cover
Contact Name
Nadiyah Tunnikmah
Contact Email
nadiyah.tunnikmah@isi.ac.id
Phone
+628157988977
Journal Mail Official
jociart@gmail.com
Editorial Address
Dsn Japanan Margodadi Seyegan
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Contemporary Indonesian Art
ISSN : 24423394     EISSN : 24423637     DOI : DOI: 10.24821/jocia.v9i1.8936
Core Subject : Humanities, Art,
Journal of Contemporary Indonesia Art is a scientific journal that contains the results of research or creation on contemporary art related to Indonesia. Contemporary art is defined as the latest art phenomenon. Art includes a wide variety of fine arts such as painting, sculpture, graphics, ceramics, comics, New media art, as well as other forms of art, including types that have not been categorized. The limitation is that the work is more concerned with aesthetic value than functional value. The term Indonesia refers to works of art that are related to Indonesia.
Articles 115 Documents
Makna Simbol Patung Yesus Di Candi Ganjuran Nariyanti, Lucianna Putri; Witjaksono, Bambang; Wiyono, Wiyono
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.11150

Abstract

Penelitian ini membahas makna simbolik pada patung Yesus di Candi Ganjuran. Julius dan Julian Schmutzer adalah pencetus pertama ide pembangunan Candi Ganjuran, bertujuan untuk masyarakat Indonesia dapat beribadah dengan cara yang nyaman, maka dibuatlah sebuah tempat peribadatan Katolik beserta monumen ucapan syukur berupa sebuah candi yang di dalamnya ada patung Yesus dengan busana kebesaran seorang Raja Jawa.  Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan semiotika dari Charles Sander Peirce. Penelitian ini memaknai Patung Yesus dalam tiga sudut pandang simbol yang berbeda yaitu kekristenan, semiotika Charles Sander Peirce dan kebudayaan Jawa. Dari hasil penelitian yang didapatkan, bagian perbagian patung Yesus yang telah dikaji memiliki makna simbolik yang berbeda-beda. Merujuk pada konsep akulturasi kebudayaan Jawa, konsep awal Schmutzer yang menginginkan tempat peribadatan Katolik supaya dapat melebur dengan masyarakat Jawa berhasil diterapkan dan direalisasikan dengan terwujudnya sebuah candi dengan satu ruang utama berisi patung Yesus. Patung Yesus di dalam candi menggunakan busana kebesaran seorang Raja Jawa dengan maksud Yesus adalah Raja bagi segala bangsa.
Ekplorasi Motif Batik Kontemporer dengan Penggayaan Pop Art yang Terinspirasi dari Cerita Rakyat Telaga Warna Zahirah, Ridha Dhiyatama
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.10856

Abstract

Batik kontemporer berkembang dengan sangat luas pada masa kini. Hal tersebut berdasarkan sifat batik yang mudah beradaptasi dalam segala aspeknya seperti; teknik pengaplikasian lilin batik, pewarnaan, motif dan komposisi. Perkembangan tersebut kemudian mendorong agar motif batik kontemporer yang dihasilkan bersifat lebih bebas, menarik dan kekinian. Penggayaan visual pop art kemudian dipilih sebagai salah satu bentuk kekinian dalam motif batik kontemporer. Hal tersebut berdasarkan sejarah dan karakteristik pop art yang sesuai dengan batik kontemporer, yaitu sama-sama mendobrak aturan yang sebelumnya ada dalam ranah masing-masing, menggunakan warna-warna primer dan memiliki line art yang tegas. Perancangan motif batik kontemporer dengan penggayaan pop art ini menggunakan cerita rakyat Telaga Warna sebagai inspirasinya yang dipilih untuk menambah nilai lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi literatur, studi visual dan eksplorasi. Proses eksplorasi dilakukan sebanyak tiga tahap yaitu eksplorasi awal, eksplorasi lanjutan, dan eksplorasi pilihan. Setiap eksplorasi menghasilkan data visual berupa stilasi ornamen dan komposisi motif. Luaran penelitian ini adalah batik kontemporer dengan motif bergaya pop art yang terinspirasi dari cerita rakyat Telaga Warna.
Kajian Eksplorasi Media Karya Fx Harsono Irsan, Dimas Ragil Rahaditya; Junaedi, Deni; Morin, Lutse Lambert Daniel
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.11151

Abstract

Eksplorasi media adalah salah satu cara bagaimana seni rupa bisa berkembang hingga sekarang. Dalam hal ini eksplorasi media memiliki banyak pendekatan untuk dapat menjelaskan sebuah maksud dan tujuan dalam karya. Teori Intermedia Dick Higgins dipilih agar dapat membantu menjelaskan bagaimana hubungan antar media dalam suatu karya. FX Harsono adalah salah satu seniman kontemporer yang aktif mengeksplorasi media dalam proses kreatif berkarya. FX Harsono juga menjadi salah satu seniman yang membawakan pembaruan dalam seni rupa Indonesia, dengan membawakan cara-cara baru dalam berkarya. Beliau membuka pengotakan-pengotakan dalam seni, mengutamakan isi dan konteks, dengan membawakan bentuk hasil karya jauh lebih leluasa. FX Harsono dalam berkarya sudah melewati beberapa masa yang menjadi titik penting dalam keputusan pengambilan tema kekaryaan. Pendekatan kualitatif-deskriptif dipilih untuk menjelaskan bagaimana Intermedia bisa menjelaskan media-media dalam suatu karya. Penelitian ini akan berfokus mulai dari bagaimana dua media atau lebih memiliki koneksi dalam satu karya, mengetahui pola berkarya seniman dari masa-kemasa, atau bisa menemukan kemungkinan lain dalam proses berkarya dari seniman yang bisa diambil untuk mengembangkan sebuah media dalam berkarya
Kajian Kritis Seniman Hijrah Yogyakarta Hamzah, Amir
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.8535

Abstract

Agama adalah bagian dari kehidupan manusia, sebagai tuntunan bagi orang-orang yang meyakininya dalam mengisi kehidupan di dunia ini, hal ini yang terjadi pada pelukis hijrah yang ada di Yogyakarta. Sebagai mana kita pahami pandangan umum tentang seni rupa lebih mengacu pada ekspresi khas peradaban barat, pendidikan berhasil menanamkan prinsip modern secara akademis tempat seniman berkuliah, sebagian pelukis akademis berhijrah menekankan Islam yang bersumber dari wahyu Tuhan dalam kehidupan kesenian mereka.Melalui peran pelukis lingkungan Salafi yang teguh dalam kajian Sunnah, persoalan sosial dan seni yang biasanya berkutat interaksi antara manusia dan dunia kehidupannya, dapat dilengkapi kemudian dengan hubungan utusan pembawa wahyu dan Tuhan sang Pencipta. Masalah tersebut dijabarkan dalam tujuan, bagaimana melihat berkesenian seniman hijrah dalam pendekatan ilmiah melalui kaidah Islam. Metode yang dipakai dalam mengangkat masalah pelukis hijrah adalah Kualitatif deskriptif, pada dengan mengamati seniman hijrah dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunianya.Pendekatan keislaman dalam membahas seni coba dipecahkan dengan lebih kontekstual, namun ada hal yang sebenarnya untuk tetap dipertahankan, yaitu kekhasan nilai keislaman itu sendiri sebagai agama rahmatan lil alamin.
Toxic Masculinity Tokoh Ken Pada Film Barbie Live Action 2023 Wicaksono, Katon Dicken Adi; Nur, Fitrinanda An
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.10975

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik maskulinitas toksik yang berasal dari karakteristik maskulinitas yang disalahartikan pada sosok Ken. Toksik maskulinitas adalah karakteristik gagah yang pada dasarnya, namun hal ini menjadi toxic atau salah arah ketika pria dituntut harus memiliki dan menunjukkan maskulinitas secara berlebihan hingga merugikan orang di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam film ini melalui tokoh Ken yang selalu mengedepankan konsep patriarki. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis semiotika John Fiske, yang terdiri dari tiga tingkatan pengkodean: tingkat realitas (lingkungan dan perilaku), tingkat representasi (setting dan angle kamera), dan tingkat ideologi (realitas dan representasi sebagai kode ideologi). Hasil analisis mencakup tanda-tanda verbal dan nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan percakapan tokoh Ken. Karakter Ken juga sering menunjukkan memiliki kekuasaan dan status sosial yang tinggi agar bisa dihormati oleh orang lain, berperilaku kasar dan agresif, serta mendominasi orang lain, serta berusaha tampil macho untuk menyembunyikan ketidaksempurnaannya, yang merupakan contoh negatif dari dominasi maskulinitas yang dipaksakan, disalahpahami, dan disalahgunakan. Selain itu, film ini mencerminkan ideologi individualisme yang kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Kupu-Kupu Endemik Indonesia sebagai Inspirasi Pengembangan Buku Pop Up dengan Teknik V-Folding dan Internal Stand Dewantari, Alit Ayu; Pusung, Gabriel Zefanya Lasut
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.9936

Abstract

Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati dan memiliki sekitar 2.500 dari 20.000 jenis kupu-kupu yang ada di dunia. Dari jumlah tersebut, 50% di antaranya merupakan kupu-kupu endemik. Namun keberadaannya menjadi semakin langka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi kreatif perancangan buku pop-up agar dapat menghadirkan karya yang dinamis meskipun mengangkat objek yang memiliki bentuk serupa; serta merancang media pengenalan kupu-kupu endemik langka yang dilindungi di Indonesia kepada anak-anak dengan aplikasi pop-up, sebagai teknik rekayasa kertas yang dapat mengantar pengalaman lebih konkrit sebuah objek melalui bentuk tiga dimensi. Pop-up dirancang dengan mengedepankan prinsip keefektifan dalam perakitan produksi massal, agar dapat menyerap pekerja dan mendukung sektor ekonomi kreatif. Penelitian ini menggunakan metode dengan pendekatan kualitatif (deskriptif eksploratif); melalui observasi, analisis data, dan eksplorasi teknis pop-up. Hasil perancangan ini menunjukkan bahwa karya buku pop-up dapat tampil lebih dinamis dengan mengolaborasikan beberapa teknik dalam satu halaman pop-up, serta pemilihan tata letak yang berbeda-beda antar halaman satu dengan lainnya.
Karakteristik Ikan Koi Sebagai Sumber Penciptaan Karya Seni Grafis Pramesti, Regita Ambar
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i2.7736

Abstract

A work of art can be produced through creative ideas obtained through childhood experiences up to the present time, the work of art itself can be a reflection of the creator of the artwork itself. The media itself becomes an influence on the creation of works of art, including the processes involved. The characteristics of koi fish are used as the basis for creating a work of art both in terms of behavior, color, and field composition to reflect human life based on the characteristics of koi fish. Through a variety of learning and direct experience, the artwork created is the result of observing everyday human life and then visualized through adjacent objects using the author's life. Koi is a type of freshwater fish that can easily adapt to its new environment. This fish can almost occupy almost any place. However, when moving to a new pond or container, you should not let the koi experience drastic changes. Fish must go through a period of quarantine and acclimatization before being placed in a new pond and mixed with other koi.The characteristics, colors, and behavior of the koi fish that are chosen to be kept by humans are considered a reflection of humans themselves, so that the characteristics of koi fish are symbols of human life. The works of art used to represent the above ideas use high-tech printing with canvas media.
Umi Dachlan sang Ekspresionis Abstrak Rachma, Falicha Aulia
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.11227

Abstract

This research This research entitled "Umi Dachlan the Abstract Expressionist" raises the issue of Umi Dachlan's journey in pursuing education and art during her lifetime and how her role contributed to advancing art in Indonesia. This research aims to find out the life background, role in the arts and the development of early works to the final works that have been produced by Umi Dachlan. And in collecting research data, the author used a qualitative approach with document study techniques in the form of books, journals, PDFs or e-books.Apart from that, based on research, the following results were obtained: Umi Dachlan is a talented artist, she began to show her talent for interest in art since childhood through her love of drawing. She played an important role in the world of art as the first female lecturer at the Bandung Institute of Technology. Umi Dachlan has received many awards not only from within the country, such as the Best Painting award: Wendy Sorensen Memorial Award, New York, United States. Umi Dachlan has also worked as a co-designer and muralist for various institutions. Umi Dachlan was one of the early and pioneering Indonesian female artists who followed in the footsteps of Emiria Soenassa, along with Erna Pirous, wife of A.D. Pirous, Farida Srihadi, Srihadi's wife, Heyi Ma'mun, Kartika Affandi, daughter of the main Indonesian artist Affandi, Rita Widagdo and Nunung WS. His works have been auctioned by major international auction houses, including Bonhams, Christie's and Sotheby's. Umi Dachlan's early work was influenced by traditional Batik paintings and tapestries, textile works and landscape paintings. As in the work Untitled (1997), until after the death of his mentor Ahmad Sadali in 1987, he developed his own style. Penelitian ini berjudul “Umi Dachlan sang Ekspresionis Abstrak” ini mengangkat masalah mengenai bagaimana perjalanan Umi Dachlan dalam menempuh pendidikan dan kesenian pada semasa hidupnya dan bagaimana peran beliau memberikan kontribusi dalam memajukan kesenian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang kehidupan, peran dalam bidang kesenian dan perkembangan awal karya hingga karya – karya akhir yang telah dihasilkan oleh Umi Dachlan. Dan pada pengumpulan data penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan teknik studi dokumen berupa buku, jurnal, pdf ataupun e-book. Selain itu Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil berikut: Umi Dachlan seorang seniman yang berbakat, ia mulai menunjukkan bakat ketertarikannya pada seni sejak kecil melalui kegemarannya menggambar. Dia berperan penting dalam dunia kesenian sebagai dosen wanita pertama di Institut Teknologi Bandung. Umi Dachlan banyak mendapatkan penghargaan yang tidak hanya dari dalam negeri saja, seperti penghargaan Best Painting: Wendy Sorensen Memorial Award, New York, Amerika Serikat. Umi Dachlan juga pernah bekerja sebagai co-desainer dan muralis untuk berbagai institusi. Umi Dachlan adalah salah satu seniman perempuan Indonesia awal dan perintis yang mengikuti jejak Emiria Soenassa, bersama dengan Erna Pirous, istri A.D. Pirous, Farida Srihadi, istri Srihadi, Heyi Ma'mun, Kartika Affandi, putri Artis utama Indonesia Affandi, Rita Widagdo dan Nunung WS. Karya-karyanya telah dilelang oleh rumah-rumah lelang besar Internasional, termasuk Bonhams, Christie's dan Sotheby's. Karya awal Umi Dachlan dipengaruhi oleh lukisan Batik tradisional dan permadani, karya tekstil dan lukisan pemandangan. Seperti pada karya Untitled (1997), Hingga setelah kematian mentornya Ahmad Sadali pada tahun 1987, ia mengembangkan gayanya sendiri. 
Representation of Locality in Media Art in Yogyakarta: Dedy Shofianto's Kinetic Art Case Study Wicaksono, Satrio Hari
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12393

Abstract

In the development of contemporary art, the issue of identity becomes a central and important thing to be studied more deeply, especially the personal or communal identity of marginalized parties in the context of modern society. This is what makes local values elevated and become a specific, unique identity character and become the characteristic of the artist in his work. Similarly, artists in Indonesia form a qualified personal representation with specific local values based on their background. Not just dwelling on conventional media, artists explore media more broadly. New media such as digital devices, kinetics, sound and so on are felt to be able to represent the state of the surrounding environment without abandoning the local identity that remains attached. Dedy Shofianto is one of the Yogyakarta artists whose execution uses conventional media but with a different approach, where kinetic elements become an identity that is closely related to the artist, which is supported by a strong local content narrative. The visual representation and material characteristics carried have a background and cultural narrative that is a unique characteristic of each of Shofianto's works, such as the use of wood materials that are attached to Indonesia as a tropical country and the myths of the archipelago are visible representations in Shofianto's works.Dalam perkembangan seni kontemporer, persoalan identitas menjadi hal yang pokok dan penting untuk dikaji lebih mendalam, khususnya identitas personal atau komunal dari pihak yang terpinggirkan dalam konteks masyarakat modern. Hal ini yang membuat nilai-nilai lokal terangkat dan menjadi karakter identitas yang spesifik, unik dan menjadi penciri yang khas dari sang seniman dalam karyanya. Begitu pula seniman-seniman di Indonesia yang membentuk representasi personal yang syarat dengan nilai-nilai lokal spesifik berdasar latar belakang mereka. Tak sekedar berkutat di media konvensional, para seniman mengeksplorasi media secara lebih luas. Media-media baru seperti perangkat digital, kinetik, suara dan lain sebagainya dirasa mampu merepresentasi dengan keadaan lingkungan di sekitar tanpa menanggalkan identitas lokal yang tetap melekat. Dedy Shofianto adalah salah satu seniman Yogyakarta yang eksekusi kekaryaannya menggunakan medium konvensional namun dengan pendekatan yang cenderung berbeda, dimana unsur kinetik menjadi identitas yang lekat dengan sang seniman, yang didukung dengan narasi muatan lokal yang kuat. Representasi visual dan karakteristik material yang diusung memiliki latar belakang dan narasi kultural yang menjadi ciri khas unik dari masing-masing karya Shofianto, seperti penggunaan material kayu yang lekat dengan Indonesia sebagai negara tropis dan mitos-mitos nusantara menjadi representasi yang terlihat dalam karya-karya Shofianto.
Keterikatan Warna dan Emosi dalam Mebeler Bagi Pemustaka Tuli di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Dewi, Riza Septriani; Setiadi, Veronica Belinda Aryani
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v10i1.12392

Abstract

This study aims to investigate the association to furniture color and emotion for deaf users in libraries, who often experience limited accessibility. However, few studies have focused on the relationship between color-emotion associations to furniture and the experience of deaf users. The purpose of this research is to find out how colours is associated with furniture, which benefit the emotions and comfort  to the deaf library user. This study uses qualitative research methods with in-depth interview techniques and participatory observation at the UIN Sunankalijaga Library in Yogyakarta. The findings of this study entailed how the uniqueness of colour was attached and functional with furniture. Major impact on emotions, where its produce a favourable experience for deaf guests. While in the library, the application of certain hues colour and design aspects provide a sense of comfort, relaxation, and concertration. The cool colours, such as green, which paired with neutral colours in furniture products or vice versa are shown to increase mood. Indeed, this study adds to our understanding of the psychological and social elements of deaf users' furnishings. Practical ideas for library managers and designers on how to create an inclusive library environment and fulfil the needs of deaf visitors through furnishing products that was generated.Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi keterikatan warna mebeler dan emosi bagi pemustaka tuli di perpustakaan, yang sering mengalami keterbatasan aksesibilitas dalam memperoleh informasi. Namun, sedikit penelitian yang fokus terhadap hubungan antara keterikatan warna dan emosi pada mebeler dengan pengalaman pemustaka tuli. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana keterikatan warna dan desain mebeler dapat mempengaruhi emosi dan kenyamanan pemustaka tuli selama berada di perpustakaan. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif di Perpustakaan UIN Sunankalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterikatan warna mebeler memiliki pengaruh signifikan terhadap emosi dan dapat menciptakan pengalaman positif bagi pemustaka tuli. Beberapa warna dan elemen desain memberikan rasa nyaman, relaksasi, dan fokus saat di perpustakaan. Penggunaan warna dingin pada perpustakaan seperti hijau dipadukan dengan warna netral pada mebeler dan sebaliknya, diakui dapat meningkatkan suasana hati. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang aspek psikologis dan sosial mebeler bagi pemustaka tuli. Rekomendasi praktis dihasilkan untuk pengelola perpustakaan dan desainer dalam menciptakan lingkungan perpustakaan yang inklusif dan mendukung kebutuhan pemustaka tuli lewat mebeler.

Page 9 of 12 | Total Record : 115