cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
Unsur-unsur Zoomorfik dalam Seni Rupa Islam Amri Yahya
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 1 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.381.121-131

Abstract

On the one hand, the appearance of visual factors in the Islamic fine arts which projects an image of pictures about creatures or forms of animal (zoomorphic),  can possibly be related to the Islamic concept and spiritualization in valuing and regarding God's creatures as noble. This can also be confined to the various forms of aesthetic expressions which rise and grow in cultural history at the local environment. On the other hand, visualization of fine arts expressions cannot totally be liberated from the Islamic law perspective (fiqhiyyah) which states that drawing picture of living creatures can be categorized as forbidden acts. Therefore, various aspects of creativity and expression as well as theory and practice of fine arts in contemporary lslamic culture become neglected and marginalized from religious discourses.
Studi Kritis Dalam Hukum Islam (Menimbang Karya David S. Powers) Latiful Khuluq
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.521-529

Abstract

David s. Powers adalah salah seorang sarjana yang cukup dikenal dalam studi Islam (Islamisis, Orientalis). Ketika bukunya diterbitkan, yakni tahun 1986, ia berstatus sebagai Assistant Professor dalam bidang Studi Islam dan Bahasa Arab di Cornell university, sebuah perguruan tinggi di Amerika yang hingga kini dikenal sebagai tempat studi Indonesia modem terbesar di kawasan Amerika (mungkin Barat pada umumnya). Ia tergolong sarjana yang produktif (prolific), dan karya-karyanya menjadi rujukan penting bagi mereka yang menekuni hukum Islam atau Islam pada umumnya. sebagaimana karya-karya sarjana Barat lainnya, karya Powers menggunakan pendekatan historical criticism dan juga literary criticism yang berusaha menunjukkan keterkaitan sejumlah teks dan rumusan hukum Islam dengan realitas sosial, ekonomi, bahkan politik pada masanya. Barangkali agak sulit mencerna karya-karya Powers, termasuk yang sedang diresensi ini, tanpa memahami konteks studi dan pemikiran hokum Islam yang berkembang di kalangan sarjana Barat. Sebab, sejumlah pemikiran Powers dikemukakan justru dalam rangka menjawab beberapa pemikiran kontroversial dalam kajian hukum Islam. pada waktu yang sama, karya karya Powers juga bermanfaat bagi umat Islam untuk melihat ulang sejumlah rumusan hukum Islam yang ada, karena di dalam karya-karya tersebut terdapat pandangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan yang secara umum dianut dan berkembang di kalangan umat Islam.
Wilfred Cantwell Smith on Religious Faith and Trith. Muhammad Rifa’I Abduh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.310-323

Abstract

Sarjana-sarjana muslim maupun sarjana-sarjana studi keislaman dan studi agama-agama telah lama mengenal Wilfred Cantwell Smith beserta karya-karya tulisannya yang telah dipersembahkan bagi perkembangan studi agama-agama pada umumnya dan bagi studi Islam pada khususnya. Minimal ada empat sarjana terkenal yang telah mengakui kepiawaiaan dia. Mereka antara lain mengatalan bahwa melalui konse-konsep tentang agama dan agama-agama yang dikemukakannya, smith telah menolong kita memahami kehidupan keagamaan umat manusia berdasarkan keinginanya akan tercapainya saling tolong menolong dan saling pengertiaan serta menghargai antara umat beragama yang beraneka ragam. Smith juga telah banyak berpengaruh besar pada studi ketimuran dan teologi dan telah turut menyemarakkan pentingnya ideology keagamaan. Tidaklah dapat disangkal lagi adanya satu kenyataan bahwa para peminat studi agama-agama harus mengakui kontribusi smith yang sangat luar biasa bagi pemahaman terhadap Islam. Makalah ini merupakan satu usaha untuk mengelaborasi konsep-konsep smith tentang kepercayaan dan kebenaran agama yang sangat krusial bagi studi agama. Juga dikemukakan konsep-konsepnya tentang agama serta kepercayaan kepada agama lain.
Saving Lives and Limiting the Means and Methods of Warfare: Five Indonesian Tafsīr Views Ulya Fikriyati; Ah. Fawaid
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 1 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.601.167-198

Abstract

Protection of non-combatants and restrictions on methods of warfare are two essential aspects of jus in bello. Dawoody’s and Hashmi’s theory states that the classical Islamic scientific tradition discusses jus in bello much more than contemporary Islamic studies do. Contemporary studies are more preoccupied with deciphering jus ad bellum as a response to the West’s stigma against Islam. This article examines the theory in the realm of Qur’anic interpretation (tafsīr). Five authoritative Indonesian tafsīrs will be the samples; Tarjumān al-Mustafīd, Marāḥ Labīd, Al-Azhar, Al-Miṣbāḥ, and Firdaws al-Naʻīm. The first two tafsīrs represent the classical era, the third came from the transitional era, and the last two tafsīrs originated from the contemporary era. The article examines the shifting trend through two main issues in humanitarian law: protection of non-combatants, civilians, and civilian objects, and limits on the methods and means of war.[Perlindungan terhadap yang bukan kombatan dan pembatasan model perang merupakan aspek penting dalam prinsip hukum jus in bello. Teori Dawood dan Hashmi menyatakan bahwa dalam tradisi pengetahuan Islam klasik justru lebih banyak membahas jus in bello daripada studi Islam kontemporer. Studi kontemporer cenderung menceritakan jus ad bellum sebagai respon terhadap stigmatisasi barat pada islam. Artikel ini akan membahas lima tafsir Qur’an yaitu: Tarjumān al-Mustafīd, Marāḥ Labīd, Al-Azhar, Al-Miṣbāḥ, dan Firdaws al-Naʻīm. Dua yang awal mewakili masa klasik, tafsir ketiga berasal dari masa transisi dan dua yang terakhir mewakili masa kontemporer. Artikel ini juga membahas pergeseran trend kajian melalui dua isu penting yaitu perlindungan pada non kombatan, sipil dan objek sipil dan pembatasan pada metode dan peralatan perang].
The Islamic Concept of Man and Its Implications for the Muslim’ Appreciation of the Civil and Political Rights. Nurcholish Madjid
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 1 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.381.39-64

Abstract

Dalam membincang masalah agama (Islam) dan hak-hak sipil dan politik, perlu dikedepankan terlebih dahulu konsep Islam tentang 'manusia' sebagaimana yang dipaparkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad.  Dengan demikian, menurut penulis, diskusi tidak terjebak dan tereduksi pada pandangan individual maupun kolektif mengenai hak-hak ini yang hanya bersifat sepotong-sepotong.  Pada peristiwa penciptaan Adam, Allah telah mengumumkan bahwa Adam (i.e. manusia) akan dijadikan wakilNya di bumi. Untuk itu Allah membekali Adam, sang manusia, dengan kemampuan intelektual dan spiritual untuk membaca, mengerti, memahami serta memanfaatkan pengetahuannya itu guna menjalankan fungsi khilafah yang diembannya.  Disamping itu, kebebasan/ freedom adalah hak lain yang dianugerahkan Allah kepada Adam sebagai manusia, dengan satu-satunya pembatasan agar ia jangan mendekati 'pohon kejahatan.  Berkaitan dengan pemberian kemampuan intelektual-spiritual dan kebebasan tersebut, Allah membuat perjanjian suci (mithaq) dengan manusia,  bahwa manusia hanya akan menuruti jalan Allah, dan menolak jalan-jalan lain yang ditawarkan oleh setan. Umatmanusia di seluruh dunia, sebagai anak-anak Adam, memiliki hak dan kewajiban sebagaimana tertera dalam perjanjian primordial tersebut di atas. Naluri dan fitrahnya akan selalu mencari jalan untuk memenuhi perjanjian suci yang telah dibuat di hadapan Tuhan. Secara natural pula, setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hid up, ikut berpartisipasi dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan hidupnya. Inilah landasan dasar hak-hak sipil dan politik dalam Islam.
Mohammad Ilyas dan Gagasannya tentang Kalender Islam Internasional Susiknan Azhari
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.414-435

Abstract

This paper describes Muhammad llyas’ thought on international Islamic Calendar and its position in Contemporary Islamic studies. Ilyas is one of Muslim thinkers who tries very hard in uniting lslamic calendar around the world. Actually, his methodological efforts is a further development of a tradition which had been developed by previous Muslim thinkers such as ibn taymiyah, Ahmad Muhammad Syakir, abu Zahrah and T.M. Hasby as-Shiddiqy. However, these thinkers had only used normative-deductive domain. While Ilyas has not only dealt with normative-deductive domain but also empirical-inductive data using modern Science. For supporting his views, Ilyas conducted many research for about 20 years (1973-1993). For llyas, scientific study on International islamic calendar cannot be set aside because it is aproduc to history in which the role of reason or ijtihad is more dominant in producing it by basing on data taken from nafural phenomenon.Therefor, Ilyas argued that dialog on lntemational lslamic Calendar,especially on problem of lntemational Lunar Dateline (ILDL) will run well and harmonious if each representative of nation has a good education and holistic-comprehensive understanding.  Ilyas believes that his effort will be realized especially after he knows Muslim’s ability and quality in sciences have been improved and wide spread. Apart from how later responses on his lnternational lslamic calendar will rise, what has been developed by Ilyas through his project of international Islamic Calendar program (IICP) and other works is renewal of the existing calendar. Therefore, his existence in contemporary Islamic studies is very significant in order that we will not be trapped into existing mapping of contemporary Islamic Thought, namely Theology, law, Philosophy, and Sufism. Thus, we need to include science in contemporary Islamic Studies.
Muhammadiyah’s Views and Actions on the Protection of Civilians during the Japanese Invasion of the Netherlands Indies, 1941-1942 Muhammad Yuanda Zara
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 1 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.601.91-130

Abstract

Studies on Muhammadiyah largely ignore Muhammadiyah’s perceptions of war. This study explores Muhammadiyah’s thoughts and practices on the protection of civilians in a so far neglected war, namely Japanese invasion of the Netherlands Indies in 1941-1942. Using historical research method, this study scrutinizes previously unexamined primary sources, the weekly magazine Adil, which was published by Surakarta branch of Muhammadiyah, in editions between 1941-1942. By examining edicts from the Central Board of Muhammadiyah as well as the writings of individuals affiliated with Muhammadiyah published by Adil, this study argues that Muhammadiyah was highly attentive to efforts to protect the civilians in times of war, by basing its thoughts on the interplay between Islamic principles and modern ideas about the rights of non-combatants in battle. Muhammadiyah strongly emphasized that during the war the civilians must be protected by the state. It moreover advised people to build spiritual and mental strength so that they can survive the war and advocated a self-protection of civilians by encouraging every resident of the Indies to help each other during the war. It campaigned for the protection of civilians with various methods and by establishing a special agency to organize the protection efforts. This study elucidates the role of Muhammadiyah in providing information, religious guidance and practical supports to its members and the Indonesian people in general regarding the protection of civilians in a war that finally overthrew European colonial powers in Southeast Asia.Studi-studi tentang Muhammadiyah masih mengabaikan tema persepsi Muhammadiyah tentang perang. Kajian ini mengeksplor pandangan dan tindakan Muhammadiyah terkait perlindungan warga sipil di masa perang, dalam konteks yang selama ini terabaikan, yaitu invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1941-1942. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, studi ini mengkaji sumber-sumber primer yang belum pernah diteliti sebelumnya, yaitu majalah mingguan Adil yang diterbitkan oleh Muhammadiyah cabang Surakarta, di edisi antara tahun 1941-1942. Dengan menelaah maklumat-maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta tulisan individu-individu yang berafiliasi dengan Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Adil, penelitian ini berargumen bahwa Muhammadiyah menaruh perhatian besar pada upaya melindungi warga sipil di masa perang, dengan mendasarkan pemikirannya pada saling interaksi antara prinsip-prinsip Islam dan ide-ide modern tentang hak-hak non-kombatan dalam pertempuran. Muhammadiyah sangat menekankan bahwa selama perang warga sipil harus dilindungi oleh negara. Selain itu, Muhammadiyah mengajak masyarakat untuk membangun kekuatan spiritual dan mental sehingga mereka dapat bertahan dari perang dan menganjurkan agar warga sipil berupaya melindungi diri mereka sendiri dengan mendorong setiap penduduk Hindia untuk saling membantu selama perang. Muhammadiyah mengkampanyekan perlindungan warga sipil dengan berbagai metode dan dengan membentuk badan khusus untuk menyelenggarakan upaya perlindungan. Kajian ini menjelaskan peran Muhammadiyah dalam memberikan informasi, panduan keagamaan, dan dukungan praktis kepada anggotanya dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai perlindungan warga sipil dalam perang yang akhirnya menggulingkan kekuatan kolonial Eropa di Asia Tenggara.]
Logika Transsendental Kant dan Implikasinya Bagi Kemungkinan Pengetahuaan Islam Alim Roswantoro
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.391-414

Abstract

This paper tries to reconstruct Immanuel Kant's thought of logic that has been described in his magnum opus,Critique of Pure Reason. In this book, Kant who is well-known as critic and philosopher has successfully reconciled two philosophical trends, namely, rationalism and empiricism. This reconciliation demonstrates his philosophical thought which is full of logical argumentation. He strives to prove the existence of a priori knowledge serving as a basis or his transcendental philosophy. From this basic idea, he then explains his transcendental logics in order to support his n priori knowledge. He shows that knowledge absolutely does not cease on empirical or a posteriori root. After describing Kant's transcendental logics, this writing analizes his fundamental idea as an important contribution to the history of human intellectual. Finally, the writer tries to draw its implication for the possibility of Islamic knowledge.
Freedom of Religion, Pluralism and Interreligious Dialogue (Islamic Perspective) Syafa'atun Elmirzana
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.331-348

Abstract

Dua isu kontemporer yang berkaitan dengan pemikiran kembali Islam, khususnya sejauh berkaitan dengan kebebasan agama, pluralisme dan dialog antar agama, adalah masalah konversi dan dakwah/misi. Masalah kebebasan beragama, khususnya kebebasan pindah agama, masih menjadi perdebatan. Hal ini terutama dikaitkan dengan persoalan hak-hak asasi manusia, sehingga memunculkan tuduhan bahwa Islam bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Tendensi di atas disebabkan karena pandangan yang bersifat monolitik terhadap Islam, dan mengabaikan kenyataan bahwa Islam merupakan agama yang polyinterpretable. Paper ini mencoba melakukan peninjauan kembali terhadap hukum-hukum yang pernah ditetapkan dimasa lampau berkaitan dengan persoalan riddah (pindah agama) serta problem yang juga berkaitan dengan kebebasan beragama, yaitu masalah dakwah/misi. Hukum tentang riddah perlu ditinjau secara kontekstual. Artinya, penggunaan kekerasan (dalam hal ini hokum bunuh) adalah berdasarkan pada kondisi emergency, yang berisi pertimbangan moral ketimbang provokasi agama. oleh karenanya, hal tersebut bukan terutama karena orang-orang mempercayai atau mengimani apa yang mereka imani, tetapi karena kekerasan yang mereka lakukan sehingga mereka dapat dikenai hukuman. Disamping itu,hadits yang menjadi landasan hukuman riddah ini secara teknis bukanlah hadits yang mutawatir, yang konsekwensinya, menurut sistem tradisional, tidak mengikat. Bahkan banyak alasan persuasif untuk memandang bahwa hadits tersebut dipalsukan. Dalam kasus ini, hadits ini juga bertentangan dengan ajaran al- Qur'an, karena di sana tidak disinggung wajibnya hukuman mati bagi murtad. Hal kedua, yaitu masalah d akun hhnrssl Bertitik torak dari pengertian dakwah/misi dikaitkan dengan praktek atau bentuk-bentuk dakwah/misi yang telah banyak dimanipulasi, maka dakwah/misi perduli tinjau ulang. Kata dakwah/misi ring mempunyai konotasi sebagai konversi, yang sering membawa konflik dalam memperoleh pengikut. sebagai suatu titik berangkat, diusulkan penggantian istilah dakwah/misi dengan kata dialog, yang pada dasarnya merupakan pendidikan dalam pengertian yang luas dan mulia. Akhir dari dialog harus merupakan konversi kepada kebenaran dan bukan konversi kepada Islam atau agama lain. Suatu konversi dengan keyakinan akan kebenaran itulah satu-satunya yang absah. Dalam hal ini kita tidak mengkonversi orang, tetapi kita sematamata hanya membantu agar Rahmat Tuhan bekerja dalam hati dan akalnya.
Dakwah Dalam Persepektif Hasan Al-Banna Noor Chozin Sufi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.435-451

Abstract

Any movement requiring the involvement of people certainly needs careful plan and strategy in order to achieve its main goals, including "dakwah". In this article the writer tries to elaborate the concept and strategy of "dakwah" offered by an outstanding Muslim leader of Egypt, Hassan al-Banna. He is chosen since his thought has been influencing and inspiring Muslims all over the world. After giving considerable biographical notes of al-Banna the writer explains that according to al-Banna Islamic dakwah must cover and serve every aspect and basic need of human life, in other words it must be comprehensive. For this reason, to implement his thought on dakwah e built up a religions organization called Ikhwanul Muslimin which was managed professionally and provided services for people of Egypt.  This distinguished dakwah organization had colored the lives of the Egyptians for many decades and elevated their understanding on Islamic teachings. The phenomena of its success is still under discussion and inspiring many dakwah organizations in Indonesia.

Page 79 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue