cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
Maintaining Indonesian Harmony Latiful Khuliq
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.v-vi

Abstract

Knowledge of God: A Glance at the Development of Al-Ghaz.alī’s Concept in His Later Works. Andi Nurbaety
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.349-373

Abstract

Pertanyaan tentang mungkinkah manusia mencapai pengetahuan (ma'rifat) tentang hakekat Tuhan, dan dengan cara bagaimanakah manusia dapat mencapai ma'rifat itu, dibahas oleh penulis dalam artikel ini. Penulis menganalisis pemikiran "hujjatul Islam" Imam Al-Ghazali tentang permasalahan di atas yang tertuang dalam ketiga bukunya: 1. lhyā 'Ulum al-Dīn, khususnya pada kitab al-'ilm 2. Al-Munqidh min al-Ḍalāl, dan; 3. Iljūm al: Awām' an' ilm al-Kalām.  Penulis secara berurutan menguraikan bagaimana Tuhan dapat dipersepsi oleh manusia, sebagaimana tertuang dalam ketiga karya al-Ghazali di atas. Tercakup dalam pembahasan pengetahuan manusia tentang Tuhan adalah zat Tuhan, sifat-sifat Tuhan yang azali, abadi dan sempurna, serta karya-karya Tuhan. Meskipun ada perbedaan penekanan kalimat dalam ketiga kary any a,namun Al-Ghazali cukup konsisten menggarisbawahi Peran penting dhawq bagi manusia dalam menggapai ma'rifat hakekat Tuhan.
Taryamāt Ma'āni al-Qur'ān al-Karīm wa taṭwiruhā Saat Abdul Wahid
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.452-475

Abstract

 The purpose of the revelation of the Qur'an is to make it the main source of Islamic law, way of life for individuals and society as well as to guide them in gaining the bliss of the world and hereafter. Most Muslims do not understand Arabic language, although the Qur'an was revealed in Arabic language. Therefore, most Muslims need translation of the Qur'an to understand it. Many western scholars who had a great study on Islam had tried to translate the Qur'an into European languages, whereas in fact they envied Islam and tried to put hatred in their translation. As a result, the Qur'an has been translated into many European languages. Because of this, many Muslim scholars try to translate the Qur'an in order to help other Muslims understand the Qur'an on one hand while on the other hand they try to prevent Islam from the spread of lies done by orientalist through their translation. The first Muslim who translated the Qur'an into English language was a British Muslim Muhammad Marmaduke Pickthall. In addition, the first Indonesia Muslim who translated Qur'an was Abdurrauf Fansuri from Singkel, Aceh, in the seventeenth century. The translation was then followed by other translations in Indonesian language.[Tujuan diturunkannya Al-Qur'an ialah menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber utama bagi syariat Islam, tuntunan hidup bagi individu dan masyarakat, serta membimbing mereka unfuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar kaum muslimin di dunia tidak memahami bahasa Arab, padahal Al-Qur'an di- turunkan dalam bahasa Arab. Unfuk itu mereka memerlukan pertolongan dari terjemah Al-Qur'an untuk memahaminya.  Orang-orang orientalis telah berusaha menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa Eropa, padahal mereka sangat dengkikepadalslamdanberusaha memasukkan kebatilan-kebatilan dalam menerjemahkan Al-Qur'an. Mereka telah berhasil menerjemahkan Al-Qur'an ke berbagai bahasa Eropa hingga ratusan terjemahan. Maka para ulama Islam pun tidaklah diam, mereka berusaha menerjemahkan Al-Qur'an untuk mencegah tersebarnya kebatilan yang disebarkan oleh orang-orang orientalis melalui terjemahnya. Orang muslim yang pertama kali menerjemahkan Al-Qur'an al-karim kedalam bahasa Inggris adalah M. Marmaduke Pickthall, dia adalah orang Inggris asli. Adapun orang Muslim Indonesia yang pertama kali menerjemahkan Al-Qur'an al-Karim adalah Abdurrauf Fansuri, dari Singkel, Aceh pada abad tujuh belas, yang kemudian di susul oleh belasan terjemahan yang lain.] 
A profile of The ‘Ulamā’ In Acehnese Society Yusny Saby
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.267-296

Abstract

Melalui artikel ini penulis memaparkan profil, yakni karakteristik umum, potret, pendidikan, pandangan hidup serta gaya hidup keseharian ulama dalam masyarakat Aceh. Sebenarnya ulama Aceh dapat dipilah ke dalam beberapa tipe dan kategori, diantaranya ulama tradisional dan ulama pembaharu, dan artikel berikut lebih berkonsentrasi pada profil ulama tradisional yang dalam beberapa hal masih bersifat monolitik, dibandingkan dengan ulama pembaharu yang lebih variatif.  Dengan teliti dan menarik penulis menjelaskan model-model pendidikan ulama tradisional yang dilangsungkan di lembaga pendidikan agama yang disebut dayah. Tercakup di sini adalah corak-corak kehidupan dalam dayah dari masa ke masa dan dari satu wilayah ke wilavah vang lain.  Pandangan hidup para ulama tradisional, karena dikutuk oleh model pendidikan di dayah yang sangat terbatas, juga menjadi spesifik, misalnya, menghindari penggunaan akal dalam memahami teks agama (Qur'an hadits). Namun, karena kesalehannya, Para ulama tradisional mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat sekitar.
Ibn Taymiyyah: His philoshophical Thought on Causality. S Sumedi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.374-390

Abstract

Ibn Taymiyyah, menurut penulis artikel ini, banyak disalahpahami. Ia lebih dikenal sebagai seorang tokoh yang anti-rasionalis, pemikir literal dan teolog revivalis, ketimbang seorang filosof. Berangkat dari sini lah artikel ini ingin melacak pemikiran filosofis Ibn Taymiyyah dengan merekonstruksi pemikirannya tentang kausalitas. Sebuah upaya yang tidak mudah memang, karena Ibn Taymiyyah tidak menulis satu buku tersendiri tentang hal ini. Upaya rekonstruksi dilakukan dengan melacak konsep itu yang masih terserak di berbagai karyanya. Maka dipilihkan pengkajian atas beberapa kata kunci yang mengekspresikan kausalitas itu. Dalam kata benda: sabab, al-‘illah, al-muatstsir, al-sababa, al-mūjid and al-ḥadats dalam kata kerja: sabbaba, 'allala, awjada, aḥdatsa, dan atstsara. Sementara kata yang mengekspresikan prosest ransformasi dari sebab keakibat (causationa) dalah al-ta'lil, al-ta'tsir, dan al-iḥdāth, sedangkan efek yang diproduksi oleh sebab diekspresikan dalam kata-kata: al-musabbab, al-ma’lūl, al-muḥdats dan al-muatstsar. Setelah membahas selintas tentang sejarah hidup Ibn Taymiyyah, penulis kemudian membahas sub-sub tema berikul kausalitas dan kausasi, elemen-elemen kausasi, macam-macam sebab, persepsi-rasa dan kemampuan akal, statemen-stetemen empirik, dan kausasi dan kemungkinan peristiwa melingkar tanpa batas (daur atau tasalsul).
Acceptance, Approval and Aggression: Some Fatwās Concerning the Colonial Administration In The Dutch East Indies Nico J.G. Kaptein
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.297-309

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang sikap kaum Muslimin Indonesia terhadap pemerintahan kolonial Belanda sebagaimana terefleksikan dalam sejumlah fatwā yang dikeluarkan oleh Ahmad Dahlan (w. 1886), mufti syafi'i di Makkah yang menjadi tumpuan bertanya Muslim nusantara; Sayyid Utsman (7822-7914) penasihat honorer Belanda untuk masalah Arab; dan Hasyim Asy'ari (1,871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama. Ahmad Dahlan dalam beberapa fatwanya yang termaktub dalam kitab Muhimmtat al-Nafa'is, bersikap "menerima" (acceptance) terhadap keberadaan pemerintahan kolonial Belanda selama tidak bertentangan dengan syari'at Islam, dan sayyid ‘utsman bukan hanya menerima bahkan menyetujuinya (approval), karena pemerintah Belanda memberikan keleluasaan bagi kaum Muslimin untuk melakukan ibadah. Berbeda dengan keduanya, Hasyim Asy’ari menentang (aggression) penjajahan Belanda.  Penulis melihat bahwa seringkali sebuah produk fatwā sangat dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik yang melingkupinya. Hal ini menunjukkan dinamika dan fleksibilitas hukum Islam pada satu sisi, tetapi pada sisi lain menujukkan pula betapa suatu produk fatwā menjadi rentan terhadap kepentingan-kepentingan politik tertentu. Fatwa Ahmad Dahlan dan sayyid 'Utsman yang bernada menerima dan menyetujui keberadaan pemerintah kolonial dikeluarkan pada akhir abad ke-19 di mana kekuasaan pemerintah Belada masih sangat kuat. sayyid 'Utsman sendiri digaji oleh pemerintah Belanda untuk membantu snouck Hurgronje dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan komunitas Arab dan pribumi. sedangkan fatwā Hasyim Asy'ari dikeluarkan ketika semangat nasionalisme sedang berkobar, segera setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dalam menghadapi agresi Belanda melalui NICA. Perubahan situasi politiklah yang melatarbelakangi munculnya perbedaan fatwā di antara ketiganya, meskipun mereka, menurut penulis, menggunakan metodologi istinbāṭ hukum yang sama dan mempunyai kerangka intelektual yang sama pula. Perbedaan atau perubahan fatwā yang disebabkan karena perubahan sosial dan politik semacam ini dijumpai pula pada kasus-kasus lain.
Sayap Pembaharu & Tradisionalis Islam (Mitos atau realitas?) H Haikal
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.415-434

Abstract

This study, dealing with reformist and traditionalist wings on Islamic movements in Indonesia, is based on research which among other thorough direct participation in many Islamic discourses held Muhammadiyah and NU, at different places and times. In addition to this, the writer conducted several in depth interviews and discussions with either Muhammadiyah's and NU's activists or leaders. in strengthening this study, this writing also based on intensive literature research using primary and secondary sources. Though both wings have stressed their activities in different fields, however both have same aim, especially as their founders also graduated from ponpes (pondok pesantren). The trend of Muhammadiyah's activities in stimulating education is by founding schools such as Mualimin and Muallimat, which on the whole are located in cities or urban areas. While the trend of NU's activities is by strengthening and modernizing their ponpes, which mostly are located in rural areas. However, as the time passes by, both wings tend to get closer and working hand in hand.
Undestanding the Qur’an with Logical Arguments Discussion on ‘abd al-Jabbār’s Reasoning M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 2 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.382.310-330

Abstract

Mu'tazilah terkenal sebagai aliran pemikiran logis dalam sejarah pemikiran Islam. Mereka selalu berusaha untuk membangun paham keagamaan atas dasar kerja logis akal. Dalam melakukan kerja itu mereka mau tidak mau bertemu dengan kesulitan memahami Al-qur’an yang dalam banyak tempat memberikan keterangan yang secara sepintas terasa tidak logis. Misalnya, bacaan-bacaan yang memberikan pengertian kebebasan manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri, ketika dihadapkan dengan ketentuan-ketentuan Allah yang tidak dapat diubah manusia Keberadaan al-Qur'an sebagai dasar ajaran Islam bagi kaum Sunni tidak diragukan sama sekali, namun bagi kaum Mu'tazilah terdapat beberapa catatan. Kalau al-Qur'an itu firman Allah, apakah beritanya dapat dipakai untuk menjadi bukti keberadaan-Nya. Secara nalar, memang pertanyaan ini tidak dijawab dengan positif. Kandungan berita tidak dapat menerangkan keberadaan pemilik berita, karena itu berarti akan terjadi lingkaran syetan: kandungan berita hanya dapat dianggap benar jika pemilik berita tidak berbohong, sementara keberadaan pemilik berita itu sendiri diterangkan oleh kandungan berita. Dengan demikian al-Qur'an tidak dapat memberikan keterangan pertama tentang Allah sendiri, kata 'Abd al-]abbar yang terkenal dengan sebutan al-Qādlī atau Qādlī al-Qudlāh (320/932-415/1025), seorang tokoh Mu'tazilah pada kebangkitannya setelah dijatuhkan dari lingkaran kekuasaan politik oleh Khalifah al-Mutawakkil (847-86I). Lalu bagaimana kitab ini dapat merupakan dalil bagi pemikiran teologis Islam? Tulisan ini membahas pemikiran 'Abd al-Jabbdr mengenai hal-hal itu dan yang berkaitan dengannya. Kesimpulannya adalah bahwa menurut tokoh ini orang mesti menggunakan penalaran logis dalam mendudukkan al-Qur'an dalam struktur pemikiran teologis dan dalam memahami keseluruhan bacaan-bacaannva.
Raja Ali Haji dan Pemikiran Kebahasaannya: Studi Terhadap Kitāb Bustan Al-khatibin li As-subyān al-Muta’allimin. M Mustari
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.181-198

Abstract

At  the  time when the political, military and economic power of the Riau  Empire went  down as a consequence  of the colonialization and division  of Melayu into  two  poles,   Singapore  and Semenanjung Tanah Melayu  (the  North Melayu   was under the colonialization of the British) and  the islands   of Riau (the South Melayu was under the colonialization of the  Dutch),  people were eager to preserve the Melayu and Islamic traditional  values  which  were inherited from their  ancestors. This event, in turn, raised   some defensive fights by means   of the Islamic culture and languages. Kitab Bustan al-Katibin of Raja Ali Hajjis one of the scholarly answers to the need of the Melayu grammar, which, at the sometime, helps to set   the character of Riau as   a center for culture and language training in the 19” century.  As the first book of Melayu grammar, this book, on the one hand, could fill the lacunae of resources on the subject. But on the other hand, the kitab was not successful enough to satisfy the need for a good grammar book which represents the character of the Melayu language, it only absorbed the Arabic grammar. Thus, the significance of the book lies on Raja Ali Haji's thought of Islam, language, and Melayu, and not on the aspect of the grammar. In short, the "kitab" can be seen as the reflection on of the Melayu Riau    intellectuals of the time in guiding their society to completely undestand the Islamic doctrines.
The Idea of Tajdīd In The Seventeenth Century India: A Reconsideration of the Backround of Religious Life Achmad Jainuri
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.77-92

Abstract

Ide tentang tajdid dan munculnya mujaddid setiap satu abad sebagaimana disebut dalam satu hadis Nabi merupakan satu faham yang dianut secara meluas, termasuk kalangan masyarakal Islam di lndia. Salah seorang yang dipandang sebagai mujadid untuk milinium kedua adalah Syeh Ahmad Sirhindi. Menurut sebagian besar, jika tidak semua, karya-karya tentang Sirhindi, gerakan tajdid tersebut terutama disebabkan oleh praktek keagamaan masyarakal lndia yang dipandang telah jauh dari ajaran lslam yang sebenarnya; masyarakat setempat dipandang sering kali melakukan praktek-praktek bid'ah dan khurafat bahkan tidak jarang melakukan sesuatu yang justru cenderung menghancurkan Islam. Semua praktek tersebut semakin subur terutama sejak naiknya Akbar ke tahta Kerajaan Mughal, sehingga melahirkan pandangan bahwa Akbar telah keluar dari Islam. Yang menarik, makalah berikut mempertanyakan kembali tesis yang sudah mengakar itu. Dengan menelusuri data-data sejarah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan pada masa Akbar dan Sirhindi, penulis makalah sampai pada kesimpulan bahwa tesis tersebut tidak bisa diterima, paling tidak masih memerlukan penelitian lebih jauh. Untuk mendukung tesisnya Penulis menujukkan bahwa perbedaan antara Akbar di satu sisi dan Sirhindi di sisi yang lain lebih banyak disebabkan oleh pertentangan elit yang lebih terorientasi politik dan bukan persoalan keagamaan; atau bukan pertentangan antara pandangan non-Muslim (Akbar) dan Muslim (Sirhindi) tapi lebih antara satu pemahaman dengan pemahaman yang lain tentang ajaran Islam' Akibat tulisan berikut cukup serius: klaim bahwa Sirhindi merupakan mujaddid pada milinium kedua adalah kurang didukung oleh data sejarah yang bisa diterima sebagian besar, jika tidak semua sejarawan. 

Page 80 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue