AbstrakKontrol gejala asma yang baik merupakan tujuan pengobatan bagi pasien asma. Pengobatan medikamentosa dan self management dibutuhkan untuk mencapai kontrol asma. Pengobatan medikamentosa dan self management yang baik akan tercapai jika pasien asma memiliki pengetahuan mengenai asma . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan asma dengan tingkat kontrol asma. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional yang dilaksanakan pada bulan April hingga September 2013 di RSUP Dr. M.Djamil Padang dan RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Subjek penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi akan diwawancara menggunakan lembar kuesioner data dasar, kuesioner AGKQ dan kuesioner ACT. Penelitian ini dilakukan pada 65 orang pasien asma yang datang ke Poliklinik Asma di RSUP Dr.M.Djamil Padang and RSUD Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi selama bulan April hingga September 2013. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square dan pengolahan data menggunakan software SPSS 15. Hasil penelitian menunjukkan dari 65 subjek penelitian, 19 (29,2%) orang dengan asma tidak terkontrol memiliki pengetahuan yang rendah, 1 (1,5%) orang dengan asma terkontrol sebagian dengan tingkat pengetahuan yang rendah dan 1 (1,5%) orang pasien asma terkontrol total memiliki pengetahuan asma yang rendah. Pasien dengan pengetahuan asma rendah didapatkan 21 (32,3%) orang dan pengetahuan asma tinggi 44 (67,7%) orang. Berdasarkan uji chi square, terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan asma dengan tingkat kontrol asma dengan nilai p = < 0,01 (p < 0,05).Kata kunci: Asthma Control Test (ACT), Asthma General Knowledge Questionnaire (AGKQ), kontrol asma, pengetahuan asma.AbstractGood control of asthma symptomps is a goal for asthmatic patient. Medical treatment and self-management are needed to reach control of asthma. Good medical treatment and a good self-management will be achieved if the asthma patient have knowledge of asthma. The aim of this study is to find relation between asthma knowledge and asthma control. This study is a cross sectional that was conducted in April – September 2013 at asthma clinic Dr.M.Djamil Hospital, Padang and Dr.Achmad Mochtar Hospital, Bukittinggi. Subject who fulfilled the inclusion criteria was interviewed by using basic data information, asthma general knowledge questionnaire (AGKQ) and asthma control test (ACT). Used 65 asthmatic patients as sample that come to Ashma Polyclinic in RSUP Dr.M.Djamil Padang and RSUD Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi during April until September 2013. The statistical analysis used chi square test and SPSS 15 for data processing. The results showed that from 65 subjects, 19 (29,2%) subjects with uncontrolled asthma showed low level of asthma knowledge, 1 (1,5%) subjects with partially controlled asthma showed low level of asthma knowledge, and 1 (1,5%) subjects with controlled asthma showed low level of asthma knowledge. Patients with low level of asthma general knowledge was 21 samples (32,3%) and high level of asthma general knowledge was 44 samples (67,7%). Based on chi square test, there is significant association between asthma general knowledge with asthma control p < 0.01 (<0.05).Keywords: asthma control test(ACT), asthma general knowledge questionnaire(AGKQ), asthma control, asthma knowledge
Analisis Ketahanan Hidup Lima Tahun Kanker Tiroid yang Dikelola di RSUP Dr. M. Djamil Padang Oktahermoniza Oktahermoniza; Wirsma Arif Harahap; Tofriza Tofriza; Rosfita Rasyid
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i3.155

Abstract

AbstrakKanker tiroid merupakan kanker yang jarang terjadi, namun kanker tersering pada organ endokrin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketahanan hidup lima tahun kanker tiroid yang di tatalaksana di RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2011. Metode: Subjek penelitian adalah 117 penderita kanker tiroid yang ditatalaksana di RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2011. Data dianalisis dengan pendekatan survival time menggunakan Kaplan-Meier survival curve dan Log rank test. Hasil: Median umur 39 tahun (range, 11 sampai 77 tahun), median waktu follow up 32 bulan (range, 1 sampai 70 bulan), median ukuran tumor 6 cm (range, 1 sampai 16 cm). Didapatkan 100 (85,5%) %) penderita sehat bebas tumor, 7 (6%) penderita kambuh lokal, 1 (0,9%) metastasis jauh serta 9 (7,7%) penderita meninggal. Overall five survival rate pada penelitian ini 92,3%. Faktor umur, ukuran tumor, dan jenis histopatologi berhubungan secara bermakna dengan survival (p 0,000), (p= 0,046) dan (p= 0,000). Sedangkan faktor-faktor jenis kelamin, jenis operasi, dan terapi adjuvan tidak mempunyai hubungan bermakna dengan survival. Pembahasan: Umur, ukuran tumor, dan jenis histopatologi memiliki hubungan bermakna dengan survival. Jenis kelamin, jenis operasi, dan terapi adjuvan tidak tidak berhubungan bermakna dengan survival.Kata kunci: Umur, Ukuran Tumor, Jenis Histopatologi, Survival, Kanker TiroidAbstractThyroid cancer is a rare cancer, but most common in endocrine organ. The purpose of this research is to determine about at five year survival of thyroid cancer which recorded at RS M. Djamil Padang Hospital from January 2007 until December 2011. Methods: Subjects were 117 patients with thyroid cancer be recorded in hospital Dr. M. Djamil Padang from January 2007 to December 2011. Data were analyzed with the survival time using Kaplan-Meier survival curve and log rank test. Result: Median age 39 years (range, 11 to 77 years), median follow-up time of 32 months (range, 1 to 70 months), median tumor size was 6 cm (range, 1 to 16 cm). Obtained 100 (85.5%)%) patients with tumor-free healthy, 7 (6%) patients with local recurrence, 1 (0.9%) distant metastases, and 9 (7.7%) patients died. Five overall survival rate in this study was 92.3%. Factors of age, tumor size and histopathological type was significantly associated with survival (p 0.000), (p = 0.046) and (p = 0.000). While the factors gender, type of surgery, and adjuvant therapy had no significant association with survival. Discussion: Discussion: Age, tumor size and histopathological type has a significant relationship with survival. Gender, type of surgery, and adjuvant therapy did not significantly associated with survival.Keywords: Age, Tumor Size, Type of Histopathology, Survival, Thyroid Cancer
Hubungan Status Sosial Ekonomi dan Gaya Hidup dengan Kejadian Obesitas pada Siswa SD Negeri 08 Alang Lawas Padang Cici Octari; Nur Indrawaty Liputo; Edison Edison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.50

Abstract

AbstrakObesitas di Indonesia mulai menjadi masalah gizi masyarakat walaupun gizi kurang masih tinggi. Obesitas disebabkan oleh banyak faktor/multifaktorial yang dapat dibagi menjadi genetik dan lingkungan yang diantaranya adalah status sosial ekonomi dan gaya hidup. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan populasi adalah seluruh siswa kelas I sampai V di SD N 08 Alang Lawas,Padang. Penelitian ini mendapatkan hasil 8,21% siswa mengalami obesitas, 11,79% overweight atau gemuk, 82,60% tingkat pendapatan orang tua siswa berada di atas garis kemiskinan, 71,30% ayah dan 71,80% ibu siswa memiliki tingkat pendidikan menengah, 58,50% siswa memiliki pola makan baik, dan 60% memiliki aktifitas fisik aktif. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kejadian obesitas dengan tingkat pendidikan orang tua (ayah: p=0,205 ; ibu: p=1,00), tingkat pendapatan orang tua (p=0,396), dan pola makan anak (p=0,245). Didapatkan hubungan yang bermakna antara aktifitas fisik anak dengan kejadian obesitas (p=0,048).Kata kunci: obesitas, anak, sosial-ekonomi, gaya hidupAbstractIn Indonesia, obesity has became a public nutrition problem although frequence of undernutrition was still high. The obesity caused by many factor/multifactorial that asssigned to genetic factor and environment factor. Two of the environment factors are social-economy and life style. Cross sectional study was chosen as a method to conduct the study. The study population were all the students on 1st grade to 5th grade in SD Negeri 08 Alang Lawas, Padang. The result shows that 8.21% of the students suffered from obesity, 11.79% were overweight, 82.60% of the students have the parents that have income more then the poverty line, 71.30% of the fathers and 71.80% of the mothers were middle graduations, 58.50% have good consumptions pattern, and 60% have active physical activity. There are no association between the obesity among the children with parent’s graduation (father: p=0.205; mother: p=1.00), parent’s income (p=0.396), consumptions pattern (p=0.245), and there is association with physical activity (p=0.048).Keywords:obesity, children, social-economy, life style
Hubungan Jumlah Trombosit, Hematokrit dan Hemoglobin dengan Derajat Klinik Demam Berdarah Dengue pada Pasien Dewasa di RSUP. M. Djamil Padang Yobi Syumarta; Akmal M. Hanif; Erlina Rustam
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.187

Abstract

AbstrakDiagnosis yang tepat terhadap stadium dan kondisi penderita DBD penting untuk menentukan prognosisnya. Pemeriksaan trombosit, hematokrit, dan hemoglobin untuk setiap derajat klinik DBD diharapkan membantu dalam mengelompokkan dan mengelola pasien berdasarkan derajat kliniknya. Penelitan ini bertujuan untuk melihat hubungan hasil pemeriksaan trombosit, hematokrit, dan hemoglobin dengan derajat klinik DBD berdasarkan kriteria WHO.Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap 84 sampel dari rekam medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam di RSUP. M. Djamil Padang dari januari 2011 sampai 30 April 2013. Trombosit diperiksaan menggunakan metode Rees Ecker, hematokrit dengan metode langsung cara mikro, dan hemoglobin menggunakan metode Sahli. Uji hipotesis menggunakan analisis bivariat dengan uji hipotesis nonparametrik Kendal’s Tau dengan software SPSS.Hasil penelitian ditemukan rerata umur 25.49±10.09 tahun. Laki-laki 46 orang (54.8%) lebih banyak dari wanita 38 orang (45.2%). Hasil analisis dengan uji korelasi Kendal’s Tau didapatkan trombosit berhubungan dengan derajat klinik DBD, semakin rendah trombosit semakin berat derajat kliniknya (p < 0.05, r = 0.336). Hematokrit tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD (p > 0.05, r = 0.059). Hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD (p > 0.05, r = - 0.036).Semakin rendah jumlah trombosit semakin berat derajat klinik DBD, hematokrit dan hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD.Kata kunci: jumlah trombosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, derajat klinik DBD.AbstractPrompt diagnosis and as an accurate assessment of the stage and condition of DHF cases is a very important factor for determining patient prognosis. The existence of an exact value of the results of platelets, hematocrit, and hemoglobin for each grade of DHF are expected to greatly assist in classify and manage patients based on the clinical degree. This research was aimed to determine the relationship between the results of the hemoglobin, hematocrit and platelets count with the degree of clinical DHF according to WHO criteria. This research with retrospective design in 84 samples were taken from the medical records of adult patients in RSUP. M. Djamil Padang from 1 January 2011 until 30 April 2013. Platelets used direct method Rees Ecker, hematocrit’s used direct method micro method, and hemoglobin’s used Sahli method. Data processed by Kendal Tau tests using SPSS software. Results found average ages of 25.49 ± 10,09 years. The number of male patients 46 (54.8%) higher than female patients 38 (45.2%). Analysis by hypotetic test showed that there is a relationship between the platelet with clinical degree of DHF, where the lower the number, the more severe the clinical degree of DHF (p < 0.05, r = - 0336). There is no relation between hematocrit with clinical degree of DHF (p > 0.05, r = 0.059). There is no relation between hemoglobin with clinical degree of DHF (p > 0.05, r = - 0.036). More lower the number of trombosit, the more severe the clinical degree of DHF, and there is no relation between hematocrit and hemoglobin with clinical degree of DHF.Keywords: platelet count, hematocrit, hemoglobin levels, clinical degree of DHF.
Pengaruh Diet Tinggi Minyak Sawit Terhadap Sel Hepatosit Tikus Susila Sastri; Husnil Kadri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i3.82

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Minyak sawit yang dikonsumsi berlebihan tetapi tidak diimbangi pembakaran energi (oksidasi asam lemak) dapat menyebabkan penimbunan lemak di hepar. Oksidasi asam lemak diatur oleh faktor transkripsi peroxisome proliferator-activated receptor-α (PPAR-α) di mitokondria dan peroksisom sel hepar. Gangguan sensitifitas PPAR-α menyebabkan penurunan oksidasi asam lemak sehingga berakibat pada terbentuknya vakuol lemak yang dapat berujung terjadinya perlemakan hepar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pengaruh diet tinggi minyak sawit terhadap jumlah vakuol lemak yang terbentuk pada sel hepatosit tikus. Metode: Desain penelitian ini adalah post-test experimental yang dilaksanakan di laboratorium. Tikus putih galur Wistar jantan sebanyak 15 ekor dengan berat badan antara 200-250 gram dibagi 3 kelompok yang terdiri dari; Kelompok kontrol negatif diberi diet standar 6-7gr/hari, Kelompok kontrol positif diberi diet standar ad libitum, Kelompok diet tinggi minyak sawit (diet standar + MS 50%) diberikan ad libitum. Setelah 4 minggu, semua tikus dibantai untuk diambil heparnya. Hepar tersebut diawetkan dalam larutan formalin, kemudian diwarnai dengan Hematoksilin Eosin (HE) pada kaca objek. Sediaan ini selanjutnya dilihat dengan mikroskop pada pembesaran 400X. Perlemakan hepar ditentukan berdasarkan jumlah vakuol lemak intrasel yang dihitung per 100 sel. Hasil: Pada Kelompok kontrol negatif hanya ada satu vakuol lemak per100 sel, tetapi pada kelompok lain terdapat perbedaan yang bermakna (p
Hubungan Hiperglikemia dengan Prothrombin Time pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan Muhammad Ibnu Malik; Ellyza Nasrul; Asterina Asterina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.219

Abstract

AbstrakDiabetes mellitus mempunyai dua macam komplikasi yaitu komplikasi akut dan kronik. Komplikasi kronik DM (mikroangiopati dan makroangiopati) terjadi akibat disfungsi endotel yang disebabkan oleh berbagai proses pathogenesis yaitu hiperglikemia, stres oksidatif, peningkatan jumlah asam lemak bebas, Protein Kinase C β dan defek sekresi insulin. Kerusakan pembuluh darah (disfungsi endotel) tersebut dapat dideteksi melalui pemeriksaan activated partial prothrombin time (APTT) dan prothrombin time (PT) yang berperan dalam mekanisme homeostasis padatubuh.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan hiperglikemia dengan prothrombin time pada mencit putih (Musmusculus) yang diinduksi aloksan. Desain penelitian ini adalah post test only control group design yang dilaksanakan dari Oktober 2013 hingga Februari 2014 di Laboratorium Sentral RS. Dr. M. Djamil Padang. Subjek penelitian adalah mencit putih (Musmusculus) yang telah memenuhi criteria inklusi dan eksklusi, kemudian dibagi menjadi kelompok hiperglikemia (diinjeksikan aloksan) dan kelompok kontrol. Setelah adaptasi selama tujuh hari, dilakukan injeksi aloksan serta pemeriksaan glukosa darah dan berat badan tiap empat hari sekali. Pada hari ke 30 dilakukan terminasi untuk mengukur PT mencit. Hasil menunjukkan terdapat pemendekan PT pada kedua kelompok penelitian dengan rerata PT kelompok control adalah 7,96 detik dan kelompok hiperglikemia adalah 8,12 detik. Hasil pengukuran tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan antara hiperglikemia dan prothrombin time (p > 0,05).Kata kunci: hiperglikemia, diabetes mellitus, prothrombin time, aloksan.AbstractDiabetes mellitus have two complication, they are acute and chronic complication. Chronic complication of DM (microangiopathy and macroangiopathy) accured because endotel dysfunction which caused by various pathogenesis, such as hyperglycemia, oxydative stress, upregulation of free fatty acid, Protein Kinase C β and insulin secretion defect. Endothelial disfungtion can be detected by activated partial thromboplastin time (APTT) and prothrombin time (PT). The objective of this studi was to determine the correlation between hyperglycemia and prothrombin time in mice (Mus musculus) induced with aloxan. The design of this research was a post test only control group design conducted in October 2013 until February 2014 in Central Laboratory RS Dr. M. Djamil Padang. The subject were white mice (Mus musculus) who have met the inclusion and exclusion criteria. The subject were divided as hyperglycemia group (induced with aloxan) and control group. After seven days of adaptation, the aloxan was injected and measurenment of blood glucose and body weight had been done, one time in every four days. Then in day 30th the termination of mice had been done to meassure the prothrombin time. The result showed the prothrombin time between group was shortened with the average prothrombin time of the control group was 7,96 second and the hiperglicemia group was 8,12 second. The result showing no correlation between hyperglycemia and prothrombin time with the degree of signification is (p) 0,7 (p > 0,05).Keywords: hyperglycemia, diabetes mellitus, prothrombin time,

Page 19 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue