cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
Eksistensi Istishhab Sebagai Sumber Tasyri’ Tjut Intan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.97-105

Abstract

Al-Qur’an sebagai sumber pertama bagi tasyri’ Islam Sebagian besar memuat hulkum-hukum secara global atau garis besar (mujmal) sehingga terkadang tidak bisa diaplikasikan secara langsung untuk memecahkan suatu problema yang muncul sebelum adanya explanasi atau intepretasi terhadap hukum tersebut. Tugas untuk memberi explanasi atau interpretasi terhadap hukum tersebut. Tugas untuk memberi explanasi atau inepretasi ini diserahkan kepada sumber lain yang kita kenal dengan istilah as-Sunnah atau al-Hadist. Sementara itu aktifitas kehidupan terus melaju, Langkah-langkah kecil menyeruak dihamparan waktu. Roda zaman menggilas kita, terseret tertatih-tatih. Sumber hidup dan kehidupan terus diburu berpacu dengan waktu. Probematika yang ada pada masa lampau berbeda dengan yang dihadapi pada masa ekarang atau masa kini. Keadaaan masyarakat yang sederhana menjadi sangat complex, heterogeny dan pluralistis, sehingga menghendaki adanya formasi hukum baru. Hal ini disebabkan pristiwa yang terjadi tidak didapati hukumnya, baik di dalam Al-Qur’an, as-Sunnah maupun fatwah shahabat. Melihat keadaan seperti ini pula ualama berusaha sekuat tenaga untuk mengistimbatkan hukum terhadap pristiwa yang terjadi dengan berpegang kepada pristiwa-peristiwa yang tidak menyimpang dari kaidah-kaidah istimbath, yang akhirnya terciptalah suatu rumusan hukum yag bisa mewakili terhadap penyelesaian suatu problem hukum. Salah satu metode ijtihad yang dilakukan oleh para ulama adalah apa yang dikenal dengan istilah “istishhab”. Akan tetapi tentang keberadaannya sebagai hujjah, masih diperselisihkan. Hal ini disebabkan persepsi yang berbeda-beda dalam melakukan penalaran terhadap suatu masalah yang dihadapi. Berangkat dari pemikran diatas, penulis berusaha memaparkannya secara diskriptif, sehingga didapatkan gambaran existensi istishhab sebagai salah satu sumber tasyri’ dengan segala permasalahannya.  
Nikah Sirrī Di Indonesia Kamal Muchtar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 56 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.056.12-35

Abstract

Peristiwa dan kejadian ini bermula pada awal tahun 1970 di pulau Kalimantan. Pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu memberi izin perusahaan asing membuka usaha penebangan dan pengolahan kayu, sebagai salah satu usaha menambah devisa negara dan membuka lapangan kerja bagi penduduk Indonesia. Disamping tenaga kerja Indonesia, usaha itu juga memerlukan tenaga-tenaga asing, karena bangsa Indonesia belum lagi memiliki tenaga-tenaga terampil bagi pekerjaan tertentu, sebagaimana yang diharapkan Maka banyaklah tenaga-tenaga asing yang masuk ke Indonesia, terutama yang berasal dari negara-negara tetangga, seperti dari Singapura, Pilipina, Taiwan, Jepang dan sebagainya. Sebagian besar dari tenaga kerja itu masuk ke Indonesia dalam keadaan sendirian, tidak bersama isteri-isteri mereka, atau masih jejaka, belum beristeri. Dorongan biologis pada diri mereka mendorong, menimbulkan usaha-usaha mendekati penduduk asli. Namun usaha itu sering tidak membuahkan hasil, karena kuatnya adat dan agama yang dianut penduduk asli. Dalam pada itu prostitusi sangat dilarang di daerah itu. Seandainya pendekatan itu berhasil, untuk melaksanakan perkawinan harus melalui prosedur tertentu yang mereka rasakan sebagai suatu yang sangat sulit dilakukan. Hal ini mungkin karena perbedaan hukum yang berlaku bagi mereka dan wanita penduduk asli akibat perbedaan kewarganegaraan. Hal lain yang menghambat keinginan mereka, ialah karena agama yang mereka anut. Kebanyakan mereka menganut agama yang bukan Islam, sedangkan kebanyakan wanita penduduk asli yang akan mereka nikahi menganut agama Islam. Para ulama - memang demikian menurut ajaran Islam­ setempat menyatakan bahwa dilarang melaksanakan perkawinan antara seorang muslim dan bukan muslim. Sekalipun banyak halangan yang menghambat usaha mereka, namun usaha ke arah itu tetap mereka lakukan.
Beyond Syncretism: Evidence of the Vernacularization of Islamic Theological Terms in Javanese Literature in the 19th Century Z Zuhri
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 2 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.602.373-398

Abstract

Scholars have long debated whether the relationship between Islam and Javanese culture should be considered syncretism or inculturation. This article analyzes Javanese literature to discuss post-syncretism in Islamic studies. It argues that Javanese literature exemplifies the vernacularization of Islamic theology into Javanese language and discourse. It describes how Islamic theology was used in eight Javanese texts at different historical points in the 19th Century. The leading Islamic theological terms (God, angels, Al-Qur’an, Prophet, and the Last Day) have consistent meanings in the Javanese text. Differences were only found in spelling, pronunciation, and written script that converted Arabic to Javanese and Pegon. Vernacularization functions as a tool for transmitting knowledge while the substance, meaning, and content remain unchanged. Therefore, there is no evidence of syncretism in using these terms. Syncretism may have operated in Javanese culture (e.g., Javanese Islamic rituals), but it does not appear that syncretism has penetrated the realm of theology. Accordingly, future studies on local Islam should explore discursive traditions and how knowledge has been generated alongside the process of Islamization.[Para sarjana telah berdebat lama apakah hubungan Islam dan budaya Jawa, sebaiknya berupa sinkretisme atau inkulturasi. Artikel ini membahas literatur Jawa untuk mendiskusikan post-sinkretisme dalam kajian Islam. Hasilnya menunjukkan bahwa literatur Jawa mencerminkan penyebaran teologi Islam melalui bahasa Jawa dan wacananya. Artikel ini menunjukkan teologi Islam dalam enam teks Jawa dengan penekanan historis yang berbeda pada abad 19. Istilah teologi penting seperti, Allah, malaikat, al-Qur’an, nabi dan kiamat, mempunyai makna yang tetap dalam teks Jawa. Perbedaan yang muncul hanya ejaan, pengucapan dan penulisan saat dialihkan dari bahasa Arab ke bahasa Jawa dan aksara pegon. Pribumisasi berfungsi sebagai alat transmisi pengetahuan, sedangkan substansi, makna dan kandungannya tidak berubah. Oleh karena itu tidak ada sinkretisme yang digunakan dalam pribumisasi ini. Sinkretisme mungkin berlangsung di wilayah budaya, tetapi tidak dalam konteks teologi. Dengan demikian, kajian ke depan tentang Islam lokal mengarah pada diskursif tradisi dan bagaimana pengetahuan berkembang seiring dengan proses islamisasi.]
Kalimah Ma’alī al-Duktūr ‘Aḥmad Muḥamad ‘Alī Ra’īsa al-Binak al-‘Islāmī Liltanmīyya fi al-Mu’tamar al-Sādis li Wizrā‘I al-‘Auqāf wa al-Shu’ūn al-Islāmīyya bi Jakarta Akhmad Muhammad Ali
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.285-290

Abstract

Pidato: Kalimah Ma’alī al-Duktūr ‘Aḥmad Muḥamad ‘Alī Ra’īsa al-Binak al-‘Islāmī Liltanmīyya fi al-Mu’tamar al-Sādis li Wizrā‘I al-‘Auqāf  wa al-Shu’ūn al-Islāmīyya bi Jakarta
Hadits dalam Sorotan Di Malaysia (Studi Tentang Pemikiran Dr. Kassim Ahmad Terhadap Hadits) Chaliq Muchtar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 43 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.043.78-102

Abstract

Faham inkarus sunnah sudah sering kita dengar dalam perkembangan dunia Islam, sejak lahirnya aliran-aliran politik dan theologi dalam tubuh umat Islam seperti Mu'tazilah, Syi'ah, Khawarij dan sebagainya pada abad ke dua Hijriah. sebagian dari mereka ini telah menolak hadis sebagai dasar hukum Islam, karena hadis hanya bersifat dhanny. Yang patut dijadikan dasar hukum Islam hanyalah Al Qur'an saja yang mempunyai sifat qath'i. Diantara jumhur ulama yang paling gigih membela hadits ini ialah Imam Syaf’i yang pada waktu itu sedang mengembangkan madzhabnya, sehingga Beliau diberi gelar "Nashirul hadits". Faham inkarus sunnah ini timbul tenggelam dan sering sekali muncul dengan variasi baru namun maksudnya masih tetap satu, yaitu mempersoalkan Hadits sebagai dasar hukum Islam. Setelah perang Salib, kelompok Yang menolak Hadits ini timbul lagi dalam kontek yang lain, yang dilancarkan Oleh kaum orientalis. Dengan metoda Ilmiah mereka Telah mengkritik validitas Hadits yang baru Ditulis setelah 250 tahun sepeninggal Rasulullah saw. Diantaranya ialah Ignas  Goldziher (Muslim Studies), Joseph Schacht (The origins Of Muhammadan Jurispmdence),D.S. Margoliouth (Early Development of Islam) dan G.H.A. Juynboll (The Authenticity of the Traditional Literature dan Muslim Tradition.) Faham dari orientalis ini Telah berhasil mempengaruhi para cendekiawan Muslim di Timur Tengah, sedikit banyaknya telah cenderung menolak hadits sebagai sumber hukum Islam. Diantara mereka ialah Ustadz Mahmud Abu Royyah (Adlwau 'ala Sunnati Muhammadiyah), Al Ustadz Farid Wajdy (Al Islam Dienul 'Ammun Khalidun), Dr. Husain Haikal (Hayatu Muhammad), Dr. Ali Hasan Abdul Qodir (Nadhratun 'Ammah fil Fiqhil Islamy) dan Prof.Dr. Ahmad Amin (fajrul Islam). Mereka ini tidak terang-terangan mengatakan Inkarus sunnah Akan tetapi Paling sedikit telah meragukannya dan telah menanamkan prinsip bahwa Al Qur'an sajalah yang dapat dijadikan dasar Tasyri' Islamy.
Islamic Studies In Japan An Historical Overview Kojiro Nakamura
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 44 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.044.22-41

Abstract

I would like to take "Islamic studies" here broadly as meaning the study of the Muslim world as well as of Islam as a religion. Then it goes more than a century back to the middle of the 19th century. Let me divide its history into four periods: First Period, 1868 – 1930 Second Period, 1930-1945 Third Period, 1945- 1970 Fourth Period,1970- present (I) First Period (1868 - 1930) This is a period of preparation. After the Meiji Revolution, Japan opened the door to foreign countries and launched to modernize the country, discarding the isolation policy of the Tokugawa feudal government. The Japanese began traveling abroad, either to study Western civilization or for political, diplomatic, or economic reasons. Foreigners also came in. The Japanese went not only to Europe and America, but also to China, India, Southeast Asia, and the Middle East, where they mingled with Muslims and encountered Islam. Yamada Torajiro and Ariga Bunpachiro, said to be the first Japanese Muslims, entered the faith either abroad - Yamada in the Ottoman Turkey, Ariga in India - or after returning to Japan.
Agama Dan Etos Kerja Musa Asyárie
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.93-99

Abstract

Jika agama dibicarakan dalam kaitannya dengan etos kerja, maka persoalannya adalah agama dalam tahap penghayatan yang mana. Hal ini disebabkan karena etos kerja berkaitan langsung dengan usaha manusia mengatasi dan meningkatkan kehidupan produktivitas yang bersifat social ekonornis. Untuk meningkatkan produktivitas ekonomis yang berdimensi humanitas, diperlukan etos kerja yang bersumber pada penghayatan agama yang lebih antroposentris dengan memberikan peran Iebih besar dan "bebas" kepada manusia untuk mengembangkan kreativitasnya secara optimal. Pendekatan antroposentris dalam agama dimungkinkan, karena agama pada hakikatnya untuk manusia dan untuk memperkokoh kemanusiaan. Manusia membutuhkan agama untuk mengenal dan memasuki dimensi gaib yang telah menjadi bagian bawaan kodratnya, dan hanya agamalah yang dapat mengantarkan manusia berkenalan dan bahkan hidup dalam kegaiban. Agama sama sekali bukan dan tidak untuk Tuhan, karena Tuhan sama sekali tidak memerlukan dan membutuhkan apapun, apalagi agama. Etos suatu bangsa (Clifford Geertz: The Interpretation of Cultures, 1974) adalah sifat, watak, dan kualitas kehidupan mereka, moral dan gaya estetis dan suasana-suasana hati mereka. Etos adalah sikap mendasar terhadap diri mereka sendiri dan terhadap dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupan. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar dalam kerja. Sebagai sikap hidup yang mendasar, suatu etos pada dasarnya merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai luhur yang transenden. Dalam kaitan ini, maka agama bagi pemeluknya merupakan sistem nilai yang mendasari suatu etos kerjanya. Kerja seyogyanya diletakkan sebagai realisasi dari ajaran agamanya. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos kerja dengan agama. Hampir semua agama mengajarkan kepada manusia untuk memberikan sedekah dan menyantuni yang membutuhkan, mendorong pemeluknya untuk giat bekerja mendapatkan rezeki dan berkah dari  Tuhannya, bahkan dalam Islam, dikenal anjuran Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa tangan di atas Iebih mulia dari pada tangan di bawah, artinya memberi lebih mulia dari pada meminta, dan untuk dapat memberi tentu seseorang harus mempunyai kelebihan untuk dapat diberikan kepada sesamanya yang kekurangan. Dan untuk dapat memberi, diperlukan tidak saja ia selayaknya berkecukupan secara material, tetapi juga kedalaman spiritual sehingga memberi merupakan panggilan sosial keagamaan. Semangat agama pada dasamya adalah semangat memberi kepada sesamanya, seorang agamawan yang baik adalah orang yang hanya meminta kepada Tuhannya dan mernberi kepada sesamanya. Oleh karena semangat memberi kepada sesamanya yang besar, maka agama pada dasamya mendorong manusia untuk bekerja keras, mencapai kemampuan maksimal, karena dengan itu ia akan dapat memberi kepada sesamanya. Fenomena kemiskinan, kesengsaraan dan penderitaan dalarn kehidupan manusia, pada dasarnya banyak berkaitan dengan problematika ketimpangan dalam realitas hidup manusia sendiri.
Memahami Kitab kuning Melalui Terjemah Tradisional (Suatu Pendekatan Tradisional terjemahan Pondok Pesantren) Aly Abubakar Basalamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.61-69

Abstract

Abd al-Wakil al-Darūbī mendefinisikan terjemah sebagai berikut:التر جمة نقل الكلام من لغة عن الى لغة عن طريق التدرج من الكلمات الجزئية ثم الجمل ثم المعانى الكليةTerjemah adalah mentransfer al-kalam dari satu bahasa ke Bahasa yang lain secara bertahap, dari bagian-bagian kata, kalimat, dan arti keseluruhan. Berangkat  dari  pengertian  terjemah di atas,  maka upaya  memahami  Kitab• Kuning (KK) bertolak dari memahami bahasa KK yaitu bahasa Arab sebagai bahasa  sumber  (BSu)  yang  memiliki  perbedaan  deogan  bahasa  Indonesia sebagai  bahasa  sasaran  (BSa).  Perbedaaan  di  sini bukan  hanya  perbedaan bahasa sebagai satu sistem struktur, tetapi juga berdasarkan perbedaan bahasa sebagai basil kebudayaan yang berbeda. Oleh karena itu, menerjemah itu tidak. sekedar mencari padanan  kata, makna leksikal, gramatikal dan sintaksis,  tapi perlu memperhatikan teks yang a.kan diterjemah, baik dari segi isi teks, ragam bahasanyadan  latar bela.kangnya kalau ada. Dari definisi  terjemah di atas juga nyata betapa penting memperhatikan perbedaan  satuan semantis  yang diletakkan dalam tatanan kata,  frase kalimat clan wacana.  Pembagian satuan semantis seperti ini akan tampa.k kegunaanoya jika kita menyadari  bahwa kata kadang-kadang  baru jelas artinya jika berada dalam  lingkungan   kata  lain,  misaloya  dalam  frase,  kalimat  atau  wacana. Begitu juga dengan  frase,  arti  frase baru jelas jika berada dalam lingkungan kalimat atau  wacana.  Kalimat  itu  seodiri,  yang  dianggap  mengandung   arti lengkap, sering pula tidak dapat diartikan secara tepat tanpa menempatkannya dalam lingkungan yang lebih luas, misalnya dalam ruang lingkup wacana. Abstraksi seperti ini kiranya yang dapat kita angkat dari model  terjemah KK yang telah menjadi sistem yang dianut oleh pondok pesantren kita di Indonesia untuk  memahami  KK yang  isinya  banya.k menyentuh  kaidah-kaidah agama Islam, baik yang menyangkut  aKidah, syari'ah, akhlak clan tasawuf sehingga ditempuh sistem terjemahan yang mementingkan  keutuhan stuktur BSu.
Tradisionalit Muslims and Modernist Muslim in Indonesia: Past and Present Faisal Ismail
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 51 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.051.34-50

Abstract

Indonesia in the early twentieth century witnessed the emergence of an Islamic reform movement, particularly in java and west Sumatra. Historically, this Islamic reform movement led to the division of Indonesian Muslim into two groups, namely Modernist Muslim and Traditionalist Muslim in the country. As a consequence, since this time, Islamic modernism and traditionalism appeared on the stage of Indonesian history and these terms have been used by sociologists, historians, religious scholar, both in Indonesia and abroad. Before continuing to discuss Islamic modernism an Islamic traditionalist, the first thing to know is that both modernist and traditionalist Muslim in Indonesia are Sunni Muslims or ahl-al Sunna wa al-jamā’a, i.e., followers of the Sunna (prophetic traditional) and constitute the majority of the Muslim community (jamā’a). In Indonesia, both Modernist and traditionalist Muslims believe in six pillars of the Islamic faith, i.e., belief in one God, in His predestination. Both groups also observe the five pillars of Islamic practices: shahada (the profession of faith, i.e., there is no god but God, and Muhammad is the messenger of God); payer (five time per day); zakat (almsgiving); fasting during the month of Ramadan; and the hajj or pilgrimage to the holy city of mecca for those who are physically and financially able to perform it.
‘Ikhwān al-Ṣafā’ wa Falsafatuhum al-Siyāsīyya Zamzam Afandi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.104-127

Abstract

Ikhwan as-Safa, a group of philosophers which rised in 4th century of Higra or l0th century AD, in Basra, Irak, has attracted many scholars to study their thought, especially their scientific ideas which were compiled on their master piece Rasa'il lkhwan as-Safa wa Khulan al-wafa. This paper tries to raise their notion on political philosophy in regard to the assumption that Ikhwan as-Safa was not merely a group of philosophers whose concerns were purely scientific matters, but also a group of philosophers with political concerns. They dreamt of an idealistic country which they called al-Madina al-Fadilah as a substitute of an evil country, a country filled with evils, corruptions a deviation which they called al-Madina al-Ja'ira. In order to know further their idealistic country, one should understand their concepts of human being, country, leadership and how to choose the leader. These points are discussed here. According to Ikhwan, human being is a social creature. They cannot live alone and autonomous in doing such aspects as trade, industry, science and so forth. For them social life for them is a kind of obligatory, for two reasons. The first is because human being cannot autonomously discover their potentials, whether in scientific aspects or in other aspects of life. The second is the different ability of every single person as well as their natural potentials. This condition leads them to a position in which they cannot master all sciences and skills. Umma or society, according to Ikftwan, is a nation with similarities in language, characteristics, traditions, culture, geography, as well as color of skin and physical posture. The idealistic country for them is a country whose society consist of good people ‘Qaumun akhyarun', philosophers or wise people, and it has rules of social relation among themselves or between them and People of evil country. These criteria must be based on obedience to Allah. Dealing with imama or leadership, Ikhwan sees it as obligatory. Imama should exist, not only for mundane aspects resolving conflict, but also for religious goals. For them a leader (imam) must have their criteria mentioned earlier.

Page 88 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue