cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 62, No 1 (2024)" : 8 Documents clear
For Donation, Organisation, and Nation: Muhammadiyah’s Charity Stamp Program, 1941-1942 Zara, Muhammad Yuanda
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.117-152

Abstract

Studies on Muhammadiyah’s charitable works mostly discuss the charitable institutions Muhammadiyah founded, such as hospitals and orphanages, and neglect one-off fundraising activities. This study examines Muhammadiyah’s strategies in promoting ‘Muhammadiyah charity stamps’ to the Netherlands Indies people in 1941. This study shows that although stamps are only small postal items, Muhammadiyah paid great attention to promoting and selling these stamps. It ran a well-organised and national-scale campaign, mobilising its network of branches and groups throughout the Indies. Muhammadiyah used all available campaign media, such as magazines, newspapers, pamphlets, pictures, songs and meetings. To maximise promotion, Muhammadiyah emphasised that buying these charity stamps meant giving donations that Allah would reward, supporting Muhammadiyah’s movements, and helping the welfare of the indigenous people. These charity stamps helped Muhammadiyah raise enormous funds and strengthened its reputation at home and abroad as a social movement that cared for the less fortunate. This study elucidates the largest and most successful one-off charitable fundraising effort, but so far still forgotten in the historiography of Indonesian Islam, which was carried out by an indigenous Muslim socio-religious organisation during the colonial period, using previously overlooked primary documents dating from 1941-1942.[Studi mengenai kiprah Muhammadiyah di bidang amal umumnya membahas tentang institusi amal yang didirikannya, seperti rumah sakit dan panti asuhan. Kegiatan pengumpulan dana yang sifatnya sekali waktu saja banyak diabaikan. Kajian ini membahas strategi Muhammadiyah dalam mempromosikan ‘prangko amal Muhammadiyah’ kepada masyarakat Hindia Belanda pada tahun 1941. Kajian ini menunjukkan bahwa walaupun prangko hanya berupa benda pos kecil, Muhammadiyah memberikan perhatian yang luar biasa untuk mempromosikan dan menjual prangko ini. Organisasi ini menjalankan kampanye yang rapi dan berskala nasional, dengan menggerakkan jaringan cabang dan rantingnya di seluruh Hindia. Muhammadiyah menggunakan segala macam media kampanye yang tersedia, seperti majalah, surat kabar, pamflet, gambar, nyanyian, dan pertemuan-pertemuan. Untuk memaksimalkan promosi, Muhammadiyah menekankan bahwa membeli prangko amal ini berarti melakukan amal yang berpahala, menyokong gerakan sosial Muhammadiyah, dan membantu menyejahterakan masyarakat pribumi. Prangko amal ini membantu Muhammadiyah mengumpulkan dana yang sangat besar dan memperkuat reputasinya di dalam dan luar negeri sebagai gerakan sosial yang menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung. Kajian ini menerangkan tentang usaha pengumpulan dana amal sekali-waktu yang terbesar dan tersukses, namun sejauh ini masih terlupakan dalam historiografi Islam Indonesia, yang dilakukan suatu organisasi sosial-keagamaan Muslim pribumi pada masa kolonial, dengan menggunakan dokumen-dokumen primer yang berasal dari tahun 1941-1942.]
When Literary ‘Arabiya Adopted for A Religious Mission: The Quran and the Expansion of the Arabic Poetic Koine Ikhwan, Munirul
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.91-117

Abstract

Much has been discussed regarding the nature of the language of the Quran, whose vocabulary, according to Muslim belief, is meaningfully chosen and perfectly structured, a contention that underlies the doctrine of its inimitability (iʻjāz). For the majority of Muslims, the debates over the nature of the Quran’s language have been relatively conclusive; it is the most fluent Arabic, derived mainly from the Quraysh dialect. Meanwhile, modern scholars working under the umbrella of critical philology and history refuse to take the above theory for granted. They link the language of the Quran with the idea of the literary ʻArabiyya, a poetic koine that was constructed much more within the culture of the pre-Islamic Arabs living in the area of Najd. This article exhibits theoretical discussions that may shed light on a new perspective of the theme. This study argues that the literary ʻArabiyya is adopted by the Quran as a mode of discourse to introduce a monotheistic message to its first audience. By doing so, the Quran works within the literary tradition of Arabic rhetoric, which was highly valued within the pre-Islamic Arab culture. As the Quran aimed at promoting monotheism by convincing as many followers as possible, it creatively expanded the boundaries of the literary ʻArabiyya by introducing sabʻah aḥruf (variant styles of reading), through which it was able to address more and more audience.[Banyak yang telah menulis tentang hakikat bahasa al-Quran, yang menurut kepercayaan Muslim, kosakatanya dipilih secara bermakna dan terstruktur dengan sempurna sehingga menjadikannya mukjizat yang mendasari doktrin tentang kemustahilan untuk menandingi. Bagi mayoritas Muslim, perdebatan mengenai hakikat bahasa al-Quran relatif sudah selesai, yakni sebagai bahasa Arab yang paling fasih, yang sebagian besar berdasarkan dialek Quraisy. Sementara itu, para sarjana modern dengan disiplin sejarah dan filologi kritis menolak untuk menerima teori di atas begitu saja. Mereka mengaitkan bahasa al-Quran dengan koine puitis, sebagai bagian dari Arab sastrawi, yang lebih banyak terbentuk dalam budaya Arab pra-Islam di wilayah Najd. Artikel ini menyuguhkan diskusi teoretis untuk menjelaskan perspektif baru dalam pembahasan tema tersebut. Penulis berpendapat bahwa unsur Arab sastrawi diadopsi oleh al-Quran sebagai sebuah cara berwacana dalam memperkenalkan pesan monoteistik kepada audiens pertamanya. Dengan demikian, al-Quran bekerja dalam tradisi retorika sastra, yang sangat dihargai dalam budaya Arab pra-Islam. Karena bertujuan untuk mempromosikan monoteisme dan menarik sebanyak mungkin pengikut, al-Quran secara kreatif memperluas cakupan Arab sastrawi dengan memperkenalkan konsep sab‘ah aḥruf (variasi gaya bacaan), yang dapat dipakai untuk menjangkau lebih banyak pembaca.]
Islamic Faith as A Source of Coping with Work Stress Sentürk, Faruk Kerem; Isikan, Selin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.65-90

Abstract

Many alternative strategies, mainly faith-based, have been used to cope with stress. The main purpose of this research is to understand the stress experienced by managers and the role of the Islamic faith in the process of coping. A qualitative phenomenological design was used, and 19 managers in the Düzce Organized Industrial Zone in Turkey were reached by snowball sampling method. Face-to-face and online interviews were conducted using a semi-structured interview form. The data were subjected to content analysis and coded using a mixed method, resulting in 282 codes grouped into 30 categories and six themes (perception of stress, sources of stress, consequences of stress, coping, place of Islam in life, Islamic coping). The study shows that the participants perceive stress as a process that can spread to all areas of life. Meanwhile, religious belief influences how an individual perceives stress and its consequences. The perception of stress also determines what type of coping strategies will be preferred. The author further argues that Islamic teachings deal with coping with stress in a more holistic way, covering both psychological and physiological dimensions. In addition, time management discipline triggered by Islamic rituals, such as prayers and other forms of worship, has a positive stress-regulating effect.[Sudah banyak strategi alternatif yang telah digunakan untuk mengatasi stres, terutama yang berbasis agama. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami stres yang dialami oleh para manajer perusahaan dan peran ajaran Islam dalam proses penanggulangan stres. Dengan desain fenomenologis kualitatif, penelitian ini melibatkan 19 manajer di Kawasan Industri Terorganisasi Duzce di Turki, melalui snowball sampling. Wawancara tatap muka dan daring dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara semi-terstruktur. Data yang diperoleh kemudian dikaji dengan analisis isi dan mixed-method, yang menghasilkan 282 kode yang dikelompokkan ke dalam 30 kategori dan enam tema (persepsi stres, sumber stres, konsekuensi stres, penanggulangan, posisi ajaran Islam, penanggulangan Islami). Studi ini menunjukkan bahwa para peserta menganggap stres sebagai suatu proses yang dapat menyebar ke semua bidang kehidupan. Sementara itu, keyakinan agama memengaruhi cara seorang individu memandang stres dengan segala konsekuensinya. Persepsi terhadap stres juga menentukan jenis strategi penanggulangan yang akan dipilih. Penulis juga berpendapat bahwa ajaran Islam menangani stres dengan cara yang lebih holistik, yang mencakup dimensi psikologis dan fisiologis. Selain itu, disiplin manajemen waktu yang dipicu oleh ritual-ritual Islam, seperti salat dan bentuk-bentuk ibadah lainnya, memiliki efek positif dalam mengatur stres.]
Tafsir Hikayati as A Resistance Hermeneutics: Hikayat Prang Sabi’s Contribution to Holy War Literature and Quranic Studies Fadhli, Fadhli; Ichwan, Moch Nur; Machasin, M.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.19-64

Abstract

This article will elaborate on the model of interpreting the Quran in Hikayat Prang Sabi. Guided by the text by Teungku Chiek Pante Kulu, the author analyses the data by Hans Georg Gadamer’s ideas about “Preunderstanding”, “Fusion of Horizons”, and “Historical Consciousness”. This research shows that Hikayat Prang Sabi has introduced a unique model of interpreting the Quran by adopting hikayat instruments in Acehnese culture. The author identifies this interpretation model in this research with Tafsir Hikayati. Tafsir Hikayati has contributed to constructing the Acehnese’s resistance to Dutch colonialism by bringing together two very influential spirits in Acehnese society: religion and culture. Through Tafsir Hikayati, Teungku Chiek Pante Kulu constructs a “Resistance Hermeneutics” by interpreting Islamic religious texts (the Quran) using the Acehnese cultural language (hikayat). Combining these two spirits has helped the Acehnese people accept and capture the message of resistance conveyed by Hikayat Prang Sabi so that it succeeded in awakening the spirit of ideological struggle against Dutch colonialism.[Artikel ini mengelaborasi model penafsiran Al-Quran dalam Hikayat Prang Sabi. Dengan berpedoman pada teks karya Teungku Chiek Pante Kulu, penulis menginterpretasi data dengan meminjam gagasan Hans Georg Gadamer tentang “Pra-Pemahaman”, “Perpaduan Horizon (cakrawala)”, dan “Kesadaran (keterpengaruhan) sejarah”. Penelitian ini menunjukkan bahwa Hikayat Prang Sabi telah memperkenalkan model penafsiran Al-Quran yang khas dengan mengadopsi intrumen hikayat dalam kebudayaan Aceh. Dalam penelitian ini, penulis mengidentifikasi model penafsiran tersebut dengan istilah Tafsir Hikayati. Tafsir Hikayati telah berkontribusi dalam mengkontruksi perlawanan orang Aceh terhadap kolonialisme Belanda dengan mempertemukan dua spirit yang sangat berpengaruh dalam masyarakat Aceh: agama dan budaya. Melalui Tafsir Hikayati, Teungku Chiek Pante Kulu mengonstruksi tafsir perlawanan (resistance hermeneutics) dengan melakukan interpretasi teks keagamaan Islam (Al-Quran) menggunakan bahasa kebudayaan (hikayat) yang berkembang di Aceh. Perpaduan dua spirit tersebut telah membantu orang Aceh dalam menerima dan menangkap pesan perlawanan yang disampaikan oleh Hikayat Prang Sabi sehingga berhasil membangkitkan semangat perjuangan ideologis dalam melawan penjajahan Belanda.]
Remembering and Forgetting: Counter-Memories of Tausug Survivors of the 1974 Battle of Jolo (Sulu, Philippines) Salomon, Elgin Glenn
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.1-17

Abstract

Examining the case of the 1974 Battle of Jolo, this article unpacks how Tausug survivors have constructed, remembered, and made sense of their memories of one of the bloodiest conflicts between the Moro National Liberation Front (MNLF), a Muslim secessionist movement in the southern Philippines, and the Armed Forces of the Philippines (AFP) during the martial law period (1972-1986). As counter-memory to the narratives of the MNLF and the military on the 1974 Battle of Jolo, this study argues that while many of the survivors want to forget and move on from the tragedy of war and violence, their memories revealed layers of problems faced by Muslim Mindanao in the recent decades. Some survivors are eager to document their experiences to reclaim their agency, while many of them transmit their collective memories and life lessons to the next generations of Tausug.[Artikel ini mengungkap bagaimana para orang-orang Tausug, yang mengalami Pertempuran Jolo tahun 1974, membangun, mengingat, dan memaknai ingatan mereka tentang salah satu konflik paling berdarah antara Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dengan Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) selama periode darurat militer (1972-1986) tersebut. Sebagai memori tandingan terhadap narasi MNLF tentang Pertempuran Jolo Tahun 1974, penulis berpendapat bahwa banyak penyintas ingin melupakan dan mengalihkan perhatian mereka dari tragedi perang dan kekerasan di atas. Sementara, konstruksi ingatan mereka mengungkapkan lapisan-lapisan masalah yang dihadapi oleh Muslim Mindanao dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa penyintas sangat ingin mendokumentasikan pengalaman mereka untuk mendapatkan kembali hak pilihan mereka, sementara banyak dari mereka tetap meneruskan cerita tentang kenangan kolektif dan pelajaran hidup ini kepada generasi Tausug berikutnya. ]
Qur’anic Exegesis as A Social Critique: A Study on the Traditionalist Bisri Musthofa’s Tafsīr al-Ibrīz Abidin, Ahmad Zainal; Nurain, N.; Aziz, Thoriqul; Noorhidayati, Salamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.215-239

Abstract

This article examines Tafsīr al-Ibrīz, a Javanese exegetical work of the Quran authored by the traditionalist Muslim scholar Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Adopting a dialogical approach to tafsr literature, the study seeks to explore the intersection between the scriptural text and the sociocultural contexts that the exegete engages with. Written during a period marked by the intensification of Islamic reform and modernization, al-Ibrīz offers valuable historical insights into these dynamics, as well as the exegete’s responses and critiques of contemporary socio-religious challenges in Indonesia. Through a critical-dialectical epistemological framework, the article underscores two significant aspects: the intellectual perspective of the author and the socio-cultural milieu in which the book was produced. Furthermore, it contends that Bisri Musthofa epitomizes a defender of Islamic traditionalism, whose religious authority is articulated through classical Islamic scholarship. His book embodies the responses of traditionalist Muslims to the processes of modernization and rationalization in late 20th-century Indonesia, addressing issues spanning economics, theology, and ethics.[Artikel ini mengkaji Tafsir al-Ibrīz, sebuah karya tafsir al-Qur’an Jawa yang ditulis oleh ulama tradisionalis, Kyai Bisri Musthofa (1915–1977). Dengan menggunakan pendekatan dialogis literatur tafsir, penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi persinggungan antara teks kitab suci dan konteks sosial budaya yang dihadapi oleh penafsir. Ditulis selama periode yang ditandai oleh intensifikasi reformasi dan modernisasi Islam, al-Ibrīz menawarkan wawasan sejarah yang berharga serta tanggapan dan kritik penafsir terhadap tantangan sosial-keagamaan kontemporer di Indonesia. Melalui kerangka epistemologis dialektis-kritis, artikel ini menggarisbawahi dua aspek penting: perspektif intelektual penyusun dan lingkungan sosial-budaya tempat buku tersebut disusun. Lebih jauh, penulis berpendapat bahwa Bisri Musthofa merupakan lambang pembela tradisionalisme Islam, yang otoritas keagamaannya diartikulasikan melalui keilmuan Islam klasik. Tafsir al-Ibrīz merangkum respons kaum Muslim tradisionalis terhadap proses modernisasi dan rasionalisasi di Indonesia akhir abad ke-20, dengan membahas isu-isu yang mencakup ekonomi, teologi, dan etika.]
Reevaluating Approaches to Religious Moderation at the Grassroots Level: The Role of Muslim Youth in Advancing Interfaith Dialogue Jati, Wasisto; Syamsurijal, Syamsurijal; Halimatusa'diah, Halimatusa'diah; Aji, Gutomo; Yilmaz, Ihsan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.185-213

Abstract

This paper examines the potential role of Muslim youth as alternative partners in fostering religious moderation at the grassroots level. It identifies two central issues in current religious moderation policies in Indonesia: (1) an overemphasis on programs aimed at security and deradicalization, which overshadow initiatives that encourage harmonious inter- and intra-religious relationships, and (2) a predominantly top-down approach that limits grassroots participation, particularly among young people. These challenges expose gaps in policy strategies and highlight unequal public engagement in religious moderation efforts led by the government. Addressing these concerns, the study proposes alternative policy strategies that actively involve Muslim youth, who bring their own understanding of religious moderation cultivated through participation in various Islamic organizations and youth forums. This study adopts a qualitative research methodology, incorporating data from in-depth interviews with students, academics, and activists; direct observations of interfaith dialogue groups and communities; and document analysis. Fieldwork was conducted in Semarang and Yogyakarta—cities renowned for their robust interfaith dialogue networks and advocacy in Indonesia. The paper ultimately argues that Muslim youth’s active involvement in interfaith dialogue is a viable strategy to expand engagement at the grassroots level, especially among marginalized communities or those disadvantaged by hierarchical religious moderation policies.[Tulisan ini mengkaji peran muda-mudi muslim sebagai mitra alternatif dalam implementasi moderasi beragama di tingkat akar rumput. Ada dua permasalahan yang perlu digarisbawahi terkait kebijakan moderasi beragama: 1) program yang berorientasi pada keamanan dan deradikalisasi lebih besar daripada upaya membangun keharmonisan hubungan antar/intra umat beragama dalam kebijakan moderasi beragama, 2) pendekatan top-down tidak mengakomodasi partisipasi dari bawah khususnya generasi muda. Kedua permasalahan ini menimbulkan kesenjangan antara strategi kebijakan dan respons masyarakat terhadap program moderasi beragama yang dilakukan pemerintah. Berangkat dari permasalahan tersebut, tulisan ini menawarkan alternatif strategi kebijakan yang melibatkan generasi muda, yang mempunyai definisi tersendiri mengenai moderasi beragama melalui keterlibatan mereka dalam beberapa organisasi Islam dan forum kepemudaan lainnya. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan data berupa hasil wawancara mendalam dengan mahasiswa, akademisi, dan aktivis; observasi langsung pada kelompok/komunitas dialog antaragama; dan analisis dokumen. Penelitian lapangan dilakukan di Semarang dan Yogyakarta, dua kota di Indonesia yang memiliki jaringan dan advokasi dialog antaragama yang baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam dialog antaragama dapat menjadi strategi alternatif untuk menjangkau lebih banyak komunitas di tingkat akar rumput, terutama kelompok masyarakat yang menyandang status minoritas dan posisi yang tidak terfasilitasi akibat kebijakan moderasi beragama yang bersifat hierarkis.]
Factionalisation in the Prosperous Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera): Underlying Reasons for the Emergence of the New Direction of the Indonesia Movement (Garbi) Siregar, Sarah; Noor, Firman; Romli, Lili; Priohutomo, Hardianto
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 1 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.621.153-183

Abstract

This article examines the emergence of the New Direction of Indonesia Movement (Garbi) as a result of factionalisation within the Prosperous Justice Party (Partai Keadilan Sejahtera, PKS). This study argues that a number of interconnected factors contributed to the emergence of Garbi, implying that factionalisation in political parties requires multifactor analysis rather than a single factor. This study employs qualitative data gathered through in-depth interviews with central figures in PKS and Garbi. Secondary data is gathered by analysing and reviewing scholarly sources. The study finds two factors for the emergence of Garbi: disagreements over ideological interpretation and uncompromising leadership practices. However, the findings of this study contradict a third factor, which is the absence of an effective conflict resolution process. PKS, as a cadre party, has a regeneration mechanism for dispute resolution, yet it serves as a conduit for the spread of factionalisation until the emergence of Garbi. [Artikel ini mengkaji kemunculan kelompok Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) sebagai akibat dari faksionalisasi di dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Penelitian ini berargumen bahwa sejumlah faktor yang saling berhubungan berkontribusi pada kemunculan Garbi, menyiratkan bahwa faksionalisasi dalam partai politik membutuhkan analisis multifaktor daripada faktor tunggal. Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh sentral di PKS dan Garbi. Data sekunder dikumpulkan dengan menganalisis dan mengkaji sumber-sumber ilmiah. Studi ini menemukan dua faktor kemunculan Garbi: ketidaksepakatan atas interpretasi ideologis dan praktik kepemimpinan yang tidak kenal kompromi. Namun, temuan penelitian ini bertentangan dengan faktor ketiga, yaitu tidak adanya proses resolusi konflik yang efektif. PKS, sebagai partai kader, memiliki mekanisme kaderisasi untuk penyelesaian konflik, namun mekanisme ini justru menjadi saluran penyebaran faksionalisasi hingga kemunculan Garbi.]

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue